Badai Arab Spring

Summary : Derai air mata rakyat miskin di beberapa Negara di Eropa membuat Naruto bertanya-tanya benarkah tindakannya itu? Kejutan tak terduga dari sebab musabab kematian ayahandanya. Mungkin benar kata pepatah semua akan indah pada waktunya, karena itu jangan pupuk dendam sekecil apapun. Ganti summary

DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto

Genre : Family dan Drama

WARNING :Cerita Pasaran, garing, Typos, OOC, banyak OC, AU, fem naru, Republish, and many mores.

Pair : ItaNaru, ItaKyuu

Author Note : bagi yang benci Naruto yang berubah jadi jahat tak apa. Tolong pahami sikon. Negara Naruto bukan Negara damai, tapi dilanda perang antara rezim melawan rakyat jelata kayak tragedy 1998 di Indonesia dulu. Penguasa dengan seenak udelnya membunuhi rakyatnya di jalanan karena protes damai, berkat perlindungan para Kapitalis Barat dan AS. Naruto hanya ingin menyingkirkan para pelindung itu sehingga rezim lemah dan rakyat tak lagi dibunuhi, diganti dengan pemimpin yang adil dan bijaksana, sayang pada rakyatnya. Jadi bukan untuk kepentingan pribadinya. Maaf jika tak berkenan.

Don't Like Don't Read

Chapter 11

Sebelum ke RS seperti rencananya semula, Naruto kembali ke apartemen karena merasa ada yang ketinggalan. Di sana ia melihat beberapa pria berjas hitam sedang mengacak-acak apartemennya. Karena terpergok dan memang Naruto jadi target mereka, mereka pun balik menyerang Naruto. Naruto dibantu Jafar, mantan orang kepercayaan ayahnya, memberi perlawanan sengit. Meski hanya dua orang, mereka berdua terlatih dengan baik karena itu mereka berdua sanggup membuat kawanan berjas hitam itu kocar-kacir.

"Apa yang sebenarnya dicari mereka?" tanya Naruto bingung. Ia sudah memeriksa semua barang yang ada di apartemen. Tak ada barang berharga yang hilang. Artinya mereka tak berhasil menemukannya.

"Mungkin senjata canggih yang berhasil dengan susah payah dikembangkan ayahandamu."

"Senjata canggih? Untuk apa? Lagipula aku ke sini tak bawa apa-apa selain pakaian dan buku."

"Itu adalah senjata yang rencananya akan kita gunakan untuk menyerang Israel dan membuka mata dunia apa yang telah mereka lakukan pada Masjid al Aqso."

"Karena itukah ayahanda dibunuh?"

"Ya. Israel dalam waktu dekat ini akan merobohkan tempat suci kita. Karena itu pangeran Hasan dan lainnya selain berjuang melawan rezim tirani saat ini, juga untuk menyingkap borok Israel dan barat yang munafik. Sayang mereka berhasil mengendus taktik Sang pangeran."

"Kejam." Kata Naruto lirih. Raut wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam.

"Kejam? Itulah politik Princes. Kalo kita tak membunuh maka kitalah yang akan dibunuh. Karena itu ayahandamu mengirimmu ke Jepang untuk melindungimu. Sebagai putri, mereka tak bisa sembarangan menyentuhmu."

"Tapi aku putri yang dimusuhi."

"Kalo saja anda tak mengambil bagian, pasti anda akan baik-baik saja."

"Dan membiarkan Barat membunuhi saudara seimanku dan mengotori tempat suci kita? Tidak akan. Meski hanya secara ekonomi aku bisa mengebiri kekuatan mereka. Minimal aku turut serta menolong saudara kita dengan caraku sendiri."

"Anda tak perlu berbuat seperti itu. Kami telah merencanakan mengambil alih sumber minyak dan gas. Itu adalah pukulan mematikan untuk mereka."

"Tapi tetap saja itu butuh waktu sedangkan kita tak punya banyak waktu."

"Apa rencana anda selanjutnya?"

"Entahlah. Mungkin menunggu hal terbaik yang bisa kita lakukan saat ini."

"Anda tak mencoba mencari senjata canggih itu?"

"Tidak. Aku tak tahu dimana ayahanda menyimpannya. Itu buang-buang waktu saja."

"Tapi?"

"Ah sudahlah tak perlu dibahas lagi. Aku pergi dulu. Masih ada urusan."

"Hati-hati di jalan." Kata Jafar ramah. Naruto sama sekali tak tahu setelah Naruto menghilang, Jafar mengepalkan tangannya, menyalurkan kemarahan yang tertunda. Entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Hanya dia dan Tuhan yang tahu.

SKIP TIME

Sesuai rencana, Naruto pura-pura tidur di samping Deidara. Rencana tinggal rencana. Di bagian tidurnya emang OK, tapi Naruto merasa tubuhnya melemah. Darah seolah meninggalkan dirinya. Sayup-sayup ia mendengar Deidara bertanya khawatir. Kenapa? Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Ia melihat tangannya yang tadi ditunjuk Deidara. Darah merembes membasahi lengan bajunya. "Oh shit. Ini pasti darah akibat pertarunganku dengan mereka.' Rutuknya dalam hati sebelum ia tak sadarkan diri karena mengalami pendarahan akut.

SKIP TIME

Naruto yang bosan menyetel TV, ganti-ganti chanel. Sampai akhirnya ia memutuskan nonton berita saja dari BBC London. Ia perkeras volumenya karena beritanya menarik.

"…Para mujahidin berhasil menguasai kawasan pengeboran minyak dan gas terbesar di dunia. Mereka juga berhasil bekerja sama mencegah penyelundupan minyak sehingga sekarang sumber minyak terbesar jatuh ke tangan para mujahidin. Para pelaku ekonomi kelabakan karena itu pasti memukul dunia industry mereka. Ini komentar perdana menteri Inggris…."

'Jadi sudah mulai ya? Setelah ini pasti akan terdengar berita serangan ke Israel dan tumbangnya para pemimpin rezim. Pelindung mereka kan sibuk dengan ekonomi negaranya sendiri.' Batin Naruto.

Berita beralih dengan kawasan Spanyol dan Yunani yang saat ini babak belur secara ekonomi. Cameramen berhasil mengabadikan derai air mata para korban. Hasil kerja keras mereka lenyap begitu saja dalam semalam. Mereka menjadi gelandangan dan menderita kelaparan, tapi pemerintah mereka tak perduli dan sibuk menyelamatkan asset kekayaan masing-masing. Gambar beralih pada isak tangis anak kecil, balita, dan bayi yang ditelantarkan orang tuanya karena tak sanggup membiayai hidup.

Air mata menetes di pipinya, tak tahan dengan isi berita. 'Oh Tuhan. Apa yang telah ku lakukan? Kebencianku pada pemimpin mereka membuat mataku buta hingga orang-orang tak bersalah ikut kena imbasnya. Sebegitu dalamkah kegelapan itu merasuki tubuhku. Tuhan… Ampuni hambamu ini.' Rintihnya dalam hati.

Naruto dengan tangan gemetar, dan derai air mata menelepon Syaikh Umar Faruk, guru ngajinya. "Halo assalammua'alaikum, syeikh. Tolong beri tahu aku apa yang harus aku lakukan. Di satu sisi aku benci dengan Barat yang tangannya berlumuran darah orang Islam. Tapi di sisi lain, aku merasa bersalah. Rakyat mereka tak salah, tapi harus ikut kena imbasnya. Aku bingung. Aku merasa aku..aku..aku adalah iblis yang sama saja dengan Barat yang sedang ku kutuk saat ini."

"Nak. Bukankah dulu aku telah mengatakan jauhi dendam karena dendam ibarat korek api yang membakar dedaunan kering. Musibah rakyat Eropa bukan salahmu. Tanpamu pun ekonomi mereka akan ambruk karena kerakusa para kapitalis dan budaya konsumtif mereka yang gila-gilaan. Hutang mereka sangatlah banyak. Jadi kau tak perlu merasa bersalah."

"Tapi.."

"Tapi jika kau ingin menolong rakyat miskin itu, itu lebih baik lagi. Jangan balas kejahatan dengan kejahatan tapi balaslah dengan kebaikan. Itu akan jadi ladaing pahala untukmu."

"Aku mengerti syeikh. Terima kasih banyak atas sarannya. Assalammu'alaikum."

"Wa'alaikum salam."

Naruto yang sudah mendapat pencerahan segera bergerak. Ia menelepon beberapa pihak yang dapat memuluskan rencananya yakni menolong kaum papa Eropa khususnya Yunani dan Spanyol.

SKIP TIME

Itachi tak suka dengan ayahnya yang terlalu mengunggulkan Naruto. Bahwa Naruto satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan dunia dari krisis. Memang dia telah membuat Jepang keluar dari hutang dan orang-orang di Konoha hidup dengan layak. Tapi nggak perlu begitu kali. Naruto kan juga penyebab krisis ekonomi itu sendiri.

"Ayah tak perlu berlebihan memuja gadis itu. Ingat, krisis ini ulahnya." Katanya satu hari ketika mereka sedang berkumpul bersama.

Fugaku menggelengkan kepala. "Kenapa kamu bicara begitu Nak. Krisis ini bukan ulah Naruto. Tanpa dia pun Negara memang sedang dilanda resesi. Dia hanya bertindak cerdas dengan mengamankan asetnya."

"Maksud ayah?"

"Itu karena kerakusan para kapitalis yang menguasai lembaga keuangan dan bursa saham. Dari sanalah krisis ini berasal. Kalo dunia industry sendiri sebenarnya tak ada masalah. Masa gitu aja kamu nggak tahu. Kapitalis itu memang identik dengan resesi, tapi kali ini ayah akui, jauh lebih parah dari sebelumnya."

"Kalo sudah tahu, kenapa masih pake Kapitalis?"

"Tak ada alternative lainnya Nak. Tak mungkin kita pake system Sosialis yang sudah terbukti bangkrut dalam waktu singkat. Tak mungkin lagi pake Islam. Kita kan bukan Negara Islam dan Islam itu menoritas. Sudah aku akan bertemu dengan Naruto membicarakan soal krisis minyak. Denger-denger, ia termasuk dekat dengan para mujahidin, jadi mungkin bisa membantu."

Dengan kalimat terakhir itu, selesailah diskusi antara dua anak. Itachi mikir. Ayahnya benar. Krisis ini akibat bank dan bursa saham yang sangat rakus dan adanya berbagai kecurangan di sana. Tanpa Naruto harus ikut campur pun Negara-negara tetap akan dilanda krisis hebat.

SKIP TIME

Mr X marah besar, ia menghajar anak buahnya yang disuruh menyusup ke apartemen Naruto. "Dasar pecundang. Kerja begitu saja tak becus. Kalian malah pulang babak belur."

"Ma-ma-maaf maaf Tuan. Kata Mr. mata-mata kita, tugas kita memang begitu. Dia sendiri yang berniat mengorek keterangan tentang senjata itu dari mulut Putri Almira sendiri."

"Alasan saja." Kata Mr X terus memukuli anak buahnya hingga terdengar suara intruksi.

"Tenanglah. Apa yang dikatakan anak buahmu itu benar." Kata mata-mata itu.

"Lalu apa kau berhasil tempat penyimpanan senjata yang konon bisa menghancurkan Israel dalam semalam?"

"Tidak. Dia tetap bungkam. Tapi kita punya masalah yang jauh lebih penting. Jika pada tes DNA tersebut Naruto terbukti seorang Namikaze maka peluang kita untuk mendekatinya hilang. Ingat Namikaze itu bangsawan murni sama halnya dengan Uzumaki. Bedanya namanya bersih. Dia pasti akan punya imunitas dan kita akan makin kesulitan menyentuhnya."

"Itu perkara mudah. Aku akan menyuruh orang menyusup untuk menukar hasil lab."

"Cepatlah. Aku tak sabar melihat satu-satunya keluarga Hasan Nasrullah hancur." Katanya dingin.

SKIP TIME

Sasuke dkk menjenguk Naruto di rumah sakit. Mereka membawakan Naruto jeruk dan kurma sebagai oleh-oleh. Mereka tahu Naruto sangat suka dua buah itu.

"Lagi-lagi masuk rumah sakit. Elo seneng menginap di rumah sakit." Kata Sai sinis.

Naruto yang kesal, melempari Sai dengan setangkai bunga. "Ngawur. Mana ada yang suka masuk rumah sakit."

"Lalu kenapa check in di sini lagi." Tuduhnya.

"Ini bukan mauku. Kalo elo mau marah-marahin gue, mending elo pergi deh. Elo bikin kepalaku tambah pening."

"Bener tuh. Sana noh pergi aja yang jauh. Nyusahin aja." Tambah Gaara ikut melempari Sai bukan dengan bunga, tapi jeruk yang bisa dihindari Sai. "Elo dah baikan Nar? Kenapa bisa terluka lagi sih."

"Iya. Besok dah boleh pulang. Err Neji, gue bisa minta tolong nggak?" tanya Naruto rada-rada takut, mengabaikan pertanyaan Gaara.

"Apa?"

"Elo bisa bujuk Hinata dkk agar tak tinggal di apartemenku lagi?"

"Kenapa? Ada masalah? Ingat tangan loe masih luka. Elo bisa apa hidup sendiri?"

"Bukan gitu Sas. Ya kalo ditanya bisa apa nggak? Jelas nggak bisa. Tapi mereka dalam bahaya jika tinggal bersamaku."

"Jadi elo terluka karena ada orang lain yang mencelakaimu?"

"Iya Gaa. Pembunuh keluargaku masih mencariku. Makanya itu please…"

"Kalo gitu elo mesti pindah ke rumahku. Tempatku itu pengawalannya super ketat. Nanti akan ku suruh Hinata balik ke rumah bila kamu kesepian."

"Hah? Jangan Ji. Gue yang nggak enak."

"Neji benar, Nar. Tempatnya paling aman untuk saat ini. Aku juga akan pindah ke sana untuk menemanimu."

"Itu tak perlu Sas. Aku sudah punya pengawal pribadi."

"Dari tunangan loe?" (Sasuke)

Naruto menganggukkan kepala.

"Setelah semua ini berakhir, elo akan pindah ke negeri tunangan elo itu?" tanya Sai.

"Kenapa? Elo kesepian ya? Nggak ada yang elo marah-marahin lagi, nggak ada yang bisa leo suruh seenak jidatnya sendiri?" goda Naruto.

"Gue pasti kesepian kalo nggak ada elo. Elo kan spesies langka yang wajib dilestarikan biar nggak punah."

"Kurang ajar loe. Loe pikir gue penghuni BonBin."

"Tapi bener Nar. Dunia ini bakal sepi kalo nggak ada elo."

"Pecahin aja gelasnya biar rame sekalian. Ha ha ha…" tawa Naruto garing. Air mata menetes tanpa bisa Naruto bendung. Ia juga merasa sangat berat. Meski berbeda, sering bertengkar, Sasuke dkk udah kayak kakak-kakak dan teman deketnya. Rasanya sangat berat meninggalkan mereka. Semua kenangan di masa lalu, mulai awal pertemuan mereka di KHS dulu yang diawali kesalah pahaman, OSPEK bersama dan masa-masa indah selama kuliah. Begitu banyak hal mereka lalui bersama, suka duka bersama.

Ia pasti amat rindu dengan mereka, bahkan kata-kata pedas dan sinis Sai juga ia pasti akan merindukannya. Sasuke dkk juga memikirkan hal yang sama. Banyak hal, hutang budi, nasehat, dan guyonan Naruto yang mereka ingat. Semua itu membuat mereka jadi lebih dewasa dan lebih baik. Mereka janji dalam hati, meski sudah ada pengawal, akan selalu melindungi Naruto dari jauh, untuk memastikan keselamatannya.

TBC

Maaf kalo updatenya telat. Aku lagi sakit flu dan muntah-muntah terus jadi lemes, dedekku juga jadi nggak bisa OL. Terakhir mohon dukungannya terus dengan cara review sebanyak-banyaknya. Syukron. /(^_^)\