Halo...
Lama tidak berjumpa, reader sekalian. Yuzuki Arashi sudah kembali (deep bow).
Maafin saya yang Hiatus tanpa kabar selama setahun. Ada banyak masalah ini dan itu sampai saya hampir lupa sama TY. Nah, seperti biasanya,
RnR dan DLDR
Saya selalu lupa satu ini,
Disclaimer: Naruto dan HxH bukan punya saya.
Warning! Fem!Naru.
Sudah saya kasih peringatan termasuk di summary, yang ngeyel baca tolong jangan nge-flame (komen &/ pm), silahkan baca yang lain saja. Biar kita sama-sama ngga cape hati. Thank you ❤
Happy reading!
"Aku bosan." Keluh Naru entah untuk yang keberapa kalinya.
Kurama yang berpura-pura tidur di pangkuannya menyetujui ucapan Naru sepenuhnya. Keduanya menghela napas berat untuk yang kesekian kalinya dalam dua jam terakhir ini. Seharusnya Naru tidak cepat-cepat datang ke tempat pertemuan. Kalau saja ia tadi memilih menghabiskan waktu dengan Gon, mungkin ia tidak akan merasa sebosan ini. Ia mendapat firasat akan terjadi sesuatu yang menarik jika tetap bersama anak itu. Kali ini ia kehilangan kesempatan menarik demi penantian yang membosankan. Itu membuatnya kesal.
"Diamlah, Kitsune. Kau sudah mengatakannya berkali-kali sejak masuk ke ruangan ini." Bentak pria cebol botak bernama Zenji yang menjadi mediator dalam pertemuan hari ini.
"Makanya lakukan sesuatu kalau kau tidak mau mendengarku mengatakannya lagi." Naru mengerang kesal mendengar bentakan pria cebol itu.
Sebenarnya bukan hanya Zenji yang merasa terganggu oleh keluhan Naru, tapi mereka memilih tetap tutup mulut. Sebagai sesama pembunuh bayaran, mereka tahu untuk tidak melewati batas dalam berinteraksi dengan pembunuh bayaran lain. Terutama dengan pembunuh bayaran yang sedang bosan dan kesal. Meskipun secara waktu mereka lebih lama bergelut di dunia itu, mereka tetap tidak ingin membuat masalah dengan Naru yang bisa menjadi sangat terkenal dalam waktu singkat.
"Ne, paman cebol." Naru menulikan diri dari bentakan Zenji yang tidak terima dengan nama panggilan yang diberikan oleh Naru. Bagaimanapun, Naru tidak akan mengubahnya. Ia akan menggunakan nama panggilan itu untuknya sampai akhir. "Sampai kapan kita harus menunggu?"
"Kita akan memulai pertemuan setelah pembunuh dari keluarga Zoldyck dan anggota tambahan datang." Ucap asisten Zenji mewakili tuannya yang sedang menahan emosi.
"Oh?" Sebelah alis Naru terangkat saat mendengar nama Zoldyck. Kurama menatap si asisten lalu menatap Naru.
"Mereka tidak memberitahumu?" Tanya Kurama untuk pertama kalinya sejak mereka berada di ruangan itu.
Naru menggeleng pelan dan menunjukkan isi pesan yang TenDon kirimkan kepadanya. Kurama membaca isi pesan itu baik-baik. TenDon hanya bilang pekerjaan kali ini akan melibatkan beberapa pembunuh bayaran. Mereka tidak menyebutkan satupun nama di pesan itu. Kurama sekarang tidak tahu harus merasa kesal atau marah. Ah, keduanya sama saja.
Kurama melompat ke pundak Naru, menyamankan diri disana seperti sebuah syal. "Bukankah aku sudah pernah mengatakannya?"
"Ya, tapi pekerjaan ini sangat menarik sampai membuatku lupa pada detail seperti itu. Lagipula, aku merasa kita akan menemukan sesuatu di pekerjaan kali ini." Ucap Naru riang, melupakan kebosanannya. "Kurasa mereka akan segera datang."
Senandung riang terdengar dari Naru. Ia tidak sabar ingin mengetahui siapa anggota Zoldyck yang akan datang. Ia sudah pernah melihat sedikit kemampuan Illumi dan Killua, dan menurutnya mereka sangat kuat. Kalau dua orang itu saja sudah terbukti kuat, bagaimana dengan yang lain? Naru harap bukan Illumi yang datang. Killua sudah pasti tidak akan datang karena anak itu sedang bersama Gon dan Leorio.
Telinga sensitif Naru mendengar suara langkah kaki yang sangat samar menuju ke arah ruangan itu. Ia dan Kurama menatap pintu, menunggu siapapun yang akan masuk. Entah itu anggota Zoldyck ataupun anggota tambahan. Senyum antusias terkembang saat pintu mulai terbuka. Secepat datangnya, senyuman Naru menghilang begitu ia melihat dengan jelas pendatang baru itu. Bukan hanya itu, Kurama menatap tajam mereka dari tempatnya.
"Kau serius!?" Pekik Naru. "Kenapa mereka ada disini?" Tanyanya kepada Zenji.
"Karena mereka disewa oleh TenDon." Jawab pria botak itu.
Tubuh Naru merosot di tempat duduknya. Ia cemberut menatap dua orang baru itu. Mereka bukanlah orang yang ia harapkan. "Ne, paman botak. Kenapa TenDon menyewa mereka?"
"Karena mereka salah satu pembunuh profesional yang ada." Kali ini Zenji menjawab pertanyaan Naru meskipun harus menahan jengkel.
Naru mengerang pelan, menurunkan Kurama ke pangkuannya. Mood Naru kembali anjlok sekarang. Semua orang di dalam ruangan itu, kecuali dua pendatang baru, bersiap mendengar rentetan keluhan Naru. Hanya dengan melihatnya saja mereka tahu, mereka harus bersedia menumbalkan telinga mereka demi misi kali ini. Ajaibnya, mereka tidak mendengar apa-apa dari Naru setelah hampir satu menit berlalu.
"Oh? Lama tidak bertemu, Kitsune." Sapa Zeno.
Naru meliriknya dan mengangguk singkat. "Hm, lama tidak bertemu kalian berdua."
"Kelihatannya kau tidak bisa melupakan apa yang pernah terjadi di masa lalu." Ucapan Zeno membuat Naru semakin kesal.
"Tentu saja. Aku tidak akan lupa pada kakek tua dan anak laki-laki yang dikirim untuk membunuhku oleh para tetua bau tanah itu. Baik kalian ataupun mereka sama-sama membuatku sangat kesal. Aku tidak mengerti separanoid apa mereka dengan keberadaanku sampai mengirim dua pembunuh bayaran profesional. Padahal mereka bisa saja membunuhku dengan tangan mereka sendiri. Demi apapun, aku baru berumur sepuluh tahun dan bawahan pak tua ambisius itu mengirim kau dan boneka voodoo itu kepadaku. Padahal dia memiliki banyak boneka yang lebih kuat dariku." Naru menggerutu panjang melampiaskan kekesalannya.
Zeno mendengus geli. "Kau pasti bercanda. Mereka tidak akan menyewa kami kalau semua orang yang mereka perintahkan untuk membunuhmu tidak mati di tanganmu."
Naru membuka mulutnya untuk menyanggah, tapi menutupnya kembali. Pak tua itu tidak salah. Ia membunuh semua orang yang Danzo dan para tetua kirim untuk membunuhnya. Chunin, Jonin, root, dan ninja buronan mereka kirim untuk membunuhnya di setiap kesempatan. Kemelut pikiran Naru terputus saat suara orang lain masuk ke dalam ruangan. Ekspresi Naru kembali berubah dalam sekejap.
"Kurapika!" Panggilnya semangat. Ia melambaikan tangan ke arah pemuda pirang itu.
Untuk sesaat Kurapika terlihat terkejut. Pemuda itu kemudian mengangguk dan tersenyum tipis. "Naru-san."
"Cukup!" Perintah Zenji cepat sebelum Naru melakukan sesuatu yang akan memperlama pertemuan. "Karena semuanya sudah datang. Langsung saja, perintahnya sederhana, hancurkan Ryodan. Ada kemungkinan mereka muncul di pelelangan malam ini. Kalian bebas menggunakan metode apapun untuk melakukannya. Yang terpenting adalah hasilnya."
Duh, pikir Naru. Kalau pertemuan ini hanya untuk menyampaikan itu, seharusnya ia tidak perlu datang. Secara garis besar ia sudah tahu apa yang harus dilakukan sejak sebelum tiba di Yorkshin City. Kalaupun saat nanti bekerja ia bertemu dengan pembunuh bayaran yang lain, ia akan tahu mereka disewa oleh TenDon. Naru memejamkan matanya dan berkonsentrasi melacak keberadaan emosi negatif paling buruk. Mengabaikan sisa pembicaraan yang ada.
"Bagaimana denganmu, Kitsune?" Tanya pembunuh bayaran yang mengenakan topi baret.
"Kalian mengatakan sesuatu?" Kurama balik bertanya mewakili Naru yang masih sibuk melacak.
"Kami bertanya, Kitsune memilih berkelompok atau bergerak sendiri?" Ulangnya.
"Kami akan bergerak sendiri, tapi kalau bocah Kurapika mau dia bisa bergabung dengan kami." Kurama meregangkan tubuhnya.
"Bagaimana kau tahu?" Tanya pembunuh bayaran yang lain.
"Pikiran mereka terhubung. Mereka bisa tahu apa yang masing-masing pikirkan." Ucap Zeno.
"Dan aku tidak akan pernah lupa cucu sialanmu pernah memutus koneksi pikiranku dengan Naru." Geram Kurama.
"Katakan kepada Illumi." Ucap Zeno cuek.
"Sudah." Jawab Kurama ketus.
Dehaman Zenji kembali menarik perhatian semua orang. "Keputusan sudah dibuat. Kami akan mengantarkan kalian ke lokasi pelelangan."
Naru dan Kurama melihat dari lantai dasar bagaimana Zeno dan Silva membuka satu persatu pintu ruangan yang ada di gedung pelengan. Apakah mereka sama sekali tidak bisa melacak Ryodan dengan cara cepat? Oh, Naru lupa mereka bukan pelacak. Naru menghela napas panjang lalu menatap Kurama. Keduanya mengangguk. Dalam sekejap Naru sudah menghilang dari tempatnya berdiri tadi dan muncul di depan pintu sebuah ruangan.
Dengan santai Naru memasuki ruang auditorium luas itu. Di panggung, seorang pria berdiri tenang menatapnya. Pria itu, Chrollo Lucilfer pemimpin Genei Ryodan. Pemimpin dari kelompok kriminal lelas kakap, Naru penasaran sekuat apa pria itu. Naru melangkahkan kakinya mendekati pri itu dengan senyum lebar menghias wajahnya.
"Konbanwa." Sapa Naru riang.
Pria itu tersenyum ramah membalas sapaan Naru. "Konbanwa."
"Aku datang untuk membunuh Genei Ryodan atas perintah TenDon." Sebelah alis Chrollo terangkat mendengar pengakuan Naru.
"Lalu, kenapa kau memberitahuku?" Tanya Chrollo ingin tahu.
"Hanya ingin. Karena kau terlihat mudah diajak bicara aku memberitahumu. Apakah itu masalah untukmu?"
Chrollo tertawa kecil menanggapi pertanyaan Naru. Bagi Chrollo, hal seperti itu bukanlah masalah berarti. Apakah calon pembunuhnya mau memberitahunya bahwa mereka datang untuknya atau tidak itu bukan masalah. Hanya saja pengakuan Naru terasa sedikit menarik baginya. Belum pernah ada seorangpun yang pernah mengakui bahwa mereka datang untuknya dengan cara yang sangat lugas, santai dan ceria.
"Sepertinya kau sangat percaya diri bisa membunuhku." Ucapnya.
"Aku cukup percaya diri dengan kemampuan kami. Nah, izinkan kami membunuhmu dengan tenang."
"Aku menolak."
"Sudah kuduga."
Percakapan mereka semakin aneh. Ini adalah percakapan paling aneh yang pernah Chrollo lakukan dengan calon pembunuhnya. Ia bisa saja mengabaikan ucapan perempuan yang akan membunuhnya, tapi ia ingin tahu apa yang akan terjadi kalau ia meladeni permainan Naru. Meskipun terasa aneh, Chrollo tidak berencana untuk berhenti mengikuti permainannya.
"Tapi sayangnya kau tidak boleh menolak, karena kami harus membunuhmu bagaimanapun caranya."
"Kalau begitu kau boleh mencobanya."
"Oke."
Kurama melompat turun dari pundak Naru. Tubuhnya membesar seukuran Akamaru. Rubah itu berjalan tenang mendekati Crollo. Langkah kakinya semakin cepat sampai akhirnya Kurama berlari menerjang pria itu. Menyadari cakar rubah berekor sembilan yang diayunkan kearahnya itu berbaya, Chrollo menghindar tepat waktu. Andai saja pria itu tidak menghindar, tubuhnya akan berakhir dengan luka cakaran yang sangat parah sama seperti lantai di bawah kaki rubah itu.
Sedikit banyak Chrollo menaruh ketertarikan kepada Kurama. Darimana Naru mendapatkan rubah seperti Kurama? Meskipun Chrollo tidak terlalu tertatik memelihara binatang, memelihara satu yang seperti Kurama akan membantunya. Rubah itu jelas bukan hewan biasa. Gerakannya terlihat seperti sudah sangat terlatih. Mata rubah itu juga memperlihatkan bahwa setiap saat ia dalam kesadaran penuh dan tindakannya adalah hasil perhitungannya sendiri. Mirip seperti manusia.
Ekor mata Chrollo melihat Naru datang menyerangnya. Di sisi lain, Kurama kembali menyerangnya. Ia memperhitungkan dengan cepat waktu yang tepat untuk menghindar dari serangan keduanya. Saat waktunya tiba, ia menghindar. Ia mungkin berhasil menghindar dari tinju Naru, tapi tidak dari tendangan mautnya. Tendangan Naru sukses melemparnya ke dinding di seberang ruangan dan membuatnya mendarat menggunakan punggung. Di dinding tempatnya mendarat terbentuk retakan besar.
"Kau meremehkanku." Ucap Naru kepadanya.
Ya, Chrollo tidak akan memungkiri fakta bahwa ia meremehkan perempuan itu. Sepertinya ia harus mulai serius menghadapinya kalau tidak ingin mati. Chrollo berdiri tegak, menyiapkan diri untuk serangan selanjutnya. Baru saja Naru akan menyerang lagi, gerakannya terhenti karena kedatangan duo Zoldyck. Tiga pasang mata di ruangan itu terarah ke mereka.
"Oh, mau bergabung?" Tawar Naru.
"Kau boleh berada disini, tapi jangan menghalangi." Ucap Zeno datar.
"Hoo." Naru menatap Kurama. "Sepertinya kita tidak bisa bermain lebih lama lagi, Kurama. Saatnya serius."
"Hn." Gerutu Kurama sebelum menghilang.
Terjadi beberapa perubahan pada tubuh Naru. Safir berubah menjadi ruby dengan pupi vertikal, taring dan kuku memanjang, serta sembilan ekor oranye di belakangnya. Butuh waktu lama bagi Naru untuk mendapatkan wujud itu dengan Chakra Kurama. Menurutnya ia tidak bisa terus bergantung pada mode Chakra Kurama yang bersinar terang menarik perhatian. Mode itu merugikannya saat melakukan infiltrasi ataupun hal lain semacamnya.
"Kalian berdua backup aku." Perintah Zeno.
Naru dan Silva mengangguk mengerti. Serangan pertama akan dilakukan oleh pak tua itu. Ini sangat unik bagi Naru. Ia bertarung melawan pengguna Nen bersama pengguna Nen. Sementara ia sendiri masih tetap konsisten menggunakan Chakra. Yah, siapa peduli. Pada akhirnya orang lain akan mengira ia menggunakan Nen. Zeno menyerang Chrollo dengan naga yang terbentuk menggunakan Nen. Kerusakan yang ditimbulkannya cukup parah.
Dalam pertarungan saat ini Naru memilih untuk tidak terlalu banyak berpikir. Ia mengandalkan kemampuan, pengalaman, dan insting bertarungnya mengendalikan tubuhnya. Memang bukan cara bertarung yang bijak, tapi berpikir saat berada dalam mode itu akan mengganggu konsentrasinya. Naru terus menyerang Chrollo secara bergantian dengan Zeno dan Silva. Serangan ketiganya baru berhenti saat Chrollo berhasil menorehkan luka sayatan di tangan Silva dan Naru.
"Racun?" Tanya Naru sambil mengamati luka di tangannya dan uap samar yang menguap dari sana.
"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Zeno.
"Ya." Jawab Silva.
"Aku baik-baik saja. Kurama sudah menghilangkan racunnya." Naru menunjukkan lukanya yang sudah tertutup sempurna kepada Zeno.
Pria tua itu mengangguk. Pertarungan berlanjut. Chrollo menggunakan kemampuan Nen-nya. Ia mengeluarkan sehelai kain dari buku Nen-nya. Meskipun perlawanan pria itu semakin sengit, serangan tiga lawannya tidak kalah sengit. Orang sekuat Chrollo melawan tiga orang pembunuh profesional tentunya bukan pertarungan seimbang. Bisa dikatakan pertarungan itu adalah pembantaian secara sepihak.
Tadi Naru dan Silva mendapat perintah dari Zeno untuk melidunginya. Pria tua itu berencana untuk mengunci pergerakan Chrollo sendirian dan mereka harus menyerang Chrollo pada saat itu juga tanpa mempedulikan keselamatannya. Bukan masalah besar bagi Naru. Ia tidak peduli apakah Zeno akan selamat atau tidak. Kalaupun Zeno pada akhirnya terkena serangannya, anggap itu sebagai balas dendam dari masa lalu.
"Bunuh dia!" Teriak Zeno sambil terus menyerang Chrollo yang terpojok di dinding.
Sebuah Rasenshuriken tercipta di tangan Naru. Di kedua tangan Silva terbentuk bola energi Nen. Keduanya tidak ragu melemparkan jurus mereka ke arah target. Rasenshuriken dan bola Nen meledak saat menemui targetnya. Ledakan besar yang bisa membuat seluruh bagian gedung berguncang. Akan tetapi, Naru tahu targetnya dan Zeno tidak mati akibat serangan mereka. Mereka hanya tertimbun reruntuhan saja.
Debu yang menutupi pandangan dari tempat ledakan berangsur menghilang. Naru cemberut kecewa. Andai saja saat ini mereka tidak bertarung di sebuah gedung berisi banyak warga sipil, Naru pasti akan memilih menggunakan bom Biiju. Setidaknya persentase keberhasilan bom Biiju sangat tinggi. Naru mengamati dalam diam Zeno dan Chrollo yang keluar dari reruntuhan dan Silva yang menerima panggilan telepon.
Secara garis besar, Naru mengetahui isi panggilan telepon itu. Illumi menghubungi Silva untuk mengetahui kabar kliennya yang tidak lain adalah Chrollo. Selain itu Illumi juga mengabarkan bahwa TenDon sudah ia habisi. Naru mengerang pelan dan kembali ke wujud normalnya. Kurama tetap di dalam tubuhnya untuk beristirahat. Kalau TenDon mati, tidak akan ada yang membayarnya. Naru tidak begitu suka bekerja secara cuma-cuma.
"Kalian yakin tidak ingin membunuhku?" Tanya Chrollo.
"Tidak." Ucap Naru kesal.
"Kami tidak bekerja secara gratis." Ucap Zeno yang beranjak keluar diikuti Silva dari ruangan setengah hancur itu.
"Kau tidak ikut dengan mereka?" Tanya Chrollo setelah duo Zoldyck menghilang di balik pintu.
Bukan menjawab, Naru malah duduk di lantai. Karena misinya batal, ia tidak akan membunuh Chrollo dan ia juga tidak akan dibunuh olehnya. Ia tahu keadaan Chrollo saat ini tidak begitu baik untuk bertarung. Tentu saja Naru juga tahu pria itu masih bisa bertarung dengan sangat baik dengan keadaannya saat ini. Naru hanya sedang menghibur diri.
"Nanti." Ucap Naru. "Kalau aku mengikuti mereka sekarang, aku tidak yakin akan bisa menahan diri. Pak tua menyebalkan itu terlalu menyebalkan sampai aku merasa ingin menyerangnya setiap kali melihatnya."
Keheningan menguasai sebelum Chrollo memutuskan untuk bertanya kepada Naru, "Kau mengetahui si pengguna rantai?"
"Kau menjadikanku sumber informasi?" Naru balik bertanya dengan binar di matanya. "Apakah dia pembunuh bayaran?"
"Bukan. Dia bodyguard baru di keluarga Nostrade."
"Aku tidak tahu, aku baru mendengarnya." Ucap Naru. "Sekarang giliranku. Kau tahu Hisoka?"
Chrollo menatapnya dengan tatapan, ada apa dengan orang satu itu? Yang Naru asumsikan sebagai ya. Dari semua orang, kenapa badut menyebalkan itu bisa berhubungan dengan pemimpin Genei Ryodan? Naru termenung, ia lupa kalau badut itu selalu mengincar lawan kuat yang siap dipanen kapan saja. Chrollo tidak diragukan lagi sangat kuat. Kalau Hisoka masih belum menyerangnya, berarti ia belum mendapatkan kesempatannya.
"Kau tahu badut itu ada dimana?"
"Dia bersama anggota Ryodan yang lain."
"Dia anggota Ryodan? Yang benar saja!" Naru ingin menghajar badut itu saat ini juga. Awas saja kalau badut itu kabur lagi darinya secara tiba-tiba. Kali ini Naru akan memburunya kemanapun badut pedo mesum menyebalkan itu pergi. Naru akan memburunya sampai mereka bisa bertarung. Dengan begitu ia bisa memutus ikatannya dengan Hisoka dan hidup tanpa harus mengkhawatirkan hutangnya kepada badut itu. Hutang pertarungannya dengan Hisoka entah kenapa terasa jauh lebih menyebalkan dibandingkan hutang uang ataupun barang.
"Ne, kau punya kontak badut itu?" Pertanyaan Naru dijawab dengan Chrollo melemparkan ponselnya yang sedang menghubungi Hisoka kepadanya. Dalam waktu singkat Hisoka menjawab panggilannya.
[Halo, bos?"] Sapa suara yang familiar di telinga Naru itu dari seberang telepon.
"Hi. So. Ka." Desis Naru tajam.
[Oh, Naru. Bagaimana kau bisa menghubungiku dari ponsel Chrollo? Kau membunuhnya?] Dari nada suaranya terdengar jelas Hisoka ingin bertarung melawan Chrollo. Naru biaa memprediksi badut itu akan marah besar kepadanya kalau ia berkata, ia sudah membunuh Chrollo. Sepintas Naru merasa ingin menjahilinya, tapi urusannya akan jadi sangat rumit kalau ia menuruti keinginan konyolnya.
"Bukan urusanmu dan tidak." Naru menarik napas panjang, lalu berteriak di telepon. "Hisoka. Temui aku di bekas taman bermain YorkShin City besok untuk bertarung denganku. Kalau kau tidak datang atau kabur lagi dariku, kupastikan aku akan menghajar bocah favoritmu sampai mati sebagai penggantimu."
[Kau tidak akan melakukannya, Naru.] Ucap Hisoka dengan nada gelap.
Bingo. Hisoka akan secara sukarela datang menemuinya besok demi menyelamatkan buahnya yang belum matang. Badut itu tidak mungkin rela melepaskan apa yang ia inginkan kepada orang lain begitu saja. Bersama Hisoka selama beberapa hari di ujian Hunter cukup untuk Naru mengetahui keinginannya.
"Aku akan melakukannya. Mendebatku sekarang, kupastikan kau akan menerima kepala Chrollo sebagai kenang-kenangan dariku besok." Naru diam-diam menyeringai lebar ke arah Chrollo yang mendengarkan pembicaraannya dengan Hisoka. Pria itu tetap tenang karena tahu Naru hanya memberi ancaman kosong kepada Hisoka. Tapi ancaman yang pertama, Chrollo yakin Naru serius.
[Jangan sentuh mereka.] Ucap Hisoka penuh penekanan.
"Aku akan melakukannya kalau kau tidak menemuiku di waktu dan tempat yang sudah kutentukan." Desis Naru tajam sebelum memutus telepon secara sepihak.
Naru tersenyum lebar kepada Chrollo dan mengembalikan ponselnya. Binar di matanya terlihat sangat puas. Wanita itu tidak suka direpotkan, tapi sangat senang mengganggu orang lain. Sangat egois. Bukan hal baru bagi Chrollo melihat manusia seperti itu. Hanya saja cara Naru ini berbeda dari yang lain. Ia menggenggam kelemahan orang yang ingin ia ganggu dan menggunakannya disaat yang tepat. Dalam kasus sekarang, Naru berhasil menekan Hisoka sampai ke titik dimana pria itu tidak bisa menolaknya.
Perempuan itu sangat menarik. Bagaimanapun, ia tahu Naru sulit ditebak karena mudah berubah-ubah. Berbeda dengan Hisoka yang sulit ditebak karena menyembunyikan dirinya sendiri. Mereka berdua sangat berbeda, tapi disaat bersamaan terasa sama. Chrollo penasaran, seperti apa hubungan antara badut dan rubah betina itu. Karena sepertinya Hisoka takut kepada Naru. Apakah kata takut terlalu berlebihan untuk menggambarkannya?
End chap 4
Biasa, pojok curhat dulu.
Kenapa hiatus setahun tanpa kabar?
saya dilanda permasalahan hidup. Kesehatan saya yang kurang baik, pendidikan saya yang tertinggal karena sering sakit, dan yang lebih penting psikologis saya yang kurang stabil. Biasanya saya kalau stres, saya menarik diri dari lingkungan dan ta-da, normal lagi dalam beberapa hari. Cuma yang lalu itu malah gagal. Saya bolak-balik psikolog buat konseling. Lumayan lama prosesnya. Ternyata emang kadang kalau lagi stres lebih baik curhat ke orang yang mau dengerin. Tentu aja author sampingan juga ikut ngebantu pemulihan saya. She's my sister in all but blood.
Oh, saya ngga janji bisa update chapter selanjutnya atau tidak. Karena bisa jadi saya tiba-tiba hiatus lagi atau saya diacontinue ceritanya. Jadi readers ngga perlu nunggu kapan update selanjutnya.
Sekian.
