Love at OSIS Club
Fairy Tail © Hiro Mashima
Love at OSIS Club © author
Summary: Kisah tentang awal Lyon yang salah satu pangeran sekolah dan Juvia yang keras kepala tapi rada rada blo'on bisa bertemu, pacaran, hingga lengket sampe sekarang. For LyVia fans, this fic for ya!
Genre: Romance
Rate: T
Pairing: LyVia
Setting: Disini Juvia memakai hair style-nya yang terbaru, yang lurus sepunggung itu loh! Lalu disini Juvia dkk Sudah kelas 2 SMA :D!
Warning: OOC, AU, alur ga jelas, pair ga laku, and anymore
.
.
Chap empat update! Yosh, lama nggak berjumpa! Di chapter ini mungkin bakalan banyak adegan Juvia dengan Gray, tapi tenang aja, Gray-nya cuma nongol aja sebentar di kehidupan Juvia :D
.
.
DON'T LIKE, DON'T READ!
.
.
.
.
Juvia melangkah dengan hati berdetak cepat. Tas berisi kotak bento dan botol minumannya ia bawa dengan tangan gemetar. Sementara tangan kanannya membawa surat berwarna pink cerah. Sampai akhirnya, langkahnya terhenti di depan lapangan sepak bola indoor.
Juvia terus memandangi Gray yang sedang kontrol bola. Hati Juvia berdetak cepat, lalu dihampirinya Gray yang saat itu sudah duduk dipinggir lapangan.
"Gra-Gra-Gray-sa-sama, ini Juvia buatkan bento untuk Gray-sama," ucap Juvia tergagap sambil mengulurkan kotak bentonya.
"Oh, thanx. Kamu tahu aja kalau aku sedang lapar, Juvia," ucap Gray lalu memakan bento buatan Juvia dengan lahap. Dari wajahnya, jelas terlihat kalau Gray benar benar lapar sehingga ekspresinya seperti anjing yang makan dengan rakus XD XD
Setelah Gray menghabiskan makanan buatan Juvia, Juvia menyerahkan sebotol soda lemon yang tadi ia bawa pada Gray.
"Kamu tahu, kalau aku suka soda lemon?"
"Hehehe, Juvia tahu saja," tawa Juvia garing.
Setelah Gray menghabiskan minumannya (ini dari tadi Juvia nungguin) Juvia memberikan amplop pink yang sedari tadi ia bawa. Gray mengernyit heran. "Ini untuk apa?"
"Buka saja, dan tolong berikan jawabannya pada Juvia besok, ya?"
Gray mengernyit heran. Ia lalu membuka amplop dari Juvia. Matanya bergerak gerak membaca tulisan Juvia. Setelah selesai, ia tersenyum. Ia memandang langit langit marmer ruangan itu, lalu menggumam sendiri.
"Mungkin aku dapat melupakanmu, Sweetie,"
"Kau sudah nembak Gray?" tanya Cana sambil meneguk birnya,
"Sudah! Kuharap, Gray-sama mau menerima Juvia," jawab Juvia sambil memutar imajinasi alay-nya.
Levy dan Cana hanya mampu terkikik geli melihat ekspresi Juvia yang sedang mabuk kepayang. Haha, perasaan baru kemarin membicarakan Lyon sambil terlena, Juvia sudah seneng sama si Gray anak sepak bola itu.
Dasar Juvia...
"Oi, jangan ngelamun aja! 5 menit lagi rapat OSIS, woy!" seru seseorang meneriaki Juvia.
"Ly-Lyon?! Ah, dasar ganggu kebahagian orang aja!"
"Heh? please! Emang tinggal 5 menit lagi, cepetan lu keatas!"
"Iya iya... dasar cowok egois,"
Juvia mendengus. Ia melanjutkan kata katanya dalam hati. 'Cowok egois yang bikin perasaan Juvia jadi aneh,' batin Juvia sambil mengikuti Lyon ke lantai atas.
Siang itu cukup terik. Juvia melangkah tergesa gesa menuju rumahnya. Orangtuanya memang tidak melarangnya untuk pulang malam, namun disiang seterik ini ia lebih suka duduk bermalas malasan sambil makan es krim kesukaannya.
Sebenarnya, Juvia ingin ikut asrama bersama teman temannya. Namun, ortunya melarang. Memang, sih, rumahnya dekat maka ia bisa pulang jalan kaki. Namun ia juga ingin mencoba asrama bersama teman temannya yang lain.
Menghapus kegelisahannya, Juvia berlari pergi.
Namun sesampainya di perempatan jalan, tangan Juvia dipegang seseorang. Gray-sama!
"Hai, Juvia! Aku mau mentraktirmu di Fiore Burger, kau harus mau ya! Anggap saja ini sebagai ucapan terimakasih karena kau mau membuatkanku bekal tadi!" ajak Gray sambil memasangkan senyum hangatnya.
Tentu saja Juvia menerima ajakannya dengan senang hati.
Sementara itu di tempat lain, Lyon sedang berjalan pulang bersama Sherry, sahabatnya karibnya.
"Hei, aku lapar nih. Mau makan di Fiore Burger, gak? Mumpung Ren gak ada, tuh!"
Sherry hanya mengangguk pada sahabatnya. Mumpung Ren pacarnya sedang tidak ada, ia bisa makan bersama sahabatnya itu di Fiore Burger yang terkenal lezat. Habis, biasanya Ren terlalu over-protective dan melarang ini itu dengan Lyon, sih.
Dan ia tak akan melewatkan kesempatan emas ini untuk makan dengan sahabatnya yang sempat mencuri hatinya, hohoho~
Dan konflik pun pastinya akan muncul di Fiore burger, tentunya.
Suasa Fiore Burger yang ramai membuat orang orang harus antri untuk makan. Mereka dengan setia menuju di meja dan para pelayan yang akan mengantarkan makanan mereka di meja makan, lalu menyuapkan burger burger lezat itu ke mulut mereka.
Juvia dan Gray memilih meja di dekat jendela, sambil menunggu para pelayan mendatangi mereka. Mereka berdua duduk berhadapan layaknya seorang kekasih.
Sambil menunggu pesanan datang, Juvia melihat keadaan sekitar. Matanya terpaku saat melihat... Lyon?! Dengan seorang wanita. Wajah Lyon menghadap ke arah Juvia, membuat Juvia dapat dengan jelas melihat kalau Lyon sedang tertawa dengan gadis dihadapannya.
Setelah diamati baik – baik, Juvia sadar kalau gadis yang sedang makan bersama Lyon itu adalah Sherry Blendy, dan ia tahu pasti kalau Sherry sudah memiliki pacar bernama Ren Akatsuki. Jadi si Sherry dan Lyon ini selingkuh, gitu? Pikir Juvia curiga. Namun karena makanannya sudah datang, Juvia tidak bisa melihat Lyon lagi dan mulai makan.
"Hei, Juvia. Soal surat cintamu itu..."
"Ah, itu!"
"Aku akan memberikan jawabannya besok pagi. Kamu mau kan, tunggu sampai besok?"
"Ten-tentu saja Juvia mau. Lagipula Juvia yang meminta Gray-sama untuk memberikan jawabannya besok, kan?" jawab Juvia dengan muka bersemu merah.
"Iya." Jawab Gray tanpa emosi.
Sementara itu, Lyon juga menyadari kalau Juvia sedang bersama dengan Gray Fullbuster. Ia agak risih dan entah mengapa tidak suka dengan pemandangan itu, namun ia cepat cepat menepis perasaannya dan melanjutkan menyantap burger kejunya.
Lyon menjadi tidak tenang melihat Gray dan Juvia yang sedang makan bersama. Akhirnya ia melanjutkan kembali makan burgernya, menepis semua perasaannya.
Namun, sesaat setelah makan burgernya ia teringat, kalau Gray itu berpacaran dengan...
Lyon agak curiga juga dengan Juvia yang sedang makan dengan Gray. Ia ingin melihat mereka lebih lama. Ia memandangi mereka, tapi sepertinya mereka biasa – biasa saja dan tak menunjukkan hal hal 'sedang berpacaran'.
"Hei, Lyon. Pulang, yuk!" ajak Sherry sambil mengelap remah remah roti di mulutnya.
Lyon mengangguk. Ia lalu mengikuti langkah Sherry yang membayar burger itu, lalu mereka pulang.
Sebenarnya Lyon ingin agak lamaan, tapi karena Sherry sudah menariknya untuk pulang, maka Lyon akhirnya pulang juga, padahal hatinya masih tetap ingin disana. Itu tuh yang namanya raga disini jiwanya disana.
"Hai, Juviaaaaa~~~! Waooo..." sapa Levy dan Cana bersamaan. Mereka berdua menepuk bahu Juvia, membuat Juvia yang sedari tadi menunggu kehadiran Gray terlonjak kaget.
"Eh, eh, Juvia! Bagaimana dengan Gray?" tanya Cana bersemangat.
Juvia mendengus. Gini nih, teman temannya, suka banget ikut campur urusan cinta orang lain. Meskipun ia sendiri juga begitu, sih... ._.
"Jadi, kemarin siang waktu pulang sekolah, kami pergi ke Fiore Burger. Lalu, Gray sama bilang kalau ia akan memberikan Juvia jawabannya hari ini. Jadi... ya... Juvia tunggu saja. Nah, sekarang Juvia deg – degan, nih!" cerita Juvia sambil memasang wajah imutnya.
"Wah, asyik! Kalau kau Levy, bagaimana dengan Gajeel?" tanya Cana sambil melirik Levy.
Kini giliran Levy yang blushing. Lalu dengan tergagap ia mulai bercerita. "Ja-jadi, aku kemarin diajak Gajeel main ke mall pulang sekolah. Kami makan di café, main game di game center, ke photo box, dan endingnya, ia ngajak aku jadi pasangan dansa-nya. Wah... aku hampir pingsan waktu itu."
Cana dan Juvia cekikikan mendengar cerita polos Levy. Masa' dia diajak Gajeel ke mall nggak sadar kalau mau ditembak? Kalau Juvia dan Cana sih, diajak dengan romantis gitu pasti langsung tau mereka akan ditembak.
"Nah, giliranmu, Cana!"
"Apanya? Apanya yang giliran?" tanya Cana (pura pura) bingung.
"Cerita, soal Hibiki, lah!" sahut Juvia sambil sedikit sweatdrop melihat Cana yang bingung.
"Oh, biasa saja. Gak ada perubahan. Tapi aku dan dia sudah mulai berteman dekat, sering SMS-san, sering teleponan, terus kemarin dia ajak aku main ke rumahnya." Kata Cana dengan senang hati.
"Wah, jadi kemarin adalah hari PDKT kita sama incaran kita, ya!" kata Juvia sambil tertawa garing, diikuti kikikan geli dari Cana dan Levy.
Mereka saling mengobrol, sampai datang Gray menepuk pundak Juvia.
"Ikut aku Juvia." Ajak Gray sambil menggandeng tangan Juvia.
Sementara itu, Levy dan Cana sibuk berbisik bisik mengenai jawaban yang akan diberikan Gray kepada Juvia. Mereka pikir sih, Gray akan menerima Juvia.
Sesampainya diluar, Gray segera mengungkapkan perasaannya pada Juvia. Sementara Juvia, dia malah semakin deg degan.
"Jadi... Juvia... kamu mau nggak, jadi pasangan dansa aku?" tanya Gray sambil memegang tangan Juvia. Sementara siswi siswi yang kebetulan melihat itu, jadi berteriak iri dan cemburu. Gray, 'kan, anak sepak bola yang terkenal. Maklum, dong, kalau penggemarnya nangis darah liat Gray nembak cewek yang 'biasa – biasa' saja.
Mata Juvia berputar. Dia melirik sekelilingnya, melihat Lyon sedang keluar kelas dengan acuh tak acuh. Lalu, keluarlah Sherry sambil tersenyum manis dan menggenggam tangan Lyon dengan dan mereka keluar bersama.
"Jadi, Juvia, bagaimana?"
Juvia terdiam sesaat. Lalu, dengan mantap dijawabnya, "iya, Juvia mau."
Gray memeluk Juvia senang. Sementara Juvia membalas pelukan Gray, hatinya menjadi tak karuan, entah mengapa ia mengingat Lyon...
TBC
Yah, ini adalah update yang chapter 4. Semoga gak mengecewakan, ya! *bungkuk bungkuk*
Hmm... adegan GraVia disini emang dominan, ya. Dan... OMG! Ini chapter apaan, kayaknya jelek banget! *nangis darah*
Yau udah, cukup sekian untuk chapter 4. Yep, selamat menunggu chapter berikutnya! ^3^ semoga memuaskan, ya! ^3^ jangan sungkan untuk review apa kesalahan dari fic ini, yah! Hmmm... saia menghormati semua kata reader.
