.

.

Character © Masashi Kishimoto

Accidentally in Love

Story © by Icha-Icha Fairy

Part 4

My Hero

enjoy

.


.

Sasuke menjatuhkan tubuh ke atas ranjang, tangannya terlentang, matanya terpejam. pria itu masih lengkap mengenakan pakaian olahraga, bahkan sepatunya belum dilepas saat ia memasuki kamar tidurnya.

Bicara soal kamar Sasuke, semua pengagumnya pasti penasaran bagaimana bentuk kamar pria ini. Kamarnya cukup luas dengan beralaskan lantai kayu cokelat gelap. Sasuke memiliki sebuah ranjang empuk berukuran king yang sangat nyaman, cocok untuk 'bergulat' ataupun main lompat-lompatan jika dia sedang dalam kondisi mood yang tidak stabil tapi tentu saja Sasuke tidak akan melakukan itu. Bed cover dan spray berwarna biru gelap menampilkan kesan elegan dan maskulin untuk kamar seorang pria sepertinya. Seperti apa? entahlah... kalian deskripsikan saja sendiri.

Tepat di depan ranjang, terdapat pintu geser kaca yang menghubungkan kamar Sasuke dengan balkon luar, menampilkan taman belakang rumah serta permandangan kota Konoha. Kalian para wanita akan sangat mudah mengintip Sasuke dari pintu kaca sebesar itu tapi saat kalian melakukannya, penjaga rumah Sasuke mungkin sudah menembak kalian dengan senapan burung. Berhati-hatilah.

Pikiran Sasuke menerawang. Pertandingan bisbol yang sangat meriah itu masih terniang di kepala. Tenaganya cukup terkuras habis. Sepertinya, tahun ini adalah pertandingan bisbol yang paling menarik yang pernah ia ikuti. Sasuke pun menyeringai tipis. Ada apa? apa yang kau pikirkan? katakan padaku dan aku akan menulis deskripsinya di cerita ini.

Sasuke lalu membuka mata, menatap sejenak langit-langit kamar kemudian beranjak melepas sepatu serta kaos yang menutupi tubuh seksinya. Pria itu lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan ku siap mengikutinya.

Kepulan asap keluar di sekitar tempat shower bersekat kaca. Air hangat membasahi tubuh atletis Sasuke. Jika saja seseorang bisa mengambil gambar pria itu lalu membagikannya ke seluruh wanita di studio, aku yakin mereka akan berakhir dengan hidung berdarah. Maaf ini adalah ide yang buruk, lupakan. Biarkan aku saja yang menikmatinya.

Beberapa saat kemudian ponsel Sasuke yang diletakkan di atas ranjang berdering beberapa kali. Sasuke keluar dari kamar mandi hanya mengenakan lilitan handuk di bagian bawah tubuh. Lihat, bagaimana? kalian kuat? Sasuke lalu menyaut ponselnya dan mendapati nama 'Dobe' pada layar.

"Aa."

"Teme!" Sasuke tidak heran lagi dengan pemilik suara nyaring ini. Hanya Naruto yang berani memanggilnya dengan sebutan itu.

"Ada apa?" Sasuke mengusap rambutnya dengan handuk yang ia lilitkan di leher.

"Kau sedang apa?" tanya Naruto.

"Apa aku harus memberitahumu?"

"Hehe... apa nanti malam kau ada acara? kami team bisbol 2D mengadakan perayaan kecil-kecilan atas kemenangan kami. Katakan padaku kau bersedia hadir dan bergabung memeriahkan suasana." ajakan Naruto ini mengandung unsur paksaan.

"Entahlah..." jawab Sasuke, rasa-rasanya tubuh malas bepergian.

"Ayolaaah... kau adalah tamu spesial kami." bujuk Naruto.

"Benarkah? aku sangat tersanjung."

"Aku serius, datanglah ke kedai Yakiniku seperti biasa jam tujuh."

"Aa, lihat saja nanti..." nada Sasuke malas.

"Sampai bertemu di sana, jika lebih dari dua puluh menit kau belum menampakkan diri, aku akan menjemputmu. Jaa!" Naruto menutup sambungan telpon. Sasuke melempar ponselnya ke ranjang dan kembali mengusap rambut.

.

.

Desisan dari sepotong daging yang diletakkan Obito di atas alat pemanggang terdengar sangat merdu, ya, untuk beberapa orang yang sudah kelaparan.

Team bisbol 2D sedang berkumpul di sebuah kedai Yakiniku yang terletak di pinggiran kota Konoha. Kedai itu adalah kedai langganan Naruto dan kawan-kawan untuk memanjakan perut mereka di awal bulan karena saat menjelang akhir bulan, mereka hanya akan pergi ke kedai mie instan. Aku bercanda..., gaji di studio Gamabunta lumayan besar dan tidak mungkin mereka kekurangan gizi, ya.. kecuali untuk beberapa orang yang sangat teramat sangat menjunjung tinggi gaya hidup hemat. Tapi alangkah baiknya jika kita tahu bagaimana memanjakan hidup.

"Kau harus menambahkan cuka di atas dagingnya ketika daging itu dibakar." ucap Naruto yang memperdebatkan tips makan Yakiniku bersama Chouji.

Dua pria itu tidak sependapat dengan cara apa daging panggang terasa enak ketika ditambahkan dengan cuka asin. Ini perdebatan yang tidak menarik tapi menjadi satu-satunya obrolan yang bisa disimak beberapa orang seperti Sakura, Obito, Hinata, Kiba, dan Tenten. Konohamaru sedang asik bermain get rich di ponselnya, sedangkan Iruka tengah mengobrol seru tentang pertandingan bisbol tadi bersama Sai, Lee, dan Neji. Hei, kemana perginya Ino? ah...wanita itu sedang ke kamar mandi, mungkin memperbaiki make up-nya.

"Kau salah! cuka akan terkena panas dan menguap, bumbunya tidak akan terlalu terasa di lidah jika dibandingkan mencelupnya secara langsung setelah dagingnya masak." Sanggah Chouji, sebenarnya dia bukan anggota team bisbol 2D, tapi ketika mendengar kabar dari Ino bahwa mereka akan mengadakan perayaan makan malam di kedai yakiniku, mustahil baginya untuk absen.

"Apa aku terlambat?" Kakashi datang bersama Shikamaru, ternyata mereka berdua turut diundang.

"Kakashi-san..." Naruto menyambut kedatangan mereka. "Kukira kau datang bersama Sasuke." entah mengapa telinga Sakura bergerak mendengar nama Sasuke disebut.

"Dia tidak menghubungiku, jadi kupikir dia sudah duluan datang ke sini." Kakashi mengambil tempat duduk di samping kiri Sakura.

"Hai, Sakura..." Kakashi tersenyum di balik maskernya dan Sakura sempat berpikir seperti apa wajah Kakashi.

"Hallo...emm...," Sakura memang belum sempat berkenalan sebelumnya. Ino pernah memberitahu soal Kakashi di hari pertama ia resmi bekerja, tetapi daya ingat yang kurang baik menjadi faktor utama Sakura bingung memanggil nama Kakashi.

"Hatake Kakashi." pria itu memperkenalkan dirinya, ia bergerak menjabat tangan Sakura.

"Senang berkenalan dengan anda Kakashi-san." Sakura tersenyum.

"Kakashi adalah general manager unit Studio 2D. Kau tahu kan?" jelas Naruto. Sakura langsung mengangguk, tentu saja dia tahu siapa itu Hatake Kakashi. Oh ya? baru saja kau lupa namanya. ?

Suasana pun membaur. Mereka saling mengobrol sambil menunggu hidangan datang. Naruto memperhatikan jam tangan, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sudah lebih dari dua puluh menit dan Sasuke belum juga datang. Sepertinya Naruto akan benar-benar menjemputnya sekarang.

"Hai kalian semua...!" suara cempreng Karin mengiringi kedatangannya bersama Sasuke. Semua orang menoleh ke arah mereka. Bisa kalian lihat ekspresi Sakura yang sedikit bingung.

"Kalian datang bersama?" tanya Ino, wanita itu berjalan dari arah kamar mandi.

"Aku bertemu Sasuke-kun di depan dan kami berjalan bersama kemari." wajah Karin merona, menandingi paparan blush on di kedua pipinya. Sasuke tampak acuh, ia mengambil tempat di samping Naruto, tepatnya di depan Sakura. Karin langsung menyerobot duduk di samping kanan Sakura dan menyingkirkan Kiba.

"Aku baru saja akan meluncur ke rumahmu." ucap Naruto.

"Kau beruntung, jika kau datang pakkun mungkin saja akan menggigitmu." sekilas Sasuke menatap Sakura, DEG. Tatapan pria itu walau sekelibat bisa membuat ritme jantung Sakura naik sedetik. Sasuke lalu memesan segelas teh hijaupada pelayan yang menghampiri meja mereka.

"Pakkun jelas mencintaiku." sahut Naruto.

"Siapa itu pakkun?" tanya Obito, ia sedang asik membolak-balikkan daging panggang bersama Chouji.

"Itu anjing Sasuke, dia sangat menggemaskan. Ah! mungkin dia juga akan menyukaimu Pinky.." Sakura tidak mengerti kenapa Naruto mengait-ngaitkan dirinya dengan anjing Sasuke.

"Sasuke-san, permainan bisbolmu lumayan keren." Lee mengangkat jempolnya. Lumayan apanya? kau lupa Sasuke mencetak Grand slam? dia luar biasa!

"Ya.. walaupun perolehan jumlah skor 2D kalah dan gagal mendapat piala pertandingan olahraga tahunan, setidaknya kami mendapat kebanggaan bisa memenangkan bisbol tahun ini." Obito tersenyum bangga.

"Apa kau pernah ikut team bisbol sebelumnya Sasuke?" tanya Sai.

"Belum, aku hanya sesekali bermain bersama teman-temanku saat kuliah."

Saat kuliah?! semua orang terpukau mendengar hal itu. Kenyataan bahwa penampilan Sasuke sangat keren di pertandingan bukanlah alasan yang logis. Bahkan Sakura sempat berpikir apakah Sasuke rengkarnasi dari ninja Shinobi, pria itu berlari sangat cepat, terampil memukul bola dan tepat menangkap bola, ya... walaupun ada satu yang tidak bisa Sasuke menghindari. Kekuatan pukulan bola Sakura. Pffft...

"Aah.. Sakura, apa kau sudah menemukan jawabanmu di pertandingan tadi?" tanya Kiba tiba-tiba.

"Jawaban apa? memangnya aku bertanya apa?" Sakura bingung bersamaan dengan beberapa minuman pesanan yang datang.

"Kau bertanya, kenapa Sasuke bergabung ke dalam team 3D sedangkan kau bilang kalau dia itu artist Layout 2D." serentak semua mata langsung tertuju pada Sakura, kecuali Sai, pria itu tersenyum seperti menantikan kejadian menarik, sementara Naruto meneguk tehnya dengan santai. Obito hanya menyeringai tipis.

"A-aku..., Kibaa... aku sudah tidak memikirkannya." Sakura salah tingkah, grogi saat Kiba mengungkit hal itu. Apa karena Sasuke yang duduk tepat di hadapanmu itu kini menatapmu huh?

"Ah! dagingnya sudah matang!" Sakura bersyukur Obito mengalihkan perhatian. Di saat bersamaan menu pesanan yang lain ikut tersajikan.

"Ittadakimasssuu...!" seru semuanya serempak.

Mereka menyantap hidangan yang tersaji penuh di atas meja dengan nikmat. Tampak Chouji dan Obito tengah bertanding mengambil daging panggang, Naruto yang mencoba semua hidangan di atas meja bahkan dia mengambil beberapa potong daging milik Sasuke, lalu Sakura yang menyantap hidangan sambil mengobrol bersama Hinata dan Tenten..., Ino yang tampak anggun memotong daging panggangnya sambil mendengar obrolan para wanita dan sesekali melirik Sai. Karin sibuk melayani Sasuke untuk cari perhatian, sedangkan para pria lain asik mengobrol tentang pertandingan F1 yang akan disiarkan nanti malam.

"Bagaimana jika setelah ini kita bermain sebelum pulang?" Konohamaru mengutarakan idenya.

"Ide yang bagus! tapi permainan apa?" tanya Naruto.

"Permainan titah raja!" Konohamaru mengeluarkan beberapa lempengan kayu seukuran jari telunjuk dari dalam tas. Semua serempak menolak idenya.

"Hanya anak sekolah yang melakukan itu! tidak...tidak...tidak..." tolak Kiba dan semua mengangguk setuju.

"Raja akan menunjuk siapa dengan siapa..., lalu memberi sebuah titah konyol! itu tidak masuk akal... jika kau berharap aku yang akan menjadi raja dan menyuruhmu untuk mencium Sakura, Tenten, atau lainnya, simpan saja idemu itu." sekejap Konohamaru ingin memukul mulut Obito dengan sumpit.

"Bagaimana dengan Uno?" Konohamaru mengeluarkan kartu Uno dari dalam tas, entah kenapa tasnya itu mirip seperti kantung Doraemon.

"Wah Uno, aku setuju!" seru Naruto, yang lain juga setuju. Sasuke tenang menyantap makanan, pria itu golput.

"Ok, apa hukumannya jika ada yang mengatakan Uno dan kalah?" tanya Lee.

"Kalian tau jawabannya." Naruto menunjuk sebuah botol Sake berukuran besar. Permainan ini akan menarik.

Sudah satu jam berlalu sejak permainan uno berlangsung. Sebuah permainan kartu yang menuntun pemain untuk berpikir agar bisa menghabiskan kartu di tangan masing-masing. Caranya dengan menyocokkan kartu lawan dengan warna kartu yang sama. Jika beruntung, seorang pemain akan mendapatkan beberapa kartu spesial untuk mempercepat menghabiskan kartu atau mempersulit lawan dengan memperbanyak kartu mereka. Dilarang mengucapkan kata Uno selama permainan, jelas ini hal yang menarik untuk menjebak lawan mengatakan Uno tanpa disengaja. Saat tersisa satu kartu, pemain harus meneriakkan kata 'Uno'. Dan jika semua kartu habis pemain harus meneriakkan 'Uno-Uno', ya ini sedikit rumit dan cukup disini dulu penjelasannya.

"Uno-Uno!" seru Sakura, gadis itu menjadi pemenang pertama.

"Haaah... kau tidak asik Pinky!" protes Konohamaru, ada 11 kartu yang masih bercokol di tangannya.

"Oh, Konohamaru... banyak sekali kartumu.. mau membeli kulkas?" ejek Sakura, gadis itu keluar dari ruangan dan menuju taman belakang. Yang lain melanjutkan perjuangan mereka. Tampaknya Sasuke juga akan menang melihat tersisa 2 kartu di tangannya.

Sakura duduk di bangku taman seorang diri, merasakan kepala yang sedikit pusing akibat dua gelas sake yang diminumnya setelah dijebak Naruto untuk mengatakan kata 'Uno' bodoh itu. lima menit Sakura melamun ke arah kolam hingga seseorang datang menghampiri dan mengambil tempat di sampingnya. Sakura tersentak kaget, mengira hantu Noppera-bo saat melihat wajah datar Sasuke.

"Kau berhasil keluar dari Uno Sasuke-san?" Sakura basa-basi.

"Hn." jawab Sasuke, tatapannya terpaku melihat dua ikan koi yang berenang kesana kemari. Jika diperhatikan, Sasuke seperti sedang memikirkan sesuatu, entah apa itu tapi sepertinya ada hal yang mengganggu pikirannya saat ini. Suasana hening. Duduk di sebelah Sasuke seperti duduk dengan hantu dan sesekali emerald Sakura memastikannya dengan melirik ke bawah. Kaki Sasuke masing menginjak tanah.

"Kau meminum berapa gelas?" tanya Sakura.

"Tidak sama sekali." tentu saja Sasuke bukan tipe orang yang bisa dijebak untuk mengatakan kata Uno.

"Pipimu sudah tidak membengkak." Sakura mengangkat topik pembicaraan yang basi.

"Kau seperti terobsesi dengan pipiku sekarang." Sasuke mengerling melalui sudut mata.

'Apa? terobsesi? Shannaro!' batin Sakura.

"Bu-bukan begitu." tampik gadis itu. "Aku hanya menyatakan kebenaran." pemilihan kata-kata yang terdengar heroic.

Teeerttttt...teeertttt...

Sakura tersentak saat ponselnya bergetar di saku celana.

"Hallo ayah...?" Sakura merendahkah suaranya.

"Sayang? kau sedang apa?" ayah Sakura tengah duduk di teras belakang rumahnya, ia pun duduk menghadap kolam ikan sambil mengibas-ngibaskan kipas.

"Aku sedang bersama teman yah.." jawab Sakura.

"Apa? teman? siapa pria itu?" ayah Sakura jelas salah paham.

"Bukan yah... bukan itu..." Sakura melirik Sasuke, gadis itu lalu beranjak ke tempat lain. Sasuke masih duduk sambil memandang kolam.

"Ada apa yah?" tanya Sakura kemudian.

"Nak, pamanmu sakit. Bisakah kau menjenguknya untukku?"

"Paman Harashima? paman sakit apa?"

"Dia menelpon. Persendiannya sakit dan dia tidak bisa berjalan."

"Benarkah?!"

"Ya, karena itu ayah ingin meminta tolong padamu. Bisakah kau mencarikan obat kapsul teripang?"

"Kapsul teripang? apa itu yah?"

"Obat dari spesies gamat teripang yang bernama Stichopus Variegatus yang merupakan satu-satunya jenis teripang yang memiliki kandungan istimewa yang tidak dimiliki oleh jenis teripang lainnya, yaitu kandungan gamapeptide." ayah Sakura terdengar seperti sedang membaca keterangan kandungan suatu obat, dan benar..., ayahnya itu memang sedang membaca artikel dari google melalui ipadnya.

"Apa apotik di desa Ame tidak menjual obat itu?"

"Tidak nak... mereka tidak menjualnya dan kudengar Konoha memiliki apotik dengan obat-obatan terlengkap."

"Baiklah yah, lalu obat itu akan dikirimkan?

"Tidak, ayah meminta tolong padamu untuk mengantarkan obat itu, besok hari minggu kan? pamanmu juga merindukanmu, jenguklah dia..."

"Emm, ya baiklah yah. Aku akan mengantar obatnya."

"Terimakasih sayang. Apakah kau masih bersama temanmu?"

"Ya, sebentar lagi kami akan pulang." Sakura melirik rekan-rekannya yang masih asik bermain Uno, dan Sasuke yang... Lho.., Kemana perginya pria itu?

.

.

"Sampai jumpa semua..." Naruto melambaikan tangan dengan mata sayu-sayu.

Permainan Uno telah usai dan kedai sudah hampir tutup. Lee harus menerima pahit kekalahannya dengan meneguk satu botol sake. Tubuh Lee kehilangan gravitasi dan sekarang pria itu sedang ditangani Neji. Selain Lee ada juga yang menjadi korban Sake. Naruto berjalan sempoyongan menuju mobil Jeep-nya, pria itu terlihat sedikit mabuk setelah meneguk empat gelas sake. Kiba dengan terpaksa harus mengendarai mobil Naruto demi keselamatan dua penumpang wanita yang dibawa pria itu.

"Kau peminum alkohol yang buruk." Komen Kiba. Mobil melaju di jalan raya. Naruto duduk di depan dengan kondisi antara sadar dan tidak, ia terlihat seperti menutup mata tapi juga tidak membukanya secara sempurna. Sayup-sayup.

"Kalian menjebakku..." nada bicara Naruto tarik ulur.

"Itu karena kebodohanmu sendiri." sahut Kiba.

"Sakura-chan...kau jago bermain Uno.." puji Hinata.

"Tidak juga..., aku hanya sedang beruntung."

"Sasuke-san keluar permainan setelahmu kan?"

"Hmm." Sakura mengangguk, ia jadi memikirkan kemana perginya pria itu. Tiba-tiba menghilang saja.

"Tadi Sasuke pergi kemanaaa?" tanya Naruto, masih dengan nada talik ulur.

"Terakhir kulihat dia mengobrol denganmu kan Sakura?" tanya Kiba. Sakura pun mengangguk.

"Kalian mengobrol apa?" tanya Naruto lagi.

"Tidak banyak. Terakhir dia bilang aku terobsesi dengan pipinya."

Haaaa? serempak Naruto dan Hinata menoleh ke arah Sakura. Kiba juga melihatnya dari kaca spion. Mata Sakura yang sayup-sayup langsung berpijar setelah sadari kata-katanya sendiri tiga detik kemudian.

"A! bukan begitu! maksudku aku membicarakan luka lebam di pipinya!"

.

.

"Kau melewatkan makan malam keluarga." Seorang pria berdiri di depan pintu kamar Sasuke. Ia memiliki kedua onyx kelam yang identik, pria itu adalah kakak Sasuke, anak sulung keluarga Uchiha.

"Jangan membahasnya Itachi-nii." Sasuke tiba di rumah beberapa menit yang lalu.

"Darimana saja kau?"

"Ada acara makan malam bersama rekan-rekan kerja." Sasuke memejamkan mata di atas ranjang dan enggan menoleh.

"Aa...," Itachi memandang adiknya beberapa detik dalam ketenangan, kemudian ia beranjak dari depan pintu. "Jika kau ingin menyapa ayah, dia ada di ruangannya." sambungnya, Itachi lalu menutup pintu kamar.

Sasuke mengurut pelipis mata. Mendengar kedatangan ayahnya malam ini membuat pria itu tampak menegang. Sebelumnya, ia telah mendapat kabar soal rencana kedatangan ayahnya ke Konoha dua hari yang lalu. Sasuke seperti menghindari sesuatu.

"Otosan." Sasuke berdiri di depan pintu ruang pribadi ayahnya. Pada akhirnya ia harus menyapa kepala keluarga Uchiha.

Ruang pribadi ayah Sasuke cukup luas. Beralaskan karpet merah dikelilingi deretan rak buku. Terpajang foto-foto keluarga pada dinding dan juga di atas meja almari. Ah lihat, terpajang foto Sasuke saat masih anak-anak, sangat lucu dan menggemaskan. Selain itu, di antaranya juga terdapat foto Sasuke dipeluk seorang wanita cantik yang sangat mirip dengannya, mungkin itu ibu Sasuke.

"Lama tidak berjumpa, bagaimana keadaanmu?" seorang pria setengah baya duduk di sofa single di depan perapian. Dilihat dari paras yang sedikit mirip, pria itu adalah ayah Sasuke. Uchiha Fugaku.

"Aku baik-baik saja, bagaimana kabarmu, Otosan?" Sasuke duduk menghadap ke ayahnya.

"Sungguh menyenangkan bisa makan malam bersama keluarga walaupun anak bungsuku melewatkannya." perkataan Fukagu terdengar menyindir dan Sasuke tidak mengucapkan sepatah katapun untuk mengutarakan alasannya.

"Bagaimana kabar ibu?" Sasuke mengalihkan pembicaraan.

"Ibumu baik-baik saja." Fugaku lalu berdiri. "Besok kita akan menjenguk pemakaman Uchiha, bersiaplah." ayah Sasuke beranjak meninggalkan ruangan, meninggalkan Sasuke yang masih terpaku memandang perapian.

.


.

Keesokan harinya. Sakura tiba di toko apotik terbesar di Konoha, bahkan apotik itu terlihat seperti sebuah Klinik kesehatan. Sakura mulai meragukan keberadaan obat yang dimaksud ayahnya setelah limabelas menit lamanya ia menunggu seorang apoteker mengambil kapsul teripang di ruang penyimpanan obat.

"Nona, kapsul teripang yang anda maksud tidak ada di persediaan, kami kehabisan stoknya." seorang apoteker keluar membawa berita baik.

"Lalu kira-kira dimana aku bisa mendapatkannya selain di apotik ini?" tanya Sakura.

"Aku akan memeriksanya di apotik cabang, mohon tunggu sebentar." pria itu lalu menghubungi apotik cabang dan Sakura mulai menggerak-gerakkan telapak kakinya.

"Nona, cabang kami memiliki persedian kapsul teripang. Kau bisa membelinya di sana."

"Dimana letak cabangnya?"

"Di Konoha plaza, nona."

Sakura langsung menelan ludah. Shannaro...

.

.

Sakura berdiri penuh keraguan di depan gedung mall bertingkat tujuh. Mentalnya akan dipertaruhkan di dalam. Hari ini adalah hari minggu, sudah pasti banyak pengunjung yang datang untuk memanjakan mata. Ada sesuatu yang menjadi alasan mengapa Sakura berdiri cukup lama seperti mempersiapkan mental. Gadis itu takut pada keramaian yang sesak. Kelemahannya ini lama tidak diuji. Tapi, demi sang paman yang saat ini menderita persendian, Sakura pun nekad masuk ke dalam.

"Nona... segera ambilkan aku satu pak kapsul teripang." pinta Sakura, ia tiba setelah mengarungi samudra kebingungan. wajahnya pucat, keringat yang bercucuran di dahi lebarnya membuat apoteker khawatir saat gadis itu tiba beberapa detik yang lalu.

"Ba-baik." tanpa bertanya ini itu, apoteker segera mengambil kapsul teripang, mungkin berfikir Sakura akan mati jika tidak meminum kapsul itu sekarang.

"Ini nona." apoteker dengan cekatan membungkus dan menyerahkannya pada kasir.

"Anda baik-baik saja?" apoteker itu mencemaskan Sakura.

"Hmm.." Sakura menggelengkan kepala, mengeluarkan beberapa uang dari dalam dompet dengan tangan gemetaran. Harus bertahan, ia hanya perlu membayarnya lalu keluar dari gedung ini, menghirup udara segar dan mencari air untuk mencuci tangan.

"Terimakasih." dengan ekspresi yang masih mengkhawatirkan Sakura keluar dari apotik. Perjuangan berlanjut. Apoteker dan kasir memandang Sakura dengan raut kecemasan.

Sakura berusaha mempertahankan akal sehat di antara lalu lalang dan kerumunan orang saat ia menelusuri lantai demi lantai mall. Tingkat kesadarannya mulai di antara garis krisis. Konoha Plaza sedang mengadakan pesta bazar akhir bulan, ramainya bukan main. Ditambah pertunjukan musik pop yang menggema di lantai dasar. Ini serius, mall benar-benar ramai pengunjung, bagaimana jika Konoha membangun beberapa mall lagi agar bisa memecah penduduk di akhir pekan? Sakura pasti setuju.

Sakura berjalan di tepi-tepi toko, sesekali ia berhenti untuk memejamkan mata serta menutup telinga selama lima menit. Ia melakukannya secara berangsur hingga mencapai lantai dasar dan berhasil keluar dari mall dengan selamat. Gadis itu melewati uji nyalinya dengan nafas tersengal-sengal, detak jantung yang memacu tak beraturan dan perut yang sedikit mual. Lama tidak diuji seperti ini. Payah sekali rasanya. Sakura menarik nafas dalam-dalam, memberi paru-paru pasokan oksigen sebanyak mungkin. Sakura berjanji untuk tidak lagi memasuki mall Konoha pada hari minggu, atau tidak untuk selamanya.

"Okachan..."

Sakura menoleh. Ya ampun... anak siapa ini...? seorang anak kecil laki-laki berdiri di balik pot tanaman palm, persis di depan pintu masuk mall. Anak itu memasang raut wajah polos yang menggemaskan, ia memandang ke arah Sakura dengan bola mata sedikit berkaca-kaca. Bocah itu berambut setengah jabrik di bagian belakang, warna rambutnya hitam pekat, matanya bulat seperti anak kucing. Sangat imut, umurnya mungkin empat tahun. Sepertinya ia terpisah dari orang tuanya, kasihan sekali. Sakura menghampiri anak itu lalu berjongkok menyamakan tinggi mereka.

"Dimana mama-mu sayang?" tanya Sakura, anak kecil itu sedikit takut.

"Okachan..." anak kecil itu hanya menyebut ibunya. Ekspresinya ingin menangis tapi sangat menggemaskan.

Sakura bingung, bagaimana ini? apa yang harus ia lakukan? kemana perginya orang tua anak ini? apa mereka sedang berburu bazar? Kemana perginya security? ah benar, anak kecil ini bersembunyi dibalik pot besar, jelas security yang terlihat setengah mengantuk itu tidak melihatnya.

"Apa mamamu di dalam?" Sakura menunjuk pintu masuk mall. Anak kecil itu mengangguk. Shannaro... celaka!

Sakura lalu menggandeng anak itu menuju security.

"Tuan!"

"Hah? bagaimana nona? ada yang bisa saya bantu?" mata sayup-sayup security langsung terang menderang.

"Anak ini terpisah dari orang tuanya." jelas Sakura, ia bermaksud menitipkan anak itu agar dibawa ke pusat informasi. Dengan panggilan melalui pengeras suara, orang tua anak ini akan menemukannya.

"Nah, adik... kau ikut bersama paman ini ya..." anak kecil itu langsung menggenggam kuat celana Sakura. Celaka. Ia takut saat security mengulurkan tangan. Bahkan sepertinya ingin menangis. Ya.. tidak mengherankan kenapa anak kecil ini takut ketika melihat seorang pria bertubuh besar, berkulit gelap dengan wajah yang sangar, mungkin ada baiknya jika security memakai kostum donal bebek atau mickey mouse.

"Nona, bagaimana jika kau saja yang membawanya ke pusat informasi."

Shannarooo...

Dengan terpaksa akhirnya Sakura masuk ke dalam mall lagi. Seperti memasuki neraka dua kali, pandangan gadis itu mulai berkunang-kunang. Perutnya pun sudah mulai mual. Sakura menggenggam erat tangan anak kecil itu sambil mencari tanda arah menuju pusat informasi dan sialnya kenapa mall ini begitu besar?! Sakura ingin menghubungi Naruto sekarang, tapi percuma sana... pria itu pasti sedang tidak sadarkan diri di apartemen. Weekend list Naruto. Tidur nyenyak.

Tidak kuat. Sakura menarik anak itu ke tepi dan langsung berjongkok. Ia mengambil nafas dalam. 'Ini buruk' sepertinya Sakura telah mencapai batas maksimal.

"Nechan..." anak kecil itu menarik lengan baju Sakura, ekspresinya ikut khawatir, tidak mengerti melihat kondisinya.

Sakura tersenyum, mengusap kepala anak itu dengan wajah pucat. Rasa lemas, pusing, mual, jantung berdebar-debar sudah menjadi satu di tubuhnya yang gemetaran. Hanya satu hal yang Sakura butuhkan saat ini. Air. Ia harus menyentuh air sekarang. Pengunjung yang berlalu lalang melihat ke arah mereka. Sakura memeluk anak kecil itu, ia akan jatuh pingsan.

"Hei."

Seorang pria menyentuh pundak Sakura. Dengan kondisi sedikit tersadarkan gadis itu pun menoleh, mendapati sosok pria berambut merah dengan tatto di kening. Gaara.

"Kau baik-baik saja?" suara Gaara terdengar sangat pelan di telinga Sakura, pandangan gadis itu kabur dan ia hanya bisa mengucapkan kata 'air'.

.

.

"Kenji...!" seorang wanita dengan raut wajah cemas datang menghampiri pusat informasi. Satu orang babbysitter dan pengawal mengikutinya di belakang. Wanita itu berparas cantik, memiliki rambut pendek dengan jepit bunga menghiasi rambut biru muda-nya. Matanya berwarna oranye, ia mengenakan gaun hitam sepanjang lutut serta high heels hitam setinggi sepuluh centi. Wanita itu memeluk erat Kenji kemudian mencium kedua pipi anaknya tanpa henti.

"Terimakasih telah membawa Kenji ke sini nona." wanita itu menggenggam kedua tangan Sakura dengan wajah kelegaan luar biasa. Sakura heran bagaimana ceritanya anaknya itu bisa hilang. Mungkin Gaara yang bediri tenang di samping Sakura juga ikut membatin demikian.

"Aa, tidak masalah nyonya." Sakura tersenyum.

"Okachan..." Kenji menarik-narik gaun ibunya dengan tatapan imut. Sakura berjongkok dan mengelus kepala Kenji.

"Kenji, ucapkan terimakasih untuk neechan dan niichan ini." perintah ibunya.

"Aligatou... niichan.. Aligatou neechan..." Oh my God! Suara Kenji begitu imut! Gaara tersenyum samar dan mengusap kepala anak itu.

"Nah..., jangan tersesat lagi ya Kenji..." Sakura tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencium pipi Kenji, ia berharap kelak anaknya bisa seperti itu, lucu dan menggemaskan. Ya... itu tergantung dengan siapa kau akan menikah nanti...

"Bye...bye..." Kenji dan ibunya meninggalkan pusat Informasi. Keduanya melambaikan tangan mereka, begitu pula dengan Sakura.

"Kau siap keluar gedung?" tanya Gaara kemudian.

"Ah, maaf merepotkan!" Sakura membungkuk didepan Gaara.

"Sepertinya kita pernah bertemu." Gaara mengulurkan tangan.

"Ya, kita bertanding di pertandingan bisbol sabtu kemarin." Sakura tersenyum dan menjabat tangan Gaara.

"Haruno Sakura."

"Sabaku Gaara."

Mereka berdua berkenalan.

"Apa keadaanmu sudah membaik?" tanya Gaara.

"Ah ya..., aku sudah membaik, maaf merepotkanmu, Gaara-san." Sakura tersenyum canggung, mengingat beberapa saat yang lalu dimana Gaara muncul saat dirinya hampir tidak sadarkan diri. Gaara menuntunnya ke toilet dan menunggu di luar bersama Kenji, entah kenapa Kenji tidak takut dengannya, bahkan Kenji mau digendong Gaara saat menuju pusat informasi, pria itu juga menggandeng Sakura yang masih sempoyongan. Orang akan mengira Kenji adalah anak Sakura dan Gaara jika Kenji mengecat rambutnya berwarna merah.

"Tidak perlu minta maaf. Apa kau perlu ke kamar mandi lagi?" tanya Gaara.

"Ah.., tidak." Sakura menggeleng.

"Kau bisa naik lift?"

"Ya, aku bisa." Sakura bingung 'naik lift' yang dimaksudkan Gaara ini soal permasalahannya dengan lingkungan atau kemampuannya untuk naik lift?

"Kita akan menuju lantai basement menggunakan lift dan keluar melalui parkiran mobil. Kau setuju?" Ide Gaara sangat cermerlang, seolah-olah ia tahu apa yang dihadapi Sakura saat ini.

"Baiklah." jawab Sakura, mereka lalu meninggalkan ruang informasi.

.

.

"Apa ada bis yang menuju desa Ame di jam sekarang?" tanya Sakura, mereka berjalan keluar area parkir bassement menuju depan gedung mall. Sakura terus memperhatikan jam tangan, waktu menunjukkan pukul tiga sore. Ternyata misi menemukan obat teripang dan juga menemukan Ibu kenji telah memakan waktu cukup lama.

"Ada bis menuju desa Ame sampai jam tujuh malam." jawab Gaara.

"Berapa lama perjalanan dari Konoha ke sana menggunakan bis?"

"Kira-kira dua sampai tiga jam, kecuali jika kau naik kereta, hanya membutuhkan waktu satu setengah jam. Kenapa kau tidak naik Kereta saja?"

"Aku akan pergi naik bis dan pulang naik kereta malam." jawab Sakura. Gaara mengangguk paham. Keduanya terus berjalan hingga tiba di halaman depan gedung mall.

"Kau yakin keadanmu sudah membaik?" tanya Gaara sekali lagi, walau punya tatto di kening, pria ini ternyata cukup perhatian.

"Ya, aku sudah membaik sekarang. Terimakasih Gaara-san." Sakura mengumbar senyuman. Sesaat Gaara terpaku memandang wajah gadis itu.

"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa." Gaara tersenyum samar.

"Ya, sampai jumpa Gaara-san."