Lonceng malam dari merjusuar ditengah pulau berdentang, suara jeritan burung malam menjadi teman, Fang tertawa di balik wajah datarnya kala siluet semu itu kembali mengadili. Ingin ia bertanya, 'apa salahku?'
Mengapa bayang itu tidak kunjung hilang?
Fang meratap, dari balik horden ia merasa ibunya kembali datang, ibunya tersenyum. Meski tanpa mata dengan mulut robek sampai telinga. Tapi baginya ibunya tetap terlihat cantik, dan ia mengaguminya.
Fang melihat, bayangannya dicermin.
Dan kembali ia melihat sosok ibu. Dengan wajah indah tanpa luka, tersenyum penuh cinta.
"Aku merindukanmu, ibu.."
Pemuda bernama Fang itu bersandar pada tembok, berlahan kesadarannya menghilang, membawanya melayang menjemput mimpi.
THE NIGHT
Disclaimer: Animonsta studio
Warning: Fanfic dari autor newbie, Typo (s), jelek, OC, OOC, alur ga jelas dll
.
.
Selamat Membaca~~
.
.
.
.
Fang menggeliat dari tidurnya ketika suara dering yang begitu akrab menyapanya.
Berlahan matanya terbuka, ia bangkit, dengan rasa ogah-ogahan ia mengangkat alat yang kebanyakan orang sebut dengan telfon itu.
"Hallo?"
"Kau dimana, Fang?"
"Ah, Ying.. Aku dirumah.."
terdengar helaan nafas disebrang telfon.
"Hari ini hari pertama kita pindah sekolah tau!"
"kau lupa?" lanjut gadis yang dipanggil Ying itu.
Fang menepuk jidatnya, "Ah bagaimana aku bisa lupa.."
"Sudah cepat kau bersiap-siap, aku sudah ada didepan rumahmu, tau." Fang dengan terburu-buru membuka horden jendelanya. Tampak sosok Ying yang tersenyum sebari melambai ke arahnya.
"Oke kau tunggu aku, 5 menit lagi aku turun.."
"Eh lima menit?! Jangan bilang kau tidak man-" perkataan Ying terputus bersamaan dengan suara telfon yang ditutup, Ying kembali menghela nafas
"Oh tuhan, jangan bilang dia tidak mandi lagi?!"
O-o-O
Yaya menunggu, hampir keseluruhan siswa dan siswi telah memasuki kelas, hanya satu orang yang ia tunggu, yang kini tidak kunjung datang.
Di lihatnya lagi tempat duduk disampingnya.
Kosong.
Lagi-lagi Sara tidak masuk sekolah.
Jelas ini membuatnya merasa benar-benar kesepian.
Ya. Sara. Satu-satunya temannya di sekolah ini.
Yaya bangkit, mencoba memberanikan diri untuk melangkah mendekati sekumpulan orang yang tengah berbincang sambil sesekali tertawa. Ya, tidak ada salahnya untuk bertanya bukan?
"Apa kalian melihat, Sara?" tanya Yaya.
Tidak ada jawaban yang Yaya terima, hanya tatapan aneh dari belasan pasang mata, yang seolah-olah menelanjanginya.
Seakan-akan Yaya telah melakukan suatu hal yang berada di luar batas kewajaran.
"Apa kalian melihat, Sara?" ulangnya. Berharap salah satu manusia diantara kumpulan manusia itu ada yang mau menjawab pertanyaannya. Namun hening. 'Percuma' batin Yaya.
Yaya berbalik, mendekat ke arah tempat duduknya, dan mendudukan diri disana.
"Lihat lagi-lagi anak baru itu bersikap aneh.." seorang gadis berambut pendek berbisik.
"Tadi katanya siapa? Ah, Jangan-jangan dia gila!" tambah seorang pemuda yang ada dibelakang gadis itu.
"Sayang sekali ya, padahal ia cantik pintar lagi" tambah siswa yang lain.
"Cih. Menyedihkan.."
Yaya berusaha menulikan telinganya.
Seperti biasa ia sendiri. Dan mungkin akan seterusnya sendiri, entahlah ia tidak tau pasti.
Terkadang Yaya bermimpi dan berharap bisa bersekolah di tempat Fang dan Ying yang notabene adalah teman masa kecilnya.
Tapi percuma.
Karena beasiswanya hanya berlaku untuk satu sekolah, dan ibunya malah menuliskan nama sekolah ini sebagai tempat anaknya untuk menimba ilmu, tanpa menyadari bahwa-tanpa sengaja-ibunya telah mengantarkannya menuju neraka.
"Aku benci sekolah ini"
O-o-O
Yaya memandang jauh kearah jendela,
Suara derap sepatu terdengar.
Entah mengapa Yaya yakin bahwa itu adalah suara sepatu berhak tinggi yang seringkali dipakai oleh Bu Timmy, gurunya. dan tentunya suara derap langkah lain yang tidak ia ketahui siapa.
Alih-alih ia menghadap, dan memberi hormat.
Yaya malah tidak mengalihkan wajahnya dari jendela.
Ia lebih memilih mengabaikan, seperti ia yang selalu di abaikan.
Karena tanpa diberi tahu pun ia sadar gurunya, tidak ada bedanya dengan siswa-siswi dikelasnya.
Ya, dulu ia pernah memergoki gurunya itu memohon kepada kepala sekolah agar memindahkan ia ke kelas lain.
Dan itu cukup membuatnya berkesimpulan, bahwa gurunya pun tidak merasa nyaman dengan kehadirannya dikelas ini.
"Ah, belum datang semua rupanya." Bu Timmy tersenyum.
Kelas mendadak riuh.
Namun Yaya tidak perduli.
Kecuali Yaya, seluruh penghuni kelas itu berbisik, tidak lama gurunya memanggil namanya, dan memerintahkannya untuk mengangkat tangan, namun ia tetap diam.
Derap langkah terdengar mendekat, tapi Yaya tetap acuh.
Hingga seseorang duduk di sampingnya.
"Boleh aku meminjam pulpen?" Yaya menggeser kotak alat tulisnya kesamping. Seakan menitahkan agar orang disampingnya untuk mengambil pulpen yang berada didalam kotak itu sendiri.
"Apa kau punya buku, pensil, penghapus, juga kotak bekal yang bisa aku makan?"
'Apa-apaan dia?' Yaya berbalik.
"Boboiboy?!" berpasang-pasang mata memandang kearahnya, termasuk gurunya.
Dan itu membuat Yaya merasa canggung.
Boboiboy balik menatap semua orang yang berada di ruangan itu. Ia tersenyum lembut.
"Tunangan saya memang selalu seperti ini, mungkin ia kaget karena saya datang mendadak,"
Bu Timmy hanya mengangguk, sementara seluruh siswa dan siswi kembali berbisik-bisik.
"Tunangan katanya? Berarti gadis itu normal,"
"Iya mana mungkin ia memiliki tunangan, kalau ia gila, dan.. tunangannya manis ya?!"
"Ah.. Sepertinya kita salah faham.. Nanti ayo kita bicara dengannya"
Yaya memandang Boboiboy dengan tatapan bingung. Boboiboy tersenyum simpul.
"Dapat kau jelaskan semua ini, Tuan?"
Ya. Ia harus memaksa Boboiboy untuk menjelaskan semuanya, harus.
"Mungkin nanti" Boboiboy tersenyum jahil. Membuat Yaya semakin jengkel.
"KAU-"
"YAYA!" Yaya menunduk mendengar bentakan dari gurunya,
"Maaf, Bu.." kata Yaya dengan penuh penyesalan.
Boboiboy menutup mulutnya mencoba meredam tawa, sesekali ia mengucapkan kata 'terbaik' disela-sela kekehannya.
Yaya mendelik. Boboiboy terlihat salah tingkah.
"So-sorry" Boboiboy mengacungkan jari tengah dan telunjuknya ke udara, membuat simbol piece.
Yaya menghela nafas, mengapa pemuda dihadapannya ini begitu cepat berubah, seakan-akan malaikat dan iblis berada dalam satu tubuh. Tapi, ya, ia tidak harus ambil pusing bukan?
Yang terpenting sekarang ia tidak akan merasa kesepian selama di sekolah. Diam-diam Yaya tersenyum.
O-o-O
"Maaf kami terlambat" Fang bersuara diantara helaan nafasnya yang terengah-engah.
"Iya, Bu, Si bodoh itu bangun kesiangan tadi" Fang mendelik, sebenarnya ia ingin menimpali perkataan Ying yang menurutnya terlalu sarkartis, namun ia terlalu lelah. Jelas saja mereka sudah berlari sepanjang koridor sekolah yang luas karena sekolah bertaraf internasional itu memiliki banyak ruang kelas, meski setiap kelas hanya di huni tak lebih dari 15 murid, belum lagi mereka yang sempat nyasar, dan salah masuk kelas beberapa kali.
Yaya memandang kedua temannya itu, ia benar-benar menahan diri untuk tidak melompat kegirangan detik itu juga.
"Tidak apa-apa.. silakan kalian pilih tempat yang kalian suka" Bu Timmy tersenyum.
Ying melambai ke arah Yaya, dengan segera ia berlari dan memilih tempat duduk yang terletak tepat di belakang gadis berhijab itu. Fang menghela nafas 'Dasar norak, Jadi sebenarnya siapa yang bodoh di sini?'
Fang berjalan ke arah tempat duduk Ying. Tanpa sengaja matanya bertemu pandang dengan Boboiboy. Kepalanya tiba-tiba berdenyut. Seakan-akan ia pernah bertemu dengan Boboiboy sebelumnya.
Begitu juga dengan Boboiboy, ia tampak berfikir keras. Mencoba mengingat-ngingat siapa sebenarnya pemuda berkacamata nila itu.
'Mungkinkah dia?' Boboiboy menerka-nerka.
Angin bertiup kencang menerbangkan dedaunan yang terlepas dari tangkainya. Keempat remaja itu berdiam diri di bawah pohon, kelas mereka sudah berakhir sejak satu jam yang lalu.
"Jadi kenapa kalian pindah ke sini?" tanya Yaya penuh semangat.
Fang melirik ke arah Ying, "Karena si anak hyperaktif ini, menghawatirkanmu" Ying cemberut, tangannya mengepal ke udara, menunjukan sebuah ancaman. Yaya tertawa.
Fang memandang tajam pemuda yang berada di samping Yaya.
"Siapa dia?" tanya Fang,
Yaya terlihat gugup,
"Aku Boboiboy, Salam kenal" Boboiboy mengulurkan tangan. Fang menatap penuh curiga.
"Siapa kau?" tanya Fang.
"Bukankah kita baru bertemu?" Fang terdiam dalam hati ia membenarkan apa yang pemuda bertopi jingga itu katakan.
"Oh iya kau benar, tadi siapa namamu?" Boboiboy tersenyum lebih tepatnya menyeringai
"Namaku.. Boboiboy"
O-o-O
Cahaya senja menyinari, Kedua anak adam berlainan jenis itu berjalan bersama, ah tidak, lebih tepatnya si gadis yang mengekori sang pemuda itu.
"Boboiboy?" Boboiboy menghentikan langkahnya.
"Hm?" pemuda itu berbalik menghadap Yaya lalu tersenyum.
Yaya memandang wajah pemuda itu, tiba-tiba ia teringat akan perkataan Boboiboy yang mengaku sebagai tunangannya, berlahan pipinya memerah.
"Kenapa kau bersekolah di sekolahku?"
"Tidak boleh ya? Padahal aku hanya ingin melindungimu.." Boboiboy mendesah kecewa,
"Tentu boleh!"
"Benarkah?" Yaya mengangguk semangat.
"Kau memang terbaik!" ujar Boboiboy.
"Ah dan ya aku ingin mengucapkan terimakasih!" Yaya menunduk, Boboiboy tersenyum.
"Untuk?" tanya Boboiboy.
"Karena kau membuat semua teman sekelasku mau berbicara denganku."
"Kalau soal hal itu sebagai imbalannya aku meminta hadiah" kata Boboiboy singkat.
"Eh?"
"Malam ini kau harus ikut denganku, dan tidur bersamaku" Mata Boboiboy kembali berwarna merah.
'APA?!' Yaya mengangkat wajahnya.
"Karena aku tidak mau kau mati"
TBC
.
.
.
yaaaahh kependekan lagii :'( #nangis
Terimakasih untuk semua yg sudah memfollow,mem-fav, dan mereview fanfic hana :D
Mohon maaf atas keterlambatan hana habis ikut lomba dan alhamdulilah menang
hehe... dan oh iya chap ini bagian romance hehe dan tentunya memberi jeda untuk chap depan yang bunuh2an lagi hehe
dan terimakasih saran2nya soal cap 3 yang ancur kemarin,
sebenernya fic ini mau di disc gara2 kasus kemarin :')
tp arina-chan dah support thankks yaaaaa arina..
.
.
.
.
.
review?
