Mata Mira melebar. Ia meregangkan pelukannya dengan Laxus. Wajah Mira terlihat kaget, kesal, dan kaget secara bersamaan. "Laxus, apa maksudmu?"tanya Mira. Laxus hanya tersenyum palsu kepada Mira. Dari matanya Mira tahu kalau misi ini tidak lah mudah. "Besok aku akan pergi."ucap Laxus dengan suara yang tak dapat dijelaskan.
"Laxus, kau tahu kau akan ke mana?"tanya Mira dengan cemas. Tangannya yang menggenggam tangan Laxus mulai sedikit bergetar. Laxus menundukan kepalanya. Ia menggeleng pelan.
Laxus mengangkat kepalanya lagi. Melihat mata Mira yang berkaca – kaca. "Hey, semuanya akan baik – baik saja."Laxus memeluk Mira. Mencoba menenangkannya. "Bagaimana dengan William? Kau tahu ia tak bisa berpisah denganmu."Laxus terdiam. Ia melirik bocah laki – laki yang tertidur di kasur Mira. Seraya mengeratkan pelukannya dengan Mira.
"Misi ini sebenarnya berhubungan dengan William."Laxus berkata memecah kesunyian. Mira melepaskan pelukannya. "Apa?"
"Salah satu Dewan sihir pernah melihat William. Dan kau tahu kan William memiliki tanda di punggungnya. Tanda salah satu keturunan mage terdahulu. Ia menawarkanku misi ini agar aku bisa mengetahui siapa William ini dan sebagai misi menjauhkannya dari bahaya."ucap Laxus jelas. "Maksudmu, tanda bulan sabit kecil itu?"Laxus mengangguk menjawab pertanyaan Mira.
"Kau harus berjanji padaku tak akan ada hal aneh yang terjadi padamu."Laxus tersenyum. Sesaat kemudian terdengar suara tangisan keras.
"ka-chaaannn~"tangis bocah kecil di kasur Mira. Mira bergegas menghampir kasurnya itu. Sepertinya William sedang bermimpi buruk. Mira menepuk pelan punggungnya. "Iya, ka-chan di sini."suara Mira terdengar sangat lembut dan pelan. Namun, tetap saja William tak berhenti menangis. Mira memeriksa suhu tubuh William. Tidak panas. Mira akhirnya menggendongnya. Mengayunnya pelan. Menepuk pelan punggung William yang tak berhenti menangis.
"Cangan pelgiii~"isak William. Membuat Mira sedikit merasa sedih. Pasti ia bermimpi di tinggal Mira. Mira tersenyum tipis. Dan terus menepuk pelan punggungnya. "Ka-chan nggak akan pergi William."
William terus menangis. Tidak sekeras tadi. Namun ia masih terlihat ketekutan. Laxus menghampiri mereka dan menawarkan dirinya menggendong William. Menepuk pelan punggung pria kecil di pelukannya. Laxus menyadari tanda di punggung William bersinar. Ia membuka piyama William dan melihat tanda bulan sabit William yang bersinar. Laxus menyentuh tanda itu dan menyadari tanda itu membakar kulit Wiliam.
"Mira ambilkan handuk basah atau kompresan, kulitnya terbakar."pinta Laxus dengan tegang. Mira langsung pergi mencari handuk basah. Laxus membaringkan William yang masih terisak dalam tidur. Tak lama Mira datang dengan membawa handuk basah. Laxus mengusap pelan tanda itu. Tak lama William mulai terdiam dan kembali tidru dengan tenang. Setelah beberapa lama mengusap punggung William dengan handuk basah luka bakar yang terlihat menyakiti William langsung menghilang dengan tiba – tiba. Dan tanda itu pun berhenti bercahaya. Mira mengusap pelan kepala William memastikan William telah kembali tertidur.
"Apa ia akan baik – baik saja?"tanya Mira cemas. Laxus juga cemas akan tanda di punggung William. "Aku tak tahu maksud dewan sihir itu adalah ini."Laxus menghela napasnya. "Ia mengatakan kalau tanda itu bisa membuat seseorang berhalusinasi dan membuatnya melukai tempat tanda itu berada."Mira terdiam. Ia mengalihkan perhatiannya dengan cemas ke William. Ia memerhatikan tanda bulan sabit di punggung William. Laxus mengelus pelan kepala bocah yang ia angap seperti putranya itu. rasa cemas menyelimuti kedua orangtua ini.
Tak lama Mira berbaring di kasur itu. Memeluk William dengan erat. Dan sesaat kemudian Laxus menyusul mereka. Ia menatap keluarga kecilnya. Malam ini cukup membuat Mira dan dia merasa cemas akan keadaan William. Mira menatap Laxus yang terus menatapnya cemas. "Apakah misi ini akan membuat William tidak mengalami hal seperti ini lagi?"bisik Mira dengan pelan. Laxus tersenyum dan memeluk mereka berdua. "Aku akan pastikan William akan baik – baik saja."Mira tersenyum tipis. "Dan jangan kau lupa janji mu."
"Tenang saja Mira, semuanya akan baik – baik saja."
.
.
.
.
Author's note
2 tahun gue tinggalin fanfic ini. Udah berdebu aja *coughcough
Ini pun karena lagi mood aja Update.
Maaf kan ane.
And have a nice day!
Sangatta 04/01/2016
