Stalking You (c) darkjune

Kim Namjoon

Romance-Comedy

T+ (15++)

Seluruh pemeran di cerita ini adalah milik Tuhan dan dirinya sendiri. Tapi jalan ceritanya (+OC) punya gue.

Cerita ini hanyalah fiksi dan hasil imajinasi belaka. Gausa baper, apalagi ngebaperin couple yang gue pake haha. Btw, ini ntar drama abis wkwk. Watch out of the thypo(s)!

"Aku pulang." Namjon berseru setelah menutup pintu apartemennya.

Matanya menyapu seluruh sudut ruangan. Dahinya berkerut bingung. Hari sabtu begini biasanya sang istri yang manis akan menyambutnya di depan pintu untuk membantunya membawakan jas dan tas kerjanya. Namun hari ini yang menyambutnya hanyalah hening.

Namjoon berjalan pelan menuju ruang makan saat hidungnya menangkap aroma harum. Senyumnya terkembang kala menemukan Minae sedang sibuk memasak. Seperti biasa Namjoon akan mengendap-endap untuk memeluk sang istri yang kemudian akan mengomelinya sambil memanyunkan bibirnya lucu.

Membayangkannya saja sudah cukup membuat Namjoon gemas, bagaimana kalau dia melakukannya?. Sepertinya sekarang waktu yang tepat. Namjoon yang sedang pusing dengan keadaan kantor yang belakangan kehilangan pasar mungkin butuh sedikit rileks. Bersandar nyaman lalu bercanda santai dengan istrinya bisa menjadi salah satu solusi.

Grepp

Namjoon memeluk erat sang istri, menanti celoteh khas yang akan meluncur. Namun hening. Minae hanya menepuk-nepuk punggung tangan Namjoon. Akhirnya Namjoon membalik tubuh Minae dan menemukan sang istri tersenyum tipis dengan-

Tunggu!?

Apa itu make up!?

Tumben sekali istrinya memakai make up yang cukup kentara di rumah. Biasanya wanita itu hanya akan mengenakan make up tipis yang tak mampu menutupi rona merah di pipinya kala Namjoon menggodanya. Minae bahkan tak mengenakan lipstik merah yang pernah dihadiahkan oleh Seulgi ke tempatnya bekerja. Tapi hari ini dia mengenakannya. Lipstik merah menyala yang membuat Namjoon penasaran sekaligus-

"Pffftt- Hahahaha."

-Ingin tertawa. Tertawa dengan keras.

"Sayang, kau kenapa?." Namjoon menyeka air mata di sudut matanya. Senyumnya kembali terkembang kala menyaksikan bibir berbalut lipstik merah itu mengerucut sebal. Istrinya memang tak akan pernah bisa berubah. Tetap menggemaskan seperti saat mereka pertama kali bertemu.

"Kanapa kau mengenakan make up berat begini di rumah?." Lipstik di bibir Minae diseka oleh Namjoon menggunakan tisu yang tersedia di dapur.

"Aku jelek ya?." Minae berujar pelan saat Namjoon selesai membersihkan lipstiknya.

"Ku cantik, Sayang. Sangat cantik. Tapi aku lebih suka melihatmu tanpa make up. Wajahmu itu lebih cantik dengan rona alami." Dan rona menggemaskan itu benar-benar muncul di pipi Minae.

"Dan untuk lipstik itu. Untuk apa kau mengenakannya? Toh akan segera hilang-"

Jarak antara sepasang suami-istri itu menipis. Namjoon yang melakukannya. Mengikis jarak demi memberikan ciuman mesra pada sang istri yang degub jantungnya sudah tak beraturan. Bahkan Namjoon bisa mendengar detak tak karuan sang istri kaking keras dan cepatnya jantung itu memompa darah.

"-Saat aku menciummu."

"Berhenti mengejutkanku!." Minae memukuli sang suami dengan wajah memerah saat berhasi menyadarkan diri dari ciuman suaminya. Namjoon hanya terkekeh, pukulan sang istri bukannya terasa sakit, justru seperti menggelitik tubuhnya.

"Aduh aduh Sayang. Baiklah, maafkan aku. Aduh, lihatlah masakanmu hampir hangus." Minae segera menghentikan tindakan anarkisnya pada sang suami dan mutar tubuhnya hanya untuk terpekik karena memang benar tumis jamurnya hampir hangus.

"Ini semua karenamu." Gerutunya pada Namjoon yang masih berada di balik punggungnya sembari menyelamatkan masakannya.

"Baiklah, kalau begitu aku takkan mengganggu. Selamat melanjutkan kegiatan memasakmu, Sayangku."

Cup

"Aku akan mandi dulu."

"Kim Namjoon!." Dan dengan segera Namjoon kabur ke kamar mandi setelah mencuri satu lagi kecupan di pipi sang istri.

Metode pertama: make up wanita anggun. Gagal.

.

Sesungguhnya Minae bukanlah sosok yang mudah menyerah. Terbukti dengan berbagai cara yang dilakukannya demi terlihat anggun dan dewasa di hadapan sang suami. Dimulai dari mengenakan make up yang bisa membuatnya terlihat berbeda -dengan bekal beberapa tutorial make up di internet tentu saja-, mengubah stylenya yang santai menjadi lebih formal, hingga mengubah nada bicaranya menjadi lebih kalem. Namun semua berakhir sama.

Gelak tawa Namjoon yang dilanjutkan dengan ciuman mesra dan diakhiri dengan teriakan protes Minae.

Pada akhirnya Minae memilih untuk kembali menjadi dirinya sendiri. Toh, semua caranya tak ada yang sukses. Dan wanita itu kembali dengan ide stalkingnya. Kembali mengikuti kegiatan Namjoon selama di kantor. Karena kebetulam sekali belakangan ini Namjoon sering menolak untuk dibawakan bekal dan makan di luar kantor.

"Hari ini tak usah dibuatkan bekal. Aku akan makan di luar." Ujar Namjoon saat melihat sang istri mengeluarkan kotak makan sederhana yang biasa dia bawa ke kantor.

"Lagi?." Namjoon hanya mengangguk sambil meminta sang istri menuju ke ruang makan. Bersiap untuk sarapan bersama.

"Masakanku tidak enak ya?."

"Bukan begitu, Sayang. Hanya saja ada yang harus ku lakukan di luar. Sekalian dengan makan siang. Rasanya aneh bukan jika kau makan bekal di tempat makan, bukannya membeli makan di sana."

"Tapi kau makan bekal di kafetaria."

"Itu berbeda, Sayang." Namjoon mengelus kepala sang istri berusaha memberi pengertian pada sang istri yang entah kenapa belakangan terlihat insecure.

Minae hanya mengangguk mendengar penuturan Namjoon. Namun otaknya kembali berputar. Memikirkan cara apa lagi yang bisa dia lakukan.

Namun pada akhirnya Minae memilih kembali ke kegiatan awalnya. Mengintai Namjoon di kantor dan tempat-tempat yang mungkin pria itu datangi. Jadi di sinilah Minae kembali. Semak lebat di sekitar kantor Namjoon. Dan benar saja, mobil Namjoon melaju keluar dari kantor. Entah dengan siapa. Kaca mobil suaminya terlalu gelap dan jarak antara Minae dan mobil Namjoon cukup jauh.

Minae sesegera mungkin mencari taksi untuk mengejar sang suami, namun sayang yang diharap segera muncul justru menghilang entah kemana. Ada taksi yang penuh, ada pula yang tak berhenti untuk Minae. Setelah hampir lima belas menit, akhirnya salah satu taksi berhenti di hadapan wanita berambut hitam itu. Tapi, malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Minae tak tahu kemana perginya sang suami.

"Anda tidak tahu hendak kemana?." Sang supir memberikan ekspresi heran sekaligus kesal, membuat Minae menggigit bibirnya karena gugup.

Ahaa!

Minae menjentikan jarinya saat berhasil memikirkan kemungkinan tempat Namjoon pergi. Kafe tak jauh dari kantor. Tempat terakhir kali Minae melihat Namjoon pergi bersama Wendy. Walau begitu, setelah Minae mengatakan alamat yang dituju, rasa gugup dan cemas tak bisa hilang begitu saja. Kali ini Minae memikirkan apa uang kira-kira dilakukan sang suami. Dan dengan siapa dia pergi atau bertemu. Genggamanmya pada tali sling bag hadiah dari Namjoon mengerat kala membayangkan Namjoon sedang bersama wanita lain.

Pikiran Minae sedang tak fokus, hingga dia tak menyadari bahwa taksi yang ditumpanginya telah sampai di tempat tujuan. Kali ini Minae turun dari taksi dan berjalan perlahan memasuki kafe saat melihat mobil sang suami masih terparkir rapi di halaman kafe. Pemandangan yang menyambutnya kala membuka pintu kafe itu adalah wana putih dan coklat yang dominan ditambah sentihan hijau muda. Terlihat elegan dan menyegarkan disaat yang bersamaan.

"Waw, selera Namjoon memang luar biasa."

Minae hampir melupakan alasannya mengunjungi kafe ini jika saja sosok itu tak tertangkap matanya. Di sana, beberapa meja dari tempat Minae berdiri terlihat sosok sang suami, Kim Namjoon, yang tengah memeluk seorang wanita. Dan dapat Minae lihat dengan jelas bahwa wanita dapam pelukan Namjoon adalah Wendy.

Lutut Minae mendadak melemas. Matanya memanas dan dadanya sesak. Satu langkah mundur tanpa sadar dia ambil, berniat segera pergi.

Brak

Sayang, kakinya mengkhianati. Sebuah kursi tak sengaja tersenggol oleh kaki jenjangnya, menimbulkan suara ribut. Saat Minae kembali memfokuskan pandangannya pada Namjoon, pria itu ternyata sedang menatap Minae. Mata Namjoon membelalak, terkejut akan kehadiram sang istri. Ditambah ekspresi terkejut dan terluka, serta air mata yang mengalir melewati pipinya yang memerah. Namun Namjoon yakin, itu bukanlah rona merah bahagia dan malu yang selalu dilihatnya dari sang istri.

"Minae..."

Belum sempat Namjoon melanjutkan kalimatnya, Minae telah berlalu. Berlari keluar dari kafe itu. Meninggalkan Namjoon yang segera mengikuti jejak istrinya dan Wendy yang masih memasang ekspresi bingung, juga pengunjung yang kini sibuk berbisik-bisik. Tak mau ambil pusing, Wendy kembali duduk sambil menunggu seseorang yang masih sibuk di toilet.

"Minae! Minae, tunggu!."

Yang dipanggil tak menyahut. Berhenti pun tidak. Tapi Namjoon masih terus memanggil nama sang istri. Keduanya telah menjauh dari kafe.

"Minae, tunggu aku. Dengarkan aku dulu, Sayang."

Minae masih berlari sambil menghapus air mata yang terus mengalir di pipinya. Pandangannya tak fokus dan matanya buram terkena air mata. Wanita itu bahkan tak menyadari kini dia berlari mendekati jalanan besar.

"Minae awas!."

Minae baru berhenti saat mendengar teriakan panik dari suaminya, juga beberapa suara asing yang memasuki telinganya. Tapi teriakan itu semakin tak terkendali saat Minae sepenuhnya menghentikan gerakannya. Wanita itu baru menyadari bahwa dirinya berdiri di tengah jalan raya saat suara klakson mobil. Tubuh Minae kaku seketika. Punggung tangannya bahkan belum berpindah dari pipinya. Saat mobil itu semakin mendekat, Minae hanya bisa menutup matanya.

"KYAAA..."

Ckiiit

Bruk

Teriakan beberapa orang, suara ban yang beradu dengan aspal dan rem, lalu Minae merasakan tubuhnya terpelanting kebelakang. Tapi tak ada rasa sakit yang berarti. Lalu setelahnya dia ingat, tubuhnya bukan terlempar melainkan tertarik. Dan saat Minae membuka mata, yang ditemukan adalah sosok sang suami yang tengah meringis di bawah tubuhnya. Minae bergegas bangkit dan memeriksa keadaan Namjoon.

"N-namjoon? Oppa? Kau baik-baik saja kan?."

"A-aku tak apa."

Air mata Minae kembali mengalir saat melihat Namjoon yang berusaha bangkit sambil terus memegangi bahu kirinya. Ekspresinya kesakitan namun masih sanggup memberikan senyum menenangkan untuk Minae. Minae menoleh mencari bantuan dan untung saja pengemudi mobil yang hampir menabraknya mau memberikan tumpangan menuju rumah sakit terdekat.

.

Krieeet

Pintu ruang VIP itu terbuka, memperlihatkan Namjoon yang duduk di atas ranjang dengan senyum menawan. Tak tampak ekspresi kesakitan walau jelas pria itu mengalami cedera di bahunya, bahkan bahu itu kini tampak menggembung akibat bebatan perban. Minae menggigit bibir dalamnya saat berjalan menghampiri dokter yang menangani sang suami. Setelah memberikan penjelasan mengenai cedera Namjoon beserta perawatan pria itu pada sang istri, dokter yang masih cantik diusia empat puluhan itu pun bangkit.

"Sepertinya itu saja yang harus Anda ketahui. Tuan Kim tadi mengatakan bahwa ada yang harus kalian bicarakan dahulu. Jadi, saya pamit."

Hening.

Minae yang terus menunduk sambip menggigiti bibir dalamnya dan Namjoon yang justru asik memperhatikan wajah sang istri yang kini sewarna dengan kepiting rebus.

"M-maaf..."

Pada akhirnya Minae yang membuka suara terlebih dahulu. Suaranya parau, tertutup isakan kecil. Namjoon yang terkejut spontan turun dari ranjang. Sayang sekali bahu kirinya masih menyisakan rasa nyeri, sehingga pria itu berakhir dengan meringis dan kembali terduduk.

"A-aku benar-benar minta maaf. Ma-maafkan aku. Ini gara-gara aku. Maaf..." Minae membantu Namjoon untuk duduk. Air matanya mengalir semakin deras saat turut duduk di ranjang single itu.

"Tidak, Sayang. Ini kecelakaan, bukan salahmu."

"Tapi kau kecelakaan karena aku. Aku yang salah."

"Ssstt..." Namjoon mencoba menenangkan sang istri. Namun gagal.

"Aku tidak seharusnya memata-mataimu. Aku seharusnya tidak pergi ke kafe itu. Aku seharusnya tidak kabur be-"

Cup

Namjoon memberikan sebuah ciuman demi menghentikan ocehan sang istri. Awalnya dia memang ingin begitu, tapi bibir sang istri terasa begitu lembut dan manis. Namjoon telah kecanduan pada bibir istrinya, seperti seorang pecandu pada ekstasi. Tangan kanannya digunakan untuk menarik tengkuk Minae demi memperdalam ciuman mereka. Dan Minae mabuk, ciuman Namjoon bagai wiski, membuatnya melayang dan tak sadar.

"Akh..." Namjoon tiba-tiba melepaskan ciuman keduanya saat dirasa nyeri kembali menyerang bahu kirinya.

"Astaga. Maafkan aku." Ternyata Minae tak sengaja meremat bahu Namjoon saat ciuman sang pria semakin memanas.

"Lagi-lagi kau terluka." Minae memgelus pelan bahu Namjoon yang tertutup perban.

"Ssstt. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri."

"Tapi itu kan memang salahku."

"Ck! Berhenti berdebat atau kau kucium lagi."

Mengkerut. Nyali Minae menyusut hingga lebih kecil dibanding amoeba. Suara tegas suami tercintanya berhasil membuatnya bisu. Kini Minae memilih memainkan ujung kemejanya sambil menggigiti bibirnya yang memerah.

"Anak baik." Namjoon mengusak rambut sang istri sebelum kembali berbicara. "Jadi sebenarnya ada apa denganmu belakangan ini."

Minae mendongak. Mulutnya terbuka, lalu tertutup kembali. Seolah ada hal yang ingin disampaikannya, namun dia ragu. Wanita itu akhirnya kembali menunduk setelang menggeleng pelan.

"Katakan saja, jangan ragu." Dengan jemari panjangnya, Namjoon mengangkat dagu Minae. Membuat wanita itu kembali menatapnya yang kini tersentum menenangkan.

"A-aku. Aku hanya..."

Minae kembali menggigit bibirnya. Ragu. Dan Namjoon masih dengan sabar menunggu.

"Aku takut kau selingkuh."

"Huh!?." Kening Namjoon berkerut.

"Aku melihatmu makan siang dengan sangat akrab beraama Wendy. Kau juga menolak bekal makan siangku belakangan ini. Dan tadi siang... Tadi..."

Namjoon yang mulai mengerti kemana arah pembicaraan ini tak bisa menahan gelak tawanya. Sang istri sungguh menggemaskan. Sangat polos, dan begitu mencintainya. Sangat cinta hingga terbakar cemburu.

"Kau cemburu?." Tanya Namjoon saat berhasil menghentikan tawanya. Minae mengangguk lucu sambil mengerucutkan bibirnya, membuat Namjoon harus sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak menyerang sang istri sekarang juga.

"Lalu make up, perubahan style dam cara bicara juga..." Minae kembali mengangguk, kini pipinya sudah mirip dengan tomat matang.

"A-aku merasa terlalu seperti anak kecil untukmu. Aku ingin menjadi lebih anggun. Seperti Wendy."

"Astagaaa. Aku mencintaimu apa adanya, Minae-ya." Namjoon menggunakan tangan kanannya untuk merengkuh Minae. Menyalurkan perasaannya dengan sejujur-jujurnya. Dan sesaat mereka tampak nyaman dengan posisi itu. Hingga tiba-tiba Minae melonggarkan pelukannya.

"Tunggu. Kau belum menjelaskan segalanya." Namjoon tergelak. Orang bilang wanita yang cemburu sangat menakutkan. Tapi kenapa istrinya bisa semenggemaskan ini?.

"Jadi sebenarnya aku sedang butuh bantuan Wendy untuk mengatasi salah seorang kolegaku. Karena itu kami sering berbincang dan keluar untuk menemui pria itu. Kebetulan kafe itu adalah kafe langganan kami bertiga." Minae mengangguk-angguk paham.

"Harus Wendy ya?."

"Ya." Ujar Namjoon mantap. "Karena kolegaku itu adalag suami Wendy."

"Haaah!?."

"Kau tau Min corp. bukan?." Minae mengangguk. Siapa yang tak mengenal perusahaan komunikasi paling diincar yang dipimpin oleh pria dingin bernama Min Suga?.

Eh, tunggu.

Jangan-jangan.

"Ya. Min Suga, pimpinan Min corp. adalah suami Wendy." Kini Minae hanya bisa berkedip lucu.

"Waw. Bagaimana Wendy bisa bertahan dengan pria macam Min Suga?." Minae berujar lirih.

Ya. Semua oramg mengenal Min Suga sebagai pria dingin dan keras. Bagaimana seorang Wendy yang anggun bisa bertahan menjadi istrinya tanpa menghabiskan satu pak aspirin tiap bulannya?.

"Karena Yoongi hyung berbeda dengan Min Suga."

"Yoongi?."

"Itu adalah nama asli Min Suga. Min Yoongi adalah pria hangat yang cinta keluarga. Dan aku, sebagai sahabatnya, sudah dianggapnya sebagai keluarga. Tapi, untuk masalah pekerjaan Yoongi hyung susah untuk dibujuk. Karena itulah aku membutuhkan bantuan Seungwan."

"Seungwan? Apa itu nama asli Wendy?." Namjoon mengangguk sambil tersenyum. Sepertinya sang istri sudah paham dengan masalah ini.

"Lalu kenapa Wendy bekerja di Royal Group kalau suaminya adalah pimpinan Min corp. yang begitu diincar?."

"Entahlah. Mereka memang sedikit... Unik kurasa."

Minae menghela nafas lega. Kekhawatirannya tak terbukti. Namjoon memang mencintainya.

"Jadi, sudah tak cemburu lagi kan?"

Minae menggeleng dengan pipi merona. Bukan hanya malu, tapi juga tersipu karena wajah Namjoon tepat di hadapannya. Dahi mereka bahkan bersentuhan. Perlahan Namjoon semakin mendekatkan wajahnya, kini hidung yang telah saling tersentuh. Hingga tiba gilirannya kepala Namjoon dimiringkan demi menggapaikan bibirnya pada bibir sang istri. Hanya ciuman lembut untuk menyalurkan perasaan Namjoon pada sang istri.

Namjoon melepaskan ciumannya saat dirasa sang istri kekurangan asupan oksigen. Hanya melepas tanpa menjauhkan tubuhnya. Tangan kanannya saja cukup untuk menahan tubuh mungil sang istri agar tetap merapat padanya.

"Jadi, kau bisa berhenti berubah menjadi orang lain kan?." Minae hanya mampu mengangguk.

"Aku mencintaimu apa adanya, Sayang." Namjoon tersenyum dan Minae merona.

"Dan untuk masalah kau yang terlalu polos..." Namjoon menggantung ucapannya dan mulai berbicara lagi saat bibir tebal nan seksinya tepat berada didepan bibir mungil sang istri, mengantarkan friksi yang mampu menggetarkan bulu kuduk Minae di tiap helaan nafas Namjoon. "Mau ku ajari agar kau tak lagi terlalu polos?."

Tanpa menunggu Minae menjawab, Namjoon segera menyerang bibir sang istri. Menciumnya dengan penuh semangat dan nafsu. Minae kesulitan mengimbangi permainan bibir Namjoon. Dia bahkan sudah kesulitan bernafas. Jadi, Minae memilik menjauhkan paksa suaminya sebelum dia mati kehabisan nafas. Sungguh konyol kalau kau mati karena terlalu semangat berciuman.

"I-ini... Masihhh... Di rumah sakit..." Minae terengah, sementara Namjoon menyeringai. Seringai yang sudah lama tak dilihatnya bertengger di bibir seksi Namjoon.

Namjoon mendekatkan bibirnya ke telinga Minae. Menghembuskan nafas yang mampu membuat bulu kuduk wanitanya meremang. Lalu pria itu berbisik seduktif.

"Kalau di apartemen kita boleh kan?."

Sial, kenapa jadi panas begini?

-fin-

A/n: huahahahaha. Kenapa adegan di ending jadi begono sih? Gue udah ketularan Namjoon keknya *dilempar golok* wkwk. Ini drama banget kan? Gue kebanyakan nonton ftv emang hahaha. Yasudahlah ya, pokoknya ini udah selesai. Tamat. Maaf kalo gak sesuai ekspektasi. Apalah aku hehehe.

See you next time. Byebyeee