[ Suatu tempat, jauh di belakang Tembok Besar Nara, pagi hari pada dua hari kemudian ]
Syuuuussshhh.
Semilir angin kecil menyapu sebuah padang rumput dengan sebuah bangunan bobrok yang berada di tengah-tengah padang rumput itu plus rel-rel yang sudah rusak dimakan waktu. Namun yang lebih mengagetkan lagi, di dalam bangunan bobrok itu, ada sebuah bangku panjang dan ditempati oleh seorang manusia yang seolah menunggu kereta itu datang.
Manusia itu adalah seorang pria berusia sekitar 29 tahun yang bersurai biru cerah. Pada tubuhnya tertempel T-shirt polos berwarna putih dengan perban yang belum lama diganti menempel pada mata sebelah kanannya. Pada bagian lengan sebelah kanan T-shirt itu sama sekali tidak ada tangan; pertanda ia buntung dan kehilangan tangan sebelah kanannya.
Bola mata berwarna biru cerah memandang padang rumput itu dengan tatapan hampa. Bibirnya lalu menggumamkan sesuatu yang menyakitkan...
... Di mana Papa...?
... Di mana Mama...?
... Di mana Tetsuryu-kun...?
... Dan di mana Tetsumi-chan...?
.
.
.
The Basketball Which Kuroko Plays ~ Akashi's Family
© Himomo 'JuvenilElmir' Senohara / 背野原 火桃
Chapter : 3 – Doa, Harapan dan Orang yang Paling Dicintai
Disclaimer : The Basketball Which Kuroko Plays © Tadatoshi Fujimaki
Warnings : OOC, AU, Utopia!Fantasy!AU (?), dan masih banyak lainnya.
A/N (Mun) : Okeh. Maap kalo hiatus pake lama banget... Mun harus mulai belajar lagi untuk lomba cerdas cermat, pokoknya doakan Mun ya! Eniwei, chapnya insya Allah tamat di chap 5 dan... bakal sedikit nusuk-nusuk. Ada potensi chara death tapi bukan main charanya LOL.
.
.
.
TAP TAP.
Seorang manusia—kali ini juga seorang pria—berjalan dengan pelan memasuki stasiun yang sudah lama sekali tidak terpakai itu, dan mendapatinya di sana ada pria berambut biru cerah masih duduk di sana dengan pandangan mata hampa. Pria berpakaian khas tahanan itu lalu menghampirinya sambil berkata dengan sopan, "Tecchan... Tecchan...?"
Pria yang dipanggil Tecchan lalu mengalihkan perhatiannya ke pria berpakaian tahanan yang berwarna biru tua—sebuah pakaian yang selamanya dia benci—dan mendesah dengan pelan, "Ogiwara-kun. Jangan pernah memanggilku Tecchan seperti itu. Memalukan... Panggil aku apa saja asal bukan dengan suffix –chan."
"Oh ayolah, Tecchan. Aku kan sahabatmu selama hampir 25 tahun, masa' sekarang aku berhenti manggil kau Tecchan? Nggak bagus lho. Aku numpang di sini, bolehkah?" Pria berambut cokelat kehitaman yang dipanggil Ogiwara itu lalu menunjuk sisi yang kosong pada bangku panjangnya.
"Silakan. Hanya kau saja yang kuizinkan duduk di sampingku, Ogiwara-kun." 'Tecchan' ini memberi izin dengan senyuman kecil.
"Asiiik! Eh, eh, tahu 'kan berita yang baru sampai di sini dua hari yang lalu? Coba tebak?" tanya Ogiwara sambil duduk di samping kanannya.
'Tecchan' itu lalu menggeleng kepala dengan pelan. Sudah menduga jawaban tersebut, Ogiwara lalu merangkul pundak 'Tecchan' itu dan tersenyum lebar, "Sudah kuduga Tecchan nggak tahu tentang itu, wong kau seringnya mendekam di sel yang terisolasi sih... Dua hari yang lalu United Nations II berhasil mempertemukan pihak Kekaisaran Jepang dengan Negara Federasi Jepang Selatan dan membawakan Perjanjian Tokyo-2 yang berisi pembebasan tahanan yang mendekam di kamp Bunkedan, Hashiburi dan Xingyao. Selanjutnya, akan bertahap dan diberlakukan ke seluruh kamp di Negara Federasi Jepang Selatan!"
DEG.
Pria berperban yang kurus dan berkulit pucat itu lalu bergumam dengan lirih, "... Pembebasan...? Pembebasan tahanan di Bunkedan, Hashiburi dan Xingyao, katamu...?"
Satu anggukan menyakinkan dan heboh menjawab pertanyaan kecil tersebut.
"Eh, ini serius kok, nggak pake bohong! Kemarin malam semua tahanan di blok F mencuri dan memperdengarkan radio illegal serta ada juga yang menyadap pembicaraan para petinggi kamp ini, katanya kita harus didata dulu asal usulnya dan baru akan diikutsertakan dalam pembebasan tahanan itu! Semua tahanan langsung girang dan ada yang sampai menghajar sipirnya lho!" tambah Ogiwara heboh.
DEG.
Pembebasan...
'Tecchan' ini lalu ganti menatap dalam-dalam wajah Ogiwara yang sudah lama berteman dengannya, dan kali ini menanyakan sesuatu yang sangat mengganggu akal sehatnya, "Jika saja... Jika saja hari itu akan tiba, apa aku akan sanggup... Melihat sebuah fakta bahwa... Keluargaku tidak ada lagi? Ogiwara-kun... Aku takut sekali..."
PUK PUK.
"Paling tidak, ada aku di sisimu, Tecchan! Masih ada Riko-chan, Sakurai-kun, dan... Eh, kau tahu, dua orang yang menakutkan itu~~~" hibur Ogiwara sambil memperlemah suaranya di saat ia menyebutkan lima kata terakhirnya tadi.
"Maksudmu Midorima-kun dan Murasakibara-kun?" tanya 'Tecchan' ini penasaran.
"Uh-nuh, iya... Entah kenapa aku nggak bisa akrab sama mereka... Serem beneeerrrr..." keluh Ogiwara memasang wajah puppy eyes.
Pria berambut biru cerah itu hanya bisa tersenyum kecil melihat reaksi sahabatnya. Ia memang masih ingat betul, ketika Ogiwara bertemu dengan Midorima dan Murasakibara yang ditangkap kala sedang belajar basket di negara Taiwan mengikuti beasiswa yang diberikan pemerintah Jepang sepuluh tahun yang lalu, hubungan mereka bertiga bisa dikatakan seperti kucing versus anjing versus tikus. Sama-sama tidak bisa akrab, bahkan nyaris saja Ogiwara bunuh diri jika tidak dicegah olehnya.
Ia lalu menepuk pelan pundak Ogiwara dengan tangan kirinya, "Tidak apa-apa kok, Ogiwara-kun. Mereka baik kok sebenarnya, cuma mereka jadi agak sulit bersosialisasi karena pengaruh Akashi-kun."
PLIK.
Pria berambut raven lalu mendesis kesal, "Akashi? Kau bilang Akashi? Si rambut merah menjengkelkan yang mengalahkanku waktu dulu?"
"Iya, Ogiwara-kun..."
"Tolong ya, Tecchan... Aku nggak mau mendengar kata itu lagi. Aku masih marah terhadap dia dan diriku sendiri. Aku marah kepadanya karena sudah benar-benar meremehkan kita-kita yang seperti ini, dan aku masih marah kepada diriku sendiri yang masih tidak cukup kuat untuk membendung kekuatan mereka..." Ogiwara memperingatkannya seraya mengepalkan tangan kanannya.
Tecchan bisa melihatnya dengan jelas; tatapan tajam yang menyiratkan kebencian dan kekesalan yang tak pernah pudar darinya semenjak kalah dari Teikou beberapa belas tahun yang lalu. Pria berambut biru cerah selalu tahu makna tersebut.
PUK PUK.
Gantian Tecchan yang mengelus lembut rambut Ogiwara seraya menasihatinya dengan bijak, "Tidak usah khawatir, Ogiwara-kun. Kau sudah berjuang sangat keras, keras dan keras menjadi kuat dan bermimpi bermain denganku, baik lewat pertandingan resmi maupun bukan. Aku sangat mengapresiasi niatmu, aku bahkan berencana memperkenalkanmu dengan Kagami-kun, namun... Tidak selamanya rencana kita berhasil kan? Itu maksud Tuhan agar kita berjuang lebih baik dengan segala persiapan yang mumpuni untuk menunaikan rencana tersebut. Toh pada akhirnya kita sudah bermain basket bersama lagi setelah sekian lama tak bersua, ya 'kan?"
"... Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian, Ogiwara-kun. Akan lebih bagus lagi kalau kau mau memaafkan Akashi-kun. Aku dulu sempat kesal dan marah ke Akashi-kun, namun semuanya sudah berubah semenjak Winter Cup. Dia yang pertama kalinya merasakan kekalahan akhirnya mau belajar untuk bersabar dan tidak meremehkan orang lain. Meski masih berfilsofi ala pemenang, ia sedikit demi sedikit mau mengajak ngobrol anak-anak Kisedai secara santai."
Hening, bahkan tidak ada elakan dari Ogiwara sejak Tecchan menjelaskan keadaannya usai Winter Cup tersebut.
... Haruskah aku mengalah dan memberi maaf ke Akashi? Dia 'kan sudah keterlaluan! Sudah tidak mengizinkan menjenguk Tecchan di final Interhigh, tambah lagi dia egois benar! Apa yang perlu diharapkan—.
GLUNDUNG GLUNDUNG.
Sebuah bola basket yang usang perlahan menggelinding di atas tanah daerah tersebut. Ogiwara dan Tecchan seketika melihat ke segerombolan remaja berpakaian tahanan yang masih berusia 16 tahunan, berteriak saling mengejar satu sama lain untuk mendapatkan bola basket tersebut.
"Hei! A-Aku kan harusnya dapat bola itu!"
"Tidak! Aku kan selalu benar, makanya aku yang memegang bola itu!"
Dua dari gerombolan remaja itu rupanya mengejar bola itu; yang paling cepat di antara mereka. Salah satu dari mereka berhasil menangkap bola itu, dan Ogiwara tanpa sadar langsung berdiri dan memasang wajah sumringah. Pria berambut raven itu lalu melompati bekas stasiun itu, dan menghampiri dua remaja itu seraya tersenyum kecil serta bertanya dengan sopan, "Nee, aku boleh ikutan main basket gak?"
Mereka lalu menoleh ke Ogiwara, dan salah satu dari mereka segera menyadari sosok tersebut, "Ah! Kakak kan Ogiwara-san, kakak yang sering mengajak main basket kami 'kan? ! Sama Aida-neechan yang kadang melatih kami! Ayo, kebetulan kita kekurangan wasit nih."
Menyeringai girang, Ogiwara langsung mengacak pelan rambut salah satu dari mereka dengan penuh semangat membara, "Ayo! Sudah lama banget nih, nggak memegang bola basket!"
"Huuuu, enak aja! Kau 'kan baru saja main basket dua minggu lalu!"
"Hahahaha, Shigehiro-senpai emang dari sananya sudah somplak!"
"Huuussshh, nggak baik lho, mengejek aku, hiks... Sudah, ayo main! Maiiiinnnn~"
"Yosshaaaa!"
Ogiwara langsung bergabung dengan anak-anak tersebut bermain basket bersama, sedangkan 'Tecchan' itu hanya bisa tersenyum pahit menyaksikan pemandangan langka di halaman belakang kamp Bunkedan yang menjadi 'rumah' baginya selama nyaris sepuluh tahun lamanya. Selagi mereka berlari-lari dengan girang, tangan kirinya meraba-raba tangan kanannya yang menjadi buntung.
Aku... Aku sudah tidak bisa bermain basket sekarang...
Mata biru cerahnya lalu kembali beradu dengan langit pagi yang cerah di atas bekas kota Nara yang masih berantakan akibat efek perang. Diam-diam ia tersenyum sedih ketika mengingat Akashi, laki-laki yang dulu dikaguminya. Akashi-kun... Kemana saja kamu? Rasanya sudah sejuta tahun berpisah denganmu, Akashi-kun... Aku cuma bisa berharap kau masih hidup...
Satu tetes air mata mengalir dari mata sebelah kirinya.
Ia kini benar-benar rindu akan masa remajanya; saat-saat yang sangat menyenangkan, di mana mereka belajar dan bermain basket bersama. Baginya, merasakan saat-saat tersebut saja sudah seperti terbang ke dunia utopia yang takkan bisa digapainya dalam waktu yang dekat. Detik demi detik berlalu, memakan serta memperpendek usianya, membuatnya merasakan bahwa dirinya sudah tidak muda lagi.
Syuuuuussssshhh.
"Akashi-kun... Aku kangen kamu."
Sangat pendusta dirinya kalau bilang bahwa ia sama sekali tidak kangen dengan mantan kapten klub basketnya.
-xXx-
[ Di depan gerbang SMP Teikou, hari yang sama, pukul 8 lewat 12 menit ]
CKIIIIIIIIIITTTTTTT.
"Aduh! Telat benar kita!"
"Kurang ajar kau Miichan! Masa' cuma karena radio itu kau telat lagi? !"
TEP!
Tanpa membuang waktu, duo Akashi segera menyempil masuk ke dalam lingkungan sekolahnya, tanpa mempedulikan omelan para petugas sekuritinya. Namun sialnya, baru saja Tetsumi yang masuk terakhir, salah satu dari satpam itu tiba-tiba menyambar lengan sebelah kiri Tetsumi. Gadis itu segera syok, dan menghentikan kayuhan sepedanya seraya bertanya dengan panik dan masih ngos-ngosan, "A-Ada apa, Pak?"
Satpam itu lalu bertanya dengan tatapan menyelidik, "Kamu Akashi Tetsumi 'kan? Kebetulan sekali. Bapak ada pesan dari Kepala Sekolah."
PLIK.
"Pesan? Tumben, nggak sepertinya Seijuurou-tousama menitip pesan kepadaku melalui orang lain..." komentar Tetsumi kaget.
"Ya, Bapak tadi juga kaget sewaktu dipanggil Akashi-sama ke ruang kepsek. Katanya, setelah istirahat pertama, kalian berdua bersama Murasakibara Tatsushiya dan Midorima Kazuya diminta untuk segera ke ruang guru. Kise-sensei tadi juga dititipi pesan yang sama." jelas satpam itu sambil melepaskan cengkeramannya pada lengan atas sebelah kiri gadis tersebut.
Gadis itu lalu menggangguk pelan, dan kemudian membungkuk sopan, "Ya, saya mengerti. Akan saya sampaikan ke Tetsuryu-niichan."
"Hati-hati di jalan ya." balas sang satpam itu memasang wajah bijak.
"Ya, Pak!"
.
.
.
TING TONG.
Bel masuk sekolah berdentang persis di saat Tetsumi menggeser pintu kelasnya.
Mata biru cerahnya menyelidiki sikon kelasnya, dan mendapati guru homeroom-nya belum datang. Ia langsung menutup pintu kelasnya dengan pelan dan sprint ke meja belajarnya yang ada di belakang meja yang sudah ditempati oleh kakaknya. Mata Tetsumi menyadari adanya sosok si surai raven dan pita berwarna putih yang mengikat sekeliling kepalanya—pertanda itu memang tak lain dan tak bukan adalah Midorima Kazuya sendiri. Tatsushiya sendiri berada di kelas yang berbeda dengan mereka bertiga.
Aku harap mereka sudah tahu apa yang dikatakan Pak Satpam, batin Tetsumi sedikit khawatir seraya mengeluarkan buku materi pelajaran pertamanya.
"Oi Miichan... Psssttt... Miichan..." bisik Tetsuryu melirik ke belakang, di mana Tetsumi biasa duduk dan belajar di kelas.
"A-Ah, Tetsuryu-niichan?" tanya Tetsumi sambil berbisik-bisik juga.
BLAM.
Dua pasang mata biru cerah segera menangkap pergerakan yang cepat dari pintu kelas yang digeser. Sedikit panik dan tidak mau dihukum bebersih, ia lalu berbisik dengan suara lirih, "Psssttt... Yang tadi kamu... Psssttt... Kau ngomong apa sama Pak Satpam...?"
Tetsumi lalu mencondongkan badannya ke depan, membisikkannya persis di dekat telinga sebelah kanan kakaknya, "Itu... Psssttt... Pak Satpam menitip pesan meminta kita bertemu sama Kise-sensei nanti di ruang guru bareng Midorima-kun dan Murasakibara-chan. Sepertinya menyangkut sesuatu yang penting lagi deh."
PRAK PRAK! Rupanya, guru itu menyadari kalau duo Akashi ini sedang berbisik-bisik ria. Beliau segera saja menggebrak meja itu untuk mengalihkan perhatian duo kembar tersebut dengan keras.
"Akashi Tetsuryu! Akashi Tetsumi!" panggil guru itu tegas.
Tetsuryu dan Tetsumi yang terkesiap kaget karena dipanggil oleh guru tersebut, langsung kembali ke posisi semula. Guru itu lalu menghela napas pasrah, "Kalau mau mengobrol, lanjutkan nanti saja, duo Akashi. Nah, nama saya Hitsui Kakushitou, guru bahasa Jepang yang menggantikan Kise. Hari ini Kise Ryouta-sensei dipanggil ke ruang Kepala Sekolah, saya diminta menggantikan beliau untuk homeroom dan pelajaran bahasa Jepang. Ketua Kelas, silakan mulai ritualnya."
"Baik. Semuanya, berdiri dan beri salam!"
"Selamat pagi!" Semua anak kelas tersebut segera berdiri dan membungkuk sopan kepada guru yang bergender cowok tersebut.
"Baiklah, selamat pagi. Saya akan mengabsenkan semua murid, bersiaplah."
.
.
.
TING TONG.
"Yak, pelajaran Bahasa Jepang hari ini selesai. Jangan lupa PR-nya."
Guru tersebut lalu membereskan buku materi pelajaran bahasa Jepang, dan tanpa tedeng aling-aling langsung keluar dari kelasnya. Murid-murid segera berganti buku materi pelajaran dan mulai meninggalkan kelas karena pelajaran selanjutnya adalah TIK, kecuali duo Akashi. Manik cyan milik mereka berdua lalu beradu dengan sesosok anak cowok lain yang juga tidak ikut meninggalkan kelasnya.
Menyadari kalau duo Akashi sekarang menatap dirinya, cowok itu lalu menoleh ke mereka berdua seraya bertanya dengan ketus, "Ada apa? Kalian terlalu lama menatapku sih..."
Tetsumi lalu mengelak dengan wajah pokerface, "Eh, kami tidak menatapmu kok, Kazuya-kun. Kami baru saja sadar kalau kamu juga tidak ikut keluar kelas."
"Hahaha, lucu sekali kamu ini Tecchan! Aku juga diberitahu pak Satpam untuk berkumpul bareng kalian dan Tatsuchan ke ruang kepsek kok, jadi jangan khawatir~." Cowok bernama Kazuya itu tertawa lepas, dan perlahan berdiri seraya mengambil buku materi pelajaran TIK.
"Kau tidak ikut ke ruang kepsek?" tanya Tetsumi mengikuti arah gerak temannya yang satu itu.
"Kan istirahat pertama, Tecchan! Ayo, kita nanti telat!"
DRAP DRAP DRAP.
Kazuya, cowok berambut hitam dengan eyepatch itu segera berlari mengejar teman-temannya dan membanting pintu kelasnya dengan pelan. Tetsuryu lalu gantian menoleh ke adik kembarnya, dan mendapatinya gadis itu menghela napas dengan sangat pasrah. Tak lepas dari pengawasannya terhadap sang adik, Tetsuryu lalu mengelus kepala adiknya dengan lembut, "Ada yang mengganggu pikiranmu?"
Haaaaahhh.
"Aku penasaran... Kenapa Seijuurou-tousama kelihatannya cemas setelah mendengar radio itu." jawab Tetsumi seraya menundukkan kepalanya ke lantai kelasnya.
Jadi benar ya, Seijuurou-tousama juga kehilangan orang yang paling berarti baginya, huh... Aku penasaran orangnya... Tetsuryu lalu memicingkan kedua matanya ke jendela kelasnya, mendapatinya langit kota itu sangatlah cerah dan biru sekali; bahkan tidak ada awan yang menghalangi warna itu merajai atmosfer kotanya.
Aku mohon... Jika Engkau berbelas kasih kepada kami, maka berikanlah kami kesabaran untuk mencari Kakak serta mengabarkan kematian Mama dan Papa kepadanya... Berikanlah harapan dan selamatkanlah dia dari segala marabahaya... Saudara kembar ini sama-sama tahu, bahwa doa orang yang teraniaya senantiasa dikabulkan oleh Tuhan.
.
.
.
[ Adventure goes on~ ]
