Chapter Three
.
.
.
"Sasuke... Sasuke... WOY SASUKE!" seorang gadis cilik terlihat kesal karena panggilannya sedari tadi tidak disahut. Bocah laki-laki bernama Sasuke itu tersentak dari lamunannya, menatap ke arah gadis yang memanggilnya tadi.
"Apa, Sakura? Kau mengagetkanku tahu!" balasnya dengan nada ketus.
"Kau dari tadi tidak memperhatikanku ya? Kau ini niat tidak, sih, untuk mengajariku?" Sakura melipat kedua tangannya di depan dada, kesal. Sasuke yang melihat tingkah gadis itu pun tersenyum, ia sangat menyukai gadis dihadapannya ini apalagi saat ia kesal. Menurutnya Sakura sangat menggemaskan saat marah.
"Okay, okay. I'm sorry. Kita mulai lagi dari awal, ya." katanya yang disambut dengan senyum bahagia gadis itu.
.
.
.
"Sasuke... Sasuke...", suara lembut masuk ke dalam pendengaran Sasuke, mengganggu pikirannya yang sedang terbang ke masa lalu.
"Ah, ibu. Ada apa?"
"Ayo kita makan malam dulu. Kebetulan ayah dan kakakmu sedang ada dirumah." Uchiha Mikoto, ibu Sasuke, menepuk lembut bahu putra bungsunya itu. Tatapan Sasuke menegang, rupanya orang itu sedang ada dirumah, artinya aku harus segera melarikan diri dari sini, pikir Sasuke.
"Maaf, bu, sepertinya lain kali saja. Aku tiba-tiba ingat ada urusan mendadak dengan Naruto. Sepertinya malam ini aku tidak akan makan dirumah."
"Sasuke, mau sampai kapan kau mau menghindari ayahmu, sayang? Sudah bertahun-tahun lalu sejak ibu melihatmu bicara kepadanya." nada khawatir jelas terdengar dalam suara Mikoto. Langkah Sasuke terhenti, ia memutar tubunya menghadap perempuan yang paling ia cintai di dunia ini.
"Sampai aku bisa mengerti tindakan ayah waktu itu, bu. Aku permisi dulu." ia pun melanjutkan langkahnya keluar dari rumah itu.
.
Sepuntung rokok tersemat disela-sela jarinya, sesekali ia menghisapnya. Sasuke terduduk disamping sebuah toko kelontong, sendirian. Pandangannya melalang buana, mencari sesuatu yang dapat menghibur dirinya. Ah, cuaca sudah mulai menghangat dan pohon-pohon sakura sudah mulai berbunga, musim semi sebentar lagi akan tiba.
Kling!
Suara bel pintu masuk toko kelontong itu berbunyi, mencuri perhatian Sasuke. Segera saja ia mengejar sosok yang baru saja keluar dari tempat itu.
"Sakura!" teriaknya. Sosok yang dipanggil itu pun terdiam, membatu. Sekali lagi Sasuke meneriakkan nama itu, membuat sosok dihadapannya akhirnya menoleh.
"Tuan Uchiha? Apa yang Anda lakukan disini?" sahut wanita yang dipanggilnya tadi. Tidak ada senyuman ramah yang terlihat.
"Tolong panggil aku Sasuke, kita tidak sedang berada di kantor." sahut Sasuke disertai dengan kekehan kecil untuk mencairkan suasana yang canggung ini. Tidak ada jawaban dari wanita itu
"Ah, ya, bagaimana kabarmu, Sakura? Apakah liburanmu menyenangkan?"
"Kabar saya baik-baik saja."
Keheningan mengisi jarak diantara mereka. Si pria bingung mencari topik pembicaraan, si wanita terlihat tidak nyaman dengan kehadiran pria itu.
"Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi, saya pamit. Permisi, Tuan Uchiha." Sakura membuka suaranya, membungkuk sedikit untuk menunjukkan rasa hormat kepada atasannya itu.
"Hey, bolehkah aku mengantarmu pulang? Kau tahu, tidak aman bagi perempuan untuk pulang sendirian di malam hari." Langkah Sakura terhenti, mulutnya terbuka hendak menolak tawaran Sasuke.
"Sekali ini saja, tolong." Mata hitam itu memohon kepada Sakura dan dengan setengah hati wanita itu mengangguk kecil, mempersilahkan pria itu untuk berjalan di sampingnya.
Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam, tidak tahu apa yang harus mereka bicarakan. Beberapa kali Sakura melangkah lebih cepat untuk menghindari Sasuke, tapi langkahnya tentu saja bisa tersusul oleh langkah panjang pria itu. Tak terasa mereka sudah sampai di depan sebuah rumah kecil, rumah yang Sasuke tahu dari hasil stalking-nya beberapa minggu lalu.
"Ini rumah saya. Terima kasih sudah menemani saya. Selamat malam, Tuan Uchiha." suara wanita itu kembali terdengar.
"Tunggu, Sakura. Boleh aku tanyakan sesuatu?" tangannya meraih pergelangan tangan kecil dihadapannya, membuat si pemilik terkejut. Dengan perlahan, Sakura melepaskan genggaman di pergelangan tangannya itu. Matanya menatap tajam kedua mata Sasuke.
"Kau tahu, minggu depan ada acara makan malam para pemegang saham perusahaan. Aku ingin kau ikut, sebagai pendampingku." Sasuke memasukkan tangannya ke dalam jaketnya, menunggu jawaban dari wanita yang di ajaknya itu.
Sakura mendengus, tak percaya dengan apa yang barusan diucapkan oleh Sasuke.
"Maaf, saya tidak bisa. Sangatlah tidak pantas seorang pegawai biasa seperti saya untuk mengikuti acara tersebut. Sebaiknya Anda pulang sekarang. Tidak baik bagi seorang pria untuk berlama-lama di rumah seorang wanita selarut ini. Permisi." Tegas dan to the point, Sakura melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah itu meninggalkan Sasuke yang terdiam dengan jawaban darinya. Selama pertemuan mereka, itu adalah kalimat terpanjang yang Sasuke dengar. Jujur, ia sedikit kesal dengan penolakkan yang ia terima. Sasuke juga sedikit frustasi dengan sikap Sakura yang sangat dingin terhadapnya, berbeda dengan sikapnya bertahun-tahun yang lalu.
"Okay, Sakura Haruno. Kita lihat sampai sejauh mana kau bisa menghindariku." Senyum licik tercetak diwajah tampannya. Dengan sekali putar, ia melangkahkan kakinya dari depan rumah itu dengan bangga, otaknya dipenuhi dengan rencana yang akan segera ia laksanakan.
"Kita tunggu saja, Haruno."
.
Maaf part ini sedikit berantakan dan tidak memenuhi harapan para pembaca. Saya akan mencoba memperbaikinya kedepan
-xoxo
