MEANT TO BE

baekaeriachu presents

Starring :

-Byun Baekhyun

-Park Chanyeol

-Other

SUMMARY :

Baekhyun percaya kalau dia adalah seorang Alpha, bahkan ia tidak peduli perkataan orang tua beserta teman-temannya kalau dia sebenarnya seorang Omega. Tetapi kepercayaan itu lenyap setelah bertemu Park Chanyeol.


Chapter 3; Can't Take My Eyes On You


Hari ini hari Jum'at,

Baekhyun terpaksa mengikuti kedua temannya ke rumah sakit untuk tes darah. Penampilannya? Jangan ditanya, Sangat berantakan. Kejadian yang dia alami enam hari yang lalu membuatnya kekurangan tidur serta pola makan yang hancur.

Kedua sahabatnya menatap horror dirinya, "Baek...kau..tidak apa-apa?" Tanya Lisa hati-hati, ia takut kalau ternyata Baekhyun kerasukan lalu menerjang Lisa, tidak lucu kalau mereka membuat keributan didepan Rumah Sakit.

"Aku tidak apa-apa, ayo masuk" Baekhyun berjalan duluan masuk ke dalam Rumah Sakit diikuti kedua sahabatnya dibelakang.

Mereka bertiga duduk diruang tunggu, hanya ada beberapa pasien yang akan tes darah hari ini, Baekhyun mendesah lega sebab bau Rumah Sakit membuatnya mual.

"Byun Baekhyun" Nama Baekhyun terakhir dipanggil dari mereka bertiga, setelah menghirup udara lalu dihembuskan, ia berjalan masuk ke dalam ruangan minimalis bercat putih, terlihat laki-laki paruh baya duduk dibelakang meja menatap Baekhyun tersenyum.

"Byun Baekhyun?" Ia mengangguk, duduk di depan dokter spesialis penentu Kasta. "Kau berumur tujuh-belas tahun?" Baekhyun kembali mengangguk.

"Berarti...kau sudah dapat tes dari pemerintah bukan?"

"Iya aku mendapatkannya"

"Hasilnya?" Tanya dokter itu penasaran.

"Alpha"

Baekhyun tahu dokter itu terkejut dengan jawabannya. Semua orang pasti terkejut kalau Baekhyun bilang dia ini adalah Alpha, apakah dunia membencinya ya?.

"Baiklah, saya akan memulai tes untuk mengetahui kasta-mu dan mungkin membuktikan apakah kau benar kasta Alpha atau bukan" Baekhyun mengangguk patuh, ia menggulung lengan bajunya sampai siku, sang dokter menyiapkan jarum suntik khusus. Kemudian jarum suntik menembus kulit Baekhyun dan menyedot sedikit darah si laki-laki mungil. Si dokter mengambil kapas basah lalu menempelkannya dibekas suntikan.

"Hasil tesnya paling lambat dua hari, pihak rumah sakit akan mengkonfirmasi tuan Baekhyun untuk mengambil hasil tes" Jelas sang dokter sambil memasukkan darah Baekhyun ke botol kecil khusus.

Baekhyun menekan sedikit bekas suntikkan, rasa sakitnya tidak serupa gugup akan hasil dari tes rumah sakit. "Terima kasih dok, saya permisi" Dokter menatap Baekhyun tersenyum lalu mengangguk, menatap punggung Baekhyun yang menghilang dari balik pintu.

•••

Baekhyun, Kyungsoo, dan Lisa menghabiskan waktu dikafetaria rumah sakit, ini karena Baekhyun bilang kalau dirinya tidak bersemangat untuk kembali kerumah jadi kedua sahabatnya dengan senang hati menemani si laki-laki mungil yang sedang gundah.

Kyungsoo menatap Baekhyun, "tidak usah dipikirkan apa hasil tes nanti. Jaman kita sudah berbeda dengan zaman buyut-buyut kita, kalau kau Omega kau tidak akan mendapatkan diskriminasi." Lisa mengangguk, "benar! Menjadi Omega tidaklah buruk. Kau hanya memberikan keturunan bagi Alpha tetapi imbalannya-" Lisa menatap Baekhyun senang seraya bertepuk tangan pelan, "harta dan kebahagiaan!" Lanjut Lisa.

Laki-laki mungil yang diberi semangat hanya mampu tersenyum, tidak berniat untuk membalas kata-kata semangat mereka.

Kyungsoo menghela nafas, "Baek...kau tidak per-"

"AHHH!"

Belum saja Kyungsoo menyelesaikan kalimatnya, ia diinterupsi oleh teriakkan Baekhyun lalu disuguhkan kembali dengan kelakuan laki-laki mungil tersebut bersembunyi dibawah meja. Lisa? Dengan bodohnya dia juga ikut-ikutan bersembunyi dibawah meja bersama Baekhyun. Kyungsoo mengubah ekspresinya menjadi datar, dia seperti mengajak dua anak keterbelakangan mental makan di kafetaria. Ia melihat ke sekitar laku membungkuk sedikit, meminta maaf karena kegaduhan kecil yang dua teman tololnya itu lakukan.

"Yak! Apa yang kalian lakukan dibawah meja? Cepat keluar!" Bisik Kyungsoo menggertakkan giginya kesal, Lisa pertama keluar dari meja.

"Apakah gempanya sudah selesai?" Tanya Lisa menatap Kyungsoo polos.

Lisa mendapat hadiah jitakkan dari Kyungsoo, "otakmu yang mengalami gempa!" Jawabnya kesal bersama nada sarkastik yang keluar dari bibir tebalnya.

" . . !" Kyungsoo menekan setiap kata untuk menarik laki-laki mungil itu keluar dari bawah meja. Untung saja berhasil, Baekhyun keluar dari meja makan kemudian menunduk.

"Kenapa kau bersembunyi dibawah meja? Kalau kau bilang ada gempa akan kujitak kepalamu" Kyungsoo menatap tajam sahabat di depannya.

"Dia...ada...disini..." Baekhyun berucap perlahan, masih menunduk menutup wajahnya.

Kyungsoo mengernyitkan dahi, "dia? Dia siapa?" Ia mengedarkan pandangan ke segala arah. Tidak ada orang-orang yang mencurigakan, tidak ada yang memakai sesuatu yang ganjal seperti pemasok narkoba atau orang-orang yang memakai pakaian hitam seperti penagih hutang.

"Siapa Baek? Kau punya hutang kepada seseorang dan tidak mampu membayar? Sini biar aku yang membayarnya dahulu" bagai memiliki telepati dengan Kyungsoo, Lisa bertanya kepada Baekhyun sahabatnya.

Baekhyun menggeleng, "pria yang aku ceritakan tadi malam...dia ada disini"

Lisa menggertak meja, "MWO?! MANA?! BIAR AKU HAJAR DIA!" Ia berteriak sampai mengundang tatapan para pengunjung. Termasuk orang yang Baekhyun maksud.

Laki-laki mungil itu bersumpah kalau ia dan laki-laki yang dirinya bicarakan bertatapan selama beberapa detik, laki-laki yang dimaksud Baekhyun tentu saja Park Chanyeol, si penyelamatnya minggu lalu. "Bisakah kau duduk Lisa? Kau membuatku malu" Kyungsoo menarik lengan Lisa untuk duduk, untung saja perempuan sok jagoan itu menurut.

"Tunjukkan kami dimana dia?" Tanya Kyungsoo pelan. Baekhyun menggeleng, "aku tidak ingin memberitahu kalian, nanti kalau terjadi apa-apa, aku yang kena akibatnya"

"Kami hanya penasaran Byun Baekhyun...tidak mungkin kami melawannya apalagi kalau dirinya seorang Alpha" Ucap Lisa memastikan kepada Baekhyun kalau kekhawatirannya hanya semu.

"Kau lihat laki-laki berhoodie ungu gelap dibelakang kalian?" Kyungsoo dan Lisa berbalik ke belakang, setelah mendapat apa yang mereka cari, mereka kembali menghadap Baekhyun. "Sialan dia tampan sekali" Gumam Lisa.

"Aku seperti mengenal dia tetapi aku lupa dimana" Kyungsoo berucap, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencoba mengingat apakah dirinya memang pernah bertemu atau belum.

Membiarkan kedua sahabatnya berada di dunia mereka sendiri, Baekhyun kembali melirik ke meja Chanyeol. Laki-lak itu kembali menatapnya, raut wajah laki-lai itu...tidak bisa ditebak. Datar seperti jalan tol. Baekhyun memutuskan kontak mata terlebih dahulu, mencoba fokus ke arah Kyungsoo yang mencoba mengingat sesuatu.

"Jika aku adalah Omega dan bertemu dengan dia, aku akan bersyukur mendapatkan laki-laki itu sebagai pasanganku karena dia sangat-sangat panas." Lisa berbicara menggoda ke Baekhyun, senyumnya melebar sampai menyentuh tulang pipi lalu menaik-turunkan alis kanannya.

"Eisss, tidak sudi. Aku kan Alpha" Tolak Baekhyun.

"Kita lihat saja hasilnya nanti, kalau kau Omega, kau harus membelikan kami dua boks pizza" Lisa menaruh taruhan. Ia merasa instingnya kuat kalau sahabat mungilnya ini adalah seorang Omega.

Mendengar taruhan Lisa, Kyungsoo hanya mengangguk. "Aku ikut. Kau harus membelikan kami kalo kau adalah Omega"

"Deal! Kalau aku bukan Omega kalian harus membelikan aku tas supreme keluaran terbaru"

"Tidak masalah" Sombong Kyungsoo, maklumi saja dia adalah anak dari Alpha Doh Junghae, pemilik Doh Inc. Yang berfokus dibilang elektronik.

"Huuu... Kyungsoo dan segala kesombongannya" Ejek Lisa.

Baekhyun tertawa melihat kelakuan dua sahabatnya, selalu saling mengejek padahal mereka berdua setara. Bodoh yang setara. Netra Baekhyun dialihkan ke arah tempat Chanyeol.

Laki-laki itu sudah pergi.

Tersisa teman-teman Chanyeol saja disana, ia tidak melihat siluet Chanyeol sama sekali.

"Kemana dia?" Pikir Baekhyun, pandangannya mengedar ke segala arah kafetaria tetapi tidak ada tanda-tanda dari laki-laki jangkung itu.

"Mungkin dia sudah pulang duluan" Kata Baekhyun dalam hati, ia kembali memfokuskan diri kepada percakapan kedua sahabatnya.

•••

Chanyeol menatap laki-laki mungil yang dia selamatkan minggu lalu, gilanya lagi adalah laki-laki itu juga menatapnya seperti Chanyeol adalah seorang penjahat kelamin yang sedang mengincarnya.

"Yeol? Kau dengar ucapanku?" Ia memutuskan tatapan dari laki-laki mungil dan menatap teman Band-nya, Kim Jongin atau Kai.

Chanyeol menyesap minumannya, "kenapa?"

Kai mendesah kesal, ia berbicara panjang lebar tetapi tidak di dengar oleh Chanyeol, menyia-nyiakan suaranya saja. "Ck, tidak jadi. Fokus saja ke yang lain" Ucapnya kesal.

"Tingkahmu seperti Omega sedang ingin kawin" Kai melotot lalu ingin memukul Chanyeol setelah dia bilang Kai mirip Omega. Sialan, dia ini adalah Alpha sejati, banyak Omega maupun Beta mengejarnya.

"Chanyeol benar." Setuju Junmyeon. Kai berdecak marah, ia memilih diam dan memakan hidangannya.

Suara dering panggilan menginterupsi obrolan para laki-laki, itu berasal dari handphone Chanyeol. Ia melihat nama panggilan dilayar handphonenya. Kai yang disebelah Chanyeol mengintip.

"Angkat saja, mungkin itu penting" Kai berucap. Chanyeol menggeleng, "aku malas pergi ke kantor hari ini, Ayah selalu membebaniku"

Dering panggilan terhenti, Chanyeol meletakkannya di meja. Kembali suara notifikasi berbunyi, satu pesan masuk dari orang yang sama.

Chanyeol membuka pesan tersebut, membacanya perlahan. Ia mendesah, "aku harus pergi". Teman-teman semejanya menatap Chanyeol penuh tanda tanya, "ada apa?"

"Terjadi masalah dikantor dan ayah membutuhkanku" Junmyeon, Kai, Sehun mengangguk mengerti. Melambai ke Chanyeol.

Laki-laki jangkung melihat terakhir kalinya orang yang dirinya selamatkan, dia fokus berbicara kepada teman-temannya. Ia ingin menghampiri laki-laki itu tetapi entahlah hatinya seolah memberatkan kakinya untuk berjalan ke meja sana dan memilih keluar dari kafetaria.

•••

Chanyeol berjalan masuk ke dalam gedung pencakar langit, semua karyawan yang berada dilantai yang sama dengan Chanyeol membungkuk hormat, ia adalah pemegang saham sekaligus calon pemimpin yang akan menggantikan sang Ayah jadi mereka memang semestinya menghormati Chanyeol. Lalu apa yang dilakukan Chanyeol? Hanya melewati mereka tanpa memberikan balasan sapaan, well...maklumi saja karena berada digedung ini sudah membuat mood-nya hancur berantakan.

"Aku kira kau tidak akan datang" Kang Mirae, sekretaris Ayahnya menunggu di depan lift. Menatap Chanyeol terkejut, "dia memaksaku kesini"

"Semangat!" Ucap Mirae ceria mengepalkan kedua tangannya. Dibalas anggukkan Chanyeol.

Mereka berdua masuk ke dalam lift, selama diperjalan menuju lantai paling atas gedung, Mirae mencoba membuka obrolan tetapi Chanyeol dengan tidak minat menjawab singkat pertanyaan Mirae. Sesampainya dilantai gedung paling atas, Chanyeol keluar terlebih dahulu diikuti Mirae, mereka berjalan dan berhenti didepan sebuah ruangan. "Apapun yang Ayahmu katakan jangan membuatnya tersinggung okay? Tidak ada keributan untuk kali ini Park Chanyeol"

"Ya, aku usahakan"

"Apa mak-"

Chanyeol menutup pintu ruangan, ia melihat sang Ayah. "Duduklah" laki-laki jangkung itu berjalan dan duduk didepan meja sang Ayah.

"Kau tahu kenapa aku menyuruhmu kesini?" Chanyeol mengangguk. "Aku masih belum mau menjalankan perusahaan ini, aku ingin bersenang-senang"

Park Seunghyun, Ayah Chanyeol, mendesah pasrah, "dulu aku menjalankan perusahaan ini pada umur enam-belas tahun. Lima tahun lebih muda daripada kamu"

"Aku dan Ayah berbeda"

"Tidak. Kita sama. Darahmu mengalir juga darahku, bahkan margamu mengikuti diriku. Bukan Ibumu" Seunghyun menatap Chanyeol tajam, "kau bukan Beta maupun Omega. Kau seorang Alpha dan Alpha yang baik adalah mampu menerima tantang serta resiko" nasehatnya. Chanyeol terdiam, tidak mampu mengeluarkan kata-kata.

"Gantikan Ayah"

"Tapi-"

"Tidak ada tapi-tapian, Ayah sudah mempersiapkan ini sangat matang dan sudah berbicara kepada petinggi yang lain. Mereka setuju"

Chanyeol mengepalkan tangannya dibawah meja, kenapa dirinya harus terlahir dikeluarga Park. Dirinya hanya ingin menghabiskan masa muda bersenang-senang bersama teman-temannya bukan menghabiskan waktu dibelakang meja dan menanda-tangani berkas-berkas.

"Terserah kau saja"

"Aku tidak ingin kau bermain-main, ini sudah waktunya kau menjabat. Masa depan beribu-ribu karyawan ada ditanganmu."

"Iya akan aku usahakan" Chanyeol menurut.

Seunghyun mengangguk, "Aku baru ingat, Para petinggi menginginkan sesuatu sebelum kau menjabat" Chanyeol menatap Seunghyun bingung.

"Apa? Kalau menikah aku ti-"

"Mereka menginginkan keturunan"

•••

Baekhyun, Lisa, dan Kyungsoo telah mendapat amplop coklat berisi hasil tes mereka masing-masing. Mereka akan membuka Amplop secara berurutan.

Lisa mengangkat tangan, "aku dulu!"

Kyungsoo dan Baekhyun hanya mengangguk. Menatap Lisa yang membuka Amplop coklatnya dan mengambil kertas, perempuan itu menbaca dengan perlahan-lahan,takut ada satu kata yang ketinggalan. Arah pandangan matanya tertuju ke tulisan tebal berwarna hitam, hasil tes Lisa.

Bahu Lisa tertunduk lesu, "sialan aku benar-benar Alpha" Ucapnya tidak semangat.

Baekhyun memijat pelan bahu Lisa, menyalurkan semangatnya kepada sang perempuan. Ia menatap Kyungsoo, "kau saja buka dahulu, aku terakhiran"

Laki-laki bermata bulat membuka Amplop coklat lalu mengambil kertas, berbeda dengan Lisa, ia tidak repot-repot membaca atasnya dan langsung membaca hasil.

"Sudah positif. Aku Omega" Ucapnya ringan, Kyungsoo memang tidak pernah mempermasalahkan tentang kasta yang penting dirinya tidak pernah kekurangan.

Tersisa Baekhyun, ia menyadari kalau kedua temannya mendapat hasil yang sama dengan hasil dari tes pemerintah, itu berarti Baekhyun masih mempunyai harapan kalau dirinya seorang Alpha. yah...walaupun kejadian seminggu lalu membuatnya jadi ragu, tetapi Ride or Die saja.

"Langsung baca hasil akhirnya saja, aku penasaran" Perintah Lisa, Baekhyun mengangguk.

Laki-laki mungil itu membuka Amplop coklatnya, menahan nafas mengambil kertas hasil tes. Hatinya pun berdoa seiring dirinya membaca kata-kata bercetak tebal. Hasil akhir apakah dirinya seorang Alpha, Omega, atau Beta.

Baekhyun membeku. Hatinya pun mengumpat terus-menerus.

"Apa hasilnya Baek?" Tanya Kyungsoo penasaran. Tidak dijawab oleh Baekhyun.

Lisa menggeram, ia merampas kertas dari tangan Baekhyun. Membacanya lalu membulatkan mata kaget.

"YEAH! PIZZA I'M COM-"

BRUKK

"BAEKHYUN!"

TBC

A.N.

Pertama-tama aku mau mengucapkan terima kasih buat yang sudah review dichapter sebelumnya, aku mau nyebut username kalian tapi gak tahu caranya gimana (maklum aku males ngetik) nanti kalo males aku ilang bakal nyebut nama-nama kalian yang sudah review deh hehehe. Jangan lupa untuk review dichapter ini yaa biar aku semangat ngelanjutin ceritanya, kalo mau kritik silahkan tapi gunakan bahasa yang sopan 😉, THANKYOU SOSOSO MUCH. See u on next chapter