Sicca lebih suka klo Heechul itu sebagai Unnienya dibandingkan oppa,

Jd setelah itu Sicca suka jailin Heechul oppa dengan pakaian kembar mereka.

Chapter III

Cinderella

.

.

.

"Heenim-ah! Bangun! Waktunya kau sekolah," bisik sebuah suara.

"Aku masih ngantuk umma… mmm… Jangan sekarang…. Sebentar lagi," gumam seorang namja yang mempererat pelukan gulingnya.

"Yah! Kim Heechul! Aku bukan ummamu, Jongie!" kata orang yang membangunkan namja manis itu. Sontak teriakannya mambuat namja itu membuka kedua bola matanya.

"Appa?" tanyanya.

"Cepatlah, bergegas. Hari ini kelulusanmu bukan? Umma sudah menunggu dibawah, appa akan mengantarkan kalian dulu ke sekolah dan menjemput Sicca dari rumah sakit arra!" kata appa.

"Nee," gumamnya lagi. Setelah appa keluar namja itu kembali merebahkan badannya, dan menutup kedua bola mata indahnya. Hingga terdengar sebuah teriakan yang membuatnya benar-benar bangun.

"Kim Heechul!"

Ne, dialah uri Cinderella aka Kim Heechul atau Heenim. Seorang namja 'tampan' kelas 6, sekarang adalah hari terakhirnya di Sekolah Dasar. Hari terakhirnya bersama dengan teman-temannya. Hari ini hari yang sangat special tapi entah kenapa dia sendiri datang terlambat.

Kim Heechul membuka, pintu mobilnya dan segera bergegas kearah aula tanpa menunggu umma dan appanya.

"Mianne….." kataku dengan mata terbelalak pada namja imut yang ada didepannya. "Kau tak apa?" tanya Heechul sambil mengulurkan tangannya. Namun apa yang terjadi namja kecil tadi malah menepis uluran tangannya. Tak pernah ada yang menolak Kim Heechul, namja sialan. Gerutu Heenim dalam hati.

"Minggir." katanya dengan nada dingin. Kesal dengan perilakunya Heechul pun meninggalkannya begitu saja. Meski dia merasa tidak enak hati, dia pun berbalik. Hingga terdengar sebuah suara yang memanggil namja tadi yang ditabraknya.

"Siwon-ah!" panggil seorang ajushi. Namanya Siwon. Hanya itu yang diketahuinya. Dia pun segera bergegas ke belakang panggung menemui teman-temannya.

"Kang-In, maaf aku terlambat!" kata Heenim dengan nafas yang tak beraturan. Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan itu. Sedangkan Namja yangbernama Kang-In melihat sobatnya tersebut dan berkata.

"Yah, Heenim, dari mana saja kau! Cepat bersiap! Bu guru sudah menunggumu di dalam," kata Kang-In pada Heenim.

"Ne, aku segera bersiap-siap!" katanya sembari bergegas keruangan lain. Ya, hari ini kami akan bermain drama 'Cinderella' entah dari mana munculnya ide gila ini hingga mereka saling bertukar peran.

"Ada apa bu?" tanya Heechul pada gurunya yang tengah mendanadaninya. Wajah bu guru tampak merona entah karena malu tau kagum.

"Kamu begitu…. Cantik, Heechul-ah!" kata Bu Guru. Heenim memandang bayangannya di cermin. 'Cantik' mungkin kata yang tepat jika dia adalah seorang yeoja. Tapi dia adalah seorang Kim Heechul namja tulen.

"Bu guru, tampan Ok?!" kata Heechul tak suka. Usai di make up, dia berjalan keluar dengan wajah yang 'cantik'?

"Teman-teman. Lihat!" katanya sambil menunjukkan dirinya dihadapan mereka. Semua pandangan tertuju padanya.

"Wah! Heenim, kau cantik sekali!" puji beberapa namja yang terkagum-kagum melihatnya sedangkan Kang-In diam saja tak bergerak.

"Aku cantik sekali ya," puji Heenim pada dirinya sendiri. Jemarinya sibuk memegangi wig yang terpasang sempurna dikepalanya.

"Yah, kau pikir itu hal yang bagus apa?" kata Kang-In kesal. Heenim menatapnya dengan tatapan sendu yang membuat wajah Kang-In memerah seketika.

"Adikmu pasti akan menyukainya!" kata Kang-In sambil mengambil kamera dan berfoto bersama Heechul.

"Sicca juga akan datang hari ini," jelas Heechul sambil berpose bersama dengan Kang-In.

"Hei, kalian berdua cepet. Dramanya mau mulai tuh!" ajak temannya yang lain. Heechul dan Kang-In pun memisahkan diri dan bersiap di posisi masing-masing.

.

.

Tepuk tangan yang sangat meriah. Heechul menyukai suara rebut itu. Dia bahkan tersenyum dan melambaikan tangannya. Panggung benar-benar sebuah dunia yang ajaib untuknya. Tempat dimana dia bisa menjadi siapa saja dan hanyut tenggelam dalam riuh gemuruh suara penonton.

Dari atas panggung Heechul bisa melihat wajah umma-appanya yang tersenyum, juga wajah manis adik tersayangnya Jesicca yang terus memanggil dan meneriakkan namanya. Usai memberikan penghormatan terakhir Heechul segera bergegas menemui keluarganya.

"Pertunjukkan yang menakjubkan, sayang," puji sang umma sambil memeluknya.

"Gumawo, umma," jawab Heechul sambil memeluk ummanya tersebut.

"Akh! Ingin rasanya appa punya anak perempuan. Hal itu akan membuat appa dikelilingi para bidadari cantik," katanya. Heechul menatapnya tidak suka.

"Appa, bagaimana pun aku itu namja," katanya penuh penekanan. Kemudian dia mengalihkan pandangannya pada yeoja kecil yang berdiri tak jauh darinya.

"Unnie, cantik sekali," ucapnya polos.

"Ani, sicca. Panggil 'oppa' ne," pinta Heechul sambil membungkukkan badannya.

"Unnie!" panggil Sicca lagi.

"….." Heechul tak bisa kata apa-apa lagi jika ia memintanya merubah panggilan tersebut tentu Sicca akan segera menangis atau bisa-bisa dia jatuh pingsan. Ya, keadaan Sicca yang sedikit bermasalah dengan kesehatan membuatnya tak pernah bisa marah padanya dan menuruti apapun keinginan adiknya itu.

"Mianne, oppa," kata Sicca ragu. Dia takut jika Heechul oppa marah padanya. Hechul hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"Oppa, tidak mungkin marah padamu. Kamu bisa panggil oppa ini 'Unnie' jika kau memang menyukainya," jawab Heechul sambil membelai rambut adiknya.

"Unnie! Sicca senang sekali!" kata Jessica sambil memeluk Hechul.

"Ayo, kita berfoto bersama," ajak sang appa. Mereka berpoto dengan penampilan Heechul yang cantik.

"Appa, aku akan menemui teman-temanku dulu," kata Heechul saat dia teringat bahwa mereka akan berkumpul sebentar setelah penampilan mereka tadi sukses besar.

"Baiklah, jangan lama-lama. Karena perjalanan kita masih jauh," kata sang umma mengingatkan. Heechul hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.

Hari ini adalah hari terakhir, Heechul tinggal dikota ini. Pekerjaan appanya yang sering berpindah-pindah membuatnya harus berpisah dengan teman-teman yang disukainya.

Heechul melangkahkan kakinya kea belakang panggung. Disana dia akan mengucapkan salam perpisahan dengan teman-temannya. Saat dia memasuki ruangan tersebut, kedatangannya disambut gembira bahkan beberapa teman memberikan ucappan selamat tanpa henti dan juga buket bunga.

"Hyung, kenalkan aku pada yeoja cantik itu!" terdengar sebuah suara rengekan yang menyebalkan untuk seorang Kim Heechul. Dia melihat seorang namja cilik yang tadi merengek itu terdiam menatap lurus padanya. Entah kenapa pandangannya membuatnya merasa malu dan mukanya jadi memanas. Namja itu sepertinya dia mengenalinya, siapa? Piker Heechul.

Perlahan namja cilik itu menghampirinya, dan tanpa ragu mengatakan sesuatu yang sangat aneh dan sulit dia cerna.

"Noona! Sejak pertama aku melihatmu diatas panggung, Aku langsung jatuh cinta padamu!" kata namja yang bernama Siwon tanpa basa basi. Heechul menatapnya kebingungan. Dia merasa sesaat kepalanya hendak mengangguk namun, bukan seorang Kim Heechul namanya yang termakan dengan pujia manis namja menyebalkan itu.

"Siapa kamu?" tanya Heechul dingin. Dia masih marah dengan kejadian tadi pagi dimana namja cilik bernama Siwon itu menepis tangannya dan sekarang malah namja itu mengatakan saranghae tanpa basa-basi. Siwon tersenyum dan jujur senyumnya membuat Kim Heechul melayang dan menyesali pertanyaannya tadi. Dia menyukai kedua lesung pipi namja itu.

"Choi Siwon. Kelas 4 SD!" kata Siwon. Heechul mengerjapkan kedua matanya, oh jadi si cilik itu adiknya Kang_in bear yang tengah berdiri mematung disana. Seulas senyum Heechul tunjukkan pada namja bernama Choi Siwon tersebut. Dia ingin sedikit bermain-main dengan namja manis itu.

"Mianne Siwon-ah, tapi aku sudah berpacaran dengan Kang-In," kata Heechul dengan namda yang dibuat-buat. Dia menatap Siwon lekat, manatap namja manis itu kehilangan senyumnya untuk beberapa saat. It's show time. Pikir Heechul sambil melewati namja yang tengah mematung tersebut. Balasan karena menghina harga diri seorang Kim Heechul.

Heechul melangkahkan kakinya kearah Kang-In bear yang tengah mematung. Mungkin dia masih kaget dengan kenyataan yang dilihatnya tadi. Masih tenggelam dalam arus yang tak bisa dia lawan karena dongsaengnya baru saja menembak seorang namja tulen bernama Kim Hechul.

"Kang-In, I love you so much!" kata Heechul sambil memberikan kecupan pada pipi kanan Kang-In. Kang-In tampak begitu terkejut dan berusaha untuk melepaskan diri darinya.

"A…. ap…pa yang kau lakukan?!" kata Kang-In dengan wajah yang pucat pasi. Dia sangat terkejut dengan ciuman yang diberikn oleh Heechul. Heechul malah melingkarkan tangannya di tangan Kang-In yang kekar. Ya, pembalasan dari seorang Kim Heechul.

Namun, entah kenapa pandangannya tertuju pada namja cilik yang baru saja menyatakan cintanya. Namja itu mengepalkan kedua tanggannya, dengan wajah yang ditekuk. Saat dia melihatnya wajah namja itu begitu menyesakkan dadanya. Wajahnya memerah dengan kedua bola matanya yang indah yang sejak tadi bercahaya penuh kepeercayaan dan tanpa keraguan.

.

.

"Unnie!" teriak seseorang disamping telinga Heechul, panggilan itu membuatnya terduduk di kursi.

"Sicca, apa yang kau lakukan? Kau ingin oppamu jadi budge apa?" kata Heechul sambil memegangi kedua telinganya. Jessica hanya menggembungkan kedua pipinya tidak suka.

"Oppa," panggil Sicca manja. Dia tidak ingin oppa kesayangannya memarahinya.

"Wea!?" kata Heechul sambil memperbaiki posisi duduknya.

"Apa yang sedang oppa pikirkan?" tanya Sicca manja.

"Tidak, oppa tidak memikirkan apa-apa," Jawab Heechul berbohong. "dan anak kecil tidak perlu tahu urusan orang dewasa, Ok" kata Heechul sambil menjitak kepala Sicca.

"Oppa!" Sicca sangat kesal jika oppanya menyimpan rahasia padanya.

"Sudahlah, cepat siapkan makan malam!" kata Heechul meminta adiknya untuk menyiapkan makan malam mereka.

"Tapi dengan satu syarat….."

.

.

.

Heechul POV

Akh! Sungguh memalukan, kenapa aku ada di sini dengan penampilan yang,…. Akh! Benar-benar membuatku frustasi. Mana lagi Sicca, dia meninggalkanku disini sendirian. Bagaimana klo ada om-om genit dan mengira bahwa aku benar-benar 'yeoja'. Aigo! Atau jangan-jangan…. Jangan pikirkan hal yang tidak-tidak.

Aku segera berlari di tengah keramaian malam tahun baru. Aku harus mencari Sicca mungkin dia tersesat dan sedang menangis entah dimana. Seharusnya hal ini tidak ku setujui, memakai pakaian yeoja dan sepatu yang menyakitkan ini memperlambat langkahku.

Brukkk!

Tanpa sengaja aku menabrak seseorang. Kim Heechul yang malang.

"Mianne," kataku sambil membungkukkan badan. Kulihat beberapa barang milikku dan milik orang itu berserakkan.

"Taka pa, aku juga tidak berhati-hati! Kau tak apa-apakan?" tanyanya lembut penuh perhatian. Kuangkat wajahku dan bertemu pandang dengannya. Bola mata hitam yang ku kenal entah dimana…

Entah mengapa pandangannya begitu menusukku. Tenanglah, dia menganggapmu seorang 'yeoja' jadi dia tidak akan memukulmu.

"Barang-barang anda tuan…." Aku mencoba menyebutkan namanya.

"Siwon, terima kasih!" kata namja itu. Siwon nama yang cukup familiar untukku. "Anda?" tanya namja itu. Tapi dari kejauhan kulihat sosok Sicca adikku yang tengah diganggu oleh beberapa orang namja membuatku naik darah dan berlari meninggalkan namja itu. Heeppa to the resque….

"Lepaskan aku!" teriak Sicca marah, saat seorang namja yang tidak dikenalnya menarik pergelangan tanggannya.

"Ayolah, bergabung bersama kami," ajak namja jahat itu.

"Tidak! Aku sudah janjian dengan orang lain! Dengan oppaku!" kata Sicca sambil menekan rasa takutnya.

"Mana kulihat kau tidak dengan kekasihmu," kata namja yang kedua.

"Hei! Apa yang kau lakukan!" teriakku saat mereka memegang tangan Sicca.

"Akh! Lihat ternyata ada nona yang cantik yang akan menemani kita mala mini kawan!" katanya sambil menyeringai.

"….." Jessica menatap pada 'Unnie'-nya. Dengan tatapan sayang.

"Ayo, ikutlah dengan kami manis!" kata namja bajingan itu.

Perkataannya sungguh membuatku naik darah. Apa lagi perkataannya yang memanggilku 'manis', Kim Heechul bisa menerima sebutan bahwa dia 'cantik' tapi tidak dengan 'manis'. Dengan cepat ku tonjok muka para berandalan itu satu persatu sehingga mereka terkejut.

"Kau bilang aku 'manis'!" teriakku dengan nada tinggi. Nada seorang namja, yang membuat mereka ketakutan dan segera pergi dari sana.

.

.

.

Siwon POV

"Nona, anda lupa handponemu," kataku perlahan namun nampaknya yeoja iu sangat terburu-bur. Dia segera bergegas meningalkanku yang berdiri mematung karena aroma rambutnya yang menghipnotisku.

Ku lihat dia berlari kearah sana, dan juga…..

"Kau bilang aku 'manis'!" kulihat yeoja yang ku kejar tadi karena handphoneya yang terjatuh itu memukul beberapa namja yang mengganggu 'temannya'. Hal itu membuatku berpikir ulang. Perlukah aku menemuinya. Dia sangat kuat untuk ukuran seorang 'yeoja'. Aku menyukainya, sambil ku kembangkan senyumku.

.

.

.

"Oppa…. Aku takut….." isak Jessica menyembunyikan dirinya dibalik dekapan oppanya Kim Heechul.

"Sudah, oppa bilangkan. Jangan menjauh dari sisi oppa, kau membuat oppa khawatir," kata Heechul sambil memeluk Jessica.

"Mianne, oppa. Aku tak akan melakukannya lagi," ucap Jessica.

"Jangan takut, oppa ada disisimu," kata Heechul sambil memeluk Jessica dan mengusap punggungnya perlahan.

"Nona, maaf," panggil seseorang.

"Apa aku mengenalmu?!" tanya Heechul kesal. Namja yang berdiri di depannya menatap kebingungan apa pukulan tadi membuatnya 'amnesia'.

"Aku Siwon. Ini handpone anda," kata Siwon sambil menyerahkan Handpone milik Heechul.

"Terima kasih, Siwon-ah," kata Heechul. Siwon hanya tersenyum dan menunjukkan kedua lesung pipinya yang selalu bersembunyi.

"Anda kuat sekali! Aku menyukai yeoja yang kuat, namun lain kali kalian berhati-hatilah. Aku tak ingin kau terluka apa lagi, sampai tanganmu memerah seperti ini," kata Siwon yang tanpa di sangka-sangka dia mengecup tangan kanan Heechul yang memerah akibat pukulan yang dilancarkannya tadi. Dan hal itu kontan membuat wajah Heechul merah padam. Dan

Duar! Duar! Duar!

Ribuan kembang api menyala, menghiasi malam tahun baru mereka. Bunyi ledakan kembang api itu membuat Siwon dan Heechul menatap kearah langit malam yang penuh dengan bunga menyembunyikan wajah mereka yang memerah karena malu.

"Selamat tahun baru noona," kata Siwon sambil kembali mengecup punggung tangan Heechul.

.

.

.

TBC

.

.

.

Look!

Apa yang dilakukan Siwon oppa sama uri oppa (Heechul)

Author sudah kehilangan kata-kata untuk menggambarkan apa yang terjadi.

Heeppa, Wonppa. Mianne!