Cklik
Karin melotot sempurna saat Sasuke mengunci pintu ruangan osis, dimana ia berada hanya berdua bersama Sasuke si ketua osis mesum maniak sex itu. Dilihatnya Sasuke tersenyum licik yang sangat ingin ia hancurkan. Perlahan pemuda brengsek pantat ayam itu melangkah ke arahnya.
"Mau apa kau!" bentak Karin mencoba menggerakan kakinya untuk mundur. Entah mengapa kakinya sulit sekali untuk digerakan. Seperti terkena sihir kutukan Elsa yang menjadi tokoh di film 'Frozen', kakinya benar-benar beku. Membuat dirinya sedikit meneguk ludah.
Terus berusaha menyeret kakinya untuk mundur. Karin menatap Sasuke penuh waspada, takut tiba-tiba si mesum ini menyerangnya atau lebih gawat lagi bila sampai membunuh dirinya. Oh helo Karin, kau pasti terlalu banyak menonton film? Dan sialnya tubuhnya berakhir pada dinding dingin yang menyentuh punggungnya. Ck, Kuso!' Karin mengumpat dalam hati. Kenapa di saat genting dan berbahaya seperti ini, harus ada dinding sialan yang menghalangi? Benar-benar dinding brengsek.
Tak putus asa, Karin mencoba menggeser tubuhnya ke samping, tiba-tiba sebuah tangan memenjarakannya. Tak menyerah, ia bergeser ke samping sisi lainnya, tetap saja ada tangan kekar lain yang memenjarakannya. Karin meneguk ludahnya, ia memberanikan diri mendongak dan menemukan wajah menyebalkan Sasuke tengah menyerigai kemenangan.
"Kau kalah, Karin!" bisik Sasuke di telinga Karin sambil meniup telinga Karin hingga membuat gadis berambut merah ini merinding geli.
Karin melotot saat merasakan sensasi lembut nan dingin menyentuh pipinya, menyusuri hingga ke perpotongan leher Karin. Menimbulkan sensasi aneh dalam dirinya. Rasa geli sekaligus merinding, seperti ada kupu-kupu berterbangan di perutnya.
Sadar akan posisinya, Karin mencoba memberontak. Mendorong Sasuke sekuat tenaga, namun itu percuma. Dorongan Karin tak menimbulkan efek apa-apa bagi Sasuke.
Kali ini Karin mencoba memukul-mukul dada bidang yang berusaha menjepit tubuhnya. Tetap saja, Sasuke masih belum bergeming dari kegiatannya yang begitu asyik menjilati leher jenjang miliknya.
Kesal dengan berontakan Karin, Sasuke mencekal kedua tangan Karin yang memukuli tubuhnya. Menaikan di atas kepala gadis itu. Tak lupa tubuhnya semakin menjepit tubuh Karin agar gadis itu tidak bergerak.
Kemudian ia kembali memulai kegiatannya. Mencium pipi, kening, hidung dan dagu Karin. Lalu ia memagut bibir Karin dengan kasar. Menjilat seluruh permukaan bibir pingkish hingga basah mengkilat dan menggigit-gigit kecil agar Karin mau membuka mulutnya. Kesal karna Karin tak kunjung membuka mulutnya, Sasuke menggigit bibir Karin sedikit keras, hingga Karin memekik dan membuka mulutnya.
Tak menyiakan kesempatan, Lidah Sasuke masuk melesat ke dalam mulut Karin. Mengobrak-abrik rongga mulutnya. Mengabsen deretan giginya. Lidah Sasuke membelit lidah Karin, menghisap dan memainkannya dengan lembut hingga bunyi decapan mengisi ruang osis yang begitu sepi.
Karin terbuai dengan ciuman lembut Sasuke. Ia tak menyangka, ciuman pria yang dibencinya begitu lembut dan nikmat. Wajar jika para perempuan berebut ingin merasakan lembutnya lidah Sasuke.
"Engh" Karin mengerang di sela-sela ciumannya. Ciuman Sasuke benar-benar memabukan, membuatnya seakan melayang hingga membuat tubuhnya melemas. Berontakan yang tadi ia keluarkan, justru berbalik menjadi merespon Sasuke.
Lidahnya ikut ambil bagian. Membelit dan menyesap lidah Sasuke di dalam. Saling berbagi dan berebut saliva hingga bunyi kecimpak terdengar lebih keras.
Merasakan respon dari Karin, Sasuke menyerigai dalam ciumannya. Ia membimbing jemari Karin pada rambut emonya.
Remasan demi remasan yang diperbuat Karin pada rambutnya semakin terpacu untuk memperdalam ciumannya. Sasuke benar-benar menikmati ciumannya dengan Karin yang terbilang lama. Biasanya gadis lain akan cepat terpisah demi meraup oksigen dahulu. Tapi dengan Karin berbeda, gadis ini sanggup membuatnya gila. Apalagi balasan liar yang dilakukan Karin membuatnya semakin ingin lebih.
Sasuke menyusupkan kaki kanannya di antara kaki Karin dan mengangkat Kaki jenjang Karin untuk melingkar ke pinggangnya, lalu menekankan tubuhnya lebih merapat pada Karin.
Terlihat adik Sasuke sudah mengeras, lalu menggesek-gesekan pada titik sensitif Karin.
Tersadar, Karin membulatkan Matanya dan melepas pagutannya. Ia merutuk dalam hati, mengapa tadi ia justru terhanyut dalam permainan si brengsek Sasuke ini?
Dan 'uh' perasaan apa ini. Tubuhnya bergetar saat ia merasakan daerah sensitifnya yang terus mendapat gesekan dari milik Sasuke. Sengatan yang menelusup nadinya dan rasa geli nafsu yang memuncak.
"Ah" Keparat, mengapa ia justru mendesah yang tentunya itu membuat Sasuke merasa menang. Karin menggigit bibir bawahnya.
Sasuke menyerigai mendengar desahan yang lolos dari bibir Karin. Kemudian ia menunduk pada perpotongan leher Karin. Mengecup, menjilat dan menghisap leher jenjang Karin hingga menimbulkan Kissmark di sana. Karin mendesi tertahan.
"Menjauh dariku, Keparat?!" Geram Karin, menjambak keras rambut Sasuke agar berhenti dari kegiatannya, sambil berusaha menahan desahannya yang berusaha lolos. Ia sadar, di bawah sana sudah terasa basah dan rasa geli menginginkan lebih, terus menggoda dirinya. Ia mengatupkan giginya erat demi tetap meraih akal sehatnya.
Sasuke mendongak mengikuti tarikan Karin yang mulai menguat. Ia meringis kesakitan saat merasa rambutnya seakan tercabut dari akarnya. Ia menatap tajam Karin dan mendesis kesal, karna kegiatannya diganggu oleh karin.
Maka dari itu, ia menghentak'kan tangan Karin dari rambutnya dan menyeret Karin mengikuti dirinya. Ia benar-benar sudah tidak kuat. Adik kecil'nya butuh pelampiasan dan tampungan. Ia tidak ingin tersiksa, miliknya yang terus memberontak meminta dikeluarkan dan dipuaskan. Sasuke kemudian mendorong dengan kasar tubuh Karin ke sofa yang ada di ruangan itu.
Brug
Adaw" pekik Karin. Ia mengaduh memegangi pantatnya. Perlahan ia mengerjapkan matanya dan menelusuri dimana ia berada.
Bukan ruangan bertumpukan buka melainkan ruangan berwarna biru.
Loh, bukankah ia tadi-
eh?
Jangan bilang tadi itu mimpi?
"Arrrgghh," jerit Karin menjambak rambut merahnya. Kenapa ia bisa bermimpi menjijikan seperti itu? Dan lagi, kenapa harus dengan si Keparat itu?
Ia menggeleng-geleng frustasi. Tidak, tidak. Ini tidak boleh terjadi!' jeritnya dalam hati, lalu i memeluk tubuhnya sendiri.
"Bagaimana pun caranya, aku tidak boleh kalah," desis Karin kesal.
"Yosh, ganbatte, Karin," serunya menyemangati dirinya sendiri.
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto.
Tidak ada keuntungan materil apapun dari pembuatan fic ini kecuali demi kepuasan pribadi.
Sasuke, my hero by Chimi Wila chan
Main chara: Karin U x Sasuke U
Rate: T+
Warning: Ooc, AU, Typo epliwel dan kekurangan tak kasat mata lainya.
.
.
"Ayo semua! Beri tanda tangan kalian demi menciptakan sekolah yang bermoral," seru Karin lewat speaker -yang ia pinjam dari ruang audio- , berdiri di depan halaman sekolah dengan spanduk yang ia bentangkan bertuliskan 'Mari bersama ciptakan sekolah bermoral dan bernilai tinggi'. Tangan kirinya menenteng selebaran yang mempromosikan dirinya. Membagikan setiap lebaran pada murid yang datang ke sekolah. Meskipun akan berakhir di tong sampah karna langsung dibuang oleh si penerima.
Tetap tidak putus asa. Ia melakukannya dengan gigih. Berbicara dan membagikan.
"Sekolah yang seharusnya mendidik siswa berkelakuan baik agar diterima di masyarakat bla bla bla," Karin memulai kotbah'nya yang membuat para siswa di sana jengah dan memilih menyumpal mereka dengan headset.
Tenten bersandar pada dinding, tangannya bersidekap di dada sambil terus memperhatikan tingkah Karin. Ia menggeleng melihat kegigihan Karin dalam mewujudkan sekolah ini supaya lebih baik.
Ia menghela nafas. Dan mulai melangkahkan kakinya mendekati Karin yang sepertinya belum menyadari dirinya yang sedari tadi memperhatikan tingkahnya.
Puk
Karin menjengit merasakan tepukan di bahunya. Ia menoleh mendapati Tenten yang tengah menatapnya.
"Tenten! Kau mengejutkanku!" pekik Karin.
"Mau ku bantu?" tawar Tenten mengabaikan ucapan Karin tadi.
Semula Karin terdiam, mencerna ucapan Tenten. Tak lama kemudian, ia tersenyum lebar. Lalu ia memberikan setumpuk lembara yang berada di tangannya pada Tenten.
"Trima Kasih, Tenten," ucap Karin dengan girang.
Kemudian Karin dan Tenten mulai disibukan dengan kegiatan demonya.
Sementara itu, telihat dua mobil laborghini hitam dan putih memasuki halaman sekolah, membuatnya menjadi pusat perhatian.
Dari mobil putih yang terpakir keluarlah dua orang pemuda manis dan seksi aka Kiba dan Suigetsu.
Kemudian, dari mobil hitam munculah duo makhluk kutub yang sama-sama berwajah dingin. Sasuke dan Gaara.
Kemudian mereka berempat berjalan bersama menyusuri halaman sekolah dengan kacamata hitam menutupi manik mereka.
Para siswi yang melihat, semua berdecak kagum dengan blink-blink love dan wajah tersipu.
Ada pula yang langsung berteriak memanggil nama masing-masing dari mereka.
Para siswi dengan spanduk alay lebay menyambut kedatangan para pangeran sekolah. Teriakan dan sorakan mereka menyaingi teriakan speaker yang berasal dari Karin.
"Masih seperti biasa. Menjijikan!" remeh Kiba menatap jijik ke fansgirl'nya. Meskipun ia sering memanfaatkan fansgirl'nya untuk menumpahkan nafsunya, ia tetap jijik melihat kelakuan para fangirl yang norak.
"Justru seperti ini yang nantinya kita rindukan!" sahut Suigetsu yang sepertinya menikmati teriakan para FG.
"Huh," Sasuke mendengus geli.
Gaara hanya menyerigai menanggapi ucapan sahabatnya itu.
Langkah mereka berempat terhenti tepat di depan lapak Karin. Lebih tepatnya Sasuke yang menghentikan langkahnya lebih dulu hingga diikuti yang lain.
Kiba memberi kode Sauigetsu dengan menaikan alisnya. Suigetsu hanya mengedikan bahunya yang membuat Kiba mendengus sebal.
Sedangkan Gaara memperhatikan Sasuke.
Sasuke memajukan badanya hingga tepat berhadapan dengan Karin. Ia melihat Karin yang menatap tajam ke arahnya hingga membuat dirinya menyerigai sinis.
"Semangat sekali pagi ini, nona?" tanya Sasuke dengan nada yang mengandung ejekan di dalamnya, yang semakin membuat Karin menggeram penuh emosi.
Sasuke meraih dagu Karin dengan telunjuknya dan sedikit mendongakan wajah cantik itu agar menatap ke arahnya. Lalu ia sedikit membungkuk mendekatkan bibirnya ke telinga Karin dan berbisik.
"Aku tak sabar untuk menikmatimu, beibeh," deru nafas Sasuke mengenai telinga Karin yang sangat sensitive hingga membuat bulu kuduk Karin merinding. Ia jadi teringat mimpinya semalam. Gyaaaa tidak.
Keparat!
Sasuke menjauhkan wajahnya dan menemukan wajah Karin merah padam sempurna, lalu menaikan sudut bibirnya, melengkungkan senyuman yang bagi Karin adalah senyuman yang sangat ingin ia remukan.
"Ganbatte, sayang," ucap Sasuke kemudian melangkah meninggalkan Karin yang masih menunduk menahan amarahnya.
Gaara, Kiba dan Suigetsu pun beranjak mengikuti langkah Sasuke yang berjalan lebih dulu. Kiba sempat menjulurkan lidahnya pada Karin bermaksud mengejek siswi yang tidak ia kenal.
"Karin, kau tak apa?" sedikit khawatir mendapati Karin yang masih terdiam, Tenten mencoba mengguncang bahu gadis bermata ruby itu.
"Keparat!" desis Karin yang membuat Tenten menghela nafas lega. Jika Karin mengumpat, berarti ia sangat baik.
"Sudahlah. Jangan kau masukan hati ucapan Sasuke tadi," ucap Tenten berusaha menenangkan amarah Karin yang siap meledak.
"Huft, awas saja nanti. Akan ku buat dia malu!" umpat Karin mengilangkan tangan di depan dadanya dan mendengus kasar.
"Dari pada mengumpat tidak jelas, bukankah lebih baik kita melanjutkan ini?" Tenten menggoyangkan lembaran yang digenggamnya, menyadarkan tujuan Karin berdiri di sini.
"Ah betul juga," sentak Karin. Melupakan emosi yang baru saja meluap itu. Kemudian menatap Tenten serius.
"Ne, Tenten?"
"Hm?"
"Tadi itu siapa? Err maksudku yang berambut coklat dan merah?" tanya Karin yang penasaran dengan duo penampakan pengikut ketua osis itu. Ia belum pernah melihatnya sebelumnya.
"Ooohh," Tenten membulatkan bibirnya, mengerti siapa yang dimaksud oleh Karin.
"Yang rambut coklat itu Kiba. Dia putra bungsu keluarga Inuzuka. Orang tuanya dokter hewan sekaligus pemilik rumah sakit terbesar di berbagai daerah. Keluarga Inuzuka merupakan penyuntik dana sekolah ini. Dia adalah satu-satunya anggota yang usil dan berisik di antara para pangeran sekolah. Dia juga sama brengsek dengan yang lain, suka memakai wanita seperti ganti baju," jelas Tenten panjang kali lebar yang tentu saja didengar penuh minat oleh Karin.
"Lalu yang-" belum sempat menyelesaikan perkataannya.
"Namanya Gaara," sela Tenten memotong ucapan Karin. "Dia putra bungsu Sabaku. Anak pemilik perusahan softwere terkenal di berbagai negara," tambah Tenten.
Karin membulatkan mulutnya, mengerti dengan penjelasan Tenten itu.
"Ku dengar, dia itu gay," bisik Tenten hingga membuat Karin melebarkan manik ruby'nya dan menatap ke arahnya 'tidak percaya'.
"Serius!" pekik Karin dengan fakta mengejutkan yang satu itu.
"Aku tidak tahu pastinya. Aku hanya mendengar rumornya begitu," ucap Tenten mengedikan bahunya.
"Sayang sekali yah? Padahal dia lumayan tampan loh," Ucap Karin yang menyayangkan pribadi Gaara yang menurutnya tampan, bahkan lebih tampan dari Sasuke. Eits, ko ke Sasuke lagi sih! Argh, damn it.
"Kau tertarik padanya?" tanya Tenten menaikan sebelah alisnya.
"Eh?" Karin menjengit kaget mendengar pertanyaan Tenten, lalu ia mengibaskan tanganya. "Bu-bukan seperti itu," tepis Karin.
"Lalu apa hm?" menyerigai jahil, Tenten mengerling menggoda.
"Bukan apa-apa Tenten! Dan hei, berhenti menggodaku," sungut Karin dengan wajah memerah hingga membuat Tenten tertawa kemenangan.
Karin mencubit pipi Tenten yang terus menertawainya hingga sang empunya menjerit kesakitan dan memegangi pipinya yang memerah. Kali ini giliran Karin yang tertawa keras melihat ekspresi lucu Tenten yang tengah bersungut ria.
Mereka berdua tertawa dan saling bercanda tanpa menyadari sepasang jade tengah memperhatikan mereka dari atas atap sekolah. Rambut merah jabriknya bergoyang tertiup angin.
"Huh, kau menyebarkan gosip menjijikan, sayang," ucapannya entah pada siapa. "Bagaimana kalau aku menghukumu nanti?" lanjutnya dengan serigaian penuh arti yang ditujukan pada 'dia seseorang yang ada di hatinya. Gadis enerjik dengan segala tingkahnya.
Gay? Menggelikan sekali. Bukankah ia beberapa kali tidur dengan 'gadis'nya? Itu tandanya ia normal kan? Lalu apa maksud 'gadis'nya menyebarkan gosip menjijikan tentang dirinya? Apakah 'dia terlalu amat sangat mencintai dirinya? Ah, sepertinya Gaara pantas untuk ke'pede'an untuk alasan itu.
Tanpa terasa seulas senyum tercetak di bibirnya, membuncahkan perasaan rindu pada sosok 'dirinya'. Mungkin istirahat nanti, ia akan menemui 'dia. Yups, nice idea, Gaara.
.
.
Chimi wila chan
.
.
"Sepertinya kita akan besan'nan, bos," ucap seorang pria berbaju hitam yang tengah memandang layar televisi yang menampilkan adegan SasuKarin di halaman sekolah. Ia menolehkan manik onixnya hingga rambut panjang kuncir satu'nya ikut bergerak.
Dilihatnya sosok bos'nya tengah duduk diam sembari menompang dagunya dengan kedua punggung tangan putihnya. Lalu manik yang tak tertutupi rambut menatap tajam ke arahnya.
"Jangan melototiku seperti itu bos!" protes pria itu lagi yang kini bangkit berdiri dan berjalan menuju singgasana bosnya.
"Aku tidak akan menyerahkan adikku pada keparat itu, Itachi!" desis sosok yang dipanggil bos oleh pria tadi yang ternyata bernama Itachi.
"Adikku tak seburuk itu, bos. Kau hanya berlebihan pada adik manismu itu," ucap Itachi yang lalu duduk bersebrangan dari bos'nya.
"Tetap saja aku tidak akan mempercayainya," sahut si bos tak mau kalah.
"Terserahmu, hanya saja feelling ku mengatakan nantinya kita akan berbesan," Itachi tersenyum simpul melihat bos'nya lagi-lagi mendengus tak terima.
Kriiieett
Kedua manusia itu menoleh pada pintu yang baru saja dibuka oleh pemuda berambut merah yang memiliki wajah babyface. Pemuda itu menghampiri Itachi dan bos'nya sembari menenteng sebuah amplop coklat di tangan.
"Apa yang kau dapatkan itu, Sasori," tanya si bos memperhatikan Sasori yang menyodorkan amplop coklat itu di mejanya. Segera ia meraih amplop itu dan menyobek ujungnya untuk mengeluarkan isi dari amplop tersebut.
Beberapa lembar kertas dengan data-data penting menjadi santap bagi sebelah mata yang tak tertutupi rambut. Sosok bos itu tengah serius membaca informasi penting yang baru saja ia terima. Setelah selesai membaca, ia sedikit kesal dan membanting kertas itu di meja.
"Jadi, dari 7 batu permata itu sudah terkumpul 5 permata!" ucap si bos dengan lantang.
Sasori mengangguk meng'iya'kan. "Ya benar, mereka telah merebut permata milik Namikaze, Uchiha, Hyuuga, Sabaku, dan Inuzuka. Mereka telah mengumpulkan sebanyak itu dan itu tandanya kita hanya memiliki kesempatan 2 permata untuk menggagalkan rencana mereka. Selain itu mereka sudah menangkap 6 nona dari masing-masing klan besar pemilik permata kunci," jelas Sasori.
"Enam?" si bos menaikkan sebelah alisnya. "Bukankah kau bilang permatanya hanya 5 yang didapatkan?" tanyanya lagi.
"Benar, tapi nona Yamanaka terlalu pandai untuk menurut. Dia menyembunyikan permata itu saat semua klan'nya dibantai oleh komplotan mereka," jelas Sasori.
"Hm, dia memang seorang Yamanaka pembangkang dan selalu berpikir lebih cepat dari yang lainnya. Pantas saja ia bertindak cepat. Lantas, apa kau mengetahui dimana ia menyembunyikan permata itu?" tanya si bos pada Sasori yang kemudian menjadi diam.
Bos itu menghela nafas, lalu menoleh ke arah Itachi. Ia mengernyit melihat pemuda itu berwajah sendu. Ia sebenarnya tahu apa yang Itachi rasakan. Kehilangan salah satu anggota keluarga memang menyakitkan. Merasa tidak berguna tentu saja. Ia teringat saat ia tidak bisa melindungi ayah ibunya dan juga sulung Namikaze yang kini berada di tangan kelompok penjahat itu.
"Adikmu pasti baik-baik saja, Itachi," Itachi menoleh sesaat mendengar ucapan bos'nya. Ia tersenyum dipaksakan. Dalam hati ribuan rapalan doa selalu ia kumandangkan agar adik perempuannya yang juga menjabat kakak Sasuke itu baik-baik saja sampai ia menyelamatkannya.
"Jangan lemah seperti itu, Itachi! Keyakinan seorang kakak merupakan kekuatan untuk adiknya. Aku selalu yakin bahwa Sabaku Temari adikku masih hidup dan baik-baik saja di sana. Mereka takan membunuh adik-adik kita begitu saja." ucap Sasori yang berusaha menyemangati sahabatnya itu.
Sosok bos itu mengangguk menyetujui ucapan Sasori yang merupakan sahabat serta bawahannya itu.
"Trima kasih," lirih Itachi.
Hening tercipta dalam ruangan bercat merah yang terdapat begitu banyak goresan serta lubang-lubang di dindingnya. Sampai ketika Sasori berkata, "Bukankah adikmu juga dalam bahaya, bos?".
"Benar, apalagi sekarang Minato-jiisan mengirim ke sekolah luar tanpa pengawasan beliau. Kalau mereka menangkap dan merebut permata Uzumaki itu bisa menjadi bencana bagi kita semua," kata Itachi.
"Aku yakin Minato-jiisan takan memindahkan jika tidak tanpa alasan. Itu artinya Minato-jisan telah memikirkan semuanya dengan matang. Lagian dia tak memiliki permata itu?" jelas si bos.
"Apa?!" pekik Itachi dan Sasori bersamaan.
"Apa maksudmu dengan tak memiliki permata itu?" tanya Sasori.
"Kau ingat kecelakaan 10 tahun lalu yang menimpa ayah ibuku?" jeda sejenak sebelum si bos melanjutkan, "Karin ikut berada di dalamnya, dan sempat keluar sebelum mobil itu meledak. Permata itu hilang sewaktu tragedi itu," terang sosok bos yang kali ini mulai bangkit dan berjalan menuju jendela. Memandang ke luar yang menampilkan keindahan kota.
Itachi dan Sasori saling pandang melihat tingkah laku bos'nya yang berusaha menyembunyikan kesedihannya.
Mereka sangat tahu bahwa si bos'nya sangat sensitif dengan cerita masa lalunya apalagi tentang tragedi yang merenggut orang tua pemuda yang dulunya periang. Dan karna tragedi itu pula ia terpisah dengan adik kandungnya. Mirisnya adalah adiknya itu tidak mengenal siapa dirinya. Yah, adik kesayangan bos'nya itu mengalami amnesia yang entah kapan akan sembuh. Kemungkinan kecil untuknya sembuh, itu adalah vonis dokter yang membuat sosok tegar bos'nya menjadi semakin rapuh.
Demi menutupi kerapuhannya, bos'nya ini menjadi pendiam, dan dingin. Dia juga pemimpin yang sangat tegas dan disiplin. Semenjak tragedi Uzumaki, semuanya ditanggung olehnya. Mulai dari pekerjaan umum maupun pekerjaan rahazia.
Itachi dan Sasori telah bersahabat dengan bosnya sedari kecil. Saat mereka bertiga dikirim ke sekolah ke'militer'an waktu umur 7 tahun. Pendidikan yang begitu ketat dan disiplin, serta pelatihan yang begitu keras, mereka jalani bersama. Dan sekolah itu pula tak mengijinkan mereka untuk pulang selama bertahun-tahun, jika hanya keadaan gawat darurat saja mereka diijinkan pulang. Awalnya mereka bertiga tidaklah akrab, mereka hanyalah 3 manusia yang selalu bersaing, meskipun mereka memiliki keunggulan yang hebat dimasing-masing bidangnya. Saling bersaing untuk mendapatkan yang terbaik. Entah siapa yang memulai, dari ejekan, perkelahian itu membuat mereka semakin mengerti satu sama lain.
Saat tragedi berdarah Uzumaki, bosnya ditarik mundur dalam pelatihan, untuk membantu keluarga Uzumaki dan tentunya dengan bala bantuan pasukan militer lainnya.
Itachi dan Sasori yang mengetahui alasan mengapa bos'nya absen dari latihan itu pun segera menemui Sang Jendral dan memaksa untuk mengizinkannya ikut membantu bosnya. Awalnya Sang Jendral tidak mengizinkan, namun melihat keteguhan dan rasa solidaritas yang tinggi dari mereka, akhirnya ia mengalah dan memberikan surat izin bertugas.
Saat mereka sampai di mansion Uzumaki, semuanya terlihat sangat kacau. Desingan peluru yang terus dimuntahkan, ledakan dimana-mana, bau anyir darah menusuk penciuman mereka dan juga puluhan mayat para prajurit bergelimpangan dengan mengenaskan.
Untuk pertama kalinya, Itachi dan Sasori melihat dengan mata kepalanya sendiri amarah dari bosnya. Bagaimana bos'nya membrondongi musuh dengan peluru tanpa ampun, atau menebas musuh dengan katana yang digenggamnya hingga dalaman isi perut musuh menjuntai keluar, ada pula dengan sekali tebasan kepala musuh menggelinding ke bawah.
Ah, mengingat kejadian mengerikan masa lampau membuat bulu kuduk Itachi dan Sasori meremang.
"Besok, aku ingin mengunjungi Kitsune. Kau mau ikut, bos?" ucap Itachi menghembaskan tubuhnya pada sandaran kursi. Manik onixnya tetap menatap punggung bosnya itu.
Mendengar ucapan Itachi, si bos menoleh dan menatap Itachi intens.
"Kami ingin menengok adik kami," jawab Sasori terlebih dahulu sebelum bosnya bertanya.
"Yup, kami merindukan mereka," tambah Itachi.
"Huft, dasar bayi. Pantas adik kalian tidak cekatan dalam tugas, itu karna kalian memanjakannya," dengus sosok si bos melipat kedua tangannya di dada.
"Sudahlah bos, jangan bahas misi dulu. Aku butuh refreshing. Lagian kau juga bisa ketemu adik manismu kan?" kata Sasori ikut melipat tangannya di dada sambil terus memperhatikan ekspresi bos'nya.
"Hah, terserahlah," jawab si bos sambil menghela nafas dan itu membuat Itachi dan Sasori ber'tos'ria.
.
.
Chimi Wila Chan
.
.
Mega kelam membentang di atas sana. Tanpa adanya bintang sebagai pernik indah berkilauan. Angin dingin berhembus meniupkan kebekuan pada malam. Membuat siapapun yang hendak keluar untuk berpikir ulang.
Di sebuah kamar bernuasa biru terlihat begitu sepi. Hanya denting suara yang gaduh mengisi ruangan 4x4 meter tersebut. Di atas ranjang, satu sosok tengah bergelung di dalam selimut tebal. Menenggelamkan wajahnya hingga yang terlihat menyembul hanya helaian merah.
Jam masih menunjukan pukul 8 malam. Tapi rupanya sang pemilik kamar sudah melanglang buana ke alam mimpi.
Tok tok tok
Ketukan pintu yang terdengar lumayan keras berhasil mengusik sosok Karin yang tengah tidur lelap. Tapi itu tidak membuat Karin segera beranjak, justru semakin menenggelamkan kepalanya dalam selimut.
Tok tok tok
Karin berguling ke kanan dan meraih bantal yang tadi menjadi bantalan kepala, mengalih fungsikan menjadi penutup telinga dan berusaha mengabaikan ketukan itu.
Tok tok tok
"Karin! Kau sudah tidur kah?"
Telinga Karin menajam mendengar suara yang tak asing baginya. Bukankah itu suara Tenten? Mau apa dia malam-malam begini?
Dengan susah payah ia membuka kelopak matanya dan berusaha meraih kesadaran sepenuhnya. Masih setengah sadar, ia bangkit dari posisinya dan dengan enggan meninggalkan kasur hangatnya.
Cklek
"Ada apa Tenten?" suara serak sekaligus lemas menyapa Tenten yang sedari tadi berdiri di depan kamar asrama sahabatnya ini.
Tenten menggeleng dan sedikit berdecak heran pada sahabatnya. "Jangan bilang kau sudah tidur!" ucapnya berkacak pinggang.
"Sayangnya itu jawabannya, Tenten," jawab Karin, ia mengucek matanya setelah ia melepas kacamatanya terlebih dahulu. Berusaha sedikit mengurangi sepat matanya. Memakai kacamatanya kembali, Karin memperhatikan sahabatnya itu. Keningnya berkerut mendapati sahabatnya itu sedikit err modis. Celana jeans hitam dengan kaos polos merah yang dilapisi jaket jeans yang juga berwarna hitam. Sedangkan alas kakinya menggunakan sepatu sneaker berwarna putih bercorak merah.
"Kau mau kemana, Ten?"
"Bisakah kau membiarkan tamu'mu masuk terlebih dahulu sebelum bertanya?"
Karin menghela nafas panjang, kemudian melebarkan pintunya untuk Tenten masuk. 'Terima kasih' ucapan manis Tenten membuat Karin memutar matanya bosan. Lalu ia segera menutup pintu kamar asramanya.
"Jadi, bisakah kau menjelaskan mengapa kau mengganggu tidur lelapku dengan dandanan anehmu itu?" ucap Karin sedikit menyindir cara berpakaian sahabatnya itu.
Tenten menghela nafas sebal. "Kau bilang ingin menjadi ketua ketertiban kan?" katanya menatap Karin yang juga menatapnya dengan alis terangkat satu.
"Apa hubungannya? Lagian ini sudah malam, mana ada murid di sekolahan," Karin melangkah menuju Tenten yang duduk di tepi ranjangnya. Ia ikut menjatuhkan pantatnya di atas kasur empuknya.
"Kau kan masih baru dengan sekolah ini. Untuk itu kau tidak tahu apa-apa, Karin," Tenten berkata sembari memegang bahu Karin dengan erat yang mau tak mau itu membuat Karin sedikit meringis.
Karin menyingkirkan tangan Tenten sebelum tangan itu menghancurkan bahunya. "Katakan langsung, Tenten! Jangan berambigu seperti itu!" katanya.
"Para siswa mengadakan taruhan dan balap liar setiap malamnya. Kita harus menge'cek'nya, Karin,"
"Serius!" Karin memekik tak percaya yang membuat Tenten menutup telinga demi menghindari kerusakan telinga yang diakibatkan suara toa milik Karin.
"Iya, Karinnn,"
"Okey, tunggu 5 menit, aku mau ganti baju dulu," dengan secepat kilat Karin meraih 2 helai kain dan membawanya menuju kamar mandi yang ada di kamarnya meninggalkan Tenten yang menepuk jidatnya.
Chimi Wila chan
Asrama Kitsune memang tidak melarang muridnya yang hendak keluar untuk sekedar mencari angin. Bisa dikatakan bahwa asrama itu bebas, bahkan terlalu bebas.
Tetapi kebebasan itu terkadang disalah gunakan oleh oknum tak bertanggung jawab. Mirisnya adalah tidak ada satu dari mereka yang peduli. Atau kah mereka terlalu menikmati kebebasan itu? Yang mana pun alasannya, tetap saja itu tak memperbaiki kekesalan seorang gadis berambut merah yang malam ini berpakain yang tak jauh berbeda dengan sahabatnya yang berada di sampingnya.
Manik ruby'nya berkilat menatap tajam ke arah gerombolan manusia yang tengah tertawa setelah kemenangan yang di dapat. Bibir pinkish gadis itu menggeram penuh kebencian.
Rasanya ia ingin menerjang gerombolan paprika itu dan menghajarnya satu per satu. Itu jika tidak ada sepasang tangan yang menahan bahunya agar tidak lari. Siapa lagi pelakunya kalau bukan sahabatnya ini.
Karin dan Tenten memutuskan untuk mengintai di balik semak-semak yang tak jauh dari arena ajang balap liar dan taruhan itu. Sebenarnya itu ide Tenten. Awalnya Karin menolak dan menginginkan langsung ke arena tetapi ceramah panjang lebar Tenten yang mampu membuatnya meng'iya'kan ide sahabatnya ini.
Karin menajamkan penglihatannya saat mobil dark blue terbuka dan menampilkan pemiliknya. Mobil itu adalah mobil yang mengikuti balap liar. Dan alangkah terkejutnya mengetahui siapa pemiliknya. Seumur hidup Karin takan pernah lupa dengan gaya pantat ayam yang bertengger di kepala orang itu dan juga serigaian menyebalkan yang selalu sanggup menyulut emosinya hingga sampai ubun-ubun. Siapa lagi kalau bukan Sasuke ketua osis pantat ayam keparat mesun itu?
'Cih, jadi dia biang keroknya' ucapnya dalam hati.
"Ayo kita pulang sebelum mereka menyadari kita!" ajak Tenten dengan berbisik agar tidak ketahuan. Dan anehnya Karin menurut begitu saja, tidak seperti biasnya yang selalu membangkang hingga menimbulkan perdebatan di antara mereka. Entah Tenten harus bersyukur atau khawatir dengan perubahan Karin.
Mereka berjalan meninggalkan lokasi itu dalam diam. Hanya bising kendara dan beberapa orang yang berseliweran menjadi pengisi keheningan mereka.
Deretan ruko-ruko yang menawarkan berbagai diskon dan barang keluaran baru pun tak sanggup menarik mereka dari pikiran mereka.
"Aku tidak habis pikir dengan sekolah kita," lirih Karin yang tentu saja masih terdengar oleh Tenten.
Tenten menghela nafas lelah. Sebenarnya ia bingung harus menjawab apa. Sejujurnya ia pun tidak tahu mengapa sekolah yang dinaunginya seperti itu. Sudah sejak pertama kali ia menjejakan kaki ke sekolah seperti itu sudah terbentuk. Dimana yang lemah akan tertindas.
"Aku juga tidak mengerti, Karin," jawab Tenten yang sanggup menolehkan manik Ruby yang sedari tadi menatap jalanan.
"Bukankah kau sudah lama di sana?" tanya Karin.
"Dan dulu juga sama seperti sekarang, bahkan lebih parah," jawab Tenten.
Karin terdiam dan berpikir. Bagaimana cara menghentikan semua ini? Ia tidak menyangka bahwa kenakalan remaja Kitsune akan sejauh ini. Ah sepertinya perjuanganmu akan lebih panjang dari perkiraanmu, Karin.
.
.
to be continued
.
.super thanks buat:
Syalala Lala: kya aku juga suka ama Karin di chap 3 itu. Kerasa banget badasnya. Aduh lala makasih ya dah nyempetin riview.
Lar4sati: nih dah lanjut loh.
Silverqueen: ah setiap baca nama kamu,entah kenapa rasanya jadi lapar nyahaha. Makasih ya udah riview. Nih dah lanjut.
Memoriyana: nah loh, ni dah lanjut. Ayo, putih"mu juga lanjut ya. Aku gentayangin balik loh nyahaha
Hikarishe: halo cintaaa #plak/lebay lu/ ga janji yah. Tenang, ini bukan lemon ko. Lebih mengarah ke crime.
Yosh... sampai jumpa lagiii
