.

.

.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Olivia Jaezmine

Warning!

AU, OOC, typo, abal dan sejenisnya.

.

.

.

.

.

.

Sasuke tak menemukan Sakura di dalam kamarnya saat ini. Ia baru saja selesai melakukan kegiatan membersihkan diri dan juga melakukan sesuatu yang mendesak untuk menenangkan juniornya yang menurutnya itu adalah hal yang paling memalukan dalam hidupnya karena ia sempat membayangkan Sakura ketika melakukannya. Ini membuatnya sangat tak habis pikir karena selama hidupnya Sasuke tidak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya. Bermasturbasi bukanlah gayanya sama sekali. Dan kemunculan wanita cantik berhelaian merah muda itu sukses membuatnya menjadi seseorang yang berbeda dalam artian Sasuke mendapati dirinya sendiri menjadi lebih bergairah karena wanita itu. Namun jujur, Sasuke terlihat menikmatinya.

Sasuke tak ingin memusingkan keberadaan wanita itu sekarang. Dalam hati ia bersyukur karena saat ini Sakura sedang tidak berada di dalam kamarnya dengan kondisi ia yang tengah bertelanjang dada dan hanya memakai selembar handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya ini. Maaf saja, Sasuke tidak ingin memberikan pemandangan gratis kepada wanita penggoda seperti Sakura melalui tubuhnya yang atletis dan indah ini.

Sasuke seketika mengernyit mendapati pakaiannya sudah tersedia di atas ranjang. Kemeja putih, kaos hitam polos, dasi, dan celana hitam panjang. Sasuke terlihat mengerutkan dahinya lebih dalam ketika ia tidak menemukan pakaian dalamnya. Sasuke sempat berpikir bahwa ini ulah Sakura. Wanita itu mungkin telah menyembunyikan seluruh celana dalamnya yang berada disini. Wanita itu kan mesum, pikir Sasuke. Heh, seharusnya kau sadar bahwa kaulah yang mesum disini, Uchiha :v

Sasuke mengambil kaos dan celana yang telah disiapkan itu lalu memakainya dengan cepat. Ia tidak berniat pergi ke kantor hari ini. Ia ingin beristirahat karena kepalanya masih merasa pusing walaupun sedikit. Sasuke berpikir sakit di kepalanya ini pasti akibat benturan dari kepala Sakura yang tidak main-main. Dan ia yakin wanita itu pasti sengaja melakukannya.

Selesai berpakaian, Sasuke kemudian mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Ia berniat memberitahukan Yahiko bahwa ia tidak akan masuk hari ini. Tak lama sambungan pun terhubung. Dan beruntung baginya ketika Yahiko berkata bahwa hari ini dia tidak memiliki rapat atau pertemuan penting apapun, pekerjaannya hanya sebatas menandatangani dokumen-dokumen saja. Ia pun menutup sambungan teleponnya.

Perutnya berbunyi dan ia merasa sangat lapar sekarang. Sasuke tak sempat sarapan karena ia baru saja terbangun dari tidurnya. Sasuke kemudian melirik jam yang ada di kamarnya. Pukul 12 siang. Ibunya pasti tengah menyiapkan makan siang saat ini. Sasuke pun bergegas untuk turun ke bawah.

.

.

Sesampainya di ruang makan, Sasuke tak menemukan siapapun disana dan ia juga tak melihat adanya makanan tersaji di meja makan. Tanpa pikir panjang Sasuke kemudian melangkahkan kakinya ke dapur yang berada tak jauh dari meja makan. Ia berpikir ibunya pasti masih memasak.

Dan benar saja, ibunya memang berada disini. Sasuke menemukan ibunya tengah memasak sesuatu di dapur. Namun ibunya tidak sendiri. Ia menemukan wanita merah muda itu juga ada disini turut membantu ibunya memasak. Selama beberapa menit, Sasuke terlihat menikmati pemandangan di depannya. Ia memperhatikan Sakura yang dengan gesit membantu ibunya memasak. Sasuke membayangkan ketika ia sudah menikah dengan Sakura mungkin pemandangan seperti ini akan dilihatnya setiap hari. Sakura yang menyambutnya di pagi hari dengan senyuman manisnya, memasak untuknya, memakaikannya dasi, mengecup pipinya, dan hal-hal manis lainnya yang selalu ibunya lakukan pada ayahnya. Sasuke tersenyum tipis.

Setelah sadar dari apa yang ia bayangkan, Sasuke kemudian mengusapkan wajahnya kasar. Ia mengingatkan dirinya sendiri bahwa Sakura itu bukanlah wanita yang memiliki perlakuan manis seperti ibunya. Ingat, dia hanyalah wanita penggoda yang hanya menyukai fisiknya saja.

Sasuke menginginkan Sakura. Ia tahu itu. Sasuke sempat berpikir untuk menerima Sakura seutuhnya dalam kehidupannya namun Sasuke masih belum bisa menerima fakta bahwa wanita seperti Sakura lah yang telah menjerat hatinya. Ia lebih menginginkan wanita yang seperti ibunya.

Sasuke kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah ibunya. Ia hampir saja mengikuti bisikan-bisikan disekelilingnya untuk mengambil langkah mendekat ke arah Sakura dan memeluk wanita itu dari belakang. Entah mengapa jika didekat Sakura ia selalu saja ingin melakukan kontak fisik dengan wanita itu.

Sasuke memeluk ibunya dan ibunya sempat berjengit akibat perbuatannya. Ia melihat sedikit dari sudut matanya Sakura tengah memperhatikannya dengan sedikit terkejut.

"Pagi, Kaa-san."

Sasuke melirik ke arah Sakura yang kini kembali fokus pada pekerjaannya mengiris-iris tomat kesukaannya, sekilas Sasuke melihat Sakura sempat merengut entah karena apa.

"Ya, pagi, nak."

Suara ibunya terdengar lembut di telinganya. Tidak seperti kemarin ketika ibunya menjelma menjadi sosok yang menyeramkan baginya. Mengingat kejadian kemarin, Sasuke jadi teringat suatu hal. Ia harus menanyakan sesuatu yang membuat ibunya tampak sangat marah padanya. Namun sebelum itu, Sasuke dibuat sedikit terkejut saat ibunya berbalik dan menatapnya serius.

"Kita perlu bicara."

Tanpa ragu Sasuke menyetujui ucapan ibunya. Ia pun merasa perlu bicara dengan ibunya.

"Sakura, tak apa jika ku tinggal?"

Sakura tersenyum lembut pada Mikoto. "Tak apa Kaa-san. Aku akan menyelesaikan ini dengan cepat sebelum kalian kembali."

"Baiklah. Terima kasih sayang."

Setelah tersenyum singkat pada Sakura, selanjutnya Mikoto mulai melangkah meninggalkan tempat itu.

Sasuke menatap Sakura yang tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Selama beberapa detik mereka tetap bertahan seperti itu, sebelum akhirnya wanita itu menyudahi acara tatap-menatap mereka. Tak ingin berlama-lama disitu, Sasuke pun langsung berbalik dan kakinya mulai melangkah mengikuti ibunya.

Kini Sasuke dan ibunya tengah berada di perpustakaan rumahnya. Ruangan ini berada di lantai 2 dan terletak paling pojok, jauh dari jangkauan orang ramai. Karena ruangan ini dibuat khusus untuk ruang baca agar menciptakan suasana yang tenang dan damai. Selain itu ruangan ini juga kedap suara. Ketika memasuki ruangan ini, Sasuke merasa ibunya seperti ingin membicarakan suatu hal yang serius dan tertutup dengannya. Seketika firasatnya jadi tidak enak.

"Kita akan bicara serius. Tolong jangan ada yang kau sembunyikan dariku."

Sasuke memperhatikan raut wajah ibunya yang kelewat serius. Sasuke pun menelan ludahnya.

"Maksud Kaa-san?"

Sasuke bertanya dengan bingung, karena ia merasa tidak ada satu hal pun yang ia sembunyikan dari ibunya dan ucapan Mikoto setelahnya membuatnya semakin bingung.

"Sejak kapan?"

"Bisakah Kaa-san bicara dengan lebih jelas. Aku tidak mengerti."

Sasuke kembali melihat wajah dingin ibunya sekarang.

"Sejak kapan kau menjadi gay?"

Bohong jika Sasuke tak terkejut mendengar ucapan ibunya. Ia benar-benar terkejut setengah mati. Perkataan ibunya bagaikan sambaran petir di siang hari yang sukses membuat mata hitam Sasuke melotot horor.

"Tunggu dulu, Tou-san bilang Kaa-san ke apartemenku kemarin lusa. Apa Kaa-san melihat sesuatu?"

"Ya. Aku melihatmu tidur dalam keadaan telanjang dengan seorang pria. Apa yang telah kau lakukan bersamanya, Sasuke?! Kau menghancurkan hati Kaa-san."

Ibunya berkata dengan penuh emosi dan setelahnya Sasuke melihat air mata ibunya mulai berjatuhan ke pipi. Ibunya terlihat sangat terpukul saat ini.

Sementara Sasuke, astaga ia tak menyangka ibunya akan berpikir seperti itu. Sasuke memang sempat menduga ini setelah penjelasan ayahnya kemarin mengenai tingkah aneh ibunya itu setelah kembali dari apartemennya. Ibunya melihat sesuatu yang membuat wanita berambut hitam ini berpikiran yang tidak-tidak. Ayolah, Sasuke masih sangat normal.

"Aku perlu meluruskan ini. Kaa-san, sungguh kau salah paham. Yang Kaa-san lihat waktu itu tidak seperti apa yang Kaa-san pikirkan. Tolongpercaya padaku, Kaa-san. Aku masih normal."

Sasuke berbicara dengan cepat. Ia panik. Sangat panik. Ibunya benar-benar berpikiran macam-macam yang mana membuatnya frustasi.

"Benarkah begitu? Bagaimana kau akan menjelaskan sikapmu yang tidak pernah dekat dengan perempuan manapun dan cenderung membenci mereka. Satu lagi, kau bahkan memilih seorang pria untuk menjadi sekretarismu."

Astaga. Sasuke berharap ia tidak akan dibuat lebih terkejut lagi dari ini.

"Kaa-san pernah bilang padaku bahwa aku harus menjaga jarak dengan perempuan karena aku sudah mempunyai seorang tunangan. Aku harus menjaga perasaanku untuknya dan tidak boleh menyakiti hatinya. Maka itu aku melakukan semua itu Kaa-san. Tapi sekarang apa yang ku dapat?! Tunanganku bahkan sama saja dengan wanita jalang yang pernah menggodaku diluar sana. Sejujurnya aku kecewa pada pilihan Kaa-san."

Sasuke berbicara panjang lebar. Ia menyalurkan emosi melalui perkataannya. Tanpa sadar ia mengungkapkan hal yang membuat pikirannya terganggu. Dan Sasuke sama sekali tidak menyesal telah mengatakannya setelah ia sadar dengan apa yang dikatakannya itu.

Sasuke melihat ekspresi ibunya berubah terkejut. Tapi Sasuke merasa ia yang paling terkejut disini.

"Kau mengatakan Sakura wanita jalang, apa karena dia telah menggodamu di ruang kerjamu?!"

Ibunya bertanya dengan nada yang terdengar ragu-ragu. Namun dijawab Sasuke dengan anggukan mantap. "Ya."

Ibunya memekik. "Ya Tuhan. Sasuke, kau salah paham, nak. Sakura tidak seperti apa yang kau pikirkan. Dia bukan wanita yang seperti itu. Sama sepertimu, dia pun selama ini selalu menjaga perasaannya untukmu. Aku tahu banyak tentangnya, nak. Dia memang tinggal di London yang kau tahu kehidupan disana sangat bebas. Tapi Sakura bahkan tidak pernah sekalipun menjalin hubungan khusus dengan seorang pria disana. Dia wanita baik-baik, nak. Aku bahkan tanpa ragu mengatakan bahwa Sakura itu terlalu baik untuk pria seperti dirimu."

Sasuke masih terdiam mendengar perkataan ibunya. Ia menunggu kelanjutan perkataan ibunya dengan perasaan yang berdebar-debar. Sasuke bahkan mengabaikan perkataan terakhir ibunya yang membuatnya seolah berpikir bahwa dia adalah pria yang paling buruk di dunia ini.

"Sasuke, kau harus tahu. Sakura melakukan itu kemarin, karena aku dan dia membuat rencana untuk memastikan sesuatu yang menyangkut ketidaknormalanmu. Maafkan aku karena kami berdua berpikir bahwa kau tidak normal, nak. Tolong percaya padaku sebagaimana sekarang aku mempercayai perkataanmu yang menyatakan bahwa kau adalah pria normal. Ya Tuhan, aku merasa lega. Kau harus tahu betapa aku sangat senang mendengarnya."

Mikoto memeluk Sasuke yang tak bergerak sedikit pun di tempatnya berdiri. Badannya terasa ringan dan lebih bebas sekarang, seolah ia telah terlepas dari sesuatu yang menjeratnya dan membuatnya kesulitan bergerak. Sekarang semua beban itu telah terangkat bersamaan dengan perkataan Sasuke yang membuatnya lega. Di tengah pelukannya Mikoto tak henti-hentinya mengucapkan kata maaf. Mikoto benar-benar merasa buruk pada Sasuke karena sempat meragukan kenormalan pria itu. Namun Mikoto bersyukur karena ia telah mengambil langkah yang tepat untuk memastikan kebenarannya pada Sasuke sehingga kesalahpahaman ini tidak berlarut-larut.

Mikoto melepaskan pelukannya dan menatap Sasuke lembut. "Kau harus menjelaskan ini pada Sakura. Karena dia juga menanggapmu gay."

Sasuke tak menatap ibunya. Ia merunduk melihat lantai. Mati-matian ia menahan kedutan di bibirnya. Hatinya kini membuncah. Entah mengapa ia merasa sangat bahagia. Dan perkataan Sasuke selanjutnya sukses menularkan kebahagiaan yang dirasakan pria itu kepada Mikoto.

"Kaa-san... aku ingin Sakura tinggal di apartemenku."

.

.

.

.

Tbc

.

.

.

.

Yhaa ini tbc di bagian yg bikin kalian greget banget nggak siii wkwk. Tolong ceritakan di kolom review yaa :v

Ini update nya udah kilat kan? tapi sepertinya kurang memuaskan ya karena chap ini sangat pendek sekali dan interaksi SasuSaku juga sangat minim sekali haha. Tenang, di chap depan bakal lebih banyak kok/ ett tapi nggak janji hehe.

Oke, saatnya balas review karena jari saya gatal ingin sekali membalas review yang masuk. Padahal biasanya saya nggak pernah bales review karena jari saya udah kriting duluan akibat mengetik terlalu panjang haha.

Review yang saya balas dari chap kemarin aja ya alias chap 3 karena reviewnya masih anget-anget wkwk.

.

Rinda Kuchiki : Sayangnya Sakura nggak peka sama kodean cinta Sasu :v

sqchn : Iya udah lama banget akhirnyaaaaaa. Saya pun turut bahagia untukmu :v sasu emang begitu tipe tsun-tsun begitu diaa wks.

saku aja : Tersentuh saya karena kamu ingin setia menunggu dengan sabar. Semoga kamu bisa se-setia dan sesabar Saku yaa yang setia menunggu Sasu pulang dengan sabar :v Terima kasih sudah menyukai cerita ini. Doakan saja ya supaya saya nggak terserang WB dan bisa meng-update dengan cepat. Dan makasih pula untuk semangatnya :)

Guest 1 :Terima kasih sudah membaca :)

Cherry703 : Terima kasih sudah membaca dari awal lagi. Semoga setelah saya meng-update chap ini kamu masih inget ceritanya dan nggak membaca ulang dari awal lagi ya :v ah tolong jangan berharap lebih pada saya :v

Arisa Ezakiya : Ini udah asap kan? Hehe

Nyanko-UN : Sasu gengsian siii -,-

Guest 2 : Terima kasih untuk kata Kerennya :)

mizutania46 : Saya sempat harus pake google translate dulu lho untuk mengartikan review kamuu wkwk. Dan arti yg saya dapet begini Aku menyukainya! Terima kasih

Saya akan menunggu. Terima kasih sudah suka dan mau menunggu. Dan tolong jangan salahkan saya jika translate tersebut kurang tepat, salahkan mbah google, oke :v

ifaa : Ya ampuun saya menantikan review yg seperti inii, akhirnya kamu terkena prank saya wks. Doakan saja yaa, saya pun inginnya semua cerita yang saya publish bisa di update dgn kilat. Salam kenal juga :)

Guest 3 : Aaaaaaaaa terima kasih sudah membaca :v

Irezqy99 : Terima kasih sudah suka dan mau menunggu :)

uchihalosi : Terima kasih untuk pujiannya. Dan makasih pula sudah suka cerita ini :)

Lazark : Hmm saya mencium bau-bau stalker disini wkwk. Terima kasih untuk pujiannya. Kamu orang kedua yg review ini dan terkena my prank wks. Semoga di chap ini bisa menjawab pertanyaan kamu itu yaa. Doakan saja yaa supaya bisa update kilat. Terima kasih sudah mau menungguuu :*

ice : KYAAAAA... iya ini apaaa... Makasih pujiannya... Makasih udah sukaa aaaaaaa... Doakan saja yaa.., duh, jangan nangis hiks :( dan makasih untuk semangatnya :)

Haleyyy : Terima kasih untuk pujiannya. Terima kasih sudah sukaa :)

Evy Bestari Putri : Waahh penonton kecewa nih wkwk. Terima kasih mau menunggu :)

LavChelte : Ah, turut seneng juga untukmu :) jangan terkejut yaa karena saya sudah update wkwk/gaje :v

.

Untuk yang sudah membaca cerita ini, saya ucapkan terima kasih banyak. Terutama untuk yang sudah meninggalkan review saya ucapkan terima kasih banyak yang lebih besar wkwk. Semoga readers sekalian mau dengan sabar lagi menunggu kelanjutan cerita ini. Terima kasih sekali lagi. See you in next chapter *lambai-lambai tangan.

.

.

Olivia