Hay…

Maaf menunggu lama..

Ini bukan maksud saya. Sudah dua minggu ini saya berusaha update tapi gak bisa. Untung aja ada Azura-san. Terima kasih atas bantuannya *bungkuk-bungkuk*

Dan Terima kasih buat :

Ren-Mi3 NoVanta

Yuiki Nagi-Chan

Hikari Asuna-Chan

Ritsuki Ichinomiya

Rurippe No Kimi

Atas reviewnya yang selalu membuat saya senang…

Dan balasan buat:

Dwi93Jun Takahashi : maaf! Hinata disini memang OOC. Tapi saya tetap berusaha mempertahankan beberapa sifat asli Hinata. Terima kasih atas semangatnya. Ini saya update.

Keiko : Yuppu! Thanks for review, ini saya update.

Rie Tsubaki : AAAAAAAAAA! *nunjuk-nunjuk* *cry*

Shaniechan : saya juga suka scene itu. And lagu Michi to you memang lagu favorit saya, menurut saya itu lagu paling menyentuh dari semua ost naruto.

Matsumoto Rika : terimakasih *senyum lebar* ini saya update. Maaf lama.

Hinata Hime : iya, sedikit demi sedikit saya akan berusaha berusaha lebih panjang tiap chapnya. Saya akan terus berusaha *membara* terima kasih *smile*

Kiranachan Naruhina : terima kasih, saya berusaha membuat hubungan mereka tak terlalu seperti kakak adik, semoga saja berhasil *sigh* terima kasih.

Akira Tsukiyomi : yappa! Abiznya Naru selalu senyum gitu sih. Jadi geregetan. Sesekali emang harus di bentak. Thanks for review…

Siegharts : ha3 gaje ya? Saya juga merasa begitu *dilempar* saya emang gak ingin buru-buru. Saya emang bikin interaksi dengan Naruto dulu baru kemudian gentian karakter lain. Terima kasih sudah pengertian *nangis* penyakit saya yang itu emang susah ilang. Senangnya kamu gak keberatan. Dan maaf untuk kesalahannya. Saya benar-benar mohon maaf. Saya senang sekali membaca reviewnya yang panjang. Jadi merasa diperhatiin he3. terima kasih banyak!

Untuk awalnya saya ingin berduka cita untuk jepang yang terkena gempa dan tsunami. Dan mari berdoa semoga Masashi Kishimoto sensei baik-baik saja dan sehat wal afiat. Amin!

OK! Langsung saja…

Umur Hinata disini adalah 15 tahun atau bayangin saja Hinata di Naruto Shippuden. Sementara umur Naruto dan yang lain 12 tahun. Settingnya setelah misi di Negara Nami.

Warning : Gaje, OC, OOC, Typo bertaburan. Don't like Don't read!

Disclaimer : Masashi Kishimoto Sensei.

Tsubasa Hinata di sini adalah Hyuuga Hinata. Dan posisi Hinata di dunia Naruto akan di gantikan oleh Hyuuga Hanabi.

Hinata OOC!

Chapter 4 : Orang yang berarti bagimu.

Hinata tersenyum kecil saat melihat Naruto menyapa teman setimnya dengan seyum lebar yang sama sekali berbeda dengan senyum yang diperlihatkan sebelumnya.

'Yah, syukurlah.' batin Hinata sambil terus memandang Naruto. Tanpa menyadari tiga orang lain tengah menatapnya penuh tanya.

"Hinata-san?" tanya Sakura heran saat melihat Hinata berdiri di belakang Naruto.

"Hay, Sakura-chan, Kakashi sensei, dan… Uchiha-san," kata Hinata tersenyum sambil memandang mereka bertiga secara bergantian. Ia memandang Sasuke selama beberapa saat sebelum kemudian berpaling memandang Naruto.

"Kau ingin pulang dulu atau langsung bersama temanmu, Naruto?" tanya Hinata.

"Uh… sepertinya Kakashi sensei ingin mengatakan sesuatu tadi, jadi…' kata Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Baiklah, aku pulang duluan ya!" kata Hinata sambil tersenyum. Membungkuk pada mereka dan berbalik pergi. Sebelum kemudian ia berhenti. Ia berbalik menatap Naruto dan tersenyum malu.

"Aku tak tahu jalan pulang," kata Hinata.

Semua orang disitu sweatdrop.

"Baiklah Hinata-chan kau bisa bersama kami, bolehkan Kakashi sensei?" tanya Naruto pada Kakashi dengan Puppy eyes no jutsu.

Satu mata itu menatap Hinata beberapa lama.

"Tentu saja," jawab Kakashi sambil tersenyum.

"Ano, Naruto, kenapa kau bisa bersama dengan Hinata-san?" tanya Sakura heran.

"Ah itu… ano… karena aku tak kenal siapapun di sini dan aku tak punya uang dan tempat tinggal, jadi untuk sementara aku menumpang di apartemen Naruto," jelas Hinata sambil tersenyum canggung.

"APA?" teriak Sakura tak percaya. Sasuke menaikkan sebelah alisnya sementara Kakashi hanya menatap Hinata dalam-dalam dari balik buku oren-nya.

"Kemarin aku menolong Hinata-chan saat diganggu orang dan karena ia tak tahu mau kemana aku menawarinya menginap." Kata Naruto sambil tersenyum.

"Ya… U-untung saja kemarin Naruto menolongku" kata Hinata pelan. Merinding mengingat kejadian kemarin.

Semuanya terdiam.

"Yah… itu menjelaskan kenapa kau memakai baju Naruto," kata Kakashi sambil memperhatikan baju orange yang dikenakan Hinata.

Naruto dan Hinata saling pandang, menyadari baju mereka yang terlihat mirip. Muka Hinata langsung merah padam.

"H-hai'" kata hinata pelan.

"Baiklah, sebaiknya kita mencari tempat untuk bicara, aku yakin seseorang akan kesal kalau kita terus berdiri di tengah jalan," kata Kakashi lagi sambil tersenyum.

"YA! AYO KITA KE ICHIRAKU RAMEN. AKU LAPAR SEKALI'TTEBAYO!" teriak Naruto sambil menggandeng tangan Hinata dan berjalan menuju ichiraku. Sementara ketiga ninja yang lain hanya saling pandang sebelum kemudian ikut berjalan mengikuti Naruto.

# # #

"Jadi kalian tadi sedang apa di tengah jalan, Hinata-san?" tanya Sakura sambil memakan ramennya perlahan.

"Kami tadi sedang belanja, bahan makanan di apartemen Naruto sudah habis," kata Hinata sambil menunjuk kantung belanjaan yang penuh di dekat kakinya.

"Oh…" jawab Sakura sambil mengangguk mengerti.

"Thaagi, ghaghashi senshe mo bhizarha pha?" tanya Naruto di sela-sela mulutnya yang penuh ramen.

"Telan dulu makananmu sebelum bicara, Naruto," kata Hinata lembut. Naruto mengangguk dan menelan ramennya perlahan-lahan.

"Tadi mau bicara apa Kakashi sensei?" tanya Naruto lagi.

"Yah, karena beberapa hari ini kita tak akan mendapat misi, aku berencana mengadakan pelatihan khusus untuk kalian," jawab Kakashi yang entah bagaimana sudah menghabiskan ramennya tanpa ada seorangpun yang menyadari ia melepas maskernya.

"LATIHAN, YEAH!" teriak Naruto senang.

"Kita akan berlatih apa?" tanya Sasuke datar.

"Kita akan berkemah di luar desa untuk latihan jadi persiapkan semua peralatan kalian dan kita berkumpul besok di pintu gerbang pukul delapan." kata Kakashi lagi.

"Kalian akan keluar desa?" tanya Hinata kaget.

"Hm?" jawab Kakashi sambil menatap Hinata.

Hinata menyadari semua orang memandangnya dengan wajah bertanya-tanya.

"Em… A-apakah kalian akan melewati danau tempatku tenggelam kemarin?" tanya Hinata.

"Hm, Mungkin." jawab Kakashi.

"B-boleh a-aku ikut? Sampai ke tempat danau itu saja?" tanya Hinata ragu ragu.

"Kenapa?" tanya Kakashi

"Um… yah, mungkin aku bisa menemukan jalan pulangku disana," kata Hinata sambil tertawa garing menyadari kata-katanya yang seperti orang bodoh.

Kakashi menatap Hinata selama beberapa saat sebelum kemudian tersenyum

"Tentu saja!" kata Kakashi membuat Hinata menghela nafas lega. Setidaknya ia tak akan berada di tempat asing tanpa ada satupun yang dikenalnya.

"Baiklah! Sampai besok pagi di pintu gerbang, ja!' kata Kakashi sebelum menghilang dalam kepulan asap.

Hinata mengerjap mata kaget sebelum menoleh ke arah naruto dan kawan-kawan.

"Apa dia selalu melakukan hal itu?" tanya Hinata pada mereka. Jemari menunjuk pada sisa kepulan asap di depannya.

# # #

"Saya mengajukan izin untuk membawa tim 7 keluar desa untuk berlatih selama dua hari, Hokage-sama," kata Kakashi penuh hormat pada Hokage ke tiga yang tengah duduk di meja kerjanya.

"Izin dikabulkan. Ini surat izinmu untuk meninggalkan desa." Kata Sang Hokage sambil mengulurkan sepucuk surat pada Kakashi.

"Terima kasih, Hokage-sama" kata Kakashi sambil menerima surat itu. Ia membuka dan membacanya sebelum kemudian menutupnya dan kembali menatap sang Hokage.

"Hokage-sama, apa anda tahu bahwa gadis yang mengaku bernama Tsubasa Hinata itu kini tinggal bersama Naruto?" Tanya Kakashi santai. Hokage ke tiga menatap Kakashi selama beberapa saat.

"Ya, aku tahu," kata Sang Hokage akhirnya sambil menghisap pipa rokoknya.

"Apa ini tidak terlalu berbahaya? Membiarkan seseorang yang kemungkinan besar menjadi mata-mata tinggal bersama Naruto?" Tanya Kakashi dengan nada datar seolah hanya membicarakan tentang cuaca.

"Ya, tapi Gadis Tsubasa ini terlihat sedikit aneh untuk menjadi mata-mata. Dia terlihat baru pertama kali melihat Ninja. Dan kenyataan bahwa dia bukan seorang ninja. Aneh sekali kalau ada yang mengirim seorang gadis biasa sebagai mata-mata. Terutama membawa ikat kepala konoha yang jelas akan menarik perhatian." Kata Hokage sambil berfikir dan menghisap cerutunya.

"Ia bisa saja hanya berpura-pura," kata Kakashi.

"Karena itu aku memintamu untuk mengawasinya, bukankah ia akan ikut keluar desa?" Tanya Hokage ke Tiga.

"Ya, ia beralasan ingin menemukan jalan pulang," jawab kakashi.

"Hm... begitu, untuk sementara kita hanya bisa mengawasinya." Kata Hokage.

"Lagipula sepertinya semua akan baik-baik saja," kata sang Hokage lagi sambil melihat seorang gadis berambut hitam panjang tengah tersenyum pada seorang ninja berbaju orange dari bola kristal di hadapannya.

# # #

"Hinata-chan, makanan tadi enak sekali," kata Naruto sambil mengelus perutnya yang kekenyangan.

"Benarkah? Terima kasih!" kata Hinata sambil tersenyum dari atas ranjang. Berbaring menyamping sambil memandang Naruto yang juga tengah berbaring di atas futon di samping bawah ranjangnya.

"Kau mau aku memasakkan omelet lagi untuk besok? Atau kau mau makanan yang lain?" Tanya Hinata.

" Besok kau mau memasak untukku lagi" Tanya Naruto berbinar-binar.

"Tentu, bukankah aku sudah bilang akan memasak untukmu selama disini?" jawab Hinata.

"Yeah, asyik! Masakanmu enak sekali Hinata-chan. Hampir seenak Ichiraku ramen" kata Naruto penuh semangat.

"Terima kasih," Kata Hinata lagi dengan muka merona.

"Ah… aku tak sabar untuk besok. Kira-kira Kakashi sensei akan melatih kami apa ya?" Tanya Naruto sambil menatap langit-langit rumahnya.

"Besok ya…" gumam Hinata pelan. Besok saat ia ke danau tempat ia tenggelam mungkin ia bisa pulang ke dunianya. Bukankah tempat ia datang bisa berarti tempatnya untuk pulang?

"Oh ya Naruto, terima kasih telah membiarkanku menginap disini. Mungkin besok aku akan menemukan jalan pulang. Jadi aku ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi," Kata Hinata sambil menatap Naruto.

"Kau mau pulang?" Tanya Naruto terkejut. Untuk sesaat ia mengira Hinata akan selalu menemaninya. Memasakkan makanan untuknya. Ia baru sadar bahwa harapannya sungguh bodoh. Hinata pasti ingin pulang ke tempat asalnya. Bukan bersama dan tinggal di tempat seorang monster seperti dirinya.

"Ah… aku pasti akan merindukanmu, Hinata-chan" Kata Naruto sambil tersenyum lebar.

Hinata terdiam memandang Naruto. Sebelum kemudian ia turun dari ranjang dan duduk di samping Naruto. Menepuk keras pipi Naruto dengan kedua tangannya.

"Jangan pernah tersenyum seperti itu lagi padaku!" perintah Hinata sambil menatap Naruto dalam-dalam.

Senyum Naruto memudar. Dengan segera ia berpaling menghindari tatapan sepasang mata violet di hadapannya. Tak mengucapkan sepatah katapun.

"Kau tahu Naruto? Aku bisa membedakan mana senyummu yang tulus dan mana senyum yang dipaksakan," kata Hinata lembut. Naruto masih menolak untuk menatap mata Hinata.

"Kalau kau tak ingin tersenyum, kau tak perlu tersenyum. Mengerti?" kata Hinata membuat Naruto menoleh.

"Benarkah?" Tanya Naruto pelan.

"Hm m, setidaknya saat bersamaku kau tak perlu berpura-pura, karena aku akan tahu dan aku tak akan senang karenanya," kata Hinata sambil tersenyum pada Naruto.

Naruto menatap Hinata selama beberapa saat.

"Terima kasih," kata Naruto pelan.

"Sama-sama!" jawab Hinata sambil tersenyum. Ia menarik tangannya dari pipi Naruto namun tetap duduk disampingnya. Menatap langit malam dari jendela. Selama beberapa saat suasana sunyi.

"Apa kau benar-benar ingin pulang?" Tanya Naruto tanpa memandang Hinata.

"Hm m," jawab Hinata.

"Apa disana ada orang yang menunggumu?" Tanya Naruto lagi.

"Hm m," jawab Hinata sambil mengangguk.

"Apa mereka orang yang berarti untukmu?"

"Hm m,"

Selama beberapa saat keduanya diam.

"Siapa saja orang yang berarti untukmu?" Tanya Naruto akhirnya.

"Em… yah, aku punya dua orang tua yang sangat menyayangiku. Dan seorang sahabat yang walau sangat menyebalkan sangat peduli padaku," jawab Hinata masih menatap langit.

Naruto hanya diam. Menatap punggung Hinata yang menghadap ke arahnya. Dengan perlahan Naruto bangun dari futon dan duduk di belakang Hinata. Menyandarkan punggungnya di punggung Hinata. Menatap langit-langit apartamennya sambil perlahan-lahan merasakan punggungnya menghangat. Keduanya diam. Menikmati kesunyian dan kehangatan di antara mereka.

"Apa kau akan merindukanku, Hinata-chan?" Tanya Naruto pelan.

Suara angin yang membelai dedaunan terdengar jelas di ruang apartemen itu.

"Kau tahu, Naruto? Di tempat asalku, aku tak mempunyai banyak teman." Kata Hinata akhirnya.

"Eh?" jawab Naruto terkejut.

"Karena warna mataku yang aneh, banyak orang orang yang kujumpai menjauhiku. Kebanyakan dari mereka membenciku. Menganggapku aneh." Kata Hinata sambil menghela nafas.

"Kau tahu? Di tempat asalku kebanyakan orang bermata hitam. Jadi saat mereka melihat mataku yang berbeda, mereka menjauhiku. Seorang anak kecil bahkan pernah menyebutku seorang penyihir," kata Hinata sambil tertawa kecil.

"Mereka bilang begitu?" Tanya Naruto marah.

Naruto terdiam sebalum kemudaian berkata "Matamu indah kok, Hinata-chan."

"Benarkah? Kau orang pertama yang mengatakannya," kata Hinata sambil tersenyum dengan pipi yang perlahan merona. Ia kemudian kambali bicara,

"Yah semuanya tak berubah walau aku sudah masuk sekolah. Em.. disini mungkin seperti akademi," kata Hinata lagi.

"Teman-teman sekelasku tetap menjauhiku. Sebagian menertawaiku di belakang. Itu membuatku menjadi sangat pendiam dan pemalu. Aku sempat tak ingin masuk sekolah karenanya. Namun kedua orang tuaku selalu memberiku semangat dan mengatakan hal yang menenangkanku. Jadi aku terus bertahan. Hingga suatu saat beberapa teman sekelas yang tak menyukaiku mengurungku di perpustakaan saat pulang sekolah,"

"Aku sangat ketakutan hingga menabrak rak penuh buku yang membuat seluruh bukunya jatuh menimpaku. Aku menangis selama berjam-jam. Putus asa akan ada yang mencariku,"

Hinata mengela nafas panjang.

" Setelah aku lelah menangis, aku mulai memandang sekelilingku. Saat itu perpustakaan gelap dan hanya diterangi satu lampu kecil. Saat itulah aku menemukan sebuah buku. Karena tak ada yang bisa kulakukan, aku mulai membaca buku itu."

"Buku itu bercerita tentang seorang anak yang keadaannya lebih buruk dariku. Tak punya orang tua dan dijauhi seluruh penduduk di desanya. Walaupun begitu, ia tak pernah putus asa. Ia terus bangkit walau banyak orang yang menertawainya, menjauhinya, bahkan menyakitinya. Tapi ia tak pernah menyerah hingga akhirnya ia punya banyak teman yang mengakui keberadaannya. Dan satu persatu orang yang membencinya mulai menaruh hormat padanya. Hingga tanpa disadari ia punya banyak orang yang peduli padanya."

"Saat itu aku menangis. Bukan karena sedih tapi karena senang. Buku itu memberiku harapan bahwa suatu saat jika aku tak pernah menyerah, semua orang juga kan menerimaku. Jadi aku terus berusaha sepertinya. Dan sekarang, yah… walaupun tak banyak, tapi kini aku mempunyai teman yang peduli padaku,"

"Sejak saat itu, tokoh dalam buku itu selalu menjadi idolaku," kata Hinata sambil tersenyum.

"Bagaimana denganmu, Naruto? Siapa saja orang yang berarti untukmu?" Tanya Hinata sambil menoleh kebelakang. Menatap Naruto yang sejak tadi diam.

"Orang yang berarti untukku?" Tanya Naruto pelan.

"Hm m," jawab Hinata.

"Em… yah aku tak punya orang tua," kata Naruto pelan.

"Tapi aku punya Iruka sensei yang sering mentraktirku ramen, Hokage ke tiga juga kadang-kadang mengunjungiku. Lalu ada Kakashi sensei, Sakura-chan, bahkan Sasuke teme" kata Naruto sambil tersenyum.

"Dan ada kau juga Hinata-chan" kata Naruto lagi.

"Eh, aku?" Tanya Hinata tak percaya.

"Ya! Dan suatu saat aku akan menjadi Hokage melebihi Hokage keempat yang dikenal sebagai Hokage terhebat, aku akan melebihi Yondaime hokage'ttebayo!" kata Naruto semangat.

"Aku yakin kau pasti bisa, Naruto" kata Hinata yakin sambil ikut tersenyum.

"Be-benarkah?" Tanya Naruto kaget. Ia sempat mengira Hinata akan menertawainya. Ia merasakan Hinata mengangguk.

"Begitu ya!" kata Naruto tersenyum senang sambil mengusap belakang kepalanya.

Kemudian keduanya terdiam. Senyum tersungging di wajah keduanya. Masih dalam posisi duduk dengan punggung yang saling beradu.

"Mau kuberitahu satu rahasia, Naruto?" Tanya Hinata setelah beberapa saat.

"Hm, apa?" Tanya Naruto.

Hinata berbalik menghadap Naruto. Naruto juga ikut berbalik. Keduanya kini duduk saling berhadapan.

"Apa kau tahu kalau Yondaime-sama mempunyai seorang putra?" Tanya Hinata sambil tersenyum.

"Eh… benarkah?" Tanya Naruto kaget.

"Hm m, kalau tidak salah ia seumuran denganmu. Sangat mirip dengan ayahnya. Berambut pirang dan bermata biru. Ia juga seorang ninja," kata Hinata sambil menatap Naruto.

"Kenapa aku tak pernah mendengar tentang hal itu?" Tanya Naruto tak percaya.

"Yah… karena Yondaime-sama mempunyai banyak musuh, jadi ia tak memberitahu semua orang," jelas Hinata. Naruto terdiam sejenak.

"Apa aku mengenalnya?" Tanya Naruto penasaran.

"Hm… aku tak yakin," jawab Hinata sambil memasang pose berpikir.

"Darimana kau tahu rahasia ini, Hinata-chan?" Tanya Naruto lagi.

"Sudah kubilang kan? Aku tahu banyak rahasia," kata Hinata sambil mengedipkan sebelah matanya.

Naruto mengangguk mengerti. Hinata hanya tertawa kecil melihat ekspresi Naruto.

"Lebih baik kita segera tidur, ini sudah larut malam," kata Hinata sambil bangkit dan berbaring di ranjangnya. Begitu pula Naruto.

"Mimpi indah, Naruto,".

"Mimpi indah, Hinata-chan,".

# # #

Pagi itu Naruto terbangun oleh bau harum yang memenuhi indra penciumannya. Dengan perlahan ia membuka mata dan memandang sekeliling mendapati dirinya berada di kamar apartemennya. Sambil menguap Naruto bangun dan mengeliat pelan. Masih setengah tidur, ia berdiri dan berjalan menuju dapur untuk minum.

"Pagi, Naruto!" sebuah suara lembut menyapanya.

Naruto mengerjapkan mata. Seketika langsung bangun sepenuhnya. Memandang Hinata yang tengah meletakkan sepiring makanan di atas meja. Naruto membeku sesaat. Sebelum kemudian ia tersenyum lebar.

"Pagi, Hinata-chan!" balas Naruto sambil berjalan mendekat.

"Sedang apa?" Tanya Naruto sambil meminum air dari kulkas.

"Membuatkanmu sarapan, tentu saja," jawab hinata kembali sibuk.

Naruto tersedak.

"Sarapan?" Tanya Naruto sambil menatap makanan di hadapannya tak percaya.

"Hm m," jawab Hinata sambil menatap Naruto.

"Jangan bilang kau tak pernah sarapan setiap pagi," Tanya Hinata tak percaya.

"Uh… aku biasa makan ramen instan setiap pagi," jawab Naruto masih agak bingung.

"Kau makan ramen instan di pagi hari?" Tanya Hinata tak percaya.

"Yeah, kenapa?" Tanya Naruto.

Hinata tertegun sejenak.

"Oh maaf, bukan apa-apa. Hanya saja tidak baik makan ramen di pagi hari. Itu bisa membuat tubuhmu lemas," jelas Hinata.

"Benarkah? Tapi Hinata-chan, Ramen itu makanan terlezat di dunia," kata Naruto sambil tersenyum lebar. Hinata hanya tersenyum dan menggeleng pelan.

"Lebih baik kau segera mandi, lalu sarapan. Atau kita akan terlambat menemui Kakashi -sensei" kata Hinata sambil menengok jam dinding.

# # #

Hinata dan Naruto sampai di pintu gerbang desa tepat saat jam di tangan Hinata menunjukkan pukul delapan. Hinata sudah menyesuaikan jam tangannya sesuai waktu konoha. Bersyukur jam tangannya anti air sehingga tidak rusak setelah ia tenggelam.

Mereka mendapati Sakura dan Sasuke sudah menunggu. Masing masing membawa sebuah tas berukuran sedang.

"HEY SAKURA-CHAN, SASUKE!" sapa atau lebih tepatnya teriak Naruto sambil melambaikan tangannya. Sasuke dan Sakura menoleh.

"Pagi Sakura-chan, Uchiha-san," sapa Hinata sambil tersenyum. Sasuke memandang Hinata selama beberapa saat sebelum kemudian memalingkan muka.

"Pagi Hinata-san, " balas Sakura sambil tersenyum.

"Apa Kakashi-sensei sudah datang?" Tanya Naruto sambil duduk di samping Sakura. Hinata duduk di samping Naruto bersebelahan dengan Sasuke yang berdiri dengan cuek.

"Sepertinya kita harus menunggu Kakashi -sensei sebentar," kata Sakura sambil mengangkat bahu.

2 jam kemudian…

"Bosan…!" keluh Naruto sambil berdiri dan mulai berjalan mondar-mandir.

"Diamlah Naruto! Kau membuatku pusing!" teriak Sakura kesal. Sementara Sasuke hanya duduk dan menggerutu pelan.

Hinata tersenyum kecil memandang mereka. Ia memang sudah menduga akan menunggu Kakashi sensei yang selalu telat. Tapi menunggu itu memang menyebalkan.

"Tapi, Sakura-chan," protes Naruto. Hinata mendapat ide.

"Hey… mau main kartu selama kita menunggu Kakashi-sensei?" Tanya Hinata sambil mengeluarkan sekotak kartu dari dalam tasnya. Kartu itu milik sahabatnya Aya yang tanpa sengaja tertinggal di dalam tasnya.

"Kartu?" Tanya Sakura penasaran.

"Ya! Masing-masing dari kita akan dibagikan 4 kartu. Lalu secara bergantian kita mengambil kartu dari tumpukan dan membuang satu kartu di tangan. Yang nilainya tertinggi saat tumpukan habis dialah pemenangnya," jelas Hinata sambil mengocok kartu.

"Wah… sepertinya menyenangkan," kata Naruto sambil duduk di hadapan hinata.

"Yang kalah akan membawakan tas yang menang selama perjalanan, bagaimana?" usul Hinata.

"Setuju!" teriak Naruto dan Sakura bersamaan.

"Kau tak ikut main Sasuke-kun?" Tanya Sakura. Sasuke hanya diam dan memalingkan muka. Anggap saja itu sebagai 'tidak'.

1 jam kemudian…

"Yea… kita menang Hinata-san" teriak Sakura kegirangan sementara Naruto terlihat kesal.

"Sesuai peraturan kau yang membawa tas kami, Naruto!" kata Hinata sambil tersenyum.

"Yeah yeah, dua tas kecil tak akan membuatku kelelahan," jawab Naruto sambil berdiri.

Hinata segera mengalungkan tas birunya ke leher Naruto sementara Sakura menyerahkan tasnya ke tangan Naruto. Jika di tambah tas miliknya, Naruto kini seperti penjual tas keliling.

"Bodoh," kata Sasuke pelan.

"Diam kau, Teme!" teriak Naruto dengan muka merah sementara Hinata dan Sakura hanya tertawa pelan.

Tiba-tiba saja Kakashi sensei munsul di hadapan mereka dari kepulan asap sambil mengangkat sebelah tangannya.

"Yo!" sapanya sambil tersenyum.

"KAU TERLAMBAT!" teriak Naruto dan Sakura bersamaan.

"Yah, tadi ada nenek tua yang membawa banyak belanjaan. Sebagai orang baik aku menawarkan bantuan dan kemudian aku tersesat," kata Kakashi kemudian.

"KAU BOHONG!" teriak Naruto dan Sakura bersamaan. Lagi.

Hinata tertegun. Sebelum kemudian tertawa.

"Hi..hi..hi tak ku sangka kau benar benar menggunakan kata-kata Obito, Kakashi sensei! Aku sudah menduganya sih, tapi kalau mendengarnya secara langsung- itu-" kata Hinata di sela tawanya.

"hi..hi..hi.. menolong nenek tua dengan belanjaannya hi..hi..hi" tawa Hinata lagi.

Kakashi tertegun.

"Kau mengenal Obito?" Tanya Kakashi tiba-tiba.

Hinata langsung terdiam dan menutup mulutnya. Ups..

"Aku Tanya, apa kau kenal Obito?" Tanya Kakashi sambil berjalan mendekati Hinata. Hinata melangkah mundur.

"Uh.. ah yeah?" jawab Hinata panik.

"Kau bohong! Obito meninggal lebih dari 14 tahun yang lalu" kata Kakashi terus berjalan hingga memojokkan Hinata di pintu gerbang.

Dengan panik Hinata berusaha mencari alasan yang masuk akal saat wajah Kakashi menunduk dan hanya berjarak beberapa jengkal darinya, dan tengah menatapnya serius. Dengan raut wajah yang seakan akan siap mematahkan lehernya kalau ia memberikan jawaban yanga salah.

"Eh ti-tidak! Ia baru berusia 13 tahun, ma-mana mungkin ia meninggal 14 tahun yang lalu?" jawab Hinata berusaha terdengar meyakinkan.

"Kau Bohong!" kata Kakashi tajam. Hinata menelan ludah.

"Be-benar te-temanku Yamada Obito baru berusia 13 tahun." Kata Hinata ketakutan.

"Hm?" gumam Kakashi sambil menatap hinata dalam-dalam.

"DDi-dia selalu terlambat dan menggunakan alasan yang sama persis denganmu, Kakashi –sensei," kata Hinata lagi.

"Temanmu?" Tanya Kakashi.

"Ten-tentu saja, ka-kau kira siapa?" Tanya Hinata. Sempat menyesali dirinya tak pernah ikut ekskul drama.

"Berapa umurmu?" Tanya Kakashi.

"Li-lima belas," jawab Hinata semakin mengkerut.

Mereka berdua saling pandang selama beberapa saat.

"Kakashi sensei, apa yang kau lakukan?" Tanya Naruto dari belakang.

Dengan perlahan Kakashi berpaling dan meninggalkan Hinata. Menghadap Naruto dan kawan kawan.

"Karena semua sudah datang, lebih baik kita segera berangkat" kata Kakashi sambil tersenyum.

Dibelakangnya Hinata menghela nafas lega.

# # #

Hatake Kakashi merasa tak nyaman.

Setelah peristiwa mengejutkan di pintu gerbang, Kakashi mulai merasa ada yang aneh. Amat sangat aneh.

Sudah hampir selama 13 tahun ini, tak pernah ada yang menyebut nama Obito di hadapannya. Ia masih ingat jelas terakhir kali ia bicara tentang Obito adalah saat peringatan 1 tahun kematiannya. Kakashi Dan Minato yang saat itu sudah menjadi Hokage datang bersamaan ke memorial stone. Selama berjam jam mereka berdua membicarakan tentang masa lalu. Masa dimana tim mereka masih lengkap. Mereka berdua tertawa saat mengingat hal-hal konyol yang dilakukan Obito. Dan akhirnya setelah sekian lama sejak kematian Rin. Kakashi membiarkan dirinya menangis.

Tapi itu sudah lama sekali.

Kakashi memandang gadis yang mengaku sebagai Tsubasa Hinata itu dengan seksama. Gadis itu tengah tertawa kecil sambil bicara pada Sakura dan Naruto.

Tsubasa Hinata. Gadis itu tidak hanya tertawa pada alasan terlambatnya –yang memang hampir tak pernah ada yang berani menertawakannya- tapi juga kenyataan bahwa ia menirunya dari Obito, teman satu timnya yang meninggal 14 tahun yang lalu setelah menyelamatkan nyawanya dan memberikannya mata Sharingan.

Walaupun Hinata beralasan bahwa yang ia maksud adalah Yamada Obito temannya dan bukan Uchiha Obito teman setim Kakashi, Kakashi bisa langsung tahu bahwa ia berbohong. Kakashi adalah ninja jenius yang bahkan dijuluki Si ninja peniru. Ia bisa dengan mudah membaca raut muka seseorang bahkan seorang ninja. Dan Hinata bukanlah orang yang pandai berpura-pura. Ekspresi takut dan panik tergambar jelas di wajahnya. Atau mungkin ia terlalu pandai berpura pura sehingga bisa berpura-pura sedemikian rupa.

Kalaupun benar, semuanya tetap terasa aneh. Dilihat dari postur tubuhnya, gadis itu masih berumur 15 atau 16. dan kalaupun ia pernah bertemu Obito, paling tidak ia masih berumur 2 atau 3 tahun. Yang tak akan mungkin bias mengingat hal secara mendetil. Terutama alasan sepele orang yang terlambat. Kecuali ia punya jurus yang bisa menutupi penuaan seperti Tsunade sang Sannin. Yang sangat diragukan Kakashi mengingat Hinata bukan ninja. Atau mungkin ia benar-benar seorang ninja hebat yang bisa menyembunyikan cakranya. Kakashi menghela nafas. Terlalu banyak kemungkinan.

"Sensei…"

"Kakashi sensei?" panggil seseorang membuat Kakashi mendongak. Mendapati semua orang menatapnya. Oh… apa ia terlalu serius berpikir sehingga tak menyadari sekeliling?

"Kau baik-baik saja?" Tanya Hinata menatapnya khawatir.

Kakashi menatap sosok bermata violet pucat itu sebelum kemudian tersenyum.

"Ya. Tentu saja,"

Aku mengawasimu.

# # #

Hinata berjalan dengan langkah ringan bersama Naruto dan Sakura yang selalu bertengkar. Di belakangnya Sasuke berjalan dalam diam. Dan Kakashi sensei berada di bagian paling belakang.

Hinata merasa lega mengetahui bahwa mereka akan pergi dengan berjalan kaki seperti biasa dan bukannya melompat lompat di atas pohon seperti primata. Untung saja ia sudah terbiasa berjalan kaki. Terimakasih pada sang ibu yang selalu mengajaknya shooping hingga kakinya kebal mengelilingi Mall. Tapi Hinata akan lebih bersyukur kalau di dunia Naruto ini juga ada Bis.

Dari sudut matanya, Hinata bisa melihat Kakashi sensei yang terus saja memperhatikannya lekat-lekat. Dan sepertinya –ia tak bisa yakin dengan masker yang menutupi wajah Kakashi- ia tengah berfikir keras. Hinata mengeluh pelan. Bisa-bisanya ia keceplosan soal Obito, di depan Kakashi pula. Walaupun ia sudah berusaha amat sangat keras untuk berbohong. Sepertinya kakashi sensei tak semudah itu percaya. Dan mungkin saja ia kini mulai mencurigainya sebagai mata-mata. Hinata mulai kesal. Mamangnya dia punya tampang kriminal?

Tapi rasa kesalnya dengan segera berubah menjadi rasa khawatir. Menyadari mungkin saja ia sudah mengungkit hal yang tabu. Menyebut nama Obito di depan Kakashi mungkin sama tabunya seperti menyebut Nama Sasuke di depan Naruto dan Sakura setelah Sasuke pergi meninggalkan desa.

Hinata menghela nafas. Sepertinya ia harus lebih menjaga mulutnya.

Tapi ia merasa senang karena ia takkan berpura-pura lebih lama karena ia akan segera pulang kedunianya.

Yah walaupun ia sangat senang –ralat amat sangat senang sekali- bisa bertemu dengan tokoh komik idolanya tapi ia tak bisa berada di dunia ini lebih lama. Walaupun keren melihat ada orang yang bisa menyemburkan api dan melompat di atap. Ia lebih memilih tidur di kasurnya yang nyaman tanpa perlu takut ada seseorang bermata merah dengan tiga koma berputar berkeliaran menghancurkan dunia.

Tanpa terasa mereka sudah berjalan selama berjam jam. Dan tak jauh di depannya kini Hinata bisa melihat danau hijau yang jernih di antara sela-sela pohon. Mereka terus berjalan hingga sampai di tepian danau.

"Um… sepertinya sampai disini saja. Terima kasih sudah mengantarku kemari," kata Hinata sambil membungkuk.

"Kau yakin tak perlu kami temani, Hinata-chan?" Tanya Naruto ragu.

"Tidak usah. Terima kasih! Lebih baik kalian bergegas untuk latihan," jawab Hinata sambil tersenyum.

Semuanya diam selama beberapa saat.

"Hati-hati, Hinata-chan," kata Naruto pelan.

"Hm m. terima kasih atas bantuannya. Jaga dirimu baik-baik, Naruto!" kata Hinata sambil memeluk bocah itu.

Mereka saling pandang selama beberapa saat sebelum akhirnya Naruto mulai melangkah pergi.

"Sampai jumpa, Hinata-chan," kata Naruto lagi.

"Hm m. Semoga kita bisa bertemu lagi," Harap Hinata.

Dengan perlahan keempat ninja itu kembali berjalan dan dengan cepat menghilang di antara pepohonan. Meninggalkan Hinata sendirian.

Setelah keempat ninja itu menghilang dari pandangan, Hinata mulai menatap sekeliling.

'Ok! Sekarang bagaimana caranya pulang?' Tanya Hinata dalam hati.

"Mungkin aku harus masuk ke danau," putus Hinata akhirnya.

Dengan perlahan Hinata memasuki air danau yang dingin. Berjengit pelan saat menyadari sepatunya basah –tentu saja-. Ia menghela nafas menyadari bahwa ia akan basah lagi. Ia terus berjalan sampai air danau mencapai sebatas pinggang. Mulai bertanya-tanya sejauh mana ia harus 'berendam' untuk bisa pulang.

Namun tiba-tiba saja ia terperosok ke bagian danau yang jauh lebih dalam dibanding satu langkah sebelumnya. Dan sekali lagi, Hinata tenggelam.

Awalnya Hinata tak terlalu histeris karena mengira dalam sekejap ia akan kembali ke dunianya. Namun setelah beberapa lama ia tetap tenggelam, Hinata mulai panik. Dengan putus asa ia berusaha menggapai permukaan. Namun percuma saja. Ia. Tidak. Bisa. Berenang.

Setelah lelah berusaha hingga pasokan udaranya habis, pandangan Hinata menggelap.

# # #

Dengan perlahan Hinata membuka matanya. Mendapati dirinya tengah memandang langit biru cerah tanpa awan.

Tubuhnya terasa berat dan lemas. Ia juga basah kuyup. Setidaknya ia berhasil pulang.

"Kau baik-baik saja, Hinata-chan?" Tanya sebuah suara yang terdengar amat sangat familiar. Yang dengan sukses langsung membuat Hinata bangun. Dan mendapati seorang bocah bermata biru memandangnya khawatir. Rambut pirangnya yang basah berhiaskan ikat kepala berwarna biru dengan lambang konoha.

Tidak mungkin!

Dengan segera Hinata memandang sekeliling dan menyadari ia mesih berada di pinggir danau hijau di dalam hutan.

"Ti-tidak mungkin," bisik Hinata tak percaya. Tanpa disadari bulir-bulir airmata jatuh dari mata violetnya. Mulai menyadari kenyataan yang berusaha ia sangkal kebenarannya.

Ia tak akan bisa pulang.

Dan tangis Hinata pun pecah.

"Hi-hinata-chan! Ada apa? Apa kau terluka? Mana yang sakit?" Tanya Naruto panik.

Hinata menutup muka dengan kedua tangannya dan menggeleng sambil terus terisak.

"Lalu ke-kenapa kau menangis?" Tanya Naruto khawatir.

Hinata tak menjawab. Masih terus terisak.

Naruto mulai bingung dan panik memandang sekeliling.

"Ba-bagaimana ini, Na-naruto!" kata Hinata akhirnya.

"A-aku bisa pulang hiks.. aku tak bisa pulang!" kata Hinata lagi. Tangisnya mulai menjadi.

Naruto hanya diam sambil memandangi gadis yang menangis tersedu-sedu di hadapannya. Tak tahu harus melakukan apa. Ia hanya memandang Hinata hingga tangisnya perlahan mereda.

"Ke-kenapa kembali, Na-naruto?" Tanya Hinata sesenggukan.

"Uh… tasmu tadi terbawa," kata Naruto menunjuk tas Hinata di antara tumpukan tas miliknya dan Sakura.

"Ooh-hiks," jawab Hinata sambil mengangguk.

"Kau baik-baik saja? Tadi aku menemukanmu tenggelam lagi," Tanya Naruto khawatir.

Hinata mengusap airmatanya dan mengangguk pelan. Keduanya terdiam.

"Aku tak mengerti apa yang terjadi," kata Naruto

"Tapi kalau kau tak bisa pulang, Kau bisa pulang ke tempatku!" kata Naruto sambil tersenyum lebar.

Hinata tertegun dan memandang Naruto dalam-dalam.

"I..itu ka-kalau kau mau." kata Naruto sambil mengusap belakang kepalanya.

"B-boleh?" Tanya Hinata pelan.

Naruto mengangguk dengan semangat.

"Dan kalau bisa…"

"Bolehkah aku menjadi salah satu orang yang berarti bagimu?" pinta Naruto sambil tersenyum lebar.

To be continue…

Yeah selesai…

semoga saja tak terlalu gaje.

Dan kalau tak keberatan, maukah memberi saran, pendapat dan komentar?

Please..?

REVIEW…