Disclaimer: Axis Powers Hetalia © Hidekaz Himaruya
Warning: Contains improper use of language (curse words, seperti biasa lah…)
Author's note:
Wah, rupanya banyak yang nyariin personifikasi negara kita tercinta (termasuk yang baca juga), ya… Yang jelas, Nesia masih hidup kok! Kayaknya sih… Well, baca aja deh! XD
Who's The Real Dummy?
"… Nesia kemana..?"
"Lah, perasaan tadi jatoh… Terus kok dia hilang..?" tanya Antonio.
"Jangan-jangan… Dibawa Natalia..?" Arthur sangat ketakutan sampai-sampai kulitnya yang sudah seputih salju semakin memucat.
"G…Gawat… Bagaimana nih..?" Antonio bertanya balik.
"Um.. Untuk sementara, kita kembali ke asrama dulu deh," ujar Arthur.
Dan mereka berdua pun berjalan kembali ke asrama dengan langkah lunglai.
"Arthur, ini sama sekali gak lucu. Masa kita besok lapor ke guru kalo Nesia dibawa kabur hantu yang belum tentu ada!" teriak Antonio frustrasi.
"Hush, besok kan libur, jadi lu gak usah terlalu takut. Toh, kita juga masih perlu berurusan dengan hantu Ivan juga."
"I-iya juga sih, cuma… Kayaknya gua jadi horor sendiri," jawab Antonio.
"Jiah, bukannya dari tadi lu mau ketemu ama para hantu itu?"
"Gak, lu ngigau kali, Art."
Arthur hanya bisa menatap kosong temannya itu.
"Terserah deh, yang jelas lu besok— atau hari ini juga bisa, ketemu si Ivan," kata Arthur seraya meninggalkan ruangan.
Antonio hanya bisa menatap kepergian teman sekelasnya itu.
"…Hadoh… Gimana nasib gue..?" ratap Antonio.
Akhirnya, Antonio memberanikan diri untuk bertemu Ivan keesokan harinya, pada saat bulan sudah muncul. Arthur hanya bisa menyemangati Antonio dari kamar, sedangkan dia harus berurusan dengan Ivan dan Natalia sekaligus.
"U-um… Oke. Mau Ivan, mau Natalia, mereka itu udah mati. Ngapain takut sih..?" ujar Antonio dalam hati sambil memasuki toilet.
Dan benar saja, begitu dia memasuki toilet tersebut, Ivan langsung keluar dari stall toilet seolah-olah dia sudah menunggu kedatangan pemuda Spanyol tersebut. Tetapi, Antonio tetaplah Antonio, jadi dia pun tetap bersikap periang terhadap si hantu toilet itu.
"Waah, kok mukamu terlihat familiar, ya~? Udah belajar buat tes hari Senin belum?" tanya Antonio dengan senyum khas-nya.
"Belum, da~?" Ivan hanya menggeleng pelan.
"Oke, jadi buat bahan tes itu dari halaman ini, ini, ini, ini dan yang ini!" ujar Antonio dengan riangnya sambil menunjukkan buku pelajaran yang muncul entah dari mana itu.
"Ooh~ Banyak banget!" kata Ivan.
"Iyaa, makanya kamu belajar yang bener supaya dapet nilai bagus~" jawab Antonio.
Ivan pun hanya mengangguk pelan.
"Waah, udah jam segini. Aku harus pergi, dadah~" ujar Antonio dengan senyumnya sambil meninggalkan toilet.
"Dadah~" Ivan pun melambai ke arah Antonio.
. . . . .
"Sebenarnya niat gua tadi mo ngapain, da..?" Ivan pun bertanya kepada dirinya sendiri.
"Oke, Ivan itu gak bisa diapa-apain… Berarti kita ke Natalya aja dulu!" kata Antonio dengan antusias.
Dan tanpa disadari, Antonio sudah sampai di jembatan lokasi kejadian menghilangnya Nesia.
"Um… Natalya, lo di mana? Gua butuh lo sekarang, nih," kata Antonio.
Natalya perlahan-lahan muncul di belakang Antonio.
"…Ngapain lo nyari-nyari gua..?" tanya Natalia tiba-tiba, dengan sukses membuat Antonio sport jantung.
"EBUSET~ WOI, KALO MUNCUL TUH BILANG-BILANG..! Kalo gua itu ibu-ibu lagi bunting, brojol nih ntar gue..!"
"…Kalo kayak gitu apa seremnya..?" Natalia bertanya balik.
"…Iya juga, ya…" ujar Antonio pelan.
"Jadi lo mau apa nyari gua..?"
"Eh, lo bisa bantu gua mengenai kakak lo gak..? Gua mo nyuruh dia pergi dari sini," jawab Antonio.
"Kakak gua..?"
"Ivan Braginski."
. . . . .
"KAKAK GUA MANA! GUA MESTI MENIKAH SEKARANG JUGA!" teriak Natalia histeris, tapi senang juga karena kakaknya yang sudah lama sembunyi itu ditemukan.
"Kakak lo ada di— sabar. Gua ngasih tau kakak lo dimana, tapi lo mesti balikin temen gua," kata Antonio dengan ekspresi serius.
"Temen lo?"
"Iya! Temen gua yang kemaren lu dorong jatoh, terus tau-tau hilang dari pandangan!"
"Hah? Lu ngigau ya? Gua aja baru dateng hari ini, gimana gua mo dorong temen lo kemaren?" tanya Natalia.
"…Hah? Terus yang kemaren itu…" Antonio jadi bingung sendiri.
"Halah, yang jelas, KAKAK GUA MANA!" Natalia langsung mengeluarkan pisau yang selalu dibawa-bawanya.
"Kakak lo ada di toilet cowok, plis bantuin gua," jawab Antonio.
"OKE, KAKAK AYO KITA MENIKAH!" Natalia langsung melayang secepat kilat ke arah toilet cowok.
Antonio hanya bisa mengikuti sambil berlari-lari kecil ke arah toilet cowok.
"Um… Ivan, lo bisa keluar? Ini gua, Antonio, yang tadi ngasih tau bahan ujian buat hari Senin…" ujar Antonio dengan pelan.
"Wah, kamu kembali, da~?"
"Iya, gua juga ada tamu lain buat lo," jawab Antonio sambil tersenyum.
"Mau berteman denganku, da~?" Ivan langsung keluar dari stall toiletnya.
"Iya. AYO KITA MENIKAH!" Natalia langsung menyambar Ivan dan mengikatnya dengan rambutnya.
"GYAAAA! GAK MAU!" Ivan hanya bisa menjerit histeris begitu melihat dirinya diserang Natalia.
"Wah~ Pasangan yang serasi ya..?" Antonio hanya bisa tersenyum simpel.
"Tonio, Ivan ama Natalia gimana!" tanya Arthur yang sudah cemas dari tadi.
"Haha~ Mereka sudah balik ke alam mereka.. Mereka rukun pula!" Antonio menjawab dengan antusias.
"Baguslah. Lalu, Nesia gimana?" tanya Arthur lagi.
"Um… Kata Natalia, yang menculik Nesia kemaren bukan dia. Natalia baru muncul hari ini, jadi yang kemaren itu siapa..?" tanya Antonio.
"Buset, masa sekolah kita jadi markas hantu masal..?"
"Yaah~ Jangan sampai, sih.. Tapi kan—"
"SIALAN LO, GILBERT! NYARIS AJA GUA SPORT JANTUNG GARA-GARA LO, DASAR MANUSIA ASEM!"
. . . . .
"Lah… Tadi itu suara… Nesia kan..?" tanya Antonio.
"Dari kamar sebelah, kamarnya Gilbert sama Yao," jawab Arthur.
Mereka berdua berpandang-pandangan untuk sesaat, lalu langsung berlari secepat kilat ke kamar sebelah.
"BANGKAI TIKUS! GUA GAK TAU LO DAPET ITU IDE DARI SIAPA, YANG JELAS—" teriakan Nesia langsung dipotong dengan suara bantingan pintu yang lumayan keras.
"Eh… Antonio dan Arthur, aru?"
"Wahaha, gak awesome banget muka lo berdua! Abis dikejer setan, Ton?"
Antonio dan Arthur langsung berlari ke arah Nesia.
"Lo… Masih hidup..?" tanya Arthur penuh curiga.
"Bangs*t lo, Art. Gua juga kaget kemaren gara-gara si GILBERT MANUSIA ASEM itu ngedorong gua dari lantai 4, gila," jawab Nesia dengan kesal.
"…Ooh~ Jadi yang kemaren ngedorong Nesia itu Gilbert, toh~?" tanya Antonio sambil mengeluarkan aura yang lebih seram dari pada Ivan.
"Dan yang nakut-nakutin Alfred ama Romano itu elu juga, kan?" tanya Arthur, tidak kalah seram dari Antonio.
"E-eh, em.. Gini… Itu semua ada alasannya, jadi kemaren itu—" Gilbert berusaha menjelaskan, tetapi tidak dihiraukan oleh Arthur dan Antonio.
"GAK USAH BANYAK BACOT, BISA GAK, GIL..?" tanya Antonio dan Arthur berbarengan.
Dan satu hari itu diakhiri dengan teriakan Gilbert dan suara tamparan yang lumayan keras.
The End
Author's Note:
Yaay, akhirnya ini cerita selesai! (Udah gregetan pengen nyelesain)
Soal cerita-cerita yang lainnya (yang bahasa Inggris), itu aku udah nyerah banget. Salahkan kakakku yang meninggalkan ceritanya di tengah-tengah begitu. =v=
Anyway, thanks for reading! :D
OMAKE
"Jahat banget lo pada, sumpah. Masa gua doang yang digampar..? Padahal lu berdua kan juga ada di situ…" jawab Gilbert.
"Yah, kalo mau dapet giliran banyak, kan mesti rela berkorban juga, aru~"
"Kadang kita harus bisa berakting bagus, lho," ujar Nesia.
"Cih, gak awesome. Lu kan aktingnya lebay," tambah Gilbert.
Dan hukuman Gilbert ditambah dengan gamparan manis dari Nesia menggunakan sapi (?)
The End~
