GUNGJEON UJEONG

-THE PALACE FRIENDSHIP-

.

.

Main Cast :

All Super Junior's members

.

Rated : T

Genre : Friendship, Drama, Fusion-Sageuk

Warning : Typo(s), bored, bad plot, OOC

Disclaimer : All Cast isn't mine but this story is mine! Don't copy anything without my permission

.

LyELF

Enjoy Reading!

.

.

.

PART 4

†_TPF_†

.

.

Siwon dan Kyuhyun berjengkit kaget hingga mundur beberapa langkah saat Leeteuk berteriak keras dan tatapan marah yang sangat terlihat. Jantung kedua nya pun langsung berdegub kencang. Mereka seperti melihat seseorang yang hendak membunuh diri mereka saat ini juga jika tidak segera pergi.

"Apa kalian tidak bisa mendengar? Ku bilang, PERGI!" teriak Leeteuk lagi penuh dengan amarah. Bahu nya terlihat naik turun dengan napas cukup memburu.

Keheningan terjadi sesaat di antara mereka. Hanya Leeteuk yang masih menatap dengan tatapan tajam dan penuh emosi juga Siwon dan Kyuhyun yang terdiam dengan ekspresi takut.

"Kyu…" gumam Siwon sambil memegangi lengan Kyuhyun saat putra mahkota itu mulai melangkah maju hendak masuk ke dalam halaman rumah.

Kyuhyun melepaskan tangan Siwon lalu tersenyum tipis untuk menenangkan. Dengan perlahan, Kyuhyun berjalan mendekati Leeteuk yang masih menatap nya tajam. Ia berhenti tepat sekitar tiga langkah dari Leeteuk. Menatap ke dalam onyx coklat itu lalu tersenyum tipis.

"Kau terluka… hyung," ucap Kyuhyun pelan, sedikit ragu mengucapkan panggilan nya pada namja di hadapan nya ini.

Leeteuk cukup terkesiap mendengar panggilan dari Kyuhyun. Namun tidak ingin mempedulikan itu, Leeteuk membuang muka dan memutus kontak mata dengan Kyuhyun.

"Bukan urusan mu," ucap Leeteuk dingin.

Kyuhyun tersenyum lalu mulai melangkah maju kembali.

"Berhenti!"

Sontak Kyuhyun menghentikan langkah nya saat Leeteuk berdesis mengingatkan. Kyuhyun mengangguk mengerti jika namja itu tidak ingin di dekati.

"Kita harus segera obati luka mu. Kening hyung juga mengeluarkan darah," seru Kyuhyun lagi dengan nada cemas.

Leeteuk menggelengkan kepala masih mempertahankan senyum sinis nya. Ia melirik tajam pada Kyuhyun, "Kau memanggil siapa?" tanya nya.

"Eoh?" Tanpa sadar Kyuhyun memiringkan kepala nya dan memasang ekspresi bingung. Tidak mengerti maksud ucapan dari Leeteuk.

"Aku bukan hyung mu!" pekik Leeteuk menjelaskan membuat Kyuhyun meringis.

"Bisakah Leeteuk hyung berhenti berteriak? Aish kau membuat ku kaget!"

Leeteuk ternganga mendengar balasan dari Kyuhyun. Ia menatap bocah di hadapan nya itu dengan heran. Bukankah baru saja ia mengingatkan bahwa dia bukan hyung nya tapi bocah itu tetap memanggil nya hyung?

"Apa salahku? Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa nama mu Leeteuk? Dan aku yakin kau lebih tua dari ku jadi aku panggil Leeteuk hyung, tidak salah bukan?" terang Kyuhyun dengan ekspresi lucu yang bisa membuat orang yang melihat tertawa tetapi hal itu tidak terjadi pada Leeteuk.

"Pergi!" desis Leeteuk lagi tak mempedulikan penjelasan Kyuhyun yang mulai merengut kesal.

"Aku sengaja kemari untuk menemui mu dan sekarang kau justru mengusir ku? Kau jahat sekali hyung," ucap Kyuhyun sambil menggelengkan kepala nya.

Leeteuk menghela napas mendengar semua balasan dari bocah di hadapan nya itu. Entah mengapa ia seperti kehabisan kata-kata untuk berbicara dengan nya.

Siwon yang mulai tersadar dari shock nya mulai berjalan memasuki halaman rumah walaupun ia tak berani mendekat dan membiarkan Kyuhyun di depan sana.

"Ah aku belum mengenalkan diriku. Nama ku Kyuhyun," Kyuhyun tersenyum manis membuat Leeteuk memutar bola mata nya malas. Siapa yang bertanya? Toh tanpa Kyuhyun mengenalkan diri, ia sudah tahu siapa nama dan derajat dari bocah di hadapan nya itu.

"Apa yang orang seperti mu lakukan di sini malam-malam? Kabur dari istana?" tanya Leeteuk membuat Kyuhyun tersenyum penuh makna. Leeteuk mulai bertanya dan mengajak nya berbincang, itu menurutnya.

"Sudah ku bilang, aku sengaja kemari untuk menemui Leeteuk hyung," ucap Kyuhyun.

Tanpa Leeteuk sadari, Kyuhyun mulai maju dua langkah lagi untuk mendekati nya saat mereka tengah berbicara.

"Aku bisa melaporkan pada istana bahwa putra mahkota kabur di malam hari. Dan… bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan hyung?!" decak kesal Leeteuk.

Leeteuk menggeram kesal saat Kyuhyun tertawa pelan lalu menghela napas.

"Nah, hyung tahu jika aku putra mahkota jadi seharusnya kau tahu jika aku memiliki kuasa, bukan? Lalu jika ada yang tahu kau berucap kasar padaku, kau bisa di hukum berat," ucap Kyuhyun pasti membuat Leeteuk terdiam.

"Dan maaf aku tidak bisa mengabulkan permintaan mu. Aku ingin memanggil mu hyung," tambah Kyuhyun lagi dengan cengiran lebar.

Leeteuk menatap Kyuhyun dengan seksama. Entah apa yang di cari namja itu dari wajah Kyuhyun. Melihat namja di hadapan nya tengah melamun, Kyuhyun mengambil satu langkah lagi. Perlahan tangan nya yang sedikit tertutupi lengan darumugi yang panjang itu terulur ke arah kening Leeteuk.

"Kau perlu di obati, hyung."

Leeteuk menepis tangan Kyuhyun yang sudah menyentuh sedikit permukaan kulitnya dengan kasar. Tatapan nya mulai berubah menjadi tajam lagi. Kyuhyun hanya bisa meringis karena perlakuan itu. Dan Siwon sontak berlari menghampiri Kyuhyun ketika melihat perlakuan kasar yang di dapat oleh putra mahkota.

"Kyu, gwenchana?" tanya Siwon cemas, "Leeteuk-ssi, aku tidak tahu ada apa dengan mu tapi jangan pernah bersikap kasar pada putra mahkota!" tegas nya lagi sambil menatap Leeteuk menegur.

Siwon terdiam saat Kyuhyun mengangkat sebelah tangan nya seakan memberi tanda bahwa dirinya baik-baik saja.

"Pergi!" Leeteuk berteriak lagi sembari beranjak berdiri.

Kyuhyun hanya bisa terdiam dan tanpa rasa takut ia menatap kedua onyx kembar milik Leeteuk kembali. Mata itu memang memancarkan amarah dan rasa tidak suka tapi jika melihat lebih dalam ada sebuah kesedihan dan sebuah rasa lain yang tidak bisa Kyuhyun jelaskan.

"Hyung…" gumam Kyuhyun dengan nada mulai terdengar memelas.

Leeteuk menggelengkan kepala nya lalu mulai melangkah pergi mendekati rumah nya. Kyuhyun hanya terdiam memperhatikan punggung Leeteuk.

"Bukankah sudah jelas bahwa aku tidak menyukai orang-orang seperti kalian? Aku harap kalian tidak muncul di hadapan ku dan cepatlah pergi dari sini."

Leeteuk kembali berucap dengan tegas namun dengan nada pelan sebelum masuk ke dalam rumah tanpa menoleh ke arah Kyuhyun dan Siwon. Setelah mengucapkan itu, ia pun langsung masuk tak mempedulikan apapun lagi.

Kyuhyun memandangi pintu rumah yang sudah tertutupi itu dengan tatapan sendu. Penerangan dalam rumah itu terlihat sudah di padamkan meninggalkan kegelapan dan keheningan di malam ini.

"Kyu…"

Kyuhyun menoleh saat Siwon sudah berada di samping nya dan memanggil nama nya dengan lembut. Ia tersenyum melihat raut cemas di wajah hyung nya itu.

"Gwenchana?" tanya Siwon lagi.

Kyuhyun mengangguk, "Ne.aku baik-baik saja hyung," ucap nya.

Kyuhyun dan Siwon terdiam memperhatikan rumah kecil di hadapan mereka itu sesaat.

"Kita kembali ke istana sekarang, Kyu," ajak Siwon akhirnya.

Siwon menatap Kyuhyun yang masih setia memandang rumah itu dengan seksama. Ada perasaan sedih melihat tatapan sendu di wajah putra mahkota itu.

Setelah terdiam beberapa saat dan yakin bahwa orang di dalam rumah itu tidak akan keluar lagi, Kyuhyun mengangguk menanggapi ucapan Siwon sebelum nya. Ia mulai membalikan badan nya dan berjalan meninggalkan rumah itu bersama dengan Siwon.

Kyuhyun menoleh ke belakang sejenak, menatap rumah itu kembali dan membayangkan sosok yang berbicara dengan nya tadi. Ia tersenyum tipis.

'Leeteuk hyung, aku tidak akan menyerah. Aku akan berusaha dekat dengan mu dan membuat mu mau membagi cerita juga kesedihan pada ku'

.

.

Desiran angin memecah keheningan malam yang semakin larut. Gemirisik daun yang saling bergesekan beriringan dengan suara serangga malam seakan menjadi simfoni indah pengantar tidur. Selain suasana malam semakin sepi dan tenang.

Namun ketenangan tak bisa di rasakan oleh Pangeran Kim yang saat ini masih berada di kediaman putra mahkota. Berbagai macam kegiatan sudah di lakukan dirinya untuk mengesampingkan rasa cemas yang menyelusup ke dalam hatinya. Berbaring, terbangun hingga mondar mandir dalam kamar gelap yang hanya di sinari berkas cahaya rembulan yang menyelusup lewat jendela. Cap tenang yang biasa di sandang nya tak dapat terlihat lagi. Ia sangat khawatir sekarang.

Putra mahkota sudah pergi lebih dari 2 jam dan Kibum tahu sekarang semua gerbang istana sudah di tutup. Tak ada yang boleh keluar masuk lagi saat waktu hampir menuju tengah malam.

"Aku menyesal melakukan ini," sungut nya lalu menghela napas berat.

Kibum duduk bersila di atas futon putra mahkota. Pandangan nya fokus ke arah jendela, sarana yang di gunakan Kyuhyun untuk keluar. Berusaha untuk kembali tenang dan mengatur napasnya. Sungguh ia tak habis pikir jika Kyuhyun tak segera kembali. Bagaimana jika seseorang mengetahui putra mahkota kabur dengan bantuan pangeran Kim? Oh Tuhan… Itu bahaya!

Tok!

Lamunan Kibum buyar saat sebuah suara ketukan yang berasal dari arah jendela terdengar. Tanpa pikir panjang, Kibum segera bangkit berdiri dan menghampiri jendela. Perlahan ia membuka jendela tanpa menimbulkan suara gaduh.

"Kenapa baru datang?!" sadar tidak sadar Kibum langsung memekik cukup keras saat membuka jendela dan mendapati Kyuhyun dan Siwon sudah berdiri di sana.

"Ssshh, jangan keras-keras hyung!" Kyuhyun berdecih saat Kibum langsung menyemprotnya dengan pertanyaan itu.

Kyuhyun bergidik ngeri saat mendapat tatapan tajam dan dingin dari Kibum. Ia sedikit menyengir untuk menutupi rasa gugupnya menghadapi kakak sepupu nya yang Kyuhyun yakin sudah kesal itu.

"Bolehkah aku masuk dulu?" tanya Kyuhyun membuat Kibum membuka jendela nya lebih lebar untuk memberi akses.

Siwon segera membantu Kyuhyun untuk naik ke atas balok yang masih berada di sana hingga Kyuhyun mampu memanjat dan melewati jendela. Kibum pun membantu Kyuhyun untuk masuk.

"Semua gerbang pasti sudah di tutup, bagaimana kalian masuk?" tanya Kibum heran juga penasaran, toh ia juga bingung bagaimana harus keluar istana nanti.

Kyuhyun menyengir lebar sambil melirik ke arah Siwon yang setia berdiri di luar. Siwon hanya terkikik geli membuat Kibum memperhatikan kedua nya dengan raut bingung.

"Won hyung mengajari ku cara menyusup," Kyuhyun terkekeh mengingat apa yang di lalui nya tadi.

Siwon dan Kyuhyun tahu gerbang istana sudah di tutup hingga Siwon membawa Kyuhyun untuk menuju ke bagian belakang dapur istana. Di sana tembok yang membatasi tidak terlalu tinggi dan pasti nya sepi penjagaan. Siwon pun mengajari Kyuhyun cara memanjat dan melewati tembok dengan sangat mudah. Dan bagi Kyuhyun itu sangat menyenangkan. Ini pertama kali nya ia melompati pagar dengan mudah seperti itu tanpa bantuan pohon pula. Biasanya ia akan memanjat pepohonan terlebih dahulu sebelum melompati tembok.

"Hebat! Kau tahu hyung, itu sangat keren! Aku memanjat tembok dan melompati nya dengan sangat mudah," Kyuhyun menceritakan pengalaman nya dengan antusias dan senyuman lebar.

"Ya tapi kau membuatku hampir mati! Dan aku harap kau tidak melakukan apa yang di ajarkan Won hyung untuk sesuatu yang salah nantinya," ucap Kibum serius membuat Kyuhyun meringis.

"Mianhae," lirih Kyuhyun.

"Apa kau akan menginap di sini Kibumie? Jika iya aku akan pulang sekarang, jika tidak sebaiknya kita keluar sekarang sebelum pemeriksaan malam oleh penjaga," Siwon angkat bicara untuk mengingatkan.

"Hyung, lebih baik kalian menginap saja dan pagi-pagi sekali kalian bisa keluar," bujuk Kyuhyun namun Kibum langsung menggelengkan kepala nya.

"Kita akan pulang sekarang, hyung," ucap Kibum pada Siwon membuat Kyuhyun mendesah kecewa.

"Bisa gawat jika ada yang tahu kami di sini. Jika kami pulang pagi dan penjaga menyadari bahwa saat malam kami sudah keluar namun kami keluar lagi saat pagi, itu akan membuat kecurigaan. Kau tidak mau ketahuan kabur bukan?" jelas Kibum pada Kyuhyun yang hanya mengangguk pasrah.

Kyuhyun segera melepaskan darumugi milik Kibum dan mengembalikan nya pada empu nya. Dan tanpa membuang waktu, Kibum segera keluar lewat jendela yang sama. Sepertinya Kibum harus mempersiapkan diri untuk keluar istana dengan cara sama seperti Kyuhyun masuk ke istana—menyelusup.

"Gomawo untuk semua nya hyung. Aku berhutang pada kalian," ucap Kyuhyun tulus.

Siwon menunjukan dimple smile nya, "Tidak perlu sungkan Kyu," balasnya.

Siwon dan Kibum membungkukan badan nya sekilas untuk memberi salam pada Kyuhyun. Setelahnya mereka berlari menyusuri halaman pavilium untuk segera menuju arah dapur istana. Kyuhyun memperhatikan dua sosok itu hingga bayangan mereka hilang dalam kegelapan.

Kyuhyun beralih menatap sang rembulan yang menuju bentuk purnama sempurna dan bersinar terang.

"Masih banyak misteri dalam lingkaran rembulan. Bayangan-bayangan yang masih tidak terlihat jelas pasti akan tampak jelas seiring berjalan nya waktu," gumam nya sembari tersenyum manis.

"Terimakasih untuk semua yang ku lalui hari ini. Semoga hari esok akan lebih baik dari hari ini," ucapnya lagi kepada desiran angin yang berhembus semakin dingin.

Tangan Kyuhyun mulai terjulur menggapai pegangan jendela dan mulai menutup dua daun jendela tersebut. Menutupnya sangat rapat agar udara dingin tak dapat menyelusup. Mengembalikan kesunyian malam yang terlihat di halaman pavilium nya.

.

.

.

†_TPF_†

Srak!

Entah sudah berapa banyak lembar kertas yang sudah di remas oleh Leeteuk. Sudah hampir 1 jam dirinya duduk di sebuah toko penyewaan buku untuk menulis dan menghasilkan karya-karya baru yang bisa di jualnya.

Leeteuk menggeram kesal lalu meletakan kuas nya di meja dengan kasar. Menopang kepalanya dengan kedua tangan yang bertumpu di atas meja.

Ratusan kali ia berusaha berkonsentrasi dan menciptakan karya tulis baru tapi semua hal yang hendak di tuliskan nya mendadak lenyap tak mampu tertuangkan dalam sebuah kertas. Pikiran nya terasa kusut dan semua idenya berpencar, tak mampu di susun nya dalam sebaris kalimat yang indah.

Helaan napas panjang menggema di ruangan tersebut. Terlihat 2 orang lain yang juga sedang duduk di meja sebelah Leeteuk. Toko penyewaan buku yang berada di tengah kota ini memang cukup ramai di kunjungi oleh para pelajar dan sarjana.

'Leeteuk hyung…'

Sosok dan suara khas dari bocah yang kemarin tiba-tiba muncul dan menemui nya di rumah itu kembali muncul dalam pikiran nya. Dan itulah yang menjadi salah satu kendala kacau nya pikiran Leeteuk saat ini. Leeteuk sendiri tidak tahu kenapa ia terus memikirkan bocah itu. Ia selalu berpikir apakah perbuatan nya semalam keterlaluan? Atau apakah ia takut pada peraturan yang akan menghukumnya bahkan mungkin mengeksekusi nya jika istana tahu sikap dan perkataan kasarnya pada sang putra mahkota yang di elu-elukan itu?

Kembali Leeteuk menghela napasnya kembali, memandang sendu kertas putih yang terkulai lemas di atas meja.

"Aku harus menyelesaikan nya segera," gumam Leeteuk mengingat beberapa orang yang memesan karya nya.

Leeteuk menggelengkan kepala nya untuk membuang semua pikiran yang mengganggu. Satu yang harus ia lakukan. Hasilkan karya dan dapatkan uang dengan menjual nya. Uang yang akan di gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bersama eomma.

Leeteuk mulai mengambil kuasnya kembali. Berusaha mengumpulkan konsentrasi dan mulai menorehkan tinta hitam di atas selembar kertas putih itu. Tulisan hanja nan indah itu terukir dengan baris teratur dan rapi.

Tuk… Tuk…

Namun baru beberapa saat Leeteuk bisa mendapatkan konsentrasi nya kembali, sebuah kipas berwarna biru bercorak putih mengetuk-ngetuk permukaan meja tepat di samping Leeteuk. Dengan ekor mata nya ia melirik kipas tersebut lalu beralih menuju sang pemilik kipas yang berdiri di samping nya.

Sebuah senyuman tipis nan sinis itu tersungging di wajah tampan nya. Seorang Yongha yang pernah di temui olehnya, Leeteuk masih mengingat jelas kejadian beberapa minggu lalu.

"Hei kau…" panggil yongha itu namun terlihat Leeteuk malas untuk menanggapi. Ia tetap fokus pada kuas dan kertasnya.

"Hei aku sedang bicara dengan mu!" pekik yongha itu kesal.

"Apa keperluan mu dengan ku?" tanya Leeteuk santai tanpa menoleh sedikit pun.

"Kau memang orang yang tidak punya sopan santun. Biar ku beritahu… pandanglah orang yang tengah berbicara dengan mu!"

Heechul—sang yongha itu berdecih pelan setelah mendapat respon yang begitu tak bersahabat. Beberapa saat lalu Heechul memang masuk ke toko ini dan memilih beberapa buku dari rak dan saat ia ingin duduk di meja, ia melihat sosok orang yang menurutnya super menyebalkan. Sebenarnya Heechul ingin bersikap tidak peduli namun entah mengapa kaki nya justru melangkah mendekati namja ini.

Heechul beralih menuju kursi di sebrang Leeteuk dan mendudukan dirinya di hadapan namja yang masih sibuk dengan karya nya. Dengan pandangan penuh selidik ia memperhatikan Leeteuk dan kertas di hadapan nya.

"Orang yang diam-diam melihat karya yang baru saja di buat tanpa meminta izin bisa di tuduh sebagai pencontek," gumam Leeteuk saat menyadari Heechul tengah memperhatikan tulisan nya.

"Cih! Siapa yang ingin mengambil tulisan bodoh mu itu. Mulutmu itu benar-benar tidak berpendidikan seperti nya," dengus Heechul sambil membuka kipas nya dan mengipasi dirinya seakan udara di sekitar nya begitu panas.

Leeteuk hanya tersenyum tipis tanpa niat menanggapi lebih. Entah kenapa Heechul melirik ke arah Leetuk kembali.

"Siapa nama mu sebenarnya?" tanya Heechul saat mengingat bahwa putra mahkota pernah meminta dirinya melihat daftar penduduk untuk mencari nama orang di hadapan nya ini namun hasilnya nihil.

"Ada keperluan mu apa kau bertanya nama ku?" Leeteuk balik bertanya membuat Heechul memutar bola mata nya malas. Ingin rasanya melempar kipas di tangan nya ke kepala namja tersebut.

"Kau itu… kaum Chungin, Sangmin atau Cheonmin?" Heechul masih kekeuh bertanya untuk mengorek informasi yang bisa ia dapatkan.

"Melihat kau bisa membaca dan menulis lalu membuat sastra seperti itu… sepertinya kau bukan orang cheonmin," tambah Heechul lagi tanpa sadar mengeluarkan sikap angkuhnya.

Leeteuk tersenyum sinis mendengarnya. Ia menghentikan aktivitasnya dan menatap Heechul dengan sorot mata tajamnya.

"Baik aku seorang bangsawan, menengah, bawah ataupun jelata sekalipun, apa urusan mu heum?" tanya Leeteuk dengan nada dingin. Ia tidak suka jika seseorang sudah membicarakan masalah derajat seperti ini.

Heechul berdecih namun ia tak mau kalah, ia balik menatap tajam orang di hadapan nya itu. Dengan sebuah seringaian tanpa rasa takut sedikit pun.

"Aku hanya bertanya. Apa tidak boleh? Pakaian mu terlihat biasa saja tapi kemampuan mu harus ku akui cukup jadi itu membuat penasaran," desis Heechul.

Leeteuk melebarkan senyuman nya, "Sungguh kehormatan bisa membuat seorang keturunan yangban seperti mu merasa penasaran pada diriku," balasnya membuat Heechul menggeram.

"Dan sebagai informasi untuk mu. Tidak semua orang sangmin dan cheonmin itu bodoh. Mereka masih memiliki kemampuan hebat bahkan melebihi bangsawan sekalipun. Menulis dan membaca, tidak harus di pelajari dengan bersekolah," ucap Leeteuk lagi masih saling menatap tajam manik hitam kelam di hadapan nya.

"Dunia dan pengalaman bisa menjadi guru besar di bandingkan sekolah dengan setumpuk buku."

Leeteuk membereskan barang-barang nya lalu beranjak berdiri setelah mengucapkan sederet kalimat yang membuat Heechul terdiam. Leeteuk berlalu pergi namun beberapa ia menghentikan langkah nya lalu menoleh dan menatap Heechul kembali.

"Ah! Kau sedang mempersiapkan ujian negara untuk masuk sungkyunkwan? Jika kau ingin soal-soal prediksi untuk di pelajari kau bisa menemui ku lagi dengan membawa uang 100 nyang. Sampai jumpa."

Leeteuk tersenyum melihat ekspresi kaget Heechul. Tanpa menunggu namja cantik itu berucap, ia sudah melangkah pergi keluar dari toko penyewaan buku tersebut.

Heechul masih memperhatikan bayangan Leeteuk yang mulai menghilang. Sungguh ia heran dengan orang itu. Siapa dia sebenarnya?

"100 nyang? Dia gila dan licik," gumam Heechul sembari mulai mengipasi dirinya lagi.

Heechul menghela napas lalu mulai membuka buku yang sedaritadi masih dalam keadaan tertutup. Dengan pandangan kosong ia memperhatikan deretan huruf dalam halaman tersebut.

"Kyu benar. orang itu menarik," gumam nya pelan sembari mengulas sebuah seringaian.

.

.

Draak!

Praang~

Pandangan orang-orang langsung tertuju pada sebuah tempat makan di sudut pasar. Lima orang berpakaian hitam dengan sebilah pedang tengah mengacaukan tempat tersebut. Menendang meja dan kursi, membanting semua benda dan alat makan juga menghancurkan banyak benda dengan pedang mereka. Tangis dan teriak histeris pun terdengar dari seorang yeoja paruh baya, pemilik kedai makan itu.

"Hentikan!" teriak namja mungil bernama Ryeowook itu dengan keras saat melihat semua barang-barang di tempat makan milik ibu nya di hancurkan.

Matanya berair walaupun ia memandang semua orang-orang itu dengan tatapan marah sekaligus menantang. Namun sepertinya teriakan Ryeowook hanya menjadi angin lalu bagi perusuh itu.

"Akh!"

Bruk!

"Eomma~"

Ryeowook langsung menghampiri eomma nya yang baru saja di dorong kasar hingga terjatuh oleh seorang perusuh. Sang eomma pun hanya bisa menangis histeris sedangkan Ryeowook sendiri bingung harus bagaimana. Ia tidak bisa melawan dan ia merutuk orang-orang sekitar yang hanya terdiam dan menjadikan keributan itu sebagai tontonan.

"Cepat bayar hutangmu pada tuan Jo!" pekik seorang perusuh yang berdiri di hadapan Ryeowook dan ibunya.

"Jebal beri kami waktu hiks, kami pasti membayarnya. Pasti," Eomma Ryeowook memohon dengan derai air mata membuat hati Ryeowook berdenyut sakit.

"Bedebah! Jangan hanya banyak bicara!"

"Jangan melukai eomma ku!"

Ryeowook menahan kaki namja yang hendak menendang eomma nya itu. Dengan kesal ia tepis kaki tersebut.

"Kalau kalian bayar, kami tidak akan membuang tenaga untuk melakukan ini!"

Ryeowook menatap nyalang namja di hadapan nya itu, "Kalian lintah darat" desis Ryeowook.

"Kami hanya meminjam sedikit dan kalian meminta bunga yang sebanyak itu!" geram Ryeowook lagi.

Para perusuh itu sontak tertawa mendengar nya. Tertawa meremehkan bocah lemah yang terlihat berani menantang itu. Namja yang ada di hadapan Ryeowook semakin mendekati nya, menghentikan tawa nya dan menatap Ryeowook sinis.

"Itu bukan urusan kami!" teriaknya menggema sembari mengayunkan pedang yang ada di tangan nya membuat Ryeowook terbelalak sebelum memejamkan matanya sempurna seakan pasrah jika pedang itu akan menebasnya.

Masih bisa Ryeowook dengar teriakan histeris eomma nya, namun beberapa detik ia mengernyit karena tak mendapat sentuhan dari pedang itu. Perlahan ia membuka matanya dan betapa terkejutnya namja mungil itu saat mendapati dua mata pedang saling beradu tepat beberapa centi di depan matanya. Napasnya seakan tercekat melihatnya dan reflek ia bergerak mundur.

"Ming hyung…" gumam Ryeowook saat melihat Sungmin sudah berada di samping namja perusuh itu.

"Amatir," gumam Sungmin sembari memberikan tatapan tajam nya.

Trang!

Bruk!

Sungmin memutar pedang nya, menepis pedang lawan dan langsung menendang dada sang lawan hingga tersungkur di tanah. Ia melirik ke arah Ryeowook yang menatapnya intens, memberikan senyuman seakan berkata—tenang saja.

Perusuh lain nya terlihat membulatkan mata melihat rekan nya tersungkur. Mereka menatap Sungmin penuh amarah.

"Siapa kau?! Berani nya kau berlagak menjadi pahlawan eoh?!" teriak salah satu dari mereka.

Sungmin tertawa sinis sebelum menatap kelima perusuh itu bergantian, "Kalian yang berani nya menyentuh keluarga ku. Siapa yang mengirim kalian?" desis nya.

"Sialan! Serang dia!"

Bukan nya menjawab, perusuh yang sempat mendapat pukulan dari Sungmin langsung berdiri dan berlari ke arah Sungmin untuk melawan kembali. Perusuh yang lain nya pun langsung mengangkat pedang dan beranjak menyerang Sungmin yang mulai mengeluarkan seringaian nya.

Perkelahian itu pun tak terelakan. Dengan santai nya Sungmin bergerak menghindari serangan lawan. Ia mengambil sebuah potongan besi yang tergeletak di tanah untuk membantu perlawanan nya seorang diri dengan lima orang tersebut. Sungmin juga menendang beberapa barang sebagai pengecoh lawan.

Trang!

Sungmin menepis sebuah pedang yang menghunus dari bagian belakang. Dengan gerakan berputar Sungmin mampu melukai 3 orang perusuh sekaligus, menggores sebuah luka dengan pedang nya dan memukul 2 orang lain nya dengan besi.

"Ukh!"

Hingga akhirnya 5 namja perusuh itu tersungkur di tanah. Sungmin menghela napasnya saat mendapat tatapan geram dari lawan nya.

"Aku hanya bertanya siapa yang mengutus kalian? Jika kalian bawahan seorang yangban, benarkah kalian tidak mengenaliku?" Sungmin kembali bersuara. Menatap kelima namja itu sebelum menunjukan sebuah sarung pedang nya yang berwarna merah mencolok dengan corak hitam tersebut.

Sontak kelima perusuh itu membulatkan mata nya, "R-red sword?!" gumam seorang dari mereka. Dengan susah payah mereka menelan ludah nya dan berusaha berdiri. Tatapan geram itu langsung berganti dengan tatapan penuh ketakutan pada sosok Sungmin yang masih mengulas senyuman mengerikan.

Tanpa berkata apapun, kelima namja itu langsung berlari pergi tergesa-gesa, kabur dari sosok yang cukup di elukan para bawahan yangban dan menjadi sosok kebanggaan dan incaran dari semua yangban di kota tersebut.

"Hei tunggu! Tangkap ini!" Sungmin berteriak membuat salah seorang dari namja itu menoleh dan tersentak saat sebuah kantung uang menuju arahnya. Ia menatap Sungmin.

"Jangan pernah ganggu kedua orang ini lagi dan salam untuk yangban kalian," ucap Sungmin dengan senyuman manis. Orang itu hanya mengangguk dan kembali berlari menyusul teman-teman nya.

"Kalian baik-baik saja?" Sungmin menghampiri Ryeowook dan eomma nya.

Eomma Ryeowook langsung memeluk Sungmin sambil tetap menangis.

"Sungmin-gon, gomawoGomawo, kami pasti akan mengembalikan uang mu. Terimakasih," ucap eomma Ryeowook masih dengan isakan kecil. Sungmin hanya tersenyum dan mengelus punggung yeoja paruh baya itu pelan.

"Gwenchana ahjumma. Kalian sudah seperti keluarga ku sendiri," ucap Sungmin membuat eomma Ryeowook melepaskan pelukan dan menatap Sungmin dengan mata berkaca-kaca. Ia mengelus pipi Sungmin lembut lalu menganggukan kepala nya.

Setelah itu, eomma Ryeowook segera masuk kembali ke dalam tempat makan nya, membereskan kekacauan di dalam.

Sungmin beralih menatap Ryeowook yang sedaritadi terdiam, "Apa kau terluka, Wookie-ah?" tanya nya cemas.

Ryeowook terdiam sejenak lalu menggelengkan kepalanya, "Kau membuat ku takut hyung," jujur nya membuat Sungmin terkesiap sebelum tertawa pelan.

Jangan pikir Sungmin adalah pahlawan yang baik dan membantu orang lemah. Dia justru kebalikan nya. Sungmin bekerja untuk para yangban dengan mengandalkan kemampuan nya dalam bertarung. Melakukan misi-misi yang di berikan oleh bangsawan dengan bayaran tinggi. Apakah dia orang baik?

"Hyung…" panggil Ryeowook lagi membuat Sungmin yang tengah memunguti beberapa barang yang tergeletak di tanah, menoleh ke arahnya.

"Berhentilah. Bukankah kau bilang akan keluar dan menghentikan semua nya?" ucap Ryeowook dengan kecemasan besar pada namja yang sudah di angkatnya sebagai hyung itu.

Sungmin hanya tersenyum. Sosok nya di dalam pertarungan sangatlah berbeda dengan sosok nya saat ini. Dan itu yang selalu membuat Ryeowook bergidik ngeri jika melihat Sungmin sudah membuka sarung pedang nya.

Sungmin menghampiri Ryeowook dan mengacak rambut dongsaeng nya itu pelan, "Belum saatnya," lirih nya pada Ryeowook yang mendesah kecewa.

Sungmin tak ambil pusing, ia beranjak masuk ke dalam tempat makan ibu nya Ryeowook sembari membawa beberapa benda di tangan nya, mulai membantu untuk membereskan tempat tersebut.

Ryeowook menghela napas sembari menatap sendu punggung Sungmin. Ia hanya tidak mau Sungmin melakukan pekerjaan seperti itu lagi. Pekerjaan yang membuat nya mungkin di takuti tapi sekaligus membuat Sungmin mendapat kebencian dan musuh dari orang-orang.

Ryeowook menengadahkan kepala nya menatap langit biru yang di hiasi gumpalan awan selembut kapas.

.

.

. †_TPF_†

Seperti biasa suasana dalam istana pagi menjelang siang ini tetaplah tenang. Hampir tak pernah terdengar suara ribut kecuali ada sebuah kekacauan yang terjadi. Dan saat ini fokus pemerintahan tengah tertuju pada aula Geunjeongjeon. Aula besar tempat pertemuan antara raja dengan para mentri dan pejabatnya. Para mentri dan pejabat sudah duduk di tempatnya masing-masing. Seakan membentuk kubu kiri dan kanan, saling berhadapan. Dan di depan aula tersebut ada 2 buah singgasana yang sudah di duduki oleh raja dan putra mahkota.

Disini Raja akan mendengarkan semua laporan dari seluruh mentri nya dan putra mahkota akan mengikuti jalan nya pertemuan dan mempelajari nya. Suasana terlihat serius saat setiap masalah di jabarkan untuk mencari solusi bersama.

"Hari ini aku akan melakukan pertemuan dengan perwakilan dari dinasti Ming," ucap sang raja, "Tidak mungkin di saat bersamaan aku harus meninjau lokasi pengairan di perkebunan juga."

"Hamba mengerti Jeonha tapi berhubung air han-gang tengah meninggi dan sangat memungkinkan untuk melakukan pengairan pertama. Jika Jeonha tidak mengawasi nya, pengairan tidak bisa di laksanakan," ucap Mentri Jung sebagai mentri perkebunan tersebut.

"Hamba tidak yakin akan kapan pengairan bisa di lakukan lagi jika pengairan pertama ini di lewatkan begitu saja," timpal seorang mentri lain nya.

Raja Taejong menghela napas lalu melirik ke arah penasehat nya yang terlihat tengah berpikir juga. Ia pun tengah memikirkan bagaimana solusi yang baik untuk pemecahan masalah ini.

"Maaf ahba-mama."

Sang raja menoleh ke samping saat putra mahkota yang sedaritadi terdiam mulai angkat bicara.

"Ada apa putra mahkota?" tanya nya.

"Bolehkan saya memberi saran?" Kyuhyun sedikit menundukan kepala nya. Raja Taejong menautkan kedua alisnya sebelum menganggukan kepala, "Katakanlah," titah nya.

"Jika ahba-mama tidak bisa melakukan peninjauan ke perkebunan, putra mahkota bersedia untuk mewakili nya," ucap Kyuhyun membuat raja dan para mentri cukup terkejut. Bisikan-bisikan dari para mentri mulai terdengar.

"Kau ingin mewakili ku melakukan peninjauan?" tanya raja Taejong lagi sedikit ragu.

"Ne. Jika ahba-mama mengizinkan nya," jawab Kyuhyun lalu sedikit mengambil napas untuk menjelaskan apa yang terpikirkan oleh nya.

"Mentri Jung bisa menemani dan menjelaskan beberapa hal yang tidak ku mengerti nanti nya. Bukankah pengairan pertama ini sangat penting? Jika pengairan tidak segera di laksanakan maka musim panen pasti akan mundur. Sedangkan dari data yang tercatat, cadangan buah yang ada hanya akan mencukupi hingga musim panen berikutnya."

Kyuhyun melihat raja Taejong dan para mentri yang terlihat serius mendengarkan dan memikirkan ucapan nya. Mereka manggut-manggut membuat Kyuhyun tersenyum lega karena merasa pemikiran nya di terima. Ia pun memberi jeda sesaat untuk melanjutkan.

"Sebagai putra mahkota, bukankah aku memiliki tanggung jawab sebagai perwakilan raja?" tanya Kyuhyun yang lebih mirip sebuah pernyataan yang mengingatkan.

Kyuhyun murni ingin membantu sang raja. Ia tahu bahwa pertemuan penting tak mungkin di batalkan dan pengairan itu pun sangat penting untuk kebutuhan istana dan rakyat. Kyuhyun merasa ini saat nya dia bertindak, menunjukan dirinya sebagai putra mahkota yang baik dan penuh tanggung jawab. Ia harus memulai untuk terjun mengikuti langkah sang ayah.

Kyuhyun sedikit meringis saat raja Taejong tak kunjung memberi respon tetapi justru memandangi nya dengan intens. Sang ayah menatap ke dalam manik putra nya. Kyuhyun tahu raja Taejong tengah mencari keyakinan dan keseriusan dalam dirinya hingga Kyuhyun pun berani membalas tatapan tersebut.

Raja Taejong mulai mengulas senyuman membuat Kyuhyun pun ikut tersenyum lega. Sang raja beralih menatap para mentri nya lagi.

"Menurut kalian bagaimana dengan usul yang di ajukan oleh putra mahkota?" tanya raja Taejong.

Para mentri masih saling berbisik dan berbicara lewat tatapan satu dengan yang lain nya. Sebelum akhirnya mereka mulai menganggukkan kepala. Mereka kembali menatap sang raja yang duduk di singgasana nya.

"Kami setuju Jeonha," seru mereka bersamaan.

Senyuman lebar pun langsung terpantri di wajah Kyuhyun. Setidaknya Kyuhyun mendapat kepercayaan dari para mentri.

"Mentri Jung… Apa kau tidak keberatan untuk menemani dan membimbing putra mahkota?" tanya sang raja lagi sembari menatap seorang mentri nya.

"Itu sudah tugas hamba, Yang Mulia. Hamba sama sekali tidak keberatan," jawab mentri Jung sembari membungkukan badan nya.

"Baiklah. Jika begitu… Aku mengutus Putra mahkota untuk melakukan peninjauan langsung ke perkebunan, mengawasi sistem pengairan yang segera di laksanakan hari ini," titah raja Taejong yang langsung di catat oleh juru tulis kerajaan.

"Putra mahkota siap melakukan tugas ahba-mama," ucap Kyuhyun sembari membungkukan badan nya sedikit kepada sang raja.

"Laporkan semua yang kau lihat padaku setelah nya."

"Ne ahba-mama."

Raja Taejong pun tersenyum lega. Dugaan nya memang benar, Kyuhyun mulai memasuki masa dewasanya. Ia mulai berani mengambil tanggung jawab dan resiko. Bukan seorang anak kecil yang membutuhkan banyak pelajaran lagi. Putra mahkota siap melakukan tugas-tugas langsung dan raja bisa mempercayai nya sekarang.

.

.

Perkebunan yang berada di luar istana tepatnya di dekat kawasan han-gang. Sebuah perkebunan berbagai macam buah, sayuran dan umbi. Menjadi salah satu pusat perkebunan milik istana dan hasil panen nya akan di ambil untuk kebutuhan dapur istana lalu sisanya akan di salurkan ke pasar untuk rakyat.

Seperti di titahkan oleh Raja, saat ini Putra mahkota, Mentri Jung dan rombongan pengawal tengah menunggangi kuda nya menyusuri jalan dengan pemandangan padang rumput di sisi kanan dan kiri nya. Angin berhembus sedang membuat suasana menjadi cukup segar. Aroma khas rerumputan menjadi sensasi tersendiri saat melewati padang rumput ini.

Kyuhyun menghirup udara bersih itu untuk memenuhi seluruh rongga paru-paru nya. Ia menyukai jalur perjalanan ini. Tangan kanan Kyuhyun tetap siaga memegangi tali kendali kuda dan tangan kirinya mengelus leher kuda hitam gagah kesayangan nya membuat sang kuda merasa nyaman. Kuda-kuda itu berjalan santai seakan membiarkan penunggang nya menikmati suasana asri di sekitar. Terkadang sang kuda justru ingin berbelok menuju area padang rumput yang menjadi surga bagi nya jika sang penunggang tidak mengendalikan dirinya untuk tetap berjalan lurus di jalanan.

"Apakah perkebunan nya masih jauh?" tanya Kyuhyun.

Mentri Jung yang berada di samping nya walau agak ke belakang tidak berdampingan dengan Kyuhyun, mengarahkan tangan nya menunjuk sesuatu di depan sana.

"Anda lihat tembok besar di sana? Itu perkebunan nya, putra mahkota. Perkebunan itu langsung berbatasan dengan han-gang yang ada di bagian belakang nya," jelas mentri Jung.

Kyuhyun mengangguk paham. Pantas ia mencium aroma air saat angin berhembus.

Setelah beberapa saat perjalanan, akhirnya mereka tiba di perkebunan tersebut. Para pekerja terlihat sudah menunggu dan berdiri di depan gerbang untuk menyambut kedatangan putra mahkota.

"Selamat datang Yang Mulia Putra Mahkota. Sungguh suatu kehormatan anda bisa datang ke perkebunan ini," ucap seorang kepala pekerja memberi salam pada pekerja itu pun membungkukan badan nya memberi hormat.

Kyuhyun hanya menunjukan senyum menawan nya untuk mereka semua nya.

Tanpa membuang waktu, mereka segera masuk ke dalam perkebunan. Sangat luas, itu yang terpikirkan oleh nya. Warna hijau dedaunan mendominasi perkebunan tersebut.

Mereka semua pun melihat-lihat sejenak, berkeliling mendengar penjelasan dari mentri Jung. Kyuhyun memimpin rombongan itu. Ingin rasanya Kyuhyun mengambil buah-buah strawberry yang merah menggiurkan itu. Walau belum saat nya panen, beberapa buah sudah terlihat di perkebunan ini.

"Bagian ini fokus menangani tanaman strawberry dan jeruk. Lalu yang di sana ada buah kesemek dan pir yang menjadi salah satu buah wajib dalam istana."

Kyuhyun hanya manggut-manggut mendengar penjelasan itu. Kaki nya tetap berkeliling memperhatikan setiap tumbuhan yang ada.

"Apa itu?" tanya Kyuhyun sembari menunjuk sebuah tanaman merambat dengan buah yang jarang Kyuhyun liat.

"Itu umbi bidara, putra mahkota. Umbi itu sangat berkhasiat untuk mengobati keracunan akibat beberapa makanan. Para tabib sering menggunakan nya sebagai obat," terang mentri Jung lagi.

Setelah selesai melihat-lihat, mereka mulai beralih menuju kawasan yang masih dalam awal penanaman. Masih terlihat tanah-tanah yang sudah di tanami bibit dan di beri pupuk. Sebuah alat pengairan buatan yang terbuat dari kayu, mengambil debit air dari han-gang untuk di tempatkan pada penampungan. Dalam penampungan akan di beri karbon dari hasil pembakaran kayu guna mengikat kotoran-kotoran dalam air. Baru setelahnya air itu akan di gunakan untuk pengairan.

Kyuhyun memperhatikan dengan seksama cara kerja dari alat tersebut. Ini adalah tanggung jawab terbesarnya. Ia harus mengerti dan merekam semua penjelasan yang ada agar bisa menceritakan ulang pada raja nanti nya.

Mentri Jung terlihat berbicang dengan kepala pekerja di sini. Kyuhyun hanya diam mendengarkan namun pandangan mata nya mulai tertuju ke arah tanaman strawberry. Kyuhyun mengernyit saat melihat dedaunan itu bergerak-gerak.

Karena merasa penasaran tanpa sadar Kyuhyun beralih mendekati tanaman yang menjadi objek penglihatan nya, Kasim Choi yang setia menemani nya sudah berucap mengingatkan agar Kyuhyun tidak kemana-mana namun rasa penasaran Kyuhyun yang besar membuat namja itu tetap melangkah.

.

.

"Hyukie~ ayo kita keluar!"

"Ish sebentar lagi Hae. Lihat banyak sekali strawberry nya, ini juga manis sekali! Aigoo~"

"Ayolah! Kau lupa apa yang di ucapkan Teuki hyung? Kita—"

"Dia tidak ada di sini."

"—tempat ini berbahaya!"

Donghae mendengus sebal saat sahabatnya terlihat acuh tak acuh pada peringatan nya. Eunhyuk justru asyik memetik beberapa strawberry, mata nya terlihat berbinar melihat buah-buah segar berwarna merah itu.

"Sudahlah, kka makan ini~" Eunhyuk memasukan sebuah strawberry pada Donghae.

Walaupun kesal harus Donghae akui, ini strawberry paling enak dan manis yang pernah ia makan. Donghae menguyah strawberry nya sembari memperhatikan Eunhyuk yang masih sibuk memetik buah dan memasukan nya dalam plastik yang mereka bawa. Donghae beralih memperhatikan tempat sekitar nya. Memory nya mengulang bagaimana ia dan sahabat nya itu bisa masuk ke dalam perkebunan bagai surga buah ini.

Saat dirinya dan Eunhyuk hendak menuju pasar, mereka melihat gerbang dari perkebunan yang selama ini selalu tertutup itu tengah terbuka lebar. Melihat itu, Eunhyuk langsung saja menarik tangan Donghae beralih menuju perkebunan tersebut. Walau ada dua penjaga di depan gerbang tapi penjaga terlihat tengah berbincang sendiri sehingga dua anak yang mengendap-endap masuk itu sama sekali tidak ketahuan. Dan berakhirlah Donghae di tempat ini bersama sahabatnya itu.

Donghae sendiri kagum dengan tempat ini namun ia tahu tempat ini bukan tempat sembarangan. Melihat dua penjaga istana membuat Donghae yakin tempat ini berbahaya. Karena itulah ia memaksa Eunhyuk untuk segera pergi namun sahabatnya tetap kekeuh berada di sini.

"Hyukie!" pekik Donghae lagi walau dengan nada pelan.

"Ish kau ini berisik sekali," dengus Eunhyuk mulai sebal melihat Donghae tidak bisa diam.

"Kau lihat penjaga di gerbang tadi? Ini tempat berbahaya, ayo kita keluar! Perasaan ku tidak enak." cerocos Donghae namun seperti nya Eunhyuk tidak peduli, namja ber gummy smile itu terus memetik dengan wajah ceria.

"Aah~ surga strawberry," gumam Eunhyuk tanpa menanggapi ucapan Donghae.

Donghae menggeram marah. Ia tidak suka di abaikan seperti itu.

"Lee HyukJae!" desis Donghae membuat Eunhyuk menghela napas dan menoleh kearah nya.

"Wae?! Kalau kau terus berisik, kita pasti ketahuan jadi lebih baik diam!" tukas Eunhyuk.

"Keluar sekarang!" ucap Donghae mulai memerintah.

"Kka keluar saja sendiri, sana."

Donghae tercengang mendengar balasan dari sahabatnya itu. Ini pertama kali nya Eunhyuk menolak ajakan nya. Apakah Eunhyuk lebih mementingkan strawberry nya di bandingkan dengan sahabat sendiri?

"Oke, aku keluar sendiri!" tukas Donghae dengan tatapan kesal pada Eunhyuk.

Eunhyuk hanya mengibaskan tangan nya seakan menyuruh Donghae segera pergi. Dengan kesal Donghae mulai merangkak agar tubuhnya tetap tersembunyi di antara dedaunan strawberry ini.

"Kalau tertangkap jangan meminta bantuan ku. Dan apa kau bisa mengecoh para penjaga itu, Hae?"

Eunhyuk tersenyum puas saat Donghae berhenti merangkak. Seketika Donghae berbalik dan mendekati Eunhyuk lagi. Dengan wajah merengut, Donghae duduk bersila di tanah tanpa mempedulikan Eunhyuk yang terkekeh di samping nya.

Selama ini memang Eunhyuk yang paling ahli dalam hal kabur ataupun menyelusup. Bocah itu yang selalu membuat rencana saat mereka ingin mencuri dan dengan lincah mampu mengecoh orang saat kabur. Donghae biasanya hanya mengikuti langkah Eunhyuk yang pasti membuat celah untuk dirinya berlari juga hingga tidak tertangkap.

"Kenapa masih di sini? Katanya mau pergi, kka pergilah," ejek Eunhyuk membuat Donghae berdecih.

"Terserah," balasnya kesal juga pasrah.

Eunhyuk pun kembali melanjutkan aktivitas nya memetik beberapa strawberry yang terlihat pandangan mata. Dengan wajah ceria sembari bersenandung kecil. Donghae hanya membuang muka ke arah lain tanpa protesan lagi.

"Apa yang kalian lakukan?"

Sebuah suara membuat kegiatan Eunhyuk berhenti seketika. Tubuh kedua nya langsung menegang mendengar suara yang menginterupsi. Dengan kaku kedua nya reflek menoleh ke arah suara dan menemukan seorang pemuda dengan pakaian indahnya tengah menatap mereka intens.

Donghae dan Eunhyuk pun reflek berdiri. Beberapa buah yang belum Eunhyuk masukan kedalam plastik pun berserakan di tanah. Kedua nya saling mendekat, dengan tatapan horror ke arah anak yang masih menatap mereka dengan kerutan bingung.

"Kalian siapa? Apa yang kalian lakukan?" tanya pemuda yang tak lain adalah Kyuhyun lagi pada dua orang asing yang berdiri kaku di depan sana.

Donghae dan Eunhyuk hanya bisa menelan ludahnya sulit saat beberapa orang termasuk pengawal datang dan berdiri di belakang anak yang tengah menanyai mereka.

"Hyuk…" bisik Donghae tanpa menoleh, "Sudah ku bilang perasaan ku tidak enak."

"Andai kau bilang perasaan mu baik-baik saja pasti tidak akan seperti ini," Eunhyuk balas berbisik.

"Aish kau menyalahkan perasaan ku?!"

Kyuhyun semakin mengernyit memperhatikan dua anak yang justru terlihat saling berbisik tanpa menjawab pertanyaannya. Ia menahan kasim Choi yang hendak mendekati dua anak tersebut bersama para pengawal.

Memory Kyuhyun seakan berputar. Dua anak di hadapan nya seperti tidak asing lagi. Wajah mereka terasa familiar tapi ia bingung dimana pernah bertemu atau melihat mereka.

"Sekarang kita harus bagaimana, hyukie?!" bisik Donghae panik. Eunhyuk sendiri tengah memaksa otaknya untuk berpikir.

"Hei aku sedang bertanya, siapa kalian?"

Donghae dan Eunhyuk reflek mundur beberapa langkah saat Kyuhyun bergerak maju mendekati. Kedua anak itu terus menatap fokus pada Kyuhyun yang juga tengah menatap mereka.

"Hae…" bisik Eunhyuk lalu menggantung ucapan nya sesaat.

"Yang harus kita lakukan sekarang adalah…" Donghae mendengarkan dengan seksama Eunhyuk yang mulai berucap. Kaki kedua nya masih terus melangkah mundur.

"KABUR!" teriak Eunhyuk yang langsung membalikan badan nya dan berlari kencang. Donghae yang sudah bisa menduga pemikiran dangkal sahabatnya itu pun juga langsung berlari mengikuti Eunhyuk.

"HEI TUNGGU!"

Kyuhyun tercengang saat melihat kedua nya berlari menjauh dan tanpa berpikir Kyuhyun ikut berlari mengikuti mereka.

Namun entah apa yang di pikirkan oleh Kasim Choi dan para pengawal yang justru terdiam di tempat. Mereka mengerjapkan mata memperhatikan putra mahkota mereka yang sudah berlarian mengejar dua anak asing.

"Aish, YA! Kenapa kalian hanya diam?! Cepat kejar!" Kasim Choi berteriak memerintah pada para pengawal setelah tersadar dari lamunan nya.

Kasim Choi dan para pengawal pun langsung berlari mengejar putra mahkota mereka dengan cepat, "Putra mahkota!"

.

Donghae dan Eunhyuk terus berlari mengelilingi kawasan perkebunan. Melewati jalan bagaikan labirin kecil dengan tanaman strawberry dan lain nya. Mereka yang sudah biasa berlari untuk kabur saat ketahuan dalam setiap aksi nya terlihat bergerak dengan lincah dan cepat sekali.

Hingga akhirnya mereka hampir sampai di gerbang keluar. Dua pengawal yang menjaga gerbang sedikit bingung saat melihat aksi kejar-kejaran itu namun melihat putra mahkota mereka berteriak memanggil dua anak di depan nya membuat mereka mulai bergerak.

Dua pengawal itu hendak menangkap Eunhyuk dan Donghae. Eunhyuk mengeluarkan beberapa buah strawberry dari plastik nya lalu dengan cepat melemparkan buah itu ke wajah pengawal yang hendak mencegatnya dan dengan lincah dia berhasil melewati pengawal itu.

"Ppalli Hae!" teriak nya tanpa menghentikan larinya.

Donghae pun menendang beberapa kerikil dan tanah kepada pengawal yang mencegatnya membuat namja kekar itu menutup wajahnya. Dengan cepat ia berlari melewati sang penjaga.

"Akh!" Namun keberuntungan belum di dapatkan Donghae karena seorang pengawal lain berhasil memegangi tangan nya.

Mendengar jeritan dari Donghae membuat Eunhyuk berhenti dan menoleh. Ia berdecih saat melihat Donghae berusaha melepaskan tangan nya dari penjaga itu. Dengan cepat Eunhyuk kembali menghampiri sahabatnya itu. Kembali ia mengambil beberapa buah strawberry nya. Ia melemparkan nya pada wajah dua penjaga itu. Eunhyuk mengambil sebuah balok kayu yang ada di dekat gerbang dan memukulkan nya pada penjaga yang hendak mencegatnya. Ia menendang perut pengawal yang memegangi tangan Donghae membuat namja itu mengaduh. Donghae sendiri langsung menggigit tangan pengawal tersebut hingga genggaman tangan nya terlepas.

Donghae dan Eunhyuk sempat melempar senyuman lalu kembali berlari kencang saat melihat sosok Kyuhyun yang mulai mendekat.

Tidak seperti Donghae dan Eunhyuk yang biasa berlari. Kyuhyun mulai terengah karena berlari kencang untuk mengejar. Mereka telah berada di bagian belakang dari luar perkebunan tersebut. Suara aliran air dari han-gang mulai terdengar jelas dan benar saja saat ini mereka sudah berada di tepian sungai.

Ingat…

Tiba-tiba Kyuhyun mengingat dimana dia pernah melihat dua anak yang tengah di kejarnya saat ini. Di pasar, ya dua anak ini yang mencuri ikan saat di pasar dulu. Siwon yang menghentikan Kyuhyun agar tidak mengejar mereka dan sekarang Kyuhyun justru ingin mengejar mereka. Ia penasaran kenapa dua anak ini terus mencuri.

Entah kekuatan darimana, Kyuhyun menambah kecepatan berlari nya.

Grep!

Eunhyuk tersentak saat sebuah tangan menarik lengan nya ke belakang. Ia menoleh dan mendapati anak yang memergoki mereka sudah memegangi lengan nya, menatap wajah Eunhyuk tajam walau dengan napas memburu.

"Ish, lepas!" desis Eunhyuk sambil menarik tangan nya untuk melepaskan diri namun Kyuhyun memegangi tangan nya begitu erat.

Eunhyuk hendak memukul Kyuhyun dengan plastik berisi buah-buah yang ia ambil tadi namun dengan sigap Kyuhyun menepis nya membuat plastik itu terjatuh ke tanah dan buah nya langsung berserakan. Eunhyuk menggeram kesal. Hasil kerja kerasnya sudah terbuang sekarang.

"LEPAS!" pekik nya kesal.

Donghae yang masih berlari sontak berhenti saat berada di sebuah jembatan untuk menyebrangi sungai. Ia baru sadar jika Eunhyuk tidak ada di sebelah maupun belakang nya.

"Hyukie!" teriak Donghae saat melihat Eunhyuk tertangkap.

"Lari Hae!" Donghae yang hendak menolong Eunhyuk terdiam di tempat saat Eunhyuk berteriak dan menatapnya tajam seakan memerintahkan dirinya untuk pergi.

Tidak… Tidak mungkin Donghae pergi dan membiarkan Eunhyuk tertangkap. Kaki Donghae kembali berjalan turun dari jembatan.

"Ku bilang lari! Lee Donghae, pergi! Lari bodoh!" Eunhyuk terus berteriak keras sembari berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Kyuhyun.

Kyuhyun pun hanya bisa fokus memegangi tangan namja di hadapan nya ini agar tidak bisa kabur lagi.

Donghae menggigit bibir bawahnya. Dia bingung. Menolong Eunhyuk atau pergi. Tapi tatapan tajam Eunhyuk membuat kaki nya membeku dan tidak bisa di gerakan untuk mendekat. Donghae beralih menatap gerombolan pengawal yang sudah hampir mendekati mereka. Jantung nya berpacu semakin cepat.

"Aish!' Dengan kesal Donghae pun berlari melewati jembatan itu untuk menyebrang dan kembali ke perkampungan nya. Hatinya berteriak memaki dirinya sendiri tapi ia berjanji akan meminta bantuan segera untuk membantu Eunhyuk.

Eunhyuk sedikit mendesah lega melihat Donghae sudah pergi. Akan lebih sulit jika Donghae juga mendekat dan berakhir dengan kedua nya yang tertangkap.

Ekor mata Eunhyuk mulai menangkap rombongan pengawal yang sudah semakin dekat. Ia semakin panik. Dalam pikiran nya hanya ada kata kabur dan kabur.

"Ku bilang lepaskan tangan ku!" desis Eunhyuk pada Kyuhyun yang kekeuh memegangi tangan nya.

"Aku hanya ingin bertanya sesuatu pada mu! Kenapa kau harus mencuri?! Kau anak yang pernah ku lihat mencuri di pasar dan sekarang kau mencuri di perkebunan! Kau anak jahat!" ucap Kyuhyun yang entah mengapa terdengar begitu polos atau bodoh? Entahlah, Kyuhyun sendiri tidak seluruhnya sadar dengan apa yang telah di ucapkan bibirnya.

Eunhyuk tertawa sinis. Tangan kirinya masih berusaha melepaskan kedua tangan Kyuhyun yang memegangi tangan kanan nya. Berbagai cara ia lakukan agar bisa melepaskan diri. Mulai dari mendorong Kyuhyun, mencakar tangan Kyuhyun namun anak di hadapan nya tak mau melepaskan.

"Putra mahkota!" suara Kasim Choi semakin terdengar.

Eunhyuk mulai mengedarkan pandangan nya ke sekitar dan akhirnya pandangan nya fokus pada aliran han-gang. Dengan susah payah Eunhyuk sedikit menyeret Kyuhyun untuk menuju tepi han-gang. Kyuhyun pun tak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa mengikuti.

"Apa kau bisa berenang?" tanya Eunhyuk membuat Kyuhyun menatapnya dengan ekspresi bingung.

"Mwo?"

Eunhyuk hanya tersenyum melihat respon anak di hadapan nya itu. Dengan cepat Eunhyuk balik menarik tangan Kyuhyun membuat sang putra mahkota membulatkan matanya seketika.

BYURR!

"Putra mahkota!"

.

.

-To be Continued-

.

Note :

Hanja = jenis tulisan awal sebelum hangul di ciptakan oleh Raja Sejong. Tulisan yang masih kental dengan aksara cina nya.

Yangban = kaum bangsawan.

Nyang = satuan mata uang jaman dulu.

.

Selamat datang (?) untuk semua reader baru dan terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca. Thanks for all readers yang setia menanti nya. Semoga masih setia bersabar dan menanti semua rahasia di ff ini haha

Maaf tidak bisa balas review dulu.

Kamsahamnida /bow/

Sign,

LyELF

Special Thanks to :

Teukiangle, AngeLeeteuk, ay, ChikaKyu, Fitri MY, leenahanwoo, febriyustisia, Blackyuline, haekyuLLua, Anonymouss, Shinjoo24, dewiangel, kyurielf, ratnasparkyu, tiaraputri16, SunakumaKYUMIN, gyu1315, Rinrin910909, Jmhyewon, bella0203, heeeHyun, riekyumidwife, ctrsan and all Guest.