Sebuah fiksi untuk meramaikan #NijiAkaWeek2K16

Day 4 – Distance/Misunderstanding.

Note: di prompt yang ini, fiknya saya bagi dua, namun ceritanya tetap nyambung. Distance bersetting saat mereka masih SMA (DI Rakuzan, ofc), dan Misunderstanding bersetting saat keduanya sudah jadi mahasiswa.

Enjoy the story!


DISTANCE


"Amerika?"

Masih dengan ujung sumpit di bibir, Seishina menatap Shuuzo, kekasihnya, dengan pandangan bertanya-tanya. Saat ini keduanya tengah menikmati makan siang mereka di kantin sekolah. "Nijimura-san mau pergi ke Amerika?" tanyanya sekali lagi. Kini sumpit yang dipegangnya telah berpindah ke atas nampan makanannya. Menatap mata sang kekasih dengan raut penasaran.

"Ya, begitulah." Shuuzo hanya bergumam saat merespon. "Kau tahu, Akashi—ayahku butuh pengobatan yang lebih baik. Jadi—kami sepakat untuk membawanya ke Amerika. Sekeluarga. Menetap disana."

Ah.

Seishina mengulum senyumnya. Jadi ini alasan mengapa Shuuzo tampak gelisah dan lesu sejak tadi? "Lalu?" tanyanya polos. Shuuzo bukan tipe yang akan menjabarkan sebuah hal yang mengganggunya, terlebih karena Shuuzo tahu bahwa Seishina pasti menangkap maksudnya hanya dengan menceritakan intinya saja.

Karena itulah, Seishina jadi ingin sedikit iseng pada kekasihnya ini.

Shuuzo mengerutkan kening. Tampak jengkel melihat respon kekasihnya. "Kau tahu maksudku, Akashi." Dengusnya pelan. Menyeruput es jeruknya dengan tak sabar.

Seishina—yang masih berlagak polos—mengangkat kedua bahunya. "Aku tak melihat adanya masalah disana? Nijimura-san masih kelas dua, tidak masalah bukan kalau pindah ke Amerika?"

Shuuzo menghela nafas panjang. "Ini tentang kita, Akashi. Jangan membuatku menjelaskannya."

"Memangnya kenapa? Kita hanya akan terpisah benua, Nijimura-san." Ujarnya kalem. Manik merahnya memandang Shuuzo tepat di mata, dan ia dapat melihat kegelisahan yang nyata di manik kelabu kekasihnya. Shuuzo terdiam sejenak tanpa memutuskan kontak mata. Tidak mengerti kenapa dirinya segelisah ini sementara Seishina tampak sangat santai. "Kau tahu—hubungan jarak jauh agak sedikit rawan."

"Rawan rindu, rawan selingkuh. Begitu?"

Lagi, Shuuzo terdiam sejenak. Itulah yang ia khawatirkan—meski bukan berarti Shuuzo menuduh Seishina akan bermain di belakangnya. "Aku tidak menuduhmu, oke? Aku hanya sedikit—khawatir, Akashi."

"Aku tahu. Aku pun khawatir." Seishina tersenyum simpul. Mengambil kembali sumpitnya dan melanjutkan makan siangnya. "Tapi aku percaya pada Nijimura-san. Aku percaya, jarak tak akan memberi pengaruh buruk pada hubungan kita."

Shuuzo tertegun mendengarnya. Seishina mampu mengenyahkan rasa khawatirnya dan mengatakan dengan jelas bahwa gadis itu percaya padanya. Ia lantas malu sendiri. Ia tentu percaya pada Seishina. Lantas, apa yang perlu dikhawatirkan?

"Kita—akan baik-baik saja, kan?"

"Tentu saja." Senyum Seishina melebar. "Nijimura-san seperti perempuan saja, suka mengkhawatirkan sesuatu yang tidak-tidak." Godanya seraya tertawa kecil. Wajah Shuuzo tampak kesal mendengarnya—namun Seishina bersumpah ia bisa menemukan rona merah tipis di wajah kesal kekasihnya.

"Kau berisik, Akashi!"


MISUNDERSTANDING

[note: tulisan yang dicetak miring, berarti itu pembicaraan via telepon ya.]


"Sei-chan sudah tiba di apartemen?"

"Belum, kaa-san." Seishina menoleh ke sekelilingnya. Sebelah tangannya memegangi ponsel yang menempel ke telinga, sebelah tangannya yang lain menyetop taksi pertama yang dilihatnya sementara kopernya dibiarkan berdiri di sebelahnya. "Aku baru keluar dari bandara."

"Nijimura-kun menjemputmu?"

"Tidak." Jawabnya kalem sambil mendudukkan diriya di bangku belakang taksi tersebut. "Aku ingin memberinya kejutan, kaa-san. Lagipula, aku yakin Nijimura-san sedang ada kelas."

"Ah, begitu." Ada jeda sejenak sebelum suara ibunya kembali terdengar. Seishina memanfaatkan kesempatan itu untuk memberikan secarik kertas bertuliskan alamat apartemennya pada supir taksi. "Jangan sampai tersesat, Sei-chan. Hubungi kakakmu kalau itu terjadi."

"Aku tidak akan tersesat, lagipula, nii-san ada rapat penting hari ini." Jawabnya sambil terkekeh pelan. "Kaa-san terlalu khawatir. Aku sudah besar."

"Tak ada ibu yang tak khawatir saat anak perempuannya berpergian seorang diri ke negeri orang, Nak, demi Tuhan." Seishina tak mampu menyembunyikan tawa kecilnya mendengar gerutuan khawatir khas ibunya. "Kedua anakku, rupanya lebih tertarik tinggal di negeri orang ketimbang di rumah sendiri. Ibu jadi kesepian.."

"Kaa-san jangan bicara begitu.." sebersit rasa bersalah merayap ke dalam relung hatinya. Keinginannya untuk melanjutkan studi di Amerika, lima puluh persennya adalah karena ia ingin bertemu dan melanjutkan studi di tempat yang sama dengan Nijimura Shuuzo, kekasihnya. Ah—Seishina mendadak merasa seperti anak durhaka saja. "Aku akan rajin pulang saat libur panjang nanti, kaa-san."

"Ibu hanya bercanda, Nak. Ibu tak akan menghalangi impianmu." Seishina nyaris tak mampu menahan haru saat mendengarnya. "Jangan nakal, ya? Dan sampaikan salam ibu untuk Nijimura-kun, Sei-chan."

"Tentu, kaa-san."

Sambungan telepon terputus, tepat sebelum taksinya berhenti dan sang supir memberitahunya bahwa mereka sudah sampai di alamat yang dimaksud. Seishina menyerahkan beberapa lembar uang dan menggumamkan terima kasih sebelum keluar dari taksi itu dan bergegas masuk ke dalam gedung apartemen yang akan ditinggalinya.

Lantai 9, kamar nomor 4.

Seishina berdiri di depan pintu apartemen itu dan menekan belnya. Itu adalah apartemen yang ditinggali Shuuzo. Ia sendiri tinggal di lantai yang sama, di apartemen nomor 9, sementara kakaknya tinggal di nomor 7. Seharusnya, sesuai dengan informasi yang diberikan Shuuzo tiga hari yang lalu, Shuuzo sudah seharusnya kembali dari kampus di jam-jam segini. Namun, pintu apartemen itu tak kunjung terbuka.

Mungkin masih di jalan, Seishina meyakinkan dirinya sendiri. Ia melangkahkan kaki ke arah balkon. Berdiri di sana sementara matanya memandang ke bawah, memperhatikan kendaraan yang berseliweran di jalanan. Tak lama kemudian, netra merahnya menangkap sosok Shuuzo keluar dari dalam bus dan berjalan bersama dua orang temannya ke dalam gedung. Seishina tersenyum tipis, kembali ke depan apartemen kekasihnya dan menyandarkan tubuhnya di dinding.

Ah, rasanya ia sudah rindu sekali. Dua tahun dihabiskannya tanpa bertemu Shuuzo, mau tak mau membuat rindunya berlipat ganda. Ia jadi tak sabar ingin segera bertemu Shuuzo.

Dentingan lift terdengar, berikut dengan suara-suara berisik menyusul kemudian. Seishina melihat seorang pemuda berambut hitam dengan poni menutupi sebelah mata berjalan keluar dari lift—Seishina mengenalinya, ia pernah melihat lelaki itu di foto yang dikirimkan padanya; itu teman sekamar Shuuzo. Seishina menegakkan badannya saat endengar suara Shuuzo semakin jelas diikuti dengan kemunculannya. Lelaki itu berjalan mundur—nampaknya tengah berbicara dengan seseorang. Ia sudah akan beranjak menghampirinya saat seseorang muncul, memeluk Shuuzo erat dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir kekasihnya.

Matanya melebar, dan tubuhnya membeku seketika karena terkejut. "N-nijimura-san?"

"Tatsuya, sudah mengerjakan tugas dari Profesor Arthur?"

Shuuzo melirik rekannya sementara ia memimpin jalan memasuki lift. Himuro Tatsuya, teman satu kelasnya, menghembuskan nafas berat. "Belum dapat referensinya, Shuu. Kau sendiri?"

"Belum juga." Shuuzo tampak mendengus, matanya melirik kesal pada temannya yang lain. "Alex, kau seharusnya membantu kami."

Yang dipanggil Alex, melantunkan sebuah tawa saat mendengar keluhan Shuuzo. Ia gadis manis berambut pirang yang dikuncir ekor kuda. Mata hijaunya tampak cantik meski terhalang kacamata berbingkai merah muda. "Tugas itu bukan yang tersulit, Shuu. Masa mau minta bantuanku?"

"Ayolah, sen-pai." Shuuzo merengut tepat saat pintu lift terbuka. Tatsuya melangkah keluar terlebih dahulu, sementara Shuuzo melangkah mundur—nampaknya masih bersikeras meminta Alex untuk membantunya mengerjakan tugas. "Kutraktir apapun yang kau mau sampai puas, kalau kau bantu kami. Iya kan, Tatsuya?"

"Eeeh benarkah?" Mata hijau itu berbinar kesenangan saat mendengar kata trakir-apa-saja. Gadis itu merangkul leher Shuuzo dengan semangat sebelum mendaratkan kecupan di bibir yang bersangkutan. "Kubantu, kalau begitu, Shuu!"

"Oi! Ck, sudah kubilang jangan cium-cium sembarangan!"

"Oi, Shuu."

"Apa?!" Shuuzo masih bersikeras melepaskan diri dari Alex saat Tatsuya menepuk bahunya dan memanggilnya. Tak ada jawaban apapun dari kawannya, membuatnya mengalihkan pandangannya dari Alex menuju Tatsuya, yang dengan segera mengedikkan dagunya ke sebuah arah. Diikutinya arah yang ditunjuk Tatsuya, dan betapa terkejutnya saat ia menemukan Seishina tengah berdiri di depan pintu apartemennya.

"N-nijimura-san?"

Shuuzo bisa menangkap ekspresi terkejut di wajah Seishina. Hmm—yang seharusnya terkejut Shuuzo, bukan? Karena Seishina tiba-tiba muncul di Amerika? Kenapa Seishina memandangnya seperti itu?

Tunggu—jangan-jangan Seishina melihat Alex menciumnya?

Sungguh, Seishina rasanya ingin kabur sekarang juga. Melihat Shuuzo dicium perempuan lain—rasanya sungguh tak menyenangkan. Namun, entah kenapa, kakinya tak mau bergerak. Bahkan saat Shuuzo—yang panik saat melihatnya—membawanya masuk ke apartemen.

Disinilah Seishina sekarang. Duduk di dalam apartemen Shuuzo dengan perasaan kacau balau. Shuuzo membawakannya segelas cokelat panas dan duduk di hadapannya, namun tak ada yang bicara. Seishina masih membisu sementara Shuuzo tampak kesulitan merangkai kata-kata.

"Akashi—apa yang kau lihat, itu semua hanya kesalahpahaman, oke?" Shuuzo akhirnya mulai menjelaskan. Nada suaranya masih terdengar panik, meski lelaki itu berusaha menjelaskan setenang mungkin. Seishina masih enggan menatapnya—sepertinya gadis itu masih syok dengan apa yang baru saja dilihatnya. "Dia Alex, kakak tingkat dan tetangga sebelah. Yeah—dia orang Amerika. Kau tahu—err, dia punya hobi aneh. Dia suka mencium semua orang, asal kau tahu. Bukan hanya aku."

Namun Seishina masih diam saja. Seolah penjelasan Shuuzo tak ada artinya.

"Akashi. Ayolah—kau harus percaya padaku."

Seishina mendongakkan kepala. Bertemu pandang dengan Shuuzo, lalu memutus kontak mata mereka lagi. "Aku.. selalu percaya pada Nijimura-san." Gumamnya, nyaris tak terdengar. Itu membuat Shuuzo semakin tak tenang. Pasalnya, Seishina masih menolak menatapnya. Putus asa, ia beralih duduk ke lantai. Berusaha menemukan sepasang manik merah milik Seishina yang tersembunyi di balik helaian rambut berwarna serupa. "Maafkan aku, karena memberimu sambutan semacam ini."

Seishina masih tak bergeming. Matanya terus saja menghindari tatapan dari Shuuzo.

"Kau tahu—aku senang melihatmu disini." Shuuzo masih tak menyerah. Masih menatap mata Seishina sembari menggenggam tangannya. "Namun, akan lebih baik jika kau marah sekarang, daripada terus mendiamkanku begini."

Seishina, akhirnya membalas tatapan Shuuzo. Hatinya mencelos begitu menemukan iris merah cantik itu berselimut air mata. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Shuuzo melihat Seishina menangis. Dan dirinya lah penyebab tangisan itu.

"Dia... teman Nijimura-san. Tapi memanggil Nijimura-san begitu akrab dan—dan dia... mencium Nijimura-san.."

Kini giliran Shuuzo yang terdiam. Ia membiarkan Seishina terus berbicara, mengeluarkan uneg-unegnya.

"aku hanya.. hanya..." Seishina menggigit bibirnya, tangannya terangkat untuk menutup matanya yang kini dibanjiri air mata. Ia tak meneruskan kalimatnya. Tak sanggup melanjutkannya. Hatinya terasa sesak oleh sebuah perasaan yang ia artikan sebagai rasa cemburu. Selama mereka menjalin hubungan, Shuuzo tak pernah sekalipun menciumnya. Melihat Shuuzo dicium orang lain tentu membuatnya sangat terguncang, bukan? Salahkah jika ia merasa cemburu?

Shuuzo merengkuh tubuh Seishina dalam pelukan. "Maaf—maafkan aku." Diusapnya bagian belakang kepala Seishina, bermaksud menenangkannya. Ditatapnya mata Seishina dalam-dalam setelah ia melepaskan pelukannya, lalu mendekatkan wajahnya. Mendaratkan sebuah ciuman di bibir Seishina.

Ciuman pertama mereka.

Terasa aneh, namun menyenangkan. Seishina dapat merasakan debaran jantung Shuuzo yang menggila dari telapak tangannya. Kekasihnya luar biasa gugup, dan kentara sekali berusaha menahan diri. Ketika ciuman itu terlepas, ia bisa melihat rona merah semu di wajah sang kekasih.

"Kuharap ini tak membuatmu salah paham. Aku—aku selalu khawatir aku tak bisa mengendalikan diriku sendiri saat aku berpikir ingin menciummu. Dan ternyata itu memang benar." Shuuzo mengalihkan pandangan ke arah lain dengan wajah yang semakin merah. "Akan kuperingatkan Alex untuk tidak menciumku sembarangan."

"Hmm." Seishina bergumam sembari mengangguk pelan. "Maafkan sikap kekanakanku, Nijimura-san.."

"Jadi.. kita baikan?"

Seishina terkekeh pelan. Diusapnya sisa air matanya dengan punggung tangan seraya mengangguk. Shuuzo tampak tersenyum lega mendengarnya.

"Ehm—Nijimura-san tak perlu menahan diri kalau memang ingin, eng, menciumku."

Seishina mengalihkan pandangan ke arah lain setelah kalimat itu terucap. Wajahnya merona tipis saat mengatakannya.

Hei, Seishina. Tidak sadarkah kau bahwa kalimatmu tadi bisa membangunkan setan di dalam diri kekasihmu, Nak?

[END]