Chapter 4
Hal yang Tak Terduga
Hallo, good readers yang masih setia menanti dan membaca fanfict saya... T-T maafkan saya sudah lama ga update cerita ini karena kehabisan ide... wkwkwkwk... ga kok sekarang ada...
Lansung saja, selamat membaca...
Review ya kesalahan dan pendapatnya...
Sakura POV.
Hari yang cukup melelahkan mengerjakan urusan dapur dan mengasuh anak sekaligus. Tapi suatu kesenangan tersendiri bisa membantu Paman Asuma lebih dekat dengan Kurenai's sensei. Tuan muda Yahiko juga sudah mau diajak kompromi dengan pembantu-pembantu bekerja disini, ulah keusilannya sudah mulai berkurang dn diganti lebih banyak aktivitas out-bound bersama teman-teman dan belajar. Bahkan menyenangkan rasanya Tuan muda Yahiko membawa teman-teman sekolahnya ke rumah untuk bermain dan belajar.
Hari ini mereka datang untuk bermain PS bersama di kamar Yahiko, aku ingat teman-teman Tahiko yang selalu dibawanya ke rumah, mereka adalah Nagato si rambut merah dan Konan si rambut biru. Terdengar seruan-seruan dari dalam kamar saat aku mau mengantarkn cemilan ke kamar Yahiko.
"Permisi, bolehkah saya mengganggu Tuan?" ucapku serasa mengetuk pintu kamarnya
"Masuklah Kak, tidak mengganggu kok." serunya dari dalam
Aku membuka pintu kamarnya dan mendapati Nagato dan Yahiko bermain PS dengan seriusnya dan Konan membaca komik di samping mereka.
"Saya membawakan cemilan dan minuman untuk Tuan dan rekan-rekan Tuan." ucapku sambil meletakkannya di depan mereka. Lansung disambut oleh Yahiko yang meminum jus dari gelas yang baru saja 'ku letakkan di depannya.
"Kebetulan yang diharapkan, aku sangat haus. Lapar juga." katanya sambil mengambil cemilan dari piring.
"Kenapa tak bilang dari tadi?" bisikku padanya, seraya tertawa kecil.
"Aku mengerjakan pr sama Nagato dan Konan. Aku lupa, hahaha..."
"Terimakasih makanan dan minumannya, K-Kakak." ucap Nagato sambil tersenyum.
"Wah sudah mau memanggilku kakak, terimakasih Nagato-sama dan Konan-sama." Ucapku bak pelayan resmi.
Lansung disambut tawa mereka yang membahana di udara, aku juga ikut tertawa.
Selesai mengantar kepergian Nagato dan Konan aku kembali ke dapur untuk bersih-bersih sebentar, sebentar lagi juga Paman Asuma akan datang setelah kencannya bersama Kurenai'sensei. Saat aku sedang mencuci piring yang tadi bekas cemilan, ada suara interupsi dari belakang badanku secara misterius dan dingin.
"Bolehkah aku mengganggumu, Haruno-san?" ucap Kakashi.
"Tentu. Ada apa Hatake-san?" ucapku sambil mencuci tanganku, dan kemudian berbalik menghadapnya.
"Aku diberitahukan untuk memanggilmu ke ruangan Nyonya." ujarnya dengan nada yang datar.
"Oh, terimakasih sudah memberitahuku." Ucapku padanya seraya melangkahkan kaki keruangan kerja Nyonya
"Mm, tunggu." Ujarnya lagi menghadapku,"Bisakah kita kapan-kapan bicara? Hanya sekedar akrab saja."
"Tentu Hatake-san."
Bicara dengan orang seperti dia membuatku seperti tidak punya emosi juga, nada bicaranya datar sedatar lantai, tida ada emosi di dalamnya, juga mimik wajahnya, seakan-akan mengatakan 'kita-perlu-bicara-atau-aku-yang-menyeretmu' . Astaga, aku mulai lagi dengan pikiran jelekku.
Aku mengetuk ruangan Nyonya Tsunade, perlahan. Terdengar sautan dari dalam menyuruhku masuk.
"Selamat sore, Nyonya. Apakah anda memanggil saya?" ucapku seraya memberi penghormatan.
"Duduklah nak Haruno. Aku ingin mengevaluasi pekerjaanmu." Katanya.
Mengevaluasi? Pekerjaanku?... apa kesalahan yang ku perbuat? Aku duduk di kursi yang diperintahkan, mencoba senyum senyaman mungkin, tapi tak bisa, malah senyum kaku yang ku tampilkan.
"Aku sangat senang dengan hasil pekerjaanmu, nak Haruno. Pelayan-pelayanku semakin giat bekerja dengan senangnya, temen-temen sekolahnya juga menyukainya, tentu biaya kenakalannya semakin berkurang, aku mau tahu bagaimana kau bisa merubah 'Anak-Setannya-Jiraya' itu?" ujarnya
"Aku tidak berbuat apa-apa, Nyonya. Hanya mengajaknya bermain seperti anak biasanya." ucapku dengan sopan. 'Anak-Setannya-Jiraya'? ahahaha... ada-ada saja Nyonya ini...
"Benarkah? Hmmm... apapun caramu itu selama tidak menyakiti Yahiko, aku setuju denganmu. Ini gajimu bulan ini, beserta bonus mengasuh Yahiko." katanya menyerahkan amplop padaku.
"Tidak perlu repot, Nyonya. Anda sudah memberiku pekerjaan itu sudah cukup buatku, aku tidak mengasuh Tuan Muda Yahiko, Nyonya, hanya mengajaknya bermain saja." Aku menyerahkan amplop itu lagi padanya.
"Terimalah sebagai ucapan terimakasihku padamu. Pekerjaan dan perasaanku semakin bersemangat karena perubahan sikap Yahiko."
"Nyonya terlalu bermurah hati. Ini lebih dari seharusnya saya kerjakan."
"Ambil amplop ini dan bersenang-senanglah. Terus pantau Yahiko ya..."
Akhirnya kau mengambil amplop dari Nyonya Tsunade dan berterimakasih padanya sebelum keluar dari ruang kerjanya.
'ambil amplop ini dan bersenang-senanglah...'
Bagaimana aku mau bersenang-senang? Huff... aku tak kepikiran sama sekali mau berbuat apa, huhhh...
brakk... tanpa memperhatikan jalan aku menabrak orang yang ingin ku hindari dirumah ini.
"Hati-hati, Nona Haruno."
"Maafkan saya, Tuan Hatake. Permisi." ucapku pamit untuk pergi.
"Em, tunggu. Bagaimana kalau kita minum bersama malam ini?" ujarnya sebelum kepergianku
"A, saya kira anda tak ada waktu untuk itu."
"Kebetulan sekali aku tak ada ativitas hari ini, bagaimana kalau makan malam bersama atau sekedar minum kopi bersama? Apakah Haruno-san keberatan?"
Aku berpikir sekilas, mungkin cuma mau mengakrabkan diri saja antarpelayan di rumah ini mengingat jabatannya menjadi tangan kanan rumah ini.
"Baiklah, saya akan menemani anda."
"Tak perlu formal begitu" ia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, "Kakashi, panggil begitu."
Aku menyambut jabatan tangannya dan menggoyangkannya, "Kalau begitu panggil saya, Sakura."
"Baiklah, aku akan menjemputmu jam 7 tepat di taman kota."
"Oke, sampai bertemu nanti malam, Kakashi."
Aku seperti menemani makan seorang presiden, melihat cara makan dan obrolan yang kami lakukan, huff... sama sekali monoton, dan gaya makan itu, seperti di zaman abad pertengahan bangsawan kelas atas, padahal menu makan malamnya sama sekali bukan hidangan mewah, hanya semangkuk salad.
Lebih baik aku menolak ajakannya tadi...
"Sakura, apakah makanannya tidak enak?" tanyanya sangat datar dan formal
"Tidak, Kakashi. Makanannya tidak salah."ujarku sambil menatap piringku
"Apakah ada sesuatu yg salah? Atau kepikiran sesuatu?"
Aku mendengus kesal dalam hati, yeah, dirimu dan segala sesuatu tentangmu salah, kemudian aku menyunggingkan senyuman tak menunjukan masalah.
"Tidak, hanya mengingat sesuatu. Oh ya, bagaimana pertama kali kau bekerja pada Tuan dan Nyonya?" usahaku membuka obrolan.
"Biasa seperti karyawan lainnya. Aku tak mau membahas urusan pekerjaan diluar waktu pekerjaan."
Jlebb... tamat sudah usaha 'ku.
Aku berharap waktu akan cepat berlalu dan aku bisa menenggelamkan diriku di kasur dan melupakan saat ini terjadi. Pantesan pria seperti dia jarang bersama wanita selama aku bekerja di rumah Tuan Jiraya dan Nyonya Tsunade. Entahlah tapi aku berasumsi begitu.
Setelah aku melihatnya selesai dan mengelap mulutnya dengan tisu dengan cara di abad pertengahan, aku mendengus kesal dalam hati, aku berusaha pamit dengan alasan yg bisa kupikirkan saat ini.
"Bagaimana kalau aku mengantarmu?" tawarnya
"Ah, tak perlu Kakashi, aku pasti merepotkanmu."
"Tentu tidak, akan menyenangkan bila kita bisa pulang bersama."
"Nanti pasti pacarmu cemburu dan aku akan dikaitkan dengan perusak hubungan orang."
"Aku tak punya pacar maupun kekasih."
Oh My God, telak... jleb... Kakashi menang lagi. Aku mencoba untuk tidak membosankan lagi.
"Benarkah? Wah... sangat disayangkan sekali para wanita itu. " ujarku pelan
"Kau mau jadi kekasih ku?" ujarnya lagi. Huhh..? apoa?
"Hahahaha... Jangan menggodaku, ada-ada saja kau ini." ucapku lagi.
"Bagaimana kalau tawaran ku berlaku?" tanyanya
"Aku bukan wanita gampangan, Kakashi, kalau kau mau bermain saja."
"Bagaimana kalau kita jalanin dulu? Berikan aku kesempatan."
"Hanya saja hubungan tanpa perasaan tidak akan menarik perhatianku, Tuan. Aku akan fokus pada tujuanku dulu."
"Setelah tujuanmu selesai, mau kah kau mempertimbangkan penawaranku?"
"Baiklah, Kakashi. Terserah padamu."
"Oh ya, arah rumahmu dimana? Aku mau mengantarmu pulang..."
