THE BOND
Chapter 2
(Narufemsasu)
By : Shawokey
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Sasuke menatap pantulan dirinya di cermin. Dia merasa bahwa penampilannya tidak terlalu buruk mengingat pagi tadi ia terlambat bangun karena semalaman tidak bisa tidur. Ia pun hanya menyikat gigi dan mencuci muka. Lalu ditambah polesan sedikit make up dan parfum. Dan tara… Uchiha Sasuke pun siap!
Bukan tanpa sebab Sasuke tidak bisa tidur. Bagaimana bisa tidur jika ia sibuk memikirkan apa yang akan terjadi hari ini dan hari-hari selanjutnya di Jepang? Jika boleh jujur, Sasuke lebih memilih untuk menyelesaikan sekolah menengah atasnya di Korea. Akan tetapi, ketika ia baru menginjak pertengahan kelas 2, orang tuanya memintanya untuk kembali. Sasuke awalnya menolak, tetapi orang tua dan kakaknya bersikeras membujuknya. Akhirnya Sasuke pun luluh dan kembali ke Jepang kemudian mendaftar di sekolah yang sama dengan kakaknya.
Sasuke sejak awal sudah tahu jika ia bersekolah di sekolah yang sama dengan Naruto. Tetapi ia tidak peduli. Ia bisa menghindar, tidak mengacuhkan, atau melakukan hal lain yang membuatnya tidak perlu berurusan dengan laki-laki berambut kuning itu. Lagipula Sasuke pun tidak mau jika masuk ke sekolah lain. Yang ia tahu, sekolah yang akan ia masuki adalah sekolah terbaik di Tokyo. Sasuke yakin jika ia bisa menyelesaikan sekolahnya dengan baik.
Akan tetapi keyakinan Sasuke mulai luntur setelah ia mengetahui bahwa Naruto adalah mate nya. Ia tidak tahu cara kerja seorang alpha, beta, atau omega mendeteksi pasangannya. Ia berharap rencana Tsunade dengan menyuruhnya minum suppressant dapat menekan feromonnya sehingga Naruto tidak mengetahui jika dirinya adalah mate nya.
"Sasuuu! Ayo sarapan!" seru Itachi dari luar kamar.
"Ya, niichan!" balas Sasuke sambil meraih tasnya di atas meja.
"Sasuke, kau benar-benar ingin naik bus?" tanya Itachi pada Sasuke setelah selesai sarapan.
"Ya, niichan. Aku tidak ingin orang-orang tahu jika aku adalah adikmu. Kudengar niichan sangat terkenal di sekolah. Aku tidak ingin mendapatkan cipratan kepopuleranmu. Niichan tahu sendiri kan kalau aku benci menjadi pusat perhatian?" ujar Sasuke.
Itachi ragu untuk menyanggupi keinginan Sasuke. Jika ia berpura-pura tidak mengenal Sasuke berarti ia tidak bisa melindungi Sasuke dengan bebas.
"Ayolah, niichan. Kau kan sudah setuju tadi malam," ujar Sasuke mengingatkan.
Itachi menepuk-nepuk kepala Sasuke, "Baiklah. Tetapi jika terjadi apa-apa padamu, kau harus segera menghubungi niichan. Mengerti!" pinta Itachi. Sasuke mengangguk.
"Oke!"
Sasuke memamerkan senyuman terbaiknya ketika berdiri di depan kelas untuk memperkenalkan diri. Ia tidak melihat Naruto di seluruh penjuru kelas. Sepertinya harapan untuk tidak sekelas dengan Naruto terkabul. Hal itulah yang membuat mood Sasuke naik drastis.
"Perkenalkan, nama saya Uchiha Sasuke, pindahan dari Korea. Mohon bantuannya," ujar Sasuke.
"Uchiha Sasuke ini asli dari Jepang juga. Jadi kalian jangan canggung kepadanya. Kau juga, Sasuke. Jangan sungkan untuk meminta bantuan teman-temanmu!" ujar Iruka, wali kelas sekaligus pengajar pagi itu.
"Baik, Iruka sensei."
"Sasuke, kau bisa duduk disana!" Iruka menunjuk kursi di deretan nomor 2 dari belakang barisan paling kiri. Selain kursi kosong yang ditunjuk Iruka, sebenarnya ada kursi kosong lain yang terletak paling depan. Sasuke sebenarnya ingin mengambil tempat itu, tetapi sepertinya ada murid lain yang menempati karena Iruka langsung menyuruhnya untuk duduk di kursi belakang.
Setelah Sasuke duduk, Iruka berkata, "Seperti yang aku katakan kemarin bahwa hari ini ada rapat antara ketua dan Pembina klub sekolah. Jadi tugas kalian hari ini adalah mengerjakan soal yang sudah aku siapkan," Iruka menunjukkan lembar soal di tangannya.
"Harus selesai hari ini juga. Saat jam istirahat, semua soal dan jawaban harus sudah dikumpulkan di mejaku!" lanjut Iruka.
Beberapa murid menggumam protes tetapi Iruka sama sekali tidak peduli.
Setelah Iruka membagikan soal dan keluar kelas, suasana hening tadi seketika berubah. Ada yang mengerjakan soal bersama-sama, ada yang tidur, bernyanyi, bahkan ada yang menari-nari tidak jelas di depan kelas yang membuat Sasuke tertawa. Sepertinya orang-orang di kelasnya cukup menyenangkan.
"Hallo, Uchiha Sasuke!" sapa seorang murid laki-laki yang duduk di depannya. Laki-laki itu memiliki wajah tampan dengan senyuman yang manis.
"Namaku Suigetsu," laki-laki itu memperkenalkan diri masih dengan tersenyum. Sasuke heran bagaimana laki-laki di depannya ini bisa memperlihatkan senyumannya walaupun sedang berbicara. Ya… Tipe-tipe lelaki playboy. Itu yang terlintas di pikiran Sasuke.
"Salam kenal.." balas Sasuke.
Sepertinya Suigetsu tidak buruk untuk dijadikan sahabat di sekolah barunya.
Suigetsu adalah anak yang ramah dan menyenangkan, membuat Sasuke sangat nyaman berteman dengannya. Ditambah lagi mereka mempunyai hobi yang sama yaitu membaca komik dan menonton anime. Walaupun genre yang mereka sukai berbeda, Sasuke menyukai genre humor dan sport sedangkan Suigetsu dengan gamblangnya mengatakan jika menyukai komik atau anime yang berbau hentai.
Pada saat jam istirahat, Suigetsu mengajak Sasuke untuk ikut bersamanya ke kantin bertemu dengan rekan satu geng nya. Sasuke tentu saja langsung setuju. Di mata Sasuke, Suigetsu terlihat anak baik-baik (kecuali otak hentainya). Ia berharap teman satu geng Suigetsu juga sama baiknya seperti Suigetsu atau setidaknya bukan tukang buli seperti 'dia yang namanya tak boleh disebut'.
"Hello teman-teman! Aku membawa gadis cantik!" seru Suigetsu dengan suara lantang setelah mereka sampai di meja kantin paling pojok yang kata Suigetsu merupakan meja kekuasaannya.
Bukan hanya geng Suigetsu yang memperhatikan, tetapi seluruh penjuru kantin pun ikut memperhatikan mereka.
'SIALAN!' umpat Sasuke dalam hati. Sepertinya Suigetsu adalah tipe orang yang suka menjadi pusat perhatian. Lihat saja saat itu, bukannya langsung duduk, Suigetsu malah memberikan kedipan genit kepada murid-murid yang masih memperhatikan mereka.
"Siapa gadis cantik ini?" tanya salah satu dari geng Suigetsu sambil menunjuk Sasuke.
"Namanya Uchiha Sasuke, pindahan dari Korea," jawab Suigetsu antusias.
"Sasuke, ini Neji. Anak dance juga sepertiku," Suigetsu memperkenalkan laki-laki tadi yang mengedip genit ke Sasuke. Sasuke tanpa sadar melongo.
"Kemudian di samping Neji namanya Sai," Suigetsu menunjuk laki-laki tampan berkulit putih pucat berwajah dingin yang mengingatkan Sasuke pada tokoh antagonis di drama-drama yang sering ditonton ibunya.
"Dia seorang model," lanjut Suigetsu. Sasuke mengangguk. 'Terlihat dari kulitnya yang terlihat halus dan terawat,' batin Sasuke memperhatikan Sai.
"Kemudian mereka Shikamaru dan Kiba," lanjut Suigetsu sambil menunjuk dua laki-laki yang duduk di pojokan. "Mereka berdua tergabung dalam tim inti klub basket. Mereka sangat ganas saat bertanding."
"Hallo, Sasuke!" sapa mereka berdua. Kesan pertama Sasuke ketika melihat Shikamaru adalah tipe laki-laki pemalas sedangkan Kiba terlihat kekanakan. Sasuke menjadi tidak sabar melihat Shikamaru dan Kiba bertanding untuk melihat keganasan mereka seperti apa yang dikatakan Suigetsu tadi.
Sasuke tersenyum, "Salam kenal semua," ujarnya.
"Salam kenal, Sasuke," ujar mereka kompak. Sasuke kemudian memilih duduk di samping Shikamaru.
"Sebenarnya masih ada dua orang lagi. Tetapi mereka berdua sedang sibuk. Yang satu ketua klub basket dan satunya adalah ketua dewan sekolah. Mungkin sebentar lagi mereka akan datang," Suigetsu menjelaskan. Mendengar perkataan Suigetsu, Sasuke menghela nafas panjang mendengarnya.
Satu kesimpulan yang didapat Sasuke saat itu adalah….
'Ia salah memilih teman.'
Sejak awal, Sasuke sudah berniat untuk menjadi murid yang biasa-biasa saja. Dan untuk merealisasikan niatnya, seharusnya ia berteman dengan murid yang biasa-biasa pula, bukan berteman dengan orang-orang seperti yang tergabung dalam lingkaran geng Suigetsu.
Pertama, Suigetsu merupakan anak dance yang sangat menikmati kepopulerannya dan sangat suka cari perhatian.
Kedua, Neji juga anak dance yang memiliki wajah tampan dan seksi. Kepopuleran Neji sepertinya setara dengan Suigetsu.
Ketiga, Sai seorang model dengan karisma dinginnya. Sasuke yakin banyak murid perempuan yang menjadi fans garis keras Sai.
Keempat, Shikamaru dan Kiba yang merupakan tim inti dari tim basket sekolah.
Ditambah lagi dengan Ketua Dewan Sekolah dan ketua tim basket.
'Teman-teman Suigetsu memang luar biasa,' batin Sasuke. Tetapi kemudian Sasuke menyadari sesuatu. 'Suigetsu tadi bilang Ketua Dewan Sekolah adalah teman satu gengnya. Bukankah Ketua Dewan Sekolah adalah…'
"Itachi senpai, Naruto!" seru Neji tiba-tiba sambil memberi kode kepada seseorang untuk mendekat.
Deg.
'Naruto? Apa tadi Neji memanggil nama Naruto?' batin Sasuke. Sedetik kemudian Sasuke menyadari jika Neji juga menyebutkan nama Itachi, sontak Sasuke mengedarkan pandangannya mencari-cari Itachi. Ia sungguh berharap jika 'Itachi' yang disebutkan Neji tadi bukanlah kakaknya, walaupun ia tahu bahwa harapannya sia-sia karena Suigetsu sempat menyebutkan jika salah satu teman satu gengnya adalah Ketua Dewan Sekolah dan Sasuke sangat tahu siapa Ketua Dewan Sekolah di sekolah itu.
"Hai Bro!" sapa Itachi yang sudah mengambil tempat duduk di depan Shikamaru. Itachi sempat melihat Sasuke yang duduk di samping Shikamaru tetapi kemudian dengan cepat mengalihkan pandangannya. Sedangkan Naruto masih berdiri. Sasuke yakin jika saat itu Naruto sedang menatapnya. Sasuke memilih untuk berbincang dengan Shikamaru dan tidak menghiraukan Naruto.
"Sasuke!" Sasuke dengan terpaksa menghentikan acara bincang-bincangnya dan menatap Suigetsu yang memanggilnya.
"Aku ingin memperkenalkanmu dengan Itachi senpai dan Naruto. Yang ini adalah Uchiha Itachi," ujar Suigetsu sambil menepuk bahu Itachi.
"Dia adalah kakak kelas kita dan menjabat sebagai Ketua Dewan Sekolah. Itachi senpai adalah siswa yang perfect, pokoknya diahebat dalam segala hal," ujar Suigetsu. Sasuke menatap Itachi sedangkan Itachi terlihat salah tingkah. Itachi sedikit tersenyum pada Sasuke. Mata Itachi memancarkan perasaan bersalah.
Sasuke tidak membalas senyuman Itachi. Sungguh, Sasuke tidak pernah menyangka jika kakaknya sendiri adalah teman satu geng dari Namikaze Naruto, makhluk yang paling dibencinya. Mungkin Tuhan sedang menghukumnya, di hari pertamanya sekolah secara tidak sengaja ia berhubungan dengan orang-orang yang berada di lingkungan pertemanan dengan Naruto. Apakah Sasuke marah pada Itachi? Jelas. Selama ini ia selalu mencurahkan keluh kesahnya tentang Naruto kepada kakaknya, tetapi respon kakaknya seolah-olah tidak mengenal Naruto.
Sasuke menahan amarahnya. Tidak ada gunanya jika meneriaki Itachi saat itu, malahan ia akan menimbulkan masalah baru. Ia menghela nafas panjang dan memberikan Itachi senyum terbaiknya, "Salam kenal, Itachi senpai!" sapa Sasuke dengan senyum dipaksakan yang dibalas dengan anggukan dari Itachi.
"Ngomong-ngomong, kalian berdua kan sama-sama dari keluarga Uchiha. Apa kalian tidak saling kenal?" tanya Shikamaru.
"Tidak. Kami mungkin saudara jauh. Aku bahkan baru mendengar ada seorang Uchiha bernama Uchiha Itachi," jawab Sasuke berbohong. Dia sudah mempersiapkan jawaban untuk segala pertanyaan menyangkut latar belakangnya.
"Dan yang berdiri di depanmu itu-" Sasuke mau tidak mau menatap Naruto yang sama sekali tidak beranjak dari hadapannya sejak tadi.
"-namanya Namikaze Naruto, kapten tim basket. Dia satu kelas dengan kita, tetapi tadi dia mengikuti rapat dengan para guru. Dia seperti Itachi senpai kedua, perfect dalam segala hal."
Hening.
Sasuke dan Naruto sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Senyuman Suigetsu perlahan-lahan menghilang dari wajahnya karena ia merasa bahwa saat itu bukan waktu yang tepat untuk pamer senyumanya yang menawan. Entah mengapa suasana di sekitar mereka berubah menjadi berat dan mencekam. Kiba yang biasanya pandai mencairkan suasana pun hanya diam. Bukan karena dia tak mampu, hanya saja Kiba ingin tahu drama apa yang akan terjadi saat itu.
Naruto lah yang pada akhirnya memecah keheningan, "Lama tidak bertemu, Uchiha Sasuke," ujarnya. Naruto tersenyum, tetapi Sasuke yakin itu hanyalah formalitas sehingga Sasuke pun tak membalas senyuman Naruto. Sasuke bahkan memutar bola matanya dan mendengus. Naruto memilih duduk berhadapan dengan Sasuke.
"Sudah bertahun-tahun kita tidak berjumpa. Aku sangat menantikan hari ini, saat kita bisa bertemu lagi. Jujur saja aku sangat kecewa ketika kau memilih pindah ke Korea. Syukurlah, pada akhirnya kau kembali…" ujar Naruto.
"Tetapi sepertinya kau tidak senang bisa bertemu lagi denganku," lanjutnya.
"Tentu saja," jawab Sasuke cepat. "Siapa yang senang bertemu lagi dengan si Brengsek Namikaze Naruto?" Suigetsu dan yang lainnya menahan nafas.
"Kalian berdua, ehm…. Sudah saling kenal?" tanya Shikamaru. Semua menatap Shikamaru tak percaya karena berani menanyakan hal seperti itu di suasana yang sedang panas-panasnya sedangkan yang ditatap hanya menampilkan wajah polos ingin tahu.
"Kita satu sekolah di sekolah dasar," jawab Naruto. Tatapannya masih terkunci pada Sasuke. Begitupula Sasuke.
"Uchiha Sasuke yang bahkan tidak bisa berjalan tanpa terjatuh, ceroboh, Uchiha Sasuke yang bodoh bahkan sampai dijauhi sahabatnya sendiri, dan segala hal mengerikan tentangnya," ejek Naruto. Parahnya dia mengatakan hal menyakitkan itu dengan tersenyum.
Sasuke mendengus, "Ya.. Benar sekali. Dan apakah kau masih ingat siapa yang membuat teman dekatku sendiri menjauhiku?"
Naruto menaikkan bahunya, seolah-olah ia tak tahu dan jujur itu membuat Sasuke kesal.
"KAU-"
"Kenapa suasana disini tegang sekali?"
Perhatian yang sebelumnya tertuju pada Naruto dan Sasuke teralihkan oleh seorang perempuan berambut merah dan seorang perempuan berambut pink yang berdiri di samping meja sambil menatap mereka bingung.
"Kariinnnnnn!" seru Suigetsu senang. Ia menarik pergelangan tangan perempuan berambut merah untuk duduk di sampingnya. Sedangkan perempuan berambut pink bernama Sakura memilih duduk di samping Karin.
Suigetsu dan Shikamaru bernafas lega dengan datangnya Karin dan Sakura sedangkan Neji, Sai, dan Kiba kecewa karena perang antara Sasuke dan Naruto harus terhenti padahal sedang seru-serunya.
"Karin, mengapa kau masih berpakaian seperti ini?" tanya Suigetsu frustasi melihat Karin yang merupakan bagian dari tim basket sekolah masih menggunakan seragam basket. Menurut Suigetsu, 'Hal terindah di dunia adalah Uzumaki Karin dengan balutan seragam basket yang keseksiannya tidak bisa dibandingkan dengan tokoh anime seksi yang sering ia tonton diam-diam.'
"Karena aku baru selesai bermain basket dan perutku merengek minta diisi, eits- jangan peluk-peluk!" sembur Karin ketika Suigetsu berusaha memeluknya.
"Jangan membuat Karin marah, Suigetsu. Hari ini dia sedang badmood. Gosip miring tentang hubunganmu dengan Ino muncul lagi di kalangan anak basket. Entah siapa yang memulai membicarakannya kembali," ujar Sakura.
"Pantas saja Ino tidak datang bersama kalian," ujar Kiba.
"By the way, siapa perempuan manis yang duduk disampingmu itu, Shikamaru?" tanya Sakura kemudian.
"Namanya Uchiha Sasuke. Dia baru pindah dari Korea, tetapi asli Jepang. Sasuke pernah satu sekolah dengan Naruto, lho- oops!" Bukan Shikamaru yang menjawab, tetapi Kiba yang langsung menutup mulutnya ketika ia sadar bahwa ia telah mengungkit kembali tentang hubungan Naruto dan Sasuke.
Sasuke hanya tersenyum kecil dan memberi kode kepada Kiba bahwa ia tidak apa-apa. Kiba nyengir minta maaf.
"Salam kenal," ujar Sasuke sambil tersenyum dan mengangguk sopan yang dibalas juga oleh Karin dan Sakura.
"Kau sangat cantik dan menggemaskan," tambah Sakura semangat. "Tetapi aku tidak mencium aroma omega dari tubuhmu. Apa kau sudah mempunyai mate?" tanya Sakura kemudian.
"Hei-hei! Itu tidak sopan! Tidak seharusnya kau menanyakan hal itu padanya!" sembur Shikamaru.
"Itu privasi, Sakura bodoh!" kali ini Suigetsu yang berbicara.
"Maaf ya, Sasuke. Sakura memang agak menyebalkan jika menyangkut masalah bau. Tidak seperti omega lain, indra penciumannya memang agak tajam. Dia suka sekali menciumi bau feromon orang-orang disekitarnya. Agak freak sih," ujar Kiba.
Sasuke tertawa, "Tidak apa-apa kok. Aku…. Aku memang sudah mempunyai mate."
"Wow, sudah kuduga. Kau sangat cantik, menggemaskan, dan manis. Tidak mungkin kau belum mempunyai mate. Tidak sepertimu, Kiba bodoh! Bahkan aku yakin mate mu sembunyi ketika tahu kalau kau yang akan menjadi pasangan seumur hidupnya!" ejek Sakura sambil menunjuk Kiba.
"Hei, apa katamu! Mengacalah! Kau juga belum punya mate!"
Mereka semua tertawa mendengar pertengkaran keduanya. Tidak ada yang menyadari jika Naruto menatap Sasuke dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Tok Tok …
Hampir 10 menit Itachi mengetuk pintu kamar Sasuke yang diabaikan oleh pemiliknya. Sasuke, sang pemilik kamar tak beranjak dari ranjangnya dan sama sekali tidak merespon setiap ucapan dari kakaknya.
"Sasuke, niichan minta maaf. Maaf karena membohongimu selama ini," ujar Itachi dari luar. "Tolong izinkan niichan masuk. Niichan akan menjelaskan semuanya kepadamu," lanjutnya.
Sambil telentang menghadap langit-langit kamarnya, Sasuke memejamkan matanya sejenak. Jika dipikir-pikir, ia sudah sering curhat tentang kebencianya pada Naruto sejak kelas 3 sekolah dasar. Kemudian ia berpisah dengan kakaknya pada saat sekolah menengah karena ia pindah ke Korea. Entah sejak kapan kakaknya mengenal baik musuh bebuyutannya, bisa jadi sejak sekolah menengah pertama, bisa juga pula saat sekolah menengah atas. Ada cukup waktu bagi kakaknya untuk mengatakan jika ia mengenal Naruto.
"Sasu…"
"Sasuke…."
Satu poin penting tentang kakaknya. Kakaknya adalah orang yang keras kepala. Sama seperti dirinya. Ia yakin kakaknya akan bertahan di depan pintunya, mengetuk pintunya dan mengucapkan permintaan maaf sampai ia mengizinkan kakaknya itu masuk.
Tidak ada pilihan lain, Sasuke pun berjalan menuju pintu dan membukanya. Itachi masih menggunakan seragam dan masih membawa tas sekolahnya.
"Masuklah," ujar Sasuke.
Itachi masuk ke kamar Sasuke dan memilih duduk di karpet. Itachi menepuk-nepuk karpet di sampingnya memberi kode agar Sasuke duduk disitu. Sasuke pun duduk.
"Aku tidak tahu harus memulai darimana."
"Kau bisa memulai dari 'sejak kapan kau mengenal baik si Namikaze?"
"Aku mengenalnya saat sekolah menengah pertama. Dia dulu adalah bagian dari dewan sekolah. Jujur saja, dia adalah murid yang bisa diandalkan, itulah mengapa aku heran ketika ia tidak bergabung di dewan sekolah saat sekolah menengah atas," jawab Itachi.
"Jadi kau mengenal si Namikaze sejak lama tetapi kau tidak mengatakannya kepadaku?" tanya Sasuke dengan nada tinggi karena marah.
Itachi menghela nafas panjang, "Eh, karena kupikir Naruto yang kau maksud bukan Naruto yang kukenal-"
"Omong kosong! Hanya satu Naruto di Keluarga Namikaze. Niichan pikir aku bodoh?"
Itachi menghela nafas panjang, "Ayolah, Sasu… Jangan terlalu serius!" Itachi sedikit memberikan cengiran.
"Niichan, dengar! Sejak aku masih menjadi bahan buli si Brengsek Namikaze Naruto, aku selalu mengutarakan keluh kesahku kepadamu dan kau seolah-olah tidak tahu siapa Namikaze Naruto yang aku ceritakan itu padahal faktanya kau satu geng dengannya!" ujar Sasuke tidak terima.
"Oke, Niichan minta maaf. Tetapi Sasu, selama aku mengenal Naruto tidak pernah sekalipun aku berpikir bahwa dia adalah orang yang selama ini kau ceritakan. Apa yang kau ceritakan dengan kenyataan itu terlihat sangat berbeda."
"Kau berpikir aku berbohong?"
"Tidak Sasu, aku tidak berpikir seperti itu. Yang aku pikirkan adalah bahwa Naruto sudah berubah. Kau mengenal Naruto hanya sampai sekolah dasar. Kemudian kau pindah ke Korea sampai sekolah menengah. Ada banyak waktu bagi Naruto untuk berubah," setelah mengatakan itu, Itachi menggenggam kedua tangan Sasuke.
"Kau sudah mendengar sendiri dari Dokter Tsunade tentang betapa sakralnya hubunganmu dengan Naruto. Maka pikirkan baik-baik keputusanmu yang berusaha melepas ikatanmu dengannya. Masih ada waktu untuk mengenal Naruto lebih jauh. Jangan menghindar! Niichan takut kau akan menyesal nantinya. Dan Niichan minta maaf atas kebohongan Niichan selama ini," Itachi tersenyum dan kemudian berjalan keluar, meninggalkan Sasuke dengan pikirannya yang kalut.
Pagi-pagi sekali, Sasuke sudah berangkat ke sekolah. Semalaman ia menangis, ia memang cengeng jika menyangkut Itachi. Ia bahkan melewatkan sarapan agar tidak bertemu Itachi. Untunglah bus yang ia tumpangi sangat lengang. Di sepanjang halte yang dilewati pun tidak banyak orang yang naik. Hingga di halte nomor 4, ia melihat Karin masuk ke dalam bus.
"Karin senpai!" Sasuke memberi kode kepada Karin untuk duduk di sampingnya.
"Apa senpai selalu berangkat sepagi ini?" tanya Sasuke setelah Karin duduk. Karin mengangguk.
"Apa yang dilakukan senpai pagi-pagi di sekolah?"
"Apa ini semacam interogasi mendadak?" tanya Karin.
"Eh,, aku hanya ingin tahu. Hihi. Lagi pula kan kita… ehm, teman," ujar Sasuke sedikit malu.
Karin menatap Sasuke cukup lama, ia menyadari sesuatu, "Kau habis menangis? Matamu sembab."
"Hah? Hahaha.. Apa kelihatan? Semalaman aku menangis karena menonton film sedih. Padahal aku sudah berusaha menutupi dengan poniku. Ternyata masih kelihatan ya…" jawab Sasuke. Karin mengangguk dan tersenyum, "Iya. Masih kelihatan. Kau terlihat sangat jelek."
"Huh…. Oh iya. Senpai belum menjawab pertanyaanku lho!"
"Aku berangkat pagi-pagi untuk menyusun strategi dan membuat menu latihan bersama Guy seonsei. Sebenarnya itu tugas manajer, tetapi tim kami memang tidak memiliki manajer. Manajer terakhir kami tidak berguna. Jadi langsung ku depak saja dari tim basket," ujar Karin. Sasuke tersenyum. Ia sudah terbiasa dengan cara berbicara Karin. Ucapan Karin memang terdengar kasar, tetapi Sasuke bisa melihat sorot kehilangan di mata Karin.
"Wow, senpai ikut membuat strategi? Hebat sekali!" puji Sasuke.
"Tentu, aku adalah ahli strategi di tim basket. Kau harus melihat pertandingan pertama ku sekitar 2 minggu lagi. Akan aku libas habis lawan-lawanku nanti!" ujar Karin. Sasuke mengangguk. Sasuke benar-benar sangat menyukai Karin yang apa adanya.
5 menit sebelum bel masuk berbunyi, Sasuke baru masuk ke kelasnya. Ia menghabiskan pagi tadi dengan tidur di perpustakaan. Namun, ketika ia sedang berjalan menghampiri mejanya, ia menyadari sesuatu. Seharusnya yang duduk di belakangnya adalah Hinata, tetapi mengapa malah Naruto? Dan sialnya lagi, Naruto menatapnya dengan tatapan menantang. Sasuke langsung memutar arah menghampiri Hinata yang duduk di barisan depan yang setahu Sasuke adalah tempat duduk Naruto.
"Apa aku telah melakukan kesalahan? Mengapa kau pindah tempat duduk?" tanya Sasuke to the point. Hinata yang baru berpura-pura membaca buku menjadi gelagapan. "Eh, ehh.. Aku. Aku…." Mata Hinata masih terkunci pada buku yang dipegangnya, tak ada keberanian untuk menatap Sasuke yang berdiri di sampingnya.
"Apa si Namikaze yang menyuruhmu pindah?" tanya Sasuke lagi. Hinata diam. Dan Sasuke yakin dengan diamnya Hinata berarti dugaannya benar. "Kau jangan takut padanya! Ayo kita kembali ke belakang! Aku akan menendang bokong si Namikaze itu untukmu," ajak Sasuke. Mendengar perkataan Sasuke, Hinata mendongak dan tersenyum pada Sasuke. Hinata memang tidak suka jika harus duduk di barisan depan. Ia menyadari jika ia bukanlah murid yang pandai di kelasnya sehingga ia akan lebih senang jika duduk di belakang dan terhindar dari pertanyaan-pertanyaan mendadak yang sering dilontarkan para guru.
"Aku-" ucapan Hinata terhenti ketika ia melihat Naruto yang menatapnya tajam. Sasuke yang menyadari itu langsung menatap Naruto tak kalah tajam.
"Pengecut sekali kau, Namikaze! Kau mengancam Hinata dengan tatapan tajam seperti itu."
"Tatapan tajam seperti apa, Sasuke? Tatapanku selalu membuat wanita histeris dan tidak ada wanita yang merasa terancam," ujar Naruto dengan nada sombong.
"Apa jangan-jangan kalian bukan wanita?" ejek Naruto yang membuat beberapa anak tertawa.
"Oh ayolah, Sasuke. Apa kau takut duduk dekat denganku? Lagipula banyak sekali hal yang ingin kuceritakan kepadamu. Mungkin kita bisa menghabiskan waktu setelah pulang sekolah untuk saling bertukar cerita?" ujar Naruto basa-basi. Sasuke bisa mendengar beberapa anak berbisik-bisik. Entah gosip seperti apa yang akan tersebar nantinya.
"Ada apa ini? Apa kalian tidak mendengar beberapa menit lalu bel masuk sudah berbunyi?" ujar sebuah suara. Kurenai, pengajar matematika yang memiliki bodi seksi lah yang berbicara dengan menatap galak semua murid.
Mereka langsung duduk di kursi masing-masing, begitu juga Sasuke yang begitu enggan duduk di depan Naruto. Setelah semua dirasa sudah tenang, Kurenai berkata, "Buka buku kalian di halaman 53!"
Semua anak melakukannya dengan patuh, membuat Sasuke terheran-heran. Bahkan si trio berisik-julukan itu diberikan Sasuke kepada Kiba, Rock Lee, dan Suigetsu karena tingkah absurd mereka- juga menjadi murid yang baik. Padahal kemarin mereka bertiga terlihat asal-asalan dan sama sekali tidak memperhatikan. Bahkan kemarin mereka bertiga juga berani dan kompak ketika menggoda para guru. Tetapi tidak untuk hari itu. Dan Sasuke sepertinya tahu apa alasannya. 'Sepertinya Kurenai sensei adalah salah satu pengajar killer di sekolah,' batin Sasuke.
Hampir 30 menit Sasuke mendengarkan penjelasan dari Kurenai, tetapi sepertinya otaknya memang tidak pernah bisa menyerap pelajaran matematika dengan baik. Sasuke bukanlah orang bodoh. Di sekolah lamanya, ia cukup menguasai segala pelajaran. Nilainya pun terbilang bagus.
Ya.. Segala pelajaran, kecuali matematika.
Tetapi Sasuke tidak menyerah. Dalam hati ia menyengamati dirinya sendiri, 'Kau bisa, Sasuke!' Sasuke kembali berusaha berkonsentrasi selama pelajaran. Tetapi hambatan lain muncul.
Sasuke merasa punggungnya di tusuk-tusuk dengan bolpoin, tetapi Sasuke berusaha menghiraukan. Tak lama kemudian Sasuke merasakan beberapa helai rambutnya ditarik-tarik yang membuat kepala Sasuke mendongak. Sasuke dengan kesabaran yang luar bisa kemudian menggulung rambutnya. Tak cukup sampai disitu, Sasuke merasa kursinya didorong ke depan dengan kaki. Hebatnya adalah semua itu dilakukan di waktu yang tepat sehingga Kurenai tidak menyadari jika ada yang usil di kelasnya.
"Jika kau melakukan itu lagi aku bersumpah akan membunuhmu, Namikaze!" ancam Sasuke bisik-bisik.
"Cih, ancaman kampungan!" ejek Naruto.
"Aku bersungguh-sungguh brengsek!"
"Aku ingin tahu metode apa yang ingin kau gunakan untuk membunuhku."
"Aku akan membunuhmu dengan metode paling kejam. Akan kusekap kau sampai mati kelaparan kemudian…"
"Sepertinya Uchiha Sasuke mempunyai cerita yang menarik. Bisa kau ceritakan kepada teman-temanmu daripada kau bergumam sendiri?" kali ini Kurenai yang berbicara. Sasuke menatap horror Kurenai.
"Eh, maaf sensei. Tetapi Namikaze Naruto lah yang menggangguku," adu Sasuke.
"Mengganggumu? Tetapi yang kulihat adalah Namikaze Naruto sibuk mencatat apa yang kutulis di papan tulis."
Sasuke menoleh ke belakang dan mendapati Naruto sedang mencatat. Naruto kemudian menatap Sasuke dengan ekspresi polosnya, "Apa?"
Sasuke menatap Naruto tidak percaya. "Te-tetapi tadi…"
"Tenten, apa kau melihat Naruto mengganggu Sasuke?" tanya Kurenai kepada murid yang duduk di samping kanan Naruto. Tenten terlihat terkejut, "Aku-" Tenten memang melihatnya. Tetapi jika ia mengiyakan apa yang dikatakan Sasuke, berarti ia menyalahkan si nomor satu, Namikaze Naruto. Bisa-bisa ia habis di tangan para penggemar Naruto.
"Aku melihatnya, sensei!" Kiba yang duduk paling pojok kananlah yang berkata, membuat Naruto spontan menatap Kiba tidak percaya atas kesaksian yang Naruto yakini adalah kesaksian palsu.
"Aku melihat Naruto mengganggu Sasuke," lanjut Kiba.
"Iya sensei, aku juga melihatnya. Aku melihat Naruto err…" Shikamaru yang ikut menimpali bingung ingin mengatakan apa karena pada kenyataannya baik Kiba maupun Shikamaru sama sekali tidak memperhatikan apa yang dilakukan Naruto.
"Eh, aku melihat Naruto memukul kepala Sasuke dengan buku paket sebanyak 5 kali," lanjut Shikamaru dengan kebohongannya. Kiba tersenyum dalam hati karena ia merasa drama yang ia mulai sepertinya akan sukses besar. Sedangkan Naruto dalam hati mengumpati mereka berdua.
"Berarti kau tidak melihat yang terakhir karena aku melihat Naruto melakukan itu sebanyak 6 kali," ujar Kiba menambahkan dengan memberi penekanan pada kalimat 'enam kali'. Ekspresinya dibuat senatural mungkin.
Kurenai terlihat tidak percaya dengan perkataan Kiba maupun Shikamaru. Reputasi Naruto sangat bersih. Akan sangat tidak mungkin apabila Naruto melakukan tindakan kekanakan seperti itu.
"Apa ada lagi yang melihatnya?" tanya Kurenai lagi.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Hingga detik ke sepuluh tidak ada yang berbicara. Hingga kemudian, seseorang mengacungkan tangannya dengan mantap.
"Saya melihatnya, sensei," hampir semua mata membelalak ketika melihat Hinata yang berbicara. Tidak pernah mereka sangka jika Hinata lah yang memberikan kesaksian. Hinata duduk di barisan kanan paling depan sedangkan Naruto dan Sasuke di barisan kiri belakang. Jarak yang cukup jauh bukan? Lagipula untuk apa Hinata malah memperhatikan belakang?
"Tidakkah kau sadar jika kesaksianmu membuatku berpikir bahwa kau sibuk memperhatikan belakang dibandingkan memperhatikan pelajaranku?"
"Maaf, sensei. Bukannya saya tidak memperhatikan anda. Saya tidak sengaja melihat Naruto memukul kepala Sasuke ketika mengambil bolpoin saya yang terjatuh. Jika anda tidak percaya dengan perkataan saya, anda bisa bertanya kepada Tenten. Bukankah tadi Tenten belum sempat menjawab pertanyaan anda?" usul Hinata.
"Ya sensei, saya melihatnya. Namikaze Naruto melakukannya 7 kali," Tenten mengatakan dengan mantap. 'Persetan dengan fans labil Naruto. Aku harus menegakkan kebenaran. Ya.. Walaupun sedikit bumbu kebohongan,' batin Tenten.
Kurenai tidak berkutik. Ia tidak bisa untuk tidak percaya walaupun memang sulit dipercaya jika Naruto dengan teganya memukul seorang anak baru dengan sebuah buku paket ditambah lagi Naruto melakukannya sebanyak 7 kali?
"Namikaze Naruto dan Uchiha Sasuke. Kalian kerjakan halaman 55 di perpustakaan dan harus dikumpulkan setelah jam ini selesai. Jangan keluyuran kemana-mana. Aku akan meminta Ashuma sensei untuk mengawasi kalian. Kalian bisa keluar sekarang!"
Saat berjalan keluar kelas, Naruto melihat bahu Shikamaru dan Kiba bergetar di balik buku paket yang menutupi wajah mereka. 'Sialan mereka berdua menertawaiku,' batin Naruto kesal.
Sedangkan Sasuke memberikan kode 'terima kasih' kepada Hinata dan Tenten yang mau membantunya walaupun pada akhirnya dia pun harus menjalani hukuman. Tetapi setidaknya, reputasi Naruto sebagai murid teladan telah tercoreng dan Sasuke sudah sangat puas akan hal itu.
Sasuke sama sekali tidak mengerti apa itu sin, cos, tan, dan semua barisan angka pada soal di depannya. Ada sekitar 20 soal yang harus dijawab dan harus diuraikan pula cara penyelesaiannya. Ia sudah membaca soal pertama hampir sepuluh kali dan ia tak menemukan titik terang. Jika saja saat itu ia tidak sedang menjauhi kakaknya, ia pasti sudah meminta bantuan kakaknya.
Sasuke melihat Naruto yang duduk di pojok ruangan terlihat santai ketika mengerjakan soal. Bahkan Naruto mengerjakan soal yang menurut Sasuke 'sangat laknat'sambil mendengarkan musik. Sasuke merengut tanpa sadar, sejak di sekolah dasar Naruto memang sudah terkenal sebagai siswa jenius. Berbeda dengan dirinya yang sudah terkenal payah di pelajaran matematika. Hal inilah yang menjadi salah satu bahan buli Naruto padanya dan ia tak ingin merasakannya lagi di sekolah menengah.
Naruto yang menyadari Sasuke memperhatikannya ikut menatap balik Sasuke. Walaupun jarak mereka cukup jauh Sasuke tahu Naruto sedang menyeringai. Dan dengan kurang ajarnya Naruto memamerkan lembar jawabnya yang sudah penuh dengan angka-angka. Naruto menghabiskan sekitar 7 lembar untuk menjawab 20 soal dan tanpa beban ia memamerkan satu persatu pada Sasuke.
Sasuke menulis sesuatu di lembar soalnya dengan kebencian yang luar biasa dan kemudian menunjukkannya pada Naruto. Naruto tertawa ketika membaca apa yang ditulis Sasuke.
AKU AKAN MEMBUNUHMU, BAJINGAN!
Naruto tertawa terpingkal-pingkal sedangkan Sasuke masih menggumamkan sumpah serapah sambil menulis jawabannya tanpa melihat soal mengingat beberapa menit lagi jam matematika akan selesai.
"Uchiha Sasuke," seharusnya Sasuke sudah terbiasa dengan sikap dingin Kurenai, tetapi tetap saja ia masih merasakan bulu kuduknya berdiri setiap guru matematikanya ini berbicara padanya apalagi ditambah dengan tatapan dingin mematikan yang menatap tepat ke matanya.
"I-iya," jawab Sasuke terbata-bata. Sebelum masuk ruang guru, Sasuke sudah menyiapkan diri untuk mendapatkan dampratan dari Kurenai. Tetapi tetap saja ia ciut ketika berhadapan langsung dengan sang guru killer.
"Aku tidak tahu apa yang kau pelajari di sekolah lamamu. Perlu kau ketahui bahwa soal no 1 sampai dengan soal nomor 5 merupakan soal dasar dan kau sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu dengan benar."
"Tiga soal pertama yang dijawab Naruto sudah membuatku yakin bahwa dia mengerjakan soal-soal lainnya dengan baik, tetapi kau! Soal pertama, soal yang paling dasar saja kau mengerjakannya asal-asalan. Mana mungkin aku mau menghabiskan waktu berhargaku untuk membaca jawabanmu yang lain yang aku yakini pasti asal-asalan juga!" bentak Kurenai.
Sasuke menunduk. Ia tidak punya apa-apa untuk membela diri karena apa yang dikatakan Kurenai memang benar.
"Sekitar dua minggu lagi akan ada latihan ujian pertama untuk persiapan ujian semester. Aku tidak mau tahu, kau harus sudah menguasai dasarnya. Aku tidak ingin membuat namaku tercoreng karena mempunyai anak didik yang tidak tahu apa-apa."
Kurenai melempar lembar jawaban Sasuke ke tempat sampah. "Aku mengajar matematika di kelasmu, otomatis jika kau tidak becus mengerjakan soal maka orang-orang akan berpikir bahwa aku tidak becus mengajarimu. Maka aku putuskan agar Namikaze Naruto yang akan menjadi tutor matematika mu untuk mengejar ketertinggalanmu selama ini," lanjut Kurenai membuat keputusan. Tentu saja Sasuke protes.
"Namikaze Naruto? Mengapa harus dia, sensei. Saya janji saya akan belajar giat dan-"
"Tidak, Sasuke. Ini sudah keputusanku. Harus ada tutor untukmu."
Sasuke tidak menyerah, "Bagaimana kalau yang lain, sensei? Mungkin Uchiha Itachi? Saya pernah mendengar bahwa dia adalah murid jenius disini," pinta Sasuke. Sasuke rela untuk menurunkan ego nya untuk meminta bantuan kepada kakaknya daripada harus menjadi err – 'murid Naruto'.
Mendegar penolakan terang-terangan Sasuke membuat Naruto kesal. 'Mengapa Sasuke lebih memilih Itachi senpai daripada aku? Sasuke mengenal Itachi senpai juga baru kemarin,' batin Naruto.
Kurenai terlihat mempertimbangkan permintaan Sasuke, "Dia memang pintar. Tetapi aku tidak yakin dia akan meluangkan waktunya untuk menjadi tutormu. Jika kau ingin Uchiha Itachi yang menjadi tutormu, maka kau sendirilah yang memintanya. Jika dia setuju, minta dia untuk datang menemuiku."
Sasuke mengangguk semangat. "Terima kasih, sensei," ujar Sasuke yang mendapat balasan anggukan dari Kurenai.
"Kalian berdua boleh pergi. Aku harap kalian tidak mengacau lagi di kelasku!"
"Baik, sensei," ujar mereka berdua serempak.
"Apa kau sebegitu takutnya padaku hingga kau berusaha untuk tidak berhubungan denganku?" tanya Naruto dengan nada meremehkan yang paling dibenci Sasuke. Sasuke yang berjalan di depan Naruto berhenti. Naruto pun ikut berhenti, menunggu reaksi Sasuke yang ia yakin pasti akan meledak-ledak.
"Aku sungguh membencimu, Namikaze. Tidakkah kau bisa menarik kesimpulan sendiri? Aku tidak ingin berhubungan denganmu. Tetapi bukan berarti aku takut," ujar Sasuke masih dalam keadaaan membelakangi Naruto.
Sasuke mendengar Naruto tertawa. "Benarkah itu? Benarkah kau tidak takut kepadaku? Aku bisa melihat ketakutan di matamu setiap kau melihatku. Lagipula bukankah aneh ketika kau lebih memilih Itachi senpai untuk menjadi tutormu padahal kau belum begitu mengenalnya, ditambah lagi dia disibukkan dengan tugasnya sebagai ketua Dewan Sekolah. Apa kau tidak tahu malu dengan menambah beban Itachi senpai hanya untuk mengajarimu berhitung?" cerca Naruto.
Sasuke menggeram marah. Ia berbalik cepat dan mendorong Naruto ke dinding kemudian menarik kerah seragam Naruto. "Dengar Namikaze! Jauhkan pikiran bodohmu tentang dugaanmu bahwa aku takut padamu. Apa yang perlu ditakutkan dari orang sepertimu?"
Naruto menyeringai, ia sangat terhibur dengan apa yang dilakukan Sasuke. Semua yang dilakukan Sasuke mengingatkannya pada perlawanan Sasuke ketika ia buli saat di sekolah dasar. Sifat tidak mau kalah dan kekeraskepalaan Sasuke ternyata masih sama.
"Kalau kau tidak takut padaku, lalu mengapa kau harus menghindar? Kau jadi muridku dan aku jadi tutormu. Selesai kan?"
"Apa yang bisa menjadi jaminan bahwa kau melakukannya dengan benar? Bisa saja kau hanya main-main dan membuat semuanya semakin buruk!"
Naruto memegang kedua tangan Sasuke yang masih mencengkeram kerah seragamnya, dengan paksa ia melepas cengkeraman itu. Kemudian Naruto memegang pundak sempit Sasuke dan berbalik memenjarakan Sasuke diantara tembok dan tubuhnya. Sasuke terlihat semakin marah.
"Perlu kau ketahui bahwa Namikaze Naruto memiliki reputasi yang luar biasa cemerlang di sekolah. Dia tidak mungkin mencemarkan namanya dengan menjadikan muridnya yang bodoh menjadi semakin bodoh. Dan harus kau ingat! Aku melakukan ini bukan karena ingin membantumu, Sasuke."
Naruto semakin mendekat, membisikkan sesuatu kepada Sasuke, "Aku hanya ingin mengetahui apakah level kebodohanmu masih sama seperti ketika kau di sekolah dasar."
Sasuke menatap Naruto dengan tatapan paling tajam yang ia punya, "SIALAN KAU NAMIKAZE NARUTO!"
Sasuke tidak mempunyai pilihan lain. Dengah penuh keterpaksaan, ia harus diajari matematika oleh seseorang yang ia labeli sebagai makhluk paling menyebalkan seantero jagad raya. Ia sudah meminta pendapat Itachi lewat pesan singkat dan parahnya Itachi malah menyetujuinya. Padahal ia sempat berharap setelah Itachi menerima pesannya, kakaknya itu langsung menghadap Kurenai dan menawarkan diri untuk menjadi tutornya. Kakaknya memang sangat tidak peka.
Jadinya setelah bel pulang sekolah berbunyi, Sasuke menunggu Naruto di parkiran. Sasuke pikir ketika Naruto memutuskan menjadikan manshion Namikaze sebagai tempat belajar adalah hal yang paling buruk, tetapi ternyata ada yang lebih buruk. Di hari itu juga, Namikaze Naruto akan memulai kelas pembelajaran pertamanya. 'Sialan, kenapa langsung dimulai hari ini?' batin Sasuke.
"Cepat naik!" perintah Naruto sambil melemparkan helm ke arahnya.
"Kau membawa dua helm?" tanya Sasuke sambil menimang-nimang helm yang dibawanya.
"Itu milik Shikamaru. Besok kau bawa helm sendiri!"
Sasuke mencibir. "Iya-iya.." ujarnya sambil naik ke motor Naruto.
"Jangan memegang pinggangku, pundakku, apalagi memelukku! Cari pegangan lain!" Sasuke memutar bola matanya bosan, "Siapa juga yang mau memelukmu!" sungut Sasuke.
Tetapi pada akhirnya Sasuke secara spontan memeluk Naruto karena cara berkendara Naruto yang kebut-kebutan. Naruto diam-diam tersenyum ketika setiap ia membelok tajam atau menyalip, pelukan Sasuke mengerat diiringi dengan umpatan-umpatan dari bibir Sasuke. Dan setelah sampai, Sasuke dengan membabi buta memukuli Naruto dengan helm pinjamannya.
Sasuke tahu jika keluarga Namikaze dikenal sebagai keluarga paling kaya di Jepang. Sasuke yang dari kalangan atas pun bisa terpesona dengan manshion Namikaze yang indah. Ia berusaha menyembunyikan kekagumannya, tetapi nyatanya itu sia-sia. Secara tidak sadar kepala Sasuke menoleh ke kanan dan ke kiri sambil berdecak kagum.
"Dimana-mana ada cctv. Jadi jangan berpikir untuk mengambil barang yang bukan milikmu, Uchiha Sasuke!" ujar Naruto.
"APA KAU BILANG-"
"Naruto, siapa perempuan cantik ini?"
Pertengkaran mereka harus terhenti ketika sebuah suara menginterupsi mereka. Seorang wanita paruh baya yang sangat cantik menghampiri mereka berdua.
"Kaachan, ini Uchiha Sasuke," jawab Naruto. Walaupun Sasuke membenci Naruto, tetapi ia tidak masih bisa berpikir realistis untuk tidak membenci keluarga Naruto, apalagi wanita paruh baya di depannya ini yang terlihat sangat ramah.
"Selamat siang, bibi," sapa Sasuke sopan.
"Aku Namikaze Kushina. Ibu dari Naruto. Senang bertemu denganmu, Sasuke," wanita bernama Kushina itu tersenyum yang dibalas senyuman juga oleh Sasuke. "Senang bertemu dengan Bibi."
"Ayo duduk dulu," Kushina mempersilakan Sasuke untuk duduk di ruang tamu.
"Tidak, Kaachan. Kita langsung saja ke kamarku. Aku harus segera mengajari si bodoh ini! Jika menunggu lebih lama, bisa jadi otaknya akan semakin berkarat," ujar Naruto. Sasuke menatap Naruto dengan tatapan tidak terima.
"Oh, jadi kalian akan belajar bersama? Baiklah. Kaachan akan menyiapkan cemilan untuk kalian berdua. Sasuke, anggap saja rumah sendiri ya…" ujar Kushina menatap Sasuke dengan tatapan lembut. Sedetik kemudian, ketika Kushina menatap Naruto, tatapan Kushina berubah menjadi tatapan menusuk, "Jangan berbicara seperti itu pada Sasuke! Mengerti!"
Naruto mengangguk malas. Naruto memberi kode Sasuke untuk mengikutinya. "Saya belajar dulu ya Bibi!" pamit Sasuke. Kushina mengangguk, "Kalau Naruto bertingkah menyebalkan, jitak saja kepalanya!" Sasuke nyengir mendengarnya.
"Ya Tuhan, Sasuke! Aku tahu kau bodoh, tetapi aku tidak menyangka jika kau sebodoh ini! Untuk saat ini saja, gunakan otakmu yang kecil itu! Untung kebodohan tidak menular. Jika itu terjadi maka bla bla bla,"
Sasuke menatap Naruto kesal. Hampir 1 jam ia belajar, dan hampir 1 jam pula ia mendengar umpatan dan celaan dari Naruto yang menurut Sasuke sok jenius. Sasuke tahu jika ia tidak sebodoh itu, setidaknya ia bisa menyelesaikan beberapa soal. Tetapi Naruto sama sekali tidak menghargai usahanya. Alih-alih memujinya (ingat! Sasuke tidak berharap Naruto memujinya), Naruto malah mengatakan jika itu hanyalah kebetulan semata. Sasuke yakin seratus persen jika mulut Naruto memang paling bisa diandalkan untuk hal-hal negatif saja.
"Kau mengerti?" tanya Naruto dengan nada sedikit membentak.
'Mengerti apa?' batin Sasuke. Beberapa detik yang lalu otaknya sedikit nge -blank dan sama sekali tidak memperhatikan apa yang disampaikan oleh Naruto. Parahnya Naruto sepertinya menyadari kebingungannya. Ketika melihat Naruto sepertinya akan meledak-ledak, Sasuke memberikan cengiran terbaiknya dan berkata, "Bagaimana kalau pelajaran hari ini cukup sampai disini. Tidak efektif jika kita belajar terlalu lama. Akan lebih baik belajar sebentar tetapi …"
"Siapa kau berani mengajariku?" kali ini Naruto dengan sengaja mengeluarkan aura dominannya. Sebagai seorang alpha, ia dapat mengeluarkan auranya yang membuat orang-orang di sekitarnya merasa terintimidasi, terutama kaum omega. Naruto memang jarang mengeluarkan auranya karena ia memiliki aura yang begitu kuat. Pernah beberapa murid beta dari sekolah lain menantangnya berkelahi, tetapi hanya dengan mengeluarkan auranya, mereka langsung kocar-kacir melarikan diri karena takut. Naruto juga penah melakukan itu kepada omega yang menggodanya. Dan seperti yang ia duga, omega itu juga ketakutan. Untuk saat ini, ia hanya ingin main-main dengan Sasuke. 'Biar dia tahu posisinya sebagai seorang omega,' batin Naruto.
Akan tetapi, reaksi Sasuke tidak seperti yang ia harapkan.
Entah apa yang dipikirkan Sasuke, tiba-tiba Sasuke merangkak menuju Naruto dengan tatapan yang sulit diartikan, tatapan seksi dan menggoda yang membuat dada Naruto berdesir. Naruto menelan ludahnya dengan susah payah.
Tidak berhenti sampai di situ. Sasuke langsung duduk di pangkuan Naruto sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher Naruto, mendekap Naruto begitu erat. Naruto menahan nafas ketika ia merasakan Sasuke mengendus-endus lehernya.
'Oh Tuhan, apa yang dilakukannya?' batin Naruto. Jantungnya berdetak begitu kencang. Ada sensasi menggelitik di perutnya yang terasa begitu menyenangkan. Dan ia menyukai sensasi itu.
Tiba-tiba Naruto merasa pelukan Sasuke melonggar dan Sasuke berhenti mengendus-endus lehernya. Kepala Sasuke terkulai lemah di bahunya. Entah tidur atau pingsan, Naruto tidak tahu. Yang harus ia lakukan saat itu adalah menetralkan detak jantungnya terlebih dahulu.
"Permainan apa yang kau lakukan, Sasuke?" bisik Naruto lirih sambil menggendong Sasuke dan membaringkannya ke ranjangnya.
"Kau tidak ingat apa-apa?" tanya Naruto sangsi ketika Sasuke mengatakan tidak mengingat apa yang telah dilakukannya sebelum pingsan. Saat itu mereka sedang berjalan menuju lantai bawah.
"Tidak. Memang apa yang aku lakukan?" tanya Sasuke enteng. Padahal apa yang dilakukan Sasuke sempat membuat Naruto mati kutu.
"Tidak usah dipikirkan."
"Sasuke!" seru Kushina setengah berlari menghampiri Sasuke.
"Kau sudah tidak apa-apa? Kalau kau masih pusing kau bisa menginap disini," ujar Kushina.
"Terima kasih bibi, tapi saya harus pulang. Terima kasih untuk hari ini. Kue nya enak sekali," puji Sasuke. Kushina tersenyum. "Aku akan membuat kue yang lebih enak lagi jika kau berkunjung kesini lagi. Bukankah kau besok akan belajar lagi dengan Naruto?"
"Tidak, Kaachan. Aku besok sore ada latih tanding untuk persiapan turnamen. Mungkin lusa," jawab Naruto. Kushina kecewa mendengarnya.
"Baiklah. Hati-hati di jalan," dan Sasuke pun pamit.
"Namikaze, mengapa kau mengantarku dengan menggunakan mobil? Lebih enak naik motor, kau tahu?" tanya Sasuke.
"Ck, lebih enak naik motor kepalamu! Kau tadi mengumpati ku sepanjang jalan!" protes Naruto.
"Habis kau mengebut sih! Jadi mengapa kau menggunakan mobil, Namikaze?"
"Kaachan yang menyuruhku menggunakan mobil untuk mengantarmu. Katanya angin malam tidak baik untuk wanita bodoh dan lemah yang pingsan hanya karena belajar matematika sepertimu!" jawab Naruto. Sebenarnya Kushina tidak pernah meminta Naruto untuk mengantarkan Sasuke dengan menggunakan mobil. Itu hanyalah inisiatif Naruto sendiri karena khawatir Sasuke masih pusing atau parahnya pingsan di perjalanan. Naruto tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya pada Sasuke kan?
"Wanita lemah kau bilang?" Sasuke dengan sekuat tenaga berusaha mencekik Naruto yang sedang menyetir.
"Hei-hei. Aku sedang menyetir, bodoh! Heiii-"
"KAU PIKIR AKU PEDULI!" dan Sasuke masih berusaha mencekik Naruto.
Setelah acara cekik mencekik di sepanjang perjalanan, akhirnya mereka pun sampai.
"Jadi ini rumahmu?" Naruto memberhentikan mobilnya di depan sebuah rumah minimalis dengan taman yang lumayan luas.
Sasuke mengangguk.
"Tentu saja," jawab Sasuke. Tidak mungkin Sasuke membiarkan Naruto mengantarkannya sampai ke rumah 'aslinya'. Jadinya ia memilih untuk mengaku-ngaku bahwa rumah yang Sasuke sendiri tidak tahu siapa pemiliknya sebagai rumahnya.
"Kalau begitu aku akan masuk-"
"Eh jangan! Kau harus pulang! Aku tidak menerima tamu di malam hari, apalagi tukang buli sepertimu!"
"Aku besok bertanding," ujar Naruto tiba-tiba.
"Apa?"
"Lupakan! Belajar lah dulu sebelum tidur!" dan setelah mengatakan itu, Naruto pergi.
Sasuke menatap mobil Naruto yang pergi menjauh. Ia kemudian mengirim pesan kepada sopirnya untuk menjemputnya. Sembari menunggu, Sasuke duduk dengan bersandar pada pagar tembok rumah yang diakuinya tadi.
Hari itu adalah hari yang panjang bagi Sasuke. Hari yang panjang sekaligus menyenangkan. Selama 2 hari bersekolah di sekolahnya yang baru, ia sudah dipertemukan dengan banyak teman baik. Dipertemukan dengan teman-teman baik yang menyambungkan tali takdirnya bersama Naruto. Siapa yang menyangka jika niatnya untuk menghindari Naruto malah berakhir menjadi murid Naruto dan bahkan sampai berkunjung ke rumahnya.
Naruto memang tidak semenyebalkan dulu. Tetapi ia masih tidak bisa menerima jika Naruto lah yang menjadi mate nya. Ia ingin mencari pasangan yang pengertian padanya, bukan seperti Naruto yang selalu mengibarkan bendera perang.
Keputusan untuk tetap menyembunyikan identitasnya sebagai mate Naruto menurut Sasuke sudah benar. Dan ia akan menyembunyikannya setidaknya sampai ia bertemu bulan purnama lagi.
TBC…
Balasan
sembentopan17 : udah lanjut nih. Makasih ya udah mereview.
N.S LOVERS : udah lanjutttt….. Makasih ya udah mereview
Arum Junnie : saya juga suka sama cerita ABO. Makasih ya sudah mereview.
Teza : udah lanjuuutt. Makasih ya udah mereview.
Fahrie Hamada : udah lanjuuttttttttt. Makasih udah mereview.
Aoi : Iya itu typo… FF ini sebenarnya buat pair Naruto x Sasuke. Tetapi kujadikan Narusasu. Eh ternyata masih banyak typo nya. Makasih atas koreksi dan review nya.
aifebry : udah lanjuuuuuttt. Makasih udah mereview
Review anda membuat saya semangat untuk menulis chapter selanjutnya…
Jadi jangan lupa review ya..
