Disclaimer: Naruto hanya milik Masashi Kishimoto semata
Just trust me chapter 4
.
.
.
Seekor rusa sedang berjalan dan berhenti untuk memakan rerumputan di hutan yang bisa dibilang cukup lebat. Dia menoleh kesana kemari dan merasakan kejanggala. Dia merasa ada yang mengawasinya.
Kresek!
Dia berbalik arah dan tidak melihat apapun. Namun dia makin was-was hingga sesosok bayangan melewatinya. Dia segera membalikkan badan dan mendapati sesosok manusia menyerang dan mencekiknya.
Tak ada pilihan lain…..
…..
Sasuke mendapati Sai yang sudah 'kembali' sedang memperhatikan daerah di sekitarnya. Termasuk dirinya. Namun Sai memandang Sasuke dengan tatapan takut dan waspada. Tatapan yang mirip seperti seseorang yang sedang diculik. Sasuke menghela napas dan berjalan mendekati Sai.
Sai berniat menjauh namun karena ikatan yang sangat kuat membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa. Dia hanya menatap ke arah lain. Sasuke mengeluarkan botol yang berisi cairan berwarna merah dan menyodorkannya pada Sai. sai berjengit kaget.
Sasuke akhirnya menyadari bahwa Sai belum mengetahui keadaannya yang sebenarnya. Dia hanya berusaha untuk membujuk Sai. namun hal itu tidak berguna sama sekali. Sai memang sepenuhnya 'bersikap' seperti manusia biasa.
Sai's POV
Aku membuka mata dan mendapati tubuhku yang terikat kuat dengan pohon yang cukup besar. Aku mencoba menggerak-gerakkan tubuhku namun ujung-ujungnya aku menggores kulitku sendiri dengan benar yang kupikir sekuat benang baja. Aku memandang sekeliling….
Hutan?
Kudengar langkah kaki yang berjalan ke arahku. Aku menoleh ke arah sumber suara. Aku mendapati seorang remaja seusiaku sedang berjalan mendekatiku. Sebentar, bukankah dia itu remaaj yang aku tabrak beberapa hari yang lalu?
Dia berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan posisiku yang sedang duduk terikat. Aku bisa melihat darah yang mengalir dari kedua sudut bibirnya. Firasatku tidak enak. Entah kenapa aku berpikir kalau itu bukan darahnya sendiri. Apa dia adalah seorang vampire?
Aku mencoba untuk menjauh namun ikatan ini sangatlah kuat. Dia memandangku. Aku memandang kea rah lain dan tiba-tiba saja dia menyodorkan sebuah botol yang berisi cairan. Bau khas darah mulai menguar.
Tentu saja aku menolak mentah-mentah. Bagaimana mungkin aku harus minum darah padahal aku adalah manusia?
Bau darah merasuk ke penciumanku. Entah kenapa aku ingin sekali mencicipinya. Yah, mencicipi cairan merah yang dibawa oleh remaja seumuranku itu. Tenggorokanku terasa terbakar. Entah kenapa rasa haus mulai menguasaiku.
" Kau akan mati jika tidak meminum darah. Kau sudah lebih dari setahun tidak meminum darah asli," ucapnya.
He?
Yang benar saja!
"Kumohon minumlah. Kau bisa mati jika tidak meminumnya. Aku tahu kau memang menolak. Tapi aku juga tahu kalau instingmu berkata lain. Kau adalah vampire Sai," ucapnya.
Vampire?
Candaan macam apa ini?
Jika aku vampire mungkin aku sudah tidak bisa pergi ke sekolah karena sengatan sinar matahari. Lalu kenapa aku bisa berangkat ke sekolah dan berlaku layaknya seorang manusia? Lalu, bagaimana dengan dirnya? Jangan bilang kalau orang ini adalah vampire juga! Sejak kapan vampire betah di bawah sinar matahari?
Dia memegangi ke dua pundakku dengan kedua tangannya. Lalu dia menyuruhku untuk memandang dirinya. Aku mau tak mau memandangnya.
" Aku juga vampire dan aku adalah kakakmu Sai. ingatlah itu. Kita dari klan Uchiha. Klan yang mampu bertahan di bawah sinar matahari. Dan kau adalah bagian dari klan Uchiha," ucapnya.
" Jangan bercanda. Aku tidak memiliki mata ilusi milik klan Uchiha," uacoku datar. Entah darimana aku dapat informasi itu.
Yah, banyak yang bilang aku adalah jagonya sejarah di sekolah. Padahal, aku jarang membuka buku sejarah. Yang kutahu hanyalah aku tahu kenapa dan kapan kejadian bersejarah itu terjadi. Bahkan aku mampu menjelaskannya secara mendetail.
Entah kenapa…
" Darimana kau tahu namaku? Apa sebenarnya maumu?" ucapku. Dia makin mengencangkan cengkramannya di bahuku. Rasanya sangat menyakitkan. Padahal rasa sakit yang kurasakan beberapa hari yang lalu belum hilang sepenuhnya. Mau tak mau aku meringis.
" Aku adalah kakakmu. Sasuke. Uchiha Sasuke," ucapnya. Tiba-tiba nama itu terngiang-ngiang di kepalaku. Aku hanya merasa pernah menyebut ataupun mendengar kata itu. Namun semakin aku berusaha untuk mengingat, kepalaku makin sakit.
Dia mencoba untuk 'menyuapiku'. aku hanya mengikuti keinginan tubuhku untuk meneguk sedikit demi sedikit cairan yang dialirkannya ke dalam mulutku. Rasanya memang aneh, tapi aku menyukainya.
Apakah aku benar-benar seorang vampire?
Tiba-tiba rasa panas muncul di tenggorokanku. Aku terbatuk-batuk. Rasanya seperti ada sesuatu yang berusaha untuk menolak cairan yang kuminum.
Sai's POV end
.
.
Sasuke POV
Aku terkejut ketika Sai terbatuk-batuk. Cairan yang baru diminumnya terpaksa dimuntahkan. Aku makin panic. Aku bisa merasakan tubuh Sai yang melemah. Sialan! Apa yang telah dilakukan oleh kakek tua itu pada Sai?
Aku hanya bisa melepaskan ikatannya. Berharap agar dia bisa menarik napas lebih dalam. Namun batuknya tak kunjung berhenti.
Sebentar…..
Aku melihat sesuatu yang aneh di lidahnya.
" Sai, buka mulutmu."
Dia hanya memandangku dengan tatapan tanda Tanya.
"Percayalah padaku sai. aku adalah kakakmu. Aku hanya ingin melihat sesuatu yang ada di lidahmu. Mungkin itu adalah penyebab kenapa kau tidak bisa meminum darah. Percayalah padaku," ucapku. Akhirnya dia mau membuka mulutnya. Aku bisa melihat garis aneh yang terpatri di lidahnya. Kurasa ini adalah semacam segel.
Segel yang rumit, pikirku. Kurasa tebakanku mengenai kakek tua itu benar. Dia bukan manusia biasa. Aku yakin itu.
Aku mengakui aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku bukan ahlinya dalam segel menyegel. Kurasa aku harus segera membawanya ke Kakashi-san. aku yakin pasti dia bisa melepaskan Sai dari segel ini.
Sai terbatuk-batuk lagi. Kurasa dia sudah sampai batas rasa hausnya. Aku bingung harus bagaimana. Sudah jelas dia sedang disegel. Sialnya, aku belum pernah sekalipun berhasil dalam upaya 'menjinakkan' segel apapun. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Tapi jika aku tidak bisa berbuat apa-apa maka Sai bisa mati.
Sekali lagi kuperhatikan segel itu. Kupaksa Sai untuk membuka mulut dan menjulurkan lidahnya. Kuperhatikan sekali lagi. Kurasa aku pernah mendengar tentang segel ini.
Aku mulai menelusuri memory-ku. Kucoba untuk mengingat-ingat. Ayolah! Kenapa di saat seperti ini ingatanku serasa menghilang seluruhnya?
'Memang ada sebuah segel yang membuat kita bertingkah layaknya manusia. Tidak bisa meminum darah adalah salah satunya. Meski sudah sadar dari segel itu, kau tidak bisa meminum darah manusia maupun hewan seenaknya. Tubuhmu yang telah berada dalam pengaruh segel akan segera menolak darah yang kau minum.'
Kata-kata dari Kakashi-san membuatku kembali menatap segel yang berada di lidah Sai. apa benar ini yang bernama segel kutukan? Jika benar bagaimana cara mengatasinya?
Aku merasakan tubuh Sai yang semakin melemah.
Tunggu sebentar…
Yang kuingat hanya darah manusia dan hewan bukan? Bagaimana dengan darah vampire?
Tapi…. Bukankah itu bisa dibilang kanibal? Ah! Aku tidak perduli!
Aku segera menggigit urat di bagian pergelangan tangan kananku. Aku memberikannya pada Sai. sai dengan segera menghisap darah yang mengucur dari pergelangan tanganku. Baru kali ini aku merasakan apa yang dirasakan oleh mengsaku. Darah yang dihisap dengan perlahan dan mulai meninggalkan tubuhku. Rasanya lemas.
Sai menengadahkan kepalanya. Matanya memandang mataku. Lalu dengan segera dia melepas mulutnya dari pergelangan tanganku dan menyeka bekas darah yang berada di ujung bibirnya. Aneh sekali. Aku tahu dia masih haus tapi….
" Aku tidak akan menghisap lagi. Kau sudah terlihat lemas. Aku tidak sanggup," ucapnya. Aku hanya tersenyum. Meskipun ingatannya bisa dibilang 'menghilang', namun sifatnya tetap saja seperti itu. Kau mau menyamakan aku dengan mangsamu eh?
Tiba-tiba Sai meletakkan telapak tangan kanannya di atas tanganku yang tersayat. Cahaya berpendarr dari telapak tangannya. Dan lukaku menutup sempurna. Darimana dia belajar tehknik itu?
" Sai, kau…. Bagaimana bisa kau melakukan ini?" tanyaku. Dia masih sibuk dengan tanganku.
" Entahlah, yang aku tahu aku bisa melakukan ini. entah darimana yang jelas aku tahu," ucapnya. Aku menatapnya.
Sai, kau selalu penuh dengan rahasia. Belum hilang rasa terkejutku mengenai pertarunganmu dan semangat membunuhmu tanpa ampun, sekarang kau mengejutkanku lagi dengan kemampuan penyembuhanmu ini.
Apa masih ada rahasia yang kau simpan dariku?
Sasuke's POV end
.
.
.
.
To be continued
.
.
.
Author's note:
Maaf Kasumi update-nya lama. Para reader-sama masih setia kan buat membaca fanfic Kasumi ini? pasti para reader-sama sudha kewalahan nungguin nih update-an *reader: nih author ge-er banget sih!*
Ada yang mau review?
