하는 외국인

by : LynCliff

Disclaimer : I don't own SuJu, but this story is mine

Warning : Fanfic Mulchap pertama, Alur kecepetan, OOC, AU, Typo berserakan, BL, YAOI.

Genre : Misteri - Romance - Action *nano nano pokoknya*

Rate : T -buat jaga jaga-

Cast : WONKYU and other

.

^Happy Reading^


DOR

'Gyu..'

Siwon reflek jongkok saat mendengar suara yang memekakan telinga itu. Orang berlalu lalang mencari tempat persembunyian. Bodyguard yang berdiri di sekitar panggung mengerubungi orang di panggung. Suara bising teriakan ketakutan memekakan telinga. Siwon masih dengan memeluk Gyu. Dia mendapati tubuh di depannya gemetar. Siwon memaklumi itu. Dia berusaha membuka matanya di tengah derap langkah kaki yang menghalanginya. Benar saja, di panggung itu sang menteri sudah ambruk. Sepertinya menteri itu yang jadi sasarannya. Siwon menengokan kepalanya ke segala arah, mencari si pelaku. Sniper itu, ada dimana? Batin Siwon. Tapi untuk kali ini sepertinya Gyu lebih penting. Siwon bisa mendengar gumaman aneh dan isak tangis dari bocah itu. Tubuh Gyu juga gemetar hebat. Siwon memeluk tubuh Gyu. Mengusapnya untuk membuat Gyu tenang.

"Aku akan melindungimu, aku akan melindungimu." Bisiknya. Bisikan itu terus Siwon lantunkan sampai ruangan pameran sedikit lenggang, meski dalam kurun hitungan detik itu masih banyak yang heboh. Aparat kepolisian belum ada yang datang. Siwon memapah tubuh Gyu keluar. Bising bukan tempat yang cocok untuk orang yang sedang depresi.

"Aku akan melindungimu, tenanglah."

Mereka sampai di area parkir. Sementara Siwon bisa melihat serombongan pasukan polisi mulai berdatangan ke lokasi kejadian. Ambulance mulai mengangkat sang menteri. Siwon bisa melihat Yoona mengomando beberapa orang untuk tetap tenang. Ryewook mengamankan orang tua. Lalu Teuk berlari ke dalam dengan Kangin. Siwon segera menutup pintu Gyu. Dia mengitari mobilnya, lalu mengambil alih kemudi.

"Tenang. Aku ada disini, aku akan melindungimu."

Gyu tetap depresi. Anak itu sangat ketakutan. Padahal Mobil Siwon sudah sedikit jauh dari taman hiburan. Tangan kanan Siwon terulur untuk mengusap surai coklat Gyu. Dia tidak tega melihat Gyu yang seperti itu. Air mata Gyu terus menetes, juga gumaman aneh yang tidak Siwon mengerti. Siwon harus membawa Gyu ke apartmennya. Menenangkan anak itu.

.

Siwon menghentikan mobilnya. Tangannya tidak pernah pindah untuk mengusap surai coklat milik Gyu. Dia mencium pucuk kepala Gyu sekilas. Lalu membuka pintu. Dia memapah Gyu yang masih gemetar campur depresi. Siwon menatap Gyu, ini tidak mungkin bagi Gyu untuk berjalan normal ke apartmen. Tanpa pikir panjang Siwon langsung menggendong Gyu dengan bridal style. Masa bodo dengan tatapan aneh orang di sekitar apartmen. Siwon berlari ke lift.

"Bicara padaku, Gyu." Gumamnya sebelum bunyi 'ting' Lift terdengar. Lantai 13 nomor 10, Siwon melenggang masuk ke kamarnya. Masih mengenakan sepatu, Siwon meletakan Gyu di temat tidurnya. Dia menggenggam tangan Gyu yang sangat dingin. Siwon sendiri kebingungan harus melakukan apa. Dia menyalakan penghangat ruangan. Menaikkan selimut untuk Gyu agar anak itu sedikit hangat. Masih sama. Siwon putuskan untuk mengambil air mineral. Dia menyerahkan air itu untuk Gyu, benar saja, Gyu segera menghabiskan air itu.

"Hah...hah.."

"Bicara padaku, Gyu." Siwon menggenggam tangan putih itu sekali lagi.

"W-Wonssi.."

"Ya, aku di sini. Aku akan melindungimu."

"Wonssi.."

Siwon tidak bisa menahan tubuhnya yang bergerak untuk memeluk Gyu. Dia naik ke tempat tidur, mencium kepala Gyu, lalu memeluk anak itu erat. Hitung-hitung juga sebagai penghangat alami. "Aku di sini."

"Mereka, aku yang membunuh mereka.."

"Bukan, kau bukan pembunuh."

"Tapi...suara mereka...mereka menjerit...lalu aku yang...mereka."

"Ssst...tenang, Gyu. Kau anak baik."

"Tidak, aku yang...Mmh-."

Siwon tidak tahan mendengar gumaman aneh Gyu. Dia menarik dagu Gyu, lalu menyumpal mulut itu dengan mulutnya. Dia menghispan bibir Gyu agar berhenti bicara. Gyu membelalakan matanya. Kaget dengan reaksi Siwon. Dia mendorong bahu Siwon, namun ini terlalu memabukan. Tangan Gyu bergerak. Dia menarik-narik kaos yang Siwon kenakan. Ini tidak benar, pikir Gyu.

"Hah.."

"Kau anak baik."

Pelukan hangat kembali Siwon lancarkan. Gyu tidak bisa protes. Dia hanya menenggelamkan kepalanya di dada Siwon. Mencari kehangatan lebih dari pria itu. Seperti anak kucing. Siwon tidak ada hentinya mencium pucuk kepala Gyu. Siwon bisa mendengar nafas Gyu tidak memburu lagi. Anak itu juga menghangat. Siwon tersenyum dalam ciumannya di kepala Gyu. Gyu juga sama, dia tersenyum di dada Siwon. Kehangatan ini, mereka berharap waktu berhenti saat itu juga. Well, Siwon benar-benar melupakan misinya sekarang.

Drrt...Drrt...

Ponsel Siwon bergetar. Gyu mengangkat kepalanya menatap Siwon. Siwon mengerutkan dahinya. Lalu kembali mencium kepala Gyu. Siwon tidak peduli dengan getar ponselnya. Dia hanya ingin memeluk Gyu lebih lama. Menghirup bau shampoo yang sama sepertinya. Meletakan kepalanya di kulit halus Gyu. Gyu jadi tidak enak. Tapi karena Siwon sendiri tidak peduli, dia juga tidak peduli. Kebersamaan ini terlalu disayangkan jika terlewat begitu saja. Gyu kembali mencari kehangatan di tubuh Siwon.

Drrt...Drrt

"Won-ssi.."

"Hm?"

"Ponselmu."

"Biarkan saja."

Gyu menurut. Dia kembali memeluk Siwon.

Drrt..Drrt

Sudah cukup. Meski Gyu juga merasa terganggu dengan getaran ponsel Siwon, dia juga sadar. Siwon polisi, mungkin saja itu telepon penting. Getaran itu terus berlangsung. Karena kesal Siwon belum juga mengangkat panggilan itu, Gyu mencubit perut Siwon. Siwon mengaduh pelan. "Iya iya." Kata Siwon, lalu mengangkat ponselnya.

"Yeobseo."

"Won! Ke markas sekarang! Bawa 'anak itu' juga!"

"Ada apa, Teuk-ssi?"

"Cepat ke markas, ini perintah!"

Pip..

"Huh, pasti yang tadi modusmu, kan? Katanya bukan Gay." Kata Gyu, dia mempoutkan pipinya. Gurauannya kali ini tidak ditanggapi Siwon seperti biasanya. Siwon menatap Gyu. Pria bermarga Choi itu sedang berdebat dengan pikirannya. Gyu sendiri juga jadi tegang. Ada apa? Tanyanya dalam batin. Dia menormalkan pipinya, lalu berdiri. "Won-ssi.."

"Gyu, firasatku buruk."

"Ada apa?"

Siwon mengusap wajahnya. Dia jadi panik sendiri, padahal belum tahu maksud dari telepon Teuk barusan. Firasatnya mengatakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada Gyu. Yeah, firasatnya tajam. Dan untuk kali ini Siwon ingin tidak percaya pada firasatnya.

"Kau."

Drrt...Drrt...

Siwon menggeser layar ponselnya. Pesan dari Teuk.

.

From: Teuk

Ke markas sekarang juga!

.

"Ikut aku, Gyu!"

Gyu yang tidak tahu apapun ditarik paksa oleh Siwon.

'Won-ssi..'

.

Bahkan saat audi putih itu melaju di jalanan Seoul, Siwon tetap dengan muka dinginnya. Emosi yang berubah dengan cepat, Gyu merasa takut. Siwon di sampingnya lebih seperti seorang pembunuh. Mengendarai Audi itu dengan kecepatan tinggi. Gyu jadi ingin menangis, sementara batinnya terus bergejolak meminta alasan. Padahal Depresinya belum sembuh total, dia masih membutuhkan Siwon yang peduli padanya. Gyu tidak berani membuka mulut, melirik Siwon pun Gyu tidak berani. Decit rem berbunyi. Gyu melirik kanan jalan tempat berdirinya markas kepolisian Seoul. Ini kedua kalinya Gyu bertandang ke tempat kerja Siwon. Siwon melepas sabuk pengaman.

"Tetap di dalam. Jangan lakukan apapun yang membuat orang lain tahu kau bersamaku."

Gyu menahan tangan Siwon, "Tapi kenapa?"

"Alasannya nanti saja. Ini penting."

Siwon menutup pintu mobil. Meninggalkan Gyu dengan berjuta kekhawatiran. Well, Siwon juga deg-degan sendiri mendapat panggilan darurat seperti itu. Apa ini ada hubungannya dengan penembakan menteri tadi siang?

.

Siwon menjeblak pintu besi di depannya. Di ruangan itu sudah berkumpul semua inspektur di tiap divisi. Siwon berdehem untuk mencairkan suasana. Dia mengambil duduk di samping Ryewook. Hechul juga ada di sana, begitupun Henry. Siwon kembali menoleh ke arah Henry yang sedang melihat Teuk menampilkan sebuah foto. Henry ada di sini? Tumben sekali.

"Won! Aku mau tanya." Suara Teuk yang tegas mengagetkan Siwon. Pria bermarga Choi itu segera menegakan tubuhnya. Sialan, dia juga tidak memakai seragam resmi karena memang tadi langsung ke markas tanpa ganti.

"Kemana kau membawa anak itu?"

Siwon langsung paham ketika Teuk menyebut 'anak itu', tidak salah lagi, pasti yang di maksud adalah Gyu. Siwon meletakan tangannya di meja, dia memainkan matanya sebentar. Mencari alasan, karena sedari tadi firasatnya buruk. Hawa di sekitarnya seperti sedang mengintrogasinya.

"Ke.."

"Taman hiburan 'itu', kan?" kata Teuk. Skakmat menimpa Siwon. Pria berlesung pipi itu mengangguk mengiyakan.

"Kau menyaksikan peristiwa 'itu'?"

Siwon mengangguk lagi.

"Kau tahu pelakunya?"

Swon menggeleng. Teuk memencet tombol di tangannya. Sebuah Slide gambar rekaman CCTV muncul di layar proyektor. Siwon menyipitkan matanya. Mengenakan topi dan masker, dengan rambut coklat. Tinggi sama seperti Gyu. Sebuah Sniper tersembunyi di balik jaket.

"Kau pasti bisa menebak orang itu." Kata Teuk. Dia menunggu Siwon merespon. Sementara orang yang ditunggu masih berkutat dengan pikirannya. Menolak perspektif bahwa gambar di sana Gyu.

"Itu.."

"Si anak hilang, kan?"

"Tidak mungkin. Aku memang ada di sana, tapi anak itu ada bersamaku! Dia ada didekatku!" balas Siwon. Ini memang benar. Dia memeluk Gyu dari belakang agar perban Gyu tidak bersenggolan dengan orang-orang. Bahkan saat itu dia hampir terbawa suasana. Andai saja peristiwa 'dor' itu tidak terjadi. Siwon meneguk ludah lagi saat Teuk memencet tombol.

Sebuah foto dekat taman hiburan. Di sebuah bangku di tengah rerumputan. Orang yang tadi. Sangat mirip dengan Gyu. Sekali lagi mengenakan topi dan masker yang menyisakan bagian hidung ke atas.

"Foto ini Henry terima dari seorang fotografer. Tiga menit sebelum menteri tertembak. Kau yakin itu bukan si anak hilang?"

Siwon sampai berdiri. Dia yakin dengan hatinya. "Tiga menit? Aku sudah ada di tempat komputer, anak itu ada bersamaku."

"Lalu sidik jari." Hyuk angkat suara. Dia berdiri, membuka map yang dia bawa. Semua orang jadi serius. Hal yang dua hari dirahasiakan oleh Teuk dan Hyuk. Sekarang mereka akan melihat hasilnya.

"Cocok dengan si anak hilang."

'What?' Batin Siwon tidak terima.

"Jadi, kesimpulannya, anak hilang itu adalah tersangka. Makannya aku memintamu untuk membawa anak itu." Teuk melipat tangannya di dada. Seluruh orang di ruangan rapat itu melihat Siwon. Firasat Siwon selalu benar. Jadi ini maksud dari firasat itu. Jika kasus ini sampai menelan nyawa orang, hukuman mati bisa saja Gyu terima setelah masuk bui. Dan Siwon tidak mau itu terjadi. Hatinya masih berpegang pada 'Gyu bukan tersangka'. Entah kenapa Siwon jadi sangat percaya pada anak itu. Menurut kenyataan, Gyu bisa saja jadi kambing hitam. Seharian Gyu ada bersamanya.

"Tapi seharian aku bersamanya."

"Itu tidak ada jaminan. Bisa saja kau meninggalkannya sebentar, lalu anak itu melancarkan aksinya." Kata Yesung.

"Kepercayaanmu padanya membuat anak itu jadi leluasa melakukan kejahatan." Kata Kangin.

"Kubilang bukan dia tersangkanya!" Siwon masih kukuh dengan pendapatnya.

"Siwon-ssi, anda bisa ikut ditahan jika terus membela anak itu. Tidak ada bukti yang menyebutkan bahwa anak itu bukan tersangka." Kata Yoona. Siwon seperti terpojok di sini.

"Tunggu." Tiba-tiba suara Hechul muncul. Pria cantik itu mengambil alih remot Teuk. Mengembalikan foto orang bertopi yang sedang menyembunyikan sebuah sniper.

"Dia tidak memakai perban." Kata Hechul. "Sementara si anak hilang jelas-jelas sudah memakai perban sejak masa fisum, itu benar, kan Hae?"

"Err..iya." kata Hae ragu. Dia juga baru sadar dengan pernyataan ini. Suasana rapat yang panas untuk menjadikan si anak hilang tersangka membuat orang-orang menelan omongan henry begitu saja. Sebelum Siwon datang Henry lah yang gencar memojokan Gyu menjadi tersangka.

"Jelas sekali orang itu bukan si anak hilang." Simpul Hechul.

"Tapi sidik jari itu tidak pernah bohong!" kata Henry.

"Tapi bisa saja itu dipalsukan." Balas Siwon.

"70% semua bukti mengarah pada si anak hilang, kau yang biasanya tegas kenapa jadi seperti ini? Kau kenapa, Inspektur Choi?"

"Teuk-ssi, aku bisa menjamin kalau si anak hilang bukan tersangka." Kata Siwon, dia lari dari tuduhan Henry.

"Baik-baik, untuk sementara ini aku masih memberikan kesempatan pada anak itu. Rapat dibubarkan. Kita juga harus ke rumah sakit memeriksa mayat korban. Divisi 5, ini perintah!"

"Baik."

Rapat bubar. Henry keluar dari pintu rapat dengan emosi yang susah ditebak. Siwon bertahan di mejanya. Dia berusaha menormalkan detak jantungnya. Untunglah, Gyu tidak dijadikan tersangka, jadi dia tidak perlu membunuh anak itu. Setelah semua perasaan aneh yang hadir saat mereka bersama. Dia tadi juga hampir percaya dengan pernyataan Henry, tapi pernyataan Hechul lebih masuk akal. Di foto itu, orang bertopi tidak mengenakan perban, sementara jelas sekali kalau Gyu mengenakan perban di leher dan dahi. Juga Siwon memang seharian ada di dekat Gyu. Dia yang mutah dan Gyu yang menangisinya, Siwon tidak akan melupakan momen manis itu.

"Won."

"Hechul?"

"Aku ingin bicara, kau pulang saja dulu untuk mengantar Gyu. Setelah itu kembali ke markas. Ada sesuatu yang harus aku katakan." Kata Hechul, tangannya ada di bahu Siwon. Siwon mengangguk mengiyakan. Setelah ini, dia akan membuktikan bahwa Gyu memang tidak bersalah. Pasti ada alasan kenapa si sniper berpenampilan mirip Gyu. Jika perlu, tanpa ada perintah dari Teuk, Siwn akan melacak orang itu sendiri. Meski melacak tidak masuk dalam daftar tugasnya. Demi membuktikan bahwa Gyu tidak bersalah, apapun akan Siwon lakukan.

Kepercayaan Siwon pada Gyu semakin besar.

Siwon keluar dari markas. Dia menginjak pedal gasnya dalam. Mengabaikan Gyu yang terus bertanya kenapa dan apa.

.

Tidak sampai lima belas menit Siwon sudah kembali ke markas. Siwon masuk ke markas untuk mencari Hechul. Ketika dia baru mau menyentuh pintu masuk, Hechul langsung masuk ke mobil Siwon. Dia menengokan kepalanya ke markas, memastikan orang-orang di dalam sana tidak tahu dia pergi bersama Siwon. Siwon mengikuti Hechul, lalu dengan terburu menutup pintu. Siwon menginjak pedal gasnya lagi. Mereka menjauh dari markas kepolisian. Hechul mengenakan maskernya. Dia menatap jalanan di depan sana, belum mau bicara. Sementara di sampingnya, Siwon semakin penasaran dengan hal yang akan mereka bicarakan. Apa ini menyangkut Gyu? Firasatnya masih tidak enak.

Siwon sadar kalau baru hari ini dia bertemu dengan Hechul. Setelah persitiwa Alarm bahaya, dia tidak melihat Hechul lagi. Jadi dia mengira kalau pria di sampingnya ini juga menerima misi rahasia dari Teuk. Siwon melirik Hechul. Pria cantik itu sekarang menatap jendela yang menampilkan pagar pembatas. Omong-omong mereka tanpa sadar sudah melewati Tol. Siwon terlalu cepat mengemudikan audinya. Hechul balas melirik Siwon, dengan mata malas yang sama. Siwon berdekhem sebentar. Kode nya tidak sampai atau bagaimana? Sejak tadi Hechul diam saja. Padahal Hechul sendiri yang bilang akan mengatakan sesuatu.

"Ambil route 13 setelah gerbang itu, naik ke pegunungan." Kata Hechul singkat. Siwon menurut saja. Mobilnya membawa mereka turun dari tol, lalu memasuki daerah pegunungan. Mereka sudah sangat jauh dari Seoul. Hechul melepas maskernya. Bernafas lega seolah tadi habis lomba lari.

"Jadi..?" Siwon membuka percakapan.

"Oh, maaf. Sepertinya kau menunggu lama."

Siwon berdecak kesal, "katakan apa maumu, hechul-ssi."

"Aku sudah tahu siapa pelakunya." Katanya. Siwon tersedak. Dia memelankan laju audinya. Kenapa tiba-tiba begini? Pikir Siwon. Dia menatap heran pada Hechul. Pria cantik itu mendengus melihat Siwon sepertinya tidak percaya dengan kata-katanya. "Aku serius. Si anak hilanglah pelakunya."

CKIIIIIIT

Siwon merem audinya dengan tiba-tiba. Mereka megap-megap karena pemberhentian yang tiba-tiba ini. Siwon mengusap wajahnya yang berkeringat entah sejak kapan. Hechul memukul kepala Siwon dengan maskernya. "Bodoh, kendalikan mobilnya dengan benar! Kau ingin membuatku mati muda, ya?"

"Kenapa juga kau tiba-tiba mengatakan kalau Gyu tersangka sementara di rapat tadi kau membelanya?" balas Siwon. Dia kembali mengambil alih kemudi. Audi putih itu terparkir di pinggir jalan yang menanjak. Dua pria itu masih ada di dalam. Berdebat soal omongan hechul.

"Itu karena ada alasan lain!" balas Hechul.

"Alasan lain?"

Hechul berdekhem sebentar, siap mendongeng. "Jadi, yang mencuri chip memang si anak hilang. Gyu itu siapa, Won?" tanya Hechu, ekspresi yang sama seperti saat Hae menanyakan hal ini.

"Nama dariku untuk si anak hilang." Kata Siwon polos. Hechul menggumam Oh, lalu merapikan poninya sebentar. "Saat saat si anak- ekhm, maksudku Gyu mencuri Chip itu, aku datang. Well, aku yang membunyikan alarmnya. Aku menghipnotis Gyu, lalu menukarkan Chip yang asli dengan chip memori ponselku. Aku juga yang mematikan alarm itu, lalu sebelum kau dan Yoona sampai, aku sudah kembali ke toilet. Bukankah Gyu sangat fantastik? Dia melakukan tugas itu kelewat sempurna. Dia sempat marah karena aku membunyikan alarm, lalu terburu keluar tanpa tahu kaos tangannya tertinggal satu." Cerita Hechul. Siwon menahan amarahnya agar cerita Hechul tidak terpotong. Jadi selama ini yang membuat semuanya rumit adalah Hechul sendiri, sialan. Batin Siwon dongkol.

"Untuk apa kau pakai menukar chip segala?" tanya Siwon.

"Karena aku tidak mau chip itu jatuh di tangan musuh! Kau ini bagaimana si?"

"Oh, iya."

"Lalu, aku tidak tahu apa yang ketua organisasi itu lakukan pada Gyu. Namun saat kau membawanya untuk diperiksa Hae, aku melihatnya sebagai orang lain. Dia lupa ingatan, kan?"

"Hm."

"Lalu saat kau dipanggil rapat, kau meninggalkan Gyu diluar ruangan. Aku menghampirinya, aku menghipnotisnya lagi. Lalu memasukan Chip itu ke tubuhnya."

"APA?" kaget Siwon. Dia bangkit dari duduknya, tangannya terulur hampir mencekik Hechul, namun Hechul segera mendelik, mengancam bahwa ceritanya akan bersambung sampai di situ saja. Siwon kembali duduk, meski sekarang hatinya dongkol.

"Kau pasti tahu seberapa penting chip itu, Won. Aku juga sepertinya sudah 'ketahuan' dan sedang diincar. Makannya aku meletakan itu di tubuh Gyu, sepertinya dia dibuang. Jadi, orang organisasi itu pasti tidak akan mencari Gyu lagi."

"Lalu cara mengeluarkan chip itu bagaimana? Jangan bilang aku harus membelah tubuh Gyu. Lalu mengaduk-aduk isinya." Kata Siwon.

"Sepertinya kau sekarang jadi overprotective pada Gyu. Kau menyukainya?" ledek Hechul. Siwon mendelik tidak suka. "Mana mungkin!"

"Matamu berkata lain, Won~"

"Sudah kubilang aku bukan gay!"

"Tapi bisa saja kau jadi menyukai Gyu. Pernah berciuman? Mengingat kalian satu kamar." Kata hechul. Siwon kena skakmat. Dia tidak mungkin mengiyakan pertanyaan yang sebenarnya pernyataan itu, kan? Dia menarik napas panjang sebagai pengalih perhatian. Juga untuk menyembunyikan debaran aneh di dadanya saat mengingat momen tadi. Dia membungkam- em..akan lebih halus lagi jika kalimatnya diubah menjadi, Siwon mencium Gyu agar Gyu berhenti bergumam aneh.

"Kembali ke masalah, jadi bagaimana caranya?"

"Aku tidak memaksamu untuk melaksanakannya. Karena pengaruh obat, juga ukuran chip yang sangat kecil, lebih kecil dari memori card biasa. Maka aku menanamnya di dalam err.. testis Gyu."

"APA?"

"Itu cara yang paling aman tanpa harus mengeluarkan pisau untuk mengambilnya lagi!" kata Hechul. Siwon tidak habis pikir. Keringat dingin tidak mau berhenti mengucur dari pelipisnya. Hechul ini apa si? Manusia atau alien? Itu juga obat apa...sampai bisa membuat Chip itu berada di err, bagian itu. Siwon meneguk ludahnya, menebak sendiri cara untuk mengeluarkan nasib Chip yang jelas-jelas berada di organ penting milik para lelaki. "Maksudmu.."

"Ya?"

"Aku..."

"Kau sudah tahu?"

"Harus..membuatnya ejakulasi?" tebak Siwon. Hechul bengong sebentar. Dia menjentikan jarinya. Lalu menepukkan tangannya untuk memberi 'aplause' pada si jenius Siwon yang sekarang sudah memerah parah.

"Tepat sekali."

"Ya tuhan.." Siwon lemas di kursinya. Dia menutup wajah tampannya yang panas membayangkan dia membuat Gyu ejakulasi. Otomatis dia harus meng –YKWIM- Gyu. Belum lagi mendapat gamparan Gyu. Mengingat anak itu akan marah jika daerah sensitifnya tidak sengaja Siwon sentuh. Menyentuh dengan tidak sengaja saja sudah mendapat gamparan. Bagaimana jika nanti dia sampai membuat Gyu ejakulasi? Siwon kelimpungan sendiri memikirkan cara itu.

"Lalu.."

"Cukup sampai di sini saja, Inspektur." Suara lain mengagetkan Siwon dan Hechul.

DOR..

To Be Continue..


Pojok Bales Review :

ApolDes :

- Masa? Haha, Makasih reviewnya ^^ Udah ke jawab di chapter ini.

Septianurmalit1 :

- Udah :

AprilianyArdeta :

- Si Menteri, hehe ^^

Desviana407 :

- Udah ke jawab di chapter ini, kak.

Jihyunelf :

- Gak kok :3 masa si embul jadi tersangka, author gak tega -plak

Diki643 :

- Udah :3 setengah asap, ne :v

Raein13 :

- Udah ada momenta lagi kok :3

Akhir kata, Terima kasih untuk yang mampir dan review :3 Author tambah semangat nulisnya -ditengah jadwal padat nyiapin seleksi- Sekian, SAMPAI JUMPA DI CHAPTER SELANJUTNYA ^^ -Tebar Dolar Wondadd-

Next Chapter :

Kali ini, aku tidak tahu siapa yang kawan, siapa yang lawan. / aku hampir mengira kau mendapat misi dari Teuk untuk menggoda salah satu gigolo di club gay, tahu! / Ssst..kita satu sama. / Aku tidak bisa menahannya lagi... /