Sinar pagi mulai menembus tirai kamar seorang lelaki yang masih tertidur di atas meja laptopnya. Matanya masih tertutup rapat. Diiringi dengan nafasnya yang teratur, air liur yang berasal dari mulutnya masih mengalir hingga menetes di lantai kamarnya. Si pria sedikit mengernyit ketika merasakan cahaya menembus matanya yang tertutup, namun ia tidak sampai membuka matanya hingga suara bel yang nyaring nyaris membuatnya jantungan.
TING TONG!
Alisnya sedikit tertaut. Matanya sedikit terbuka, namun tertutup lagi.
TING TONG!
Dan lelaki itu pun mulai berdecak kesal.
TING TONG! TING TONG! TING TONG! TING TONG!
Diiringi dengan decihan, ia mulai membuka mata.
TING TONG! TING TONG! TING TONG! TING TONG! TING TONG!
Suara bel yang ditekan secara cepat itu membuat sang pemilik menghela nafas. Ia mulai mengangkat kepalanya, menatap laptopnya yang masih menampilkan suatu website tentang jejaring sosial. Ia pun meng-close bagian itu dan men-turn off laptopnya—membiarkan benda itu beristirahat sejenak.
Dengan langkah lambat, ia pun berjalan menuju kamar mandi dan mencuci mukanya. Ia pun menguap lagi—tidak peduli dengan bel yang masih berbunyi.
Setelah semuanya cukup rapi, ia mulai berjalan kearah pintu. Sasori masih mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba rasa kantuk yang menerpa segera menghilang. Dengan malas ia mulai menyentuh pintu, dan membukanya perlahan.
Cklek..
Kriiieet...
"Ohayou!"
Sasori membulatkan mata. Ia membeku di tempat, matanya tak lepas dari sosok yang dengan riangnya berdiri di pintu flat-nya. Dengan senyuman riang, ia mulai menubruk badan tegap Sasori yang diam layaknya patung. "SASO-KUN! Aku rindu padamu!"
Dan setelah beberapa detik kehilangan kesadaran, lelaki berambut merah itu tersadar.
"K-Kau...?"
.
.
.
.
.
Naruto by Masashi Kishimoto
Threat or Something? by stillewolfie
Akasuna Sasori x Haruno Sakura
Rated T-M
Genre: Romance/Drama
Warn: OOC, Typos, AU, LITTLE LIME AND JUST FOR 15+ :p
.
CHAPTER IV
.
Suara kapur yang digesekkan kearah papan tulis menggema diseluruh sudut kelas. Ruangan itu sepi, tidak ada yang berbicara. Semua orang disitu menulis apa yang tertera di papan tulis.
Namun satu dari dua puluh lima murid di kelas itu—yang ada di pojokkan—hanya memainkan penghapusnya sambil merenung sesuatu. Entah renungan apa yang ia jalankan di saat seperti ini, namun dia hanya memainkan penghapusnya, tidak peduli apa yang harus ia perbuat saat itu.
Sasori melirikkan mata ke depan, kemudian tersenyum tipis. Melihat kearah tulisan yang sedikit ditutupi oleh tubuh seseorang di depan. Surai merah mudanya bergerak sedikit ketika ia sedikit melihat buku paket yang ada di tangannya, lalu menulis lagi. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu sedikit membungkukkan badan—membuat posisi nyaman untuk bersender di meja. Sasori terus melihat ke depan, melupakan penghapus yang sudah tergeletak tak berdaya, dengan badan sisa setengah, tentunya.
Sasori menatap Haruno Sakura dengan pandangan mesum. Seringai aneh mulai terbentuk di bibirnya, matanya menelusuri seluruh punggung Sakura yang sedang membalikkan badan untuk menulis. Diperhatikannya dari atas, rambut pink-nya yang sudah mencapai punggung terlihat lembut jika diperhatikan dari jauh, dan... lebat. Bahunya yang kecil dan terlihat rapuh, tapi Sasori tau bahu itu kuat dan mampu dibuat sebagai 'senjata' bagi pemiliknya. Sasori melirik ke bawah sedikit, diperhatikan pinggang Sakura yang kecil dan berbentuk. Sasori sedikit mengira-ngira, mungkin dengan satu tangan ia mampu memeluk pinggang itu sepenuhnya.
Dan area yang paling ia sukai adalah.. bokongnya.
Selain dada perempuan itu, tempat yang paling ia sukai adalah pantat Sakura yang terlihat berbentuk dan kencang. Memang tidak semontong Hinata—anak kelas sebelah—yang kini menjadi pacar Uzumaki Naruto itu, namun di mata lelaki berambut merah itu... bokong Sakura pas. Tidak besar, tidak kecil.
Dan tanpa Sasori sadari, ia bersiul dengan nada yang aneh. Membuat pandangan kelas yang awalnya ada di papan tulis menjadi melihat padanya—termasuk Sakura.
Sunyi. Sasori hanya diam, ia tidak menanggapi tatapan aneh seluruh teman-temannya di kelas. Ia hanya melihat pada gurunya saat ini. Sakura membalikkan tubuhnya sedikit, menatap tajam kearah Sasori yang dibalas dengan senyuman tipis.
"Ada yang bisa jujur, siapa yang melakukannya tadi?"
Sakura tau, Sasori-lah pelakunya. Emeraldnya sedikit mengilat ketika menatap iris coklat Sasori yang masih menatapnya dengan penuh ketenangan. Murid-murid disana melirik lagi kearah gadis itu, kemudian menatap Sasori lagi. Semua yang berada disana mengatakan melewati mata, mereka meminta Sasori untuk jujur kali ini, daripada seluruh kelas yang menanggung perbuatannya itu!
Sasori pun mengerti melihat permohonan yang dilakukan oleh sebagian murid disana—terutama laki-laki. Ia pun mengangkat tangannya dan menengadah. "Saya, sensei."
"Untuk apa kau lakukan itu, Akasuna?"
Sasori meringis dalam batin. Secantik-cantiknya perempuan ini, tetap saja dia itu... galak.
Iris coklat dan hijau itu saling beradu. Meskipun mereka baru berbaikan tadi malam, tapi tetap saja bagi lelaki itu, sikap Sakura sama sekali tidak berubah—masih dingin dan tegas seperti biasanya.
Lagipula Sasori tau kok, perempuan itu mengajaknya berbaikan agar foto memalukan miliknya tidak tersebar.
Padahal lelaki itu tidak mungkin berbuat sejauh itu. Semarah-marahnya Sasori, dia tidak mungkin melakukan hal semacam itu. Well, kecuali satu hal... Sakura mengakhiri hubungan mereka secara sepihak.
Sasori tau itulah senjata utamanya. Foto Sakura yang berbaring dengan tubuh setengah telanjang.
Lagi-lagi Sasori tersenyum tipis. Dan itu mampu dilihat seluruh kelas termasuk sang guru yang menatap tajam dirinya.
PAKH!
"Bisa kau jelaskan untuk apa kau lakukan itu, Akasuna? Oh, apa yang ada di pikiranmu saat ini sampai kau tersenyum seperti itu?"
Dengan penggaris kayu yang besar di tangannya, Sakura berujar dengan tenang, namun tajam dan menusuk seperti biasa. Aura gadis itu mulai berubah dari hijau ke kuning, yang berarti murid disana harus ber-waspada jika gadis itu akan mengamuk.
"Tidak ada, sensei."
Murid-murid disana mau sekali menghajar Sasori secara bergantian. Dengan jawaban seambigu dan sedatar itu, tidak mungkin Sakura akan memaafkannya!
"Keluar."
Murid-murid disana meneguk ludahnya saat mendengar jawaban Sakura. Mereka hanya bisa menunduk takut, tidak berani menatap Sasori maupun Sakura. Guru berambut merah muda itu berkata dengan singkat, tapi Sasori tau maknanya apa.
Ia harus keluar dari kelas, dan berdiri di samping pintu selama 1 jam lebih.
Dengan ikhlas Sasori menerima tawaran itu. Terdengar kursi bergeser ke belakang. Tanpa melihat Sakura maupun teman-temannya, Ia pun membuka pintu kelas dan menutupnya kembali.
Sakura terdiam di tempat, ia menatap pintu yang barusan dibuka oleh salah satu muridnya itu. Ia pun meletakkan penggaris kayu di pojok kelas, kemudian menatap sisa muridnya disana. Dengan senyuman tenang ia berkata, "Kalau ada yang mau bertingkah lagi, silahkan keluar." ia pun berbalik dan melanjutkan menulis lagi.
Tanpa banyak bertanya, mereka pun diam. Mereka akhirnya melanjutkan mencatat lagi. Memikirkan nasib si bocah merah itu akan dipikirkan belakangan.
Namun tanpa semuanya sadari, sang guru yang ada di depan menghela nafas kesal. Alisnya sedikit tertekuk dan menutup kedua matanya. Sakura melirik kearah pintu kelas. Dengan kegelisahan yang terselimuti di benaknya, Sakura pun kembali menjelaskan apa yang ditulisnya di papan tulis.
Sedangkan Sasori, ia hanya mendengus ketika mendengar suara Sakura yang terdengar sampai di telinganya. Tanpa memikirkan konsukuensinya, ia pun duduk di lantai koridor kelas, tangan kirinya bertumpu di lutut kirinya. Ia menatap ke depan, kembali memikirkan hal yang sempat tertunda gara-gara mengamati tubuh sensei-nya itu.
'Untuk apa dia datang kesini?'
.
.
~oOo~
.
.
Sakura menatap layar laptop yang berisi daftar nilai seluruh kelas 11. Matanya tak lepas dari daftar nilai tersebut, dan sekali-kali mencatat siapa saja yang memiliki nilai kosong. Kacamatanya masih bertengger di wajahnya. Ia pun terus menulis hingga suara ketokan pintu terdengar di pintu ruangannya.
"Masuk."
Dan pintu pun terbuka. Sakura melirik kesamping. Ia sedikit terkejut melihat lelaki berambut merah datang ke ruangannya. Sasori tersenyum tipis, ia mengangkat tangan dan menatap balik Sakura. "Hai." Ucapnya tenang.
Sakura menghela nafas, "Ada apa?"
Sasori tidak peduli pertanyaan Sakura selanjutnya, ia berjalan menuju gadis itu dan akhirnya duduk di depannya. Ia menyodorkan sebungkus roti dan minuman botol. "Untukmu."
Sakura melirik kearah cemilan itu, lalu menggeleng pelan. "Tidak usah, aku tidak lapar." Sakura menyodorkannya lagi pada Sasori, "Kau saja."
Sasori menghela nafas, "Jangan terlalu sibuk, nanti kau sakit." Sasori bertopang dagu dengan tangannya.
Gadis itu menghela nafas pendek. Tanpa melirik kearah makanan tersebut, ia melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Tidak peduli dengan Sasori yang masih menatapnya.
"Saku," Sakura menoleh sedikit, melirik Sasori. Sedangkan yang ditatap sedikit berdecak. "Apa kau marah kalau aku menciummu?"
Sakura terdiam, bibirnya terkatup rapat. Tapi rautnya menampakkan keterkejutan.
"A-Apa maksudmu?" Sakura pun memberhentikan pekerjaannya. Dengan wajah dipenuhi semburat merah, ia berkata dengan nada ketus. "Kalau kau melakukannya, kuhajar kau."
Sasori menyeringai. "Yakin kau tidak mau?"
Sakura terdiam. Ia menatap Sasori dengan penuh kekesalan. "Jangan bilang kau mau membatalkan perjanjian kita."
Lelaki itu mendengus meremehkan, "Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu, kau saja yang berlebihan."
Yap, Sasori tidak mungkin melakukan hal itu. Karena menurutnya itu sangat tidak jantan.
Selagi ada kesempatan, lebih baik digunakan sebaik-baiknya kan?
Tidak ada lagi yang berbicara. Sasori dan Sakura sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sasori terus memperhatikan sepotong roti yang ada di meja, dan kembali menatap Sakura. Ia tau Sakura tidak makan dari pagi, Sasori bahkan tidak yakin kalau pagi ini Sakura sarapan.
Menurutnya, sebagai guru itu melelahkan.
Harus mengajar dan menjelaskan selama 2 jam di masing-masing kelas. Dan seharian itu seorang guru harus dalam kondisi stabil. Ia harus tetap sehat supaya tetap berkonsentrasi dengan perkataan yang diucapkannya. Dan Sasori yakin selama sisa hidupnya, dia tidak akan mau menjadi guru.
Meskipun Sakura memiliki tenaga yang kuat bagaikan monster serta dengan ketegasan yang entah ia dapatkan dari kecil, perempuan itu harus tetap mendapatkan asupan gizi. Karena selain pekerjaannya sebagai guru, ia juga memiiki kewajiban di bagian konseling bukan?
Sasori memberikan roti itu pada Sakura. Lagi.
"Makan,"
"A-Apa?"
"Makan." Sakura melirik kebawah, menatap roti keju itu dengan pandangan bingung, "T-Tapi.."
"Tidak ada alasan. Makan, Saku." Ulang Sasori, "Atau kupaksa."
Tidak ada jawaban dari Sakura. Dengan tekad yang bulat, Sasori berdiri dan berjalan ke kursi yang di duduki oleh Sakura. Setelah sampai di depan gadis itu, Sasori membuka bungkusan roti itu dan menggigit roti itu sedikit, lalu mengunyahnya sebentar. Sakura menaikkan alis.
Tiba-tiba Sasori berlutut di depan Sakura, menjajarkan tinggi mereka supaya Sasori dapat menatap Sakura. Sambil terus mengunyah, ia memegang leher gadis itu. Sakura tersentak. Namun sebelum ia dapat menolak, bibirnya sudah terkunci dengan bibir Sasori yang awalnya masih terkatup rapat.
Sasori menekan bibir mungil perempuan itu. Mencoba untuk menyuruhnya rileks. Sedangkan Sakura, ia hanya bisa terbelalak dan mencengkram seragam Sasori, memintanya untuk melepaskan ciuman itu, tapi tidak ada respon apa-apa dari laki-laki itu. Malah Ia semakin menekan bibirnya.
Sakura mencoba untuk bernafas, tapi dia tidak bisa. Dan refleks pula ia membuka mulutnya, itu memberikan lampu hijau bagi Sasori untuk memasukkan lidahnya pada mulut perempuan itu. Sasori terus mengabsen apa yang ada di mulut Sakura, dimulai dari gigi hingga lidah.
Saat kedua lidah itu bertemu, Sasori segera melumat lidah mungil perempuan di depannya. Sasori terus melakukan itu sehingga saliva yang dihasilkan mengalir di sudut bibir Sakura. Sang gadis hanya bisa diam, membiarkan si rambut merah menjelajahi area mulutnya.
Sakura dapat merasakan sensasi manis di sekitar bibirnya, indera perasanya mengecap rasa keju yang manis.
Gadis itu mengernyit.
Setelah makanan itu di transfer oleh Sasori, lelaki itu segera melepaskan ciumannya. Sasori menatap Sakura yang terengah-engah akibat pasokan udara yang menipis. Ia menyeringai. "Mau lagi?"
Dengan cepat Sakura mengelap sudut bibirnya yang dihiasi oleh saliva. Ia segera merampas roti keju di tangan Sasori. Tanpa peduli roti keju itu telah digigit oleh Sasori, Sakura segera melahap seperempat sisa dari roti keju itu.
"Jangan harap!" Teriaknya sambil mengunyah.
.
.
.
~oOo~
.
.
.
Perempuan itu menatap pantulan dirinya diatas kolam ikan, rambutnya yang panjang bergerak seiring dengan kepalanya yang bergoyang ke kanan dan ke kiri. Ia menghela nafas kesal, bibirnya yang kecil itu maju ke depan. Membuat sang pelayan—yang sejak tadi memperhatikan—berjalan kearahnya.
"Anda membutuhkan sesuatu, Lady-sama?"
"Huuh, Matsuri..." Gadis itu menggembungkan pipinya. "Kapan Saso-kun pulang?"
Wanita yang dipanggil Matsuri itu menoleh ke kanan, menatap jam besar yang terdapat di halaman rumah itu. "Sekitar setengah jam lagi, Lady-sama."
"Haahh.. lama sekali..." Gadis itu menoleh ke belakang, menatap pelayan setianya. "Sekolah itu merepotkan. Pulangnya saja lama. Apa Saso-kun tidak bosan ya disitu?" tanyanya polos.
Matsuri tersenyum maklum. "Sasori-sama memiliki peran penting di sekolahnya, jadi tidak heran kalau dia agak terlambat." Matsuri menatap mata nyonya-nya. "Jadi saya harap Anda mengerti."
"Yaya, dia bergabung ke organisasi aneh itu kan?" Perempuan itu mendecih, lalu berjalan melewati Matsuri. "Sekolah itu seperti apa ya? Kau tau tidak, Matsuri?"
"Tentu, Lady-sama," Matsuri berbalik, menghadap majikannya. "Sekolah adalah tempat dimana kita dapat memiliki pengalaman serta teman yang baru, dan juga kita dapat bersosialisasi dengan orang lain. Selain mendapatkan ilmu, sekolah juga dapat membantu kita dalam pergaulan." Matsuri menjawab dengan sopan serta mendetail.
"... Jadi begitu," Ia mengangguk paham. Mereka berdiam sebentar. Dan secara tiba-tiba ada ide cemerlang yang terlintas di otak cerdasnya. Ia berbalik dan menatap Matsuri, dengan senyum lebar ia berkata, "Matsuri, pecat guru privatku sekarang juga,"
Matsuri menaikkan alis, "Ke-"
Dengan senyum riang, Gadis itu menatap pelayannya dengan semangat. "Hihi, supaya aku selalu bersama Saso-kun, aku harus bertemu dengannya setiap hari, dan itu berarti di sekolah! Iya kan?"
Matsuri mengangguk pelan.
"Yosh!" Perempuan yang bernama Fuuma Sasame itu menepuk kedua tangannya. "Mulai besok aku akan sering bertemu dengan Saso-kun, yeay!"
.
.
.
~oOo~
.
.
.
"Heeii heeii Sasoriii, kau harus jujur padaku~"
Bel pulang telah berbunyi setengah jam yang lalu, semua penghuni sekolah saat itu mulai kembali ke rumah masing-masing. Terkecuali kedua orang ini. Sasori masih memiliki urusan dengan berkas-berkas yang terdapat di meja kerjanya. Tugasnya semakin banyak karena sebentar lagi akan ada pergantian semester, sehingga urusannya yang sempat sedikit menjadi lebih banyak karena anak-anak baru akan mulai bersekolah disini.
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."
Deidara, yang masih duduk dihadapan Sasori, memainkan kursi putarnya. "Kau kira aku tidak melihatnya hah? Dengan mata kepalaku sendiri aku lihat kau tersenyum aneh pada Sakura-sensei! Ooohh jangan-jangan kau sudah punya target hmm~? Jawaab Sasorii~"
"Hentikan pembicaraan omong kosong ini," Sasori mendelik. "Kau mengganggu."
"Aku hanya butuh penjelasan," Deidara menaik-turunkan kedua alisnya. "Kau menyukai guru semok itu kan? sudahlah, bilang saja!"
"Kau gila." Respon Sasori membuat Deidara terkejut. "Bicaramu ngelantur, Dei."
"Lagipula," Sasori memotong perkataan Deidara yang sempat ingin dilontarkan oleh pemuda banci itu, "... Aku bertemu seseorang hari ini."
Deidara menaikkan alis, "Siapa?"
Sasori menghela nafas berat, ia hentikan segala aktivitasnya saat itu. Sasori memijit kepalanya yang sempat pusing. "Orang itu kembali."
"Ck, sekarang bicaramu yang mulai ngelantur." Deidara bertopang dagu, "Siapa yang kau bicarakan, hn?"
"Perempuan itu," Sasori berkata dengan nada tajam. "Putri tunggal keluarga Fuuma. Fuuma Sasame."
Hening. Tidak ada yang berbicara. Deidara mengernyit sedangkan Sasori menghela nafas berat. Setelah keheningan ganjal itu hilang, Deidara angkat suara. "D-Dia..."
"Ya," Sasori mendecih. 'Kenapa dia harus datang pada saat seperti ini...?'
.
.
.
~oOo~
.
.
.
Sakura berjalan dengan tenang menuju apartemennya, melewati jalan pintas yang selalu ia gunakan supaya cepat sampai. Gadis itu terkadang agak sedikit gelisah. Ia kemudian melirik ke kanan dan ke kiri. Dengan menghela nafas kesal, ia berbalik 90 derajat, menatap si biang kerok yang selalu mengikutinya sehingga ia tidak bisa berjalan dengan tenang.
"Untuk apa kau mengikutiku lagi, Akasuna?"
Yang dipanggil hanya menaikkan bahu. "Untuk mengantar kekasihku pulang, apa itu salah?"
Sakura menatap Sasori tajam. "Bagiku itu salah."
"Tapi bagiku itu tidak salah."
"Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain mengikutiku?"
"Tidak."
"Lebih baik kau pulang." Sakura berjalan lagi, menghiraukan Sasori yang mengikutinya dari belakang.
"..."
"..."
"Saku?"
"... Hn?"
Sasori tidak menjawab. Ia terlalu memfokuskan dirinya kearah merah muda itu. Rambut Sakura yang terurai sedikit melambai ketika angin sore menerbangkan helai mereka masing-masing. Sasori menutup kedua matanya, kemudian menghela nafas pasrah. "Sudahlah, lupakan."
Langkah Sakura terhenti. Ia memandang Sasori dengan pandangan bingung. "Ada yang ingin kau bicarakan padaku?"
Sasori diam. Menatap emerald Sakura dengan pandangan datar.
"Akasuna," Sakura memandang Sasori dengan penuh selidik, "Kau ada masalah?"
"Tidak juga." Sasori mendengus, "Jangan bilang kau khawatir, heh? Sakura-sensei?"
Sakura melotot, "B-Bukan begitu!" Sasori menyeringai saat melihat semburat merah tipis muncul di kedua pipi ranum Sakura. "Aku hanya ingin kau cepat pulang dan pergi dari hadapanku, itu saja!"
Bukannya kesal akibat teriakan Sakura yang sedikit melengking, Sasori malah terkekeh melihat reaksi gadis berumur 21 tahun ini. "Yaya, terserahmu lah.." Sasori berjalan melewati Sakura, dan segera menarik tangan gadis itu. "Ayo pulang."
Sakura menaikkan alisnya, ia bingung. Entah hanya perasaannya atau apa, ia merasa tingkah Sasori hari ini agak aneh. Instingnya memang tidak pernah salah, maka dari itu kali ini ia mengikuti firasatnya.
Ada yang aneh disini.
"Akasuna," Sakura memanggil, namun tidak dijawab oleh Sasori. "Ceritakan padaku."
"Hn?"
"Cerita padaku apa yang terjadi hari ini," Sakura menjawab dengan nada datar.
"... Tidak ada."
"Aku yakin kau mengantarku pulang karna ada yang dibicarakan! Sekarang. Ceritakan." Sakura mendelik sebal.
Sasori melirik Sakura yang berjalan disampingnya—dengan lengan yang ditarik oleh Sasori—Kemudian lelaki itu tersenyum tipis. "Aku tidak apa-apa, Saku. Jangan khawatir."
"Ck, aku tidak khawatir padamu." Sakura menatap jalanan kecil di depannya, "Aku hanya takut kalau masalahmu itu ada kaitannya denganku."
Sasori tidak menjawab, Sakura pun menghela nafas. Kali ini Sakura tidak akan membuat pertanyaan lagi. Ia hanya pasrah ditarik paksa oleh Sasori menuju ke apartemennya.
.
.
.
Sakura menatap Sasori yang jauh lebih tinggi darinya. Ia menatap kesal sang lelaki yang masih setia berada disampingnya. Sakura menggaruk pipinya. "Jadi... sampai sini?"
Sasori mengangguk paham.
"Baiklah.. sampai jumpa," Sakura berbalik dengan cepat, namun sebelum ia memasukkan kunci apartemen dalam lubang pintu, ia dikejutkan dengan tarikan keras yang membuatnya berbalik sepenuhnya. Emeraldnya membulat saat merasakan bibirnya ditekan oleh bibir pria di depannya. Sakura tercengang, lengan kanannya di pegang oleh tangan kekar Sasori, sehingga lelaki itu sedikit membungkuk untuk mencapai bibirnya.
Sakura membiarkan bibirnya disentuh dengan lembut oleh bibir lelaki ini. Ia menutup kedua matanya secara perlahan, membuat gadis itu dapat lebih merasakan efek dari ciuman tersebut.
Mereka berdua berciuman tanpa adanya paksaan. Di depan sinar matahari yang mulai tenggelam.
Setelah ciuman lembut itu terjalin cukup lama, akhirnya Sasori berinisiatif melepaskan ciuman mereka duluan. Ia menatap emerald Sakura dengan tatap sendu, kemudian mengecup bibirnya singkat, dan pada akhirnya mendarat di kening gadis itu.
Ia mengelus puncak kepala Sakura, "Oyasumi.."
"Uhm," Sakura bergumam pelan, "Oyasumi..."
Dan elusan lembut itu pun terlepas. Sasori berjalan kearah kanan, ia berniat pergi ke lantai bawah melewati tangga.
Sakura mengamati kepergiannya, namun ia sedikit terlonjak saat melihat Sasori berbalik, mengarah ke dirinya. Dengan seringai yang tertempel di bibirnya, ia melambaikan tangannya pelan. "Sampai jumpa, Sakura."
Dengan ragu-ragu, Sakura mengangguk. "Sampai jumpa, Akasuna..." Ia bergumam.
Awalnya Sasori ingin mendengar bibir itu mengucapkan namanya secara langsung, bukan marganya. Tapi mau bagaimana lagi, ia pun berbalik lagi dan berjalan sepenuhnya menuju lantai dasar—berniat untuk pulang. Dan kepergiannya itu disaksikan oleh Haruno Sakura yang masih berdiam diri di depan pintu apartemennya.
Setelah bayangan Sasori sepenuhnya menghilang dari pandangan, Sakura bersender di pintu apartemennya. Ia menatap sepatu flat-nya dengan pandangan lesu. Sekali-kali tangannya menyentuh jidatnya yang lebar, kemudian berarah ke bibirnya. Sakura menghela nafas.
Di pikirannya, banyak pertanyaan-pertanyaan yang masih belum terjawab tentang hubungannya dengan Sasori.
.
.
.
~oOo~
.
.
.
Ckrek..
Sasori menatap rumah flat-nya dengan pandangan datar. Ia tidak peduli dengan keadaan flatnya yang berubah 180 derajat. Ia memfokuskan matanya kearah seorang perempuan yang duduk di sofa serta secangkir teh yang menemaninya. Gadis itu menggembungkan pipinya, ia kesal. "SASO-KUN lama!" Teriaknya.
"Apa urusanmu datang kesini?" Sasori mendelik tidak suka. "Pulang, Sasame."
"Huh! Padahal aku sudah membersihkan rumahmu, jadi ini balasanmu untukku?" Sasame berkata dengan nada sebal.
"Tidak ada yang menyuruhmu," Ia berjalan menuju lemari, kemudian mengambil sebuah handuk disana. "Pulang sana, aku malas melihatmu."
"Ck, Saso-kun jahat!" Sasame melipat kedua tangannya di dada. Melihat Sasori yang tidak memperdulikan dirinya, ia memandang lelaki itu dengan pandangan lesu. "Saso-kun..."
Dengan pandangan malas, ia balas menatap Sasame. "Apa tujuanmu datang ke Jepang?"
Melihat Sasori yang mulai mencoba mengobrol bersamanya, Sasame pun tersenyum lebar. "Tentu saja untuk melihatmu! Kau tau, aku masih merindukan masa laluku disini. Jadi aku memutuskan untuk datang dan sekalian juga untuk melihatmu kan? Lagipula aku ingin ber—"
"Cukup," Sasori mengangkat tangannya. "Itu masa lalu, Sasame. Tidak ada lagi kaitannya itu dengan sekarang."
"Tapi itu penting bagiku!" Sasame berteriak, sedangkan Sasori hanya menatap gadis itu datar. "Aku sudah menunggumu disana, tapi kenapa kau tidak datang-datang...? Aku selalu menunggumu tau! MENUNGGUMU SEPERTI ORANG BODOH DI INGGRIS SELAMA 10 TAHUN! 10 TAHUN SASORI! 10 TAHUN!"
Sasori menatap Sasame dengan pandangan datar, tidak peduli dengan gadis berambut coklat madu yang nafasnya tersengal-sengal. sang lelaki hanya cuek, tidak peduli dengan Sasame yang sudah menitikkan air mata. "Aku tidak peduli, bagiku itu hanya masa lalu yang bodoh."
"Dengar Sasame," Sasame terkejut dengan nada dingin yang tajam dari bibir Sasori, "Itu hanya masa lalu kita saat masih bocah. Saat itu aku hanyalah seorang bocah polos berambut merah yang tidak tau apa-apa." Ia meletakkan handuknya lagi di atas meja. "Dan pada saat itulah aku tersadar.. ternyata aku telah melakukan kesalahan besar."
"Ke-Kesalahan apa? Bukannya kau—"
"Tidak ada perasaan cinta terhadapmu, Sasame." Sasori memotong perkataan Sasame, "Aku merasa kita hanyalah seorang teman. Teman masa kecil."
".. Begitu, jadi kau menganggapku hanyalah teman masa kecil?"
Sasori mengangguk.
"A-Aku mengerti," Suaranya terdengar serak, ia menghapus air matanya.
Tanpa berbicara sedikitpun, Sasame segera berlari melewati Sasori dan menutup pintu dengan bantingan keras. Sedangkan sang pemilik pintu hanya bisa menghela nafas, mengacak rambutnya yang berantakan.
"Kuharap kau mengerti..."
Sedangkan diluar, Sasame berjalan menuju tempat parkir dan segera menutup pintu mobilnya. Ia memukul stir kemudi dan mengacak rambutnya, kesal.
Ia terdiam. Namun perlahan seringai berbahaya mulai muncul di bibirnya.
Kemudian ia tertawa.
"Kau akan jatuh ke pelukanku sekali lagi, aku tau itu, Saso-kun..."
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Thanks yang sudah mensupport fict ini sampai sekarang, meskipun saya nda yakin masih ada readers yag pengen baca ato bahkan sudah lupa dengan fict ini. Arigatou minna-san! Karena review kalian semua itulah yang membuat saya tersenyum dan berinisiatif melanjutkan fict ini!
.
.
SPECIAL THANKS TO
Juu, Uchiha Shesura-chan, ayamoekari, Sabaku no Sarang, yrcherry, CassieYJNS, Uchiha Yuki-chan, yr, athey hatake, Kumi Usagi, Kei FAA, Aisky, Kureijii, morino, orange caramels, justreaders, GraceTheo, mariko-chan, ocha-chan, Nickyy09, Zee Uchiharuno, Hikari Matsushita, Kiki RyuEun Teuk, HinaKo, TAILALAT, kimoo
.
.
Terima kasih banyak atas review, saran, kritik, fave, serta alertnya! Tanpa kalian semua mungkin fict ini tidak akan lanjut. ehehhee :V
.
.
RnR?
Thanks :3
