Arrrgggh!! Di chapter kemaren salah nulis!! Lagi kagok!! Ampun!! Well, mina-san... Chapter 4… Agak susah juga nulis 2 chapter sehari. Nggak apa-apa, deh. Mina-san… Bagaimana chapter 3? Bagus? Lucu? Ato malah jelek? Mau 3-3nya juga nggak apa-apa, saiah masih amatir.. Ngomong-ngomong tentang rencana sekuel ini cerita, bakal ada kalau ini chapter nyampe chapter sebelum terakhir. Tolong wujudkan cita-cita itu, yah! Setelah itu ada bahan cerita fic multi-chap lagi, nieh.. Dan tentang Akatsuki lagi (I love Akatsuki, yeah!)! Tokoh utamanya adalah… Deidara-chan sebagai cewek! Tungguin ajah, ya! Tolong kasih pendapatnya lewat ripiu, ya! Nah…chapter 4! Lanjutin plan 2 dan plan 3, yeah! Berjuanglah, Tobi! I'm always love you!!

Summary : Plan 2 and Plan 3 dijalankan! Apa akan berhasil? Just read it to find out! And one more thing, need ripiu!! Chapter 4 updet.

Disclaimer : Naruto dan Akatsuki punya Masashi Kishimoto-san, ini cerita punya saiah, dan berharaplah sebentar lagi saiah mendapatkan hak untuk memiliki Naruto dan Tobi dari Kishimoto-san…

Warning : Males ngomong, not a yaoi fic. Sebenernya seneng yaoi, sayang nggak bisa buat. Deidara anak cewek tulen, sayang cerewet. Tobi a.k.a. Madara pake tubuh Obito. Saiah suka 3-3 nya.


Akatsuki Triangle Love

Chapter 4 : Plan 2 & Plan 3, Activated!

Jam 11 pagi.

-Ruang kerja Pein-

"Madara-san……", keluh Konan.

"Gomenasai, gomenasai!!", teriak Tobi sambil menyembah-nyembah (nyembah untuk meminta maap, bukan untuk menghormati Pein… Wahahaha…)

"Sudah kubilang pake kelakuan Madara-san seperti biasanya, kan? Kenapa malah jadi begitu? Masa Madara-san terlalu bodoh untuk diberi instruksi seperti itu, sih? Aku memang terlalu pintar, sih, ya.. Hohohoho!!", kata Pein sambil menyombongkan dirinya dan mengancungkan tangannya ke langit dan memegang dadanya dengan tangannya yang satu lagi. Yap, keceplosan, deh. Ajal untuk Pein sudah dekat….

"……", Tobi hanya diam, belum mengeluarkan Sharingannya, tapi hanya menatap kepada Pein secara…..kelam….

"!!", Pein pun sadar! Sayang, penyesalan selalu datang terlambat, dan kemudian berbalik secara pelan-pelan untuk melihat tatapan Death Glare milik Tobi sambil mengeluarkan keringat dingin. Sekejap saja…

'Mangekyoshi Sharingan!!'

"GYAAAAAAAAAAAAA!!"

(Mari kita lewati 72 jam yang melelahkan ini dalam pikiran Pein, biarkan derita itu ditanggung sendiri. Hahahaha…)

1 detik kemudian.

"Haah, haaah, haah, haaah…", Pein sudah terengah-engah, keringat dingin keluar dari mukanya. Sabetannya enak, nggak? (siap-siap di rinnegan)

"Masih mau lagi?", kata Tobi merasa menang.

"Nggak! Nggak! Maaf, Madara-san!!", teriak Pein ketakutan.

"Nggak apa-apa, Pein-kun?", tanya Konan khawatir.

"Tenang saja, Konan-chan. Aku tidak akan dikalahkan semudah itu, kok..." (lagaknya! Padahal udah di Amaterasu tadi!)

"Hentikan basa-basinya!! Bagaimana dengan rencana selanjutnya?? Kalian membuat rencananya terlalu parah! Karena itu jadi gagal, kan!!", teriak Tobi sewot.

"Memangnya tadi siapa yang mengagalkan rencana itu?! Bodoh!", marah si Pein.

"………", kali ini Tobi cuman diam. Ya, sudah jelas rencana tadi gagal karena kesalahannya!

"Madara-san.. Pokoknya jangan kambuh lagi, ya! Kalau nggak bisa-bisa kita gagal terus kalau seperti ini!", kata Konan menasehati Tobi.

"Maaf, aku cuman kambuh tadi… Kenapa aku membuat Tobi memiliki kepribadian seperti ini, ya? Heeeh…", keluh Tobi sambil menghela napas. Pein yang mendengar Tobi berbicara seperti itu, langsung berpikir dalam hati, 'Ketua bodoh! Benar nggak, seh, dia itu Madara Uchiha? Kalau melihat sikapnya itu… Lebih cocok menjadi gelandangan di bawah jembatan daripada pemimpin klan Uchiha.. Serius… Aku merasa bersalah masuk organisasi nggak jelas ini… '

"Nah, bagaimana dengan rencana selanjutnya?", tanya Konan.

"Sebentar lagi, kan, makan siang nih. Bagaimana kalau mentraktir Deidara mie ramen?", tanya Pein bangga dengan idenya, nggak Konan, nggak Pein, sama saja!

Satu kipas besar berwarna merah putih (hidup Indonesia, yeah!) merek Uchiha mendarat di pipi Pein. Untung saja tidak ditambah 72 jam yang menyakitkan lagi.. Kenyang, kenyang, dah, si Pein… (mending itu kipas buat saiah.. AC lagi rusak.. Huahahahaha... Ada yang mau kasih AC buat saiah?)

"Bagaimana kalau Madara-san membuat masakan untuk Deidara? Deidara lumayan suka makanan, kok!", usul Konan.

"Wah, ide yang bagus, Konan! Tidak seperti Pein!", tawa Tobi sambil menjelek-jelekkan Pein. Pein langsung menundukkan mukanya dan tampak mengecil.. (SFX : Sruuuut...)

"Yak! Kalau begitu kita lanjutkan saja! Ayo, Madara-san!", ajak Konan sambil menarik tangan.

"Ah, Konan. Ada satu masalahnya…"

"Ya?"

"Aku tidak bisa memasak…"

Diam 1 detik

Diam 5 detik

Diam 10 detik

Diam 1 menit

"DASAR UCHIHA MADARA BODOH!!", teriak Pein sewot dengan kelakuan pendiri Akatsuki yang sedikit (bukan sedikit, tapi banyak) autis itu.


Jam 11.30 pagi (udah siang belum, sih? Tau ah..)

-Dapur markas Akatsuki-

"Nah, sekarang potong pie sheetnya menjadi 2 bagian.."

"Ugghhh…"

"Oi!"

"Gyaaaaaa!!", teriak Tobi dan Konan bersamaan, spontan Pein pun langsung kaget.

"Ja…jangan mengagetkan seenaknya, dong, Pein-kun!", teriak Konan

"Su..sudah kubilang, berjaga-jagalah di luar! Kalau ada yang tau aku membuat makanan, bisa gawat nantinya!", teriak Tobi yang juga ikut kaget.

"Yah, mau bagaimana lagi, dapur ini langsung tembus ke arah ruang tamu, sih. Tapi tenang ajah, yang lain lagi asyik nonton Power Ranger (emang masih jaman? Kakek-kakek MKKB…), kok. Jadi mereka ga mungkin ke sini", kata Pein.

Spontan Konan dan Tobi langsung sweatdropped. Tapi kemudian langsung melanjutkan masakannya.

"Huh… Dasar… Benar-benar mau membuat makanan, ya.. Memang mau membuat apaan, sih?", tanya Pein.

"Mille-feuille", kata Konan.

"Hah? Mil…Ful…? Milk-Full? Susu penuh? ASI, ya? ", tanya Pein keheranan berikut dengan mukanya yang mesum.

"Mille Feuille, bodoh!! Dasar!! Nggak bisa ngomong bahasa Inggris, ya?! Dan, apa maksudnya ASI?! Dasar mesum!!", teriak Tobi sewot.

"Jangan terlalu perfeksionis jadi orang, tidak baik untuk kesehatan… Dan mesum itu baik untuk kesehatan, jadi boleh-boleh ajah", kata Pein dengan santai sambil bersiul. Si Tobi sudah mau marah, tapi langsung nggak jadi, mengingat sedang membuat makanan untuk Deidara tercintanya…

"Madara-san! Ayo lanjutkan memasaknya!", kata Konan.

"Ah, iya!", kata Tobi.

"Nah, berikutnya, masukan Mille-Feuille yang sudah dipotong ke dalam oven. Tunggu sampai 45 menit. Dan kemudian keluarkan secara hati-hati", kata Konan membaca buku resep yang di tangannya.

"Tapi kita nggak ada oven…", keluh Pein.

"Pein!! Suruh si Kakuzu membelikan oven untuk kita!! Cepat, cepat, cepat, cepat!!", teriak Tobi dengan nada memerintah miliknya.

"Bodoh!! Kalau minta sama Kakuzu, mana mungkin dikasih!! Dan bukannya malah lebih lama jika membawa oven ke sini?! Memang petugasnya ngerti dimana markas Akatsuki?! Kalaupun tau, bukannya malah bakal dimakan sama Zetsu duluan?!", teriak Pein sewot saking kesalnya dengan masalah yang nggak selesai-selesai ini.

"Cih.. Iya, iya.. Kan, lumayan, bisa menambah furniture di markas yang bobrok ini…", kata Tobi kesal.

"Jadi bagaimana dong?", tanya Konan.

"Tenang saja. Masih ada aku di sini!", kata Tobi dengan bangga sambil melepas topengnya, dan kemudian melancarkan jurus andalan klan Uchiha.

'Katon : Goukakyou no Jutsu!!'

'Groooarrrrr…'

Dalam sekejap saja, yah, andah semua tau lah... KEBAKARAN!!

"Gyaaaa!! Terbakar, terbakar, terbakar, terbakar!!", teriak Pein setelah melihat dapur mereka jadi terbakar dikarenakan api yang terlalu besar dikeluarkan oleh Tobi.. (sebenernya buat manggang mille-feuille nggak perlu api segede gini..)

"Kyaaaaa!! Panggilkan Kisame, panggilkan Kisame!!", teriak Konan panik.

"Ada apa ini, ada apa ini, ada ap.. Guwaaaaaaa!! Kebakaran! Kebakaran!!", teriak anggota yang lain yang datang ke dapur setelah mendengar keributan yang terjadi.

"Uwaaaaa!! Kisame-senpai!! Kisame-senpai!! Padamkan ini! Padamkan ini!!", teriak Tobi ikut-ikutan panik (dalam gaya Tobi-nya).

"Huweee, huwaaa, tolong dewa Jasshin!!", teriak Hidan sambil menangis seperti bayi, tapi tetep aja nggak imut sama sekali.. Orang udah kakek-kake gitu, kok!!

"Kisame! Padamkan ini!!", kata Sasori yang jadinya sekarang udah bangun dan nggak bisa jaga imej 'gw nggak peduli'-nya lagi. Oh Mai Goat… Sampai-sampai Sasori no danna kita jadi seperti ini… Apa kata duniaaa?!

"Ukhhh.. Ukhh.. Baiklah!! 'Suiton : Suijinheki!'", kata Kisame sambil mengeluarkan jurusnya dan berhasil membuat api menjadi padam, tetapi tetap saja dikarenakan api yang dikeluarkan Tobi sehingga dapur menjadi gosong (bukan, bukan mille-feuillenya tapi dapurnya).

"Uwaaa… Untunglah, un… Tapi bagaimana bisa terbakar, un?", tanya Deidara.

"Akh.. Akh.. Itu.. Itu cuman kesalahan teknis… Deidara-senpai tidak apa-apa, kan?", kata Tobi salah tingkah, tetapi juga mengkhawatirkan Deidara.

"Nggh… Aku tidak apa-apa, sih, un.. Loh? Kenapa kamu melepas topengmu, un? Jarang sekali kalau kamu tidak di luar kamar, un…", kata Deidara.

"Ah.. Ah.. Lagi panas aja, kok, senpai! Tobi kepanasan pakai topeng terus! Ngomong-ngomong Deidara-senpai mau makan ini, nggak?", tanya Tobi sambil memberikan mille-feuillenya yang sudah berbentuk seperti…bulatan berwarna hitam yang sudah tak jelas bentuknya lagi…

Langsung saja Deidara sewot. Ya, iyalah! Masa' makan makanan gagal seperti itu?!

"Apa maksudnya aku disuruh makan beginian, un?!", teriak Deidara dengan kesal sambil melempar mille-feuille tersebut. (p.s. : makanan jangan dibuang-buang, nanti dimarahin dewa Jasshin…)

"Loh? Jadi Tobi yang membuat kebakaran ini untuk membuat makanan? Untuk dikasih ke Deidara, ya?", tanya Itachi bingung.

"Hoh! Kouhai yang baik! Sroot, sroot!!", kata Hidan sambil menangis (gejhe) dan mengeluarkan ingusnya.

"Akh, akh!! Bu…bukan, kok! Itu cuman makanan yang diberikan Pein-sama tadi malam yang tadinya mau dikasih ke Konan-chan tapi nggak jadi karena gagal!!", jawab Tobi seadanya, tanpa mempedulikan aura Death Glare yang dikeluarkan oleh Pein di belakangnya.

"Sial kau, un! Walaupun begitu, un, makanan gagal jangan dikasih ke orang, un!!", teriak Deidara menasehati Tobi.

"Go…gomenasai, senpai!!", kata Tobi sambil mengeluarkan muka melasnya. Di sisi lain, hanya ada 1 orang yang terus melihat ke arah Tobi dan Deidara. Tetapi orang itu hanya diam, hanya melihat ke arah mereka dengan sorotan mata yang halus tetapi dingin. Kemudian orang itu berpaling ke arah lain dan berjalan menuju ruang tamu, melanjutkan kegiatannya di sana, seakan-akan tidak peduli dengan apa yang telah terjadi tadi.

"Yak, masing-masing akan kutunggak 100.000 ryo dari kalian semua untuk perbaikan dapur. Itu belum termasuk pajak, PLN, PBB, PPKN, PLKJ…" (anda semua tau sapa yang ngomong begini…)

"Cukup, berhenti sampai di situ!! Jadi bagaimana dengan makanan kami, ketua sial?!", tanya Zetsu item sewot, mengetahui bahwa dengan 'no kitchen', berarti 'no food for Zetsu', yeah!

"Yah, seperti yang kau lihat. Nggak ada dapur, jadi.. PERGI CARI MAKANAN KALIAN SENDIRI!!", teriak Pein sewot karena masalah yang datang terus-menerus setelah menerima permintaan dari Tobi ini. (Makanya, pensi aja, Pein! Terus posisi ketua Akatsuki diganti saiah! Hahahahaha!!)

"Ketua bokek!! Kamu bertanggung jawab dalam masalah ini!! Kenapa kamu jadi lepas tanggung jawab begitu, hah?! Brengsek!! Tobi!! Biar aku makan kamu!!", teriak Zetsu item sambil mengarah ke Tobi.

"Loh? Hah? Kok, gitu?! Zetsu-senpai, Tobi anak baik.. Tobi tidak enak dimakan. Tobi rasanya asin, kok.. Jadi..jadi… Gyaaaaa!!", teriak Tobi sambil berlari karena dikejar oleh Zetsu yang ingin memakannya.. Disertai dengan semua anggota Akatsuki yang sweatdropped. Alhasil, makan siang bersama hari itu gagal disebabkan oleh satu mille-feuille saja, yang berarti…

Plan 2 : Failed


Jam 3 sore

-Ruang kerja Pein (lagi)-

"Arrrgggghhh… Aku menyerah!! Madara-san bodoh, bodoh, bodoh, BODOOH!!", teriak Pein sewot setelah 2 kali mengalami kegagalan berturut-turut dalam misi menembak Deidara. Ya, Akatsuki yang selalu berhasil dalam mengambil jinchuriki seperti apapun, gagal dalam sebuah misi menembak seorang gadis. Payah!

"………………………", lagi-lagi Tobi diam seribu bahasa. Ini sudah kesalahan yang keberapa yang dilakukan olehnya!! (author aja sewot, gimana Pein, ya? Tapi saiah sangat senang menerima kekurangan yang dimiliki oleh Tobi karena itulah sisi manisnya Tobi)

"Ini sudah mulai sore, nih… Bagaimana kalau gagal?", tanya Konan khawatir.

"Berarti kita hanya bisa menjalankan misi untuk satu kali lagi…", keluh Tobi.

"Setelah ini gagal, aku tidak mau membantumu menembak si Deidara sial itu!", teriak Pein kesal.

"Iya, iya, aku tau.. Jadi, bagaimana kalau memberikan bunga padanya? Katanya Deidara suka bunga, betul begitu Konan?", tanya Tobi kepada Konan.

"Ah, iya, Madara-san. Hampir tiap hari dia mengambil bunga yang ada di hutan di sekitar markas kita ini", kata Konan.

"Kalau begitu, aku akan memberikan bunga terbagus untuknya dan membuat dia jatuh cintrong padaku!!", teriak Tobi dengan tekad membara dan semangat berkobar-kobar (p.s. : jangan sebabkan kebakaran lagi, ya?)


-Hutan di sekitar markas Akasuki-

"Ah! Itu dia Madara-san!", kata Konan berbisik-bisik dengan Tobi setelah mencari Deidara dalam hutan dan kemudian menemukannya setelah berjalan 200 m. (di sini Pein sakit kepala, nggak bisa ikut misi ketiga. Lagi tidur-tiduran di kamarnya yang eksotis ituh, minum panaduol donk…) Di sini, tentu saja, kepribadian Tobi itu kambuh lagi.

"Akhh!! Deidaraaa-sen… UPPPHHH!!", kata Tobi yang kemudian mulutnya ditutup oleh Konan dan ditarik ke balik pohon.

"Ah! Tuh, kan! Madara-san kambuh lagi, kan! Tenang dulu, ya!", kata Konan yang sekarang sudah mengetahui tabiat Tobi : di mana ada senpai, di situ pasti kouhainya.

"Phaa Bhee Hohaa?? (Apa seh, Konan??)", dengan gaya mulut masih ditutup oleh tangan Konan.

"Kita intip dia dulu untuk sekarang, dan kemudian baru mencari bunga yang disukainya!", kata Konan memberi nasihat.

"Haheeha.. Hahi hehaskaan huuhuu hahanhu!! (kaya ngomong bayi, ya. Terjemahannya : Baiklah.. Tapi, lepaskan dulu tanganmu!!), kata Tobi sambil menepok-nepok tangan Konan yang menutupi mulutnya.


"Ah! Bunga ini bagus, un!", kata Deidara sambil memetik sebuah bunga berwarna kuning kemudian menaruhnya dalam keranjang bawaannya.

"Uwaa… Aku nggak menyangka Deidara bisa se-feminin itu sampe suka bunga…", bisik Tobi kaget melihat kelakuan Deidara yang seperti itu yang tak pernah diperlihatkan olehnya di depan matanya.

"Kalau seperti itu, Deidara memang cantik, kok!", bisik Konan menambahkan, dan diikuti dengan raut wajah Tobi yang memerah.

Setelah itu, Deidara berjalan lagi, diikuti oleh Tobi dan Konan secara diam-diam. Dan kemudian Deidara menemukan 2 buah bunga yang berjejeran, berwarana merah dan oranye.

"Wah, bunganya bagus banget… Warnanya merah! Dan satu lagi.. oranye…", kata Deidara pelan saat menyebutkan kata oranye.

Tobi dan Konan yang menguping dari belakang langsung berbisik-bisik

"Eh, eh.. Apa bunga termasuk apresiasi seni, Konan? Tampaknya Deidara tidak terlalu suka dengan bunga warna oranye, ya…", kata bisik Tobi.

"Entahlah, kita lihat saja dulu keadaannya sekarang", kata Konan.

Deidara memandang lama kedua bunga itu, kemudian dia memetik kedua bunga itu. Yang berwarna merah di taruh dalam keranjangnya dan yang satu lagi terus dipeganginya.

"Em.. Mungkin bunga warna oranye itu bermakna sesuatu, Madara-san..", kata Konan.

"Jangan tanya aku.. Aku tidak tahu..", kata Tobi.

Tiba-tiba saja, Deidara mengeluarkan tanah liat dari bajunya, membuat menjadi sebuah burung kecil, menancapkan bunga berwarna oranye ke tanah liat tersebut, kemudian melemparnya. Sekejap kemudian dia langsung berteriak, 'KATSUUU!!'

'JDDAAAARRRR!!'

Ledakan itu sampai membuat kaget Tobi dan Konan.

"A..apa yang dia lakukan?!", teriak Tobi (dengan suara kecil).

"Jangan tanya padaku…", kata Konan yang juga panik.

"Dia nggak lagi badmood, kan…"

Kemudian setelah itu, Deidara langsung berteriak (nggak jelas, biasalah).

"Dasar sial!! Tobi brengsek!! Topeng lollipop sial berwarna oranye itu, un!!", teriak Deidara dengan kesal. Tobi dan Konan pun langsung sweatdropped, tetapi tetap terus melihat Deidara dengan diam.

"Argghh!! Apa yang dia lakukan tadi?! Sial, sial, sial, sial, un, un, un, un!!", teriak Deidara secara gajebo dengan sukses.

"Dia benar-benar nggak suka padaku….", kata Tobi dengan kecewa.

"Ah.. Madara-san, ayo kita coba untuk sekali ini saja. Kalau tidak bisa, berarti dia bukan cewek yang tepat untuk Madara-san", kata Konan untuk menceriakan Tobi.

"Ughh…"

Setelah itu kemudian Deidara merebahkan dirinya di rumput yang terasa lembab di hutan itu, kemudian mengerinyitkan alisnya.

"Ah… Kenapa Pein-san memasangkanku dengan Tobi, ya, un?", tanya Deidara pada dirinya sendiri.

"Kan, si Tobi itu bisa saja berpasangan dengan Zetsu.. Oh, ya, si Zetsu itu sudah 2 orang, ya, un (putih dan item)", kata Deidara sambil menghela napas.

Tobi hanya diam, tetap terus melihat Deidara dalam kejauhan. Dia hanya bisa berpikir,

'Apa aku benar-benar tidak bisa masuk ke dalam hatinya? Sedikit saja… Apa kau benar-benar membenciku, Deidara? Apa bagimu, aku akan selalu menjadi kouhaimu? Apakah aku harus terus memanggilmu Deidara-senpai… Dan aku, terus menjadi seorang Tobi? Yang bodoh itu?', tanya Tobi dalam hati. Kenapa, terlalu banyak kata apa dan kenapa dalam pikiran Tobi itu.

"Ah! Ah! Pokonya, sekarang kita sudah tau bunga yang disukai oleh Deidara! Warnanya merah, ya! Ayo, Madara-san! Kita cari dulu bunga-bunga yang berwarna merah dan kuning!", kata Konan menyemangati.

"Ya, baiklah…", kata Tobi lesu.

Kemudian, mereka berjalan kembali secara diam-diam ke markas mereka, meninggalkan Deidara sendirian.

'Sraaak…'

Tobi mendengar suara gesekan rumput di belakangnya (yang bahkan tak terdengar oleh Konan), spontan saja dia langsung menengok ke belakang.

Tetapi, tidak ada apa-apa di sana.

'Suara apaan itu? Ah… Paling cuman perasaanku saja…'

Dan dia kembali melanjutkan jalannya bersama dengan Konan.

-Teras Akatsuki-


"Aku sudah capek…", kata Tobi lesu.

"Sudahlah, kita coba dulu untuk sekali ini saja, ya?", kata Konan berusaha menceriakan Tobi.

"Aku tidak mau… Dia sudah jelas-jelas menyukai Sasori", kata Tobi 5L (5L : Lesu, Letih, Lemas, Lemah, Loyo).

"Nggak apa-apa, kalau misalkan Deidara tidak mau, aku mau, kok, dengan Madara-san!", kata Konan ceria (ui, ui, Peinnya dikemanain?).

"Hah?"

"Ah, ng..nggak apa-apa, kok! Eh, lihat, tuh! Ada pot-pot bunga di sana! Kita bisa ambil bunga-bunga untuk Deidara-chan dari sana!", kata Konan sambil menunjuk kira-kira 50 buah pot bunga yang ada di seberangnya, ada yang merah, kuning, hijau, di langit yang biru –digeplak sepatu-

"Eh? Tapi sudah jelas-jelas itu bunga peliharaan, bisa bagus seperti itu, kok..", kata Tobi tidak yakin.

"Ya, nggak apa-apa! Kita bisa minjam bunga ini dari pemiliknya, kan?", kata Konan sambil memetik bunga itu satu-persatu (anu…itu bukannya namanya mencuri?). Tobi pun cuman diam, sedikit sweatdropped melihat kelakuan Konan itu.


"Tada!!"

"!! Ko..Konan-chan… Banyak sekali yang kau ambil itu…", kata Tobi sambil menunjuk 3 buket bunga yang sedang dipegang oleh Konan (3 buket!!).

"Tentu sajalah! Aku pinjam semua bunga yang ada di pekarangan ini! Deidara-chan pasti suka!", kata Konan dengan ceria.

"Ee… Ini bukannya yang namanya mencuri?", kata Tobi.

"Nggak, kok! Siapa yang bilang mencuri? Kita cuman meminjamnya sebentar, kok! Setelah selesai, kita balikan lagi bunga-bunga ini ke tempatnya!"

"Terserah, deh…", kata Tobi menyerah.


Jam 4 sore

-Koridor markas Akatsuki-

Deidara sudah kembali dari pekerjaan mencari bunga sore-sore miliknya itu dan sedang menuju kamarnya. Kemudian, terlihat Tobi sedang menaiki tangga sambil membawa 2 buket (yang 1 lagi diambil oleh Konan, untuk diberikan waktu mau menjenguk pacarnya Pein. Ah.. Masa muda…) hasil curiannya itu.

"Deidara-senpai!!", kata Tobi dengan ceria.

Deidara yang merasa dipanggil pun langsung menengok. Dan kemudian langsung melancarkan posisi 'siaga 1' (kok, jadi kaya ada letusan gunung berapi atau apa, ya.. Well, kita membicarakan Tobi di sini... Anda semua tau, kan…).

"Ja..jangan mendekat!", kata Deidara dengan panik.

"Heh? Tenang saja, Deidara-senpai! Tobi cuman mau memberikan buket bunga ini pada Deidara-senpai!", kata Tobi dengan ceria sambil menyerahkan kedua buket bunga itu kepada Deidara. 1 buket bunga berisi mawar yang berwarna merah kelam dan 1 lagi bunga crysanthemum (bener ada nggak seh? Cuman pernah denger aja…) yang memiliki warna kuning kecoklat-coklatan.

"Eh…", kata Deidara dengan muka yang memerah.


Sementara itu…

-Teras Akatsuki-

"Gyaaa!! Rose, crysan, lily, daifodiel, jesmine!! Di mana kalian?!", teriak Zetsu putih.

"Ada yang mengambilnya!! Argh!! Sampai-sampai venus flytrap (yang di pot, bukan di kepalanya) dan kantong semarku juga hilang! Brengsek!!", kata Zetsu item.

"Siapa yang mengambilnya…?", kata Zetsu putih lemas.

"Weh! Liat, tuh! Ada kertas di sekitar tanah yang tercecer!! Berarti Konan!! Cewek itu!! Dasar sial!!", kata Zetsu item sambil menunjuk kertas yang ada di tanah (nggak tau bisa jatuh. Kenapa, ya? Tanya kenapa… Hanya saiah yang tau… -dilempar bakiak-)

"Eh, eh, tunggu dulu! Aku tidak yakin Konan melakukan ini.. Kita tanya saja dulu padanya, ya?", kata Zetsu putih menyarankan dirinya sendiri.

"Nggak mau tau! Pokoknya, siapapun yang melakukan ini, dia akan jadi makan malamku!!"


"Jadi bagaimana, Deidara-senpai? Senpai mau bunga ini, nggak?", tanya Tobi dengan ceria.

"Ah… Aku senang sekali, Tobi… Tapi bagaimana kamu tau aku suka bunga, un?", tanya Deidara.

"Heh? Ah, itu… Tobi tanya kepada Konan-chan, loh! Tobi cuman ingin membuat Deidara-senpai senang!", balas Tobi malu-malu anjing.

Deidara pun berpikir, 'ternyata Tobi baik juga.. Dia mau membelikan bunga mahal ini kepadaku.. Warnanya merah dan kuning pula, un… Un.. Aku jadi merasa bersalah dengan apa yang sudah kulakukan dengan bunga warna oranye itu, un…'

"….Baiklah…. Aku terima bunga ini dengan senang hati, un…", kata Deidara malu-malu sambil tersenyum (oh…so sweeeet!!) dan kemudian mengambil buket bunga yang diberikan Tobi padanya pelan-pelan.

"Heh? Benarkah?! Berarti Deidara-senpai sayang pada Tobi, ya? Hore!! Tobi anak baik! Tobi anak baik!!", kata Tobi berteriak kegirangan.

Deidara cuman tertawa melihat kelakuan Tobi yang seperti anak-anak itu, dan kemudian berpikir kembali, 'tampaknya dia mau minta maaf dengan apa yang terjadi tadi pagi.. Anak kecil yang masih polos, ya, un…' kata Deidara dalam hati.

"Iya, kok! Tapi Tobi.. Kamu jangan melakukan hal-hal seperti itu lagi padaku, ya, un! Hal yang tadi pagi dan siang itu, un!", kata Deidara sedikit marah.

"Heh? Tenang saja, senpai! Tobi tidak akan melakukannya lagi!", kata Tobi meminta maaf.

Tiba-tiba saja, sesosok makhluk berkepala hijau menaiki tangga dengan kecepatan tinggi, dan kemudian dia berteriak.

"TOBIIIIII!!", teriak Zetsu item sewot.

"Gya…Gyaaaaaa?! Zetsu-senpai?!", teriak Tobi kaget, berikut pula dengan Deidara yang sudah keringetan melihat kalau Zetsu udah marah, berarti siapapun bisa menjadi makanannya…

"Biar ku makan sini!! Kau yang sudah merusak bungaku, kan?? Konan ngomong begitu padaku!!"

"TIIDAAAAAAAK!! Tobi anak baik, Tobi anak baik, TOBI ANAK BAIIIIK!!", teriak Tobi sambil berlari menghindar dari kejaran Zetsu.

(karena kejadian yang menurut saiah kurang pantas diceritakan karena melanggar HAM, mari kita nikmati bunyinya saja)

"Gyaaaaaaa!! UKH!!" 'glub, glob' "Urggggggh!!" 'nyam, nyam, nyam, nyam'

"Berikutnya kamu…"

"Kyaaaaaaa!!"


Setelah itu, untung saja Deidara tidak dimakan olehnya dan Tobi (dengan sukses) berhasil dikeluarkan hidup-hidup (ya, iyalah… Masa mati-mati? Bukan Uchiha Madara namanya…) dengan bantuan anggota lainnya dari mulut (mulut!!) Zetsu, sampai-sampai Itachi harus mengeluarkan Mangekyoshi Sharingannya, ditambah dengan Samehada Kisame, Rinnegan Pein, boneka-boneka menyeramkan Sasori, dan sabit nggak berseni milik Hidan. Alhasil, Tobi sudah berlumuran dengan cairan lendir-lendir yang menempel di kepala, topeng, juga bajunya.

"ZETSUUUUU!! Sudah kubilang berapa kali jangan memakan anggota kita?! Kita saja sudah kekurangan anggota tau!!", teriak Pein sewot.

"Maaf… Tapi yang penting kita sudah mengambil semua bunga-bunga milik kita (setelah memakan Tobi, Zetsu langsung mengambil kedua buket bunga dari tangan Deidara, sebenernya mau dilanjutin buat memakan Deidara, tapi anggota yang lain udah dateng duluan)", kata Zetsu putih sambil memeluk anak-anaknya.

"Yang penting sudah selesai, kan.. Jangan sia-siakan Mangekyoshi-ku, dong! Ini oleh-oleh buat adikku nanti tau!", kata Itachi.

"Ya, sudahlah. Sudah selesai, kan? Menganggu doaku untuk dewa Jasshin saja…", kata Hidan yang tadi sedang taat berdoa kepada dewa Jasshin.

"Ayo kita pergi, ayo kita pergi. Aku mau melanjutkan menghitung pemasukan kita lagi, nih…", kata Kakuzu.

Setelah semua orang pergi, kemudian hanya tinggal Tobi, Deidara dan Sasori saja. Entah kenapa, Sasori yang tidak peduli dengan orang itu terus melihat ke arah Deidara dan Tobi. Deidara kemudian berkata kepada Tobi.

"Bodoh! Ternyata kamu memberi kamu bunga itu dari hasil mencuri, un?!", teriak Deidara sewot, dengan niat marah juga menasehati kouhainya yang bodoh itu.

"Ah…ah… Aku cuman mau memberi Deidara-senpai bunga saja…", kata Tobi.

"Akh! Terserah, deh, un! Kamu buat aku repot saja! Hampir saja aku akan dimakan oleh kanibal itu, un! Aku mau pergi dulu, un! Kamu buat aku sakit kepala! Jangan membuat orang repot dengan ulahmu, dong, un!", kata Deidara dengan nada kesal sambil berpaling dan berjalan menjauh untuk menuju tangga.

"Ah, tapi, senpai!", kata Tobi seraya sambil memegang tangan Deidara yang hendak pergi itu, spontan Deidara langsung kaget dan mukanya memerah. Kondisi itu berlangsung selama beberapa detik dan kemudian...

'BAAATSS!'

Tiba-tiba saja Sasori sudah berdiri di samping mereka berdua, dan tampak dia sudah melepasakan tangan mereka berdua yang otomatis dia juga memegang tangan Deidara juga Tobi, tak dipungkiri lagi, muka Deidara yang tadi saja merah sudah jadi lebih merah lagi daripada tomat! Ya, iyalah! Dipegang oleh danna-nya tercinta gitu, loh!

"Sa...Sasori-senpai?", tanya Tobi bingung dengan kelakuan Sasori yang sedikit aneh itu.

"Tobi, Deidara sekarang tidak mau dekat-dekat denganmu. Tidakkah kamu mengerti privasi orang sedikit? Atau apa kamu tidak punya sopan santun dengan seniormu?", kata Sasori secara sopan, cepat, tepat, dingin, dan dalam waktu yang bersamaan, nancep bangeeet…

Tobi yang mendengar kata-kata Sasori itu langsung mematung, syok dengan kata-kata Sasori yang pedas. Selagi dalam kebekuannya itu, Deidara turun menuju lantai 1 ditemani oleh Sasori, meninggalkan Tobi sendirian di koridor.

'A…aku…? Tidak punya sopan santun…? Aku…? Uchiha Madara ini…? Akh………'

Plan 3 : Failed

To be Continued


LvNa-cHaN : Chapter 4, mina-san!! Cuape buatnya… Ini chapter jauh lebih panjang dari chapter sebelumnya… Di sini humornya parah, nih… Gomenasai banged… Nggak lucu, ya…

Zetsu (item) : Kenapa selalu kita yang kebagian sialnya?! Brengsek!! Kita sudah nggak kebagian makan malam, nieh!!

Pein : Sakit kepala………

LvNa-cHaN : Makanya minum panaduol dong!! –menyerahkan 1 butir obat sambil memperlihatkan gigi kinclong dan jempol ala Guy-

Semua : -sweatdropped-

Tobi/Madara : Eh, eh, ngomong-ngomong mille-feuille itu apa, sih? –pasang tampang orang bego-

Konan : Itu makanan, lah!

Kisame : -sambil sweatdropped- semua orang juga tau itu makanan…

LvNa-cHaN : Mille-feuille itu makanan kaya' kue yang dikasih stroberi dan gula bubuk di atasnya. Tapi saiah cuman pernah baca di buku dan nggak buat (dan saiah nggak tau resep yang di cerita bener ato nggak, agak lupa soalnya), cuman beli ajah. Enak, loh! Zetsu coba makan, deh!

Zetsu : Aku lebih memilih makan orang daripada makanan normal…

Semua : -sweatdropped-

Tobi/Madara : Arggh!! Pokonya, chapter ini harus ripiu! Chapter 5 mau dateng bentar lagi!!

Sasori : Jangan buat aku menderita lagi… -pasang tampang orang mati-

LvNa-cHaN : Sasori-kun! Udah bagus kukasih adegan kamu bisa pegangan tangan sama Deidara yang jadi cewe di situ! Kamu harusnya berterimakasih padaku!

Deidara : Ah… Tangan Sasori no danna…

Tobi/Madara : Ditambah memegang tanganku!! Apa maksudnya itu?! Emangnya ini cerita yaoi apa?!

LvNa-cHaN : Maaph, Madara-kun… Ehehehe…

Kakuzu : Eit! Kapan dapurnya mau dibenerin?! Sofa yang kemarin juga belum dibenerin lagih!! Kenapa di sini aku harus keluar duit terus?!

Hidan : Dewa Jasshin tidak membenarkan hal-hal duniawi… Urungkan saja niatmu…

Kakuzu : Dewa Jasshin, dewa Jasshin melulu, loe!! Duit itu lebih penting daripada dewa Jasshin ato semacamnya milikmu itu, tau!!

Hidan : Hah!! Menghina dewa Jasshin! Kakuzu!! Kau akan kujadikan persembahan dewa Jasshin yang ke-600!!

Kakuzu : What?! Sial! Sini loe, kalo berani!!

Itachi : Jangan berantem, dong!

Konan : Kyaaa!! Jangan jadikan pojok author jadi medan perang dong!! Pokoknya, chapter ini harus ripiu! GPL!! Karena chapter 5 juga akan datang secepatnya!! Oc? Bye, bye!!