*LOVE OR MONEY* PART4
CAST:
kim minseok
xi luhan
kim jongin
oh sehun
.
.
.
suasana kantin saat ini sangat ricuh terutama di sudut ruangan kantin, suara tawa seorang park chanyeol mendominasi, bahkan sekarang kita bisa melihat chanyeol berguling guling di lantai sambil memegang perutnya, dan kita pun bisa melihat suho yang kini wajahnya memerah dan mulai menangis karna terlalu banyak tertawa dan pandangan jijik yang di layangkan seorang kris. lalu erangan frustasi dari luhan, dan pelaku kekacawan ini malah dengan santainya makan tanpa memperdulikan lingkungn sekitarnya dia adalah oh sehun, ada apa dengnnya?
di karenakan kalah taruhan dari chanyeol maka dia harus memakai pakayan yeoja dan berterimakasih lah pada chanyeol karna telah mempersiapkan segalanya sampai asesoris terkecil pun telah dia persiapkan dan tambahan dari chanyeol sehun tadi pagi menjadi pager ayu di depan gerbang sekolah, dan reaksi sehun dia bersikap seolah tak terjadi apapun. itu lah yang membuat luhan frustasi.
.
.
.
.
"oh tuhan. oh sehun kau ini bisakah kau sedikit perduli pada penampilanmu? coba lihat dirimu rambut palsu berwarna coklat sepinggang, bibir merah, dan apa ini seragam yeoja? oh tuhan sehun aku kini malu menjadi sepupumu kau terlihat seperti banci taman lawang(?) "
erang luhan namun sehun sama sekali tak perduli
"pergi kau dari sini aku tak mau melihatmu"
dan kini kris yang terkenal tak pernah berkomentar kini berkomentar
"YAKKK PARK CHANYYEOL BERHENTI TERTAWA ATAU AKU KEMBALIKAN KAU KE ASALMU?"
ancam luhan namun chanyeol tak menghiraukan amukan luhan
"sudah lah hyung nikmati saja "
jawab sehun santai dan pergi dari sana. lalu luhan menatap kepergian sehun.
"ini gila"
"sudah lah luhan hyung biarkan dia"
kini chanyeol sudah duduk di samping suho , suho pun sedang mengatur nafasnya
"sepertinya dia akan menemui jongin"
ucap suho setelah berhasil mengatur nafasnya
"jongin maksudmu salah satu kim bersaudara itu kan?"
"iya. ahir ahir ini aku sering melihat mereka bersama"
"loh kenapa padahal kan kita sudah selesai dengn taruhan ini?"
kini chanyeol yang mulai berbicara
"entahlah kita lihat saja kelanjutannya"
suho menaikkan bahunya. luhan tampak berpikir.
"yakk hyung bawa pacarmu itu ke mari "
luhan menatap chanyeol
"apa maksudmu?"
"oh ayolah kau mungkin berkata jika kau dan minseok berpacaran tapi aku tak pernah melihat kalian bersama, atau kau ingin berahir seperti sehun?"
"andwe, besok aku bawa dia ke mari"
luhan kemudian beranjak dari tempatnya, sedangkan chanyeol hanya terkikik geli
PLETAK
sebuah pukulan tepat mendarat di kepala chanyeol dan pelakunya adalah suho.
"kau ini apa apaan sih kenapa kau berkata seperti itu pada luhan ?"
"hanya ingin saja "
"dasar bodoh "
suho kembali memukul bahu chanyeol dan memandang kris yang sedari tadi hanya diam.
'dasar bodoh 'cibir suho dalam hati
.
.
.
minseok sekarang ini sedang menemani jongin makan di kelas jongin.
CEKLEK
lalu tiba tiba pintu terbuka menampakkan seorang yeoja, yeoja itu duduk di hadapan minseok dan jongin , sedangkan minseok dan jongin menatap aneh yeoja itu.
"anyeong jongin, hyung"
"anyeong" jawab minseok aneh namun sedetik kemudian , minseok tersedak makanannya, dan itu membuat jongin harus mengelus ngelus punggung minseok.
"kau ini yeoja kenapa kau memanggilku hyung?"
"apa kau tak mengenaliku?"
"memang siapa ku?"
jongin mendekatkan bibirnya di dekat telinga minseok
"dia oh sehun hyung"
minseok menatap jongin dan mengedip ngedipkan matanya beberapa kali dan mulai berpikir keras. dan tak lama kemudian minseok kembali tersedak oleh lludahnya sendiri
"kau tak apa apa hyung?"
kini sehun yang membantu menenangkan minseok, jongin hanya menatap sehun aneh, lalu saat mata jongin bertemu dengn mata sehun, sehun mengedipkan sebelah matanya, membuat jongin jijik padanya
"kenapa kau berpakayan seperti itu?"
"hanya kalah dalam sebuah permainan"
"kalian benar benar gila "
minseok berdiri dan memeluk jongin
"jongine kau tak boleh mendekati orang orang aneh seperti mereka "
jongin hanya mengangguk, dan itu membuahkan protesan dari sehun.
dan tiba tiba saja ponsel minseok bergetar dan saat minseok mengetahui siapa pelakunya minseok mendengus kesal.
miseok memandang sehun dan jongin bergantian.
"jonginie hyung harus pergi sebentar ne, tak apa kan kau ku tinggal di sini sendiri"
"tenang hyung ada aku di sini " ucap sehun membanggakan diri sendiri
"maaf akutak ingin adik manis ku berdekatan dengan seorang banci sepertimu "
sehun hanya manyun di katai banci oleh minseok.
"jongin ingat jangan dekat dekat dengannya ok, hyung pergi dulu"
jongin hanya mengangguk dan melambaikan tangan pada minseok yang mulai pergi dari kelasnya, setelah kepergian minseok, jongin memandang sehun yang duduk memperhatikannya.
"sepertinya kau tipe anak penurut yah jongin "
jongin mengerutkan keningnya saat sehun mengatakan hal tersebut.
"kau benar benar namja yang ajaib. kau tau kau mampu membuat perubahan besar dalan hidupku."
jongin tak menjawab perkataan sehun namun dia memperhatikan semua perkataan sehun, entah kenapa jongin merasanyaman berada di dekat sehun, sama nyamannya saat ia bersama dengan moonkyu dan minseok. jongin sadar dia baru mengenal sehun namun hati kecilnya mengatakan bahwa sehun itu cukup baik.
"hei jongin mau ikut aku pergi dari sini "
sehun menegakkan tubuhnya dan menatap jongin, sehun cukup mengerti jika jongin akan berreaksi aneh jika dia menyentuhnya secara tiba tiba oleh karna itu sehun memilih untuk tidak menyentuh jongin.
"kenapa kau masih diam saja di sana, kau bukan patung kan kim jongin?"
jongin menatap was was sehun namun sedetik kemudian jongin mulai menegakkan tubuhnya membuahkan senyum di wajah sehun.
"ayo kita berjalan bersama."
jongin menganggukkan kepalanya dan berjalan di samping sehun. memang aneh namun cukup menyenangkan.
.
.
.
sehun dan jongin pergi dari sekolah dan ini pengalaman pertama dalam hidup jongin dia pergi bersama orang lain selain minseok dan moonkyu, dan sehun lah yang berhasil membuatnya seperti ini.
sehun sesekali menetap jongin yang sibuk memandangi jalan lewat jendela mobilnya, senyum mengembang di wajahnya, sehun bukan tipe yang senang bersikap lembut dan hati hati, sehun dan luhan memiliki sikap trempramen yang sama namun entah kenapa setelah sehun mengenal jongin sehun merasakan hal yang berbeda, sehun melihat jongin seolah oleh adalah sebuah kaca yang rapuh jika salah menyentuh dia akan hancur berkeping keping, dan karna jongin pulalah sehun lebih bisa bersikap lembut, yah semua karna jongin namja yang ia kenal beberapa hari yang lalu.
sehun dan jongin kini berada di sebuah danau yang cukup indah jongin duduk di pinggir danau dan beberapa kali melempar batu batu kecil ke dalamnya.
"bagai mana indah kan?"
jongin tersenyum pada sehun dan menganguk lucu.
"ini tempat faforitku, dan kau adalah orang pertama yang aku bawa kemari"
jongin menatap sehun dengan wajah polosnya membuat sehun tak tahan untuk mencubit pipi jongin, tapi sehun mencoba untuk tidak menyentuh jongin dan membuatnya histeris seperi dulu.
"jongin kau boleh melakukan apapun padaku, atau menganggap kata kataku ini sebagai lelucon bagimu namun harus kau tau, aku mengatakan ini dengan tulus dari lubuk hatiku."
jongin menatap sehun begitupun sebaliknya, sehun beberapa kali menghelankan nafasnya.
"kim jongin, mungkin ini terlalu cepat tapi aku tak mau membohongi diriku sendiri, aku oh sehun tertarik padamu, tertarik pada seorang kim jongin, dan aku tak perduli dengan perkataan orang lain menggenai dirimu tapi yang pasti aku mencintaimu. oh sehun mencintai kim jongin"
mata jongin membulat lucu dan sedetik kemudian jongin berdiri dari duduknya lalu melangkah meninggalkan sehundan sehun mencoba mengejar jongin dan melangkah mendahuluinya, sehun berdiri tepat di depan jongin sehingga membuat jongin menghentikan langkahnya.
"jongin maaf jika perkataan ku membuatmu taknyaman tapi ku mohon jangan hindari aku. aku tak membutuhkan jawabanmu tapi aku mohon untuk tidak pergi dari ku lagi "
jongin mendongkakkan wajahnya menatap mata sehun dan mengangguk.
"aku haya tak ingin membuat minseok hyung khawatir jadi aku ingin kembali ke sekolah sekarang."
mata sehun membulat dan senyum terlukis lebar di wajahnya. ini pertama kalinya sehun mendengar suara jongin dan itu kemajuan yang bagus.
.
.
.
bel pulang telah berbunyi namun kini jongin dan minseok sedang menunggu seseorang di samping lapang sepak bola.
"kau pulang bersama moonkyu yah"
jongin hanya mengangguk
"ingat jangan pergi kemanapun sebelum aku menjemputmu "
kembali jongin hanya mengangguk.
kini mata minseok hanya tertuju pada namja yang dengn seenak jidatnya menyuruhnya menunggunya di sini.
"apa yang sedang kau lihat hyung"
"seekor rusa"
jongin celingukan, dan minseok hanya terkekeh
"bukan rusa sungguhan jongin tapi namja itu"
minseok menunjuk seorang namja yang terus berlari mengiring bola.
"ada apa dengnnya?"
"aku hanya ingin tau saja orang orang bilang dia itu bila sedang bermain bola di lapang wajahnya itu pasti di penuhi bintang tapi ku rasa mereka salah aku hanya melihat tanduk di kepalanya"
jongin memperhatikan namja yang di perhatikan oleh minseok dan benar saja jongin merasa hanya tanduk yang muncul di kepala namja itu.
bagai mana tidak luhan namja yang sedari tadi di perhatikan minseok itu terus berteriak memakai emosinya dan kadang kala menggunakan kekerasan bermain bolanya
"ku rasa dia butuh air di kepalanya deh hyung "
"yah kau benar kepalanya berasap"
mereka berdua terkekeh
BRUKK
"YAKKK SUDAH KU KATAKAN JANGAN BERDIRI DI DEPAN KU BODOH"
luhan dengan tak ber pri kemanusiaan menendang bolanya ke depan wajah rekannya sendiri hingga membuat darah mengalir dari hidungnya
"hyung kurasa mendekatinya adalah hal yang buruk"
"mau bagai mana lagi dia adalah mesin uangku"
"mesin uang mu lalu kris hyung itu apa?"
"kris itu adalah teman ku "
"aku pikir dia adalah mesin uang mu"
"dia terlalu baik "
"dan namja itu"
"entahlah aku tak terlalu mengenalnya."
"kenapa kau tak mencoba saja bersama dengan kris hyung dia baik dan perhatian padamu dan sepertinya dia menyukai mu"
"aku tak mau. dia akan jatuh miskin bila bersamaku"
"kau menyukainya"
"yakkk kim jongin sejak kapan kau jadi cerewet seperti ini? biasanya kau tak pernah menanggapi ucapanku , dan membuat aku seolah olah berbicara dengn tembok daripada dengn dongsaengku"
"aku pergi"
minseok menatap dongsengnya yang kini telah melangkah meninggalkannya menghampiri namja yang di yakini adalah moonyu
"dasar dongsaeng kurang ajar"
setelah cukup lama minseok menunggu luhan ahirnya kini luhan berdiri di hadapan minseok.
"jadi sekarang apa tuan xi?"
"kau telah resmi jadi pacarku jadi mulai besok tetaplah berada di sampingku"
"kau ingin membayarku berapa? kau harus membayarku perhari jika kau menyentuhku kau harus membayar lebih bagaimana"
"cih , kau benar benar namja picik"
"dan saat kau menagtaiku pun kau harus membayarku"
"apa kau bilang"
"ne itu bisa saja di jadikan bukti sebagai pecemaran nama baik kan, ?"
"terserah padamu"
"saat hari berahir aku akan memberikan rincian harga padamu dan ini rincian harga untuk hari ini"
minseok memberikan selembar kartas pada luhan, luhan membaca kertas itu
"apa ini ?"
"itu di sebut rincian harga "
"mengganggu jam makan siang 10.000won. membuat ku menunggu 20.000won. membuatku bosan 10.000 menjadi pacar luhan 50 ribuwon"
"oh yah karna kau tadi menagtaiku kau harus membayarku 10ribu won dan juga kemarin kau membuat bibirku terluka kau harus mengganti uang pengobatanku seharga 30 ribu won jadi total.130 ribu won"
luhan hanya cengo mendengar penjelasan minseok..
.
.
.
.
di kelas jongin, jongin sedang menikmati makananna bersama dengan sehun, sebelum ke mari sehun sempat bertemu dengan minseok dan minseok meminta sehun untuk menemani jongin karna dia ada bisnis, karna itulah sekarang jongin bersama dengan sehun di kelas ini.
sehun enatap menu makanan jongin sangat sederhana tapi melihat wajah jongin yang begitu menikmati membuat sehun sadar kesederhanaan terkadang begitu indah dan menyenangkan, dan jongin adalah kesederhanaan itu sendiri.
"kau sangat menyukai makanan itu "
jongin hanya mengangguk memandang wajah sehun dengan senyum yang terlukis di wajahnya dan entah kenapa sehun sangat menyukainya.
"kau tau jongin, saat kau tersenyum kau terlihat sangat manis. jadi tersenumlah hanya padaku "
jongin tak menanggapi ucapan sehun dan kembali memakan makannanya dengan hikmat.
.
.
.
luhan dan yang lainnya kini mendapat tamu di tempat biasa mereka duduk yaitu kim minseok, minseok duduk di depan kris dan di samping kris ada chanyeol dan suho di depan suho ada sehun lalu di depan chanyeol ada luhan.
"siapa namamu?"
tanya chanyeol.
"kim minseok "
"apa yang kau suka ?"
"uang"
"warna apa yang kau suka ?'
"hijau"
"makanam faforit "
"pertanyaan selanjutnya akan di kenai biyaya "
chanyeol memandang minseok
"maksudmu ?'
"yah jika kau bertanya lagi padaku kau harus membayarku10 rb won satu pertanyaan "
suho hanya terkekeh mendengar pernyataan minseok dan chanyeol hanya mendengus kesal, minseok kini menatap namja di depannya
"kenapa kau selalu meminum teh ini kris."
"kenapa kau ini aku meminum susu?"
"nde"
trek
srek
kris menyimpan gelas tehnya dan menggesernya ke depan minseok
"kalo begitu minumlah ini"
BYURRRR
chanyeol dengn tak elitnya menyemburkan minumannya di depan wajah luhan, yang memang kini telah ber api api. luhan mengusap wajahnya kasar dan menatap chanyelol tajam
"mian hyung. dia ini pacarmu tapi lebih terlihat seperti pacar kris hyung"
komentar chanyeol
"benarkah itu "
dan itu suara minseok
"benar hyung. kris hayung itu paling tak suka bila acara minum tehnya di ganggu dan kris hyung itu tak pernah membiarkan orang lain menentuh teh nya tapi itu tak berlaku padamu hyung "
"benarkah itu? aigo ternyata kau orang yang kakuyah"
komentar minseok dan terus memandang kris, kris yang di tatap minseok hanya tersenyum. dan itu membuat luhan semakin kesal, luhan segera berdiri dan menarik kerah minseok dan segera pergi dari situ
"yakkk luhan hayung dia punya tangan kenapa kerahnya kau tarik kasian kan dia"
teriak chanyeol.
"mau kemana kau?"
sekarang suho yang berbicara
"KENCAN"
teriak luhan, suho segera memandang ke arah kris yang terus menatap kepergian minseok
'jika suka kenapa tak bilang saja' batin suho
minseok menghempaskan tangan luhan pada kerahnya.
"yak apa yang kau lakukan ?"
"aku tak menyentuh kulitmu jadi aku tak perlu membayar lebih kan?"
"tetap saja kau harus membayarku. ini bisa di sebut penganiyayaan"
"terserah dan kau ini bersetatus sebagai pacarku tapi kenapa kau malah bersikap lembut pada kris "
"kau membayarku hanya untuk menjadi pacarmukan tidak dengn bersikap lembut padamu"
luhan mengacak rambutnya frustasi, luhan mulai berpikir apa namja di depannya ini adalah manusia?, luhan membuka pintu mobilnya
"masuk lah "
"aku tak mau. dan mau apa kita?"
"bukan kah tadi sudah ku bilang kita akan kencan"
"kencan tak ada dalam kontrak kita"
"baik lah akan ku bayar"
"ok kalo begitu, ayo pergi."
minseok melewati luhan begitu saja
"mau ke mana kau"
"kencan"
"kau tak naik"
"aku tak mau lebih baik kita naik bis saja"
"kenapa?"
"mobilmu itu menambah folusi udara "
"APA KAU BILANG"
"KAU MAU IKUT ATAU AKU TINGGAL "
"YAKKK DI SINI AKU YANG BERKUASA"
"TERSERAH PADAMU RUSA ANEH "
"APA KAU BILANG RUSA ANEH "
luhan ahirnya mengalah dan mengikuti kemana minseok pergi, dan luhan merasakan kencan yang berbeda mulai dari makan di kedai kecil, saat itu luhan mengajak minseok ke sebuah restoran mewah namun minseok berkata
"restoran ini terlalu mahal lebih baik kita makan di tempat langgananku. murah tapi rasanya enak dan lagi pula makananya pun banyak, atau kau bisa membayarnya seharga restoran itu"
.
.
.
minseok menghabiskan waktu mereka bersama, dan sampai tak terasa waktu telah menunjukan pukul 8 malam, minseok yang terus memaksa untuk pulang ahirnya luhan mengantarkan minseok ke apartemen moonkyu."
"ok luhan terimakasih untuk hari ini dan juga uang ini"
"yah sama sama karna kau telah menguras uangku "
luhan segera pergi dari hadapan minseok dan lambat laun senyum minseok yang terus dia tunjukan hilang seketika
"maaf kan aku luhan, aku menguras uangmu, huh bersemangat minseok jika ini berhasil maka besok pasti terkumpul 10 juta won"
hari ini minseok terus berada di samping luhan, luhan pun sekarang mulai tau seperti apa minseok sebenarnya. dia ini tipe orang yang ceria, dia juga baik lalu irit dan perhitunagan, dia pun tipe yang tak perduli akan sekitarnya terbukti dari sikapnya yang tetap acuh meski di cibir oleh siswa siswi di sekolah dan luhan mulai merasa kagum pada minseok. namun ada beberapa pertanyaan yang terus berkeliaran di benak luhan, uang yang di kumpulkannya selama ini untuk apa karna luhan tak pernah melihat minseok berbelanja perhiasan atau apapun. dia terlihat sederhana dan makan pun minseok selalu memilih tempat yang murah lalu uangnya itu untuk apa? itu yang selalu di tanyakan luhan namun tak pernah ada jawaban pasti dari minseok.
minseok dan jongin sudah pulang dari cafe moonkyu, namun moonkyu menahan luhan dan sehun di cafenya
"aku ingin berbicara dengan kalin"
"apa yang ingin kau katakan pada kami?"
"jauhi minseok hyung dan jongin jika kalian hanya bermain main saja dengn mereka"
"aku tak bermain main "
sehun menatap tajam namja di depannya
"apa benar? aku tak percaya pada mu? asal kau tau aku tak akan membiarkan kalian menyakiti jongin atau pun minseok hyung"
"bocah apa yang kau katakan " kini luhan yang terlihat emosi menghadapi moonkyu
"ini hanya peringatan aku tak akan melepaskan kalian jika kalian melukai mereka"
sehun dan luhan menatap moonkyu tajam dan begitupun sebaliknya.
.
.
.
minseok menghelankan nafasnya saat akan memasuki tempat terlaknat menurut minseok. minseok menggenggam uang di tangnnya dan segera melangkah ke ruangan pemilik tempat tersebut. setelah lama menunggu ahirnya orang yang di tunggu minseok pun datang.
"ada apa kau kemari, kau ingin menyerahkan dirimu?"
"tak akan pernah "
"jadi apa maumu?"
minseok menyerahkan semua uang di tangnnya pada namja di depannya
"apa ini"
"hutang appaku lunas dan kau bisa melepaskan kami kan?"
namja paruh baya itu tertawa kersa saat mendengar pernyataan minseok , namja paruh baya itu kemudian melangkah mendekati minseok dan mengelus pipi minseok.
"sayang, kau tak membaca tulisan selanjutnya? biar ku beri tau ayah mu berhutang 3 tahun yang lalu dan kau jelas tau aku tak mu rugi bahkan uang yang kau serahkan sekarang tak mencapai 10% dari hutang sesungguhnya. jadi menyerahlah dan serahkan dirimu secara baik baik "
tubuh minseok menegang seketika, nafasnya tercekat dan memandang tajam namja paruh baya itu
"persiapkan lah dirimu"
namja paruh baya itu meninggalkan minseok di ruangan itu seorang diri minsseok menjatuhkan dirinya di lantai, pandangnya mulai kosong.
.
.
.
minseok menatap wajah jongin air matanya mulai mengalir, minseok sudah tak sanggup menahan segalanya.
"eomma, aku menyerah aku mulai tak sanggup menjalani hidup ku, dan aku mulai merasakan apa yang eomma rasakan dan jangan salahkan aku jika aku mengambil keputusan yang sama dengan mu "
minseok menggoyangkan tubuh jongin
"jongin bangun"
jongin yang merasa terganggu mulai membuka matanya
"ada apa hyung?'
"apa kau akan ikut dengnku?"
jongin menatap sanghyung yang terus meneteskan air mata, jongin segera menghapus air mata minseok
"aku akan selalu ikut dengnmu hyung, jadi jangan tinggalkan aku"
"hem, ayo kita pergi. "
.
.
.
minseok dan jongin kini telah berdiri di pembatas jembatan.
"kau yakin hyung"
"aku tak sanggup jongin. dan aku tak bisa melihat mu menderita jongin alangkah baiknya kita mengahiri semuanya di sini"
jongin menggenggam tangan minseok
"apa sekarang kita akan pergi ketempat di mana tak akan ada seorang pun yang akan menemukan kita"
"hem "
"apa kita akan bertemu dengan eomma?"
"mongkin saja jongin"
minseok dan jongin memejamkan matanya dan
.
.
.
TBC/END
hahahahahaha ketawa nista
ok terimakasih udah mau baca jangan lupa RNR
