Well, Hello readers ^^ I come Back… hehehe. Maaf saiya updatenya telat banget, soalnnya lagi banyak tugas dan gangguan nih, mana modemnya kena petir lagi TT_TT hoehoe –plak, kok curhat?-
Kay~ langsung saja yah , Selamat Menikmati ^^
Warning: Maaf jika ada POV yang sering berpindah dan membuat readers bingung *nunduk dalem-dalem*. Sebelumnya, pada chapter ini Riku dan Kadaj akan terlihat OOC (karena mereka kakak adik) lalu Sora juga sedikit OOC karena dia terlihat lebih garang jadi, bagi Sora, Riku and Kadaj Lover, maaf yah
Chapter 4
XXX Inside Riku's DreamXXX
Sekarang aku berada di bandara Destiny Island. Aku duduk di bangku kayu yang sudah di sediakan. Di sebelah kananku ada Kaa-san yang sedang membaca majalah gosip, biasalah kebiasaan perempuan yang suka dengan 'Hot News'. Sedangkan di sebelah kiriku, ada Kadaj yang sedang serius memainkan PSP-nya. Aku hanya menatap lurus karena tak ada kerjaan. Aku melihat-lihat sekelilingku. Pandanganku terhenti ketika melihat seorang anak laki-laki berambut brunette sedang duduk memegangi lutut di Loket-A, yaitu loket jalur penerbanganku, Destiny Island - Twilight terlihat sangat mirip dengan Sora. Apa lagi dia menggunakan seragam SMA sekolahku. Tetapi tidak mungkin Soraada di sini. Dia pasti sedang di sekolah, bersama Kairi.
Kutatapi dia terus-menerus dan terlihat sebuah kejanggalan. Dia terlihat terisak-isak. Aku sedikit cemas kepadanya. Akhirnya aku beranjak dari tempat duduk dan berjalan mendekatinya.
"Hey, kamu tak apa?" tanyaku dengan halus, takut menyakiti perasaannya.
"Me-mengapa?" katanya lirih. Aku tak bisa mendengar dengan jelas.
"Huh? Ada apa?" tanyaku heran karena kelakuannya.
"Mengapa Riku? Mengapa kamu tega meninggalkanku?" tanyanya sambil terisak. Dia mengangkat kepalanya dan menatap lekat mukaku. Sungguh tak percaya dengan apa yang kulihat. Sora yang kurindukan ada di depan mataku. Kurasa, sekarang mataku terbelalak tak percaya dengan apa yang kulihat.
"So-Sora? Apa yang sedang kau lakukan di sini? Mengapa kamu menangis? Apakah ada sesuatu?" tanyaku random karena benakku dihantui dengan banyak pertanyaan.
"RIku, mengapa kamu tega meninggalkanku? Apakah kamu membenciku?" tanyanya dengan sedikit meneteskan air matanya.
"So-Sora, aku tidak aka pernah meninggalkanmu. Aku hanya…"
"Hanya apa Riku? Hanya ingin melupakanku? Meninggalkanku? Hah, maaf jika aku hanya mengganggumu, Riku," Kata Sora memotong perkataanku. Dia menghela nafas panjang dan bangkit berdiri. Dia berjalan meninggalkanku. Aku segera mengejarnya, tetapi Sora sudah berjalan terlalu jauh.
"Sora, jangan pergi. Kumohon Sora. Aku bisa jelaskan semuanya.." teriakku kepada Sora.Aku ingin mengejar Sora, tapikakiku tidak bisa digerakkan. Ingin berteriakpun tidak bisa, seakan-akan ada yang memegang kakiku danmembungkam mulutku. Aku menjadi putus asa. Saat kegelapan menyelimuti tubuhku, kakiku mulai bisa digerakkan, tetapi Sora sudah menghilang dari hadapanku. Aku mencarinya, berkeliling dan semuanya jerih payahku sia-sia. Aku berkeliling di kegelapan yang sangat gelap, dingin dan sunyi. Kegelapan yang tiada akhirnya. Saat aku benar benar putus asa dan kelelahan, ada cahanya kecil yang perlahan mendekatiku. Yeah, kecil tapi sangat terang. Cahaya yang terang, hangat dan menenangkan. Kuraih cahaya itu, dan seketika itu juga, cahayanya semakin terang dan menghapus kegelapan yang gelap dan dingin. Cahaya itu menyelimuti tubuhku. Aku merasa sangat nyaman.
"Don't give up! " itulah kata-kata terakhir yang aku ingat.
XXX End Of Riku's Dream XXX
Aku terbangun dari mimpiku. Nafasku memburu dan keringatku becucuran. Tanganku dingin dan pikiranku kacau.
'Syukurlah, itu hanya mimpi,'pikirku. Aku menghela nafas panjang dan mencoba tuk menenangkan diri. Entah mengapa, mimpi tadi, terasa sangat nyata dan sangat menyedihkan. Apa lagi melihat Sora yang menangis, marah dan kecewa. Aku merasa sangat bersalah. Sejenak aku teringat akan kalimat terakhir dalam mimpiku.
"Don't give up!" yeah itu terdengar seperti suara milik Sora. Aku merasa kalau Sora telah menyemangatiku.
"Hey, ayo bangun! Kita akan segera pergi menuju ruang tunggu!" kata Kadaj acuh seperti biasa.
"Hum.." jawabku singkat dan segera beranjak dari tempat duduk. Aku berjalan mendekati Tou-san. Aku memberanikan diri untuk bertanya kepadanya.
"Tou-san, kita akan berangkat sekarang?" tanyaku agak ragu.
"Ya, sekarang bawa kopermu sendiri dan ikuti Tou-san ke ruang tunggu B !" perintah Tou-san sambil berjalan meninggalkanku. Aku menghela nafas dan mengambil koperku dengan sedih.
'Sora, maafkan aku karena tidak bisa bertemu bisa mengucapkan salam terakhir untukmu' pikirku sedih dan berjalan mengikuti Tou-san
~Normal POV~
Riku dan keluarganya berjalan menuju ruang tunggu B. Sementara Sora dan Kairi baru saja sampai di bandara Destiny Island dan menatap gedung mewah yang besar dan megah. Tentu saja besar dan megah, karena bandara Destiny Island adalah bandara internasional yang terbaik kedua setelah bandara di Hollow Bastion.
Bersama Kairi yang ada di belakang, Sora berjalan mantap memasuki bandara menuju pintu utama.
~Sora POV~
Aku berjalan menuju pintu utama, diikutii oleh Kairi di belakangku. Begitu pintu utama terbuka, aku dan Kairi segera berpencar untuk mencari Riku. Sebelum berpencar, Kairi berpesan "Sora, pertama kita harus mencari informasi tentang jadwal penerbangannya Riku. Aku akan mencari informasi tentang letak ruang tunggu itu. Okay?"
Aku segera berlari kebagian informasi dan menanyakan kadwal penerbangan jalur Destiny Island-Twilight Town.
"Permisi," sapaku kepada petugas informasi.
"Ya? Ada yang bisa saya bantu?" jawab petugas informasi itu dengan ramah.
"Hm, bisakah saya mendapat jadwal penerbangan pesawat, jalur Destiny Island-Twilight Town?" tanyaku ramah kepada petugas informan itu.
"Baik, tunggu sebentar…" kata petugas itu sambil meninggalkanku dan berjalan ke meja kayu berwarna coklat. Kemudian, petugas itu berjalan kearahku sambil membawa selembar kertas.
"Silahkan, ini jadwal semua penerbangan pada hari ini." Jelas petugas itu seraya memberikan selembar kertas itu kepadaku.
"Terima kasih," jawabku singkat kemudian mengambil kertas itu dan segera berlari meninggalkan petugas itu. Petugas itu hanya tersenyum. Kemudian aku kembali ke depan pintu utama. Tempatku dan Kairi yang sepakat bertemu setelah mendapat informasi yang diperlukan. Kulihat, Kairi belum ada di depan pintu utama. Sambil menunggu Kairi, aku membaca kertas yang tadi diberikan oleh petugas informasi itu.
'What? Riku akan berangkatpukul 12.00? sekarang pukul..' mataku beralih kearah jam tanganku. Pukul 10.45 adalahAngka yang tertera di jam tanganku.
'Tetapi, jika sekarang pukul 10.45, maka pukul 11.30, Riku harus berada di ruang tunggu. Dan itu artinya… Riku belum berangkat' pikirku dalam hati.
Perasaan cemas dan gelisah yang dari tadi menghantuiku menghilang.
'Uh, tapi Kairi lama banget. Kuharap dia kembali secepatnya sebelum Riku masuk ke ruang tunggu, lagi pula, aku disini seperti orang hilang' pikirku.
Panjang umur, tadi aku berharap supaya Kairi segera datang, akhirnya, dia muncul juga dari kerumunan orang-orang. Aku segera menghampirinya.
"Bagaimana Kai~" tanyaku tak sabar,
"Yeah, ruang tunggu jalur Destiny Island-Twilight Town ada di ruang tunggu B."
Jelas Kairi.
"Lalu, kamu tau dimana letak ruang tunggu itu?" Tanyaku.
"Yuph, ayo ikuti aku!" Ajak Kairi. Aku hanya memangguk dan berjalan di belakang Kairi. Sambil mengikuti kairi, aku membicarakan jadwal pemberangkatan Riku.
"Berarti, kita hanya mempunyai waktu mencari dan bertemu dengan Riku sampai pukul setengah 12," kataku menjelaskan. Kairi mendengarkan dengan serius. Aku melihat jam tanganku, sekarang pukul 11.00, lalu aku dan Kairi mempercerpat langkah.
Sekilas aku melihat seseorang berambut silver sedikit panjang dan terlihat seumuran denganku berjalan melewatiku. Dia membawa koper dan mengikuti satu rombongan, kurasa itu keluarganya. Aku mengira, itu adalah Riku. Tetapi dia berjalan berlawan arah denganku. Bukankah ruang tunggu B searah denganku?
'Atau mungkin dia hanya khayalanku?' batinku. Aku berhenti berjalan dan menoleh kebelakang. Anak tadi sudah tidak ada.
'Benar kan, ini hanya khayalanku. Aku sangat merindukan Riku sehingga aku berkhayal seperti itu,' pikirku kesal
"Huh? Ada apa Sora?" tanya Kairi heran. Aku terdiam sebentar, "Ah,tidak apa-apa kok" jawabku singkat dan terus melihat kebelakang. Kemudian aku melanjutkan perjalanan.
Setelah beberapa menit aku mengikuti Kairi.
"Setelah belokan di depan, ruang tunggu B ada di ujung dan..." kata-kata Kairi tehenti.
"Huh? Ada apa Kai~" tanyaku yang terheran. Kairi tetap diam mematung. Aku berjalan mendekati kairi. Akiu berbelok dan ternyata ruang tunggu D yang ada di pojok ruangan.
"Ruang tunggu.."
Kairi memotong kata-kataku "Aku bertanya kepada petugas informan kalau ruang tunggu B ada di sini. Tetapi.." Kairi terdiam. Aku pergi meninggalkan Kairi.
Aku pegi bukan karena aku marah kepadanya, tetapi kembali ke tempat dimana aku bertemu dengan anak yang mirip Riku.
'Di sini, aku bertemu dengannnya. Dia berjalan kearah pintu utama. Kemudian, dia menghilang setelah aku menoleh kepadanya,' batinku. Pandanganku beralih kearah petugas kebersihan yang ada di sana. Aku berjalan mendekati petugas.
"Err... permisi, boleh saya tau letak ruang tunggu B ? " tanyaku ramah.
"Ruang tunggu B ? Berjalan saja kearah pintu utama. Setelah itu, ada koridor di sebelah kanan, lalu masuk saja ke koridor itu. Kemudian belok kanan." Terang petugas itu.
"Terima kasih," kataku sambil tersenyum, kemudian segera berlari mengikuti petunjuk petugas tadi.
'Uh, pukul 11.10, aku harus cepat!" aku mempercepat lariku.
Di depan ruang tunggu B, Riku dan keluarganya sedang mengantri untuk masuk kedalam ruangan.
"RIKU...!" teriaku memanggilnya
~Riku POV~
(A/N: kembali pada saat Riku mengikuti Tou-sannya)
"Hah..." aku menghela nafas panjang lagi. Semenjak aku mengikuti Tou-san keruang tunggu B, perasaanku sangat kacau. Perasaan gelisah dan bersalah bercampur.
"Hei, kamu kenapa sih? Dari tadi seperti orang kesambet. Gelisah banget," kata Kadaj sambil memandangku dengan tatapan aneh.
"Uh, gak ada apa-apa kok," jawabku bohong. Kuakui Kadaj memang orang yang cuek, dingin, tidak pandai bergaul, dan kata-katanya tajam. Dia juga orang yang serius dengan dunuianya sendiri (Gamer). Tetapi dia yang peka terhadap sekelilingnya. Dia cuek, tetapi diam-diam dia sangat perhatian. Dia tau perasaan orang dari raut wajah seseorang. Terkadang aku sedikit besyukur mempunyai nii-san seperti kadaj.
"Hm, gitu yah? Aku gak tau masalah mu sekarang. Tetapi kalo masalahmu itu serius, jangan dipikir terlalu jauh dan jangan dipendam. Cerita saja ke seseorang! Tapi jangan ke aku percuma aku gak akan mendengarkan." Katanya sambil tersenyum sinis. Aku memukulnya karena aku sedang serius
mendengarkan, tetapi dia malah bercanda. Sayangnya pukulanku meleset jauh.
"...yah, pokoknya jangan bikin penyakit untukmu sendiri!" lanjutnya sambil menatap layar PSPnya. Walau dia begitu, aku tau niatnya baik.
"Hum.. makasih nii-san.." kataku pelan dan terlihat malu-malu.
"What? Tumben kamu memanggilku 'nii-san' ?" katanya kaget dan nyaris menjatuhkan PSPnya.
"Itu karena masalahku serius, bodoh,"kataku kesal sambil menyembunyikan wajahku yang memerah.
"Hm, kalau begitu dapat masalah saja. Nanti kamu panggil aku nii-san terus," katanya sambil terkikik geli
"Ah, dasar Kadaj si Gunung Es," kataku sambil memukulnya dan sukses membuatnya kesakitan. Aku memanggilnya 'Gunung Es' karena dia dingin, cuek, dan pendiam.
"Sembarangan!" katanya sambil mengacak-acak rambutku. Akhirnya kamu pukul-pukulan dan perang mulut, alias saling mengejek.
"Kadaj, Riku, hentikan! Kalian tidak malu bertengkar di bandara?" kata Kaa-san sedikit marah dan melerai kami.
"Dia yang mulai duluan..." kataku dan Kadaj bersamaan. Hasilnya kami mendapat ceramah panjang lebar dari Kaa-san kemudian aku kembali diam, sedangkan kadaj kembalio memainkan PSPnya.
Beberapa menit kemudian, aku melihat seseorang memakai seragam SMA sekolahku bejalan melewatiku. Dia berambut brunette dan sangat mirip dengan Sora. Aku teringat dengan mimpiku tadi.
'Apakah anak yang lewat tadi adalah Sora? Tapi mana mungkin dia ada di sini. Ini pasti khayalanku. Sama seperti mimpik,' batinku. Karena penasaran, aku menoleh kebelakang untuk melihat anak tadi, tetapi anak tadi sudah tidak ada.
'Hah, benarkan ini hanya khayalanku...' pikirku kesal '...tapi, sekarang apa yang sedang dilakukan Sora ya?' lanjutku dalam hati. Aku sangat merindukannya.
Bruk! Aku menabrak Kadaj yang tiba-tiba berhenti.
"Ukh, Kadaj jangan berhenti mendadak!" protesku sambil memegang mukaku.
"Huh? Bukankah kita sudah sampai di Ruang tunggu B? Berarti aku berhenti berjalan benarkan? Kamunya saja yang melamun, jadi tidak konsentrasi." Jawabnya blak-blakan, asal cas-cis-cus.
"Uh.." keluhku kesal. Aku tidak bisa mengelak dari jawaban kadaj karena dia benar. Aku hanya menggerutu kesal dakam hati. Sedang Kadaj hanya tersenyum sinis.
Tiba-tiba ada seseorang yang berteriak memanggilku
"RIKU...!" aku menoleh ke arah suara itu berasal. Seseorang berambut br4unette berlari menghampiriku...
To Be Continue
Well, niatnya chapter 4 adalah the last chapter.. tapi, karena kepanjangan jadi endingnya di chapter 5.. Wah, sudah mau tamat nih, makasih yah yang sudah setia membaca hehee. Jadi tunggu Chapter endingnya yah –plak-
Kay~ any Review?
