BTS

GangstaAU

Tampang Not Today Era

HAREM!Yoongi

Chapter 03

Jungkook si assassin

Umurnya mungkin paling muda perkumpulan para penjahat itu, namun pemuda tinggi berotot itu mungkin pemilik dosa paling berat dibanding teman-temannya. Hey, menghilangkan nyawa manusia bukan dosa yang main-main kan?

Biasanya, pemuda itu begitu jumawa, baik di hadapan para penyewa jasanya maupun korban-korbannya. Menatap mereka dengan tatapan merendahkan (didukung dengan postur tinggi miliknya). Berdiri gagah di depan semua orang, menyelesaikan tugasnya tanpa cacat.

Tapi itu biasanya.

Sekarang, untuk berjalan ke kamar kecil saja tubuhnya harus terbungkuk-bungkuk menahan perih luka di perutnya yang belum kering. Beberapa hari terakhir pun yang dilakukannya hanya tidur dan tidur. Sungguh, Jungkook takut 'roti sobek'nya akan menghilang dan berganti menjadi 'bakpau'.

"Kau harus memeriksakannya lagi, Kook," ujar Seokjin. Temannya yang berusia paling tua itu tampak prihatin setelah Jungkook mengerang ketika perutnya tak sengaja tertekan bantal.

"Itu sama saja bunuh diri," keluh Jungkook. Ah, dia benar-benar ingin segera sembuh. Penyewa jasanya sudah mengantri.

Jungkook duduk sambil memperhatikan layar laptop di depannya, memilah file dari klien untuk disimpan. Dia akan memilih mana yang akan dikerjakan nanti setelah sembuh.

"Ke klinik kecil di pinggir kota saja," saran Seokjin, "Mereka tidak akan mengenalimu. Syukur syukur kalau mereka hanya peduli pada uang, kau tidak akan ditanyai macam-macam mengenai lukanya,"

Jungkook berpikir, betul juga apa yang 'kakak'nya bilang. Tapi klinik mana yang harus dia datangi? Seokjin pasti tidak bisa mengantarnya, pekerjaannya sedang banyak-banyaknya.

Dan wajah itu tiba-tiba melintas di pikirannya.

Pasca liburan (super) singkatnya di apartemen sang adik, Yoongi kembali siap untuk bekerja. Setidaknya kini pikirannya sudahfresh, segar kembali. Yoongi hanya berharap tidak harus bertemu lagi dengan para gangster itu, apapun alasannya.

Efek pertemuan dengan dua anggotanya, dokter muda itu merasa jadi sedikit lebih waspada. Sekarang, kemana pun dia pergi, Yoongi jadi terbiasa untuk melihat wajah orang-orang di sekitarnya. Jihoon pun sempat mengeluh kalau kakaknya itu jadi mudah kaget ketika disapa atau bahunya ditepuk orang. Yoongi sendiri tidak memberitahu Jihoon bahwa orang yang waktu itu makan malam dengan mereka bukanlah benar-benar temannya.

Kini Yoongi kembali bekerja, sedikit bersyukur mendapatkan shift siang di hari setelah liburannya, sehingga tidak perlu berada di klinik hingga tengah malam.

"Coba julurkan lidah," tangan mungilnya menyorotkan senternya ke lidah pasiennya.

Tak lama, dokter muda itu menuliskan sesuatu pada kertas resep, "Ini sih efek perubahan cuaca, flu biasa. Jangan dulu minum es atau minuman dingin ya, jangan makan makanan pedas juga, pencernaannya belum kuat,"

"Baik dok,"

Yoongi memberikan kertas resep tersebut pada si pasien, "Ini, berikan ke loker obat ya,"

Setelah pasien menutup pintu ruangannya, dokter muda itu menyandarkan tubuhnya ke meja kerjanya. Hari ini sedikit melelahkan, sejak tadi pagi pasien tidak berhenti datang. Mungkin efek perubahan cuaca, jumlah pasien yang berobat akibat flu, radang tenggorokan, dan demam bertambah sangat banyak. Mana hari ini sahabatnya Umji sedang tidak bertugas, sehingga dia tidak bisa berkeluh kesah.

Yoongi tidak bisa keluar untuk istirahat begitu saja. Hari ini dia masuk bersama dokter senior, salah satu dokter yang paling dihormati (dan ditakuti) oleh petugas di klinik ini, dokter Heechul. Sebenarnya dokter senior itu bukan sosok yang jahat, hanya saja sikapnya yang tidak dapat ditebak membuat rekannya secara refleks waspada. Dokter Heechul kadang baik hati dan perhatian, namun bisa berubah menjadi galak dan bermulut tajam secara tiba-tiba, atau di waktu lain dokter cantik yang masih betah menjomlo itu tiba-tiba saja menjadi sosok yang jahil.

"Dok, pasien selanjutnya," salah satu suster masuk sambil membawa setumpuk berkas pasien.

Yoongi menghela nafas lelah, "Bukannya ini waktu istirahatku ya, Eunha?" tanyanya pada suster itu. Si suster bertubuh mungil itu menatap Yoongi kasihan, "Tapi dokter Heechul tadi izin keluar, jadi pasiennya dialihkan pada dokter,"

Yoongi mengerang kesal. Dalam hati, Eunha diam-diam gemas dengan kelakuan dokter imut itu. Lihat saja kelakuannya yang seperti bocah merajuk, siapa yang tidak akan gemas?

"Ini sudah dibagi dua dengan dokter Jinyoung kok, dok,"ujar Eunha berusaha menenangkan si dokter yang sedang kesal, "Dibaginya adil kok,"

Akhirnya Yoongi memilih pasrah. "Baiklah, panggil saja pasiennya," Eunha mengangguk.

"Semangat, dok!"

Jam sudah menunjukkan pukul 16.30, seharusnya shift Yoongi sudah selesai sejak satu setengah jam lalu. Namun akibat seniornya yang kabur seenaknya, pria manis itu terpaksa menyelesaikan pekerjaan sang senior. Untunglah setelah satu pasien terakhir, tugasnya hari ini selesai.

Tok Tok Tok

"Masuk," seru Yoongi tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas yang terserak di meja kerjanya.

Dokter itu mendengar suara kursi diseret dan calon pasiennya berdehem pelan. Namun dokter imut tersebut tetap sibuk pada berkasnya. Yoongi rupanya sedang membaca berkas pasien tersebut dengan serius.

"Jadi, Jeon Jungkook, benar? Memeriksakan luka di bagian perut kiri, masih terasa perih bila bergerak, ada sedikit gatal di bibir luka," Yoongi membaca data yang ditulis suster di depan.

"Ya," ujar pasiennya singkat.

Meski singkat, suara berat itu langsung membuat sang dokter manis membeku. Rasanya Yoongi kenal suara itu, tapi entah dimana.

Diamnya dokter berkulit pucat itu tampaknya disadari pula oleh pasien terakhirnya hari ini. Sang pasien nampak mengetuk-ngetukkan jari-jarinya pada meja kayu Yoongi.

Perlahan Yoongi mengangkat wajahnya, penasaran dengan wajah sang pasien.

JDARR! Rasanya ada petir imajiner di kepalanya saat itu juga. Wajah itu, wajah dari anggota komplotan yang ingin dia hindari.

"Hmm.. kukira pertemuan kita sudah cukup fenomenal untuk membuatmu tidak melupakan namaku, dokter," ujar sang pasien sambil terkekeh pelan, "Sepertinya aku salah,"

Yoongi dengan cepat berdiri, berniat untuk secepat mungkin meninggalkan ruangan dan memanggil penjaga keamanan. Namun Jungkook lebih cepat. Tangan pucat mungil milik sang dokter keburu disambar tangan tan berotot milik assassin muda itu sehingga tetap menempel dengan meja.

Yoongi tak habis pikir bagaimana pria dihadapannya masih bisa menahan tangan Yoongi yang memberontak sementara perutnya dalam keadaan luka yang belum sepenuhnya kering.

"Kemana sifat jumawamu kemarin?" tanya Jungkook, "Bukankah kau bilang akan melakukan tugasmu sebagai dokter dalam kondisi apapun?"

Yoongi menelan ludah. Dirinya bisa merasakan jemari kokoh milik 'pasiennya' semakin meremas jarinya keras.

"A –aku hanya ingin mengambil perban," Kilah Yoongi cepat.

Katakanlah dia si raja gengsi, namun Yoongi benar-benar tidak mau kelihatan lemah ataupun ketakutan di hadapan pemuda tinggi berotot itu.

Yoongi berdehem sekali untuk menghilangkan kepanikannya, "Silahkan berbaring di kasur itu," Ujar Yoongi kembali tenang.

Setelah yakin dokter manis di hadapannya tidak akan kabur, Jungkook pun dengan tak rela melepaskan jemari putih nan halus milik Yoongi dan berjalan menuju tempat tidur yang dokter itu tunjukan.

Dengan telaten dan tak banyak bicara Yoongi membersihkan sekaligus memeriksa luka milik di perut sang anggota termuda kelompok gangster tersebut. Jemari rampingnya terampil membersihkan bekas luka yang kembali mengeluarkan darah.

Sesekali mata kecilnya mencuri pandang pada abs kokoh yang tercetak di perut kecoklatan pasiennya tersebut.

Dalam hati Yoongi membatin bagaimana bisa pemuda yang nampak tidak lebih tua dari dirinya bisa memiliki bentuk tubuh seperti itu? Diam-diam Yoongi membandingkan perut keras sang pasien dengan perutnya yang rata namun lembek, seperti perut seorang gadis.

"Nampaknya kau menikmati apa yang kau lihat, Dokter," ujar Jungkook dengan suara rendah, bermaksud menggoda sang dokter muda.

"Kau salah sangka," sangkal Yoongi, "Aku hanya memperhatikan letak luka-luka yang lain,"

Tidak sepenuhnya berbohong juga, karena perut dan dada Jungkook memang memiliki banyak bekas luka, baik yang sudah lama maupun yang masih baru dan masih basah.

"Kau bisa menyentuhnya kalau penasaran," tawar Jungkook main-main, tangannya menarik jemari Yoongi untuk menyentuh absnya.

"Jangan main-main, anak muda!" bentak sang dokter. Dengan sengaja Yoongi menekan luka Jungkook agak keras hingga si mpunya tubuh mengerang pelan.

Yoongi mendengus dan menatap kesal pasiennya tersebut. Hal itu membuat Jungkook sedikit takjub, biasanya orang-orang, baik pria maupun wanita, bisa dengan mudah bertekuk lutut padanya.

"Bagaimana bisa pemuda sepertimu memiliki bekas luka yang sangat banyak," gerutu Yoongi. Sepertinya tanpa sadar kebiasaan lamanya sebagai dokter cerewet sudah kembali.

"Seharusnya orang-orang seusiamu itu sedang mempersiapkan tugas kelompok untuk mata kuliah atau mungkin persiapan ujian akhir. Bukannya kesana kemari menambah luka," ujar Yoongi panjang lebar membuat Jungkook mau tak mau tersenyum gemas.

"Maaf saja, manis, tapi aku sudah lulus kuliah dua tahun lalu," jawab Jungkook sombong.

"Tapi wajahmu tampak seperti wajah anak kuliahan," elak Yoongi sangsi.

Jungkook mencubit pelan pipi putih sang dokter, "Aku jenius, tak perlu empat tahun hanya untuk lulus kuliah," ujar Jungkook geli.

Yoongi menampik tangan Jungkook kesal. Jungkook sendiri hanya tertawa dengan penolakan Yoongi.

"Ayo makan malam denganku,"

Yoongi mengerenyit kesal, sedari tadi pemuda bongsor anggota mafia itu tak henti-hentinya mengikutinya keman pun dia pergi.

Yoongi berpikir, setelah dirinya selesai mengobati luka si Jeon ini, dirinya akan terbebas dari anggota komplotan mafia mengerikan itu. Nyatanya si Jeon menunggunya hingga selesai waktu piket dan terus mengikutinya kemana pun kakinya melangkah.

Apa si Jeon itu sejenis serangga pengganggu? Apa dia tidak ada kerjaan lain?

"Ayo makan malam denganku," lagi-lagi suara lembut itu mengalun menggodanya.

Cukup sudah! Dokter muda itu kesal.

"Tidak!" Yoongi membalikka badannya secara spontan, berniat mengintimidasi anggota mafia itu agar berhenti mengikutinya.

Sayangnya yang berada di depan wajahnya bukanlah sosok si Jeon yang dia pikir berada beberapa langkah di belakangnya, melainkan dada bidang si Jeon yang langsung membentur hidungnya.

Yoongi langsung mengeluh sakit sambil mengusap-usap hidung bangir mungilnya, "Sakiiit,"

Jeon Jungkook, pemilik dada bidang itu, tak dapat menahan kekehannya. Dokter incarannya itu terlalu imut.

"Sini," Jungkook menarik tangan Yoongi lembut dan megganti usapan si dokter dengan usapan tangannya sendiri.

Didekatkannya wajahnya ke wajah Yoongi yang memerah –hidungnya saja sebetulnya– kemudian meniupnya pelan, "Sakit pergilah," bisiknya lembut sebelum kembali meniup ujung hidung bangir si dokter imut.

Yoongi mengerejap kaget dengan perlakuan Jungkook yang mendadak itu. Matanya mengedip imut sebelum sadar kalau wajah mereka terlalu dekat. Segera Yoongi berusaha memundurkan badannya, sayangnya Jungkook lebih cepat.

Tangan berototnya segera menahan tubuh mungil itu agar tak bisa mundur, membuat mereka tertahan pada posisi seperti itu cukup lama.

"Ayo makan malam denganku," sekali lagi Jungkook mengucapkan permintaannya, kali ini disertai senyum manis yang terlihat sangat lembut.

"Ya ayo mari mari!" ah, suara itu bukan suara Yoongi tentunya, "Makan disini, ada paket khusus couple, ada diskon untuk couple seperti kalian!" itu suara ibu-ibu yang sedang mempromosikan restaurannya yang tepat terletak di samping posisi Yoongi dan Jungkook saat ini.

Jungkook langsung menarik Yoongi ke restaurant tersebut, tak memperdulikan Yoongi yang mencoba melepaskan pegangan jemari kuat Jungkook pada pergelangan tangannya. Tapi apa sih Yoongi dibandingkan kuatnya sang anggota mafia? Hanya butiran debu.

Dan disini lah mereka, duduk berhadap-hadapan di pojok restauran –posisinya pilihan Jungkook pastinya– dengan berbagai makanan terhidang di antara mereka.

Yoongi ingin pergi saja rasanya, tapi dia ingat petuah sang ibu, jangan menyia-nyiakan makanan sedikitpun, kecuali makanan itu akan membuatmu sakit.

"Makanlah," ujar Jungkook ketika melihat Yoongi hanya memandangi piringnya, "Atau kau menunggu aku menyuapimu?" godanya.

Dokter muda itu berusaha keras untuk tidak melirik ke arah counter restoran. Tentu saja, beberapa pekerja restoran tempat Yoongi dan Jungkook makan tampak melihat mereka dengan pandangan gemas, bahkan salah seorang diantaranya terang-terangan meminta Jungkook menyuapi Yoongi.

Yoongi segera menyuapkan makanan di piringnya sebelum Jungkook benar-benar memaksanya makan. Dia tidak mau disuapi dan membuat orang yang melihat berpikir kalau mereka pasangan romantis yang bahagia.

Tanpa Yoongi sadari, sedari tadi Jungkook sudah melupakan piringnya. Atensinya fokus pada pemandangan di depannya, sang dokter muda yang sedang makan dengan lahapnya. Astaga, Jungkook merasa tidak ada hal yang lebih menarik dari pemandangan di hadapannya saat ini.

'Kencan yang menyenangkan,' batin Jungkook.

Tidak ada yang berbicara selama sesi makan, namun baik Yoongi maupun Jungkook tidak keberatan, tak ada suasana canggung di situ, hanya ada keheningan yang membuat nyaman keduanya.

Selesai makan, lagi-lagi Jungkook membuat Yoongi kesal dengan memaksa untuk mengantar si dokter mungil ke rumahnya, yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Yoongi. Dia tidak mau ada anggota mafia yang hapal rumahnya.

"Kumohon, aku sudah mengikuti kemauanmu, sekarang biarkan aku pulang dengan tenang," keluh Yoongi.

Jungkook mengangguk. Digenggamnya jemari Yoongi lembut, tetapi tetap kencang sehingga si dokter muda tak bisa melepaskannya. Yoongi menatap Jungkook bingung, apalagi ini?

Rupanya Jungkook membawanya ke halte terdekat, tangan kekar si anggota gangster tampak sibuk mengetik sesuatu di ponselnya sementara matanya sesekali menatap ke jalan raya. Tangan lainnya? Tentu saja masih menggenggam tangan Yoongi.

"Taksi!" seru Jungkook sambil melambaikan tangan.

Sebuah taksi berhenti tepat di depan mereka, Jungkook membukakan pintunya agar si mungil bisa masuk. Namun sebelum dirinya diizinkan masuk, Jungkook melakukan sesuatu yang membuatnya kaget.

Jungkook mengecup pipi pucat Yoongi, membuat si dokter melongo kaget.

"A–Ap –," Yoongi terbata. Jungkook tertawa pelan, wajahnya Yoongi akui semakin tampan.

Jungkook mendorong tubuh Yoongi pelan agar masuk ke dalam taksi. Setelah memastikan Yoongi sudah duduk nyaman, pemuda berotot tersebut menutup pintu taksi dengan sedikit keras dari luar.

"Tolong antarkan ke alamat xxxxxxx," ujar Jungkook pada sang sopir taksi sembari memberikan beberapa lembar uang.

Yoongi tambah melongo, 'Darimana dia tahu alamatku?' tanyanya dalam hati.

Yoongi menatap Jungkook dari jendela mobil dengan mulut terbuka, heran bukan main. Sementara si pasien hanya tersenyum ganteng.

"Yah Maknae sialan!" teriak Taehyung tiba-tiba.

Anggota lain yang sedang beristirahat di ruang kumpul markas tampak terganggu dengan teriakan manusia setengah gila itu. Baru datang sudah teriak-teriak, ada apa?

"Kenapa kau?" tanya Seokjin.

Taehyung melempar tiga lembar foto ke meja di tengah ruangan, membuat anggota yang lain berkumpul untuk memperhatika foto yang dilempar Taehyung.

Foto pertama, Jungkook berpegangan tangan dengan Yoongi si dokter muda.

Foto kedua, Jungkook menatap Yoongi yang tengah makan di sebuah restoran, garis bawahi kalau mereka duduk berhadap-hadapan.

Foto ketiga, Jungkook mencium pipi Yoongi di depan sebuah taksi. Ah, melihatnya saja sudah bisa membuat anggota lain mendidik.

"Yah JEON JUNGKOOK!"

Ada baiknya Jungkook tidak pulang malam ini.

TBC

Mungkin ini kedengeran kayak excuse, cuman beberapa bulan terakhir ini author bener-bener banyak urusan, jadi fanfic ini agak terbengkalai

Ini pun bisa diberesin karena tiba-tiba kena musibah yang bikin ga bisa beraktifitas

Petik berkah dari musibah hahaha

Mohon maaf untuk yang menunggu (emang ada yg nunggu?)