Look At Me, Senpai!
Characters ©Masashi Kishimoto
Story ©Pipoooy12
Warning: AU, OOC, typo
C
for Itachi
Enjoy!
.
.
Beberapa tahun lalu, di kediaman Uchiha.
"Hari ini, putri tertua keluarga Sabaku akan ikut menghadiri pertemuan tahunan pengusaha se-jepang, kau harus menemui dan berteman baik dengannya, Itachi." Fugaku melirik sedikit Itachi yang sedang fokus pada makanannya di meja makan keluarga.
Inilah kebiasaan Itachi, ia selalu berpura pura fokus pada sesuatu yang sebenarnya tidak penting saat keadaan tak mendukungnya.
Ia mencari pelarian.
"Itachi, apa kau mendengarku?" Suara Fugaku meninggi.
Itachi mendelik, seketika, ekspresinya berubah bahagia.
Dengan mantap, ia mengangguk, lalu tersenyum pada Fugaku.
"Ya ayah, aku mengerti." Jawabnya.
.
.
"Please, just let me stay."
.
.
Gedung besar berarsitektur eropa klasik lengkap dengan tangga besar ditengah tengah ruangannya itu terlihat penuh oleh orang orang berpakaian borjuis.
Itachi terlihat mengobrol dengan seorang pria berkebangsaan Eropa, sementara Sasuke dan Fugaku berbincang dengan beberapa orang sekaligus. Sasuke nampak lebih memiliki kharisma dibandingkan dengan Itachi.
"Aniki, aku bosan." Bisik Sasuke pada Itachi ketika Fugaku selesai berbincang, "Dimana gadis yang ayah bilang akan jadi teman kita?"
"Bersabarlah, teman ayah sebentar lagi pasti tiba." Jawab Itachi.
Sebenarnya bukan hal yang aneh jika Sasuke mengeluh bosan, karena memang sudah lama sekali sejak mereka berdua menunggu si putri tertua keluarga Sabaku itu di pertemuan besar ini. Kaki Itachi saja sudah pegal sekali.
Baru saja Itachi mengepalkan tangan kesal, seorang pria bersurai merah dengan setelan berwarna abu abu tua memasuki ruangan. Pria itu datang dan menghampiri Fugaku.
Mata hitam tajam Itachi berkedip tak percaya saat melihat gadis yang bersembunyi dibelakang pria bersurai merah tersebut.
Gadis itu sangat manis, dengan pipi memerah seperti 2 buah tomat matang, rambut pendek berwarna indigo, dan mata berwarna lavender lembut.
"Nah, Hinata, beri salam pada paman Uchiha."
Gadis bernama Hinata itu maju kedepan, menunjukan diri pada Fugaku, Itachi, dan Sasuke. Pupil hitam Sasuke melebar,
"Onee-san!"
Itachi menatap Sasuke dan Hinata bergantian,
"Wah, nampaknya Sasuke sudah mengenal Hinata ya. Sungguh kebetulan." , Sabaku Kaze, ayah angkat Hinata, mengelus kepala Hinata sambil tersenyum.
"Umm. Namaku Hinata.. Sa-Sabaku Hinata. Tahun ini aku berumur 12 tahun. Senang bertemu kalian." Hinata menunduk sedikit memberi hormat.
Fugaku terlihat terkesan, matanya berbinar melihat Hinata.
"Sabaku-san, putrimu benar benar manis sekali." Pujinya, "Nah, Itachi, Sasuke, perkenalkan diri kalian."
Tatapan Fugaku berubah tegas saat ia memberi perintah pada kedua putranya.
"Selamat malam paman Sabaku, selamat malam Hinata-san, namaku Uchiha Itachi, putra pertama keluarga Uchiha. Tahun ini aku telah menginjak usia ke 15. Suatu kehormatan berkenalan dengan kalian." Itachi memberi hormat diakhir kalimatnya.
Hinata terkagum kagum, begitu juga dengan Kaze.
"Ohh. Kau membesarkan putramu dengan sangat baik, Uchiha-san. Aku terkesan." Kaze bertepuk tangan kecil.
Sasuke berdeham menjernihkan suaranya, ia terlihat seperti Fugaku mini.
"Aku Uchiha Sasuke."
Semua orang terdiam.
Sasuke tak memberi hormat. Kepalanya tetap tegak setelah kalimat perkenalan anehnya itu selesai.
"Ah.. Baiklah Sasuke, tapi kau lupa menyebutkan usiamu, kurasa."
"11 tahun, paman." Jawabnya mantap.
Kaze menatap Sasuke bingung, ia mengulangi sekali lagi ucapan anak itu, "11 tahun?"
Sasuke mengangguk penuh percaya diri.
"Oh. Maafkan aku, tuan Fugaku. Kupikir anak keduamu baru berusia 9 tahun." Kaze memperlihatkan senyum penuh penyesalannya pada Fugaku.
Seketika itu juga, wajah Sasuke terlihat jengkel.
Itachi berbinar senang. Ia berbinar karena baru kali ini ada seseorang yang dengan jujur mengatakan kelemahan Sasuke dihadapan anak itu sendiri. Ini pertama kalinya Itachi melihat wajah jengkel Sasuke.
Fugaku pura pura tertawa, "Ya, ya. Dia memang lambat bertumbuhnya. Hahahaha." Ia menepuk nepuk pundak Sasuke.
Sasuke terlihat amat, sangat kesal.
Dan entah mengapa, Itachi senang melihatnya.
Lalu, sebuah idepun muncul begitu saja dibenaknya.
"Hinata-san, kau mau berkeliling bersama?" Itachi mengulurkan tangannya, meminta persetujuan gadis manis itu. Mata Itachi melirik Sasuke.
Benar saja, Sasuke terlihat bertambah kesal.
"Terima kasih, Itachi-nii." Jawab Hinata sambil memberikan senyum terbaiknya.
Mereka berdua pun akhirnya berjalan pergi meninggalkan Sasuke, Kaze, dan Fugaku.
Mereka berbincang bincang sepanjang jalan, mulai dari obrolan tentang kehidupan SMA itachi, hingga tentang adik adik Hinata yang sangat nakal.
Walaupun pertama tama Itachi tidak terlalu memperhatikan Hinata, namun lama kelamaan, tujuan awalnya, yaitu memanaskan hati Sasuke, memudar. Perlahan ia tahu mengapa Sasuke terlihat begitu tertarik pada gadis yang dipanggilnya 'onee-san' itu.
"Katakan padaku, Hinata-san. Dimana kau bertemu dengan Sasuke pertama kalinya?"
Itachi dan Hinata duduk ditaman depan gedung pertemuan bergaya eropa itu. Didekat lampu taman yang sinarnya tak terlalu terang, mereka berdua memperhatikan bintang bintang dilangit malam Tokyo.
"Sa-saat itu aku sedang berjalan sendirian.. menuju ke makam ayahku." Hinata menunduk, pikirannya mengawang kembali ke tahun tahun terburuk dalam hidupnya, "Ia menangis karena lututnya.. terluka." Hinata tersenyum geli.
"Ah.. Maaf membuatmu mengingat kembali masa lalumu, Hinata-san." Itachi merasa sedikit bersalah telah meminta Hinata menceritakan sesuatu yang begitu menyedihkan.
"Tak apa, cepat atau lambat, kau juga harus tahu Itachi-nii." Jawab Hinata, "karena kita akan menjadi teman. Bukankah begitu?"
Kalimat terakhir Hinata membuat Itachi tersadar, dan kembali pada kenyataan. Kenyataan bahwa bagi ayahnya, Fugaku, tak ada yang gratis didunia ini. Termasuk teman. Ada bayaran untuk setiap hadiah.
Dan mengenal Hinata adalah salah satunya.
Take, and give.
Berteman dengan Hinata berarti memperbesar relasi Uchiha.
Namun kali ini, walaupun keadaan tak mendukungnya, Itachi tak berlari menjauh. Ia juga tak mau menghindar.
Dalam hidupnya,
Tak pernah ia merasa menginginkan sesuatu lebih dari hari ini.
Ia ingin berteman dengan Hinata, apapun bayarannya.
.
.
.
Look At Me, Senpai!
.
.
.
Waktu berjalan sangat cepat, tak terasa kini Itachi telah menjadi senior di Konoha Senior High.
Sebagai seorang senior yang sebentar lagi akan lulus, ia sangatlah populer. Bukan hanya karena ketampanannya, namun karena kemampuan akademik dan olahraganya.
"Itachi-nii?" Hinata yang masih memakai seragam SMP muncul entah darimana.
Itachi sedang memakai dasinya ketika Hinata muncul di balik pintu kamarnya.
"Ah, Hinata-san, kau sedang apa?" Sapa Itachi ramah.
Hinata menampakan dirinya, "Um.. Kata ayah.. ah, maksudku paman Kaze, ki-kita harus berangkat bersama.." Wajah manisnya sedikit bersemu.
Pupil hitam Itachi menatap Hinata sejenak. Rambut indigo sebahu, dada rata, pinggang tak terlihat, baju kebesaran.. Perkembangan Hinata nampaknya tak berjalan terlalu baik belakangan ini.
"Kita berbeda tujuan, Hinata-san." Itachi memberi alasan singkat, tentu saja, sambil tersenyum.
Pupil lavender Hinata tak berani lagi menatap Itachi, "Umm." Ia mengangguk pasrah, "A-aku mengerti. Ma-maaf telah mengganggumu, I-Itachi-nii.."
Itachi melirik Hinata, memastikan kapan gadis itu pergi.
"Anoo.. Aku permisi. Sampai jumpa Itachi-nii." Hinata menyunggingkan senyum terbaiknya, sebelum menutup pintu kamar Itachi dan pergi.
Baru saja ia menuruni tangga kediaman Uchiha itu, tepat ditangga paling terakhir, seseorang bersurai raven sengaja menabraknya, hingga ia hampir terjatuh. "Hoaah!"
"Hinata kau masih hidup?" Tanya orang itu sambil mengguncang guncang bahu Hinata.
"U-Uchiha-san, kau menyebalkannnn!" Hinata bangkit dan memukuli kepala Sasuke.
Sasuke berlari, membuat Hinata mengejarnya.
Sebenarnya Hinata tidak sepenuhnya marah pada Sasuke, ia hanya sedang merasa sedih karena Itachi telah menolaknya secara halus tadi.
Sabaku Hinata, ia memiliki mata lavender yang cantik, pipi yang tidak bisa dibilang tirus, dan rambut lembut berwarna indigo.
Sebelumnya, ia adalah si Hyuuga, gadis kecil yang sangat pemalu. Wajahnya selalu memerah, dan selalu tergagap setiap kali ia berbicara.
Ya. Sebelumnya, ia adalah Hyuuga Hinata. Sebelum perusahaan keluarganya bangkrut, sebelum ayah kandungnya, Hyuuga Hiashi meninggal karena serangan jantung saat hinata masih berusia 6 tahun.
Hinata yang lemah sangat tidak disukai oleh seluruh anggota keluarga Hyuuga, apalagi kini perusahaan ayahnya, dan ayahnya sendiri telah tiada.
Saat gadis kecil itu sendirian, ditengah hujan lebat menatap makam ayahnya dengan wajah dibasahi airmata dan air hujan, seorang paman sesusia ayahnya datang memayunginya.
Sabaku Kaze, orang yang datang dalam kehidupan hinata kecil secara tiba tiba itu mengadopsinya, dan memberinya semua yang dibutuhkan seorang gadis kecil untuk bertumbuh dengan baik. Ia juga mengatur perjodohan antara Hinata dengan Uchiha Itachi, putra tertua keluarga Uchiha agar Hinata memiliki jaminan kehidupan yang pasti.
Namun nampaknya, Itachi tidak terlalu menyukai Hinata yang sekarang.
Ia selalu menghindar ketika Hinata datang untuk menemuinya. Ia juga selalu beralasan ketika Fugaku memerintahkannya menemani Hinata.
Itachi tak suka Hinata yang jelek dan terlihat masih bocah.
"Aniki, kau tidak boleh seperti itu pada perempuan." Sasuke yang sedang menonton tv memergoki Itachi yang sedang mencoba kabur.
"Jika kau jadi aku, kau pasti akan melakukan hal yang sama, otouto." Itachi menyunggingkan senyum tak tulus.
"Hinata itu masih cantik, sama seperti saat pertama kali kau melihatnya, Aniki. Kau hanya tak bisa melihatnya karena sekarang kau terlalu berpikir seperti orang dewasa." Sasuke membela Hinata, "Lagipula, biar bagaimanapun, kau akan menikah dengannya. Baik baiklah padanya."
"Kau yang terlalu banyak makan permen, Sasuke. Kau mabuk gula." Itachi mual mendengar kata kata 'menikah'.
Ia selalu membayangkan dirinya bersanding dengan seorang gadis semapai yang cantik, bukan gadis chubby yang tak berpinggang.
"Aku tak suka makanan manis, Aniki." Jawab Sasuke.
"Ah, ya.. benar juga." Itachi menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Jika dia sudah bisa merawat dirinya sendiri, barulah aku akan mengakuinya!" Itachi berkata pada dirinya sendiri.
"Idiot." Sasuke mematikan tv, "Saat Hinata sudah bisa merawat diri, aku juga akan jadi sainganmu, Aniki."
Itachi menatap Sasuke meledek. Masalahnya, Sasuke bahkan tak lebih tinggi dari Hinata, dan usianya lebih muda 1 tahun dari Hinata. Menurut Itachi, Sasuke hanya mengada ada saja. Walaupun Hinata tak cantik, mana mungkin gadis itu mau berpaling pada anak bocah seperti Sasuke?
Tentu saja ia menang telak dari Sasuke.
"Itachi-nii?" Hinata muncul dibalik pintu.
"Hoa!" Itachi melompati sofa lalu berlari menghindari Hinata secepat mungkin.
Hinata berkaca kaca, "Ke-kelihatannya.. Itachi-nii benci padaku.." Gumamnya sedih.
Sasuke tertawa jahat didepan Hinata yang berkaca kaca, "Aniki bilang, ia mau gadis seksi. Bukan yang rata sepertimu."
Pupil hitam Sasuke bertemu dengan pupil lavender Hinata.
"Be-benarkah? Karena i-itukah ia membenciku?" Air matanya menggenang. Sasuke telah menusuknya tepat di jantung, pinggang, dan dadanya.
"Hn. Rawatlah dirimu dengan baik, agar nanti aku tidak malu saat satu sekolah denganmu di SMA."
Sasuke melewati Hinata setelah menyelesaikan kalimatnya.
"Merawat diri?" Gumam Hinata pelan.
Tiba tiba, suatu ide cemerlang muncul di otak cerdas Hyuuga-nya. Segera, Hinata berlari lari kecil menuju ke mobil yang mengantarnya ke kediaman Uchiha.
"Hatake-san! Hatake-san!" Panggil Hinata terburu buru. Kakashi Hatake, pelayan pribadi Hinata melonjak kaget.
"A-ada apa, nona?" Tanyanya.
"Ayo kita ke salon!" Ajak Hinata penuh semangat.
"Ah.. Nona.. U-untuk apa.." Hatake kebingungan, sepanjang ia menjadi pelayan pribadi Hinata, gadis itu tak pernah sekalipun memikirkan penampilannya. Namun hari ini.. Apa yang membuatnya begitu bersemangat?
"Salon yang mana, nona? Saranku, ada baiknya kau memilih salon yang ada di depan mall besar didekat sini, mereka adalah para profesional." Hatake melirik nonanya dari kaca spion.
Tak ada jawaban dari Hinata. Gadis itu sibuk dengan pikirannya sendiri, entah apa yang ia pikirkan.
Akhirnya, Hatake membawa Hinata keluar dari mansion Uchiha, menuju ke tempat yang diminta gadis itu.
Sasuke sedang men-dribble bola basket dengan cepat di halaman depan mansion, dan berhenti ketika melihat sedan milik keluarga Sabaku keluar membawa Hinata.
Bibir tipisnya menyunggingkan sebuah senyum samar, sangat samar hingga sama sekali tidak terlihat.
"Aku akan membuat diriku pantas bersanding denganmu, Hinata." Gumamnya pelan, "Lebih pantas daripada Itachi."
"Hei, Apa yang kau gumamkan, otouto?" Itachi muncul tiba tiba, lalu bersandar didekat ring basket. Membuat bulu kuduk Sasuke berdiri
"Hn? Tidak ada." Jawab Sasuke singkat, "Pergilah Aniki, kau mengganggu." Ia mengusir Itachi.
"Aku memikirkan beberapa hal tadi." Itachi merilekskan badannya, sambil berjalan mendekat kearah Sasuke, "Kurasa kau benar, Hinata memang tak berubah. Hanya saja sekarang penampilannya sedang kacau."
"Pemikiranmu mudah berubah ya. Bagus juga." Sasuke memuji setengah hati, masih sambil men-dribble.
Itachi tersenyum, ia ingat dulu Sasuke tak sampai setinggi setengah lengannya, namun kini tinggi adiknya itu sudah mau mencapai bahunya.
"Ayo kita bersaing tinggi badan." Itachi tersenyum meledek. Arah pembicaraan mereka membelok tajam.
Jawdrop, Sasuke melemparkan bola basketnya ke muka Itachi, "Baka Aniki!" Teriaknya.
"Kau lihat saja nanti, Baka Aniki. Ketika aku jadi keren dan tinggi, kau akan menyesal!"
Wajah baby face Sasuke yang sedang kesal membuat Itachi tertawa terbahak bahak, "Ya, ya. Mari kita lihat, otouto."
Sementara Hinata, ia sudah sampai di salon yang ia tuju dan mulai bingung karena semua treatment kecantikan ternyata mahal mahal.
Seorang hair stylish menghampirinya, "Kau terlihat bingung nona. Ada yang bisa kubantu?"
Hinata menengok kearah sang hair stylish, "Umm, ya, aku sedikit kebingungan dengan.."
"Astaga, kau parah sekali! Kau benar benar parah, nona!" Hair stylish itu menutup mulutnya terkejut.
Semua resepsionis menatap sang hair stylish shock. Sementara Hinata hanya tertawa lugu, "U-uh.. Y-Ya, karena itu aku datang kemari."
"Ah, Lee-san, ada sesuatu yang harus kukatakan padamu. Kemarilah sebentar." Seorang resepsionis melambai lambaikan tangan kearah sang hair stylish bernama Lee tersebut.
Lee menghampiri si resepsionis dan membuka kuping untuk menerima bisikannya.
"Itu, gadis yang disana itu.." Bisik si resepsionis, "Dia adalah putri tertua Sabaku Kaze, pemilik Sabaku entertainment yang terkenal itu!"
"Apa?!" Lee berteriak, "Apa kau tidak salah?!"
"Sstttt! Lee-san, pelankan suaramu!" Tegur resepsionis, ia menengok ke kanan kiri untuk memastikan tak ada yang memperhatikan mereka, "Karena kau adalah yang terbaik disini, maka.."
"Eh? Lee-san?"
Hair stylist bernama Lee itu ternyata telah menghilang dari sebelah sang resepsionis, berpindah kesamping Hinata.
"Lee-san! Astaga, ia terlalu gegabah!" Omel resepsionis.
Hinata didampingi Lee, berjalan masuk ke ruang perawatan.
"Tenang saja, nona! Kau akan mendapatkan yang terbaik disini!" Ucap Lee penuh semangat.
"Mo-mohon bantuannya.." Hinata menunduk sedikit, wajahnya tetap tenang walaupun seharian ini ia sudah habis habisan karena dicaci oleh Sasuke dan Lee.
Untuk siapa?
Untuk siapa Hinata berusaha merubah diri seperti ini?
Apakah Itachi sepenting itu dimata Hinata?
T
B
C
Untuk kamu yang merasa gak suka sama otome-games based fiction, saya gak memaksa kamu untuk baca kok.
Jangan bicara tentang Canon pada saya, karena fic saya sebelumnya tidak pernah ada yang Canon.
Untuk kalian yang sudah memberi saya saran saran membangun,
Terima kasih banyak.
Saran kalian sungguh berharga bagi saya, dan terima kasih banyak telah membaca fic hasil imajinasi saya ini.
Have a nice day, everyone! :)
Thanks for all of you that choose C pairing, for ItaHina.
did you enjoy it?
Give me a comment, below this fic! ;)
