Main Cast : ChanBaek / Chanyeol (26 YO) x Baekhyun (17 YO)
Other Cast : Temukan di dalamnya :)
Disclaimer : Cerita ini, milik Gloomy Rosemary
.
.
.
Previous Chapter
SRATTTTT
Detektif muda itu semakin mmenggila begitu selimut itu tersingkap.
"B-Baekhyun?" Ia meremas kasar surai hitamnya, bahkan mengusap wajah tak percaya.
"SHIT! TAK MUNGKIN AKU MENIDURIMU!" Teriaknya frustasi
Lalu perlahan bocah itu mulai menggeliat, mencoba terbangun mesti masih tengkurap.
"Hiks!"
Chanyeol terbelalak mendengar isakkan lirih itu. Semula Ia berpikir bocah itu akan tertawa keras dan bernafsu menggodanya.
Tapi-
"Sa—kith.." Rintih anak itu, meremas kuat bantal miliknya.
"Ha?"
.
.
.
.
Heart Attack!
YAOI
.
CHANBAEK
FANFICTION
.
Gloomy Rosemary
Chapter 4
.
.
Chanyeol memang dikenal sebagai pria muda yang kerap mengagungkan dedikasinya... walau sebenarnya Ia terlalu percaya diri dengan perumpamaan semacam itu
Berlaga memahami situasi kala bekerja, meski acap kali Ia mendapat semua yang terjadi terlampau jauh dari ekspektasi miliknya. Bahkan semua rasanya semakin kacau untuknya... semenjak Ia bertemu dengan seorang bocah bernama Baekhyun.
Semula Ia berpikir, apa yang terjadi di malam untuk pertama kalinya Ia bersentuhan dengan anak itu... adalah satu-satunya petaka terakhir dalam hidupnya.
Tapi..
Semua terus berlanjut..
Dan selalu berlanjut, hingga rasanya... bocah itu seperti melayang-layang dalam kepalanya.
Lalu, hal gila ini benar-benar datang padanya...
.
.
"Sa—kith ah~" Jemari kecil itu terlihat meraba-raba sisi ranjangnya, meremas apapun yang bisa dijangkaunya. Demi menawar rasa perih yang sebenarnya semakin merajam semenjak Ia terbangun.
"Pantatku sakiiith! Ah ... hks" Namja kecil itu – Byun Baekhyun, mendadak menangis dengan mata terpejam. Membuatnya tak tau jika seorang polisi muda masih memandangnya tak percaya. Bahkan mungkin sepertinya Baekhyun tak sadar jika Chanyeol di sini bersamanya.
"Ya! Ya! Ya! Berhenti berpura-pura, ini bukan yang pertama untukmu.. aku tau itu" Elak pemuda itu, mencoba apatis. Lalu beranjak bangkit dari ranjang untuk memungut pakaian miliknya dan Baekhyun di lantai.
Namun.. bocah yang masih tengkurap dan menangis di atas ranjang itu, semakin menjadi-jadi merintih.
Kepala pening bukan kepalang akibat minuman keras semalam, tubuh serasa kram dan lagi...
Lubang di bawah sana terus berdenyut nyeri, tak sadar sebabnya... Baekhyun hanya yakin, mungkin Ia tengah sekarat.
"Hks... Pa—Paa" Baekhyun mulai memanggil ayahnya, pasrah tengkurap dan membiarkan air mata itu membuat kebas cover bed maroon di bawahnya.
Chanyeol berdecak keras, masih berkilah anak itu mungkin mencoba menarik perhatian darinya dengan bersikap seperti itu. Ia beralih mendekat berniat menyibak seluruh selimut Baekhyun dan menariknya agar lekas bangkit. "Aisshh! Aku tak akan termakan tipuan—
Tapi Ia stagnan begitu selimut itu benar-benar tersibak. Mendadak jantung itu berdebar cepat begitu melihat bagian selatan anak itu terlihat miris.
"Fuck!" Umpatnya sambil mengusap wajah kasar, nyaris tak percaya tapi ia benar-benar melakukannya.
Ya... Hanya Ia seorang di ruangan ini yang semalam menyentuh Baekhyun.
Tapi dengan darah sebanyak itu yang keluar? Ia bisa rasakan betapa sakit bocah itu merintih
Ah! Ia benar-benar malu bercermin dan menatap wajahnya sendiri.
Cepat-cepat Chanyeol mendekati Baekhyun, terlihat gemetar kala menyentuh kepalanya.
Sempat Ia merasa bingung untuk mengambil tindakan, tapi melihat Baekhyun semakin memucat.. membuatnya tergesa, menarik tubuh Baekhyun hingga telentang...
Mengenakan mantel besarnya untuk Baekhyun, lalu membawanya bridal keluar dari motel itu.
Tak peduli tatapan lalu lalang sekitar, Chanyeol benar-benar gugup mendengar Baekhyun terus menerus terisak dengan tubuh sepanas itu. Sebrutal itukah Ia semalam?
.
.
.
BRAK
Pintu mobil tertutup, Sejenak Ia mencoba melihat wajah Baekhyun yang memaling ke arah jendela dengan mata terpejam.
"H—Hei.." Panggilnya seraya mengenakan sabuk pengaman di tubuh Baekhyun.
"Kau mendengarku?" Ia mengamati lekat wajah pasi itu, tak ada jawaban lain selain rintihan 'sakit'
Membuatnya kembali merutuk diri, lalu melajukan mobil itu menuju sebuah tempat.
Bukan rumah sakit... bukan pula klinik yang selalu terlewat kala mobil hitam itu melaju di jalanan Seoul.
Dimana Ia harus menaruh wajah, jika penghuni rumah sakit itu tau seorang pelindung masyarakat seperti dirinya... adalah pelaku pemerkosa bocah di bawah umur.
Bahkan, Ia bisa dipecat detik itu pula... jika atasannya mendapat laporan semacam itu tentangnya.
Hanya satu tempat yang bisa Ia tuju..
Satu-satunya musuh yang bisa menjaga nama dan karirnya saat ini... lagipula orang itu tengah mengambil cuti panjangnya bukan
"Park Jongin, ku habisi kau jika tak berada di tempatmu" Gumamnya, bernyali banting stir ke sisi jalanan untuk memutar haluan, lalu melajukan mobil itu dengan kecepatan yang sebenarnya tak layak dilakukan di pagi itu.
.
.
.
.
Sementara itu di tempat lain..
Terlihat seorang pria tinggi tengah bersenandung kala menuangkan wine mahal itu ke dalam gelasnya, tak jemu pula menarik sudut bibirnya... seolah Ia memang tengah menemukan hari indahnya di pagi ini.
"Smells goood" Gumamnya sembari menghirup dalam-dalam wine dalam gelas itu.
Sejenak menyesapnya sambil jemari itu menari... sebagai isyarat.. itu benar-benar nikmat.
"Ahh— Ma darling!" Pekiknya tiba-tiba usai meneguk wine ranum itu, memandang penuh binar ke dalam gelasnya, seakan wine itu satu-satunya pemikat untuknya.
Sikap itu mungkin memang terlalu berlebih untuk pemuda seperti dirinya, tapi ini untuk pertama kalinya Ia mendapat hari setenang ini.
Tanpa rintih dan jeritan pasien, tanpa aroma obat-obatan yang menusuk dan tentunya tanpa racauan sumbang dari para senior di rumah sakit.
Ia kembali berdendang dengan hanya berbekalkan bathrobe lalu melangkah antusias menuju sofa miliknya. Menikmati... bagaimana Ia menjadi Raja di dalam ruangan miliknya sendiri.
Hingga tiba-tiba—
'DIIIIIIINGGGGG!'
Suara bel menjadi benda terkutuk untuknya.
Pemuda itu – Park Jongin- Hanya memicing, lalu kembali menegak winenya.. mencoba tak peduli.
'DIIINGGGGGGGGGGG!'
"Aku tak di rumah!" teriaknya sambil memejamkan mata, tanpa sedikitpun bangkit berniat membuka pintu itu.
Tapi semakin ia mengabaikannya.. semakin rusuh pula bell itu berbunyi.
'DIIINGG! DINGGG! DINGGGG! DIIIIIIIIINGGGGGGG!'
"Aissshhh! Orang gila macam apa yang—
'BRAAAKKKKK!'
Pintu mendadak di dobrak paksa... bahkan hingga merusak salah satu engselnya karna terlalu kuat tendangan itu.
"Hei... apa kau tuli?" Dan seorang pria benar-benar muncul dari baliknya.
"YACK! KAU GILA HYUNG!" Teriaknya sambil menunjuk-nunjuk pintu apartemen naas itu.
Chanyeol hanya berdecak lirih, lalu melenggang begitu saja menuju ruangan yang lain.
"Kau tak bisa masuk begitu saja ke dalam rumahku!" Kai mengejar langkah Chanyeol.
"Karna kau tak membuka pintu untukku" Jawab Chanyeol santai.
"Tapi tetap saja Kau tidak—
Dokter muda itu mendadak membulatkan mata lebar, begitu melihat Chanyeol membaringkan seorang namja kecil di ranjangnya.
Sejak kapan Chanyeol membawanya? Bahkan sepertinya Ia tak melihat Pria itu membawa seseorang saat mendobrak pintunya.
"YAHH! Siapa anak itu? Mengapa kau membawanya kemari?"
Terlihat.. Detektif muda itu mulai menghela nafas berat, sambil mengusap wajahnya sendiri.
"..."
"Kau diam?" Kai mulai mengernyit, menerka sesuatu yang salah di sini.
"anak itu korban perampokan?"
"Bukan.." Lirih Chanyeol.
"Korban tabrak lari?"
Chanyeol memalingkan wajah. "Bukan.."
"Korban penculikan?"
Kembali meleset... membuat Detektif itu menghela nafas. "Berhentilah bicara ... Aku ingin kau melihat lukanya, apa ini serius?"
Kai tergerak untuk mendekati pria yang sebenarnya saudara kandungnya itu. "Anak ini korban bully lalu Dia mencoba bunuh diri?" Kai kembali menerka jawaban Chanyeol.
"Tck! Kau benar-benar bermulut besar huh? Cepatlah periksa tubuh anak ini... Dia—
"Korban perkosaan?" Sergah Kai tiba-tiba kala mengamati wajah pucat Baekhyun, membuat Chanyeol diam seketika.
Sikap diam itu, sepertinya dugaannya benar. Cepat-cepat ia menyingkap mantel yang menutupi tubuh Baekhyun, dan terbelalak lebar begitu melihat banyak spot kissmark di sekujur tubuh anak itu.. bahkan terlihat bercak putih kemerahan di sela pahanya.
Lama... Ia memandangi lekat-lekat tubuh Baekhyun , sempat berdecak kagum menyadari tubuh namja kecil itu terlihat lembut dan pucat, cubitan kecil saja dapat dengan mudah meninggalkan bekas kemerahan di kulitnya, apalagi kissmark yang ditinggalkan.
'Beruntung sekali pemerkosa itu' pikirnya sambil menyungging senyum
"Apa yang kau lihat hah?" Gertak Chanyeol begitu mengikuti arah pandang Kai.
"Yya~ aku seorang Dokter . Bagaimana aku bekerja jika aku tak melihat tubuhnya?"
"Singkirkan tatapan mesum itu!" Gusar Chanyeol, sambil menutup cepat genital Baekhyun dengan mantelnya.
Membuat kai mengumpat lirih lalu lebih memilih berjalan ke sisi ruangan untuk mengambil stetoskop dan peralatan medis lainnya.
.
.
.
"Dia demam.." Gumamnya, kala menyentuh leher Baekhyun.
"Apa ini buruk?" Chanyeol terlihat gugup, namun tak berhenti menutupi genital anak itu dari pandangan Kai.
"..." Kai hanya diam memejamkan mata, Sejenak mendengarkan detak jantuh bocah mungil itu, lalu beralih membuat tubuh Baekhyun tengkurap... dengan perlahan.
Tapi Ia kembali di buat terperanjat begitu melihat bercak darah di bagian selatan tubuh anak itu.
"Geeezzz! Ini gila.." Serunya tiba-tiba, "Bagaimana Dia bisa menghabisinya seperti ini?"
"..." Chanyeol hanya terdiam, nyaris tak bisa menyembunyikan raut wajahnya.
"Kau sudah menangkap pelakunya Hyung?" Ujar Kai lagi sambil mengenakan sarung tangan medisnya.
"..."
"Yya?! Mengapa kau hanya diam saja? Kau sudah menangkap pemerkosa anak malang ini?"
"..." Detektif muda itu kembali minim suara, dan lebih memilih berjongkok untuk memunguti beberapa remahan biskuit di lantai.
Tak pelak membuat Kai, menarik sebelah alisnya. "Hyung!" Panggilnya sambil menatap lekat Detektif muda itu
"Jangan katakan jika kau—
"..." Chanyeol semakin menjadi... bahkan terlihat bodoh mencabuti bulu karpet mahal miliknya.
"Kau pelakunya Hyung?! Kau ini benar-benar!" Teriak kai tak habis pikir sambil memandang Chanyeol dan Baekhyun bergantian
"Kau seorang polisi, bagaimana mungkin bocah sekecil ini kau makan?! YAH! Kurasa Dia juga masih di bawah umur! Lihat penisnya! Dia bahkan sepertinya belum pernah mendapat mimpi—
SLAP
Chanyeol menampar cepat tangan Kai. "Jangan menyentuh miliknya!" Desisnya gusar.
"Mengapa marah? Kau saja—
"Dia kekasihku!" Desisnya , meski dalam hati Ia merutuk keras
Kai membulatkan mata lebar. "WHAT?!"
"Dan lagi.. aku bukan memperkosanya! Tapi aku dan anak ini benar-benar bercinta" Terpaksa Ia mengatakannya, lebih untuk menyelamatkan wajah yang sebenarnya telah tercoreng di hadapan saudara kandungnya sendiri.
"Kau benar-benar tak waras?" Desis Kai datar.
"Hn... aku tergila-gila dengan ank ini" Sahut Chanyeol lebih datar. Tak ada cara lain untuk menghindar selain berbohong seperti ini, dan berharap Baekhyun tak mendengarnya.
Kai berdecak keras, lalu memutus kontak mata dengan Detektif muda itu.
Memilih mengalah dan berhenti menarik ulur waktu... demi bocah malang itu.
.
.
.
.
"Pegang pantatnya.." Ujar Kai, begitu usai mengambil air hangat dan alat medis yang lain untuk di bawa ke dalam kamarnya.
"Apa?" Chanyeol mengerjap cepat.
"Tsk! Dia kekasihmu... dan kau mengizinkanku memegangnya?"
Seperti ditelak begitu saja. Chanyeol benar-benar meneguk ludah payah. "T-Tentu saja tidak"
"Cepat pegang pantatnya, lalu buka berlawanan arah"
"Apa?!"
"Yya! Mengapa kau terkejut?! Bahkan kau telah mencicipi tubuh anak ini!"
Chanyeol nyaris berteriak untuk mengumpat. Tapi ini sudah terlanjur... Dan Ia hanya pasrah mematuhi perintah dokter muda itu.
Menyentuh bongkahan daging lembut itu, sedikit meremasnya sebelum akhirnya membuka belahannya berlawanan arah.
Bisa Ia lihat.. lubang kecil yang terlihat bengkak dengan bercak darah di sekitarnya.
Hingga tiba-tiba saja—
PLAKKK
Tangan Dokter muda itu benar-benar menampar kepala Chanyeol
"YACK!" Teriak Chanyeol tak terima.
"Apa yang kau pikirkan saat menyetubuhinya Hyung?!"
"Aku—
"Kau tak melakukan oral untuknya?" Sergah Kai
"Oral?"
"Tanpa pelumas?"
"P-Pelumas?" Gagap Chanyeol semakin tersudut.
"Aiissshh! Mengapa kau sebodoh ini!" Kai mengusap wajahnya jengah.
.
.
.
"Pikirkan partnermu... jika kau melakukan hubungan intim seperti ini"
"..." Chanyeol hanya tertunduk sembari memainkan jemari Baekhyun, oh ayolah... dalam hidupnya Ia memang baru sekali melakukan hal semacam ini, jika saja ia bisa mengendalikan nafsu. Tentu semua tak akan berakhir memalukan seperti ini.
sementara Dokter itu kembali melanjutkan sisa tugasnya.
"Dia bukan wanita tapi seorang bocah laki-laki. Lubang yang kau masuki tentu lebih rapuh . terlebih Dia masih sekecil ini, bahkan ini adalah sex pertama untuknya"
"P—pertama?" Chanyeol menatap Baekhyun tak percaya.
"Kau tak tau hal ini? Seharusnya kau bisa merasakannya saat pertama kali kau memasukkan milikmu ke dalam! Betapa sempit dan ketat –
"Tak ada yang lain yang bisa kau katakan selain hal ini?" Gusar Chanyeol tak tahan dengan cara bicara yang frontal itu. "Lebih baik kau selesaikan pekerjaanmu dan tutup mulut besarmu itu!" Chanyeol mulai berkacak pinggang, memandang sang adik dengan tatapan menuntut, seperti yang kerap Ia lakukan untuk mengancam Kai semasa kecil.
Dan lihat..
"Tsk!"
Dokter muda itu benar-benar tak bisa berkilah, memilih melanjutkan kembali tugasnya... meski dengan wajah tertekuk kusut. Dalam hati sebenarnya Ia mulai menerka.
Sejak kapan Hyung-nya itu berubah orientasi sex seperti dirinya?
Semua orang yang mengenalnya tentu tau, pria itu hanya memuja pekerjaannya...
Tak pernah menjalin hubungan dengan seorang manapun, bahkan hidupnya pun terkesan tertutup dan membosankan. Ah! Ia pun tak pernah kedapatan pulang kerumah orang tua keduanya
Walau mungkin sebagian yang lain meyakini, tuntutan pekerjaan Chanyeol sebagai detektif yang membuat hidupnya demikian. Ia berusaha melindungi keluaga dan mungkin orang terdekatnya.
Tapi...
Melihatnya membawa seorang bocah ingusan yang diklaimnya menjadi kekasihnya..
Itu bukan pribadi Chanyeol!
Chanyeol selalu berkoar akan keadilan dan hukum dimanapun Dia berada...
Lantas menemukan bocah itu pingsan dengan kondisi tubuh miris karna perbuatan Hyung-nya sendiri.
Kai bisa menjamin... kepala Detektif itu sepertinya membentur sesuatu yang sangat-sangat keras.
.
.
"Aku akan menyelesaikannya sedikit lagi" Gumam Kai, tanpa mengalihkan konsennya pada luka Baekhyun.
"Wah haha... tak kuduga, milikmu besar juga Hyung... aku bisa melihatnya dari—
'CTAKKK!'
Sebuah pena terlempar mengengai jidatnya.
"Berani kau melanjutkannya, benda ini benar-benar akan menembus jakunmu!" Ancam Chanyeol sambil menunjukkan pena yang lain.
"Bastard!" Lirih Kai, kembali tak berkutik. Bagaimanapun Ia tak bisa melawan Chanyeol secara fisik. Atau... beberapa bagian tubuhnya akan menjadi korban.
.
.
.
Hampir 30 menit lamanya Ia membersihkan tubuh Baekhyun dan memberi pakaian yang lebih hangat untuk bocah manis itu.
Sejenak memandang wajah lelapnya, Kai mulai menyimpul senyum. Sepertinya memang ada yang menarik dari Baekhyun... hingga bisa membujuk bahkan menggerakkan pribadi Chanyeol yang kaku itu.
Ia beralih melangkah keluar setelah sebelumnya mematikan lampu kamarnya.
.
.
.
"Sejak kapan kau berkencan dengannya?" Kai melirik Chanyeol, kala meletakkan secangkir kopi hitam untuk pria kekar itu.
Chanyeol reflek menggigit bibir bawahnya, mencari-cari jawaban yang mungkin sesuai. Karena tak mungkin bukan, mengatakan yang sebenarnya.
"Beberapa tahun belakangan ini... mungkin" Sahutnya terlihat yakin.
Kai mendadak tertawa. "Karena itu kah kau melakukannya sebrutal ini Hyung? Kau menunggu waktu hingga anak itu matang. Lalu saat tiba waktunya —
"BANG! Benda besarmu benar-benar menjadi monster untuknya" kekeh kai sambil mendelik pada benda di tengah selangkangan Chanyeol.
"YA! Apa maksudnya itu hah?!" Detektif muda itu menegak habis kopi hitam dam cangkirnya, sebelum akhirnya beranjak untuk berdiri.
"Aku memiliki perkerjaan yang lain. Karena anak itu masih tidur... sebaiknya dia di tempatmu hingga—
"BIG NO! Kau tak bisa meninggalkannya di sini!" Sergah Kai cepat
"Apa masalahnya? Hanya hari ini saja! Aku ingin kau merawatnya hingga anak itu bisa duduk, berdiri .. dan jalan dengan benar!" Tukasnya, karena tak mungkin membawa pulang Baekhyun dengan keadaan seperti itu.
"Yya Hyung! Bagaimana jika Kyungsoo datang dan melihat ada namja lain tidur di kamarku dengan kondisi seperti itu?!"
"Kau hanya tinggal mengatakan 'Dia kekasih Hyung-ku yang Tampan' Padanya... mudah bukan?"
"No way! Kau gila jika—
"Pa—paaa~"
Tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan gumaman lirih dari dalam kamar Kai.
"Papa? Dia memanggilmu?" Tanya Kai , menunjuk Chanyeol dengan tatapan konyol.
"Tck!" Tapi Chanyeol lebih memilih berlari menuju kamar Kai, setelah sebelumnya menjitak kepala Dokter muda itu.
.
.
.
"Pa—Paaa!" Baekhyun kembali memanggil Ayahnya, sedikit menggeliat karna tak nyaman.
"Sshh... kau sudah bangun?" Bisik Chanyeol, seraya menyingkirkan beberapa helai rambut basah di kening Baekhyun.
Namja kecil itu reflek mengernyit begitu mendengar suara tak asing untuknya. Cepat-cepat Ia membuka mata dan—
"BABY!" Pekiknya antusias... tersenyum lebar, meski nyatanya wajah itu terlihat pucat. Bahkan kedua lengan itu terlihat bersemangat memeluk leher Chanyeol, hingga membuat Detektif itu nyaris tersungkur menindih tubuhnya.
"Yya.. lepaskan, aku bisa menimpa tubuhmu"
"Tak masalah... aku merindukanmu" Sahut Baekhyun masih bersikeras merangkul leher Chanyeol.
"Tubuhmu sedang terluka... jangan membuatnya semakin buruk"
Ucapan itu lekas membuat Baekhyun terdiam, kembali mengingat potongan kejadian semalam..
Bagaimana dirinya yang mengenakan pakaian perempuan kala itu, terlihat kacau karena mabuk. dua orang namja datang... membawanya ke sebuah tempat lalu—
Bakehyun terbelalak lebar, cepat-cepat melepas rangkulannya di leher Chanyeol untuk menelisik pakaiannya sendiri
Dan betapa terkejutnya anak itu kala mendapati sekujur tubuhnya penuh dengan spot merah matang.
"AHHH!" Jeritnya tiba-tiba. Ia spontan menarik selimut untuk dipeluknya erat... sementara wajahnya terlihat semakin pucat karena menahan tangis.
"Ada apa hn?" Chanyeol beringsut mendekat.
"M-Mereka.. Mereka!" Racau Baekhyun sambil menggeleng kacau. Bisa Baekhyun rasakan... rektumnya berkedut luar biasa sakit di bawah sana. Dan Ia bisa bayangkan, bagaimana namja – namja itu menghabisi tubuhnya semalam.
"Mereka?" Tanya Chanyeol heran
"Hks!"
"Y-Yyya... mengapa menangis?" Panik Chanyeol, terlihat bingung mendapati namja kecil itu mendadak menutup wajah dengan kesepuluh jarinya.
"Huh? Dia menangis? Apa yang terjadi Hyung?" Kai yang kala itu baru datang tampak mengernyit, melihat bocah yang baru siuman itu menangis menggemaskan.
Ia berlaih berjalan mendekat untuk meletakan beberapa tablet obat dan segelas air mineral untuk Baekhyun.
"Apa bagian itu masih terasa sakit adik kecil?" Tanyanya sambil terkekeh geli.
"Minumlah... obat ini bisa meredakan rasa sakitnya" Ujarnya lagi, sambil membuka tablet obat itu untuk Ia berikan pada Baekhyun.
Tapi yang terlihat... Baekhyun tetap bertahan dengan bagaimana Ia menangis. Merasa tersudut.. mendapati Chanyeol melihat tubuhnya yang menyedihkan. Menurut Baekhyun.
"A-Aku tidak melakukannya... mereka yang—
"Hei apa yang kau pikirkan? Sex pertama-mu dengan Big guy ini... bukankah menggairahkan, meskipun menyisakan sakit seperti ini? Berhentilah menangis" Ujar Kai sambil menepuk keras punggung Chanyeol
"KAI!" terikak Chanyeol, tak ingin pemuda itu kembali memulainya.
Baekhyun lekas terdiam. Menurunkan kedua tangannya, untuk menatap Kai dengan mata penuh dengan air mata.
"Hm..?" Kai kembali tersenyum, lalu mendekati telinga Baekhyun. "Tuan Chanyeol benar-benar kasar semalam?" Bisiknya, menahan geli
"Chan—yeol? Ka—sar?" Ulang Baekhyun masih memandang Dokter itu tak mengerti.
"Seperti ini" Kai membentuk huruf O dengan sebelah tangannya... memasukan telunjuknya ke dalam dan membuat gerakan keluar masuk.
"Kau melakukan sex bersamanya semalam" Lugas Dokter itu lagi... semakin heran melihat wajah polos anak itu.
Tak pelak membuat Chanyeol membulatkan mata lebar. "Hentikan Kai! Mulutmu benar-benar tak berguna.. hentika—
"S—Sex?" Baekhyun terlihat terbata, memandangi Chanyeol dan Kai bergantian.
"Yya.. apa ini? Kau tak mengingatnya?" Kai melepas cengkeraman tangan Chanyeol dari kerahnya. Dan lebih tertarik dengan jawaban bocah manis itu
Baekhyun menggelengkan kepala pelan.
"Haa?! Kau benar-benar tak mengingat.. Pria ini menyetubuhimu semalam?"
Chanyeol menghela nafas berat. "Dia dalam kondisi mabuk.. semalam"
Baekhyun lekas berjengit, baru menangkap apa artinya itu.
"Baby yang melakukannya semalam? Jinjja? Jinjja?" Pekik Baekhyun antusias.
"B-Baby?" Tanya Kai
Baekhyun mengangguk cepat sambil menunjuk Chanyeol, dan jangan lupakan senyum ... yang terlihat manis itu.
"Whoaaa... apa yang kulihat ini huh?" Kai mulai melirik Chanyeol, bermaksud menyindir. "Baby... Baby?" Terlihat menyebalkan dengan mata yang semakin menyipit itu.
Chanyeol lebih memilih mendorong Kai menjauh, mengambil alih tempatnya untuk mendekati Baekhyun.
"Berhenti memanggilku seperti itu, dan minum obatmu" Bisik Chanyeol, menatap mata bening milik bocah itu
"Aku menyukainya.." Jawab Baekhyun cepat
"Itu terdengar memalukan... apa kau sadar itu?"
"Memalukan? Tapi kau pacarku.. itu tidak~mpfhhh! Mmm!" Bocah itu lekas terbelalak, begitu Chanyeol memaksa menyuapkan beberapa obat pahit untuknya.
"Ssh! Cepat minum... lalu kita pergi dari sini" Bisik Chanyeol lagi, sambil membantu meminumkan segelas air mineral untuknya.
"Ughmm!"
.
.
.
"A—Aaaa~"
Anak itu kembali merintih, meski Ia begitu berhati-hati membawanya secara bridal menuju mobil hitamnya.
"Tahanlah sebentar" Bisik Chanyeol, sedikit cemas melihat Baekhyun menggigit bibir bawahnya sendiri.
"P—Punggungku sakit!" Erang Baekhyun, membuat Chanyeol mengkoreksi posisi lengannya untuk merengkuh sedikit ke punggung atas anak itu.
"Seperti ini lebih baik?"
Baekhyun kembali tersenyum. "Uhm.." Jawabnya girang, sambil merangkul lebih erat leher besar itu.
.
.
.
"Lemaskan tubuhmu.." gumam Chanyeol, sembari mendudukkan tubuh mungil itu di sisi kemudianya
"AH!" tapi yang terlihat bocah itu memekik kesakitan dengan punggung melengkung ke depan.
"Sshh..." Desisnya sedikit mengusap paha Baekhyun. "Apa kau ingin berbaring di belakang?"
"T-Tidak.. Ahsss... T-tunggu sebentar" Rintih Baekhyun, berusaha menyamankan posisnya sendiri. Dan Chanyeol hanya diam menunggunya... sadar diri, ia yang membuat anak itu berakhir malang seperti ini.
"Lebih baik?" Tanya Chanyeol memastikan, berulang kali pula Ia mengusap lengan Baekhyun mencoba menenangkannya.
Namun sedikit sentuhan penuh perhatian itu... tentu membuat Baekhyun semakin dibuat mabuk olehnya. Hingga mencuri kesempatan dengan mengecup cepat bibir tebal itu.
'Chupp'
"Yyaaa~" Chanyeol reflek menyentuh bibirnya sendiri.
"Waee? Aku hanya mencium bibirmu" Gerutu Baekhyun dengan bibir mengerucut.
"Tsk! Kau ini benar-benar.." Chanyeol memilih bangkit lalu berjalan menuju kemudinya sendiri.
Sejenak menatap langit di atas sambil mengacak rambutnya frustasi, sebelum akhirnya memasuki mobilnya.
"Aku akan mengantarmu pulang dan—
"Tidak... Tidak" Sergah Baekhyun cepat, sambil merangkul lengan Chanyeol.
"Pertama... aku ingin menghabiskan waktu seharian ini hanya denganmu, lalu setelahnya bersamamu... bersamamu dan bersama muu" Lanjut bocah itu, seakan memang mengerti ucapannya.
"Apa? Lalu bagaimana dengan Ayah dan semua anak buah bodohmu itu?!"
Baekhyun terlihat mengerjap untuk berpikir. Lalu tak lama setelahnya ia menyambar ponsel Chanyeol. Sejenak manekan bebarap digit nomor yang memang diingatnya..
Sempat takjub begitu menyadari Chanyeol rupanya menyimpan nomor Pria itu.
("Tuan Polisi? Jangan menelfonku jika ini bukan tentang Bos Kami! Apa kau menemukan—)
"Berisik!" Jerit Baekhyun tiba-tiba
("O—Booossssss?" )Sahut Namjoon dari balik sambungan telepon itu. ("Apa kau baik –baik saja? Bos makan dengan baik bukan? Kami semua mencemaskanmu... ")
"Aku merasa lebih baik tanpa mendengarmu dan tanpa melihatmu!"
("Yyaa Booss jangan bicara sekejam itu. Pulanglah Bos... sebelum Tuan Besar kembali da—)
"Aku ingin bermalam di tempat pacarku!"
("Apa Bosss? Tidak—)
"Jangan mencariku!
("B-Boss tapi—)
"Jika Papa pulang... katakan padanya aku bersama teman sekolahku!"
("Booosss! Tapi ini—)
PIPPPPP
Sambungan telepon itu Ia matikan secara sepihak, lalu setelahnya Ia menatap Chanyeol sambil tersenyum menunjukkan gigi kecilnya.
"Selesai..." Celotehnya kemudian.
Sementara Chanyeol yang memang memperhatikannya sedari tadi, hanya mengangkat sebelah alisnya. Sebenarnya memang merasa takjub dengan kuasa bocah semungil itu mengambil alih semua para Pria kekar pengikutnya.
"Apa maksudnya itu huh? Bermalam di tempat Pa-Car Ku?" Chanyeol mengikis jarak sambil menekankan kata di akhir.
Alih-alih merasa ciut, bocah itu terlihat tersenyum riang.. lalu menyandarkan kepalanya di lengan Chanyeol.
"Kau pacarku dan aku benar"
"Bagaimana mungkin kau—
"A—Ah! S-sakit!" tiba-tiba Baekhyun merintih seraya menyentuh pinggangnya sendiri, sesekali pula Ia melirik Chanyeol.
Tentu telak untuknya, Chanyeol sekecappun tak menegurnya... atau mungkin melepas rangkulan yang terlihat lengket di lengannya itu.
Ia tetap membiarkan bocah itu menempel dan terlelap di lengannya... sepanjang jalan hingga mobil itu benar-benar menepi di kediamannya.
.
.
.
.
"Bagaimana bisa kau menemukanku?" Gumam Baekhyun sedikit mencondongkan kepala ke depan, kala Chanyeol membawanya menuju lift.
Pria muda itu hanya melirik sekilas bocah di atas gendongan punggunnya itu. Lalu menekan dengan malas... nomor lantai apartemen miliknya. "Aku seorang polisi" jawabnya ketus.
"Katakan padaku.. bagaimana kau bisa menemukanku Tuan Polisi?" Bisik baekhyun sambil menjilat telinga Chanyeol.
"YA! Berhenti melakukannya!"
"Ah! Waeeee?!" Protes Baekhyun tak terima disentak seperti itu.
"Dengar... Jika kau tak patuh padaku, aku akan mengantarmu pulang saat ini juga"
"..." Tak ada jawaban, bocah itu lebih memilih bersandar memejamkan mata, dengan wajah tertekuk kusut.
.
.
.
.
"Kau ingin duduk di sofa atau berbaring di ranjang?" Gumam Chanyeol memberi opsi untuk menyamankan anak itu.
Baekhyun terlihat berpikir sejenak, meski nyatanya Ia masih menyandarkan kepalanya di punggung Chanyeol. Hingga—
"Dimanapun asal kau memelukku.."
Menjadi jawaban yang terdengar menjengkelkan untuk detektif itu.
"Apa kau pikir aku tak memiliki pekerjaan yang lain? Baik! Lebih baik aku membawamu ke ranjang lalu gunakan waktu luangmu untuk tidur" Gusar Chanyeol, sambil berjalan menghentak menuju kamarnya.
"Ahh! Aku tak mau! Itu berarti kau tak di sisiku! Aku ingin seharian ini kau bersamaku!"
'Ctik!'
Terlihat urat jengkel tergurat di keningnya. Ia mencoba tak peduli dan tetap membawa anak itu menuju kamarnya.
.
.
"Sekarang pejamkan matamu dan cepat tidur" Tegas Chanyeol usai membaringkan bocah mungil itu, dan menarik selmut sebatas lehernya.
'GREB'
Baekhyun menangkap cepat pergelangan tangan Chanyeol. "Jangan pergi kemanapun... kau harus menemaniku di sini" Rengek Baekhyun pada akhirnya
Pria itu terlihat mengacak surai brunettenya sendiri. "Aku harus mandi dan aku harus bekerja! Aku tak memiliki waktu untuk melakukan hal bodoh semacam itu bersamamu... cukup tidurlah di sini dan jadilah anak yang—
"A~Ahh! M-mengapa tubuhku sakit sekali? Uh— kau melakukannya terlalu ka—sar" Baekhyun merintih sambil sesekali melirik Chanyeol, hingga membuat Pria itu kembali menepuk jidatnya sendiri lalu duduk dengan terpaksa di sisi Baekhyun.
"Tidurlah..." Bisik Chanyeol terdengar lebih lembut. Anak itupun terlihat menyamankan kepalanya di bantal, dan begitu antusias meraih tangan Chanyeol untuk dipeluknya.
.
.
Tak ada yang mereka lakukan... selama lebih dari 10 menit terlewat. Anak itu hanya diam memandanginya.
"Kau hanya akan memandangiku seperti itu semalaman ini?"
Baekhyun terkikik. "Kau sangat tampan"
Chanyeol benar-benar tak menduga, Anak itu akan menjawabnya demikian. Hingga diluar kendalinya... Ia merasa ada bagian dalam dadanya yang tersengat. Membuatnya berdehem kikuk.
"i-itu memang aku" Ujarnya mencoba tenang.
Lalu tiba-tiba Chanyeol mengernyit begitu melihat keringat rupanya merembas cukup banyak di kening Baekhyun.
"kau berkeringat banyak sekali" Gumamnya seraya menyentuh dahi Baekhyun. "Obat itu benar-benar bekerja dengan baik" Lanjutnya, menyadari demam anak itu telah meluruh. Ia melepas paksa pelukan anak itu di tangannya, untuk mengambil sesuatu.
"YA! Kau tak bisa meninggalkanku! Jangan pergi! Aku ingin kau tetap—
'PLUK'
Baekhyun terdiam, begitu sebuah kemeja terlempar untuknya.
"Kenakan itu... kurasa kemejaku lebih nyaman untukmu" Ujar Chanyeol sambil kembali melangkah mendekat.
Bocah itu mengerjap girang. Lalu kembali menyerahkan kemeja putih itu pada Chanyeol. "Pakaikan di tubuhku.." Rengeknya.
"Pakailah sendiri!"
"..." Baekhyun mempoutkan bibir. "Sa—kit" Ia kembali mengeluarkan rintihan ampuhnya.
"Argh! Baiklah! Berikan itu padaku" dan benar saja... Chanyeol kembali menarik ucapan sebelumnya, dan berakhir dengan mengganti kemeja namja mungil itu.
Tak ada alasan lain untuk mengulas senyum manis. Baekhyun terlalu senang melihat Chanyeol melakukan semua ini untuknya.
"Ba-By" Panggil Baekhyun di sela-sela Chanyeol menyematkan kancing kemeja itu untuknya.
"Bukankah sudah kukatakan... berhenti memanggilku seperti itu"
"Tidak mau ... karena kau pacarku" Kekeuh Baekhyun.
"Aishh! Menyebalkan sekali..." Gusar Chanyeol, dan Baekhyun hanya terkikik kecil.
.
.
"Uhm..." Baekhyun kembali memandang malu-malu pada pria yang kini fokus menggulung lengan kemeja yang terlihat panjang untuknya.
"Kau menyukaiku..." Lirih Baekhyun dengan wajah tersipu malu.
"Apa?" Chanyeol merespon cepat.
Sementara Baekhyun kembali terkikik sambil memukul pelan lengan Chanyeol. "Kau melakukan 'itu'. Jika saja aku tidak mabuk... aku pasti mengingatnya"
Chanyeol terlihat gugup. "A—itu sebenarnya—
'GREBB' Tiba-tiba Baekhyun menarik kerah Chanyeol, mendekatkan wajah pria itu dengannya.
"Aku membuktikan ucapanku... aku mendapatkanmu" Bisiknya sambil menjilat bibirnya sendiri.
"Berhentilah bersikap aneh untuk bocah seusiamu!" Gusar Chanyeol, merasa terusik dengan cara bagaimana Baekhyun menjilat bibir bawahnya sendiri.
Anak itu terlihat tak jemu, bahkan semakin lekat memandangi wajah Chanyeol. "Jangan pergi" Gumamnya begitu melihat Chanyeol berdiiri, Ia lekas menarik tangan Pria itu... hingga membuatnya limbung dan terhempas ke ranjang.
"Y—Yaa! Kau! Apa yang ingin kau lakukan hah?" Panik Chanyeol melihat bocah itu tiba-tiba merangkak dan mencoba menaiki tubuhnya
" I want to eat... You" Desahnya sambil menyentuh organ besar di balik celana jeans Chanyeol.
"Cant... I?" Lanjutnya lagi, kali ini bernyali mengecup genital yang masih terbungkus itu.
"YACK! Kau gila?!" Seru Chanyeol sambil menjauhkan wajah baekhyun dari selangkangannya.
"Aku akan membuatmu puas.."
"Hentikan ! Bukankah kau sedang sakit!" Pria itu semakin tergagap.. melihat Baekhyun terlalu bernyali ingin membuka zippernya.
"Tidak jika itu denganmu" Desah Baekhyun sambil membenamkan wajahnya ke dalam selangkangan Chanyeol, tapi yang terlihat—
"HENTIKAN!" Pria itu mati-matian menggunakan akal sehatnya, lalu membentak keras sebelum akhirnya mendorong tubuh Baekhyun hingga terhempas ke sisi ranjang yang lain.
"A-Ahtt!" Tak pelak membuat Baekhyun kembali mengerang kesakitan. "Mengapa mendorongku?! Ini sakiiitt!"
"Berhenti berpura-pura dan menggunakan 'sakit' itu untuk menjebakku!"
Baekhyun membulatkan mata lebar. "Aku benar-benar sakit... Baabbyyy"
"Berapa kali kukatakan berhenti memanggilku sebodoh itu!" Gusar Chanyeol semakin jengkel.
"Kau pacarku! Dan aku menyukai panggilan itu untukmu!" Kekeuh Baekhyun sambil menyilangkan lengan di dada.
"Aku bukan PACAR mu! Sebaiknya aku mengembalikanmu ke rumahmui saja!" Chanyeol lekas bangkit berdiri, memunggungi anak itu demi mengemas satu persatu pakaian Baekhyun.
Tanpa tau... perubahan raut bocah yang kini menatapnya getir itu.
"Kau pacarku... dan kau menyukaiku" Lirih Baekhyun, tak berharap detektif itu kembali mengelak.
"Aku bukan pacarmu! Dan aku tak pernah menyukaimu!" Chanyeol yang memang masih terbawa suasana kesal kala itu, kembali bersikap tak peduli dan memasukkan semua benda Baekhyun secara serampangan ke dalam ransel.
Lembut atau tidak sikapnya pada anak itu. Baekhyun akan tetap berlaku presisten dan binal untuk menggodanya. Ya! Dia memang seorang anak yang nakal bukan?
"T-tapi kita melakukan sex.." Sedikit tersedak, dan samar terlihat bulir bening menetes dari sudut mata kecilnya.
"Ya memang kita melakukan sex... tapi itu tak berarti aku menyukaimu dan lagi pula sepertinya akupun mabuk saat—
Chanyeol memutar tubuh, namun detik itu pula Ia tercekat melihat Baekhyun terisak dalam diam.
"Yy—Yya... maksudku, sebaiknya tak membicarakan hal ini. Dan aku benar-benar menyesal atas apa yang kulakukan padamu semalam. Maafkan aku"
'DEG'
Baekhyun semakin meremas kuat selimutnya sendiri. Sebenarnya tak perlu mengatakan kata 'menyesal' untuknya, Baekhyun merasa itu kata benar-benar menyakitkan untuknya.
Karena memang... Ia yang menantikannya di sini.
Sebebarapapun menyakitkan ... Baekhyun tetap senang dan memujanya, Karna Chanyeol yang melakukannya.
"Kau mendengarku? Maafkan aku .. semalam sepertinya—
"Pulang.." Sergah Baekhyun lirih, dengan wajah tertunduk. Membuat sebagian pony pirang itu menutupi mata sembabnya.
"Pulang? O—Ah! Baiklah... aku akan mengantarmu pulang" Ujar Chanyeol tak yakin, meski sebenarnya Ia merasa ada yang salah di sini. Semacam dadanya terasa sesak. Dan Ia tak tau apa sebabnya.
.
.
.
"Kau bisa melakukkannya?" Tanya Chanyeol cemas, melihat Baekhyun begitu tertatih berdiri. "Biar aku membawamu—
"Aku bisa melakukannya.." Baekhyun menepis tangan Chanyeol, dan memilih berjalan dengan merambati dinding di sisinya.
Sikap yang terlihat... lekas membuat Chanyeol mengerjap heran. Tidakkah ini benar-benar kontras dari sikap sebelumnya?
.
.
"Jangan keras kepala... kau bisa jatuh jika cara berjalanmu seperti itu. Biarkan aku membawamu menuju mobil" Detektif itu semakin tak tahan melihatnya berjalan terhuyung-huyung, sedari tadi Ia mengawasinya dari belakang... semakin ia berdiam diri... semakin miris pula anak itu mengambil langkahnya.
"Kemarilah..." Chanyeol memaksa menggendong bridal Baekhyun.
"Aku bisa sendiri!" jerit Baekhyun, sambil mendorong dada Chanyeol .. lalu tiba-tiba—
BRUGH
Ia terjerembab begitu saja.
"Yya! Kau baik-baik saja?" Panik Chanyeol... merunduk cepat demi meraih tubuh Baekhyun. Ia kembali berdecak... melihat luka di lutut dan kedua siku anak itu.
"ini akibatnya karena kau tak mendengarku" Ucap Chanyeol, membantu Baekhyun untuk duduk dengan benar. Tak ada rintihan berisik yang kerap anak itu lakukan saat merasa sakit, selebihnya...
Baekhyun terlihat tertunduk diam, dengan air mata merembas lebih banyak.
Sejenak Pria itu menghela nafas berat kala memandang ke sekitar ... dan ini masih di kawasan parkir apartmen miliknya.
"Aku berubah pikiran.." Gumam Chanyeol kemudian, sambil menaikkan dagu Baekhyun agar menatap padanya. Tapi meskipun Ia melakukannya, bocah itu tetap kembali menundukkan wajah.
"Bermalamlah di tempatku" Ujarnya lagi, kali ini dengan menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah anak itu.
"Pulang..." Lirih Baekhyun, sambil meremas kuat ujung kemeja besarnya.
Bisa Chanyeol lihat... sepertinya anak itu memang memikirkan ucapan darinya. Dan memang seharunya Ia tak mengatakan hal sekejam itu. Oh ayolah... Baekhyun benar-benar menyukainya.
"Tidak... bermalamlah di sini"
"Biarkan aku pula—
Chupp
Baekhyun terkesiap, bahkan dengan mata membulat lebar... begitu Pria itu mencium bibirnya.
"Apa ini cukup untuk membuatmu mendengarku?" Bisik Chanyeol seraya menatap lekat.
"..." Baekhyun masih terdiam, hingga ibu jari yang menyeka air matanya lekas menyadarkan dirinya.
"Berhentilah menujukkan wajah seperti ini" Gumam Chanyeol, meski sebenarnya ia mulai terkesima melihat Baekhyun memiliki bulu mata yang panjang.
"Kau menyukaiku?" celetuk Baekhyun tiba-tiba
Ah! Ini mungkin kembali dimulai. Bagaimana anak itu bertanya demikian dengan tatapan sepolos itu. Harus ia akui... baekhyun benar-benar menggemaskan. Dan jantungnya pun mendadak berdebar tanpa sebab.
"Ahh... tentang itu, mungkin.. aku akan mencobanya" Ujarnya sambil tersenyum kikuk
"..." Baekhyun tertunduk. Sambil meremas-remas jemarinya sendiri.
"Bukankah aku mengatakannya? Aku akan mencobanya"
"..."
"Apa kau pikir semudah itu menyukai seseorang yang baru kau kenal?"
"Aku bisa! Bahkan aku menyukaimu untuk pertama kalinya aku melihatmu!" Sahut Baekhyun cepat, seolah lupa.. anak itu baru saja menangis
"Kau terlalu muda dan tak berpikir panjang untuk melakukan semua hal yang kau inginkan. Tapi aku seorang pria dewasa dengan banyak masalah di sini. Jadi—
Chanyeol kembali menatap lekat kedua mata bening itu. "Beri aku waktu untuk mencobanya"
"..." Baekhyun hanya diam, namun sedikit anggukan enggan itu... membuatnya tau, Baekhyun mungkin setuju dengannya kali ini.
"Baiklah.. kita kembali ke dalam" Ujarnya seraya mengangkat bridal tubuh mungil itu secara perlahan, untuk dibawanya kembali ke atas.
.
.
.
.
Semua kembali berjalan seperti biasa...
Baekhyun yang terlihat tenang berbaring di ranjang Chanyeol, walau sesekali anak itu terlihat bosan mengganti channel TV di depannya.
Hingga tiba-tiba pintu kamar itu terbuka, dan seorang Pria kekar melangkah masuk... lengkap dengan nampan berisi dengan semangkuk hidangan dan segelas air mineral di atasnya.
"Aku tak tau apa ini sesuai dengan lidahmu.. tapi aku mencoba membuat makanan yang mungkin baik untuk perutmu saat ini" Lugas Chanyeol sambil meletakkan makanaan berupa sup kental itu di meja nakas.
"Kau yang membuatnya?" Baekhyun terlihat bersemanagat ingin mengambil satu suapan dari sup itu.
"Y—Yack! tunggu" Chanyeol mencoba menahannya.
Tapi bocah itu tak peduli dengan asap yang mengepul... ia mulai melahapnya begitu saja..
Dan—
"AAAHH! PFWANASFFH!"
"Ini baru matang bodoh!" seru Chanyeol, cepat-cepat Ia mengambil alih sendok Baekhyun dan membersihakan bibir anak itu.
"Aaaaa~.." Baekhyun terlihat panik mengguncang tubuhnya sendiri, tak tahan dengan rasa terbakar di lidahnya.
"Aisshh! Tck!" Decak Chanyeol, mengambil segelas air mineral dan membantu anak itu meminumnya. "Kau ceroboh! Benar-benar ceroboh!" Dumalnya... begitu Baekhyun menegak airnya dengan tergesa.
"Hks! Panas!" Pekik Baekhyun lagi, merasa tak cukup.
"lalu aku harus bagaimana?"
"Jilat.." Ucap anak itu sambil menjulurkan lidahnya sendiri.
Tak pelak, membuat Pria itu terbelalak lebar ... tak habis pikir.
"Yya! Apa kau pikir aku Ibumu?!"
"Aaaa— PANAASS!" Ronta Baekhyun, dengan kaki menjejak selimut dan apapun di bawahnya.
Chanyeol tak tau apa ini salah satu trik Baekhyun yang lain. Tapi Ia pun tak bisa melihat anak itu menjerit memekakkan karna panas. Hingga akhirnya ia pasrah mendekatkan wajahnya..
Lalu memberinya jilatan yang sebenarnya terlalu erotis Ia lakukan dengan suasana semacam ini.
"Nnnh~" Erang Baekhyun sambil memejamkan mata erat. Begitu lidah hangat pria itu menyambut lidah miliknya.
Sekali Chanyeol lakukan... Ia merasa ada sesuatu yang berbeda... Hingga membuatnya kembali mengulang jilatan yang lain.
"A—ahngg"
Tapi... lenguhan anak itu terdengar menggoda... membuatnya tak puas dengan hanya satu atau dua jilatan saja. Lalu semua berakhir dengan Ia benar-benar mengulum penuh lidah bocah itu.
Tak sadar menyedotnya terlalu dalam, hingga Baekhyun nyaris tersedak karenanya
"Ughm! Nghhh! Hngghh!" Pekik Baekhyun tertahan sambil memukul-mukul lengannya.
Pria itu baru tersadar.. lalu melepas cepat pagutan itu. "Kau baik-baik saja?" Ia terlihat terkejut melihat Baekhyun terengah payah di ranjangnya.
"Hhh... Hhh K-Kau bernafsu denganku?" Engah Baekhyun sambil tersenyum lebar.
"A-Apa?! Tentu saaja TIDAK!" Gagap Chanyeol sambil memalingkan wajah, lalu memilih mengambil sup yang sempat terabaikan. "Habiskan makananmu.." Ujarnya mencoba mengalihkan situasi.
"Bisakah kau menyuapiku?" Baekhyun mulai mengerjap, sambil mengatupkan kedua tangannya.
Tanpa tau... satu bagian dalam diri Chanyeol mulai berteriak gila. Anak itu memiliki wajah yang menggemaskan
"Yya! Kau mendengarku?" Panggil Baekhyun sambil megayunkan tangannya.
"Ha?"
"Suapi aku"
"O—Okay"
Tak butuh waktu lama baginya, untuk mendapat suapan hangat dari Pria pujaannya itu. Baekhyun benar-benar merasa ini lebih baik dari semua hadiah yang pernah Yunho berikan untuknya.
.
.
.
Terdengar denting nyaring dari perkakas makan yang baru saja dikemasnya.
Mangkuk itu benar-benar tak menyisakan apapun, dan itu cukup membuatnya tersenyum puas. Anak itu rupanya menyukai hasil tangannya.
Ia lekas bangkit berdiri, berniat membawa semua benda itu menuju pantry... tapi langkahnya tertahan begitu sepasang tangan mungil menarik ujung kemejanya.
"Ada apa?" Tanyanya sambil menoleh ke belakang.
"Bisakah kau menciumku?"
"Yya! Berhenti bermain denganku"
"Kau mengatakannya... kau ingin mencoba menyukaiku. Jadi... bisakah kau memberiku ciuman"
"Aku memang mengatakannya tapi.. hal semacam itu teralu cepat untuk—
Chanyeol mendadak bisu, begitu melihat anak itu memejamkan kedua mata. Seolah bersiap ingin di cium.
"Kau tau aku tak akan melakukannya" Ujar Chanyeol sambil meletakkan perkakas makannya di meja nakas.
"..." Baekhyun tetap memejamkan mata untuk menunggu.
"Aku sama sekali tak akan melakukannya" Cara bicara itu mulai berubah... seiring dengan bagaimana gerak tubuh itu mengikis jarak untuk mendekat.
Perlahan memposisikan kedua tangannya di sisi kepala Baekhyun, untuk memenjarakannya. Sedikit merunduk hingga Ia bisa merasakan betapa hangat nafas anak itu menerpa sebagian wajahnya.
"Tapi kau tau cara memaksaku.." Bisik Chanyeol, sebelum akhirnya memiringkan kepala lalu menyesap bibir Baekhyun.
Semula... hanya hisapan dan kecupan lembut.
"Mnn~ah.."
Namun lenguhan anak itu sepertinya mengacaukan jantungnya, membuatnya terlihat tak sabaran menyeruakkan lidahnya ke dalam. Dan mengklaim basah... isi di dalamnya
"A—anghhh"
"Buka bibirmu.."
"Ha—Hahh"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
Next Chap
"Siapa Pria ini?" Yunho melepas pelukannya pada Putra kecilnya begitu melihat seorang pria tinggi sedari tadi bersama Baekhyun.
"Papa... Dia pacarku.. Park Chanyeol" Baekhyun terlihat riang kala menarik Chanyeol ke hadapan Ayahnya.
"PACAR?!"
.
.
.
.
"jaringan ini sangat besar, tangkap Pria ini.." Pemegang jabatan tertinggi itu menatap tajam Chanyeol dan beberapa anggota detektif lainnya. Sebelum akhirnya sebuah foto terpampang jelas di layar besar itu
"Yunho.."
.
.
Hello..
Gloommy muncul lagi, kali ini bawa FF pembuka setelah sekian lama hibernasi karena laptop yang naas tak terselamatkan.
Yoo! Review Jusseyoo
Jika masih menyayangi dan menginginkan gloomy menulis di sini
ig:Gloomy_rosemary
thanks to:
kxcxmrhmh, kickykeklikler, kimi2266 , kaisooxoxo , restikadena90 , dewi hutasoit61 , veraparkhyun , Aisyah1, park chan2, realoey614 , yehet98 , rismaaa45 , rubykaisoo, engga , AdisKMH, merryistanti , BananaOhbanana, Cynta533, kykykykykyk, buny puppy , Byunsilb , derpwhiteboy, SHINeexo , cassiewol, byankai , chanchan , shabrinaZ14 , yousee, realbyuneexo , Yana Sehunn, mutianafsulm, joy614 , sehunluhan0905, winter park chanchan, yodabacon614, chanbaeklmn , Ayuiva1 , nanamiCB , Ohselu188, ChanBaekaegya , sonysone , baek55 c, inchan88 , Tiffanyoktavia9, ChanBaekGAY , phikhachu, Hipperdipper94, Retyass , xoo'49 , selepy , PinkuBlue614, park chan2 , lee da rii , Byunsex , AlexandraLexa, LavenderCB , Eun810, LightPhoenix614 , Rosehyun, chanbaek1597, exobbabe , byunbaekra , Dodio347 , YeolloBaek614 , Kiran Karuma , YvkariKim, MadeDyahD , MeAsCBHS, neniFanadicky , All Guest (sorry kaga semua ditulis)
Jangan lupa review
Love You All!
