Horror

Cast: Byun Baekhyun x Park Chanyeol

Genre: Humor / Romace

Disclaimer :

Apa yang lebih horror dari film hantu?

Jawabannya adalah mantan.

Ya, Baekhyun bertemu mantannya lagi— setelah bertahun tidak bertemu. Parahnya lagi, mereka bertemu di ranjang.

.

.

.

[Boys love! Yaoi! Chanbaek!]

.

.

Jangan Iseng

.

.

.

.

Chanyeol membaring tubuhnya dengan telentang di kasur sambil matanya mengadah ke atas. Tangan nya menepuk-nepuk kasur karna bosan melandanya.

Lalu tak berapa lama panggilan dari bawah untuk makan malam terdengar. "WAKTUNYA MAKAN MALAM!"

Chanyeol dengan malasnya ia turun dengan langkah gontai tak bersemangat. "Ya." sahutnya sambil menurunin setiap tangga.

Sesampai di meja makan, terlihat ayah ibunya, kakak dan adiknya tengah tertawa bersama. Chanyeol memutar matanya malas melihat Yoora menjahili Jaemin. "Asik sekali. Sampai aku dilupakan.

Jaemin lantas menoleh. "Hai, hyung."

Chanyeol tersenyum menyahuti sapaan adiknya.

"Jadi bagaimana?" tanya Chanyeol ketika ia menduduki kursi. "Bagaimana persiapan ultah mu, Jae?" tanya Chanyeol lebih jelas lagi.

"Hampir sih– tinggal untuk band dan mc."

Chanyeol menghentikan kegiatannya yang akan mengambil nasi di hadapannya dan melirik ke arah Jaemin sambil tersenyum penuh arti. "Butuh band ya?" tanya Chanyeol lagi memastikan. "Baekhyun ada band." sambung Chanyeol lagi.

"Baekhyun? Kata mu, Baekhyun?" tanya Yoora memastikan pendengarannya akan ucapan Chanyeol.

Chanyeol mengangguk. "Iya, Baekhyun. Apakah salah?"

Yoora memutar matanya kesal akan pertanyaan tidak tahu diri Chanyeol. Yoora itu tahu tentang hubungan Baekhyun dan Chanyeol.

"Memangnya siapa, Baekhyun?" tanya ibu nya tiba-tiba.

"Mantan–" mulut Yoora langsung di bekap oleh tangan milik Chanyeol. Chanyeol terkekeh dengan canggung kepada ibunya. "Calon pacar? Ah, iya Jae! Nanti, aku akan minta Luhan yang bilang ke Baekhyun ya."

Ibu nya langsung tersenyum. "Akhirnya kau mau move on juga, Yeol."

"Bu, Baekhyun itu mantannya yang tidak dia move on kan, itu!" kata Yoora ketika bekapan mulutnya di lepas. "Memang anak tidak tahu diri– sudah selingkuh masih minta balikan."

Chanyeol terdiam.

Ya, dia salah.

"Aku memang tidak tahu diri, tapi tak salah kan jika mencoba lagi?" tanya Chanyeol sambil menatap Yoora. "Aku sedang mencoba memperbaiki, sedikit." Tidak salahkan dia mencoba memperbaiki semua ini? Biarkan dia mencoba dulu.


"Junki, Baekhyun itu laki-laki loh." kata Jonghyun sambil mereka berjalan menuju ke kelas Jisoo dan baru menuju ke kantin– Johyuk ada latihan renang jadi ia agak telat dan ia nanti akan menyusul. "Bukan kah katanya kau paling normal ya."

Junki menoleh ke arah Jonghyun. "Aku bukannya tidak menyukai perempuan. Tapi aku sudah terpesona dengan pesona Baekhyun. Dan, jatuh cinta."

"Anak alay." sahut Jonghyun menggelengkan kepalanya. Dan kemudian berlari sambil memegang ponsel. "Terima kasih pengakuan jujurnya, Junki."

"KAU MEREKAM NYA? HYA– WOI! JANGAN LARI KAU SETAN!"

"Baekhyun– Baekhyun– Baekhyun– Baekhyun–" kata Jonghyun sambil menggoda Junki yang tengah mengejarnya.

Seorang lelaki yang merasa terpanggil namanya, lantas keluar dari kelas dan mencari sumber suara.

Junki yang tengah berlari tak sempat mengerem– dan akhirnya mereka bertubruk.

–duk

"Aduh!"

Baekhyun terduduk sedangkan Junki berada di pelukan Baekhyun yang sedang terduduk.

Ketika Junki mendongakkan kepalanya, Baekhyun baru sadar bahwa ada seseorang berada dalam dekapannya. Langsung di dorongnya dengan kuat.

–duk

"Aish_Aduh!"

Baekhyun lantas berdiri menuju ke arah orang yang di dorongnya. "Aduh! Maaf-maaf– habisnya salah sendiri, tadi kan–eh, hyung?" dan langsung mengulurkan tangannya, dan di sambut Junki langsung. Baekhyun bukan terkesan sok akrab. Yep, nyatanya mereka sekarang memang sudah akrab. Kepribadian Junki yang menyenangkan membuat mereka cocok satu sama lain. Apalagi semenjak Junki selalu terlihat di kelasnya.

"Maaf, hyung– tadi aku mendorong mu terlalu kuat, ya? Apakah tak apa?" tanyanya basa-basi.

Jongdae lantas mengeluarkan kepalanya sedikit dari pintu kelas. "Woi setan– ini selesaikan dulu tugas mu. Baru bisa ngobrol dengam hyung ganteng mu itu."

Baekhyun mendelik kesal– lalu mengarahkan jari tengahnya ke arah Jongdae. "Maaf ya, hyung. Aku pergi dulu ya." lalu ia masuk ke kelas begitu saja.

Jonghyun lantas menghampiri Junki

"Kau keenakan peluk-peluk dia! Untung tidak khilaf."

Junki memandang punggung Baekhyun. "Padahal mau ku khilafin tadi." dan mereka berdua terkekeh karna memikirkan khilafin Baekhyun.

Efek mu luar biasa ya, Baekhyun.


"Baekhyun hyung!"

Baekhyun menoleh ke arah pintu kelasnya. Dan ia pun melambaikan tangannya ke arah orang yang memanggilnya. "Sini, Josh! Mingyu!"

Kedua lelaki yang di panggil Baekhyun pun masuk ke dalam kelas.

"Hai adik ipar!" sapa Kris kepada Joshua. Joshua yang baik hati dan lugu pun itu melambaikan tangannya dengan riang. Omong-omong Hong Joshua itu adik tiri Yixing.

"Ada apa, Jo?" tanya Baekhyun sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.

"Mau ajak hyung dan lainnya main ke rumah baru, kan baru pindah rumah jadi– ya perayaan kecil-kecilan."

Kris langsung sumringah. "Wah! Kebetulan– aku rindu dengan Yixing." sambil membuat gerakan memeluk dirinya sendiri.

Baekhyun memutar matanya malas. "Baiklah, jam berapa kira-kira?"

"Jam 3? Hyung langsung ikut saja, ibu kangen katanya. Kalau teman-teman yang lain mungkin mau menyusul? Atau langsung ikut?" tanya Joshua kepada yang lain.

"Ikut!" sahut mereka berbarengan.

Nyesal, Joshua bertanya.

"Mingyu kau tambah tampan saja!" kata Baekhyun ketika melihat Mingyu yang sedang merangkul Joshua dengan sayang.

Mingyu terkekeh.

Baekhyun tertawa melihat Joshua, dan lantas meraih lengannya Joshua dan diapit. "Jangan marah ya, Jo. Aku bercanda kok– Mingyu ganteng sih, tapi–"

"Tapi aku belum move on dari mantan!" sambung Sehun lalu terkekeh sendiri.

"MATI KAU, SEHUN!"

.

.

.

.

"Masih berani kau menampakkan wajahmu, setan?" hardik Baekhyun sambil mengayunkan garpu di hadapan Sehun yang masih berani menampakkan wajahnya

Sehun hanya terkekeh dan lantas duduk– tanpa takut garpu tertancap ditubuh nya. "Maaf– dong sayang." sambil merangkul tubuh mungil Baekhyun dalam dekapannya.

Baekhyun lantas memberontak dalam pelukan Sehun, berusaha melepaskan pelukan Sehun. "Tidak usah manggil sayang-sayang. Muka kau kaya setan." desisnya dengan nada kesal.

"Apa hubungannya dengan muka seperti setan?" tanya Jongdae dengan jaringa berada di kening seolah dia berfikir dengan otak kosongnya. Lalu di angguki oleh Kris.

"Ya Tuhan jahat sekali pujaan hati ku ini–" Sehun lantas menghentikan ucapannya. "Nah– itu pujaan hati ku yang asli!" menunjuk Luhan yang seperti menuju ke arahnya.

Mata Baekhyun menoleh, kemudian melihat Luhan seperti menuju ke arahnya, lantas kembali menoleh– LUHAN BENAR MENUJU KE ARAH MEREKA.

Menuju ke –sial– arah mereka.

"Sehun dia ke sini!"

"Akhirnya aku di notice!"

"Sehun congratulation, sis!"

"Jongdae bahasa inggris mu pasti dua koma kan?"

"Enak saja! Empat koma tau."

"Baekhyun kabur!" teriak Kyungsoo kepada Baekhyun yang bengong. Lantas membuat Baekhyun tersentak, dan memundurkan kursinya, kemudian berlari– tak lupa membawa susu vanillanya dan cola-cola milik Kris. "Baekhyun cola-cola ku– hey! Kau mau kemana?" teriak Kris, ketika melihat Baekhyun tiba-tiba saja lari karna teriakan Kyungsoo.

"Kenapa dia harus lari?"

"Dia elergi dengan Luhan– Luhanphobia." sahut Kyungsoo santai.


Baekhyun butuh sendiri. Fikirannya bercabang karna melihat Luhan mendatangi mereka. Dia tidak ingin berurusan dengan Luhan sedikit pun. Ayolah, jangan berfikir Baekhyun pendendam– Baekhyun bukan tipe orang yang pendendam. Tapi, jika mereka bertemu entah kenapa rasa marah selalu saja muncul– benar kata orang. Kalau masalah hati itu sensitif.

Baekhyun duduk di pinggir panggung teater. Menurutnya ini tempat yang tepat ia menghindar dari mereka dan menenangkan fikiran. Toh, sekarang panggung kosong. Tidak ada jadwal praktek atau apapun. Baekhyun menganyunkan kakinya sambil bersenandung kecil. Tak berapa lama, ia menelentangkan tubuhnya, untuk mengadah ke atas.

"Baekhyun!"

Baekhyun langsung terduduk. Tampak Jisoo sedang menuju ke arahnya. Baekhyun manautkan alisnya bingung. Kenapa Jisoo mencarinya? "Ada apa?" tanya Baekhyun. Jisoo menunjuk ke arah luar pintu. Tak berapa lama Sehun, Jongdae, Kris dan Kyungsoo muncul di hadapannya. "Mereka mencari mu tuh. Untung Junki melihat mu ke sini."

Kyungsoo langsung berlari menuju ke arah Baekhyun. "Baek– aku minta maaf."

Baekhyun mengerutkan alisnya bingung, tak mengerti apa yang Kyungsoo katakan. Minta maaf untuk apa?

"Baek! Kenapa main pergi saja sih?"

"Tidak ada." sahut Baekhyun sekenanya. Baekhyun melirik ke arah Jisoo yang berjalan dengan pelan, dan melambaikan tangannya ke arah Baekhyun. "Makasih ya! Sampai kan salam ku pada Junki hyung dan teman-teman mu yang lain."

"Untuk Junki saja nih?" tanya Jisoo dengan nada menggoda Baekhyun. Baekhyun tahu maksud lelaki itu. lantas Baekhyun memutar matanya malas. Bosan di ganggu dia dan genknya terus, yang tidak pernah lain dari menggodanya dengan Junki/

"JUNKI DAN TEMAN-TEMAN, PEKAK!" teriak Baekhyun menjelaskan kesalahpahaman Jisoo. "Jangan ada yang di lebih-lebih kan atau di kurangkan! Ya– Ya– Jisoo!" teriakan Baekhyun membuat Jisoo semakin cepat berlari menghindari Baekhyun.

"Luhan meminta band kita untuk tampil di ulang tahun. Dan kami menerimanya."

Baekhyun langsung membolakan matanya. Tunggu! Dia tidak salah dengarkan? "Kalian apa?"

"Kami menerima tawaran itu, Baek." sambung Jongdae, sambil terlihat bersemangat. Baekhyun mengeram kesal. "Kenapa kalian mengambil keputusan sepihak?" tanyanya dengan kesal.

"Kok kau kesal sih? Apa salahnya membantu teman? Sekalian membantu Sehun ber–"

"Tidak."

"Eh? Ayolah, Baek. Jangan seperti itu." pujuk Sehun dengan muka sememelas mungkin.

"Aku bilang tidak, Sehun." Baekhyun tetap kekeh dengan pendiriannya.

Kris menatapnya dengan kesal. "Ayo lah, Baek. Kalau kau punya masalah dengan Luhan dan membencinya. Jangan membuat kami ada masalah dengannya dan membencinya. Kesannya kau egois." Kris meluapkan semuanya dengan kesal.

Kyungsoo tersentak mendengar perkataan Kris.

Baekhyun terdiam, lantas menolehkan matanya yang terlihat penuh amarah. "Kau bicara apa, Wu Yifan? Ulangi sekali lagi?" tanya Baekhyun dengan tenang, berbanding terbalik dengan ekspresi wajahnya yang terlihat terluka karna perkataan Kris tadi.

Kris juga membeku di tempat. Baekhyun tidak pernah memanggil nama aslinya. Hanya, ketika mereka benar-benar bertengkar

"ULANGI SEKALI LAGI, BRENGSEK!" teriak Baekhyun dengan amarah meluap-luap. "Kau bilang aku egois? Benar. Benar aku egois. Aku egois karna aku tidak ingin di sakiti lagi!" luntur sudah pertahanan Baekhyun. Dia menjadi egois hanya karna ingin menjadi kuat, tidak lemah seperti dulu lagi. "Tapi demi Tuhan. Aku tidak– dan tidak akan pernah punya niat membuat kalian membenci Luhan. Karna, ini masalah ku. Aku tidak akan mengikut campurkan kalian dalam masalah ku. Kau ingin aku menerima nya kan? Oke. Ayo, kita terima tawarannya."

"Baekh–"

"Lepas, sialan." Baekhyun menepis tangan Kris dengan kesal.

"Baekhyun."

Baekhyun mengacuhkan panggilan Kris, dan menoleh ke arah Kyungsoo. "Kyungsoo. Hari ini kau menginap di rumah Jongin dulu ya. Aku– kau mengertikan?"

Kyungsoo hanya mengangguk mengerti.

"Aku pulang dulu, izin kan aku ya. Mobil kau saja yang bawa– aku naik taksi saja." Baekhyun memberikan kunci mobil kepada Kyungsoo.

"Baekhyun!"

"Biar kan dia–" potong Kyungsoo. "Lain kali jaga ucapan mu. Kau mau tahu, Kris? Kita perlu egois agar kuat. Dan, Baekhyun melakukan itu agar dia kuat."

"Sialan– aku–"

"Kau memang, sialan." potong Kyungsoo sekali lagi.


"Kau baik?"

Baekhyun lantas menoleh ke arah suara. Oh, Junki. "Tidak. Tidak baik." jawab Baekhyun dengan jujur. Tidak guna jika ia berkata bahwa ia baik-baik saja dengan keadaannya seperti sekarang.

"Jujur sekali." sahut Jinki sambil terkekeh. Lihat lah– Baekhyun ternyata tipe orang yang tidak berbelit-belit. Tipenya sekali.

"Terima kasih, sunbae." Baekhhyun terkekeh mendengar jawaban dari Junki, dan Baekhyun menganggap itu adalah sebuah pujian. Baekhyun tersenyum sekilas, lalu mendongakkan wajahnya. "Hyung–"

"–ya?" sahut Junki cepat.

"Bisa temani aku dulu?"

Junki tersenyum. "Tentu."

.

.

.

.

.

"Apakah tak masalah?"

Baekhyun menggangguk. "Tentu saja, tidak. Ayo masuk." Baekhyun lantas menarik tangan Junki yang terlihat ragu-ragu untuk masuk kedalam rumah– rumah Yixing. Baekhyun memutuskan untuk kerumah Yixing selain karna ada acara, juga ingin refreshing sedikit dari moodnya yang buruk ini.

"Tapi kan ini rumah sepupu mu."

"Memangnya kenapa? Kan, Hyung teman ku. Bibi zhang baik kok! Sudah seperti ibu ku. Dan, ada Mingyu– kekasih anak bibi zhang. Hyung kenal Mingyu kan? Dia kan cukup populer tuh." cetus Baekhyun panjang lebar. Junki hanya mengangguk sambil tersenyum, menikmati setiap ekspresi yang Baekhyun lakukan. Entah kenapa, setiap apa yang Baekhyun lakukan terlihat menarik. "Mom!" sapa Baekhyun ketika melihat seorang wanita paruh baya membukakan pintu. Baekhyun langsung memeluk perempuan itu. "Hehehehe– aku datang lebih awal, dong!" kata Baekhyun dengan semangat. Jinki memandang Baekhyun sambil geleng-geleng kepala. Padahal tadi dia nangis di mobil.

Victoria menaikkan dagunya, menuju ke arah Junki yang berada di belakang Baekhyun. "Kekasih mu, Baek?" tanya Victoria.

"Wah, semoga ya. Nanti aku mau cari kekasih yang ganteng kaya, hyung ku ini deh mom." gurau Baekhyun sambil terkekeh sendiri.

"Lee Junki. Teman Baekhyun." lantas Junki membungkukkan badannya sopan, dan tersenyum ramah.

Victoria menggangguk mengerti. "Masuk lah." Victoria memberikan jalan masuk untuk mereka berdua.

"Ayo, hyung." ajak Baekhyun kepada Junki yang terdiam di belakangnya.

"Tidak perlu cari kekasih yang ganteng seperti aku." kata Junki tiba-tiba sambil menatap Baekhyun dalam diamnya.

"Hah?" tanya Baekhyun bingung sambil menautkan alisnya.

"Karna kau sudah mendapatkan aku." sambungnya lagi dengan mantap. Baekhyun tidak bodoh. Dia mengerti apa yang Junki katakan. Dia sangat mengerti. Tapi– apakah secepat ini? Maksudku. Hey– mereka hanya sering bertemu karna akhir-akhir ini Junki sering kekelasnya.

"Sunbae jangan iseng dong." Baekhyun mencoba mencairkan suasana yang terkesan awkward bagi mereka.

Junki lantas menggenggam satu tangan Baekhyun. "Hei, kau tahu, Baek? Tuhan tidak pernah iseng-iseng. Tuhan tidak pernah iseng-iseng membuat aku memilih jatuh cinta padamu. Ayo masuk." dan Junki berjalan masuk lebih dulu. Perlahan Baekhyun membalas dan mengeratkan genggaman tangan Junki dengannya. "Kalau begitu, buktikan. Buat aku yakin." sahut Baekhyun tanpa menoleh ke arah Junki yang tengah menatapnya sambil tersenyum senang.

Ini keputusan yang tepat, kan?

.

.

.

Tbc

.

.

ADIK CHANYEOL JAEMIN HUHUHUHU. KARNA FIX JAEMIN IMUT PAKE BGT /NANGIS/

Aku sempet mikir ff ini bakal aku discontinue...fiuh ehehehehehehehe

Fix, ini kacau banget. Cheesy parah. Bingung:')

Tugas meluap membuat aku kesal plus lelah.

SEE YOU SOON? OR...?

kalau suka lagi— boleh kali review lagi HEHEHEHEHEHEHE~

Jangan lupa review!