Wow, chapter 4! Hebat... hebat... nyampe juga ==a hahahaha XP

Disclaimer: Kubo Tite-sensei dan Yana Toboso.

Character: Kurosaki Ichigo dan Kuchiki Rukia.

Author: rukii nightray.

Genre: Tragedy, Angst dan Friendship.

P.S: latar tempat dalam fic ini adalah 'London dalam versi fiksi'. Latar waktunya sekitar tahun 1880-an. Cerita ini juga fiksi dan tidak berhubungan dengan kejadian atau tokoh yang sebenarnya.

Warning: OOC.

Guillotine no Uta

Avenue: four: "Allegro con Spirito."

Malam itu, awan kelabu bergerak di atas kota East End. Menutupi bulan purnama yang membulat sempurna. Kegelapan yang begitu intens menyelimuti seluruh kota. Lampu jalanan yang berdiri berjauhan di sepanjang jalan utama tak mampu menggantikan keanggunan cahaya yang dipancarkan oleh sang bulan.

Seolah memang sudah menjadi takdir, kota East End tempat dimana semua hal yang buruk berlabuh, tidak pernah merasakan keindahan duniawi itu. Begitu pun dengan rumah tua yang ada di sudut kota East End. Rumah tua yang seluruhnya terbuat dari kayu itu lebih gelap dari tempat-tempat lain yang ada di East End. Pohon-pohon besar yang tumbuh di sekelilingnya, menambah kesan menyeramkan pada rumah itu. Begitu sunyi seperti tak ada kehidupan di dalamnya...

Tapi, tidak untuk malam ini.

Warga kota beramai-ramai melangkahkan kakinya menuju rumah tua itu. Tidak hanya itu, mereka juga membawa obor dengan api yang menyala-nyala, kayu, serta tongkat besi penggeruk tanah. Mereka angkat tinggi-tinggi benda itu dengan mata yang berkilat tajam. Tidak pernah ada sekalipun niat mereka untuk kembali sebelum menyelesaikan semuanya.

Sementara itu, dari dalam rumah tua, seorang anak laki-laki bermata coklat hanya bisa menatap bisu keramaian itu dari bingkai jendela. Tidak ada perasaan takut sedikit pun di dalam hatinya.

"Dokter, apakah ada yang harus aku lakukan?" tanya si anak lelaki polos pada lelaki berjubah putih yang sedang duduk di hadapannya.

Orang yang dipanggil dokter itu hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari boneka sempurnanya, "Tidak ada. Padahal aku hanya ingin tahu apakah obatku juga bekerja pada wanita, mereka tidak perlu semarah itu bukan? Ichigo?"

Ichigo kecil tidak menjawab. Ia tidak mengerti dengan semua penelitian-penelitian yang dilakukan oleh sang dokter. Satu hal yang ia mengerti, yaitu sebuah kenyataan bahwa ia adalah boneka sang dokter sedangkan sang dokter adalah majikannya yang bebas melakukan apa saja padanya. Sekalipun hal itu akan membunuhnya. Ichigo kecil pun hanya terdiam dan kembali menatap keluar rumah.

Di sisi lain, para warga sudah memasuki halaman rumah. Mereka menerobos masuk hingga pagar yang mengelilingi rumah roboh. Mereka berpencar mengelilingi rumah tua yang tidak terlalu besar itu. Obor-obor yang mereka bawa pun mulai dilemparkan ke arah rumah.

Api menjalar dengan cepat, membakar beranda dan atap rumah. Teriakan-teriakan kemarahan para warga mengiringi proses eksekusi itu. Tapi, sang dokter tetap tidak bergeming.

"Hancurkan rumah ini!"

"Bunuh dokter gila itu!"

"Bakar semuanya sampai habis!"

Api mulai membakar ruangan tempat Ichigo kecil dan sang dokter berada. Sang dokter pun beranjak bangun dari duduknya, "Khukhukhu, apa mereka tidak berpikir bahwa mereka semua lebih sakit jiwa daripada diriku?"

'BRAKKK'

Beberapa orang menerobos masuk ke dalam ruangan dengan mendobrak pintu, sang dokter hanya bisa tersenyum sinis melihat kedatangan mereka.

"Hei... apakah kalian tidak pernah diajarkan sopan santun ketika berkunjung ke rumah orang? Oh ya aku lupa, kalian para gelandangan memang tidak pernah diajarkan sopan santun ya? Khukhukhu."

"Kurang ajar! Kau telah membunuh banyak wanita hanya untuk percobaan gilamu itu!"

"Ya, aku tahu. Uruslah urusan kalian masing-masing, aku tidak pernah meminta kalian untuk mengurusi percobaan gilaku."

"SIALAN!"

Begitu cepat waktu berputar. Mereka dengan gesit langsung berlari ke arah sang dokter, memukulinya dan menusuknya dengan besi penggaruk tanah yang mereka bawa. Jumlah mereka yang lebih banyak membuat sang dokter tidak mampu memberikan perlawanan yang berarti.

"Lari Ichigo. Kaulah satu-satunya manusia yang berhasil menjadi boneka ciptaanku. Aku, tidak ingin sampai kau rusak oleh mereka."

Ichigo kecil tersentak. Darah sang dokter yang begitu dingin, mengalir menyentuh telapak kaki kecilnya yang terbuka. Ia merasa aneh setelah mendengar perintah dari sang dokter. Mengapa sang dokter menyuruhnya lari? Bukankah Ichigo adalah budaknya? Seorang budak harus berada di sisi sang majikan bukan? Itulah alasan Ichigo hidup di dunia ini.

Terus. Sang dokter terus mengucapkan kata-kata yang sama di tengah-tengah rasa sakit yang terus-menerus menghujam tubuhnya, "Lari.", tapi Ichigo tetap tidak bisa melangkahkan kakinya. Ia tetap berdiri di sudut ruangan. Menatap semua kekejaman yang diterima oleh seseorang yang sangat berarti baginya. Arti hidupnya.

"Ayo kita pergi dari tempat ini! Sepertinya dia juga sudah mati," perintah seseorang di antara mereka sambil menendang tubuh sang dokter ke arah api.

Lambat laun, suara sang dokter semakin lama semakin pelan lalu menghilang. Bersamaan dengan tubuhnya yang mulai diselimuti api.

Api semakin besar dan tubuh sang dokter semakin lama semakin tak terlihat, lenyap bersama kobaran api. Tidak terdengar lagi suara yang menyuruh Ichigo kecil untuk lari. Yang terdengar, hanya suara desisan api yang seolah memanggil-manggil dirinya ke dunia kematian.

Apa...

Apa yang telah terjadi?

Suara nyanyian api semakin keras terdengar dengan tempo Allegro con Spirito, cepat dan bersemangat. Ya, bersemangat membakar seluruh rumah tua itu. Ichigo kecil pun tanpa sadar segera menghancurkan tembok kayu di dekatnya dan keluar dari lubang itu.

'BRUKKK'

Rumah tua itu pun roboh. Ichigo kecil hanya bisa berdiri memandanginya. Jika terlambat sedikit saja, mungkin Ichigo kecil juga akan mati. Di rumah tua itu. Tempat itu. Satu-satunya alasan keberadaan dirinya di dunia ini...

Angin malam yang dingin membuat kulit Ichigo mati rasa. Memandang lukisan inferno yang ada di hadapannya, membuat suaranya seakan tertahan di tenggorokan. Tubuhnya gemetar walau ia tetap mencoba untuk berdiri tegak. Ya, saat itu, Ichigo tidak tahu apa nama perasaan yang sedang ia rasakan. Itulah saat pertama kalinya Ichigo merasakan perasaan seperti itu si dalam dirinya. Apa? Ia terus bertanya-tanya di dalam hatinya.

Sementara... air mata tidak berhenti mengalir dari bola mata musim gugurnya.

...

"Ichigo..."

Sebuah suara yang lembut memanggil-manggil dirinya, menjemput dirinya dari alam bawah sadarnya. Menyadarkan Ichigo dari mimpi tentang masa lalunya. Ichigo pun tersentak bangun dari tidurnya.

"Kau pasti bermimpi lagi kan...?" ternyata benar firasatnya. Suara yang lembut itu adalah suara milik Rukia, gadis bangsawan yang telah menyelamatkan hidupnya.

"Ru, Rukia?"

"Tidak usah terkejut seperti itu Ichigo," kata Rukia sambil beranjak bangun dari duduknya dan merapikan jubahnya yang terlipat.

Ichigo diam saja dan tidak menjawab. Ia terpana melihat penampilan Rukia yang berbeda dari biasanya. Hari ini, Rukia tidak mengenakan gaun satinnya yang mahal ataupun gaun mewah lainnya yang penuh dengan renda berbahan sutra. Melainkan, mengenakan sebuah jubah hitam panjang yang menutupi dirinya hingga ke mata kaki. Ya, Ichigo ingat. Jubah inilah yang dipakai Rukia sewaktu menolongnya di East End.

"Mengapa kau berpakaian seperti itu?"

Apa ia mau menolong seseorang lagi di East End?

Rukia terdiam sesaat mendengar pertanyaan dari Ichigo itu dan dengan polos menjawab, "Agar identitasku tidak ketahuan."

Ichigo mengernyitkan alisnya, menandakan bahwa ia tidak puas dengan jawaban polos dari Rukia.

Tapi tidak lama kemudian ia tersenyum arogan dan kembali berkata, "Karena, pekerjaan kita akan segera dimulai."

...

"Nama korban adalah The Honourable Momo Hinamori, 18 tahun. Korban adalah putri kedua dari Viscount of Hinamori. Ia tewas dibunuh oleh seseorang di tempat pesta season yang diselenggarakan oleh Marchioness Retsu Unohana. Waktu perkiraan kematiannya sekitar jam 10 malam saat pertengahan pesta, hari Minggu tanggal 31 Agustus. Korban ditemukan oleh maid di Town House Marchioness keesokan harinya, tepatnya di halaman belakang rumah tanggal 1 September, Senin sekitar jam 5 pagi saat maid hendak membersihkan rumah," ucap Kaien dengan wajah serius yang hanya diperlihatkannya pada saat tertentu saja. Rukia mendengarkannya begitu seksama tanpa berkedip sekalipun.

"Lalu? Hanya itu informasi yang bisa kau dapatkan?" tanggap Rukia saat Kaien berhenti berbicara. Kaien pun menaikkan kacamatanya yang turun dan kembali melanjutkan, "Korban ditemukan tewas secara mengenaskan dengan banyak luka tusukan dan sayatan di tubuhnya. Kalau saja tidak ada keterangan dari Viscount yang mengatakan bahwa putrinya belum pulang dari season semalam dan dari keterangan para tamu pesta yang melihat korban mengenakan gaun berwarna emas, mungkin... korban tidak akan diketahui identitasnya."

"Mengerikan," komentar Nemu singkat sambil memejamkan matanya sesaat. Entah apa yang ia pikirkan saat itu.

"Ya. Darah begitu banyak menggenang di sekeliling korban. Luka tusukan ada sebanyak 6 tusukan, 5 tusukan di perut dan 1 tusukan di... kepala. Lima tusukan itu menyebabkan perut korban terbuka dengan isi perut yang terkoyak. Tentu saja, tusukan pertama adalah robekan sekitar 3 cm pada lapisan dermisnya. Pergelangan tangan kanan hampir putus. Wajah korban dipenuhi dengan sayatan. Punggungnya juga tersayat dengan sayatan aneh berbentuk seperti seekor kupu-kupu. Lalu kaki-"

"Cukup Kaien. Jadi intinya?" potong Rukia di tengah-tengah deskripsi Kaien mengenai kondisi korban saat ditemukan. Kaien yang memang seorang dokter sepertinya cukup senang mendeskripsikan keadaan korban yang seperti itu, mungkin itu sebabnya ia kembali memperlihatkan senyumannya.

"Intinya, pembunuh kali ini adalah pelaku yang sama seperti pembunuh kasus sebelumnya," jawab Nemu tanpa diminta mendahului Kaien yang ingin menjawab.

"Ya, sang pembunuh itu bisa laki-laki atau perempuan dan tanda sayatan aneh berbentuk kupu-kupu itu sudah cukup jadi acuan," imbuh Rukia sambil menatap Kaien, Nemu dan Ichigo yang sedari tadi diam saja. Ia tidak tahu harus berbicara apa karena ia memang belum mengerti akan apa yang ingin Rukia dan teman-temannya ini lakukan. Mungkin semacam pekerjaan detektif? Mencari pelaku pembunuhan? Mungkin saja, Ichigo pernah melihat artikelnya dari koran yang berterbangan di East End saat musim gugur. Ichigo jadi kembali teringat senyuman Yachiru saat itu, ia sangat suka ketika musim gugur tiba. Ia selalu bermain-main dengan kertas koran itu dan membentuknya menjadi berbagai bentuk. Salah satunya adalah bentuk sebuah kapal. Lalu, Yachiru mengajak Ichigo untuk bersama-sama menghanyutkan kapal kertas itu di sungai Thames.

"Maka dari itu... sekarang kita semua akan pergi ke lokasi pembunuhan dengan menaiki kereta kuda ini...?" tanya Ichigo akhirnya setelah ia bisa menghapuskan kenangan lama bersama adik kecilnya itu.

'GREEEEK... GREEKKK...'

Suara gesekan roda kayu dengan tanah dan suara hentakan sepatu kuda yang terus-menerus menandakan bahwa mereka semua memang sedang menaiki kereta kuda. Shuhei yang tidak terlihat sejak tadilah yang sedang mengendarai kereta kuda ini.

"Pertanyaan yang bagus Ichigo. Tapi kita tidak akan melakukan hal itu karena kakakku pasti sudah tiba disana lebih dulu," jawab Rukia tanpa keraguan sedikit pun.

"Lalu? Sekarang kita akan pergi kemana?" kali ini Kaien yang bertanya sambil tetap memperlihatkan senyuman sejuta voltnya yang tak pernah usai itu. Sangatlah tidak sesuai dengan kondisi seperti saat ini.

"Kita akan pergi ke kota Oxford. Tepatnya ke perpustakaan Oxford University."

"Eh?"

...

Karena kemampuan Shuhei yang sangat ahli dalam mengendarai kereta kuda atau hal apapun, Rukia dan yang lainnya dapat tiba lebih cepat di kota Oxford. Kota Oxford adalah sebuah distrik nonmetropolitan di Oxfordshire yang berjarak sekitar 90 km dari kota London. Di sepanjang kota Oxford, sungai Thames yang panjang mengalir dengan begitu tenang. Airnya sangat jernih dan pemandangannya seperti siluet kota air di Venesia, begitu lembut dan tenang. Shuhei pun langsung melajukan kereta kudanya ke Universitas Oxford.

Ichigo yang baru pertama kali datang ke kota Oxford, sekali lagi dibuat tercengang oleh Rukia. Suasananya benar-benar berbeda dari East End. Jika East End adalah tempat dimana semua hal yang buruk berlabuh. Maka, Oxford adalah tempat dimana semua kedamaian dan keramahan tinggal.

Suara hentakan kaki sepatu kuda berubah menjadi pelan saat mereka memasuki Universitas Oxford. Ichigo merasakan aura yang biasa dirasakannya seketika berubah. Begitu asing tapi sangat menarik. Seolah-olah menarik Ichigo untuk ikut ke dalamnya.

Ya, mungkin itu adalah aura yang dipancarkan oleh para mahasiswa Universitas Oxford yang berjalan dan berada di sepanjang jalan menuju perpustakaan. Aura seorang yang menandakan bahwa mereka –mahasiswa Oxford- adalah para kaum terpelajar yang sangat haus akan ilmu pengetahuan. Mengetahui isi dunia dan memecahkan semua misteri yang masih belum terjawab di dunia ini. Itu adalah keinginan terbesar mereka.

Kereta kuda berhenti tepat di depan pintu masuk perpustakaan. Shuhei pun segera turun dari kursi kemudinya dan segera membukakan pintu untuk Rukia dan yang lainnya.

Seorang lelaki paruh baya dengan rambut panjang berwarna putih keluar dari dalam perpustakaan dan berjalan menghampiri Rukia yang berdiri paling depan, "Selamat datang di perpustakaan Universitas Oxford, Lady Rukia Kuchiki. Senang kembali bertemu dengan anda."

Rukia menerima jabat tangan lelaki paruh baya itu sambil menebarkan senyuman anggunnya yang tak kalah voltnya dari Kaien. Ichigo yang baru pertama kali melihat peristiwa pertemuan antara para bangsawan itu hanya bisa mengernyitkan alisnya, "Saya juga senang bertemu dengan anda, Lord Juushirou Ukitake."

"Silakan, ikuti saya. Lord Renji Abarai sudah menunggu anda di dalam."

Rukia, Kaien, Nemu, Ichigo serta Shuhei segera mengikuti Lord Ukitake berjalan memasuki perpustakaan. Pintu masuk perpustakaan yang begitu tinggi tampak sangat antik. Ichigo seperti melihat town house Rukia tapi dalam aura yang berbeda.

"Kau lama sekali Rukia! Kalau Komisaris Jenderal sampai tahu aku bertemu denganmu, aku akan dipecat! Kau tahu itu kan?" omel seorang laki-laki dengan rambut berwarna merah mencolok sambil menghampiri Rukia yang sedang berjalan ke arahnya.

"Maaf, maafkan aku Renji. Habisnya, hanya kau saja yang bisa kumintai tolong kan?" kata Rukia sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajah tidak lupa ditambah dengan ekspresi wajah polosnya. Hal ini membuat laki-laki berambut merah yang diketahui bernama Renji itu merasakan ada sesuatu yang berdesir di hatinya dan ia dapat mendengar dengan jelas sebuah degupan.

"Y,y,ya... tapi jangan kau ulangi lagi."

"Kalau begitu saya permisi Lady, kalau ada yang anda butuhkan saya ada di kantor konselor," kata Lord Juushirou mengundurkan diri, mempersilakan mereka agar leluasa untuk saling bertukar informasi. Seketika, wajah mereka semua berubah –kecuali Ichigo tentunya-, memperlihatkan sebuah kesan bahwa mereka akan membicarakan sesuatu yang tidak boleh diketahui oleh orang selain mereka.

Renji pun menggeser sebuah kursi dan mendudukinya. Diikuti dengan Rukia dan yang lainnya.

"Sampai dimana yang kalian ketahui?" tanya Renji dengan nada yang begitu serius. Kaien pun berdehem dan kemudian menjawab, "Nama korban adalah The Honourable Momo Hinamori, 18 tahun. Korban adalah putri kedua dari Viscount of Hinamori. Ia tewas dibunuh oleh seseorang di tempat pesta season yang diselenggarakan oleh Marchioness Retsu Unohana. Waktu perkiraan kematiannya sekitar jam 10 malam saat pertengahan pesta, hari Minggu tanggal 31 Agustus. Korban ditemukan oleh maid di Town House Marchioness keesokan harinya, tepatnya di halaman belakang rumah tanggal 1 September, Senin sekitar jam 5 pagi saat maid hendak membersihkan rumah. Korban ditemukan tewas secara mengenaskan dengan banyak luka tusukan dan sayatan di tubuhnya. Luka tusukan ada sebanyak 6 tusukan, 5 tusukan di perut dan 1 tusukan di kepala. Dan yang paling penting adalah sayatan aneh berbentuk seperti seekor kupu-kupu di punggungnya. Sekian."

Ichigo tercengang mendengar kata-kata yang diucapkan Kaien hampir sama persis seperti yang ia ucapkan saat di kereta kuda tadi. Apalagi, Kaien tidak memegang sebuah catatan sama sekali. Sepertinya, ia memiliki sebuah ingatan fotografis yang kuat.

"Begitulah. Kau bisa membantu kan? Anggota city yard, Lord Renji Abarai?" tanya Rukia sambil memperlihatkan senyum arogannya yang sama sekali berbeda dengan senyuman anggun sejuta voltnya. Senyuman yang seperti menyembunyikan sesuatu.

Renji tersentak kaget melihat senyuman Rukia yang berbeda itu. Padahal, mereka sudah berkali-kali bekerja sama dan sudah berkali-kali pula Renji melihat senyuman arogan Rukia itu. Senyuman yang hanya diperlihatkan Rukia pada saat sedang berhadapan dengan sebuah kasus.

"Ya, tapi seperti biasa. Informasi yang kau ketahui sudah cukup banyak dan hanya sedikit yang bisa kutambahkan."

"Tapi informasi tambahan dari Lord selalu menjadi kunci pemecahan kasus," ucap Nemu tiba-tiba tanpa memperlihatkan ekspresi apapun, matanya hanya memandang lurus ke depan.

Suasana menjadi hening. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing yang mereka sembunyikan. Renji pun menghela napas panjang, "Baiklah, aku akan membantu kalian. Untuk hal ini kan kita bertemu di Oxford? Semoga saja Komisaris Jenderal tidak berpikir aku pergi ke tempat seperti ini untuk berkonspirasi dengan kalian."

"Tenang saja, Komisaris Jenderal itu otaknya tumpul," jawab Kaien sambil tersenyum tanpa niat menghina sedikit pun.

...

Sementara itu, berkilo-kilo meter jauhnya dari tempat Rukia dan kawan-kawannya berpijak. Para city yard sedang berkumpul di Town House Marchioness Retsu. Belum ada hal yang berhasil mereka simpulkan. Sang komisaris jenderal, Lord Grimmjow Jeagerjaques menghembuskan asap rokoknya dengan tidak sabar sambil menatap penuh kebencian ke arah lelaki berambut gelap panjang yang sedang berdiri tidak jauh darinya. Ia sedang berbicara dengan Marchioness, tentu dengan gayanya yang menyebalkan menurut Grimmjow. Jelas sekali bahwa ia mau merebut pekerjaannya. Entah sudah yang keberapa kalinya dan ia tidak mampu melakukan apapun untuk mencegahnya. Walaupun Grimmjow adalah Komisaris Jenderal City Yard yang jelas-jelas berkuasa dan bertanggung jawab atas setiap kasus kriminal yang terjadi hal itu tidak berpengaruh lagi karena lelaki itu telah mendapat surat perintah resmi dari Ratu dan merupakan pimpinan tertinggi dari Fraccion Inteligence, komite intelijen sialan itu!

Grimmjow hanya bisa berharap lelaki keparat itu segera pergi.

Walaupun tidak akan semudah itu ia akan pergi. Ia tidak akan pergi sebelum membabat habis semua bukti-bukti yang ada. Memecahkan kasus itu sendirian dan kemudian melaporkannya kepada Ratu lalu bertindak bagai seorang pahlawan.

Benar-benar keparat!

"HATCHI! Kemana si Renji disaat-saat seperti ini? Kasus ini benar-benar menyebalkan! Sampai-sampai anjing kerajaan pun dapat mencium aromanya dan datang kemari!"

...

-tsuzuku-

*Kali ini tidak ada glosarium. Saya hanya ingin mengucapkan terimakasih kepada om wiki (a.k.a wikipedia) yang selalu senantiasa membantu saya^^

Dan gomenasai! karena saya terlambat update T.T

Inilah jawaban review chapter3:

Fukushima Fumiko, halo juga fumi-chan^^. Terimakasih kalau kamu sudah mau mem-fav cerita ini. Aku senenggg bangett! #pelukpeluk keep RnR ya!

Va Der Flohwalzer, ya, gomen yaa nee kelamaan updet^^ ha? Masa sih pendek? Itu udah 8 halaman di word loh... hehhe keep RnR ya! -,-

Kyu9, terimaksih atas pujianmu kyu-san^^ terimakasih juga kamu sudah mau fave ya^^ keep RnR!

Astrella Kurosaki, yang di lukisan itu bukan byakuya-hisana kok ==a yah... tapi klo mau dibayangin gitu juga nggak apa-apa #plakk! Hahahah. Brrrr... Tuh kan jadi ikutan merinding! *efek ikutan ngebayangin* keep RnR ya!

Jee-ya Zettyra, hehehe, makasih loh, makasih #kesenengan #plakk! Yah begitulah, habisnya kalau asal-asalan nanti imajinasinya nggak dapet kan? keep RnR ya!

Loonatic Aqueous, oh... judulnya full score of fear? Aku nggak tahu... nggak nonton dari pertama sih, ahhahaha. Iya, mereka semua mau berpesta sebagai tanda penyambutan akan kedatangan Ichigo. Iya, gpp kok yang penting keep RnR ya!

Sara Hikari, tapi... kayaknya nggak jadi deh. Blum ada adegan yang bener-bener bloody sih XP maaf ya^^ tapi nee akan tetap menyajikan yang terbaik kok! keep RnR ya!

Yuuna hihara, wow, yuu-chan pas ujian nyanyi lagu amazing grace? Itu lagu kan nadanya tinggi banget... pasti suaranya yuu-chan keren banget ya? 0.o Hahahaha keep RnR ya!

Mizu-chan, hahaha begitu ya? Oke deh, kalau sekarang sudah bisa kasih komentar? Hontou ni arigatou! keep RnR ya!

Ichirukiluna gituloh, hahaha senpai bisa aja! #malumalumalu Hontou ni arigatou senpai! keep RnR ya!

Yup, seperti biasa saya ucapkan terimakasih kepada semua reader dan author yang telah mem-fave ataupun me-RnR cerita ini.

Oh ya, bagi reader yang beranggapan bahwa Oxford itu memang seperti itu, wah... saya nggak tahu... hahahaha XD #plakk karena saya nggak sempat mencari bahannya. Lagipula, bahan yang saya dapat pasti oxford pada masa sekarang ini padahal yang saya perlu kan waktu tahun 1880-an jadi saya berimajinasi saja! Tentunya... dengan efek dramatisasi XP

Bagaimana cerita chapter 4 ini? Membosankan atau tambah aneh? Hehehe, tetap ditunggu reviewnya ya^^. Kritik boleh kok, asal jangan flame.

Sekali lagi, keep RnR ya!

AYO REVIEW yang banyak! hahahha XP

Jaa mata nee... (/-o-)/