Chapter 4 : Pria Aneh

"Jika nanti ada pria aneh mengajakmu berangkat bersama, meski wajahnya tampan sekalipun, jangan mau ikut dengannya! Oke, Naru-chan?"

Naruto memandang aneh pada Minato yang memasang ekspresi kelewat serius, tepatnya pada ucapan ayahnya pagi ini. Apa ini karena Naruto tak sengaja memberi ayahnya susu basi saat sarapan tadi? Hingga otak ayahnya mengalami mengalami konslet.

Memutar bola matanya melas. "Memangnya Tou-san pikir aku ini umur berapa? Lima tahun?"Naruto menyindir. berharap ayahnya menyadari jika setahun lagi putrinya resmi berumur 17 dan berharap dibelikan Honda Tiger sebagai hadiah.

"Ayolah, Naru-chan. Tou-san tidak sedang bercanda."Minato merengek sambil memasang ekspresi memelas –sungguh tidak sinkron dengan umurnya yang menginjak kepala empat. "Lagipula, bagaimana jika nanti kau di culik?!"ungkapnya dengan ekspresi berlebihan.

Naruto berusaha acuh, menyeret tasnya dan melangkah ke tempat sepatu.

Hell, sekarang siapa pria aneh berwajah tampan disini?

"Naru-chaaan!"

Menarik napas panjang. Oke, kesabarannya sudah habis sekarang. Berbalik dengan gerakan lambat, Naruto berkacak pinggang dengan ekspresi kesal. "Oke, oke, aku akan mengumpat tepat di wajahnya dan menendang pria aneh itu tepat di selangkang. Puas?"

Minato nyengir dan memberi jempol sebagai tanda setuju. "Nice."

Mengabaikan ekspresi kelewat bahagia ayahnya, Naruto berjalan menuju pintu. Baru saja membuka pintu, gadis remaja itu kembali harus di kejutkan oleh wajah sedatar papan gilingan yang sedang berdiri tegap di ambang pintu rumahnya.

Uchiha Sasuke.

"Ohayou, Naruto. Mau berangkat bersamaku?"

Satu kata yang terpikirkan di benak Naruto.

"...fuck."

Diam tak berkutik. Sasuke tak tau harus berkata apa lagi, saat sapaannya yang –katanya- ramah di balas seperti itu. Sementara Naruto, yang paginya sudah kacau balau, tak tau harus mengatakan apa lagi selain mengumpat, pada 'satu lagi mahluk' yang menggangu hidupnya.

"Ingat janjimu, Naru-chan!"teriak Minato dari ruang tamu –memperpanas suasana.

Apa aku juga harus menendang selangkangnya?

.

.

.

.

.

Marry You, That Fuck For You!

Disclaimer : Ekspektasi milik saya, kenyataannya milik Masashi Kishimoto. Apalah daku, hanyalah mahluk ciptaan tuhan dengan imajinasi absurd.

Rate : T+

Genre : Romance, comedy, drama, family, friendship.

Pair : SasufemNaru

Warning : typos, gaje, OOC, genderbender, bad language, dll.

Note : (Spesial for :Mbak Fina Fauziah yang radar kepekaannya selalu on tiap meter per second)

Langsung saja...

.

.

.

.

.

"Yakin?"Sasuke bertanya sekali lagi –untuk ke sekian kalinya.

"Ya."

"Katakan sekali lagi!"

"IYA!"

"Lebih keras!"

"IYAAA, TEME!"Naruto berteriak kesal. Hell, memangnya cerita ini crossover dengan Dora The Explore?!. "Tanyakan itu sekali lagi, kubacok kau dengan cerulit,"amcamnya terdengar menyakinkan.

Glek...

Sasuke meneguk ludahnya dan mengangguk paham. "O-oke."Menyentuh jantungnya, entah kenapa Naruto selalu berhasil membuat jantungnya berhenti mendadak. "Tapi, apa kau yakin tak ingin berang-."

"SHUT UP!"Naruto memotong dengan sangat tidak sopannya. "Apa kau ingin aku kembali ke rumah untuk mengambil golok?"

Oke, tadi cerulit dan sekarang golok. Satulagi senjata tajam dan aku akan mendapat hadiah. Ha. Ha.

"Baiklah,"jawabnya setenang mungkin.

Naruto mendorong direktur muda itu ke dalam mobil, hampir membuat Sasuke terjengkang dengan tidak elitnya. Sementara gadis itu mulai melangkah pergi sambil melambaikan tangan dengan wajah innocent.

"Bye~bye~."

"Astaga, gadis itu. Sabar, Sas. Sabar."Sasuke bergumam pelan sambil mengusap dada, tolong siapapun beri aku penghargaan.

.

.

.

.

.

"Aku berangkat!"

Ino berseru dari luar, kemudian bergegas pergi saat mendengar jawaban dari ibunya. Berlari kecil, matanya terus melirik cemas pada jam tangan berwarna pink yang bertengger di lengannya.

"Dasar, pria-pria yang tak bisa di andalkan." Menekuk wajahnya dalam, Ino merutuki semua pria kenalannya yang entah kenapa secara berbarengan tak dapat mengantarnya ke sekolah. "Huft, anggap saja olah raga pagi." Ino menyemangati dirinya sendiri, tak mau menganggap keadaannya menyedihkan.

Luntur sudah make up ku, Ino membatin sedih –lebih memikirkan penampilannya dari pada kemungkinan terlambat. Setidaknya jikalau ia terlambat, maka Ino dengan senang hati menerimanya. Hell, ia lebih baik di hukum daripada harus berhadapan dengan Bakoro –Baka Orochimaru, si guru Biologi- di pelajaran pertama.

"Hoam~ Ohayou, Ino."

Ino menoleh dengan gerakan berlebihan, ekpresinya tak tekontrol –sesaat Ino seperti gadis idoit yang bertemu dengan artis favoritnya. Ingin berteriak, namun suaranya menyangkut di tenggorokan.

Astaga~

Menyadari harga dirinya, Ino kembali memasang wajah jutek. Memalingkan wajahnya. "O-ohayou,"balasnya dengan suara ketus, yang kentara dengan kegugupan dan wajah meronanya.

Shikamaru menaikkan sebalah alisnya, kemudian memilih untuk tak ambil pusing dengan tingkah labil Ino.

Tak ada yang memulai pembicaraan. Hening marayap. Membuat Ino mengutuk sikap easy going-nya yang entah sejak kapan menguap. Sementara Shikamaru yang memang dari lahirnya cuek, fine-fine saja dengan situasi canggung tersebut.

"Tu-tumben, kau berangkat siang. Bukankah kau ada latihan pagi?"Ino memulai pembicaraan, berharap Shikamaru tidak hanya menguap dan menjawab pertanyaannya. Ino sendiri menyadari kenyataan, jika ia dan teman masa kecilnya itu sudah lama tidak berbincang ringan –mengingat kesibukan mereka masing-masing.

"Guru Gay –pembina klub basket- izin karena penyakit encoknya kumat, setelah kemarin ia dan Lee melakukan lompat kodok."

Ino terkikik geli membayangkannya. Hoho, apa iya juga harus mengajak Bakoro-sensei untuk main lompat kodok. Siapa tau, guru killer itu terkena encok dan memutuskan mengundukan diri. Tapi mengingat Bakoro-sensei lebih menyukai ular, Ino rasa hal itu tak akan mungkin –meski pada kenyataannya Orochimaru tak akan melakukan hal itu, bahkan bersama ular sekalipun.

Imajinasi seorang gadis remaja yang terlalu berlebihan, akibat overdosis K-drama dan kegalauan mendalam akibat terlahir di Era Meiji.

"Mereka konyol."Ino berkomentar.

"Yeah, dua mahluk hijau yang konyol."

Suasana hening kembali, Ino merasa jalan menuju sekolah beribu-ribu keli lebih jauh. Apa ini akibat berjalan dengan suasana canggung? Hell, Ino tak tau harus menyebutnya berkah atau kutukan –berkah karena bisa jalan bareng dengan gebetan atau kutukan karena Shikamaru yang masih tak peka dengan perasaan.

Mahluk malas itu bahkan masih belum membalas surat cintanya minggu lalu. Sialan, Ino jadi kesal dan malu mengingatkanya –terlebih Shikamaru tak berkomentar apapun tentang itu, Ino bahkan tak yakin suratnya sampai ke tangan pria itu.

Apa ia harus bertanya langsung? Ah~ sepertinya memang harus –mengingat ia lelah untuk di gantung seperti ini, mengutip sebuah iklan 'Ino juga manusia, punya mata, punya hati.' yang artinya kokoro Ino tidak sekuat tang baja.

"Hei, Shika."Ino meminta perhatian, menoleh pada Shikamaru yang berjalan tenang di sampinya. "Ap-apa kau mendapat surat seminggu yang lalu?"Tanya penuh harap.

"Ya."Jawaban singkat Shikamaru nyaris membuat jantung Ino berhenti seketika.

"La-lalu apa jawabanmu?"Menatap Shikamaru tenpa berkedip, Ino menahan napasnya.

"Tentu saja..."Shikamaru menggantung ucapannya, membuat Ino kesal setengah mati. Apa pria itu tak puas menggantung perasaannya, kenapa ucapan pun mesti di gantung juga. Dasar kamvret.

"...Tidak."

Jleger...

Ino merasa mendapat petir dalam imajiner. Ba-bagaimana mungkin Shikamaru menolaknya seperti ini?!

Shikamaru menarik sebelah alisnya, kemudian kembali melanjutkan perkataannya. "Memangnya siapa yang mau menerima surat tantangan menari balerina dari Lee?! Bocah hijau itu ada-ada saja."

Dahi Ino berkedut. "Surat tangtangan?"

"Ya."

"Kau tidak menerima surat lain selain itu, Shika?"

"Tidak."

Ino terdiam. Meski separuh jawaban Shikamaru membuatnya lega, tapi satu fakta membuatnya kesal setengah mati. Jadi selama ini suratku tidak pernah sampai?!

"Astaga! SUIGETSU KEMBALIKAN 1000 YEN-KU!"

.

.

.

.

.

Braakk...

"OHAY–"Lee menelan kembali sapaannya, pemunda pecinta hijau itu terdiam. "...you. Kenapa auranya suram begini?"cicit pemuda itu, mata bulatnya melihat sekeliling.

"Bisa kau tutup mulutmu, kacang polong?"

Ucapan kelewat sinis itu berhasil menyedot semangat Lee seketika –bagaikan vacum cleaner yang meyedot kotoran di sekitarnya. Lalu apakah aku kotoran, pikir Lee dongkol.

"Astaga Naruto, berhentilah menyedot jiwa-jiwa manusia yang tak bersalah karena mood breaker-mu itu."Sakura mengibaskan lengannya di sekitar Naruto, berusaha menghilangkan awan suram yang mengelilingi gadis itu –secara imajinatif.

Naruto mendengus."Kau pikir aku dementor?"jawabnya sinis –masih di lingkupi aura jahat.

Sakura yang –satu-satunya- tak terkena pengaruh mood Naruto mengangkat sebelah alisnya heran. "Damt apa?"

"Astaga!"Naruto menatap gadis pink itu tak percaya. Sakura berkedip. "Kau tak pernah lihat serial film Harry Potter?"Sakura menggeleng, membuat Naruto secara refleks memegang bahunya. "Ya, ampun! Demi kolor merah supermant yang tak pernah di cuci! Bagaimana bisa kau hidup tanpa mengenal Voldemort?!"

"A-apakah ia tampan?"Otaknya serasa terguncang, saat Naruto menguncang tubuhnya dengan tidak manusiawi. "O-oke, oke. BERHENTI MENGGUNCANG TUBUHKU, NARUTO!"

"Sorry."

Menarik napas. "Aku tidak tau apa itu damthor atau voltmort yang kau maksud. Oke, maksudku, author tidak akan tiba-tiba meng-crossover cerita ini, kan? Dia tidak akan tiba-tiba meng-summon mu ke dunia sihir atau menjadi kan dirmu pengganti The-Girl-Who-Lived, kan?"

"Apa yang kau bicarakan, Sakura?"

"Lupakan."Sakura memijat keningnya, mengambil botol minum di sampingnya –yang entah milik siapa. Ia meminumnya seolah telah melakukan marathon. Fruuh~ berbicara dengan Naruto bisa menguras jiwa dan ragamu. "Maksudku, hentikan mood burukmu dan ceritakan masalahmu padaku. Lihatlah, kau hampir membunuh Hinata."Tunjuknya berlebihan pada Hinata yang terdiam duduk di pojok sambil membaca buku.

"A-aku ba-baik–."

"Oke, kau istirahat saja, Manis."Potong Sakura cepat, membungkam Hinata. "Jadi apa yang terjadi?"

Naruto menghela napas. Sepertinya tidak ada salahnya aku bercerita, mungkin ini akan sedikit meringankan bebanku. Naruto mulai membuka mulut. "Sebenarnya beberapa hari ini ada pria yang terus menggangguku..."

"Pria ya–"

"SIAPA?! siapa pria yang berani mengganggumu, Naru-chan?!"Tanya pria di kelas itu serempak, menyingkirkan atensi Sakura dari bumi –sesaat.

"GYAAA... MENYINGKIRLAH DARI SINI, DASAR SEKTE SESAT!"teriak Sakura kesal, membenarkan rambutnya –ia hampir saja terjengkang dengan tidak elitnya tadi. Hilang sudah sikap manisnya.

Massa bubar.

"Sa-sabar, Sakura-chan,"cicit Hinata yang kini berada di sampingnya.

Menepuk-nepuk bajunya yang agak berdebu. "Mereka gila! Hampir saja aku menjadi adonan pizza tadi, untung saja aku tidak terinjak. Brengsek, bagaimana bisa kau mengumpulikan pengikut sebanyak itu –hingga terbentuk sekte sesat dengan kau yang di 'sembah'."Sakura mengeluh panjang lebar tanpa jeda.

Naruto tergelak, tawanya membuncah melihat ekspresi kesal sahabarnya. Sementara Hinata hanya terkikik geli.

Sakura mencak-mencak. Seisi kelas bernapas lega.

Atmosfir suram itu hilang seketika dan bel masuk berbunyi dengan merdunya.

.

.

.

.

.

"Bagaimana, Sasuke-kun?"Mikoto bertanya antusias tanpa embel-embel, setelah memasuki kantor putranya.

"Biasa saja, Bu."Sasuke menjawab seadanya, membuat Mikoto mendesah kecewa. "Gadis itu bahkan enggan ku antar."

"APA?!"Mikoto berteriak tepat di telinga Sasuke, membuat pria itu menjauh karena telinganya yang berdengung.

Astaga, tadi pagi aku hampir mati dan sekarang aku hampir tuli, Sasuke membatin pedih. Percayalah hidup itu keras, bahkan seorang direktur tampan sekalipun.

"Kau tidak mengantarnya?"Mikoto bertanya sekali lagi untuk memastikan.

Sasuke mengangguk takut-takut. "Ya, dia bilang ingin berangkat sen–."

"SEHARUSNYA KAU MEMAKSA, DASAR BOCAH!"sembur Mikoto memotong perkataan putranya. Sasuke berjengit kaget. "Jadilah pria tangguh, arogan dan possesif, Anakku! Paksa gadis itu jika dia menolakmu! Ikat dia jika perlu dan kurung di apartemenmu selamanya."

Sasuke menggeleng tak percaya dengan imajinasi ibunya. Sejak kapan Okaa-san suka membaca cerita rate-M?, batinnya heran.

"Aku tidak mau memaksanya, Okaa-san. Lagipula, itu tindak kejahatan."Sasuke berujar lembut, meyakinkan ibunya jika Naruto dapat di luluhkan dengan sabar dan lembut –mungkin, sejujurnya Sasuke tak yakin gadis gahar itu bisa di taklukan, Naruto terlalu tangguh bagaikan benteng raksasa.

"Payah,"Komen Mikoto singkat, tapi cukup nyelekit di kokoro Sasuke. Sabar, Sas, Sabar. Menyeret kakinya, wanita paruh baya itu mendudukkan tubuhnya di sofa. "Jadi apa kau punya rencana lain?"

Sasuke menghentikan pekerjaannya. Berdehem, rona merah muda menjalar di pipnya. "Sebenarnya, aku telah melamarnya seminggu yang lalu pada Namikaze-san."

"Lalu?"

Sasuke menghela napas."Tapi, Namikaze-san belum memberi jawabannya, bahkan setelah insiden dua hari yang lalu."

Mikoto mendengus dengan seringai mengejek. "See, sekarang kau di gantung,"ucapnya sinis.

Entah kenapa Okaa-san semakin OOC dari hari ke hari, Sasuke membatin drop dan sedih bersamaan –mengutuk author yang menistakan seluruh keluarga Uchiha.

"Panggil, Minato-san,"titah Mikoto mutlak. "Biar aku yang bicara padanya."

Sasuke meneguk ludahnya. Mati sudah, maafkan aku, Calon-Papa-Mertua.

.

.

.

.

.

"Otakku serasa mau meledak!"Naruto menghempaskan wajahnya ke atas meja. Tampak sangat lemas, lesu dan lelah –efek berat setelah pelajaran Matematika.

"Minumlah, Naru-chan."Pria yang duduk di sampingnya menyerahkan sebotol minuman.

Naruto mengangkat wajahnya dan tersenyum lebar. "Thanks, Suzuki-kun."

"Apa kau mau berke–."

"Naru-chan, minum juga punyaku."

"Aku juga!"

"BISAKAH KALIAN DIAM!"Naruto berteriak kesal, kepalanya yang sudah berdenyut kembali dihantam ribuan ton saat para pria itu mulai mengerubuninya. "Bisakah kalian tidak menggangguku, please?"tanyanya memelas dengan mata safirnya yang membulat lucu.

Segerombol pria itu sontak mengangguk dan berjalan teratur menjauh –memberi ketenangan pada Naruto.

"Aktingmu hebat sekali!"

Naruto menoleh, dan mendapati Ino yang memasuki kelas.

"Dasar pirang tolol, kau terlambat?"Naruto tersenyum mengejek.

"Ya, ampun, Pig. Bagaimana bisa kau terlambat selama 4 jam pelajaran?"Sakura berdecak, mendekati keduanya.

"A-apa terjadi sesuatu padamu, Ino-chan?"Hinata bertanya khawatir.

"Begitulah."Mengangkat bahu acuh. "Tak ada hal penting, kan?"

Naruto berdecak dan menatap gadis itu iri. "Enak sekali kau tidak menghadiri pelajaran Bakoro dan mate-sialan-matika itu."

"Hus. Jangan seperti itu, Naru-chan."Hinata memperingati. Naruto hanya nyengir dan mengangkat jari tengan dan telunjuknya membentuk V. "Ha-hanya pelajaran seperti biasanya, aku akan meminjamkan bukuku padamu. Ta-tapi kau tak boleh membolos lagi nanti, Ino-chan."

Ino mengangguk lesu. "Baiklah."

Sakura menggeleng."Entah kenapa kau selalu berhasil mengendalikan keduanya, Hinata. Kau pawang yang hebat!"berujar haru, jempolnya terarah pada Hinata.

Hinata merona dan menggeleng cepat. "Ti-tidak, Sakura-chan."

Naruto terkikik geli. "Kau memang telalu rendah diri untuk seorang nona besar Hyuuga, Hinata."Memeluk tubuh mungil Hinata gemas.

"Se-sesak, Naru-chan."Hinata mangap-mangap, berusaha melepaskan pelukan Naruto. Sang empu hanya tersenyum sambil bergumam 'maaf'. "Ngo-ngomong-ngomong, bagaimana dengan masalahmu yang tadi, Naru-chan? Bu-bukankah kau akan menceritakannya?"

"Masalah?"Ino membeo, sepertinya ia ketinggalan gosip penting.

"Jangan berpikir aku akan melupakannya, Naruto."Sakura tersenyum manis –terlalu manis hingga Naruto merasa diabetes. "Terlebih perilaku sekte sesatmu itu."

Naruto mengangkat bahu pasrah. "Baiklah, aku akan menceritakannya di kantin. Let's go, Girls. Hari ini, biar aku yang traktir."

.

.

.

.

.

Omake

"Ngomong-ngomong, darimana kau mendapat uang sebanyak itu, Naruto?"tanya Ino heran, mengingat uang jajannya dan Naruto tak beda jauh –yeah, ayah mereka sama-sama pelit.

Naruto terdiam sejenak, sambil menyeruput jus jeruknya. Mengingat-ingat saat tadi pagi Sasuke memberinya ongkos untuk uang taksi, yang jumlahnya cukup banyak.

"Oh, dari seorang pria aneh yang kutemui tadi pagi."jawabnya singkat.

"Hah?"

Hening...

Pria aneh?

Apakah Om-Om..?

Ketiga pasang mata itu membola.

Dia tidak melakukan perbuatan terlarang, kan?, pikir mereka kompak.

.

.

.

.

TBC~

()Suzuki itu hanya karakter yang saya buat.

()The-Girl-Who-Lived itu plesetan dari The-Boy-Who-Lived.

()Yang tidak tau Dementor silahkan search di google.

Adakah yang masih mengingat cerita ini?

Saya ingin memberitahukan bahwa saya juga mem-post cerita ini di wattpad dengan akun yang sama, tapi jika ada yang menemukan cerita yang sama selain di wattpad tolong pm saya. Silahkan juga kunjungi akun wattpad saya ^^. #Promosi

Hoho... saya telat mem-publish di ffn, ya? #digetok

Menerima kritik dan saran yang membangun –terutama EYD. Dan juga silahkan yang mau menyumbang ide-ide absurd untuk Naruto ke depannya akan saya tampung.

RnR, please?

19-02-2017