Author: Meonk and Deog.
Pair: HaeHyuk.
Slight Pair: YeHyuk, HaeRy.
Cast: Lee Donghae, Lee Eunhyuk/Lee Hyuk Jae, Kim Yesung/Jongwoon, Henry.
Rate: T semi M.
Warning: Yaoi, Boys love, Boys x boys, miss typo, typo (s), EYD yang berantakan, gaje, abal, dll.
Disclaimer: Seluruh cast murni milik diri mereka sendiri dan Tuhan. Namun cerita ini murni milik kami dan hanya milik kami!
Summary: "Semuanya berangsur-angsur membaik ketika rasa itu perlahan hilang, rasa yang sudah lama kutinggalkan akibat obsesi yang terlalu mencekik ini kembali datang, membawa diriku dalam setiap senyuman yang kau tampilkan saat ini. Donghae-ah, bisakah kita menyambung rasa ini kembali?"
Don't like, Don't read.
Read and Review please ^^.
NO COPAST! NO PLAGIARISM!
Enjoy plase~
.
.
.
Author Pov.
Ada yang membuncah dalam hatinya, dadanya berdebar tak karuan. Panggilan nama yang telah terlontar tak digubris. Kedua insan itu masih sibuk pada satu kegiatan, mencumbu satu sama lain. Pandangannya telah meremang, tangannya yang terkepal ia arahkan kearah dada. Sekuat mungkin ia mencoba untuk mengatupkan mata, hasilnya ia tetap tidak bisa. Bahkan bayangan mereka terasa nyata.
Perlahan wajahnya beralih, meneguk ludah singkat sebelum melanjutkan langkah. Ini bukan saatnya menjadi bodoh, diam ditempat lalu meminta penjelasan pada apa yang telah terjadi. Donghae memilih pergi, ketimbang menikmati reka adegan yang melintas.
Hyuk Jae tersenyum, pagutan Yesung bukan menjadi fokusnya kini. Celah singkat yang menyibak jarak, memberikan akses untuknya melihat. Laki-laki itu pergi sesuai keinginannya. Ia hanya sedikit ingin bermain. Pagutan mereka terlepas, Hyuk Jae menghela nafas. Bibir tebalnya menjadi sedikit lebih mengkilat. Wajahnya memerah, bukan karena perasaan yang berdebar. Paru-parunya serasa menciut.
"Maaf…, aku kehilangan kendali." Hyuk Jae tersenyum maklum, satu tangannya ia arahkan kearah pundak laki-laki bermata sipit itu, senyumannya tak dibalas. Yesung menggaruk tengkuk tanda ia sungkan.
"Nanti malam aku akan datanglah ke apartementku, kita lanjutkan disana." Mata Yesung berbinar, biasanya ia yang akan menawarkan perjamuan makan malam. Kali ini sedikit berbeda, ia merasa beruntung memiliki kekasih sebaik itu. Atau mungkin Hyuk Jae yang sepatutnya bicara seperti ini.
.
.
.
"Kau tidak apa-apa hyung? Wajahmu pucat sekali." Dari pada menjawab, Donghae lebih memilih duduk bersandar ditengah mobil. Perjamuan makan siang yang ditawarkan sang Sutradara diacuhkan, ia memilih diam sesaat. Menunggu perasaannya kembali pulih, kemudian pergi meminta penjelasan. Terdengar bodoh, tapi ia tak peduli. Lebih baik mengemis kembali dari pada harus kehilangan sekali lagi.
"Perlu kubelikan obat? Sutradara Go akan menganggapmu artis yang sombong jika tetap diam tanpa menyapa kru." Donghae mendesah, kata Henry ada benarnya. Tapi ia masih belum siap, dia ingin ketenangan. Melupakan sejenak memori yang sempat terekam, tapi nyatanya pekerjaan selalu menuntut hal yang memberatkan.
"Aku akan kesana, biarkan aku istirahat sebentar." Kali ini Henry yang mendesah, sikap Donghae sedikit berubah. Menjadi lebih pembangkang, bukan lagi senior yang patut dibanggakan. Artis ramah yang selalu membuat hatinya goyah dan bergemuruh kencang. Henry menutup mata, jika mengingat hal itu ia merasa terbodohi. Hanya senyuman miris yang ada dibayangannya, Henry hanya dianggap adik dan ia tahu itu.
"Hyung kumohon…" Henry berusaha membujuk namun entitas didepannya masih kekeh pada satu pendirian. Dengan segenap cara Henry harus berhasil membujuk laki-laki tampan ini untuk segera keluar. Jika tidak, image ramah yang telah terbangun akan runtuh sia-sia.
"Apel, ikan, semua yang kusukai akan kubelikan." Donghae tersenyum, Henry selalu berhasil membuatnya melepaskan segala penat. Laki-laki tampan ini mendudukkan diri dengan posisi yang sedikit lebih baik dari tadi, mengedip singkat sebagai respon atas sinar yang masuk kemata tiba-tiba.
"Henry-ah…"
Wajah Henry kontan terfokus pada Donghae. Kedua matanya membulat lebar, menunggu kalimat yang akan Donghae ucapkan padanya.
"Terimakasih…" Henry tersenyum, kata-kata yang paling ingin didengarnya adalah ini.
.
.
.
"Kalian sebelumnya pernah saling mengenal?" Yang bertubuh tambun bicara, laki-laki ini telah menyimpan rasa penasaran yang cukup besar sejak tadi. Bukan bermaksud mencurigai, ia hanya merasa sedikit janggal. Tatapan laki-laki itu terlihat tidak biasa, ada sedikit keanehan dalam intensitasnya.
"Dengan siapa?" Memilih untuk pura-pura tidak tahu, Hyuk Jae melontarkan pertanyaan bodoh. Shindong memutar mata, siapa lagi kalau bukan Lee Donghae. Untuk Kim Jong Woon, dia orang yang lebih dari sekedar tahu. Mereka terlihat dekat sejak beberapa tahun lalu, Shindong dengar orang yang membawa Hyuk Jae masuk kedalam lingkungan entertainment adalah laki-laki bersuara indah itu.
"Aktor itu." Hyuk Jae tersenyum, tak berniat langsung menjawab ia membenarkan posisi duduk. Matanya tersorot lurus, terfokus pada pria didepan sana.
"Menurutmu siapa yang lebih memiliki koneksi di dunia entertainment? Yesung hyung atau laki-laki itu?" Pertanyaan yang cukup sulit, sejenak Shindong meneguk ludah. Antara Yesung dan Donghae ia rasa mereka sama-sama memiliki kekuasan besar. Tapi jika diberikan pilihan, tentu Shindong hanya memilih satu orang.
"Yesung memang populer dikalangan remaja, dia juga jadi salah kandidat penyanyi nomor satu di Asia timur. Tapi Lee Donghae bukan tandingannya. Film dan Dramanya tidak main-main, agentsinya juga agentsi besar." Hyuk Jae kembali tersenyum. Jawaban Shindong memuaskan, sejenak beberapa opsi berkembang dalam pikiran.
"Bagaimana jika aku kembali padanya?" Shindong membulatkan mata, jadi bukan hanya Yesung? Laki-laki bertubuh tambun ini ikut tersenyum. Kenapa tidak jika ini menguntungkan untuknya? Shindong mengangguk, itu pilihan yang sangat tepat untuk kali ini. Dalam satu sisi Hyuk Jae mungkin terlihat curang dan jahat, tapi jika ia ingin tetap berdiri. Ini memang pilihan terbaik.
"Kalau begitu sama seperti dulu, sebagai manager yang baik, hyung harus membantuku."
.
.
.
Bruk!
Suara dari dua objek yang bertubrukkan terdengar nyaring, satu pergerakkan pada satu posisi berhasil membuat tubuhnya terkunci. Mereka saling berpandangan sejenak, salah satu pihak memiliki pancaran yang berbeda dari matanya. Sedangkan reaksi dari pihak lain, terlalu datar.
"Apa yang kau lakukan?" Matanya tersorot sinis, laki-laki didepannya mengeraskan air muka. Tangan besarnya mencengkram kuat bahu sang lawan bicara, sedangkan tubuhnya mulai terlihat maju untuk mengapit.
"Kita perlu bicara, ada yang harus kau jelaskan padaku." Satu alis Hyuk Jae terangkat naik, ia seperti tidak tahu. Wajahnya dibuat sebingung mungkin, sudut bibirnya mengendur. Satu decihan sinis tertangkap kontras. Donghae mendekatkan wajah, nafasnya menderu. Tak stabil, jantungnya berpacu kencang. Posisi kali ini ia rindukan. Berada sedekat ini seperti dulu, belum pernah muncul dalam mimpi terdalam.
"Kau menjalin hubungan dengan seseorang?" Hyuk Jae tersenyum manis, sesekali ia berkedip tanda tak terlalu mengerti. Namun setelah itu bibirnya terbuka hendak bicara.
"Tidak." Jawaban itu tidak memuaskan, Donghae terperangah. Jarinya beralih mencengkram wajah tirus pria manis itu. Mata Hyuk Jae kontan membulat, Donghae tak pernah sekasar ini padanya. Tak pernah sekalipun, tapi sekarang Donghae tak seperti dulu. Ia mungkin rindu Donghae yang naïf, bodoh dan penurut. Tapi ia tidak menyangka perubahannya akan sepesat ini. Lebih menarik walaupun sedikit menyulitkan.
"Jangan berbohong lagi! Katakan yang sebenarnya!" Pemuda bersurai hitam ini kembali menggertak, Hyuk Jae menghela nafas. Jika jawaban itu tidak memuaskan sang mantan kekasih maka ia mencoba jujur.
"Kalau begitu iya." Donghae melepas cengkramannya, wajahnya setengah tak percaya. Bahkan ia tak semudah itu melukapan Hyuk Jae. Tidak pernah, dan tidak mungkin. Namun kenapa laki-laki didepannya begitu mudah memberikan celah baru pada orang lain. Kata-kata tak mencintai kini terngiang, Donghae goyah.
"Kau ingin membunuhku?"
"Bukankah itu yang kau inginkan?" Jawaban Hyuk Jae lebih sengit, tatapan Donghae kembali menanar. Ia tak ingin kehilangan kendali, jadi ia melepas cengkraman. Sesaat pandangannya melembut, tangannya terulur. Sebuah kertas dan pena diraihnya dari kantong celana, menulis beberapa digit nomor dan menyerahkannya pada Hyuk Jae.
Hyuk Jae mengkerutkan kening, rasanya ia tak membutuhkan benda yang diberikan Donghae.
"Nomor ponselku, hubungi aku setelah ini." Hyuk Jae mengalihkan pandang, sesaat ia mendecih. Meraih kertas itu kasar, pada jeda yang terjadi tatapannya pada digit nomor terlihat intens. Namun sepersekian detik kemudian, laki-laki bersurai blonde pendek itu merobeknya tak beraturan. Membuang beberapa bagian kertas kewajah Donghae.
Hazel Donghae memanas, warna merah yang terjadi memberikan celah untuk buliran bening meluruh jatuh.
"Merusak hubungan orang lain itu tidak baik Lee Donghae. Harusnya kau tahu itu." Donghae terpekur, buliran itu kini benar-benar jatuh. Wajahnya basah, dan tak ada yang bisa ia lakukan kecuali diam. Hyuk Jae memilih pergi, meninggalkannya dilorong sempit ini. Pada satu kenyataan, ia benar-benar gila karena mencintai satu orang.
.
.
.
Laki-laki itu mendengkur halus, matanya yang terkatup tenang memperlihatkan kedamaian. Sesekali tubuhnya bergerak sembarang, membenarkan posisi tidur. Hyuk Jae terdiam, disela-sela waktu luang jadwal syuting mereka memutuskan untuk mengistirahatkan diri sejenak. Kembali pemuda manis ini menghela nafas, wajah Yesung terlalu tenang.
Pandangannya menanar, entah ia merasa terlalu jahat karena pernah membohongi laki-laki ini. Sesekali matanya menyipit, pandangannya mengabur. Rasanya tak tenang, begitu banyak tuntutan hingga semuanya menjadi begitu blur. Perasaannya memang tak menetap pada satu hati, tapi rasa iba pada orang ini selalu ada. Hyuk Jae tersenyum, mendekatkan wajah mereka pelan. Tak ingin membuat Yesung terbangun, kecupan begitu pelan ia hadiahkan pada bibir sang kekasih.
"Mianhae hyung…" Gumamannya terdengar bersamaan dengan debaman pintu mobil van, ia memilih melangkah keluar mobil ketimbang tetap diam dan terpaku pada rasa goyah. Ia tahu dirinya tak pernah mencintai Yesung, tapi ia jelas tahu. Ia juga tak memiliki rasa itu pada Donghae.
.
.
.
Deru malam terdengar, tapi laki-laki tak berniat untuk tidur. Gestur tubuhnya tak tenang, wajah tampannya mengadah keatas, memandang plafon nanar. Ia telah siap tidur, tapi Donghae ingin melewatkan malam dengan menunggu panggilan orang itu. Ia tahu bahwa Hyuk Jae telah menolaknya mentah-mentah siang tadi. Tapi kemungkinan selalu ada, bisa saja Hyuk Jae berniat mencari tahu lalu menghubunginya secara mendadak.
Ponsel yang ia letakkan diatas dada bergetar, dengan sigap jemarinya meraih benda canggih itu, mendekatkannya kearah mata lalu tersenyum manis. Namun senyuman itu pudar seketika, yang mengirim pesan bukan orang yang ditunggunya. Ini Henry, bukan Hyuk Jae.
'Hyung, kau ingat besok ulang tahunkukan? Orang tuaku bilang mereka tidak bisa datang ke Korea. Besok aku akan membuatkan banyak makanan, bisakah kau datang? Lagipula besok kau senggang. Ya? Aku menunggumu. Jam 8 malam di apartementku.'
Donghae menghela nafas, bukannya merasa terpaksa untuk datang. Ia hanya terlalu lelah, dahinya mengkerut sejenak. Berpikir apakah tidak datang adalah tindakan yang terlalu keterluan. Lagipula besok adalah ulang tahun Henry, dongsaeng kesayangannya. Orang yang terlalu mengerti dirinya selain Hyuk Jae. Akhirnya jemarinya menari diatas layar ponsel, mengetik kata 'Ya' dalam baris singkat yang tertera.
Hendak menutup mata, sebuah getaran datang lagi. Pesan lain yang memampangkan nomor tak dikenal, Donghae menyatukan alis. Enggan, ia membuka pesan agak lama.
'Aku Hyuk Jae. Yang kutahu, besok kita tidak ada jadwal syuting. Kuberikan kesempatan sekali lagi, datang ke apartemenku jam 8 malam atau ini benar-benar akan berakhir. Alamatnya akan kukirim besok, aku tahu kau masih mencintaiku. Datanglah…'
Donghae membulatkan mata, mendadak ia membangunkan tubuh dari ranjang lembut. Hazelnya berbinar, kebahagian tergambar jelas. Antusiasnya pada orang itu tak pernah berkurang, senyum lebar kini terulas sempurna.
'Aku pasti datang. Tunggu aku. Aku mencintaimu…'
.
.
.
Suara mixer menimbulkan gema, kedua namja manis tersenyum lebar. Yang satu terlihat penasaran sementara satunya lagi terlihat sangat gembira. Aktivitas mengocok telur dari salah satu pihak terjeda. Sungmin, teman baik Henry memfokuskan diri pada wajah oriental sang sahabat.
"Dia bilang apa?" Nada penuh selidik dihadiahi senyuman manis, Henry memamerkan layar ponsel. Sesekali memekik senang dengan nada rendah.
"Jadi dia bilang iya?" Henry mengangguk, ia sangat senang sekarang. Tak pernah terbayangkan jalannya semakin terbuka lebar. Sesekali Henry kembali melanjutkan aktivitasnya pada adonan tepung.
"Sungmin hyung, ajari aku membuat kue terenak." Sungmin mengangguk mantap, dengan senang hati ia akan melakukannya. Henry bersenandung, sesekali ia bergumam kata terimakasih. Reaksi Sungmin tak terlalu berbeda, beberapa kali ia mendorong bahu Henry berniat menggoda.
"Sudah kuduga dia menyimpan perasaan padamu."
.
.
.
Tak ia sangka dirinya mengambil sebuah tindakkan besar. Membatalkan janji manis semalam dengan Yesung, dan membuat janji lainnya dengan sang mantan kekasih. Ia mencatut diri, refleksinya pada cermin terlihat lebih sempurna. Beberapa kali ia merasa jahat namun untuk saat ini, ia merasa lebih puas.
Ia membenci Donghae ketika laki-laki itu berniat menyamakan diri dengannya, ia membenci Donghae ketika pria itu terlihat lebih dari dirinya. Menggunakan alasan cinta, Donghae terus mengikuti langkahnya, selalu membuatnya menjadi orang kedua, dan membiarkan sosok Donghae menjadi pemenang. Ia tak bisa menerima, sekalipun ia akan menyesal. Ia bisa saja mendapatkan Donghae secepat yang ia mau, tak ada yang bisa menjatuhkannya. Bahkan laki-laki itu sekalipun.
Pakaian terbaik telah disiapkan, apartement yang didedikasikan Yesung untuknya tertata lebih rapi. Kali ini Hyuk Jae berniat mempermainkan, sedikit godaan maka laki-laki itu akan langsung goyah. Ia tersenyum, tersenyum begitu baik. Matanya berbinar, dari arah luar kamar terdengar bunyi bel yang cukup nyaring. Ia menghela nafas, orang itu sudah datang. Lebih cepat dari yang ia kira.
Jam menunjukkan pukul tujuh malam, Hyuk Jae berjalan cepat. Keluar menuju ruang tengah, lalu membukakan pintu untuk orang itu.
"Datang lebih awal dari apa yang dijanjikan, kau terlalu rajin. Sama seperti dulu…" Itu bukan sebuah pujian, Donghae cukup tahu hal itu. Tapi ia tersenyum, sekalipun dihina perasaannya tak akan berubah. Sama seperti waktu itu. Tangan Hyuk Jae mempersilahkan sang tamu untuk masuk kekediamannya, dengan gerakkan lamat Hyuk Jae mengunci pintu.
Donghae terpekur, baru hendak melepaskan jas, ada yang meraih tengkuknya. Melumat garis kemerahan itu cepat, menghisapnya, juga memojokkan tubuhnya tepat kearah dinding. Matanya membulat, tak disangka kedatangan Donghae akan dihadiahi sebuah ciuman. Donghae sama sekali tak menolak, ia menutup mata. Menikmati hal yang sudah tak pernah ia rasakan.
Ciuman Hyuk Jae beralih keleher, bercumbu dengan posisi berdiri tidaklah buruk. Kali ini Donghae membalikkan keadaan, menjadi yang lebih mendominasi. Hyuk Jae melenguh, Donghae berhasil merusak sedikit tatanan rambutnya.
Membiarkan Henry menunggu sedikit lebih lama, Donghae rasa ini tidaklah buruk…
.
.
.
TBC.
.
.
.
Mind to Review?
.
.
.
Author Note: Kyah…! Kami datang lagi xD! Updatenya pasti lamakan? /angguk-angguk/ kkk… Jeongmal joseonghayeo, gara-gara kami kebanyakan main game ff ini jadi terbengkalai. /jder.
Ah…, ya. Di ff ini bayangin aja Hyuk Jae waktu pemotretan di paris untuk boys in the city season 4. Kkk…, waktu jaman dia blonde pendek mukanya rada angkuh menurut kami. Tapi tetep ganteng :D Dan untuk rate, kami masukkin ke rate m karena di chapt depan ada NC!
Maaf untuk typo, keterlambatan update, diksi yang berantakan, alur lambat/cepat, dan kata-kata yang tidak berkenan di hati readers sekalian. Kami benar-benar minta maaf… /bow.
Dan terimakasih banyak untuk yang meriview, membaca, memfave dan memfollow. Jeongmal kamshamnida! xD! /bow.
Thanks to review: Guest| Melodyna| Anchofishy| Niknukss| nurul . p. putri| dhian930715ELF| Amandhhary0522| Anonymouss| F-polarise| Lee Haerieun| MingMin| lyndaariezz| AsHa Lightyagami kisslicksucks| NaizhuAmakuza| Tina KwonLee|
Jeongmal Gomawoyeo…/deep bow/
Akhir kata, apakah ff ini pantas untuk dilanjutkan?
