Title : Something Curious

Author : dns

Chapter 4

Rate : T

Genre : Friendship, Angst, Hurt/Comfort

Warning : OOC, Typos

.

.

.

Another Promise and The Grapevine

.

.

.

Previous Chapter

"Ayo berjanji, Chan!" Kai berubah bersemangat. Seolah baru saja melihat harapan terbit di antara dua gunung.

"Boleh. Kau mau aku berjanji apa?" Sebenarnya Chanyeol belum terlalu fokus. Entah kenapa mengetahui Kai cemburu karena dirinya terlalu dekat dengan Sehun membuat Chanyeol begitu terhibur.

"Janji jangan berdekatan dengan Sehun lagi."

Deg

...

"Iya, Kai. Aku janji." Dan, kumpulan setan merah itu pun berpesta. Berhasil lagi menenggelamkan anak manusia dalam lembah mereka. Berhasil pula menerbitkan senyum Kai.

Di sela pesta meriah itu, Chanyeol sadar mulutnya baru saja berdusta dari hatinya. Ternyata, sebelum ia berkhianat pada sahabatnya, Chanyeol harus lebih dulu berkhianat pada hatinya sendiri. Chanyeol sadar ia bodoh. Tapi, sudah terlanjur. Ia juga bingung kalau harus menyanggah Kai tadi. Jadi, biar mulai saat ini ia berusaha menutupi pengkhianatannya saja.

"Maaf, Kai, maaf.Tapi kau tidak tahu apa yang terjadi pada Sehun. Aku siap kalau suatu hari kau lebih dari sekadar meninju pipiku." Itu kata hati Chanyeol.

"Kau tidak tahu apa yang kudengar. Tidak ada yang tahu ada apa sebenarnya dengan Sehun."Dan yang barusan adalah kata hati Kai.

.

.

.

None of the casts are mine.

The plot and idea belong to me.

.

.

.

Janji yang nyatanya sudah Chanyeol rusak sejak awal itu berhasil menjadi benalu paling kuat yang mengusiknya. Satu kalimat pun yang dikatakan guru tak ada yang menempel di otaknya. Mulai dari pagi tadi, jam ini, menit ini, hingga detik ini, hanya janjinya pada Kai-lah yang terngiang di telinganya. Bahkan, untuk memulai waktu istirahat tersayangnya pun Chanyeol harus merelakan pikirannya mengingat janji palsunya pada Kai.

"Aku benar-benar tinggal menunggu waktu Kai meninju pipi ini dan bahkan berhenti menganggapku sahabatnya." Lalu, Chanyeol bergidik ngeri. Walau apa yang ia katakan sebatas di hati itu kemungkinan terjadinya sembilan puluh persen namun Chanyeol benar-benar berharap keajaiban Tuhan membuat sepuluh persen kebalikannya bisa mengalahkan ketakutannya.

"Saat pulang nanti, ayo mampir beli komik dulu!"

Chanyeol terkesiap. Sungguh ia tak mendengar utuh kalimat tadi. Ia menoleh pada Kai yang sudah pasang tampang bocah khasnya—yang malah membuat rasa berdosa Chanyeol meningkat. "Boleh. Kapan? Saat pulang sekolah nanti saja, bagaimana?"

Kulit kening Kai langsung kusut. Matanya menyipit meneliti sosok di sampingnya.

"Eh, matamu rusak, Kai? Kenapa melihatku sampai begitu? Memang aku virus?"

"Otak dan kupingmu yang rusak, Chan," balas Kai santai sambil melancarkan satu ketukan di dahi Chanyeol lengkap dengan sentilan di telinga panjang laki-laki itu.

"Yak! Hati-hati kau akan sial setelah melakukan hal ini padaku." Ringisan Chanyeol mengiringi kalimatnya.

Kai bersikap tak acuh. Sangat yakin peringatan Chanyeol tak punya kemungkinan sekecil apa pun untuk terjadi, tapi ia tetap sedikit menjauhkan langkahnya dari Chanyeol. Sikap siaga menghindari kalau-kalau tangan sahabatnya mendarat di kepalanya.

"Sebelum kaubilang, aku sudah bilang duluan, 'saat pulang nanti'. Kau ini benar-benar tak mendengarkanku." Chanyeol langsung menggulung bibirnya. Sadar bahwa dirinya yang salah. Dan tanpa ia ketahui, beberapa langkah di depannya, Kai meluruhkan semua ekspresi sebelumnya. Menggantinya dengan keraguan serta kepalan tangan.

"Kau harus membayar semua rasa sakit hatiku, Chan."

"Eh?" Chanyeol melongo, tapi ia geli melihat senyum licik Kai yang saat ini sudah berbalik menghadapnya. "Sakit hati apa?"

"Kemarin kau mengusirku, tadi kau tak mendengarkanku, sekarang kau pura-pura polos. Kaupikir itu tidak bikin sakit hati?" Sumpah Chanyeol ingin muntah melihat tampang terluka Kai yang dibuat berlebihan.

"Traktir aku tiga komik, Chan."

"Eh?! Kau pikir Eomma-ku bekerja bahkan sampai tak pulang-pulang hanya untuk membelikanmu komik?" Kali ini Chanyeol benar-benar terlihat ingin melancarkan serangannya. Tangannya sudah terangkat namun sebuah suara lembut penuh wibawa yang memanggil nama Chanyeol sukses menyelamatkan Kai.

Baik Chanyeol maupun Kai segera memutar tubuh. Menemukan sosok cantik dengan pakaian formal tengah berjalan dengan langkah sedikit dipercepat menunju mereka.

"Im Seonsaengnim, ada apa? Ada yang bisa kubantu?" Chanyeol bertanya sopan ketika guru cantiknya yang sempat mengajar dirinya di tahun kedua itu sudah berdiri di hadapannya.

"Bisa kaudatang ke ruang guru?"

Alis tebal Chanyeol menyatu. Begitu pula dengan Kai. Tapi, tidak mungkin ia menolak. "Tentu bisa, Seonsaengnim."

"Kalau kau ingin makan dulu, silakan." Sesaat Chanyeol dan Kai saling tukar pandang. Mereka yakin ada sesuatu yang tidak biasa.

"Kalau begitu, kutunggu di ruang guru." Bahkan, Chanyeol belum sempat bertanya mengapa dirinya dipanggil, tapi guru Im sudah siap meninggalkannya. Pada akhirnya, Chanyeol dan Kai hanya mampu membungkuk dengan wajah bingung.

"Waktu masih diajarkan olehnya saja aku tidak pernah dipanggil ke ruang guru, tapi sekarang aku malah dipanggil. Apa yang mau Im Seonsaengnim bicarakan sebenarnya?" Kai mengangkat bahunya. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menanggapi Chanyeol.

"Kau benar-benar tidak tahu, Kai?" Chanyeol masih penasaran. Matanya yang sedikit berkantung masih memandangi punggung gurunya yang kian kecil.

"Akan kuberi tahu kenapa Im Seonsaengnim memanggilmu kalau aku sudah punya indra keenam. Kau yang dipanggil saja bingung, apalagi aku, Chan!"

Cengiran lebar langsung menghiasa wajah Chanyeol. "Hehe aku pikir tadi pagi kau sudah berubah jadi mutan yang bisa membaca pikiran orang."

"Daripada kau penasaran, aku pun juga jadi lebih penasaran, sebaiknya kau langsung ke ruang guru."

Waktu tetap berjalan selagi Chanyeol menimbang saran Kai. Ia tahu ini berlebihan, tapi Chanyeol harus memikirkannya. Berpikir apa lebih baik mati penasaran atau mati kelaparan meninggalkan jam istirahatnya.

"Ehm... ya sudah, aku langsung ke ruang guru." Putus Chanyeol dengan harapan ia hanya akan bicara sebentar. Jadi, waktu istirahatnya masih tersisa.

.

.

.

Kai berjalan sendiri menuju kantin dengan pikiran penuh. Meski ia berhasil membuat Chanyeol berjanji akan menjauhi Sehun, tapi tidak serta-merta ia jadi tenang. Apalagi rumah mereka benar-benar bersebelahan. Mungkin sama dengan orang lain yang mengenal Sehun, Kai juga tak habis pikir mengapa laki-laki kurus itu menolak disentuh siapa pun.

Beberapa kemungkinan langsung berunculan di kepalanya. Kai menimbang-nimbang. Kalau Sehun memiliki trauma, maka trauma yang seperti apa? Kalau kulitnya sangat sensitif, maka sesensitif apa? Dan kalau ia menderita sakit kulit sehingga akan sangat sakit jika disentuh, itu sangat tidak mungkin. Sehun kan memakai baju. Tidak mungkin juga selama ini ia tidak mandi. Hal-hal itu pasti akan membuat Sehun merasa sakit setiap saat. Namun, yang Kai lihat tidak begitu. Semua kemungkinan yang dibuatnya sendiri terasa kurang masuk akal. Jadi, sambil terus berjalan, Kai berusaha mencari kemungkinan lain yang lebih masuk akal.

Akan tetapi, langkahnya terhenti tepat di belokan koridor dekat kelas Sehun. Telinganya tiba-tiba saja menangkap rumpian gadis-gadis yang menyebut-nyebut nama seseorang yang sejak tadi memenuhi kepalanya. Tanpa pikir panjang, Kai merapatkan diri pada dinding. Bersembunyi dari kumpulan siswi itu dan langsung memutuskan untuk jadi penguping.

"Aku kira hari ini Sehun tidak akan masuk."

"Kenapa mengira begitu?"

"Dia kan kemarin sakit. Memang sudah langsung sembuh?"

"Kenapa kau jadi terdengar perhatian padanya?"

"Dia kan duduk di sebelah tempatku. Jelas aku langsung menyadari kalau ia tidak ada."

"Benarkah begitu? Lalu, kenapa wajahmu memerah?"

Kumpulun gadis itu tertawa riang. Berhasil menggoda salah satu teman mereka. Namun sayangnya, mereka tidak menyadari, di balik dinding yang luput dari penglihatan mereka, ada senior mereka yang diam-diam ikut mendengarkan.

"Kalau aku tidak mau bohong. Sehun itu punya wajah yang cukup menarik. Aku sedikit menyesal kenapa ia bersikap seaneh itu."

"Aku juga berpikir begitu. Saat pertama ia datang memperkenalkan diri, kupikir aku bisa mendekatinya, tapi setelah melihat betapa anehnya ia, aku jadi takut."

"Apa Sehun punya kelainan?"

"Eh?"

Suara khas gadis-gadis yang tengah terheran-heran itu terdengar begitu menarik. Setidaknya, itulah menurut si penguping yang kini semakin merapatkan diri pada dinding. Tak ingin walau hanya sekadar bayangannya yang terlihat oleh kelompok perumpi itu.

"Kelainan apa? Semacam sindrom, begitu?"

"Sindrom apa? Aku tidak pernah mendengar ada sindrom ataupun kelainan seseorang tidak mau disentuh orang lain."

"Mungkin memang ada, tapi kitanya saja yang tidak tahu."

Percakapan tentang dugaan kelainan dan sindrom itu nyatanya membuat Kai yang masih dalam persembunyiannya itu ikut berpikir keras. Menerka benarkah seperti itu keadaannya.

"Sebenarnya ada yang ingin aku katakan."

"Katakan saja. Kenapa harus terlihat ragu begitu?"

"Ehm... entah kenapa, selama ini aku punya keyakinan bahwa Sehun menderita sakit."

Sebuah keyakinan itu sukses mengundang keingintahuan orang-orang yang tergabung dalam percakapan itu. Setiap kening bersih itu berkerut dalam, tetapi yang paling dalam adalahmilik Kai.

"Sakit? Maksudmu penyakit? Penyakit apa?"

"..."

"Jangan terlihat ragu begitu. Ceritalah sampai lengkap atau nantinya malah timbul kesalahpahaman."

"Sehun... kupikir dia... terkena AIDS."

"Ehhhh?"

Buru-buru Kai menutup mulutnya. Sadar suaranya tidak boleh ikut berpadu dalam pekikan gadis-gadis itu. Kakinya terasa lemas, tapi ia tidak membiarkan tubuhnya jatuh ke lantai. Kai hanya membiarkan pikirannya saja yang mengingat-ingat perihal penyakit mengerikan itu. Ah... tidak! Tidak! Mengerikan dan memalukan, menurutnya.

"Kenapa kau bisa berpikir sejauh itu?"

"Kalian saja bisa berpikir Sehun terkena kelainan atau sindrom. Kenapa aku tidak bisa berpikir Sehun terkena penyakit mengerikan itu?"

"..."

"Teman Oppa-ku ada yang dikucilkan karena terkena penyakit itu. Tidak ada yang berani menyentuhnya. Semua orang takut tertular. Orangtuanya bahkan selalu menjaga jarak dengannya. Bisa saja Sehun seperti itu, kan? Hanya saja ia tidak mau mengakuinya, tapi ia sadar tak ingin orang lain tertular. Oleh karena itu, ia lebih memilih menjauhkan diri dan menolak disentuh orang lain."

"Benar. Kau benar. Itu semua masuk akal. Benar-benar masuk akal."

"Ya Tuhan, bagaimana bisa..."

"Kenapa tidak bisa? Kita tidak tahu seperti apa Sehun dan kehidupannya. Di sini tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Sehun."

"Aku juga tidak mau munafik. Kubilang Sehun itu tampan. Sangat tampan malah, tapi kalau punya penyakit semengerikan itu, siapa juga yang mau dengannya. Untunglah dia sadar dan menjauhkan diri dari orang lain."

"Kalau semua itu benar..."

Kalimat itu sengaja dibuat menggantung, seolah sengaja pula membuat debaran jantung itu menggencar. Kai tidak tahu sejak kapan keringat dingin mulai lolos dari lubang pori-porinya. Satu hal yang pasti, firasat buruk telah tiba di depan pintu hatinya. Sudah mengetuk-ngetuk berulang kali, tapi Kai masih membiarkan mereka di luar. Enggan menerima karena ia tahu akan menjurus ke mana kalimat itu.

"Apa? Kalau semua itu benar lalu kenapa?"

Yak! Pertanyaan yang sejak tadi juga menjerit dalam hati Kai terwakili sudah. Bagus!

"Kalau semua itu benar, lalu dua Sunbae yang kemarin membantu Sehun... mungkinkah mereka tertular?"

Lemas. Kai merasa tulang kakinya baru saja melebur.

"Tidak. Aku yakin tidak semudah itu untuk tertular."

"Tapi kita tidak tahu apa saja yang dilakukan Sunbae itu untuk menolong Sehun."

"Dia hanya menggendong Sehun sampai ruang kesehatan."

"Lalu? Kau yakin itu saja?"

"..."

"Kau tidak tahu, kan? Tidak ada yang tahu, kan?"

"Di antara kita dan yang lainnya tidak ada yang tahu ada apa dengan Sehun sebenarnya. Kita juga tidak tahu apa yang Sunbae itu lakukan untuk menolong selain menggendongnya ke ruang kesehatan. Tidak menutup kemungkinan ada hal yang tidak disadari yang bisa membuat Sunbae itu ikut tertular. Iya, kan?

.

.

.

"Kudengar kemarin kau membantu murid kelasku yang pingsan."

"Ehmm.. maksud Seonsaengnim adalah Sehun?"

"Ya, Song Sehun."

"Hanya sedikit bantuan. Kemarin aku pas sekali sedang melewati kelasnya dan melihat kejadian itu. Kebetulan juga Sehun tetanggaku dan aku mengenal Appa-nya."

"Oh, benarkah? Kau tetangga Sehun? Kau kenal baik dengan Appa-nya?"

"Ya. Aku kenal baik dengan Appa-nya. Maaf, Seonsaengnim, tapi sebenarnya ada apa? Kenapa tiba-tiba membicarakan tentang Sehun denganku?"

"Bertahun-tahun aku mengajar. Banyak kasus di kelas yang pernah kutemui. Murid dengan catatan buruk pun pernah kutangani, tapi tidak ada yang sesulit Sehun."

"Maaf, tapi aku benar-benar tidak mengerti mengapa tiba-tiba Seonsaengnim bicara begini padaku."

"Intinya, kau harus membantuku."

"Membantu? Maksud Seonsaengnim apa?"

"Tolong bantu aku. Bantu aku mengetahui masalah Sehun."

.

.

.

Chanyeol merenung sebentar sambil bersandar pada dinding. Pertama, ia tak pernah menyangka alasan Guru Im memanggilnya justru karena satu nama, Song Sehun. Kedua, satu pertanyaan tiba-tiba saja muncul dan ia bingung untuk menjawab. Pertanyaan tentang dirinya yang tahu-tahu harus terlibat dalam hidup junior dinginnya yang seorang piatu.

Kalau dipikir, memang Sehun siapa? Rasanya tidak ada ikatan darah di antara mereka. Lalu, kenapa Chanyeol harus sibuk mengorek sesuatu yang bukan urusannya?

Cukup lama Chanyeol memikirkan itu. Sampai akhirnya suatu kilas balik memenuhi kepalanya . Mulai dari hari pertama ketika ia bertemu Sehun hingga saat kemarin ia menunggui bocah itu saat sakit. Chanyeol terus mecari tahu namun lambat-laun ia menyadari satu hal. Ia terlibat karena ia yang ingin, karena ia yang sebenarnya penasaran, dan karena dirinya sendiri yang menjebloskan diri dalam hidup Sehun. Sebab, jika dirinya memang tak ingin, ia pasti sudah mundur sejak awal karena ia bisa melakukan itu. Ia mungkin tetap akan membawa Sehun pulang, tapi ia tak akan sibuk penasaran tentang suara aneh yang ternyata hanya kardus jatuh. Pikirannya juga tak akan penuh menebak-nebak mengapa Sehun menangis dan mengapa bocah itu amat keras kepala tak mau disentuh. Jadi, semua berjalan seperti ini karena dirinya sendiri.

Setelah puas mencari jawaban, Chanyeol melirik jam tangan hitamnya. Waktu istirahat masih cukup untuk pergi ke kantin dan makan, tapi entah kenapa seluruh nafsu makanya menguap. Ia merogoh kantung celana seragamnya untuk menemukan poselnya. Sepertinya, untuk pertama kalinya, Chanyeol tidak ingin ke kantin. Ia akan mengirim pesan pada Kai agar tidak usah menunggunya di sana. Namun, baru hendak membuka tombol kunci, satu pesan masuk justru datang dari Kai.

"Eh, kenapa malah ia duluan yang mengirimiku pesan?" Chanyeol bertanya sendiri. Ia sedikit merapat pada dinding koridor yang memang agak sepi.

Chan, aku akan ke kalas. Jangan mencariku di kantin hehee

"Ish, semakin hari ia semakin tidak setia kawan. Belum apa-apa sudah meninggalkanku, tapi kenapa jadi pas begini? Aku tidak mau ke kantin dan dia sudah pergi duluan." Tak sampai sedetik Chanyeol langsung menyadari betapa salah besar kata-katanya. Bisa-bisanya ia bilang Kai tidak setia kawan, sementara dirinya sendirilah yang sudah berjanji palsu

Chanyeol yakin, setelah ini hidupnya akan seperti pembunuh bayaran. Penuh rasa tidak tenang. Ia sudah membuat janji pada dua orang, tapi parahnya adalah dua janji itu bertolak belakang. Kai memintanya menjauhi Sehun, sementara Guru Im justru memohon bantuannya mengorek masalah Sehun. Chanyeol semakin uring-uringan. Rasanya ada banyak malaikat di belakangnya yang tengah sibuk menuliskan dosa-dosanya.

"Chanyeol Sunbae, tunggu sebentar." Chanyeol yang sudah ambil langkah refleks berhenti, tapi ia belum menoleh ke belakang. Beberapa saat ia mencoba mengingat siapa pemilik suara bernada sedatar itu. Dan, ketika satu nama melintasi otaknya, bulu tengkuk Chanyeol justru meremang.

Akhirnya Chanyeol menoleh. Benar, kan! Sesuai tebakannya, namja itu yang memanggilnya.

"Oi, Sehun." Sehun berhenti di depan Chanyeol, tapi tak acuh saat seniornya itu balik menyebut namanya.

Sejujurnya Chanyeol sedikit menyesal mengapa di saat seperti ini Sehun justru muncul. Ada satu-dua hal yang ingin ia tanyakan tentang kejadian kemarin. Namun, di sisi lain ia juga takut Kai memergokinya sedang berdekatan bahkan berbicara dengan Sehun.

"Hari ini kaumasuk? Memang sudah sehat?" Chanyeol berusaha santai, tapi matanya melihat was-was ke sekeliling. Takut tiba-tiba ada Kai yang melihatnya.

"Aku sehat, Sunbae."

"Yah, tapi menurutku walaupun kau sudah merasa sehat, tetap lebih baik istirahat dulu di rumah. Kemarin kaupingsan lama sekali."

"Aku hanya ingin bilang terima kasih kau telah membantuku kemarin." Meski yang diucapkannya adalah rasa terima kasih, tapi Chanyeol sama sekali tak merasakan kehangatan Sehun.

"Sama-sama. Selain kau hoobae-ku, kita kan juga bertetangga."

"Tapi, lain kali kau tidak usah membantuku lagi, Sunbae," ujar Sehun dengan tampang lempengnya. Ia tidak tahu kalau ekspresinya yang seperti itu adalah hal yang membuat Chanyeol ingin sekali mencekiknya. "Kautahu kan, Sunbae, aku tidak suka disentuh orang lain," imbuhnya.

"Bocah sinting!" umpat Chanyeol dalam hati. Tiba-tiba ia teringat sumpahnya kemarin saat membawa Sehun pulang dalam keadaan pingsan. Kemarin ia bersumpah akan merobek mulut bocah itu kalau masih berani bilang aku tidak suka disentuh orang lain. Tapi sayangnya, percakapannya dengan Guru Im tadi bagaikan garis kuning yang menahannya untuk melakukan hal tersebut.

"Kau harus tahu, aku benar-benar sedang minta tolong padamu, Sunbae. Aku tidak suka dan tidak ingin disentuh orang lain. Tolong mengerti itu, Sunbae."

Chanyeol tertegun, tapi ia tahu ada sesuatu yang baru saja menyentil hatinya. Kali ini ia yakin tidak sedang melihat sosok Sehun yang sok kuat, melainkan sisi lemah namja itu yang sedang berusaha ditutupi.

"Dari matanya aku tahu Sehun kesepian. Aku bisa merasakan anak itu sebenarnya ingin bergaul dengan teman-temannya yang lain, tapi aku tidak tahu kenapa Sehun seakan menahan keinginannya."

Kata-kata Guru Im tadi tiba-tiba saja terulang dalam ingatannya. Justru membuat ia merinding sekaligus mengiba.

"Sehun," sebut Chanyeol sambil menatap lekat mata Sehun. Ia tak peduli meski aura dingin remaja itu bisa membekukannya. Tak masalah juga kalau ada kata-kata tajam Sehun yang keluar untuknya.

Terdengar napas pelan Sehun yang begitu tenang. Walau matanya masih amat sayu, tapi Sehun tak takut untuk balas melihat seniornya itu. "Aku percaya, setiap orang memiliki ruang pribadi yang tidak ingin orang lain mengusiknya. Begitu juga kau dan aku."

Getar dalam hati Chanyeol tak bisa dipungkiri. Ia sadar Sehun tidak sedang bersyair apalagi bernyanyi lagu sedih, tapi entah kenapa tiap katanya yang keluar membuat sekujur tubuh Chanyeol gemetar.

Alih-alih menjauhkan pandangannya dari Sehun, Chanyeol malah semakin berusaha menenggelamkan diri dalam manik gelap itu. Seolah dirinya telah siap seutuhnya menyusuri palung suram hidup Sehun.

"Aku tahu aku bukan guru yang baik dalam masalah ini, tapi aku benar-benar berharap kaubisa membantuku. Teman-teman Sehun menjauhinya, aku dan pengajar lain pun sulit mengajaknya bicara. Sepertinya hanya kau yang bisa melewati batas-batas yang Sehun buat."

"Aku seorang pengajar sekaligus seorang Eomma. Aku tidak bisa melihat ada seorang anak yang hidup dalam situasi sulit seperti Sehun. Sehun adalah remaja biasa. Ia butuh bergaul."

"Meski kau masih muda dan masih berstatus pelajar, tapi kuharap kau bisa mengerti perasaanku sebagai seorang guru sekaligus orangtua."

"Aku akan tetap berusaha mendekati dan mengajak Sehun bicara, tapi aku ingin kau juga berjanji akan membantuku."

Chanyeol mengingat jelas semuanya. Tak ada satu bagian pun yang bisa ia lupakan. Bahkan, ia ingat betul bagaimana mata indah Guru Im berkaca-kaca sambil menatapnya. Semua itu membuat dirinya semakin sadar mulai hari ini ia hidup tidak hanya untuk memikirkan dirinya sendiri. Ada kehidupan Sehun yang akan berusaha ia masuki juga.

"Chanyeol Sunbae, walaupun kau Sunbae sekaligus tetanggaku, dan sekalipun kau dekat dengan Appa-ku, tapi tidak denganku. Kau melanggar ruang pribadiku. Aku berhak memintamu berhenti melakukannya. Saat ini aku tidak hanya sedang meminta padamu, tapi aku juga sedang memohon padamu. Kuharap kau mengerti."

Kalau ini adegan drama, Chanyeol akan meminta pada sutradara untuk mengganti adegannya menjadi lebih ceria. Kalau dirinya seorang tokoh utama yang kekasihnya sedang memohon agar dirinya pergi saja, Chanyeol juga akan meminta agar sang penulis skenario membuat kekasihnya berhenti melakukan hal tersebut. Dan kalau saja dirinya menjadi makhluk yang paling disayang Tuhan, Chanyeol akan berani meminta agar garis hidup Sehun diluruskan saja. Tidak usah sampai rumit begini.

"Song Sehun, tolong kaudengar aku." Gerak tangan Chanyeol yang hendak memegang pundak Sehun berhenti di udara. Tak lama kemudian jatuh lemas di sisi kanan kiri tubuhnya. Ia teringat akan batas yang Sehun buat. Untuk hari ini ia tak akan menerobos batas itu, tapi ia tahu ini tidak berlaku untuk hari-hari kemudian.

"Dengar, Sehun! Kau har-" Dan kalimat itu pun harus rela terpotong karena penglihatan Chanyeol sendiri. Jantungnya mendadak terkena serangan. Entah serangan apa, yang jelas detakannya sangat cepat dan keringat dingin mulai keluar dari pori-pori tangannya.

"Mati kau, Chan! Di sana ada Kai."

.

.

.

Ketakutan baru saja memakan habis keberanian sekaligus keyakinan Kai. Selama ini ia hanya terlalu sibuk mengingat bahwa tidak ada yang tahu ada apa dengan Sehun sebenarnya, sementara itu ia justru melupakan mengenai kemungkinan apa saja yang sudah Chanyeol lakukan pada Sehun—maksudnya pertolongan apa saja. Kai yakin, banyak hal yang ia lewatkan, tapi sekuat mungkin ia menggusur semua pikiran buruk itu.

Ia berjalan meski tak benar-benar memerhatikan langkahnya. Upaya penggusurannya kalah tenaga karena pikiran buruk yang datang terlalu banyak. Pada akhirnya, Kai harus merelakan jantungnya berdetak cepat karena ketakutan. Ia tahu, apa yang baru saja didengarnya itu hanyalah sebuah selentingan. Hanya saja, selentingan itu begitu tangguh untuk menguasai dirinya. Dan hal yang dibicarakan beberapa siswi itu sialnya memiliki kemungkinan sangat besar untuk terjadi.

Chanyeol.

Sahabatnya.

Kawan terbaiknya.

Saudaranya.

Kai benar-benar tidak sanggup menerima kenyataan bila hal buruk menimpa Chanyeol. Ini pasti bayangan terburuk yang pernah ia miliki tentang Chanyeol. Jadi, mulai sekarang Kai tak putus berdoa agar hal itu memang benar hanya menjadi sekadar bayangan, bukan kenyataan.

"Hei, Kai!"

Kai nyaris kehilangan keseimbangannya. Dengan sedikit ekspresi tegang yang sulit disembunyikan, Kai menoleh ke belakang. Melihat seseorang yang baru saja menubruknya dari belakang—walau sebenarnya ia sudah tahu siapa orang itu dari suaranya.

"Eh, wajahmu kenapa?"

Kai bergeming beberapa saat. Sebisa mungkin ia mengubah ekspresinya menjadi lebih santai. "Kenapa dengan wajahku? Semakin tampan? Itu kan memang mutlak terjadi padaku."

Bisa didengar dengan jelas oleh Kai suara erangan ingin muntah dari sahabatnya. Sontak ia pasang tampang pembunuh—setidaknya ini juga bisa sedikit menutupi kegelisahannya.

"Kau justru terlihat seperti habis melihat musuh Ultraman hidup kembali."

"Aku kaget, bodoh! Kau kira dipanggil tiba-tiba, lalu ditubruk dari belakang tidak cukup membuatku kaget, huh?" Chanyeol hanya merengut. Tak ada keinginan untuk melancarkan serangan balasan seperti yang biasa ia lakukan. Terlalu banyak hal-hal yang memberatkan pundaknya sehingga rasanya ia kurang bersemangat.

"Eh, kau sudah selesai bertemu Im Seonsaengnim?" Suara Kai yang khas bertanya tiba-tiba.

Mendadak sepasang tangan mencekik tenggorokan Chanyeol. Kali ini gantian ia yang gelisah. "Kau lihat aku sudah berdiri di depan, pastinya aku sudah selesai bertemu dengan Im Seonsaengnim, kan?"

"Lalu, apa yang kalian bicarakan sebenarnya?"

Deg

Sungguh, sejak keluar dari ruang guru pun Chanyeol sudah yakin Kai akan bertanya seperti ini, tapi bodohnya, Chanyeol tidak buru-buru mencari alasan mengapa Guru Im memanggilnya. Jujur tentu bukanlah pilihan yang tepat saat ini, meski di ajaran manapun menganjurkan agar umatnya selalu jujur.

"Im Seonsaengnim hanya sedikit meminta bantuanku."

"Bantuan apa?"

Setetes keringat meluncur dari pelipis kanan Chanyeol. Rasanya keringat itu mengandung suhu dingin di bawah nol derajat hingga sekejap saja mampu membekukan otaknya.

"Im Seonsaengnim... dia hanya meminta bantuanku untuk membawakan beberapa buku ke perpustakaan."

"Bagus, Chan! Alasanmu benar-benar brilian, sampai-sampai sangat diragukan apa bisa dipercaya oleh Kai atau tidak."Chanyeol merutuk sendiri dalam hati. Namun,ia mencoba bertahan menatap Kai. Ia takut, jika dirinya menunduk, justru membuat Kai makin bertanya-tanya. Ia ingin terlihat berani, tapi lebih tepatnya ingin terlihat meyakinkan.

"Kenapa hanya kau? Kenapa aku tidak? Kenapa harus kau? Kenapa tidak orang lain saja?"

Rasa-rasanya, kalau otaknya tak mencair juga dan menemukan jawaban bohong paling masuk akal, sengaja menenggelamkan diri di sungai Han adalah pilihan yang perlu Chanyeol coba.

"Yak! Mana aku tahu. Harusnya kau tanyakan itu pada Im Seonsaengnim, bukan padaku."

Kai tak mengatakan apa-apa lagi. Namun, manik matanya yang jernih segera menyelidik sahabatnya yang kini sudah mengalihkan pandangan ke arah lain. Hatinya mendadak sedih dan kecewa karena Kai teringat obrolan gadis-gadis teman sekelas Sehun tadi. Obrolan itu tak hanya tentang Sehun, tapi juga tentang Chanyeol. Terlebih, ada satu hal dari apa yang ia dengar tadi yang secara tak sengaja memberi tahu Kai bahwa Chanyeol baru saja berbohong.

.

.

.

Meski percakapan itu sudah cukup membuat Kai hampir kehilangan napas, tapi toh ia tetap bertahan untuk lanjut mencuri dengar. Tidak boleh ada satu pun yang terlewatkan. Walau sakit, tapi ia memerlukan banyak kemungkinan agar alasannya semakin jelas untuk meminta Chanyeol menjauhi Song Sehun.

"Tapi, menurut kalian, untuk apa Im Seonsaengnim diam-diam menanyakan tentang Sunbae yang menolong Sehun kemarin?"

Alis hitam tebal Kai langsung terpaut. Mendengar siswi itu menyebut Guru Im membuat dirinya bereaksi cepat. Dengan sendirinya Kai membuat simpulan, mengenai pemanggilan Chanyeol oleh Guru Im.

"Pasti Im Seonsaengnim ingin menanyakan tentang Sehun. Itu kan wajar dilakukan seorang wali kelas."

"Mungkin juga Im Seonsaengnim terlalu kaget mendengar berita kemarin."

"Aku pikir, kalau saja kejadian kemarin bukan di saat jam sekolah sudah usai dan di antara kita ada yang berani melapor pada Seonsaengnim, aku yakin Im Seonsaengnim juga akan melakukan hal yang sama dengan Sunbae itu."

"Tadi kau bilang siapa nama Sunbae itu?"

"Chanyeol Sunbae."

"Ah, iya. Padahal namanya mudah diingat, ya. Untung kautahu namanya. Jadi, bisa memberitahu Im Seonsaengnim. Kalau saja kau tidak tahu, kasihan Im Seonsaengnim akan lebih kesulitan nantinya."

"Kebetulan aku melihat badge namanya kemarin."

"Kau melihat dan sengaja mengingatnya karena kau menyukainya. Begitu? Hahaha…"

"Tidak, tidak. Bukan begitu. Lagi pula aku tidak mau dekat-dekat dengan Chanyeol Sunbae. Ia terlalu dekat dengan Sehun. Kalau kemungkinan Sehun terkena penyakit mengerikan itu adalah kebenaran, Chanyeol Sunbae bisa saja tertular."

"Ah, itu mengerikan sekali. Mereka berdua bisa dikucilkan seperti teman Oppa-ku."

Kai geram. Sangat geram. Akan tetapi, sejujurnya ia bingung harus merasa marah terhadap siapa. Siswi-siswi itu? Dirinya sendiri? Sahabatnya, Chanyeol? Atau... Song Sehun?

Ah, iya! Sehun.

Song Sehun.

Ya, Song Sehun.

Orang itulah kandidat terkuat yang akan menjadi sasaran tengah kemarahan Kai.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Chapter 4 ini sedikit lebih panjang dari chapter-chapter sebelumnya. Alurnya pun maju-mundur dan saling sambung. Semoga masih mudah dimengerti, tapi kalau bingung, bisa ditanya lewat kolom review atau PM hehe.

Buat yang menebak-nebak sosok Kai, mudah-mudahan chapter ini bisa menjelaskan gimana sosok Kai itu. Gimana sikap dan sifat dia ke sahabatnya, Chanyeol.

Maaf, bagian Sehun masih sangat sedikit. Tapi, entah di chapter keberapa, pasti akan ada bagian yang full Sehun. Janji ^^b

Kolom Review terbuka lebar buat kritik, saran, dan apa pun yang mau kamu bilang tentang Something Curious chapter 4 ini.

Makasih buat yang udah baca apalagi review, favorite, dan follow. Makasih banget.

Oiya, apa ada di antara kalian yang akan nonton The EXO'luxion tanggal 27 Februari nanti?

Cheer^^