xXx_xXx

"Playing Secret"

By: Shu AliCieL

Vocaloid©Yamaha, Crypton Future Media and others

Chapter 4

xXx_xXx

Cantik, pintar, kaya raya, multi-talent. 'Sempurna' adalah satu kata yang tepat mendefinisikan penyanyi bersuara husky yang menawan, Luka Megurine.

Luka Megurine. Anak kedua dari keluarga Megurine yang terkenal sebagai seorang penyanyi remaja. Dengan otaknya yang jenius, ia lulus SMA di usia yang sangat muda-…

Oh, maaf. Sepertinya kalian sudah pernah melihat paragraf itu sebelumnya.

Mari kita lihat daftar dari bakat-bakat yang mampu dilakukan oleh Luka. Tapi…tidak, ah! Bisa-bisa satu chapter ini hanya berisikan itu saja!

Multi-talent! Sampai kusebutkan dua kali. Tapi…hey, tidak ada orang yang benar-benar sempurna yang bisa melakukan segala hal. Lalu…kira-kira hal apa yang tidak bisa dilakukan penyanyi jelita kita itu? Ada yang bisa menebak? Oh, ayolah, ini mudah! Kuberi satu hint: berhubungan dengan dapur.

Nah, pasti sudah tau sekarang. Memasak. Luka Megurine tidak pernah bisa memasak. Fufufu…aku memang ratu gosip. Ssst…diam saja, ya. Hal ini juga belum pernah terungkap di media manapun, lho!

Luka sempat meratap kenapa ia tidak bisa memasak, padahal pernah berguru pada seorang chef handal sebelumnya. Sedangkan Kaito—yang tidak Luka ketahui dari mana sejarahnya ia dapat memasak—mampu menyulap sebutir telur menjadi makanan layaknya dibuat oleh chef restoran bintang lima.

"Padahal cuma omelette saja, kenapa enak sekali?" pikirnya heran sambil memotong-motong sebuah wortel.

"Wortelnya sudah selesai, Luka?" Luka pun disadarkan berkat teguran dari Kaito yang hari ini mengajarinya memasak spring roll.

"Sebentar lagi..." jawab Luka seadanya

"Aku selesai memotong ayamnya. Kalau kau selesai, yang di dalam panci ini juga diiris semua, ya," Kaito menyerahkan sebuah panci berisi sawi putih, daun bawang beberapa bahan lain yang baru dicuci Kaito.

"Baik, Kaito-"

"Hei, kau lupa panggilannya."

"Hufft…Ya, sensei…" kata Luka dengan agak jengkel.

"Hahaha! Bagus, bagus…" Kaito lalu beranjak ke depan lemari dapur tempat menyimpan bumbu.

"Bakaito…" bisik Luka sepelan mungkin hingga Kaito tidak bisa mendengarnya.

Inilah yang diminta tolong oleh Luka kemarin. Minta diajari memasak. Mumpung dia masih libur dari segala pekerjaan sampai tiga hari ke depan.

"Umm, Kaito."

"Ya? Hei, panggilan 'sensei'-nya hilang lagi!" tidak mempedulikan Kaito protes, Luka lanjut bicara.

"Apa pelajaran memasak ini juga bagian dari pekerjaanmu sebagai bodyguard-ku?"

Kali ini Kaito yang masih berjongkok di depan lemari langsung menoleh ke arah Luka

"Maksudmu?"

"Kau disewa sebagai bodyguard oleh ayahku, pastinya tidak gratis, kan? Apakah kalau ada pelajaran memasak seperti ini kau akan meminta biaya tambahan?"

Wajah mereka berpandangan, keduanya diam dan berekspresi datar. Kaito lalu menghela nafas dan bangkit menghampiri Luka sambil membawa bahan-bahan yang dikeluarkannya dari lemari.

"Kalau kau tanya, sih…aku tidak menerima bayaran apapun dari ayahmu."

"Yang benar?"

"Aku tidak akan dibayar sampai masalah utamamu selesai. Itu sudah kontraknya."

"Saat itu kau tidak tau bagaimana sifat klienmu, kan? Lalu setelah tau kalau aku sering bad temper begini, apa kau mau berhenti?"

"Aku sama sekali tidak tau kau bicara apa, Luka."

"Haah…sudahlah! bicara denganmu bakal bertele-tele, mungkin disebabkan otakmu cuma setingkat pentium dua!" Luka menggerutu dan mengibaratkan kemampuan otak Kaito seperti processor sebuah komputer.

Kaito sih diam saja. Dihina oleh Luka sudah jadi makanan sehari-hari. Ia sudah terbiasa.

"Luka… Hei, dengar dulu sini."

"Apa?" Luka pun menoleh dan terkejut ketika tiba-tiba saja Kaito menunduk dan men-sejajarkan wajah mereka.

"Aku mau mengajarimu karena kau memintanya. Dan aku ingin mengabulkan permintaanmu. Itu saja," ucap Kaito sambil senyum.

Luka diam saja, juga sedikit tersipu. Sebenarnya ia malu karena wajah Kaito terlalu dekat dengannya.

"I-iya, iya! Tapi wajahmu juga tidak perlu dekat-dekat begitu, kan!" Luka pun mendorong wajah Kaito menjauh, lalu kembali ke pekerjaannya agar tidak terlalu kelihatan ia sedang malu saat ini.

"Hei, pelan-pelan saja memotong sayurnya, nanti kena jarimu."

Ayolah Kaito, Luka itu sudah biasa bermain pedang, anggar, judo. Soal memotong atau menebas, dia tidak mungkin salah perkiraan arah dan tiba tiba memotong tangannya sendiri…

SRET!

"Aduh…jariku…"

Ah…tentu, manusia punya masa-masa khilafnya…

Kaito pun cuma bisa geleng-gelang kepala melihat Luka yang sedang memegangi jarinya yang berdarah karena sedikit terpotong.

"Sini, coba kulihat," Kaito menarik pergelangan tangan Luka dan mengamati jari telunjuknya yang terpotong.

"Cukup dalam juga, ya… Kalau cuma pakai plester, tidak berpengaruh banyak."

Kaito lalu mengambil beberapa lembar tisu untuk memperlambat darah yang mengalir keluar dari telunjuk Luka.

"Tahan dulu, ya. Dan tunggu di sini, aku ambilkan perban untukmu," Kaito pun bergegas mengambil kotak P3K yang memang disediakan di dapur itu oleh Haku. Ia mengambil sebuah perban, sebotol alkohol dan plester lalu kembali ke sisi Luka. Kaito membuka botol alkohol tersebut, namun Luka mencegahnya.

"Tidak usah pakai alkohol. Cuma luka kecil begini…"

"Bilang saja kau tidak tahan sakitnya."

Luka langsung cemberut, dan Kaito nyengir. Kaito lalu menggiring Luka ke depan wastafel lalu membersihkan lukanya dengan air yang mengalir dari keran.

"Aduh…sakit.." Luka sedikit meringis saat merasakan perih di jemarinya. Namun Kaito tidak menanggapinya.

"Orang ini…sangat tidak romantis!" pikir Luka.

Sekilas tadi Luka membayangkan sebuah cerita ber-genre percintaan yang pernah ia baca. Teringat bagian ketika jemari si wanita terluka, lalu si pria menjilat darah dari jari yang terluka itu dan suasana berubah menjadi romantis dengan background warna pink bling-bling dan blablabla tidak usah dijelaskan lebih lanjut juga readers sekalian pasti tau bagaimana, kan?

"Orang seperti ini pasti tidak pernah punya pacar…" bisik Luka dengan sangaaat pelan. Namun Kaito yang berada tepat di depannya, bisa mendengar bahwa ia menggumamkan sesuatu.

"Kau berkata sesuatu?"

"Ah, tidak…" Luka berkelit, memalingkan wajahnya dari hadapan Kaito.

"Sudah selesai," ucap Kaito lagi.

"Cepat juga…" pikir Luka. Luka terus melamun tanpa sadar kalau Kaito telah selesai memasang perban di jarinya. Dan detik ketika ia menyadari apa yang baru saja ia khayalkan, membuatnya malu sendiri.

"Uh…terima kasih, ya, Kaito…" Luka mendongak dan mengucapkan kalimat itu sambil menatap Langsung Kaito, meskipun tanpa senyum. Namun Kaito-lah yang tersenyum membalasnya.

"Tidak masalah, tapi…" Kaito lalu mengangkat tangan Luka yang habis ia perban tadi.

"…lain kali hati-hati, jangan sampai terluka lagi, ya?" lalu ia mencium jari yang dibalut perban itu.

Entah apa yang membuat Luka tidak bereaksi apapun. Dia hanya diam di sana, memperhatikan Kaito yang sedang mencium jemarinya—dengan khidmat, sepertinya, karena Kaito juga menutup matanya. Biasanya Luka akan berteriak, berontak, atau memaki. Namun entah mengapa kali ini ia hanya diam dengan sedikit rona merah di kedua belah pipinya.

Mungkin karena ini sangat diluar dugaan Luka yang terlanjur mem-vonis Kaito sebagai 'Pria Tak Romantis', nyatanya Kaito adalah seorang 'Pria yang Tak Dapat Ditebak'. Terkadang Kaito bisa melakukan hal-hal manis seperti ini.

"Luka, kau tidak marah?" ucap Kaito dengan tiba-tiba, merusak suasana.

"E-eh? A…" Luka berkedip-kedip tanda agak sedikit 'nggak konek'.

"Biasanya kau langsung marah-marah, seperti waktu aku mendekatkan wajahku tadi. Kalau diam begini kau terlihat lebih manis, loh!"

Akhirnya Luka cuma menggaruk-garuk belakang lehernya—yang sebenarnya tidak gatal—sambil masih sedikit tersipu.

"Sudah ah, cukup bercandanya. Kita lanjutkan saja masaknya. Tapi…jarimu luka begitu tidak apa-apa, kan?" tanya Kaito yang kembali mengambil pisau, berniat menuntaskan pekerjaan mereka memotong bahan-bahan untuk membuat spring roll.

"Iya…" Luka juga mengambil pisau yang tadi ia gunakan untuk memotong dan juga beberapa lembar sawi putih. Namun apa yang dilakukannya dengan itu? Tidak ada. Luka hanya terdiam di sana dan pikirannya entah ada di mana.

"Hei, Luka. Kenapa diam saja? Jarimu yang teriris tadi masih sakit?" tanya Kaito sedikit khawatir.

Luka pun baru tersadar kembali setelah Kaito menegurnya. Dan dari jawabannya yang terbata-bata, ketahuan sekali kalau tadi pikirannya sedang tidak ada di tempat.

"A-ah, aku… Tidak. Sudah tidak sakit, kok."

Sebenarnya Kaito masih agak khawatir. TapiLuka sudah bilang begitu, ya mau bagaimana lagi?

"Biar aku saja yang melanjutkan memotongnya. Kau tolong panaskan minyaknya saja, ya?"

"Baiklah…" Luka pun membiarkan Kaito mengambil sawi putihnya. Ia lalu mengambil minyak goreng dan minyak wijen yang sudah disediakan Kaito, menyiapkan frying pan dan memanaskannya di atas kompor. Namun saat menunggu minyaknya panas, ia melamun lagi.

"Luka, berhentilah melamun. Kau membuatku takut," Kaito menegur kembali.

"Hei, Kaito. Tentang hal yang kau katakan tadi…" kata Luka dengan tiba-tiba.

"Hal yang ku katakan? Yang mana?" Kaito berkata sambil memasukkan jahe an bawang putih yang sudah teriris halus ke dalam frying pan karena ternyata minyaknya sudah cukup mendidih.

"Kau bilang kalau diam, aku terlihat lebih manis…"

Kaito pun terdiam seketika. Entah apa yang membuat Luka bisa berkata seperti itu tanpa rasa malu atau segan yang biasa ditunjukkan oleh gadis tsundere. Sepertinya ia tidak sadar apa yang diucapkannya barusan.

Inginnya Kaito membalasnya dengan "Luka, kau serius?" tapi diurungkannya. Ia pun terkekeh kecil sebelum menjawab Luka.

"Jadi kau diam begitu karena ingin terlihat lebih cantik?"

"Bukan itu maksudku," jawab Luka sambil menghela nafas.

"Sepertinya aku lebih sering marah-marah dan judes padamu. Kau jadi menganggapku orang yang sadis dan kejam, juga sering mengataiku 'iblis' kan? Diriku jadi terkesan sangat buruk."

"Sebenarnya aku tidak berniat begitu. Hanya saja …berada di dekatmu membuatku merasa…entahlah. Lebih sering aku jengkel dan emosi, tapi aku yakin tidak sepenuhnya benar…"

Sebenarnya daripada bercerita, ini lebih terdengar seperti orang yang meracau tidak jelas.

"Ada sesuatu yang membuatku serasa ingin 'meledak' jika di dekatmu. Seperti rasa bergejolak. Dan mungkin aku hanya bisa mengutarakannya dengan marah-marah tidak jelas. Tapi hal ini sebenarnya…"

Dari tadi Luka bicara sambil menunduk, dan berhenti ketika melihat ekspresi Kaito yang…terperangah. Memang tidak biasanya Luka mengutarakan sesuatu dengan blak-blakan seperti ini. Juga jarang sekali ia bicara panjang-lebar tentang apa yang dirasakannya.

Dan saat sadar akan kalimat-kalimat yang sudah ia keluarkan, Luka hanya bisa ber-facepalm-ria. Tentunya setelah itu wajanya juga memerah, seperti biasa.

Setelah itu, keadaan di dapur itu sangat hening.

Kaito tetap pada ekspresi terperangah, menatap Luka dan sedikit membuka mulutnya. Sedangkan Luka tetap menutupi matanya dengan satu tangan, sambil meringis meratapi mengapa ia harus mengatakan kalimat-kalimat sensitif nan memalukan di depan Kaito.

"A-anu… Lupakan saja semua yang ku katakan tadi dan tolong bersikaplah seperti aku tidak pernah mengatakan apapun dari mulutku ini. Sekarang ayo kita lanjut memasak..."

Luka berjalan agak linglung untuk mengambil bahan-bahan masakan yang harus dimasukkan ke frying pan. Namun baru dua langkah, Kaito menangkap pergelangan tangannya untuk menghentikannya.

Kaito lalu menarik tangan Luka agar Luka kembali berbalik menatapnya. Dan saat itu terlihat kalau Luka masih berusaha menahan rasa malunya.

"Tentang hal yang kukatakan tadi…" Kaito bicara menghadap Luka. Ia lalu melepas pergelangan tangan Luka yang tadi sempat digenggamnya.

"Luka selalu terlihat manis, kok. Dalam ekspresi apapun," ucap Kaito, hangat. Sehangat senyum yang ditunjukkannya saat itu.

"Saat diam, marah, tersipu dan tersenyum…ekspresi Luka selalu terlihat berbinar."

"Kau…pasti mengatakannya hanya untuk membuatku senang…" wajah Luka makin memerah, dan ia menunduk makin dalam untuk menyembunyikannya.

"Aku tidak bohong. Bagiku kau memang selalu terlihat cantik, kapanpun momennya."

Ketika senyum Kaito makin melebar, saat itulah Luka tersipu tingkat maksimal. Wajahnya memerah dan mulai memanas, padahal pujian seperti ini bukannya baru kali ini dia dapatkan. Luka sendiri penasaran kenapa reaksinya bisa se-hyper ini ketika Kaito yang memujinya.

"Berhenti memujiku sambil tersenyum begitu, Bakaito!" batin Luka berteriak. Kalau Kaito melanjutkan kata-katanya dan tiba-tiba berubah menjadi cowok romantis, ia akan benar-benar berteriak saat itu juga.

Namun sepertinya saat itu Luka masih cukup waras untuk bisa mendengar bunyi berisik yang berasal dari frying pan-nya. Ia pun menoleh panik ke arah kompor tempat ia memasak tadi. Kaito juga refleks mengikuti arah pandang Luka.

"Ah…kita lupa menumis jahe dan bawangnya! Luka, tolong ambilkan daging ayam yang sudah ku potong di sana."

Saved by the sound. Luka pun bisa kembali bernafas lega setelah tadi harus memacu jantungnya demi alasan yang tidak jelas.

"Sini, perhatikan ya. Kau harus mengaduknya hingga udang dan daging ayamnya berubah warna, baru masukkan bahan-bahan yang lainnya."

Luka pun mengangguk-angguk sambil memperhatikan Kaito. Setelah itu mereka bertukar posisi. Luka di depan kompor, memegang spatula dan mencampur bahan-bahan sedangkan Kaito memperhatikan sambil memberi instruksi.

"Kurangi sedikit garamnya. Kalau segitu, bisa jadi terlalu asin," Luka pun menakar kembali garam yang hendak ia campurkan. Instruksi selanjutnya dari Kaito pun ia turuti dan lakukan dengan sangat bagus.

"Yang sudah matang tinggal dibungkus dengan kulitnya ini. Lihat, seperti ini…" Luka memperhatikan dengan seksama bagaimana cara bahan-bahan yang sudah dimasaknya tadi dibungkus dengan kulit lumpia oleh Kaito. Setelah itu Luka pun ikut mencobanya.

"Seperti ini?"

"Iya, begitu. Kau teruskan sampai bahannya habis, ya?"

"Baik."

Kaito kagum melihat bagaimana Luka terlihat sangat antusias, gigih dan—ah, yang satu ini tidak diduga-duga oleh Kaito— PENURUT. Kalau biasanya ia bersikap layaknya orang paling keras kepala sedunia, kali ini Luka membuat Kaito terkagum-kagum dengan attitude-nya.

Tidak heran Luka bisa menguasai banyak hal jika ia memiliki sikap seperti ini ketika ia mempelajari sesuatu. Keseriusan dan antusiasme… Terlebih lagi sepertinya Luka cepat mengerti hal-hal yang ia pelajari.

"Wah, kau hebat, ya. Jadi cepat selesai… Baiklah, kita tinggal menggoreng ini saja lalu semua selesai!" ucap Kaito, mengelus kepala Luka.

Ah…apa yang… Kaito, cepatlah tersadar dari apapun itu yang kau lakukan! Mengelus kepala Luka? Kau sadar kalau aksimu itu bisa membuat Luka…blushing?

Eh? Dia tidak marah? Meledak? Bahkan Kaito saja sampai kaget, Luka tidak mengamuk ketika kepalanya dielus? Padahal saat tadu Kaito mendekatkan wajahnya saja ia protes. Sungguh diluar dugaan...

"Kalau diam, dia benar-benar manis!" batin Kaito yang mulai menyadari kalau Luka makin salting di hadapannya dan langsung berhenti, menjauhkan tangannya dari kepala Luka.

"Yaah, kau lanjutkan saja kerja kerasmu, ya? Kalau kau punya usaha segigih ini, aku heran kenapa tidak dari dulu saja kau hebat memasak?"

"Well, aku…punya alasan sendiri…"

Luka membuang muka. Ketahuan sekali kalau ia menyembunyikan sesuatu—sebuah cerita suram, mungkin. Tapi Kaito tidak mau memaksa, meskipun sebenarnya sangaaaaaaat penasaran. Yah, ia memang selalu penasaran jika hal itu menyangkut dengan Megurine Luka.

Jadi akhirnya mereka selesai membuat spring roll. Kaito duduk di sebuah kursi dengan sepiring spring roll terletak di meja di depannya. Luka berdiri di depan Kaito yang sedang berperan sebagai juri masakan, mulai harap-harap cemas tentang rasa makanan buatannya itu.

Gigitan pertama diambil Kaito. Luka menelan ludah, berharap ia tidak malah meracuni orang yang sudah berjasa mengajarinya memasak secara tidak sengaja.

"Ba…bagaimana?"

"Hm…" Kaito berpikir sambil menggigit lagi spring roll di tangannya.

"Terlalu berminyak, dan mungkin kurang garam sedikit. Lalu sepertinya ada bumbu yang agak gosong."

"Garamnya kurang? Kalau cuma sedikit, memangnya bisa terasa kentara begitu?"

"Memang begitu yang namanya garam. Kurang atau lebih sedikit saja bisa mengubah rasa."

"Jadi…aku gagal? Yaah…memang aku tak ditakdirkan untuk memasak…" Luka langsung down, terlihat dari wajahnya yang berubah lesu.

Kaito yang melihat Luka jadi sedikit berpikir. Ternyata orang se-sempurna dia bisa down juga kalau gagal dalam sebuah hal. Wajar saja, mengingat betapa gigihnya usahanya tadi namun hasilnya malah jauh dari perkiraan.

"Tidak juga…" ucap Kaito setelah menghabiskan spring roll tadi dan mengambil yang kedua.

"E-eh?" Luka mengangkat kepalanya dengan semangat dan dengan mata melebar.

"Kalau cuma salah pengukuran seperti itu, wajar bagi pemula. Tapi lihat, aku sudah mencicipi spring roll kedua dan tidak mengeluh sampai parah. Itu artinya kau berhasil, hanya belum sempurna!"

"Kalau belum sempurna, itu namanya belum bisa." kata Luka sambil melipat tangannya di depan dada.

"Ah…iya, ya. Luka kan tipe yang selalu mengejar kesempurnaan."

Luka pun mendengus atas respon Kaito itu, lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Kaito.

"Kalau kau mau kemampuan masakmu jadi sempurna, kau harus terus belajar memasak. Aku juga bisa terus mengajarimu, kok. Tenang saja!"

"Iya, iya. Tentu saja aku terus berlatih. Memangnya aku ahli melakukan berbagai macam hal itu darimana? Latihan dan latihan."

"Lalu, kenapa baru sekarang memasak? Kalau kau sebegitu inginnya pintar memasak, kenapa tidak dari dulu latihan?"

Nah, akhirnya terucap juga. Pancingan agar Luka menceritakan sesuatu—apapun yang mengganjalnya tadi.

"Kalau aku cerita…janji tidak akan menceritakannya pada siapapun?"

"Iya."

"Benar?"

"Aku janji," ucap Luka sambil mengangkat tangannya dan megarahkan jemarinya ke depan dada dan membuat tanda silang tak terlihat disana.

"Baiklah aku cerita…"

Kaito pun memajukan posisi tubuhnya agar bisa mendengar cerita Luka lebih jelas.

"Dulu waktu masih umur delapan tahun, aku pernah belajar pada seorang chef dari Perancis. Tapi aku selalu gagal memasak. Lalu suatu hari aku mendengar dia bicara pada ayahku dan minta untuk berhenti jadi guruku, namun ia tidak bicara sepatah kata pun padaku."

Di hari yang sama, ayahku meminta seorang driver mengantarnya kembali ke bandara karena ia akan langsung pulang ke Paris. Saat ia hendak pergi, aku ingin meminta maaf karena telah jadi murid yang buruk, tapi karena takut jadi aku bersembunyi di balik gerbang. Lalu…aku mendengar percakapannya dengan driver itu…"

"'Aku tidak terlalu peduli soal anak gagal itu. Yang penting semua bayaran telah kuterima dari ayahnya,' begitu…dia bilang…" Luka menunduk dan mengeratkan genggaman tangannya di atas pahanya.

"Padahal kalau di depanku dia selalu menyemangatiku ketika aku gagal…"

Dari ekspresi yang ditunjukkan itu lah Kaito jadi tau penyebab sikap Luka yang tertutup dengan orang lain itu. Delapan tahun. Di umurnya yang masih terhitung bocah kecil ia sudah merasakan bagaimana jahatnya manusia bermuka dua.

Dan Luka mempelajari itu dengan sangat cepat. Ia merenung, berpikir. Orang akan melakukan apapun untuk memanfaatkannya, memeras uang ayahnya dari Luka cilik. Ia camkan itu di dasar pikirannya dan membekas sampai dewasa.

Kaito berdiri tiba-tiba, Luka pun mengangkat kembali kepalanya menatap pria di depannya yang tiba-tiba menyuapkan spring roll itu ke dalam mulut Luka.

"Kau habiskan itu, dan bilang lagi kalau kau gagal," seru Kaito dengan suara ceria. Luka pun mengunyah makanan hasil jerih payahnya—yang kebanyakan dibantu Kaito, tentunya.

"Kau benar…"

"Bahwa kau tidak gagal?"

"Bukan… tapi ini terlalu berminyak dan kurang garam."

Biasanya Luka tidak akan berpuas diri sebelum ia bisa mengerjakan sesuatu dengan sempurna. Namun akhirnya Luka tertawa sendiri, menikmati hasil kerjanya. Padahal masakannya belum sempurna. Entah apa yang membuatnya senang kali ini.

Kaito hanya bisa melihat Luka dengan senyum, dan tawa kecil. Dan rasanya saat ini ia ingin sekali mengambil kamera, mengabadikan momen dimana Luka bisa tertawa dengan sangat lepas.

"Terima kasih, Kaito-sensei!" dan juga senyum Luka saat mengatakan itu, tak akan pernah ia lupakan.

XXX

Hari ini Minggu. Akhir pekan dimana orang biasa berhenti sejenak dari pekerjaan mereka dan bersenang-senang menyegarkan badan dan pikiran. Tapi tidak bagi selebritis. Mereka tidak kenal yang namanya akhir Minggu. Melelahkan, tapi Gakupo berusaha menikmati itu.

Minggu ini, kerjaan Gakupo sangat banyak. Sesi pemotretan dimana-mana. Maklum, Gakupo saat ini sebagai model yang naik daun dan muncul di majalah dan iklan-iklan brand terkenal. Mulai dari sepatu, jam tangan, baju, sampai-sampai iklan produk kecantikan rambut!

Ehem… Wajar saja sih, karena Gakupo memang memiliki rambut ungu panjang yang terlihat sangat mengkilap dan halus. Padahal cowok, tapi kenapa rambutnya yang sangat 'cantik' itu membuat author sangat iri? Ah…abaikan saja yang satu ini.

Anyway, meskipun dirundung segala pekerjaan yang membuatnya lelah, tidak dengan hari ini. Hari ini ia mendapatkan kesempatan yang menurutnya, emas! Kapan lagi ia bisa mengadakan sesi pemotretan bersama-sama dengan Megurine Luka yang sudah kita tauGakupo sangat suka, bahkan terobsesi dengannya.

Mereka sama-sama menjadi model brand baju ternama yang juga menjadi salah satu sponsor Luka di video clip album terbarunya. Foto-foto kali ini akan dimasukkan ke majalah yang menaungi karir Gakupo pertama kali.

Di kursi dekat dengan set pemotretan, Luka merengut, menggerutu, cemberut. Pokoknya semua tindakan dan ekspresi tidak suka sudah dikeluarkannya. Sedangkan Gakupo di sampingnya cuma nyengir-nyengir bahagia. Ups, saya ralat, SANGAT bahagia.

"Kenapa harus denganmu sih?!"

"Tidak apa-apa, kan, Luka-chan… Kapan lagi kita bisa menghabiskan waktu bersama seperti ini?!"

Luka tidak menjawab. Cuma membuang muka dan ber-'cih!' kecil.

"Baiklah, kalian siap?!" ucap seorang gadis energetic berambut hijau yang datang tiba-tiba dengan kameranya. Gadis yang berpakaian serba oranye itu adalah fotografer mereka kali ini, Gumi. Fotografer muda yang sangat berbakat yang masih duduk di bangku SMA.

Luka pun pasrah saja. Meskipun tidak suka dengan Gakupo, dia harus tetap bersikap profesional.

"Ayo kita mulai," ucap Luka seraya berdiri, diikuti oleh Gakupo.

Mereka pun terus berpose, dan Gumi terus memotret. Menghasikan foto-foto cantik dari model yang juga menawan tidaklah sulit. Bagian tersulit bagi Luka adalah ia harus memendam amarahnya karena Gakupo terus-terusan menyentuhnya. Tapi sekali lagi, ia harus tetap profesional dan tida membawa urusan pribadi ke pekerjaan.

"Baik, kita selesai!" ucap Gumi setelah lebih dari dua jam mereka bekerja.

Luka pun menghela nafas panjang. Setelah ini ia masih banyak pekerjaan, jadi ia bergegas ke ruang rias. Juga sebelum Gakupo menangkapnya. Untung saja saat ini pria itu sedang bercakap-cakap dengan Gumi. Niatnya mau kabur, tapi Gakupo segera menyadarinya dan menghadangnya.

"Ayolah, Gakupo! Kau tau aku masih sibuk!" ucap luka setengah berteriak.

"Ngobrol sebentar saja tidak apa-apa, kan? Ah, ngomong-ngomong, dimana temanmu si Kaito itu?."

"Memang kau punya urusan dengan si rambut biru idiot itu?" tipikal Luka, berkata-kata kejam.

"Kemarin saja kau memanggilku sensei, sekarang aku sudah dipanggil idiot lagi…" tiba-tiba Kaito muncul di belakang Gakupo.

Gakupo menoleh dan bertemu mata dengan Kaito. Atmosfer di sekitar mereka pun menjadi tidak nyaman, namun sepertinya Luka tidak sadar itu.

"Tuh, kau sudah menemukan yang kau cari, kan? Kalau ada urusan dengannya, lebih baik cepat karena kita harus pergi lagi."

"Ah, tidak. Sebenarnya aku cuma…"

"Kaito?" tiba-tiba mereka mendengar suara seorang gadis memanggil Kaito. Ternyata itu adalah… Gumi.

"Kaito, kenapa di sini?"

Luka dan Gakupo bingung. Kaito cuma menatap Gumi dengan ekspresi datar.

"Gumi…"

Ada apa ini? Kaito dan Gumi saling kenal? Tapi ya, seperti halnya Kaito dengan Luka, ia dan Gumi bergelut di 'dunia' yang berbeda. Lalu kenapa mereka bisa saling mengenal, dan sepertinya akrab.

Sayangnya, kalian harus menunggu sampai chapter selanjutnya…

~To Be Continued~

A/N:

Atas keterlambatan update ini, saia mohon maaf. . .dikarenakan banyak kesibukan, termasuk job training dari sekolah, dan laptop saia rusak… hontou ni gomennasai! #bows

Jaa, see you in next chap, also, RnR please?