Baby Severus.

.

.

.

Severus Snape didn't think his life could get any worse until Neville's cauldron explodes and turns him into a toddler. To make things worse, Albus decides to place him in the care of none other than Hermione Granger.

.

Severus Snape tidak pernah mengira hidupnya bisa bertambah buruk sampai kuali Neville meledak dan merubahnya menjadi batita. Dan yang membuat semua menjadi tambah kacau, Albus memutuskan kalau pengasuhnya—dari semua orang yang ada—adalah Hermione Granger.

.

.

.

Chapter 4: Toddler and Class | Batita dan Kelas

.

.

.

Enjoy!

.

.

.

Menyuruh Snape tidur di tempat tidur bayi susahnya minta ampun, jadi Hermione harus menransfigurasikan kasur kecil. Ditambah lagi dia bertingkah semaunya saat Hermione hendak menggendong atau menyentuhnya, makin membuat rasa frustasi Hermione menumpuk. Sekarang karena dia sudah bisa bicara dengan huruf vokal, dia bisa menunjukkan apa yang dia rasa dan sedikit berlebihan, sebenarnya. Hermione sama sekali tidak tahu cara mengurus bayi maupun anak, jadi ini semua sudah pasti benar-benar pengalaman baru dan menyenangkan. Ia mengira kalau Profesor Snape—paling tidak—bertingkah dewasa kendati tubuhnya batita, tapi ia sama sekali salah. Profesor bertingkah seperti anak batita sebetulnya.

Sekarang pukul enam pagi dan Hermione memaksakan diri untuk bangun tidur karena Snape mengeluh. Sudah jelas kalau Snape biasa bangun jauh lebih pagi dari dirinya. Biasanya ia belum beranjak dari kasur hingga pukul tujuh. Mendumal, dia bangun dan melangkah ke kamar mandi, tidak mengacuhkan Snape.

"Cepat! Aku ghapar!" ia berteriak dengan suara yang sangat anak kecil. Hermione menganggapnya angin lalu.

Hermione memutar kran pancuran, memastikan air yang keluar bersuhu rendah agar membangunkannya dan berdiri di bawah tetesannya. Sesaat setelah air dingin menyentuh kulitnya, nyawanya mengumpul semua dan mengganggunya. Ia mendelik ke dinding berubin saat menyabuni tubuhnya, memikirkan betapa inginnya dirinya Snape kembali normal jadi ia tidak perlu memikirkan cara mengasuh anak kecil lagi.

.

[Kenapa perempuan itu mandi lama sekali?]

Snape melihat pakaian yang Miss Granger ubah untuknya dan mendengus. Dia yakin kalau wajahnya terlihat konyol karena mendengus dengan wajah anak-anak, tapi dia tidak peduli. Ia melihat atasan hijau tua yang Miss Granger buatkan dan mengganti bajunya, gagal memasukkan kancing. Dia sama sekali tidak punya pakaian berwarna hitam, tidak bisa menggunakan tongkatnya, tidak bisa membela dirinya sendiri dan tidak bisa mendelik ke orang lain karena dia hanya setinggi tiga kaki. Ini menjengkelkannya.

"Gegengger! Cepat! Aku ghapar!" teriaknya, menyipit mendengar suaranya sendiri. Tidak ada jawaban, sudah pasti Granger tidak mengacuhkannya. [Kau tidak mengacuhkanku? Rasakan akibatnya...]

Severus berjinjit dan memutar gagang bulat pintu kamar mandi, mendengarnya terbuka dan mendorongnya. Hermione baru saja keluar dari pancuran dan memelototinya dengan marah dan malu.

[Holy mother of Merlin! Aku mulai menikmati petualangan ini...]

"SNAPE!"

[Mungkin tidak...]

Severus tidak menunggu Granger mengomel. Dia langsung kabur dan menunggu di ruang rekreasi—di mana dia langsung melompat ke sofa dan duduk manis, menunggu dengan diam. Gambar Miss Granger tanpa busana terbit di pikirannya. Sudah pasti Miss Granger terlihat cantik dengan tetesan air yang menuruni tubuhnya. Dia mengalihkan mata dan merasakan matanya melebar saat melihat Miss Granger memasuki ruang rekreasi dengan amarah, sudah berpakaian lengkap dan benar-benar kesal.

"SEVERUS SNAPE!" ia berteriak.

[Aku tidak pernah mengizinkannya memanggilku—]

"Beraninya kau masuk ke kamar mandi saat aku sedang mandi! Apa yang salah denganmu?"

[Pertama, aku terjebak di tubuh batita...]

"Kau hanya memberikanku kesulitan! Aku belum mengurusmu selama dua puluh empat jam dan kau sudah membuatku gila!" cerocosnya.

[Kau pikir apa yang kurasakan?] "Aku capegh padamu", desisnya.

"KAU CAPEK PADAKU?" ia berteriak, membuat Severus menciut tanpa sengaja.

"Aku jugha tidak suka ini! Bahkan aku tidagh bisa membeghsikan pantatku sendighi!" dia berteriak balik, berdiri kokoh di atas sofa jadi dia sejajar dengan Granger.

"Kau pikir aku suka? Paling tidak kau bisa membuatnya lebih mudah untuk kita berdua. Artinya yang SOPAN!" ia meneriakkan kata terakhir di depan mukanya.

"Aku membencimu", katanya datar setelah beberapa saat penuh kekauan. Granger membuka mulutnya, ingin mengatakan sesuatu tapi langsung ditutup. Membutuhkan beberapa detik sampai dia berbicara.

"Baik, benci aku, tapi Dumbledore memberikan kepercayaan padaku untuk mengurus anda hingga normal, jadi anda hanya perlu terbiasa", ia bertutur lembut dan mendatangi meja, memasukkan buku dan perkamen ke tasnya.

"Kau bogheh bicagha kalau kau jugha membenciku", gumamnya, mencoba menyembunyikan rasa bersalah yang dirasakan karena mendengar nada terluka di suaranya.

"Mungkin ini mengejutkan bagi anda, tapi aku tidak membencimu. Aku tidak pernah membencimu. Aku pernah berkata sekali kalau aku tidak pernah berpikiran jelek terhadap anda—dan itu termasuk membencimu", jawabnya tanpa melihat Severus.

"Teseghah!" gumamnya lagi.

"Jangan kau, 'terserah'-kan aku, Young Man! Kau sumber kesulitanku!" geramnya.

[Sumber kesulitanmu, huh? Coba kita lihat seberapa Griffindor kau sekarang...]

Severus duduk di sofa dan memberikannya tatapan sedih dan menderita. Mata hitamnya melebar dan dia memaksakan bibir bawahnya bergetar saat air mata membanjiri matanya. Dia hampir kesulitan bersandiwara, ngebet ketawa keras saat ia melihat ekspresi bersalah di wajah Miss Granger. Dia merasa menang saat air mata menuruni wajahnya dan ia mengeluarkan tangis anak kecil.

[Apa kau menikmatinya, Miss Granger?]

"Oh tidak, jangan menangis! Maafkan aku, maafkan aku!" katanya cepat, berderap mendekat dan mengelus rambutnya. Dalam hati Severus tertawa puas. "Tidak apa-apa, tidak-apa". Hermione melingkarkan tangan di sekeliling tubuh batita itu dan menariknya ke dada, merasakan rasa bersalah mengambil alih. Ia tidak melihat senyum kecil Severus saat ia tersedan dan mengintip dadanya.

[Oh yeah...]

Hermione menggendong Snape di dekapannya, menuju Aula Besar sembari membawa tas di bahu satunya. Dia merasa senang saat akhirnya bisa duduk dan melihat Harry beserta Ron datang dengan tidak puas, menuntun Neville dan Seamus. Ia melihat meja Slytherin dan melihat Pansy Kecil berlari melintasi meja dengan Milicent mengejarnya marah. Pemandangan itu membuatnya mendengus dan dia kaget melihat seringai kecil di wajah Snape.

[Lebih untuk dia disuruh mengurus bocah daripada aku...]

"Hermione, aku bersumpah demi Merlin, kuharap ramuan ini habis sebentar lagi. Seamus lebih parah saat kecil daripada saat remaja! Dia membuatku gila!". Terang Harry, membanting tubuh tanpa sopan santun di sebelahnya. Dia melirik dan mengangkat sebelah alis saat menyadari Snape memajukan tubuh di samping Hermione agar bisa mendelik ke arahnya.

"Aku tahu apa yang kau rasakan", katanya lelah.

"Lalu bagaimana Telur Satan itu?" tanya Harry, menatap Snape dengan delikan khasnya.

[Lucu, Potter. Lucu ternyata aku berpikiran sama denganmu...]

"Dia baik-baik saja dan jangan memanggilnya seperti itu", ujar Hermione, mengisi piring dengan telur dan daging babi diasinkan untuk Snape. Dia makan dengan rakus, tidak memikirkan delikan dari muridnya yang lain.

"Maafkan aku kalena ini, Plofesol Snape", suara dengan gemetar kecil bertutur dan Snape melirit Neville Longbottom duduk di seberangnya. Bocah itu terlihat takut. Mr. dan Miss Weasley duduk di sisi lain dan menatap Snape penasaran. Semua orang di meja itu juga melemparkan pandangan ke dua batita itu. Snape memicingkan matanya dan memberikan Longbottom tatapan terdingin yang bisa dilakukannya. Bahkan dia tidak perlu mengatakan apapun. Tatapan kelabu marahnya melampaui suara dan kesunyian menulikan segera diisi dengan tetesan air. Neville mulai menangis.

"DIA NGOMPOL!" teriak Miss Weasley, lompat dari kursinya. Siswa lainnya langsung tertawa dan Snape memberikan air muka murka di wajahnya.

Hermione melotot ke Snape. Neville selalu takut pada Profesor Snape dan sudah pasti tidak ada perbedaan pada ketakutan itu meskipun Snape hanya seorang batita berusia tiga tahun.

"Jangan melakukan itu, Snape! Kau tidak perlu tambah menakutinya!" omelnya.

"Salagh dia kita jadi sepeghti ini!" bantahnya seperti anak pemarah.

"Memang benar, tapi dia sudah minta maaf", desisnya.

"Aku tidagh pedughi!" bocah lelaki itu teriak balik.

"Kau harus peduli! Berhenti jadi anak yang tegaan", jelasnya.

"Aku akan menjadhi sepeghti apa yang aku mau!" jerit Severus marah. [Aku tidak percaya dia mengajarkanku menjadi sopan. Memangnya dia pikir dia siapa? Ibuku?]

Ginny membersihkan kekacauan itu dengan tongkatnya dan mendudukkan Neville beberapa langkah dari mereka jadi dia dan Snape tidak saling berhadapan. Dia mendelik ke Snape yang menatapnya malas seperti tidak memedulikan apapun di dunia ini.

"Hey, Hermione, scarp book-mu sudah sampai mana?" tanya Ginny, akhirnya bisa memalingkan wajah dari miniatur profesornya.

"Lumayan. Halaman orang tuaku sudah selesai, halamanmu, Ron dan Harry juga sudah", jawabnya.

"Apa seseorang menyebutkan namaku?" tanya Ron dengan mulut penuh telur. Hermione meringis dan menatap Ginny kagi.

"Berarti kau harus menambahkan halaman baru lagi", jawab Ginny, melirik Snape yang menatapnya dan Hermione seperti kambing congek.

[Apa lagi scrap book itu?]

"Kau benar. Beberapa gambar yang Harry potret pasti bagus", tambah Hermione.

[Tidak boleh!]

"Ya, aku dengar kau memotret saat Pertarungan Spageti", tawa Ginny.

[KALIAN TIDAK AKAN MEMILIKINYA LAGI!]

"Harry, aku ingin salinan gambar itu!" Hermione berkata semangat.

[TIDAK! TIDAK ADA FOTO-FOTOAN!]

Ginny melihat air wajah Snape dan mendenguskan jus labu dari hidungnya tanpa sengaja. Hermione, Ron dan Harry meledakkan tawa sementara Snape duduk di sana dengan tampang benci.

"Lebih baik kita masuk kelas", aju Hermione dan bangkit. Dia menggendong Snape—yang sudah pasti menahan malu, dan melangkahkan kaki ke kelas.

"Aku mau gambagh yang kau ambigh dengan Pottegh!" teriaknya.

"Hah! Ya benar! Kau akan tersiksa karena tidak akan mendapatkannya!" ia tertawa. Tatapan yang dia berikan ke Granger sudah pasti setara dengan Voldemort.

"Tidagh! Kau tidagh bisa menyimpannya!" gertaknya.

"Karena semua kesulitan yang kau sebabkan, aku berhak menyimpannya dan jika kau terus bertingkah seperti anak bengal, aku tidak akan mengembalikan tongkatmu dalam waktu dekat!" jawabnya nafsu dan berjalan ke Kelas Transfigurasi.

"Kau tidagh bisa meghakukan itu!" teriaknya, suaranya bernada tinggi dan kesal.

"Lihat saja", katanya terlalu manis.

Hermione duduk di kursinya dan memanggil kursi lain untuk Snape yang memandagi sekeliling kelas dengan bosan. Sudah pasti dia tidak tertarik berada di sana semenjak dia sudah lulus bertahun-tahun lalu.

"Selamat pagi, Miss Granger. Aku lihat kau membawa Ahli Ramuan kita bersamamu", Profesor McGonagall bertutur, berjalan mendekat dan melihat Severus dengan mata berkerlip.

"Ya, Profesor, kuharap anda tidak keberatan", kata Hermione tidak yakin.

"Tidak sama sekali. Senang melihat Severus di kelasku lagi", katanya, mencoba meredam tawa saat Severus mendelik ke arahnya.

[Tertawalah, Minerva, tertawa ... silahkan! Haha, haha, tertawakan kesulitanku!]

"Dia lumayan lucu", McGonagall berkata senang.

"Dia lucu, kan?" Hermione menatapnya.

[Tidak usah memulainya...]

"Bagaimana tingkah lakunya?" tanya Minerva.

"Seperti anak pemarah", jawab Hermione tanpa berpikir lalu menutup mulutnya kaget. Minerva meledakkan tawa saat Snape mengerang.

[Kau menghinaku, Little Wench. Aku tidak bertingkah seperti anak pemarah!]

"Dia sedang memastikan diri untuk membuat hidupmu penuh kesulitan", beritahunya.

"Ya, dia melakukannya dengan baik. Berharap saja dia tidak berencana menghancurkan hariku", Hermione menggumam, mengingat betapa rame pagi harinya.

[Benarkah? Aku mempunyai sesuatu yang akan membuat harimu lebih dari kacau...]

Minerva ingin mengatakan sesuatu saat suara kencang bergema dari Severus. wajahnya merah saat menekan semua udara di perutnya, sekaligus makan malamnya. Minerva menatapnya tidak percaya sementara Hermione terbengong horor.

[Kau tidak tertawa lagi? Oh, ini bau...]

"Um ... bisakah ... aku izin sebentar", tanya Hermione tidak nyaman.

"Pasti boleh. Tolong bawa dia bersamamu", kata Minerva sembari mengipas tangan di depan wajah saat kembali ke mejanya. Batita Snape meledakkan tawa dengan sangat bahagia. Hermione langsung mengangkatnya, berhati-hati sebisa mungkin saat membawanya ke ambang pintu.

"Saya akan segera kembali, Profesor", izinya langsung.

"Jangan khawatir, Miss Granger. Setelah apa yang dia lakukan, aku bisa mengerti kalau kau terlambat. Oh, dan dua puluh poin untuk Gryffindor karena bersabar dengannya", katanya, menatap Severus dengan bibir menipis. Hermione langsung membawanya keluar, merasa malu pada apa yang baru dia lakukan. Snape masih tertawa bahagia di samping fakta kalau celananya kotor. Hermione berniat membiarkan Snape memakai baju kotor itu, tapi ia tidak ingin jadi tega.

"Profesor, ini menjijikkan", katanya, memasuki kamar mandi.

[Memang, tapi pantas dibandingkan melihat muka kalian berdua!]

.

.

.

Bersambung ...

.

.

.

Haaiii, ketemu lagi di hari minggu! Maaf ngaret! Sampai ada yang nagih! Hihi, Eta seneng banget.

Balas review: clariss, iya, tapi masih cadel. Review lagi? | michaella, terima kasih udah suka dan udah nagih! Gak nyinggung, kok! Eta malah seneng. Buat Moku-Chan,Ace Kanemoriudah dibales lewat PM!

Sampai bertemu hari rabu!

.

.

.

Mind to review?

Bogor. Minggu. 11 Januari 2015. 19:06