Haikyu © Furudate Haruichi

Warning ikut chapter sebelumnya.

No profit, just hobby, don't flame, no-beta, komputer bermasalah.

.

.

.

"Tsukki, aku tahu kau akan lewat sini."

Jalan Kei terhenti karena teman masa kecilnya menghampiri sebelum ia sampai di komplek rumahnya.

"Ada apa Yamaguchi?" wajah Kei berkerut tidak suka, terlebih saat Yamaguchi menyodorkan seragam sekolah padanya.

"Kakakmu datang ke rumahku, dia membawakan ini."

'cih' Kei menerima dengan kasar bungkusan berisi seragamnya."Ayo ke sekolah, aku akan mandi di sana."

Yamaguchi mengekor, sedari dulu memang itu yang dilakukannya terhadap Kei.

.

Ada loker untuk berganti pakaian olah raga, di sampingnya ada ruangan dengan jajaran shower juga satu bak mandi. Di sanalah Kei mandi dan berganti pakaian. Yamaguchi masih bersamanya, menunggu Kei di sisi lain loker.

"Kau pergi kemana semalam?" Tanya Yamaguchi lirih.

"Kau tahu kemana aku pergi Yamaguchi."

Suara pintu loker di tutup terdengar sampai ke telinga Yamaguchi, menandakan Kei sudah selesai dengan pakaiannya.

"Tsukki." Yamaguchi muncul di hadapan Kei,"maukah kau mendengar saranku?"

"Hmm, katakan."

Ragu, itu yang tergambar di wajah Yamaguchi. Ia dan Kei sudah berteman sejak SD, tapi tidak pernah sekalipun berkata banyak pada Kei, apalagi sampai menasehati.

"Sebaiknya kau berhenti, sebelum kakakmu tahu tentang ini. Kau masih enam belas tahun, jadi menurutku lakukan itu saat kau sudah cukup umur."

Ada banyak hal yang ingin Yamaguchi sampaikan, termasuk perihal orientasi seksual Kei, tapi ia tidak memiliki keberanian untuk itu. Hening cukup lama, sampai Kei selesai memsang dasi dan menggunakan jas dengan sempurna.

"Terima kasih Yamaguchi."

Sebuah tepukan pelan di daratkan pada bahu Yamaguchi dan Kei berlalu melewatinya yang hanya mampu terpaku. Yamaguchi sadar Kei tidak pernah marah padanya, meski sikapnya sewenang-wenang tapi Kei tidak pernah memaksa atau mengusirnya. Selama ini Yamaguchi hanya mengekor pada Kei. Demi apa, ia pun tidak tahu.

.

.

.

Lagi dan lagi Kei datang menemui Kuroo. Ia tidak pernah bosan dan Kuroo tidak pernah menolak. Tidak ada percakapan romantis antara keduanya, Kei tidak pandai berkata-kata sementara Kuroo hanya menginginkan tubuh Kei semata. Tidak peduli lagi kalau ia seorang bocah enam belas tahun yang belum layak untuk menjamah konten dewasa tapi sudah digagahinya berkali-kali. Mengerang, mendesah dan berpeluh bersama di bawah Kuroo demi mencapai puncak kenikmatan.

Malam ini pun, dari sekian malam yang sudah terlewatkan sejak pertama kali Kei melakukannya. Ia mulai terbiasa dengan kedatangannya yang disambut oleh ciuman panas. Saling berpagut, menyerahkan seluruh kesadarannya untuk dikuasai hanya tentang Kuroo.

'Kuroo…Kuroo…Kuroo…' benak Kei berbisik, dan Kuroo bukanlah pria yang sabaran. Tidak perlu ciuman lama jika saat itu ia bisa dengan segera melucuti pakaian Kei, kemudian mengecup bagian lain dari tubuhnya.

'DOK DOK DOK'

Pintu digedor berkali-kali karena tak cukup bagi tuan tamu hanya memencet bel.

"Kuroo…" Kei mendesahkan nama Kuroo, bukan untuk menikmati. Tapi Kuroo abai, ia tidak ingin bermain setengah-setengah.

Gedoran kembali terdengar, kali ini dengan tempo yang tidak sabar diiringi teriakan tak beraturan menyebut nama Kuroo. Kei jengah, mood-nya tidak bisa begitu saja mengabaikan, maka didorongnya Kuroo menjauh. Ditatap tajam kemudian, tidak membuat Kei gentar.

"Seseorang sedang menggedor pintu rumahmu." Sungut Kei mendapat geraman dari Kuroo.

Dengan asal kuroo menutupi tubuh polos Kei, tidak peduli dengan dirinya yang hanya bertelanjang dada. Kuroo menghampiri pintu, dan kesalnya memudar mendapati tatapan geram dari tuan tamu.

"Kau lama sekali." Yaku berkunjung di malam hari tanpa Kuroo minta. Hal yang tidak biasa.

Kuroo tersenyum miring,"aku sibuk. Bisakah kau kembali besok pagi?"

"Setidaknya ijinkan aku masuk."

Yaku merangsek masuk, tapi gagal. Pintu yang hanya terbuka separuh dan dihadang oleh tubuh Kuroo tidak dapat ditembus tubuh mungil Yaku.

"Mengertilah sobat, aku tidak ingin diganggu."

"Aku mengganggumu?" yaku memandang tidak percaya."Ini tidak biasa Kuroo." Tatapannya berubah menyelidik pada Kuroo yang berusaha menyembunyikan wajahnya dibalik lengan.

"Apa?" Kuroo mulai risih dengan cara pandang Yaku.

"Kau menyembunyikan sesuatu. Aku tahu itu."

Kuroo sedang mencari alasan dan Yaku memanfaatkan kesempatan. Kuroo lengah, Yaku menerobos masuk.

"Hei, kau tidak bisa…" Kuroo tidak lagi bisa menyembunyikan dari pandangan Yaku. Teman masa kecilnya itu berbalik, memandang heran pada Kuroo yang sedikit salah tingkah."Sejak kapan kau jadi panik hanya karena membawa teman tidur?"

Kuroo mengusap wajahnya, pelan sambil mengatur nafas.

"Ok. Kau tahu segalanya tentangku. Bisakah aku mendapatkan sebuah privasi saat ini?" Kembali menghadang, Kuroo sama sekali tidak berminat untuk memberi tahu Yaku perihal, sejauh mana yang telah ia lakukan pada pemuda pirang di ranjangnya.

"Baiklah, aku mengalah kali ini. Aku akan kembali besok pagi dan menghajarmu."

Yaku mengancam dengan telunjuk tepat di depan wajah Kuroo.

"Tidak masalah, aku akan melayanimu sayang."

Kuroo membungkuk, mempersilahkan Yaku untuk segera meninggalkan rumahnya. Mendapat decihan sebagai balasan dari tatapan manisnya, Kuroo tidak heran. Yaku bukan orang yang sulit untuk dihadapi.

Kuroo kembali ke ranjang, menyusup diantara selimut dan menggugah bocah pirang yang sudah sempat terlelap. Kei tidak menolak, ketika Kuroo memulai permainannya dari awal lagi. Ia rela sepenuhnya untuk menjadi milik Kuroo.

.

.

.

"Aki-chan."

Dua buah lengan terkalung manja ke leher Tsukishima yang lain dari belakang secara tiba-tiba.

"Sopanlah sedikit terhadap profresormu, Oikawa." Tanpa melepas pandangan dari komputer di hadapannya Akiteru menegur Oikawa.

Mengerucut kesalpun Oikawa tidak akan terlihat oleh Akiteru, jadi ia menolehkan dengan paksa kepala Akiteru lalu mencuri satu kecupan di bibir.

"Selamat pagi, Profesor." Oikawa mengerling, lalu berlalu ke meja kerjanya sendiri.

"Bisakah kau berhenti melakukan kebiasaan burukmu itu?" Akiteru memprotes sampai harus menghentikan pekerjaannya. Ia memandang sejurus pada Oikawa yang tidak menggubris sama sekali. Sebenarnya Akiteru mulai jengah meski ia tahu kalau Oikawa gay dan ciuman semacam itu tidak ada artinya. Tapi bagi Akiteru itu sesuatu yang salah, dan meski sudah berulang kali menolak bahkan marah-marah, Oikawa hanya mengabaikan dan bekerja dengan sungguh-sungguh.

"Aku hanya memperbaiki suasana hatimu, professor."

"Aku baik-baik saja."

"Pandai berbohong, eh?" Oikawa bangkit dari tempat duduknya, mengambil cermin yang tergantung di dinding lalu membawanya ke hadapan Akiteru."Lihat kerutan di dahimu. Kalau berfikir terlalu keras, sosok di cermin akan jadi lebih tua dari seharusnya."

Akiteru menatap pantulan dirinya di cermin, membuatnya mendesah."Kau benar, aku sedang bermasalah."

"Dengan adikmu?"

Akiteru mengangguk.

"Memang sulit mengatasinya. Jangan terlalu dipikirkan, dia masih bocah. Kau terlalu memaksakan diri, profesor."

Lagi, Akiteru menghela nafas berat. Kerutan di dahinya semakin bertambah.

"Aki-chan, lihat kemari."

Akiteru menoleh, mendapati pandangannya sejurus dengan Oikawa yang wajahnya mendekat dengan cepat lalu memagut Akiteru dalam ciuman lembut secara perlahan. Hanya dua menit berlangsung, Oikawa memutus pagutan.

"Sudah relax sekarang?"

Akiteru mengangguk"Baiklah, aku harus pergi mengajar. Selesaikan pekerjaanmu professor."

Sosok Oikawa dengan segera menghilang di balik pintu. Bagi Akiteru ciuman Oikawa seperti candu. Sedikit, membuat ketagihan tapi di saat yang sama menjadikan dirinya tenang untuk beberapa saat. Meski begitu hanya Oikawa, hanya dengannya Akiteru mau berciuman sesama laki-laki.

.

.

.

Harusnya pagi itu Kei sudah angkat kaki dari rumah Kuroo. Ia harus ke sekolah dan Kuroo harus berangkat kerja. Tapi, sampai Kuroo selesai membersihkan diri Kei masih terlelap.

"Hei nak. Kau harus pulang sekarang." Kuroo menyibak sedikit ujung selimut yang menampakkan surai pirang Kei, lalu membuka gorden agar cahaya matahari menerobos dan tepat mengenai wajah Kei.

"Bolehkah aku tinggal? Sehari saja. Aku tidak sanggup." Gumam Kei yang menarik kembali selimutnya demi menghindari sorotan sinar matahari.

"Itu tidak ada dalam perjanjian, Tsukishima."

"Tidak ada perjanjian antara kita, Kuroo."

"Aku tidak terima perintah."

Kei menyibak selimutnya, bernafas dengan leluasa," aku tidak memerintah. Hanya minta sedikit pengertianmu. Setelah memaksa untuk melakukannya dua belas kali dan kau tidak berbelas kasihan padaku. Kau pikir aku ini alat?"

Kuroo mendekat, mencengkeram kedua pipi Kei dengan jemarinya,"kau yang selalu datang sendiri kemari. Itu konsekuensinya jika harus memuaskanku."

"Sekali saja, kumohon. Aku sungguh tidak kuat untuk berjalan pulang."

Kuroo mengumpat, menyentakkan wajah Kei."Aku akan mengantarmu pulang."

"Ke sekolah. Yamaguchi akan membawakan seragam untukku."

"Baiklah, baiklah. Segera bersiap sebelum aku berubah pikiran."

Kei memasang kacamatanya kemudian bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi. Kuroo akan menyesali sikap baiknya dan Kei bertahan untuk terus menyelami hati Kuroo. Cinta dapat mengalir dari mana saja, bahkan dengan seseorang yang ditiduri terus menerus.

A/N : Aku belum memikirkan ending, karena banyak drama yang ingin kumunculkan. Mungkin, chapter selanjutnya akan sangat lama di publish. Jika kalian kehilangan minat, aku akan berhenti sampai di sini. Terima kasih sudah membaca.