Chapter 04. Love In Dormitory
Created by Chaerin
Main cast: Sehun & Jongin
Slight cast: Luhan & Baekhyun, etc
Disclaimer: Cerita fiksi dimana Chae hanya meminjam namanya saja.
Jongin tidak mengerti. Dia tidak tahu kenapa Baekhyun bersama Luhan. Kenapa Irene bisa mengenal Luhan. Kenapa atmosfer yang tercipta disana seakan membangun dunia kasat mata yang tidak bisa dimasuki olehnya. Sungguh- Jongin tidak tahu apa-apa. Dia bahkan tiak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri yang berderap panjang, menarik tubuh Baekhyun yang berdiri mematung dan demi Tuhan, kenapa Baekhyun menangis?! Fuck!
Perasaan laki-laki itu kacau balau. Sesak. Tidak habis mengerti. Semuanya bercampur aduk. Mulutnya gatal ingin bertanya namun hatinya terasa sesak luar biasa. Jantungnya seolah ingin meronta keluar karena berdebar terlalu kencang. Sakit, Jongin benci rasa sakit ini.
Intonasi yang keluar dari bibir Sehun beberapa saat lalu bagai terompet kematian baginya. Nada halus. Nada yang sarat akan kerinduan. Nada yang tidak pernah Jongin kira akan Sehun lantunkan untuk orang lain. Nada manusiawi yang merobek dan mengoyak habis Jongin untuk kesekian kalinya.
Jongin melempar pandangan ke samping, memandang Baekhyun yang tersenyum pedih seraya melempar pertanyaan verbal,"ada apa?"
"Tanganmu-", Baekhyun mengangkat tangan kanannya yang masih digenggam kuat oleh Jongin,"gemetar. Aku merasakannya"
Pemuda itu menghela napas panjang sebelum menyentak melepaskan genggamannya. Pemuda manis itu melangkah lebar mendekati lemari di sudut meja belajar Baekhyun, menyibukkan diri dengan entah apa yang terlintas dibenaknya. Baekhyun sendiri lebih memilih mendudukan dirinya di tepian ranjang, menekuk kedua lututnya rapat ke dada dan menenggelamkan kepalanya. Dia berusaha menyembunyikan ekspresi wajahnya saat ini. Menyembunyikan kelemahan dan luka yang lagi-lagi keluar begitu saja.
Hening.
Jongin sibuk menarik keluar pakaian Baekhyun asal setelah sebelumnya ia membuka koper kosong yang terduduk cantik di atas lemari.
"Sebenarnya apa yang saat ini kau lakukan?"
Tangan Jongin mengambang di udara untuk beberapa saat ketika mendengar pertanyaan Baekhyun yang terucap begitu pelan.
"Mengepak beberapa bajumu", jawab Jongin datar seraya melempar asal pakaian Baekhyun ke dalam koper tanpa benar-benar melipat dan menyusunnya. Pikiran anak itu sedang kacau balau. Dan sekali lagi berterima-kasihlah pada makhluk sialan Oh Sehun brengsek yang-
"FUCK!"
Baekhyun reflek mengangkat wajahnya, menatap kaget pada Jongin yang mengumpat kasar bersamaan dengan hantaman kuat tangannya pada pintu lemari.
"Sial!", Jongin kembali mengumpat namun dengan suara yang lebih pelan. Tubuhnya merosot jatuh ke lantai. Dia gemetar. Benar-benar gemetar. Ucapan Baekhyun tadi bukanlah omong kosong belaka. Nyatanya Jongin memang tengah gemetar.
"Jong-"
"Kumohon jangan katakan apapun!"
Wajah sembab Baekhyun kembali pias. Laki-laki itu tidak mengingat apapun. Dia tidak mengetahui kalau Sehun juga ada disana. Kedua pria bodoh idiot brengsek sialan itu ada disana. Baekhyun tidak tahu. Dia terlalu terkejut dengan pertemuan tiba-tiba Irene dan Luhan. Meskipun dia tahu jelas cepat atau lambat ketiga orang itu pasti bertemu… namun entah kenapa ia selalu gagal mempersiapkan dirinya. Dia selalu lemah jika dihadapkan dengan Luhan dan Irene. Baekhyun menyadari betul sekuat apapun dia berusaha mencegah pertemuan mereka...pada akhirnya ia selalu di posisi kalah.
Selalu.
Sama seperti saat itu…dia kalah dan terabaikan karena kedatangan Irene.
Jongin menggigit bibir bawahnya kuat-kuat… menahan segala isakan atau sumpah serapah atau kalimat apapun yang mungkin saja akan lolos dan menghancurkan kepura-puraannya ini. Dia berusaha tampak baik-baik saja padahal didalamnya ia tengah hancur. Dia jatuh lagi dalam keterpurukan karena perasaan tidak berbalasnya pada Sehun.
Tubuhnya tersentak kecil begitu merasakan kedua lengan rapuh memeluknya dari belakang. Pelukan menenangkan yang sangat dibutuhkannya.
BRAK!
"Jun-"
"Sialan kau dokter idiot! Pintu itu baru saja kuperbaiki! Brengsek!", maki Junmyeon sambil menunjuk kasar pada pria bermata rusa yang asal masuk ke ruangannya dan kembali membanting pintu mengindahkan sumpah serapahnya beberapa detik lalu.
"Aku butuh bantuanmu"
"Tidak!", Luhan mendelik tidak terima mendengar jawaban spontan yang terlalu cepat dari Junmyeon. Pria itu- penjaga asrama yang kerjaannya 90% menghabiskan berbungkus-bungkus rokok kini tengah berdiri menantang dengan kedua tangan yang terlipat apik di dadanya. Lagi-lagi sepuntung rokok nyaris habis tengah terjepit manis di bibirnya.
"Sebaiknya kau keluar Xi Luhan. Kau semakin memperburuk suasana hatiku"
"Dan menurutmu aku peduli?!", balas Luhan tidak kalah datar. Tubuh tegapnya tengah bersandar malas pada pintu di belakangnya. Mereka berdua memang seperti ini. Luhan dan Junmyeon. Keduanya tidak pernah akur. Luhan akan mengabaikan segala attitude sialan jika lawan bicaranya adalah pemuda ogah-ogahan seperti Junmyeon. Dan seandainya saja dia tidak membutuhkan bantuan laki-laki itu, mana sudi Luhan menginjakkan kakinya di tempat ini dan beradu melemparkan sumpah serapah pada Junmeyon. Luhan ada disini karena dia tahu Kim Junmyeon-lah yang dapat membantunya.
"Hanya satu bantuan Kim. Untuk kali ini saja… jadi bisa-"
"Tidak! Jawabanku tetap tidak! Pergi sekarang!", Junmyon mendengus kesal sambil menghembuskan asap rokoknya, mengayunkan sebelah tangannya menunjuk pada Luhan dan pintu di belakangnya.
Sebuah pengusiran. Dan Luhan tidak bodoh untuk memahami isyarat itu.
"Baekhyun. Aku minta kode akses kamar Byun Baekhyun, ketua angkatan 1. Aku benar-benar membutuhkannya"
Junmyeon mengerutkan kedua alisnya bingung. Masih tidak mengerti.
"Aku harus bertemu dengannya"
"Ketuk saja pintu kamarnya", Luhan hampir melompat kaget mendengar nada dingin nan datar yang menjawab pernyataannya. Suara itu jelas-jelas bukan milik Junmyeon karena pemuda itu masih diam seribu bahasa dengan rokok di mulutnya dan ekspresi penuh tanya di wajahnya.
"Sehun?! Apa yang kau lakukan disini?", Luhan memandang heran pada Sehun yang tengah mendudukkan dirinya di kursi dan berkuntat dengan laptop.
"Sejak kapan-"
"Dia disini dari jam 4 pagi"
"Okey... lalu?", pandangannya beralih menatapi Junmyeon dan Sehun bergantian. Masih meraba-raba alasan dibalik kehadiran tidak beraura dari pemuda albino itu. Sialan. Luhan benar-benar tidak menyadarinya.
"Kau mencari dia untuk apa?", atensi Luhan kembali menetap pada Junmyeon.
"Ada yang harus kuselesaikan dengannya. Aku mencarinya dari kemarin tapi tidak ketemu. Teman-temannya pun tidak ada yang tahu. Baekhyun membolos pelajaran terakhir. Aku tahu pasti ada yang salah. Karena itu- tolong berikan kode"
"Tidak akan kuberikan. Kalaupun kau masih ngotot silahkan pecahkan sendiri nomor aksesnya seperti yang sedang pemuda gila itu lakukan", jawab Junmyeon seraya mengendikkan dagunya ke arah Sehun.
"Kau mau menghack-nya Sehun?! Kau gila?!"
Luhan mengayunkan langkahnya… nyaris berlari ke arah Sehun yang sibuk memasukkan kode entah apa itu. Luhan hanya diam dan berdiri di belakang kursi yang diduduki pemuda itu sambil kembali menengok ke belakang, menatap Junmyeon yang mengangkat bahu ringan menolak memberikan penjelasan lebih lanjut.
"Jangan bilang kau sedang membobol kode kamar Jonginie?"
Jari-jemari Sehun yang tengah bergerak lincah di atas laptop sontak mengambang di udara. Dahinya berkerut dalam sebelum menoleh memandang dingin pada Luhan.
"Jonginie?!", kali ini dengan satu gerakan Sehun membalik posisinya. Memandang tajam penuh aura membunuh pada Luhan yang melangkah mundur beberapa langkah.
'Shit… Sehun itu reinkarnasi iblis atau bagaimana?! Menakutkan sekali'
"Memangnya ada yang salah?"
"Kau memanggil Jongin dengan Jonginie? Serius?! Sejak kapan kau memanggil Jongin dengan panggilan menggelikan itu Xi Luhan!"
Sementara itu di suatu tempat yang berbeda...
Jongin melangkah lebar, mendekati Baekhyun yang tengah mendudukkan dirinya di kursi taman sambil menyodorkan es krim ke arah pemuda manis itu.
Always strawberry.
Kini Jongin tahu kalau Baekhyun sedikit maniak dengan Strawberry.
"Trims Jonginie", sambut Baekhyun sambil membuka pembungkus es dan melahapnya dalam diam. Jongin hanya menggumam samar, dan menyobek kertas pembungkus sebelum memasukkan benda manis dingin itu ke dalam mulutnya. Keduanya tengah berada di taman yang tak jauh dari rumah Jennie. Adakah yang bertanya bagaimana dua pemuda kacau itu sampai terdampar di kediaman noona kesayangan Jongin? Entahlah. Baekhyun bahkan merasa sangat ajaib begitu menyadari posisinya saat ini. Benaknya terlalu penuh untuk mencerna apa saja yang terjadi sepanjang perjalanan dari asrama sampai ke tempat ini.
Jelasnya mereka berdua tidak kabur.
Keduanya hanya memanfaatkan jatah Golden week mereka dengan pergi sejauh mungkin dari asrama sejak pagi-pagi buta. Baekhyun saja tidak mengecek apa saja isi koper merah mudanya. Dia juga tidak ingat apakah pakaian yang Jongin masukkan benar-benar cukup baginya ataukah-entahlah. Bisa sampai dengan selamat saja Baekhyun sudah sujud syukur. Masalahnya pemuda cantik ini sedikit meragukan-oke abaikan kata sedikit- sangat meragukan jalan pikiran Jongin yang terkadang bodoh tidak pada tempatnya. Tidak heran kalau mereka tersesat di daerah antah-berantah. Bahkan Baekhyun sudah mempersiapkan kemungkinan itu.
"Apa kita merepotkan Jennie noona?"
"Merepotkan apanya?!", Jongin berdecak diujung ucapannya.
"Noona tidak bertanya kenapa kau dan aku datang sepagi-"
"Tidak", Jongin menyela cepat. Atau mungkin terlalu cepat sebelum menghela napas panjang dan menatap Baekhyun dari sudut matanya,"Kau tahu kenapa aku lebih memilih melarikan diri ketempat noona yang sedikit lebih jauh dari asrama dibandingkan pergi ke tempat sepupunya yang bahkan jarak tempuhnya hanya 15-20 menit dengan taksi?"
Baekhyun menelengkan kepalanya, nampak berpikir sejenak,"Entahlah", pandangannya kembali beralih pada Jongin yang sudah menghabiskan es krim miliknya,"Karena Jennie noona tidak akan pernah bertanya apa dan kenapa. Dia lebih seperti cenayang menurutku". Pemuda manis itu terdiam beberapa saat sebelum menyamankan posisi duduknya,"Dia tahu ada yang tidak beres dengan kita berdua. Dan hal itu jelas-jelas berkaitan dengan asrama. Noona bukan tipikal orang yang akan memberondong kita berdua dengan segala pertanyaan. Dia lebih memilih diam. Jika kau ingin bercerita maka noona pasti mendengarkannya. Karena itu aku lebih nyaman"
"Begitu..", Baekhyun menggumam samar sambil melempar pandangannya ke depan,"Kau beruntung. Aku anak tunggal. Kedua orang tuaku di luar negeri. Setiap liburan aku selalu di asrama. Meskipun asrama tidak pernah kosong, tapi tentu saja rasanya berbeda"
Baekhyun memakan kembali sedikit es krimnya sebelum meneruskan perkataannya yang menurut Jongin masih sangat menggantung.
"Bohong kalau aku bilang aku tidak merindukan rumah. Tidak merindukan orang tuaku. Aku rindu. Tapi aku tidak bisa pulang", Baekhyun tersenyum miris sebelum kembali melahap satu sendok besar es krim strawberry-nya yang mulai meleleh.
"Aku ingin pulang tapi tidak bisa pulang. Kalau pun pulang, aku tidak punya tujuan. Tempat pulangku tidak pernah ada lagi. Tidak pernah sama lagi. Karena itu, terima kasih sudah membawaku ke sini"
Jongin menatap lama pada Baekhyun. Memandang lebih lekat apa yang pemuda cantik itu sembunyikan. Apa yang sebenarnya ia rasakan. Tapi semuanya masih terasa samar. Jongin hanya melihat kesedihan. Sedih yang bahkan membuat Baekhyun tidak sama lagi. Jujur saja Jongin lebih memilih di bully dan menerima sikap bar-bar Baekhyun yang dulu dibandingkan berhadapan dengan pemuda cantik melankolis yang saat ini duduk di sampingnya. Baekhyun terasa asing. Yah- begitu asing dan jauh…. Dan Jongin tidak menyukainya.
"Lagipula denganmu di sini, aku bisa berkenalan dengan noona cantikmu. Atau hey Jonginie… mungkin aku bisa mendekati- auwh.. Yah!", Baekhyun mendelik jengkel sambil mengusap dahinya yang disentil Jongin.
"Jangan berani-beraninya mendekati noona. Meski kau sahabat baikku, aku tidak akan mentolerirmu bila mendekati noonaku"
"Jongin- kau ternyata sister complex yah?! Aku baru tahu kau bisa seposesif itu dengan kakakmu Jonginie?", Jongin mendelik lagi mendapati peringai Bakehyun yang mulai menjahilinya.
"Kau tidak ingin bertanya tentang kemarin?"
"Kalau aku bertanya apa kau akan menjawabnya?"
Baekhyun mengulum senyum paksa, sebelum kembali melahap suapan terakhir es krim dan membuang pembungkusnya ke tempat sampah.
"Mau tidak mau aku pasti menjawabnya. Karena ini juga berkaitan dengan Sehun"
Jongin nampak terkesiap mendengar nama Sehun dalam pernyataan Baekhyun.
"Aku tahu Jongin. Aku tahu kalau kau menyukai Sehun. Aku tahu kau sudah jatuh cinta dengan pemuda sableng itu", Baekhyun memasang cengiran jahil mendapati satu ulas senyum kecil menari di bibir penuh sahabat manisnya itu.
"Aku akan menceritakan semuanya padamu. Tapi mungkin aku akan bingung harus memulainya darimana. Jadi-", Jongin memandang heran pada Baekhyun yang tiba-tiba berdiri,"kita membahasnya di rumah saja. Lebih nyaman dan lebih privasi"
Jongin mengangguk kecil mengikuti perkataan Baekhyun.
Jika Luhan dan Junmyeon terbilang tidak pernah akur maka lain ceritanya bila Sehun dipertemukan dengan Luhan.
Sehun dan Luhan… hasil akhirnya adalah perang.
Entah itu perang non verbal maupun verbal... dan jangan heran bila fisik pun berbicara. Kedua orang itu sungguh berbahaya bila ditempatkan pada kondisi dan situasi yang sama dalam waktu yang lama. Sehun dengan aura intimidasi dan lidah tajamnya dan Luhan dengan segala kalimat provokatif dan otaknya yang manipulative.
Terlalu menyeramkan untuk dibayangkan.
Kali ini- entah keberuntungan atau kesialan… mereka berdua bertemu dengan aura tidak mengenakkan dan Junmyeon adalah satu-satunya orang luar yang terjebak dalam situasi mematikan tersebut.
"Apa aku tidak salah dengar Sehun?! Kau bilang panggilan Jonginie pada Jonginie-ku menggelikan?! Kau yakin? Karena setahuku Jonginieku terima-terima saja dipanggil begitu olehku. Apalagi panggilan itu adalah panggilan sayang yang-"
"Perhatikan kalimatmu dokter sialan! Siapa yang Jonginie-ku dan juga panggilan sayang?!", Sehun bangkit dari posisi duduknya. Meninggalkan segala kode yang terketik rapi di laptop, memandangi Luhan yang bahkan kini menyuguhkan senyuman miring meremehkan padanya. Bangsat…
"Kau tidak pernah peduli dengan segala macam nama dan panggilan orang tapi kenapa kali ini berbeda?!", Luhan malah semakin menantang Sehun dengan ekspresi wajah yang menyebalkan.
"Karena dia milikku sialan! Kim Jongin milikku sejak dia masuk asrama. Sejak dia menjalankan orientasi angkatan. Sejak saat itu sampai kapanpun dia milikku dan kau-", Sehun menyipitkan matanya, penuh amarah, "tidak berhak apapun padanya!"
"Kau cemburu Sehun", Luhan tergelak setelah mengucapkan pernyataannya dengan nada sing asong. Pemuda itu menatap geli pada Sehun yang mulai menampakkan ketidakramahan. Kedua tangan pemuda pucat itu bahkan sudah terkepal kuat.
"Ternyata kau cemburu. Akui saja itu bocah brengsek!"
BUK
Baru saja menyelesaikan perkataannya, Luhan sudah jatuh tersungkur jatuh dengan sudut bibir pecah karena hantaman telak Sehun. Junmyeon sampai meloncat kaget dari posisi duduknya yang jauh di sudut ruangan.
"Berhenti kalian berdua!", Junmyeon meraung kesal seraya melangkah cepat menghampiri Luhan yang terkekeh dengan tetesan darah segar. Dokter itu menepis tangan Junmyeon yang hendak membantunya berdiri.
"Kau semakin kurang ajar pada sepupumu sendiri Oh Sehun", desis Xi Luhan dengan rahang yang menggeras dan ekspresi gelap. Hilang sudah cengiran bodoh dan senyuman miring yang sejak tadi menari-nari di wajah Luhan. Satu hantaman telak Sehun membuat pertahanan emosinya luluh lantak.
"Tidak pernah ada kata sepupu dalam silsilah keluargaku. Dia sudah mati 3 tahun lalu"
"Seperti biasa… kau dan asumsimu sendiri. Tidak heran Jongin menghindarimu. Kau memang tidak tahu apa-apa"
TAP
TAP
BUK
"Shit!"
Luhan mengibaskan tangannya yang baru saja mendaratkan pukulan balasan pada wajah memuakkan Sehun yang kini terdorong beberapa langkah ke belakang meski sayangnya tidak sampai tersungkur ke lantai,"Ego setinggi langitmu itu akan semakin menjauhkanmu dari kenyataan bocah idiot! Sama seperti 3 tahun lalu. Kau masih tidak tahu apapun"
Luhan sudah berbalik menjauh nyaris mencapai pintu,"Kalau kau berpikir aku masih mengharapkan wanita yang jelas-jelas membuangku.. maka kau salah besar Oh Sehun. Satu-satunya orang yang kubutuhkan saat ini hanya Byun Baekhyun"
Ceklek
BLAM!
"Jadi- bisa kau membantuku dengan menanyakan apa saja yang terlintas di kepalamu karena aku sendiri bingung harus memulai dari mana", Baekhyun memandang geli pda Jongin yang nampak tegang dan gugup. Mereka berdua sudah berada di kamar. Baekhyun sudah siap menceritakan apapun mengenai dirinya, Luhan, Sehun, dan wanita itu. Akan tetapi dia masih bingung harus memulai dari mana. Karena itu Baekhyun lebih memilih Jongin yang melemparkan pertanyaan padanya dan ia yang akan memberikan jawabannya.
"Baekki, kau mengenal Sehun dan Luhan juga-", Jongin menjilat bibirnya yang mendadak kering. Berat rasanya menyebutkan nama Irene. Nama dan wanita itu terlalu tabu untuk dihadapi Jongin karena kilasan pertemuan mereka kemarin akan langsung menyergap dan memutar kembali bagaimana rindunya Sehun sampai-
"Ya. Tentu saja aku mengenalnya", Baekhyun melempar tatapannya ke luar, membiarkan jendela kamar Jongin terbuka lebar sungguh opsi yang bagus sehingga paling tidak laki-laki berparas cantik itu tidak perlu menatap Jongin dan memperlihatkan emosi yang sudah lama ia pendam. Segala kesakitan yang membuatnya lemah setiap kali berhadapan dengan Luhan dan wanita itu.
"Kami bertiga saling mengnal sejak kecil karena orang tua kami bersahabat dan tempat tinggal kami pun berada di lingkungan yang sama. Kami bertiga dibesarkan bersama-sama. Aku, Sehun, dan Luhan"
Baekhyun semakin mendekap erat bantal yang sejak tadi ia peluk. Ingatannya kembali berputar mengulang masa lalu…
Entah bagaimana... namun cerita masa lalu mereka bertiga dapat mengalir keluar begitu saja dari bibir pucat Baekhyun. Otaknya seolah sudah terprogram untuk memutar kembali semua kisah masa kecil mereka dengan begitu apik seolah tidak pernah ada satupun kenangan yang terlewatkan.
Jongin menyaksikan sendiri bagaimana Baekhyun mengulum senyum simpul yang begitu manis ketika menceritakan masa kecil mereka bertiga. Tentang Luhan yang selalu menjadi sosok penengah ketika Sehun dan Baekhyun memperebutkan atau meributkan sesuatu. Luhan yang selalu menemani Baekhyun bermain, mengawasinya tanpa kenal lelah. Luhan yang akan selalu menjadikan Baekhyun sebagai prioritas dalam hidupnya meskipun ia harus mendapatkan rangkaian kalimat protes yang keluar dari mulut tajam Sehun yang tiada lain sepupunya sendiri. Luhan yang bagaikan sosok pangeran di mata Baekhyun. Luhan yang menjadi pusat dunianya.
Sedikit banyak Jongin memahami perasaan itu. Rasa sukanya pada Sehun mulai menyingkirkan segala kebenciannya yang sejak awal tertanam dalam lubuk hatinya. Jongin tidak ingin munafik jika diawal kehidupan asramanya ia sungguh sangat membenci Sehun. Baginya laki-laki itu adalah monster yang siap merobek dan mengoyak perasaan orang lain. Jongin tidak pernah sekalipun berpikir bahwa Sehun itu menarik. Jika dia mampu mengontrol hatinya sendiri maka ia mungkin berpikir jutaan kali untuk jatuh cinta pada mosnter itu. Namun Jongin tidak sanggup. Dia tidak mampu membawa hatinya untk mencintai orang lain. Dia hanya memahami satu hal kalau hatinya telah memilih Sehun.
"Menggelikan bukan bagimu jika aku bilang aku menyukai Luhan sejak aku masih kecil", Baekhyun tertawa kecil sambil mengusap wajahnya kasar,"Aku menyukainya selama itu Jongin. Aku sungguh berharap Luhan selalu menjadikanku sebagai prioritasnya. Aku tidak pernah berpikir jika suatu saat nanti ada orang lain yang menggeserku dari posisi itu"
"Wanita itu yang melakukannya?"
"Aku tidak bisa mencegahnya Jongin. Wanita itu datang dan memasuki kehidupan kami. Semuanya berlangsung begitu cepat. Aku sendiri tidak ingat jelas sejak kapan kami mulai tercerai-berai"
"Kadang aku bertanya apakah karena duniaku dan dunia Luhan yang berbeda sehingga dengan mudahnya posisiku terenggut begitu saja karena kehadiran orang lain? Ataukah karena ikatan kami yang terlalu lemah sehingga tanpa badai yang kuat sekalipun kami bahkan terpisah sendiri-sendiri. Aku tidak mengerti"
.
.
"Aku membenci wanita itu karena dia merebut Luhan"
"Luhan selalu membicarakan wanita itu begini… wanita itu begitu… dia mulai membanding-bandingkanku dengan wanita itu. Setiap hari setiap saat… dia menyakitiku dengan wanita itu. Walau aku masih bocah saat itu dan tentu saja siapa yang akan peduli dengan perasaan monyet bocah belasan tahun yang bahkan masih mengandalkan materi dari orang tua?! Luhan mulai menjauh. Begitu juga Sehun. Dan kau tahu? Luhan menghancurkan impianku menjadi pengantinnya dengan melamar Irene. Dia mengamuk tidak terima pada orang tuanya yang menjodohkan kami berdua"
Tetesan demi tetesan air mata lolos mengalir di wajah Baekhyun.
"AKU TIDAK INGIN DIJODOHKAN DENGAN BOCAH! AKU MENCINTAI IRENE! AKU MEMILIKI GADISKU SENDIRI!"
"KALAU BEGITU DADDY SAJA YANG MENIKAHI BAEKHYUN!"
"AKU SUDAH MELAMAR IRENE DAN AKAN MENIKAHINYA! SUKA ATAU TIDAK! INI HIDUPKU! AKU BEBAS MENENTUKAN DENGAN SIAPA AKU AKAN MENIKAH!"
"BYUN BAEKHYUN, AKU TIDAK TAHU RAJUKAN SEPERTI APA YANG SUDAH KAU BUAT SEHINGGA ORANG TUAKU TIDAK MAU MENDENGARKANKU! AKU MEMBENCIMU! SANGAT MEMBENCIMU! DAN AKU BERSUMPAH TIDAK AKAN PERNAH JATUH CINTA APALAGI MENIKAHI BOCAH SEPERTIMU! LEBIH BAIK KAU BUNUH AKU BYUN BAEKHUN! AKU MENYESAL MENGENALMU!"
"Baekki-"
"Don't!", Baekhyun menggelengkan kepalanya kuat dengan sebelah tangan terangkat menyuruh Jongin diam,"Stay there. Jangan mendekat Jonginie. Aku tidak apa-apa", Baekhyun mengusap kasar airmata yang mengalir semakin deras. Ingatannya benar-benar merekam dengan baik segala caci maki dan ekspresi Luhan saat itu. Baekhyun mengingat dengan begitu jelasnya.
"Hubungan mereka berdua kacau balau Jonginie. Sehun mengamuk mendengar Luhan melamar wanita itu. Keduanya perang dingin… bahkan keluarga mereka masing-masing pun terlibat sedikit konflik. Aku pun demikian. Keluargaku terkena dampak ketika Luhan menolak perjodohannya"
"Saat itu bukan hanya kami bertiga yang menjauh.. tapi pelan-pelan keluarga kami pun mendingin satu sama lain. Tidak ada lagi interaksi hangat ataupun acara kumpul setiap akhir pekan. Semuanya hancur dalam sekejap"
"Mereka jadi menikah?"
Baekhyun tersenyum kecut sambil menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang,"Seharusnya. Seharusnya mereka menikah karena Luhan sudah mempersiapkan segalanya meski tidak ada bantuan apapun dari keluarga. Tapi pada akhirnya kami datang, menghadiri pemberkatan itu. Dan kau tahu kekacauan apa yang timbul disana Jonginie?"
Pemuda manis itu nampak berpikir sesaat sebelum menggelengkan kepalanya ragu. Dia merasa sesuatu yang buruk telah terjadi melihat ekspresi Baekhyun.
"Irene tidak datang ke pemberkatan. Dia membiarkan Luhan menunggu di altar seperti orang bodoh selama berjam-jam dengan segala hujatan dan caci maki keluarga dan tamu undangan. Irene meninggalkan buket bunga dan gaun pengantin yang Luhan pilihkan untuk ia kenakan di hari itu. Wanita itu meninggalkan Luhan dengan secarik robekan kertas yang tergeletak asal di atas bukat pengantin"
'Aku tidak bisa'
"Wanita itu lenyap tanpa penjelasan dan permintaan maaf. Meninggalkan Luhan sendirian. Meninggalkan Sehun yang menganggap kepergian Irene karena sikap Luhan. Meninggalkan kehancuran untuk kami bertiga"
"Kau ingat ucapanku di taman tadi? Aku mengatakan padamu kalau asrama tidak pernah kosong?"
"Ya.."
"Itu karena- aku dan Sehun selalu menjadi satu-satunya penghuni asrama yang tidak pernah pulang. Luhan pun begitu. Dia- tidak pernah diterima keluarganya karena kejadian 3 tahun lalu"
Baekhyun menepuk sisi ranjang yang kosong, meminta Jongin duduk di sebelahnya,"Aku tidak tahu bagaimana perasaan Sehun dan Luhan untuk wanita itu. Aku tidak tahu alasan dibalik kedatangannya yang tiba-tiba ke sekolah. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Namun ada hal yang bisa kupastikan Jonginie, perasaanku pada Luhan tidak pernah berubah sampai saat ini. Tapi aku sedang berusaha untuk menghapusnya pelan-pelan. Aku sudah menyerah Jonginie. Tapi kau- berbeda. Aku berharap Sehun tidak mengulangi lagi kesalahannya. Hanya kau Jonginie. Perjuangkan perasaanmu. Kau mendapatkan restuku untuk menjadikan bocah sableng itu bertekuk lutut padamu. Jangan pernah menyerah. Kau melebihi segalanya dari wanita itu. Paling tidak aku tau, kau –tidak akan meninggalkan Sehun"
Sehun menatap layar ponselnya yang masih tidak bereaksi apapun. Tidak ada satupun balasan chat dari pemuda manis yang sosoknya sejak tadi menari-nari indah di otaknya. Tidak peduli ratusan chat dan mungkin puluhan telepon yang tidak ditanggapi Jongin. Sehun kesal. Dia kembali diacuhkan dan dihindari Jongin padahal belum sampai 12 jam mereka saling bicara. Pemuda itu tiba-tiba saja menarik Baekhyun pergi dan menghilang tanpa kabar sampai detik ini. Berbicara soal Baekhyun, Sehun kembali teringat kejadian kemarin dimana wanita itu- bukan..gadis itu.. cinta pertamanya… Bae Irene yang masih di hatinya akhirnya muncul kembali. Irene datang di hadapannya. Dia masih sama seperti dulu… tidak.. lebih cantik… sangat cantik malahan. Sehun bahkan tidak dapat memikirkan hal lain selain memaku atensinya pada sososk wanita cantik itu.
Sehun merindukannya.
Ponselnya tiba-tiba bergetarhebat… menarikalamsadar Sehun bralih pada benda berbentuk perseg panjang itu.
Keningnya saling bertautan bingung mendapati nama Junmyeon, penjaga asrama yang mengirimkan sebuah pesan padanya.
'Jonginine. week'
Sontak Sehun melompat dari ranjangnya dan menarik jaket hoodienya sebelum melangkah keluar kamar dengan setengah berlari.
"SHIT! Sehun! Astaga… kau mau ke-", Chanyeol berteriak di ujung tangga begitu dirinya berpapasan nyaris tabrakan dengan sosok tinggi Sehun yang berlari dengan ponsel yang menempel di telinga. Laki-laki jangkung itu berdecak kuat menyadari Sehun yang melanggar jam malam asrama.
'Ini sudah tengah malam. Orang itu mau kemana?'
Jongin mengusap wajahnya frustasi. Sejak tadi dia hanya membolak-balikkan tubuhnya di ranjang tanpa benar-benar terlelap. Kantuknya hilang menguap begitu saja. Insomnianya kambuh lagi. Jongin menggeram jengkel, menjambak rambutnya kesal, tidak peduli berapa banyak domba, kambing, ayam yang ia hitung- mata Jongin tetap menyala terang. Sudah 1 cangkir susu cokelat dan setengah cokelat panas yang masuk ke organ pencernaannya namun tidak berefek apapun. Jongin masih sadar. Sepenuhnya.
"Sialan!", Jongin bangun dari posisi berbaringnya. Menghela napas panjang sebelum menjangkau ponselnya yang dibiarkan mati sejak kemarin. Kedua tangannya mencengkram kuat benda itu sebelum kemudian menghidupkannya dengan gelisah. Satu sisi ia berharap Sehun menghujani ponselnya dengan ratusan chat ataupun telepon namun disisi lain Jongin takut terlalu berharap karena sekarang Irene telah kembali dan bukan tidak mungkin Sehun tidak akan mencarinya lagi.
Miris.
Namun kegundahan itu hanya berlangsung satu menit sebelum ponselnya berkedip-kedip non stop dengan notif yang penuh dengan nama Sehun. Ratusan chat dan puluhan telepon masuk bersamaan membuat pemuda manis itu mengulas senyum kecil.
Sehun mencarinya.
Tangannya bergerak cepat membuka chat dari Sehun.. membacanya satu per satu.
Luhan menatap jengkel manusia albino yang menerjang masuk kamarnya tanpa ba bi bu dan tanpa mengenal waktu.
"Kau sungguh sopan", desis Luhan menyindir Sehun yang saat ini dengan seenak jidat mendudukkan dirinya di kursi.
"Kau sudah menghubungi Baekhyun?"
Satu alis Luhan terangkat, matanya menatap tajam pada Sehun yang tiba-tiba menjadikan Baekhyun topik pembicaraan di malam yang sialan-ini sudah larut malam malahan!
"Belum. Dan apa kau tidak sadar ini sudah tengah malam! Kau ingat jelas kapan jam malam asrama Oh Sehun. Kenapa kau yang ketua angkatan senior malah melanggar aturannya?!"
"aku tidak peduli. Melanggar aturan terkadang lebih menyenangkan. Jongin bersama Baekhyun. Mereka menggunakan jatah golden week mereka. Namun si keparat Jun sialan itu tidak mau memberikan info apapun. Chat dan teleponku tidak digubris Jongin. Baekhyun juga sama. Tidak bisakah kau mengusahakan sesuatu?"
"Wowowo sabar bocah. Tumben kau berbicara panjang dalam satu tarikan napas. Kau demam?!"
"Cih memangnya kau peduli?!"
"Tidak sama sekali!"
"Lebih baik kau pulang. Aku bukannya berbaik hati memberikanmu saran. Setidaknya mengusirmu adalah opsi terbaik untuk nyawamu saat ini. Kepalaku sakit dengan masalah ini dan jangan kau buat tambah rumit. Keluar!"
Luhan mengenal baik pria sableng nan dingin yang ada di hadapannya kini. Laki-laki yang mungkin cocok bila digambarkan sebagai mafia, psikopat, vampire, atau tokoh-tokoh antagonis yang hobi menebar aura horror disekitarnya. Luhan bahkan berani bertaruh dengan dirinya sendiri jika ancamannya tadi tidak akan pernah didengarkan oleh bocah sialan yang sayangnya masih bersaudara dengan dirinya. Bocah sialan yang selalu saja menyulut masalah dan bersaing dengannya sejak dulu. Sejak saat itu.
"Junmyeon mengabariku-", Sehun menahan ucapannya sambil menyimak baik-baik ekspresi yang ditunjukkan oleh lawan bicaranya,"kalau Jongin bersama Baekhyun"
1-0
Sehun menyeringai senang ketika Luhan mulai menampakkan ketertarikannya pada informasi yang baru saja ia sampaikan. Sudah jelas bukan kalau pria itu tidak tahu apapun mengenai Baekhyun. Dengan kata lain- Junmyeon hanya memberitahukan informasi tadi untuknya.
"Pergi kemana mereka?"
"Entahlah. Junmyeon tidak memberitahuku. Dia hanya mengirimkan pesan yang mengatakan Jonginie. Baekhyunnie. Golden week", Luhan mengernyitkan dahi menyimak penuturan Sehun sebelum dia tergelak sendiri.
"Jonginie? Si sialan Jun itu memanggil Jonginie-ku dengan Jonginie?"
Sehun menyipitkan matanya. Amarahnya dengan mudah meletup begitu saja setiap kali Luhan menyebutkan Jongin-nya dengan Jonginie-ku. Jonginieku-demi Tuhan! Panggilan menjijikkan!
"Dan kau memilih mendatangiku di tengah malam dibandingkan menghajar Jun yang jelas-jelas menyebut Jonginmu dengan Jonginie. Kau aneh Oh Sehun"
"Dan bagaimana denganmu brengsek?! Kau biasa saja mendengar Jun sialan itu menyebut Baekhyun dengan Baekhyunnie. Memangnya mereka sedekat apa sehingga bisa dipanggil semesra itu. Kau tidak penasaran? Tidak marah?"
Luhan mengatupkan kedua rahangnya kuat-kuat mendengar ucapannya yang dibalikkan oleh Sehun.
Crap.
Ingatkan dia untuk menghajar Jun secepatnya.
"Aku pasti akan membunuhnya"
"Aku ikut", sambut Sehun tidak kalah dinginnya.
"Jadi- tujuanmu ke sini?"
"Temukan Baekhyun. Dengan begitu aku tahu dimana Jongin. Aku tidak bisa membiarkannya menghindariku lagi"
From: Oh Se-tan-Hun
Baek, dimana kau?
Kau tahu keberadaan Jongin?
Baekhyun aku tahu kau bersama Jongin. BALAS CHATKU!
Byun, aku benar-benar akan mengamuk padamu.
Baekhyun. KATAKAN KALIAN DIMANA!
Baekhyun mendesah geli membaca chat yang beruntun masuk ke ponselnya. Semuanya berasal dari pengirim yang sama. Oh Sehun. Laki-laki itu pasti sangat panik mencari Jongin yang kembali menghindarinya. Baekhyun jadi ingin melihat raut wajah Sehun saat ini. Pasti akan sangat menyenangkan untuk dijadikan lelucon atau bahan jahil berikutnya.
Oh Se-tan-Hun calling….
Baekhyun membutuhkan beberapa detik lebih lama sebelum dia memutuskan untuk menjawab panggilan dari pemuda datar disana.
"Halo"
.
.
TBC
Maafkan diksinya yang hancur….oh my… =.=
Meskipun hancur dan typo bertebaran karena Chae gak punya banyak waktu untuk mengedit, tetap RnR yah… Chae tunggu.
Part ini udah membuka sedikit masa lalu Sehun, Luhan, Baekhyun, dan Irene yah. Lalu dimohon untuk memperhatikan alur ceritanya yah. Misalnya paragraf yang ini milik Sehun... nanti paragraf yang lain sudah pindah ke Jongin dan Baekhyun. Chae juga tidak terlalu menyukai pemberian keterangan tempat dan orang setiap kali pindah paragraf. Maafkan diriku... hiks
With love
Chae
