The Bastard King

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

and the other cast

School life, Romance, Drama

Warning :

Genderswitch

P.s :

Jangan lupa baca author notes di bawah

The story is mine, but the cast are not mine

Happy Reading!

Chapter 3 ㅡ Who Are You

Suara deru nafas dan gesekan angin malam terdengar lebih mendominasi kali ini. Kedua insan itu masih saja sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Baekhyun sibuk memikirkan betapa senangnya ia hari ini dan Chanyeolㅡentah apa yang sedang ia pikirkan tetapi sepertinya ia sedang berpikiran yang tidak-tidak. Oh lihat saja wajah mesumnya itu!

Drrtt... Drrtt...

Dering panjang ponsel Baekhyun memecah keheningan di antara mereka. Baekhyun mengalihkan atensinya pada ponsel di sakunya. Ia mengernyit melihat deretan angka yang tertera disanaㅡBaekhyun tidak tahu ini nomor ponsel siapa. Baekhyun baru saja menggeser tombol hijau pada layar ponselnya dan si penelepon di seberang sana langsung berteriak kencang dengan suara melengkingnya yang khas. Oh apakah diaㅡ

"Baekhyun! Eonnie mencarimu kemana-mana! Kau dimana? Sekarang sudah jam sebelas malam, bocah! Cepat kembali atau aku akan menarik kupingmu lebih kuat lagi, dumbo!"

Baekhyun yang mendapat serangan dari Luhan hanya tersenyum geli tanpa berniat menjawab ucapan Luhan sedikitpun.

"Kau masih disana, Baekhyun?"

"Jawab atau aku akan menjepit kupingmu dengan capitan jemuran!"

"Eonnie kenapa kau tahu nomor ponselku?"

"Jonghyun. Pengawal bernama Jonghyun kemari. Ia mencarimu danㅡ"

"Damn." Baekhyun menyela ucapan Luhan sambil mengumpat. Karena malas melanjutkan percakapan Baekhyunpun memutuskan sambungan telepon. Ia tampak sangat kesal sekarang. Baekhyun bahkan memijit pangkal hidungnya pelanㅡberusaha menenangkan dirinya sendiri.

Dengan tangan kirinya yang masih memegang ponselnya, Baekhyun membuka pintu di sampingnya dan keluar dari mobil itu. Baekhyun sepenuhnya melupakan keberadaan Chanyeol disana selama ia mengobrol dengan Luhan beberapa saat yang lalu. Sementara Chanyeolㅡdengan otak yang masih memproses situasi saat ini hanya diam saja sembari memerhatikan gerak-gerik Baekhyun.

Baekhyun melangkah pelan-pelan di aspal jalanan yang entah kenapa rasanya sangat dingin. Ia membuka pintu penumpang mobil Chanyeol dan menemukan sandal rumah kelincinya. Baekhyun tersenyum senang kemudian mengambil sandalnya untuk ia pakai. Baekhyun baru saja akan melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu sebelum sebuah tangan yang kuat dan keras mencekal lengannya.

"Tunggu dulu." Suaranya yang rendah dan serak terdengar sangat mendominasi diantara keheningan malam. Baekhyun hanya balas menatapnya sengit.

"Siapa kau?"

"Kenapa kau harus tahu?"

"Tentu saja aku harus tahu, sialan. Kau menyelinap ke dalam mobilku entah sejak kapan dan dengan seenaknya kau merusak pertandinganku."

"Merusak? Apa kau baru saja mengatakan bahwa aku mengacaukan pertandinganmu?"

"Sudahlah cepat katakan padaku siapa kau sebenarnya."

"Aku harus pergi."

"Justru ituㅡ" Chanyeol mencengkram lengan Baekhyun lebih keras, takut kalau-kalau anak itu melarikan diri. "Aku tidak akan melepaskanmu sebelum aku tahu siapa kau."

"Masa bodoh. Lepaskan aku!" Baekhyun membentak Chanyeol.

"Tidak."

"Lepaskan aku! Kuperingati, aku akan merusak masa depanmu hanya dalam hitungan detik. Aku akan mulai menghitung sampai hitungan ketiga."

Chanyeol terdiam memandangi Baekhyun. Ia kebingungan. Sebenarnya apa maksud ucapan anak ini? Baekhyun justru hanya menatap Chanyeol sengit.

"Satu." Baekhyun menatap ke depan dengan raut wajah yang datar tetapi nada suaranya terdengar sangat mengancam.

"Apa yang sedang kau lakukan?" Chanyeol bertanya marah karena Baekhyun seperti sedang bermain-main dengannya. Chanyeol sangat tidak suka diabaikan. Ia semakin memperkuat cengkramannya pada lengan Baekhyun.

"Dua." Tapi Baekhyun tidak peduli. Ia tetap menghitung.

"Hanya katakan padaku siapa namamu!"

"Tiga!" Baekhyun berseru nyaring.

Chanyeol terdengar merintih dan Baekhyun tersenyum menang. Bagaimana tidak? Ini menyenangkan. Baekhyun baru saja menyerang selangkangan Chanyeol dengan lututnya. Oh My. Itu pasti sangat sakit dan Baekhyun tidak bermain-main saat mengatakan bahwa ia akan merusak masa depan Chanyeol.

"Dengar, anggap saja kita impas, mata keranjang! Memangnya kau pikir aku tidak tahu kalau kau sudah berkali-kali mengusap pahaku saat balapan, hah? Kau bahkan bertanya siapa aku. Sangat tidak sopan sekali."

Baekhyun berseru marah dengan pandangan menantang. Sementara Chanyeol hanya merintih sambil merapatkan pahanya dan kedua tangannyaㅡtanpa tahu malu bertengger di atas selangkangannya. Sesekali Chanyeol akan memejamkan matanya erat sambil bergumam "Oh masa depanku." Atau "Sialan ini sakit sekali."

Baekhyun hanya menatap datar pemandangan di depannya kemudian berjalan menjauhi Chanyeol secepat yang ia bisa. Betapa malangnya nasibmu, Park.

.

.

.

.

The Bastard King

Baekhyun melangkahkan kakinya menuruni taksi yang baru ia naiki. Matanya sayu dan ia sangat kelelahan. Baekhyun baru saja akan memasuki pekarangan istana lewat pintu gerbang utama sebelum matanya tanpa sengaja melihat sosok yang ia kenal tengah berdiri disana dengan raut wajah cemas. Sesekali orang itu membawa tangannya untuk mengusap lengannya. Baekhyun yang tadinya sudah sangat mengantuk segera mendekati perempuan itu dengan cengiran khasnya.

"Eonnie!" Baekhyun sedikit melompat-lompat dan berlari kecil mendekati Luhan.

Luhan segera menoleh ke asal suara tersebut. Walaupun merasa kesal, tapi Luhan akhirnya tersenyum melihat Baekhyun.

"Aku mengkhawatirkanmu, dumbo." Luhan mendekati Baekhyun dan mereka berpelukan ala gadis-gadis.

"Maafkan aku eonnie." Baekhyun menggoyangkan pelukan mereka main-main.

"Ayo masuk, kau kedinginan." Luhan mengurai pelukan mereka dan memperhatikan penampilan Baekhyun. Anak ini pasti akan segera sakit. Baekhyun tidak pernah tahan dengan dingin.

.

.

.

.

.

Dan benar saja, seperti perkiraan Luhan, begitu masuk ke dalam istana Baekhyun langsung bersin disana-sini. Hidung dan matanya memerah. Tubuhnya seketika menjadi sangat lemah. Baekhyun sakit.

Luhan tadinya ingin memapah anak itu sampai paviliun timur. Tapi Baekhyun bersikeras bahwa ia masih kuat untuk berjalan sendiri. Akhirnya Luhanpun mengalah. Mereka berjalan bersisian sampai mereka memasuki salah satu kamar Baekhyun di sana.

"Eonnie akan disini?"

"Kau pikir aku akan meninggalkanmu yang sedang begini?"

"Kau akan merawatku lagi..." Baekhyun terharuㅡentahlah ia merasa tersentuh sekarang. "Seperti dulu, ketika aku masih kanak-kanak, kau akan merawatku." Baekhyun menyengir ria.

"Ya itu karena kau sakit. Kenapa kau merepotkan sekali sih?" Luhan memasang ekspresi terbebani. "Pergilah berbaring di kasurmu. Aku akan mengambil obat dan air minum." Baekhyun hanya mengangguk patuh dan mengikuti perintah Luhan.

Beberapa saat setelah Baekhyun menyamankan posisinya di kasur dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga ke dagu, Luhan datang membawa kantung plastik berisi botol air mineral dan obat di tangan kirinya. Tangan kanannya membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Luhan membuka dan menutup pintu dengan kakinya yang bebas. Baekhyunㅡdengan mata sayunya memperhatikan Luhan yang berjalan mendekatinya.

"Duduklah Baek. Kau harus meminum obatmu."

Baekhyun hanya menurut saja. Ia mengambil kantung plastik dari tangan Luhan dan mulai meminum obatnya sendiri. Setelah selesai, Baekhyunpun kembali ke posisi berbaringnya. Luhan dengan cekatan menaruh kompresan di atas dahi Baekhyun yang berbaring.

"Apakah kau mengantuk? Kau bisa tidur, Baek."

"Tidak. Ayo kita mengobrol."

"Baiklah."

"Eonnie tidak tinggal di sini kan?"

"Tidak. Aku tinggal di flatku sendiri. Tapi jaraknya ke sini dekat."

"Raja menawarkanku tinggal di paviliun ini. Apakah kau tahu?"

Luhan tersenyum geli, "Tentu aku tahu. Itu sebabnya aku memintamu cepat pulang dan ketika aku melihatmu sakit aku mengantarmu berjalan ke sini."

"Kau tahu banyak tentangku." Baekhyun cemberut.

"Mudah saja, Baek."

"Lalu apakah kau tahu dimana ayahku sekarang?"

"Barusan ayahmu pergi. Ia menemani raja ke Shanghai. Beliau memiliki pertemuan besar disana."

Baekhyun hanya mengerutkan keningnya, "Ayah tidak memberitahuku."

"Benarkah? Mari kita lihat ponselmu."

Luhan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar Baekhyun. Pandangannya terhenti ketika ia berhasil menemukan ponsel Baekhyun yang tergeletak di atas nakas di samping tempat tidur Baekhyun. Luhan kemudian menyambar ponsel Baekhyun. Ia membuka lock screen ponsel Baekhyun dan membuka kotak pesan masuk di sana. Setelahnya iapun memberikan ponsel itu pada Baekhyun. Benar saja, ada dua belas pesan masuk yang belum ia baca. Empat dari ayahnya dan tujuh diantaranya dari nomor yang belum ia simpanㅡdan Baekhyun cukup yakin itu adalah nomor ponsel Luhan.

"Kami mencarimu kemana-mana, Baek. Kau menghilang seperti hantu. Tidak ada satupun pengawal disini yang melihat kemana kau pergi. Ayahmu ingin berpamitan denganmu, tapi kau tidak ada. Ia memberi nomor ponselmu padakuㅡ"

"Eonnie, kau bilang kau mendapatkan nomorku dari Jonghyun?" Baekhyun memotong Luhan.

"Itu hanya gertakan Baek. Ayahmu mengatakan padaku bahwa kau sangat tidak menyukai Jonghyun. Keberadaannya di lingkunganmu selalu membuatmu kesal. Ayahmu berpikir dengan mengatakan Jonghyun ada di sini, kau akan marah dan cepat pulang untuk mengusirnya. Dan ternyata itu memang benar terjadi."

"Si kunyuk itu seharusnya kukirim ke Planet Mars." Baekhyun berkilat marah. Luhan hanya terbahak mendengar ucapan Baekhyun.

"Kau sudah banyak bertanya padaku Baek. Sekarang giliranku untuk bertanya. Sebenarnya kau pergi kemana seharian ini?"

Baekhyun memandangi Luhan ragu, tetapi akhirnya Baekhyunpun menceritakan semua yang ia alami hari ini, apa saja yang ia lakukan, termasuk bagian 'serangannya' terhadap Chanyeol karena kelakuannya yang kurang ajar, dan masih banyak lagi.

Baekhyun terlihat masih ingin mengobrol lebih lama dengan Luhan, tetapi kantuk mulai menyerangnya. Perlahan Baekhyunpun terlelap. Dengkuran halus mengisi kamar itu sekarang. Luhan hanya tersenyum memaklumi. Iapun membenarkan letak selimut Baekhyun sebelum ia mengambil posisi untuk tidur di sebelah Baekhyunㅡmenemani si dumbo kecil.

.

.

.

.

The Bastard King

Baekhyun bangun terlambat pagi ini. Jika biasanya Baekhyun selalu bangun setiap jam enam pagi, namun kali ini Baekhyun terbangun jam delapan. Apa peduli Baekhyun? Toh hari ini ia masih libur.

Mulanya Baekhyun merasa sedikit shock dan heran mengapa kamarnya menjadi begitu besar saat ia membuka matanya tadi pagi. Namun setelah otaknya berhasil merangkai seluruh kepingan memori yang terjadi kemarin, Baekhyunpun menyadari banyak sekali hal yang ia lewati.

Ia menolehkan kepalanya kesana-kemariㅡmencari keberadaan Luhan karena seingatnya kemarin Luhan ada disana untuk menungguinya. Baekhyun mengerucutkan bibirnya sebal. Ia menuruni kasurnya dan langsung melenggang pergi dari kamarnya.

Salah satu kebiasaan Baekhyun, ia tidak perlu repot-repot mencuci muka dan menggosok gigi ketika bangun tidur karena Baekhyun tidak menyukainya dan tidak akan pernah mau melakukannya. Hal pertama yang Baekhyun lakukan ketika terbangun adalah mencari air mineral dan sarapan. Ia selalu melakukan itu sejak dulu.

Baekhyun meyusuri koridor istana yang mulai tampak ramai di pagi hariㅡmengapa mereka semua harus terus bekerja walaupun raja tidak ada disini?

Ah ya, Baekhyun melupakan keberadaan ratu dan Chanyeol si putra mahkota di rumah ini.

Sesampainya di dapur Baekhyun segera menghampiri meja di ruang makan keluarga kerajaanㅡWell Baekhyun benar-benar tidak sadar saat melakukannya. Baekhyun langsung menyambar gelas yang berisi air mineral di sana. Ia meminumnya dengan sangat santai dan perlahan.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Suara baritone yang mendominasi dan sudah sangat Baekhyun hafal terdengar mengejutkan Baekhyun dari arah belakang.

Baekhyun dengan spontannya menyemburkan air mineral yang ia tampung di dalam mulutnya tadi ke wajah Chanyeol ketika Baekhyun berbalik dan mendapati jarak mereka teralu dekat.

Sebut saja Baekhyun berlebihan.

Tapi Baekhyun benar-benar shock dan tidak bisa menerima serangan itu tiba-tiba. Dapat ia lihat Chanyeol tengah memejamkan matanya menahan emosi. Cipratan air di wajahnya bahkan turun melewati dagunya dan kemudian menetes di kerah kemeja kotak-kotak yang Chanyeol kenakan saat ini. Menyadari dirinya telah melakukan kesalahan, Baekhyun hanya mampu bungkam dan tidak berkutik. Baekhyun yang biasanya lincah kini hanya terdiam dan menunduk.

"Oh shit." Chanyeol menggeram marah, "Kau..." Chanyeol mengarahkan telunjuknya ke arah Baekhyun, nada suaranya semakin meninggi dan Baekhyun semakin dibuatnya menciut.

"Ada masalah dengan makanannya, Yang Mulia?" Keributan yang Chanyeol buat memancing Luhan.

Luhan kemudian masuk melalui pintu belakang dapurㅡmasih mengenakan apron namun ia terlihat sangat cantik dan anggun. Luhan masih belum menyadari kehadiran Baekhyun disana.

"Oh!" Luhan terkejut. Ia sepenuhnya menyadari situasi yang terjadi sekarang. Luhan merilik Baekhyun yang cemberut sambil terus menunduk di depan Chanyeol

"Aku mulai mencurgaimu. Kau bisa saja kutuntut, kau tahu? Kenapa kau selalu ada dimana-mana?" Chanyeol berteriak frustasi pada Baekhyun tanpa berniat menghiraukan panggilan Luhan padanya tadi.

"Yang Muliaㅡ" Luhan berusaha memotong ucapan Chanyeol.

"Diam!

"Tapi Yang Mulia, biar kubantu, aku mengenal gadis ini." Luhan sedang berusaha menyelamatkan Baekhyun sekarang. Baekhyun mengangkat wajahnya melihat ke arah Luhan dengan mata sayunya yang terlihat memprihatinkanㅡmeminta pertolongan.

"Katakan!"

"Dia adalah pelayan dapur istana tuan. Ia masih baru. Kami merekrutnya kemarin. Ia masih belum mengerti bagaimana harus berperilaku." Luhan terpaksa mengatakannya. Hanya itu yang terpikirkan olehnya.

"Benarkah? Kenapa aku bahkan tidak melihatnya disini kemarin saat makan malam?"

Chanyeol memicingkan matanya pada Baekhyun. Ingatannya terus berputar mengenai insiden di Yongsan kemarin saat bertemu gadis ini. Dia selalu bertemu dengan gadis ini dalam kondisi tak terduga.

Tadinya Chanyeol hanya ingin berjalan-jalan ke arah ruang makan, tak disangka justru Chanyeol malah mendapati pemandangan seorang gadis tak asing sedang meminum minuman yang disediakan untuknya. Chanyeol mulai merasa jika pertemuan mereka benar-benar aneh, terasa janggal. Memikirkannya membuat Chanyeol menjadi frustasi sendiri.

"Ia sedang mencuci peralatan dapur yang kotor bersama pelayan lain, Yang Mulia." Luhan mengatakannya dengan tenang, seolah itu memang fakta.

Chanyeol mendengus keras, "Urus dia, Luhan. Kenapa ia masih mengenakan piyama? Hari sudah mulai siang. Bagaimana bisa pelayan rendahan berperilaku seperti ratu di sini?" Chanyeol berkata dengan tatapan merendahkan yang ia miliki.

Well mungkin Baekhyun akan menjadi black list Chanyeol sekarang.

Chanyeol menyukai jalang seksi dan berkelasㅡpunya strata yang baik dan bukan seorang pelayan rendahan. Ini berbicara mengenai kasta. Chanyeol dengan keangkuhannya secara langsung sedang berusaa merendahkan Baekhyun. Entah apa yang Chanyeol pikirkan, tetapi otaknya memerintahkan dirinya untuk memperlakukan Baekhyun seperti keset yang pantas untuk diinjak-injak lalu dibuang. Padahal di hati terdalamnya, Chanyeol tidak ingin melakukan ini. Mengeluarkan kata-kata sepedas itu hanya untuk membuat dirinya sendiri puas.

Kata-kata itu berhasil merusak harga diri Baekhyun. Untuk pertama kalinya, Baekhyun merasa begitu lemah dan tersakiti. Alih-alih menantang Chanyeol seperti biasanya, Baekhyun hanya diam sembari menggigit bibirnya yang gemetaran dan semakin menunduk dalam.

"Tentu, Yang Mulia." Luhan membalas perkataan Chanyeol dengan sikap tenang. Ia bisa saja mendapatkan penghargaan Best Rookie Actress setelah ini. Luhan ternyata sangat pandai berpura-pura.

Chanyeol hanya memandang mereka malas. Ia baru saja akan berbalik meninggalkan mereka sebelumㅡ

"Luhan, katakan padaku siapa nama pelayan ini?"

"Uh, huh?" Luhan terkejut.

"Kau mengetahuinya. Katakan saja."

"Byun... Byun Baekhyun." Luhan mengucapkannya ragu-ragu sambil melirik Baekhyun.

.

.

.

.

The Bastard King

"Baekhyun, berikan botol air mineralku!"

"Cepatlah!"

"Baekhyun, bawakan handuk untuk ku!"

"Bukan handuk untuk mandi, dasar kau bodoh!"

"Berikan handuk yang kecil!"

"Ambil bola basket yang lain, Baekhyun! Ini kempes!"

"Masa bodoh! Aku tidak peduli." Baekhyun mengerang.

Sialan. Saat ini sudah hampir sore dan Baekhyun sedang menjadi pelayan setia nan baik hati untuk melayani tuannya di halaman belakang istana.

Lebih tepatnya di lapangan basket pribadi milik Chanyeol. Ini menyebalkan. Sangat menyebalkan. Chanyeol sedang berlatih basket tapi kenapa ia membutuhkan banyak properti seakan-akan ia sedang melakukan pementasan?

"Aku ini pelayan dapur istana! Bukan pelayan pribadimu!" Amarah Baekhyun akhirnya memuncak.

"Aku tidak peduli! Ini hukuman karena seorang pelayan sudah bertindak kurang ajar di dalam istana." Chanyeol membalas ucapan Baekhyun. "Lagipula aku bisa saja menjadikanmu pelayan pribadiku! Aku yang berkuasa disini. Jika kau macam-macam aku akan memecatmu." Chanyeol mengancam Baekhyun tetapi ia masih sibuk dengan bola basket yang ia pantulkan ditangannya.

"Pecat saja! Aku tidak sudi menjadi pelayanmu!" Seloroh Baekhyun tak mau kalah.

Chanyeol tampak berpikir. Kenapa anak ini begitu sulit untuk diajak berkompromi dan ia bisa melawan Chanyeol semudah itu. Tidak pernah ada yang bisa melakukan ini pada Chanyeol. Tidak pernah.

"Aku akan memecatmu dan juga Luhan!" Chanyeol meninggikan suaranya.

Baekhyun memelotokan matanya panik. Dengan segera Baekhyun meninggalkan lapangan basket sambil sedikit berlari, entah kemana tempat tujuannya.

Chanyeol hanya memperhatikan kemana Baekhyun berlari sampai Baekhyun berbelok dan tak terlihat lagi. Apa ada yang salah? Chanyeol bertanya-tanya di dalam hatinya. Apa yang anak itu akan lakukan?

Dua menit kemudian Baekhyun datang kembali sambil membawa jaring berisi lima bola basket di dalamnya. Rambutnya berantakan dan pakaian hitam putih ala pelayan yang ia kenakan tampak sedikit kusut. Nafas Baekhyun terengah-engah dan keringatnya bercucuran. Oh Baekhyun baru saja berlari sprint dari lapangan basket ke gudang penyimpanan untuk yang kedua kalinya hari ini. Namun kali ini nampaknya Baekhyun membawa seluruh persediaan bola basket yang ada. Tangannya yang lain juga memegang pompaㅡberjaga-jaga saja jika bola basket itu ada yang kempes.

"Ini bola basketmu! Kau harus menggunakan ini untuk bermain bukan untuk merusaknya, idiot!" Baekhyun melemparkan jaring itu ke arah Chanyeol dan Chanyeol segera menangkapnya.

"Aku hanya meminta satu." Chanyeol mengeluh sambil memegangi jaring itu.

"Aku tidak mau bolak-balik gudang gelap itu lagi!" Baekhyun menjerit.

"Kau Achluophobia?" Chanyeol bertanya hati-hati namun Baekhyun hanya membuang wajahnya dan hal ini membuat hati Chanyeol tertekan oleh perasaan asing yang mendesaknyaㅡperasaan terhakimi karena bersalah pada Baekhyun. Rasanya sungguh mengganjal. Tapi Chanyeol memilih untuk mengabaikannya.

.

.

.

.

The Bastard King

Apakah kau berpikir bahwa liburan adalah hal paling menyenangkan?

Tadinya Baekhyun juga berpikir begitu. Sebelum Chanyeol si fungus merusak minggu terakhir liburan Baekhyun. Baekhyun sepertinya tidak lagi menjadi pengawal. Ia malah menjadi pelayan di sini dan ini sangat menyebalkan. Setiap hari rasanya seperti di neraka. Contohnya seperti pagi ini.

"Yang Mulia, anda harus bangun. Pagi ini anda akan bertemu kelas dengan profesor William. Anda memiliki kelas pelatihan putra mahkota pukul sembilan." Seorang pelayan muda tengah berusaha membujuk Chanyeol yang sedang tidur. Ia berdiri di samping ranjang big size Chanyeol. Wajahnya nampak putus asa. Ia sudah berdiam diri di sana selama sepuluh menit dan tidak ada tanda-tanda Chanyeol akan menggubrisnya.

"Yang Muliaㅡ"

"Apakah kau tidak tahu sopan santun?" Chanyeol mengerang; masih memejamkan matanya.

"Tapi, Yang Mulia Raja memintakuㅡ"

"Kau dipecat! Keluar atau kau ingin aku memanggil pengawal ke sini?" Chanyeol berteriak.

Pelayan itu memutuskan untuk mundur. Tanpa mengucapkan apapun ia berjalan perlahan menuju pintu keluar sambil menundukkan kepalanya. Bibirnya gemetar dan matanya berkaca-kaca. Ketika sudah berada di luar ruangan, teman-temannya langsung menghampirinya, menyerbunya dengan berbagai pertanyaan.

"Yeoreum, apa yang terjadi?"

"Kenapa kau malah menangis?"

"Astaga apa yang ia lakukan padamu?"

"Apakah kau baik-baik saja, Yeoreum?"

"A-aku kehilangan pekerjaanku." Pelayan muda bernama Yeoreum itu menjawab pertanyaan teman-temannya dengan gemetaran. "Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?" Yeoreum menggigit bibirnya, ia mulai menangis tersedu-sedu membuat teman-temannya yang lain ikut merasakan kepedihannya.

Baekhyun sedang berjalan-jalan di koridor istana sehabis olahraga paginya. Ia memakai celana training panjang dan hoodie abu-abu. Ia memutuskan untuk berhenti berjalan dan menghampiri para pelayan yang sedang saling memeluk di depan pintu kamar putra mahkota.

"Apa yang terjadi?" Baekhyun bertanya penasaran pada mereka.

Salah seorang pelayan di antara mereka memutuskan untuk menjawab Baekhyun, "Yeoreum baru saja dipecat oleh putra mahkota."

"Oh bagaimana bisa itu terjadi?" Baekhyun menautkan alisnya.

"Aku... Aku membangunkannya... Aku memintanya untuk mengikuti kelas pelatihan... Tapi- tapi iaㅡ" Yeoreum berusaha menjawab pertanyaan Baekhyun sembari menahan isak tangisnya sendiri.

"Sudah jangan diteruskan." Baekhyun mengusap bahu anak itu lembut. "Bagaimana bisa ia bertindak seenaknya dalam hal memecat?" Baekhyun bergumam jengkel.

"Ia selalu bertindak semaunya saat raja tidak ada di istana."

Oh yeah jawaban salah satu pelayan itu membuat Baekhyun teringat bahwa ini sudah seminggu lamanya raja dan ayahnya belum kembali dari urusan dinas kerajaan. Menyebalkan.

"Biar kuberi pelajaran si idiot itu." Mata Baekhyun berkilat marah dan ia segera melenggang memasuki kamar Chanyeol. Meninggalkan kebingungan bagi pelayan-pelayan itu.

.

.

.

.

The Bastard King

Chanyeol dengan wajah kusutnya sedang duduk di ruang belajar sekarang. Profesor William berdiri di depannya sembari menjelaskan power pointnya tentang hubungan internasional dan beberapa perjanjian internasional yang negara Korea miliki dengan beberapa negara lain. Profesor itu menjelaskannya dalam Bahasa Inggris.

Chanyeol terlihat tidak nyaman di tempat duduknya. Ia menghela nafas berkali-kali dan mengalihkan pandangannya ke setiap sudut ruangan belajar. Rasanya membosankan sekali.

Tanpa dengaja tatapan Chanyeol bertubrukan dengan tatapan tajam Baekhyun. Baekhyun hanya memelototinya sambil menggoyangkan ponselnya ke arah Chanyeolㅡmembuat gerakan mengancam dan itu sukses membuat Chanyeol diam. Ia kembali memfokuskan pandangannya pada profesor William yang saat ini tengah membahas masalah-masalah hubungan internasional.

Baekhyun tersenyum setan di sudut ruangan sana. Tak disangka pengakuan dan tindakannya pada Chanyeol membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Setidaknya Chanyeol menjadi 'sedikit jinak'.

Beberapa saat yang lalu, Baekhyun berpikir bahwa mengakui ia adalah pengawal rahasia Chanyeol akan membuatnya dalam masalah. Namun nampaknya hal itu justru mempermudah kerjanya.

Tadi pagi Baekhyun memasuki kamar Chanyeol dengan geram. Ia menemukan Chanyeol yang masih tertidur seperti orang mati di sana. Baekhyun menghampiri Chanyeol dan langsung menendang bokongnya hingga Chanyeol terjerembap ke lantai. Oh itu pasti sangat sakit.

Chanyeol mengerang dan mengancam akan memecat Baekhyun. Tetapi Baekhyun hanya membalas meneriakinya dan tanpa sengaja membongkar rahasianya sendiri. Baekhyun mengatakan bahwa ia sebenarnya bukan pelayan tetapi ia adalah seorang pengawalㅡtentunya tidak membawa-bawa 'menguntit', 'laporan', dan 'rahasia' didalamnya.

Mulanya Chanyeol menertawakan Baekhyun karena Baekhyun sudah membuat lelucon tidak masuk akal. Bagaimana bisa gadis lemah dan terlampau kurus sepertimu menjadi pengawal di kerajaan ini? Katanya.

Tetapi Baekhyun segera menerjang Chanyeol; ia mengapit leher Chanyeol dengan lengannya kuat-kuat dan mengancam akan mematahkannya. Tenaga Baekhyun benar-benar kuat. Ia tidak main-main. Chanyeol yang seorang lelakipun kewalahan menghadapinya.

Chanyeol berusaha membuat penawaran dengan Baekhyun. Tapi Baekhyun tahu anak ini sedang berusaha untuk mengelabui Baekhyun. Itu sebabnya Baekhyun membohongi Chanyeol dengan mengatakan bahwa ia menyimpan nomor ponsel raja Junsu.

Baekhyun bahkan berpura-pura menelponㅡpadahal yang ia telepon adalah nomor ayahnya. Baekhyun mengadukan Chanyeol dan berakting seolah-olah itu memang nyata, dan Chanyeol si idiot akhirnya menyerah. Iapun menuruti segala macam perintah Baekhyun. Pria yang malang.

Kemalangannya tidak berhenti sampai di ruangan belajar saja. Baekhyun menyeret Chanyeol dan memaksanya untuk meminta maaf pada Yeoreum dan menyuruhnya untuk mambatalkan perkataannya tadi pagi; tentang pemecatan.

Sekali lagi, entah apa yang membuat semua ini menjadi lebih mudah dan menyenangkan, Chanyeol hanya pasrah saja dan menurutinya. Oh ternyata sekarang roda nasib sudah berputar kembali. Liburan kali ini menjadi sangat menyenangkan!

.

.

.

.

The Bastard King

Jika beberapa hari menjelang masuk sekolah terasa menyenangkan, lain halnya dengan hari ini. Walaupun raja dan ayah Baekhyun sudah pulang dari Shanghai. Tapi hari ini benar-benar menyebalkan. Hari ini adalah hari pertama Hanyang kembali memulai Kegiatan Belajar Mengajar setelah dua minggu liburan musim panas. Seharusnya pagi ini adalah awal yang menyenangkan untuk Baekhyun memulai belajar tetapi yang terjadi justru sebaliknya.

Seingat Baekhyun, ia sudah memasang alarm diponselnya pagi sekali. Tapi alarm itu malah berbunyi tiga puluh menit sebelum bel Hanyang berbunyi. Ini sungguh kacau! Baekhyun berlari kesetanan ke arah kamar mandi dan mempersiapkan penampilannya hanya dalam waktu sepuluh menit.

Hanya tersisa dua puluh menit lagi sebelum bel berbunyi dan Baekhyun mendapat masalah lain. Ia baru saja mengayuh sepeda melewati gerbang istana ban sepedanya kempes. Baekhyun sudah sangat ingin menangis karena kekacauan ini. Alhasil Baekhyun datang terlambat ke sekolah hari ini. Baekhyun pasti akan segera mendapat teguran. Lihat saja.

Dan itu terjadi, Baekhyun tidk bisa langsung masuk ke dalam kelas karena guru piket menghukumnya. Baekhyun harus berdiri di depan ruangan kelasnya selama satu mata pelajaran berlangsung. Baekhyun tidak boleh menaruh tasnya dan ia hanya akan terus berdiri sambil melamun disana.

Selang beberapa puluh menit Chanyeol dan Jongin si hitam berjalan melewati kelasnya. Entah ini kebetulan mereka bisa berpapasan atau sengaja? Tapi sepertinya Baekhyun berhasil mendapatkan jawabannya sendiri.

Jika Jongin yang lewat di depannya tadi tersenyum genit sembari mengedipkan matanya ke arah Baekhyun, lain halnya dengan Chanyeol yang menutupi mulutnya dengan kepalan tanganㅡberusaha menahan tawanya sambil terus melihat ke depan. Berpura-pura tidak melihat Baekhyun disana.

Oh.

Baekhyun mengetahui sesuatu.

Chanyeol adalah pelaku utamanya disini.

Sialan.

Chanyeol adalah manusia idiot yang mengacaukan senin paginya. Damn it.

.

.

.

.

The Bastard King

"Ouch!" Baekhyun berteriak kaget di bawah guyuran air hujan.

Tunggu dulu.

Jika ini air hujan, kenapa beberapa murid yang sedang memperhatikannya justru malah tenang-tenang saja? Mereka bahkan menertawai Baekhyun. Tubuh mereka juga tidak basah kuyup seperti Baekhyun.

Oh sebentarㅡ

Kenapa airnya terasa lengket dan kotor?

Baekhyun mendongakan kepalanya ke atasㅡke sumber dimana air itu datang dan pandangan matanya bertemu dengan si telinga fungus yang sedang memandangnya datar tanpa emosi di atas sana. Disampingnya Jongin berdiri sambil memegang ember plastik berwarna pink.

Sialan.

Itu air bekas mengepel lantai!

Baekhyun pikir kesialan yang ia alami cukup sampai tadi pagi saja.

Nyatanya? Oh Tuhan!

Sekarang jan istirahat makan siang. Sejak pagi Baekhyun belum memakan apapun itu sebabnya Baekhyun harus mengisi perutnya dengan beberapa asupan makanan di cafetaria Hanyang. Tetapi seseorang di atas sana dengan sengaja menyiram Baekhyun denganㅡugh cairan menjijikan itu.

Orang itu sedang mencari masalah dengan Baekhyun!

"Oh fuck!" Baekhyun menguliti Chanyeol lewat tatapan matanya sembari mengacungkan jari tengahnya dan mengeluarkan jempolnya ke udara.

Jongin yang melihat respon Baekhyun terbatukㅡkaget. Sedangkan Chanyeol hanya tersenyum geli memperhatikan Baekhyun. Anak itu berjalan sambil menghentakkan kakinya dan bergumam. Wajahnya memerah. Ia pasti sangat kesal sekarang.

"Uhm Chanyeol?" Jongin memanggil Chanyeol tetapi Chanyeol tetap memfokuskan pandangan matanya ke arah tadi.

"Ya?" Chanyeol menjawab seadanya.

"Kita tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Kita tidak pernah secara langsung membully dengan cara murahan seperti ini dan dia itu wanita. Kita jarang sekali menjadikan wanita sebagai bahan mainan." Jongin membeberkan pikirannya. Chanyeol hanya bungkam dan tidak memberi komentar sedikitpun.

.

.

.

.

The Bastard King

"Hey, kita diperintahkan untuk berkumpul di aula oleh Joonmyeon."

"Oh Joonmyeon si ketua dewan siswa Hanyang?"

"Iya. Sepertinya kali ini ia akan mengumumkan hal yang spektakuler!"

"Oh apakah ini tentang ritual tahunan Hanyang? Ini akan menyenangkan!"

"Ayo cepat kita pergi."

Baekhyun sedang mengambil kantung plastik untuk diisi oleh seragam kotornya. Ia sudah berganti memakai seragam lain. Untunglah Baekhyun menyimpan cadangan seragam di lokernya. Baekhyun tanpa sengaja mencuri dengar percakapan dua orang siswi yang berada tidak jauh di sampingnya tadi. Sepertinya kini mereka telah pergi ke aula. Mengingat tadi mereka sempat menyinggung 'aula' dan 'ritual tahunan Hanyang'

Oh apa maksudnya itu?

Baekhyun bertanya-tanya pada pikirannya sendiri sambil menyusuri koridor menuju aula. Banyak siswa-siswi yang juga berhamburan memenuhi koridor. Sepertinya mereka juga akan pergi ke aula. Ada hal sepenting apa sampai semua murid harus mendengarkan pengumuman dari Joonmyeon si ketua dewan? Baekhyun dibuat penasaran karenanya.

Kini Baekhyun sedang duduk manis di kursi aula Hanyang. Ia mengambil tempat duduk di tengah-tengah. Anehnya, hanya Jongdae si dinosaurus yang memilih tempat duduk di sebelah Baekhyun. Mereka duduk berdua saja di barisan bangku panjang itu. Ini membuat Baekhyun risih sendiri.

Beberapa anak hanya menatap mereka sebentar lalu memilih untuk beralih ke barisan bangku-bangku lain. Untuk pertama kalinya Baekhyun merasa bahwa semua siswa di Hanyang baru saja membuangnya. Tak ada satupun yang mau berdekatan dengannya.

Sial.

Baekhyun belum pernah mengalami ini sebelumnya. Sebenarnya sendirian tidak masalah baginya. Tapi ditatapi seperti itu oleh orang-orang membuat Baekhyun merasa sangat marah dan sedih. Orang-orang menatapnya seperti ia adalah kutu busuk yang harus diinjak dan dibuang ke tong sampah. Baekhyun sudah sangat ingin menangis. Tetapi kemudian ia teringat semua 'siksaan' yang pernah ia alami dulu ketika menjalani pelatihan di Mapo.

Tatapan mereka tidak berarti apapun.

Ini tidak seberapa.

Tiba-tiba saja Baekhyun mendapatkan kekuatannya kembali. Ia mengangkat tinggi dagunya dan menusuk semua orang yang merendahkannya lewat tatapan matanya.

Well, cara ini cukup berhasil.

Beberapa siswa yang tadinya memperhatikan Baekhyun langsung gelagapan dibuatnya. Oh Baekhyun baru saja menggertak mereka hanya dengan tatapan mata namun mereka langsung ketakutan. Dasar manusia lemah sok berkuasa. Baekhyun memutar bola matanya.

"Test... Test..." Suara pria di depan panggung sana menyeruak diantara keributan yang siswa-siswi buat di aula Hanyang.

"Baiklah aku akan memulai. Tolong dengar dan simak dengan baik teman-teman." Ucapnya lagi.

Baekhyun tebak lelaki itu yang mereka sebut-sebut Joonmyeon si ketua dewan siswa. Well, ia memiliki jiwa leadership yang sangat kental. Terbukti dalam sepersekian detik semua siswa Hanyang langsung terdiam dan mulai mendengarkan apa yang selanjutnya akan lelaki itu ucapkan.

"Selamat siang teman-teman. Maaf mengganggu waktu istirahat kalian. Aku hanya akan berbicara sebentar." Lelaki itu menatap semua orang yang berada di aula raksasa ini dengan intens.

"Begini, langsung keintinya saja. Sesuai dengan program Hanyang yang selalu dilaksanakan setiap tahunnya, tahun ini kami selaku dewan siswa tahun ajaran 2016 akan melaksanan kembali proyek Hanyang's Open House 2016." Joonmyeon berhenti sebentar. Menunda kata-katanya yang terpotong oleh pekikan dan sorak riang semua murid di aula Hanyang.

"Open House?" Baekhyun justru kebingungan. Ia menggumamkan kata-katanya itu di tengah kebisingan.

"Oh Ya Tuhan! Apa kau tidak tahu apa itu Open House?" Baekhyun berjengit kaget mendengar sahutan seorang gadis berambut hitam sebahu yang duduk tepat di sebelah kanannya.

Darimana datangnya gadis ini?

Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya sembari menatap penampilan gadis ini. Ia cukup glamour namun wajahnya benar-benar polos tanpa riasan make up sedikitpun. Matanya bulat besar dan tingginya hampir sepantar dengan Baekhyun.

Dia anak konglomerat yang sopan dan sederhana. Begitulah kesimpulan Baekhyun mengenai penampilan luar gadis ini.

"Ya Tuhanku! Open House itu program besar untuk menarik minat khalayak luar tentang rumah kita. Dalam hal ini, Open House yang akan diadakan oleh Hanyang berarti Hanyang ingin mempromosikan dirinya sebagai sekolah unggul kepada masyarakat umum." Anak itu menjelaskan berapi-api.

"Biasanya dalam setiap Open House, Hanyang akan menampilkan beberapa pentas seni saja. Kau tahukan ada terlalu banyak yang bisa ditunjukkan. Tetapi itu akan memakan banyak waktu." Anak itu terlihat menggoyang-goyangkan kakinyaㅡsekarang ia tampak lebih santai.

"Ah begitu ya. Aku baru mengetahuinya." Baekhyun hanya menyengir salah tingkah pada anak itu.

"Oh! Kau murid pindahan berprestasi dari Mapo itu ya, Byun Baekhyun?"

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Kau itu terkenal tahu. Lebih terkenal lagi sejak Chanyeol menyirammu tadi." Anak itu menyenggol bahu Baekhyun dengan bahunya sendiri.

"Uh?" Baekhyun mengernyit.

"Aku Kyungsoo, murid kelas 2B. Apakah kau keberatan jika aku berbicara denganmu dalam bahasa informal?" Kyungsoo gadis berambut sebahu itu tersenyum melihat kebingungan Baekhyun.

"Sebenarnya iya." Kyungsoo terkesiap dengan jawaban Baekhyun. "Tetapi aku senang. Jika kau ingin berbicara denganku dalam bahasa informal, itu artinya kau ingin menjadi dekat denganku." Baekhyun memandangi anak itu.

"Tentu saja iya. Aku memang ingin berteman denganmu." Kyungsoo meraih pundak Baekhyun untuk lebih dekat dengannya dan berbisik, "Aku tahu kau meracuni makan siang Chanyeol waktu itu." Baekhyun memelototkan matanya horor.

"Tapi itu keren, sungguh. Sejak dulu aku juga ingin melakukan itu padanya. Aku ingin sekali berguru dan menjadi teman dekatmu." Kyungsoo melepaskan pegangannya dipundak Baekhyun dan kembali menatap lurus ke arah panggung dimana Joonmyeon berada.

Selang beberapa menit Joonmyeon kembali melanjutkan ucapannya. "Tahun ini akan dilaksanakan pementasan drama musikal pendek, tarian, nyanyian, pameran, dan pesta topeng." Murid-murid lain kembali bersorak.

"Setiap murid diwajibkan menghadiri pesta topeng ini. Ini adalah program baru bagi Hanyang. Kuharap kalian mau berpartisipasi untuk menyukseskan Hanyang's Open House 2016. Informasi selengkapnya akan kami pasang di mading. Terima kasih." Joonmyeon terlihat menuruni panggung dan beberapa murid turut berjalan keluar dengan perlahan ke arah pintu aula.

"Pesta topeng pasti akan sangat menyenangkan, Baekhyun!" Kyungsoo, Baekhyun, dan jangan lupakan Jongdae, masih setia untuk duduk di barisan bangku itu walaupun murid-murid lain sudah berjalan keluar aula.

"Apakah itu benar?" Baekhyun menimpali ucapan Kyungsoo. Ia menolehkan kepalanya ke arah Jongdaeㅡberusaha mengajaknya berinteraksi. Namun Jongdae hanya mengangkat bahunya.

"Yak! Jongdae kaca mata! Baekhyun sunbaenim yang keren ini sedang mengajakmu berbicara!" Kyungsoo meneriaki Jongdae. Lalu mereka tertawa bersama. Oh sepertinya mereka bertiga akan menjadi teman akrab yang sehat.

.

.

.

.

The Bastard King

Chanyeol, Jongin, Yifan dan Sehun sedang menghabiskan waktu istirahat mereka di ruang rahasiaㅡyang hanya mereka tahu berada di bawah tanah. Lokasinya berdekatan dengan Green House Hanyang, di bagian belakang sekolah.

Tempat ini tadinya hanya gudang kotor. Tapi karena ruangan ini sudah tidak dipakai lagi, mereka berempat membersihkan tempat ini dan menatanya kembali.

Mereka memasang wallpaper dinding bermotif bunga warna hitam di ruangan ituㅡkhas laki-laki sekali. Di ruangan itu juga terdapat sebuah TV LED, kulkas kecil, sofa besar, karpet, meja persegi panjang, dan playstation.

"Hyung, semua murid sedang berkumpul di aula." Sehun bertanya pada Yifan yang sedang duduk di karpet. Mereka sedang bermain playstation sekarang.

"Ya benar." Yifan menyahut.

"Paling-paling tentang ritual tahunan." Jongin yang sedang berbaring terlentang di sofa menimpali percakapan mereka.

"Kudengar ada acara tambahan untuk Open House nanti." Sehun berucap sembari menekan-nekan tombol joystick.

"Acara apa?" Jongin bertanya antusias.

"Entahlah. Semacam pesta topeng." Sehun mengangkat bahu.

"Apa kau tahu aturan mainnya?"

"Setiap siswa wajib membawa pasangannya kesana. Ini semacam pesta dansa juga, sih."

"Lalu bagaimana dengan yang tidak memiliki pasangan?" Jongin bertanya. Ia sudah dalam posisi duduk. "Bagiku tidak ada masalah. Aku bisa membawa baby Soo kesana." Jongin menaik turunkan alisnyaㅡia terlihat mesum.

"Tch tidak usah pamer, hitam. Kau sombong sekali ketika mendapatkan kekasih." Sehun berdecih sebal.

"Aku tidak akan pergi kesana. Aku tidak memiliki pasangan." Yifan berujar.

"Tenang saja hyung! Aku dan Chanyeol juga tidak punya. Benarkan hyung?" Sehun menoleh pada Chanyeol yang sedari tadi hanya duduk diam memegangi ponselnya di sudut sofa. Chanyeol hanya diam saja tidak berusaha menanggapi.

"Itu tidak benar! Sepertinya Chanyeol akan mengajak Baekhyun noona." Jongin memegangi dagunya dan berpikir.

"Siapa Baekhyun?" Sehun kebingungan.

"Murid pindahan itu ya? Dia sekelas denganku." Yifan berusaha mengingat-ingat wajah gadis yang sedang mereka bicarakan.

"Iya! Chanyeol sepertinya menyukaiㅡ" Ucapan Jongin terputus karena Chanyeol melemparinya dengan kaleng minuman sisa yang ada di dekatnya.

"Yach!" Jongin mengaduh dan memegangi pucuk kepalanya.

"Jaga ucapanmu, Jongin." Chanyeol memperingati Jongin. Ia berdiri dan berjalan keluar dari markas mereka. Sehun, Yifan, dan Jongin hanya saling pandang melihat perilaku Chanyeol yang tidak biasa.

.

.

.

.

To Be Continued

Author notes :

Achluophobia : phobia kegelapan.

Halo!

First, aku sebenernya nyesel karena baru bisa update sekarang. Aku pernah bilang ke salah seorang yang review kalau aku mau update seminggu sekali. Tapi aku gagal gara-gara pas masuk sekolah tugas dan ulangan bejibun sampe aku gapunya waktu buat ngerjain fanfic ini. Aku bener-bener minta maaf udah php :(

Aku 99L. Sekarang kelas 12 jurusan IPAㅡyah cuma sekedar berbagi informasi :")

Anyway, thanks buat beberapa orang yang PM aku dan nanyain kapan TBK update. Kalian luar biasa! Wkwkwk.

Gimana sama chapter 3 ini? Aku bikin gini karena beberapa orang request gamau alurnya kecepetan. Well, ada pemeran baru juga di chapter ini.

Ohiya, waktu itu ada yang minta idline aku di PM, maaf ga bales aku lupa terus hehehe. Aku bagiin disini aja ya. Barangkali selain kamu yang lain juga mau. Ini idline aku :

Promote instagram boleh kan ya? Yuk follow instagram aku (btw ini instagram pribadi) ini usernamenya : maureenattalya
Kalau kalian udah follow jangan lupa kasih komentar di salah satu foto. Pasti aku follback nanti.

Last, thanks untuk kalian semua yang udah follow, fav, review dan baca TBK.

Anyway, aku histeris liat MV EXO LOTTO :") my baekby so asdfghjkl! (aku baekhyunstan mwehehe). Tapi aku juga suka bang cy, dia bastard bener di MV.

Jangan lupa isi kolom review setelah baca chapter ini. Kasih pendapat kalian yep.

#JanganLupaReviewGuys
#BelieveInChanbaek
#DIRGAHAYURIKE71

Regards,

Jerys Jung