Nagi : Terima kasih pada para reviewer. Kami akan membalasnya dengan segera.
Scarlet : MULAI!
.
Silver Celestia
Nagi : Tentu saja kekuatan mereka masih ada. You know, kita ga mau dua tokoh ini sengsara.
Scarlet : Yang jelas, bakal ada kejutan menanti!
Shabyina
Nagi : mengingat BoBoiBot pasti bakal gagal di episode 18, robotnya pasti rusak kena air. Dan sebenarnya…
Scarlet : yang dijual itu sudah ga ada isi sample empat elemental. NEXT!
TsubakiKEI
BoBoiBoy : NOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!*kabur*
Nagi : sepertinya dia menolak.
Scarlet : Sing penting cekidot!
Disclaimer :
BoBoiBoy, the characters, and every set involved, belongs to Monsta Studios
.
.
Genre : Humor, Tragedy, Sci-Fi
Starring : BoBoiBoy and Fang!
Summary : Dua sejoli kita yang tamvan dan pemberani kini berjuang mencari pekerjaan. Namun, siapa sangka jika mereka akan mendapat pekerjaan di suatu tempat yang tak terduga akibat Pak Guru yang nista? Dan siapa sangka, pekerjaan mereka membawa tekanan yang sangat dalam?
.
Grown-Ups Chaos!
Cerita sebelumnya...
"Lihat mereka... Penuh penderitaan...", kata Adu Du penuh kebanggaan. "Dengan begini, tak akan ada lagi pahlawan pengganggu yang akan melawan kita…"
Tiba-tiba, layar monitor komputer bergerak mendekati Adu Du.
"Jadi, gimana bayarannya, Bang?", kata sebuah suara dari komputer tersebut.
"Ini baru pemanasan, Bago Go.", jawab Adu Du malas. Ya, ketika bisnis dengan Bago Go,masalah semakin runyam. Tapi, apa boleh buat jika hanya dia pemasok senjata untuk Adu Du?
"Tapi, Bang. Kalau lebih cepat dapat uangnya, saya makin lancar bisnis.", kata Bago Go memohon.
"Lancar bisnis, atau lancar menipu orang?", sindir Adu Du. "Kau tahu jika stok sumber tenaga mulai terbatas di Bumi, dan aku harus mencari uang demi senjatamu yang tak berguna? Lihatlah kambingmu!"
"Um…", Bago Go berpikir keras. "Ya sudah. Sebagai permintaan maaf saya pada Abang. Saya mau beli BoBoiBot buatan abang",
"Tch…", Adu Du berdecih. Iaa tak merelakan BoBoiBot miliknya dibeli orang lain. "Maaf, tapi BoBoiBot tidak kujual. Kalaupun benar, kamu mau beli berapa?"
"Bos, bukannya kita punya BoBoiBot 2.0 yang baru selesai kema-"
Probe hendak menyelesaikan pembicaraannya, namun dibekap oleh Adu Du. Bago Go sudah selesai dengan kalkulator penjualannya, dan Probe maasih berusaha melepas genggaman bosnya.
"Aku beli seharga 60 Juta ringgit 60 sen. Bagaimana?", kata Bago Go membuka penawaran.
"Itu banyak sekali!", Probe mendadak teralihkan. "Ayo kita jual, Bos!"
"Boleh…", Adu Du mengangguk pelan. "Penawaran diterima."
Bago Go segera menyiapkan mesin teleporter dan mengambil BoBoiBot dari markas Adu Du, kemudian menghentikan panggilan. Adu Du menghela napas lega.
"Hampir saja…", kata Adu Du."Kenapa kau malah bicara soal BoBoiBot 2.0, Probe?!"
"Eh, aku kira itu untuk dijual, Bos…", Probe garuk kepala. "Memangnya untuk apa?"
"Aku harus memanfaatkan kesempatan atas hilangnya BoBoiboy. Mereka akan memujaku atas semua ini. Mwahahahahahahahahahaha!"
.
Chapter 3 : The Job, The Robot, and the Pressure
Para pahlawan kita, BoBoiBoy dan Fang, sedang berjalan dengan linglung bercampur lelah. Tampak wajah mereka yang sayu, menandakan bahwa mereka berpergian berhari-hari demi sebuah pekerjaan.
"Fang, kau masih punya uang?", tanya BoBoiBoy.
Fang merogoh ada lagi uang yang tersisa untuk mereka. Mereka tak dapat terus berpergian mencari pekerjaan. "Uangku sudah habis.", jawab Fang datar.
"Alamak…", BoBoiBoy memijit dahinya. "Sudah seminggu kita berkeliling Pulau Rintis, tak ada pekerjaan juga?"
.
Tak lama kemudian, sepasang tangan merenggut bahu mereka di saat kesulitan.
"Fang, sudahlah. Aku tak mau didekati dulu…", BoBoiBoy berusaha menjauhi tangan itu. Tetapi, tangan yang dipegangnya tidak sehalus tangan Fang biasanya. Wajahnya mendadak pucat. "Fang, Tanganmu kenapa kasar? Berbulu juga…"
"I-itu…", kata Fang gugup dan merinding. "Itu b-bukan tanganku…"
Wajah mereka semakin bertambah pucat. Mereka setuju untuk menoleh perlahan untuk mengetahui seseorang yang menyentuh mereka.
"Selamat pagi, wahai anak-anak muda kebenaran…", sapa sebuah suara yang berat penuh vibrato dan cengkok dangdut, sesosok pria berkumis dan berkacamata merah yang memasang tampang yang cukup menakutkan bak genderuwo.
"HANTUUUUUUUUUUUUUU!", teriak BoBoiBoy daan Fang berbarengan dan pingsan di tempat.
"HEEEEI! BERANINYA KAU SEBUT KEKASIH KEBENARAN INI HANTUUUUU!", bentak pria itu pada BoBoiBoy dan Fang yang sudah tepar.
Mendengar teriakan tersebut, Fang dan BoBoiBoy terbangun dan menatap pria itu. Tanpa babibu, mereka langsung berlutut dan mencium kakinya.
"Maafkan kami, Pak guru Papa Zola…", kata BoBoiBoy dan Fang berbarengan sambil berlutut seakan menyembah guru mereka.
Tepat sekali. Yang sedang berpapasan dengan mereka adalah Papa Zola, guru pendidikan jasmani dan matematika, serta wali kelas 5 Jujur di SMP Pulau Rintis.
Papa Zola kebingungan melihat dua orang pria di depannya itu. "Sudahlah, wahai anak muda. Berdirilah. Aku maafkan kalian semua".
Papa Zola menatap dua orang tersebut. Salah satu dari mereka terlihat cukup familiar, terutama yang berambut ungu dan berantakan. Papa Zola bertanya, "Anak muda, kenapa wajahmu sangat mirip dengan salah seorang murid saya yang absen selama lima hari ini?"
BoBoiBoy dan Fang mulai ketakutan, kemudian mereka berbalik badan untuk berunding.
"Sial, Pak Guru mengenali kita!", kata Fang gugup.
"Kita? Lo aja kaleee…", cibir BoBoiBoy.
"Ish, kau ini, BoBoiBoy. Mana setia kawanmu?", kata Fang kesal.
"Sudah selesai berundingnya, BoBoiBoy dan Fang?"
"GYAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
"Hahaha…", Papa Zola hanya bersantai sambil membenarkan kacamatanya.
"B-bagaimana… P-Pak Guru tau nama kami?", kata BoBoiBoy mendadak merinding mendengar perkataan Papa Zola.
"KAU MEMPERTANYAKAN PENGETAHUANKU?!", kata Papa Zola dengan lantang, seperti biasa. "Kalian sebut nama masing-masing waktu berunding di dekatku tadi."
.
GUBRAK!
.
"Dasar guru tukang nguping…", kata BoBoiBoy sweatdrop.
"Ngomong-ngomong, ada apa gerangan bergundah gulana?", tanya Papa Zola pada mereka berdua.
"Kami belum mendapat pekerjaan.", jawab Fang."Tak ada yang mau menerima kami"
"Sayangnya, bukan itu yang ingin kutanyakan…", kata Papa Zola meralat pertanyaannya. "Kenapa kalian malah absen dari sekolah dan berpenampilan seperti orang dewasa?"
BoBoiBoy dan Fang kembali berunding.
"Kau yakin Pak Guru bisa kita percaya?", tanya Fang. "Aku merasakan sesuatu yang tak enak kali ini…"
"Ayolah, Fang. Dia guru kita. Aku yakin dia bisa membantu kita…", kata BoBoiBoy menenangkan Fang. "Kalau dia membocorkan isentitas kita, salahkan aku."
BoBoiBoy dan Fang kembali berhadapan dengan Papa Zola.
"Bagaimana kalau kita melakukan penawaran?", kata BoBoiBoy. "Kami akan memberitahukannya, jika Pak Guru bisa menjaga kerahasiaan identitas kami dan memberi kami pekerjaan."
"KAU PIKIR AKU AKAN MEMPERMAINKAN KEADILAN?!", kata Papa Zola. "Kau lihat wajahku ini?"
BoBoiBoy dan Fang mengangguk.
"Apa kalian pikir aku peduli?", kata Papa Zola sinis.
BoBoiBoy merogoh tasnya, mengambil sebuah boneka beruang berwarna pink dan berkata, "Pak Guru bisa memiliki boneka beruang ini sebagai bonus dari kami"
"KAU PIKIR AKU MUDAH DISUAP DENGAN BENDA MACAM ITU?!",bentak Papa Zola.
"Ya sudah. Kami juga tak mau memberitahukan rahasia kami…", BoBoiBoy bersiap pergi meninggalkan Fang dan Papa Zola. Papa Zola mengejarnya hingga dapat memegang bahu anak tersebut.
"Sebenarnya, aku tak mau memberikan pekerjaan pada kalian karena itu sama saja tindakan kolusi, tapi…", kata Papa Zola Lirih, kemudian mengeluarkan puppy eyes. "…Aku akan lakukan apa saja demi boneka beruang yang lucu itu!"
.
GUBRAK!
.
Setelah penawaran yang aneh bin ajaib itu, BoBoiBoy dan Fang menceritakan kronologis kejadian pada papa Zola.
"Hm…Aku mengerti sekarang…", kata Papa Zola manggut-manggut. "Kalian adalah anak kecil yang terperangkap sebagai orang dewasa? Jangan khawatir, wahai anak muda…"
"Jadi, apakah kita sudah sepakat?", tanya Fang.
"Tidak secepat itu…", Papa Zola membetulkan posisi kacamatanya. "Aku harus memastikan keadaannya besok. Kalian harus segera bersiap dengan ketidakpastian."
"Hehe, terbaik…", BoBoiBoy mengacungkan jempolnya tanda setuju.
"Sampai jumpa besok, wahai anak muda. Jangan kecewakan aku, dan terima kasih bonekanya.", kata Papa Zola mengucap perpisahan sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua. BoBoiBoy dan Fang kini sudah bernapas lega. Mereka sudah mendapat pekerjaan, meskipun masih belum pasti pekerjaan seperti apa yang akan mereka dapatkan.
"Kau hebat, BoBoiBoy!", puji Fang.
"Bahkan kau pun tak memikirkaan hal itu, 'kan? Aku lebih pintar darimu…", sindir BoBoiBoy.
"Aku hanya bilang kau hebat, bukan berarti kau lebih pintar dariku! Tch…", kata Fang kesal dan membuang mukanya. "Lagipula, bagaimana kau bisa mendapat boneka beruang itu?"
"Hah…", BoBoiBoy menghela napas panjang. "Sebenarnya, ini ulah BoBoiBoy Api ketika aku sangat stress karena kehilangan pekerjaan, tapi setidaknya muncul di saat yang benar."
"Apa maksudmu? Api bisa membahayakanmu jika kau stress!", kilah Fang.
"Ceritanya panjang…", BoBoiBoy mulai melambaikan tangannya untuk mengaktifkan flashback dan menceritakan kronologisnya.
.
Semuanya berawal setelah BoBoiBoy berkeliling Pulau Rintis mencari pekerjaan dan tak ada yang menerimanya. Suasana hatinya mendadak tertekan.
"Hah…", BoBoiBoy menghela napas panjang. "Kalau begini terus, bagaimanaa aku bisa mendapat pekerjaan?"
Tiba-tiba, sakit kepala yang luar biasa menyerangnya. BoBoiBoy terus berusaha menahan sakit itu, namun api mulai bermunculan di sekitarnya. Rasa sakit itu mulai tak tertahankan, tubuhnya jatuh tersungkur, api terus berkobar seakan menelan tubuhnya. Ia membuka matanya, yang kini berubah menjadi kuning kemerahan. Warna mukaanyaa menjadi merah padam, seakan ingin meluapkan kemarahan. Namun ketika melihat toko mainan di seberang jalan…
"MAINAAAAAAAAAAAAAAAAAAN!", teriaknya kegirangan. BoBoiBoy yang kini telah menjadi BoBoiBoy Api, lari menuju toko mainan dengan bersemangat.
Beruntung tak ada yang berubah dari caranya berpakaian, namun ketika BoBoiBoy Api menatap dirinya di kaca etalase toko, Ia terhenyak. Menatap dirinya yang berpenampilan berbeda dari biasanya. Kemeja putih dengan kerah terbuka di atasnya, tertutup jas merah yang membuatnya tampak berwibawa. Ia memanbg terheran soal bagaimana dirinya bisa seperti itu, namun matanya sudah tertuju pada sebuah boneka beruang berwarna pink di etalase itu, membuatnya tak mempedulikan penampilannya.
Ia memasuki toko mainan itu, lalu segera menyergap bonekanya dan memeluknya dengan lembut.
"Waaah, lebut sekali bonekanya…", katanya sambil memeluk boneka tersebut. Tak lama kemudian, seorang kasir di toko tersebut segera menghampiri BoBoiBoy Api.
"Apakah Tuan mau membeli bonekanya?", kata kasir wanita itu. "Harganya 10 ringgit."
"…Kau bilang apa?", api mulai berkobar di matanya. BoBoiBoy Api menatap label harga yang tertera di boneka tersebut, kemudian membakarnya beserta mainan lain yang terpajang di etalase. "Aku takkan membayarnya,buatlah ini gratis. Bonekanya lucu!"
"T-tapi…", sang kasir ketakutan.
Sementara BoBoiBoy Api memeluknya dengan erat dan bahagia, pikirannya kembali sadar. BoBoiBoy kembali normal. "A-apa yang terjadi disini?"
Iaa menatap kasir yang ketakutan. BoBoiBoy menyadari bahwa kekuatan Api baru saja menguasainya. Ia segera merogoh sakunya dan memberikan dua lembar uang sepuluh ringgit, lalu berkata, "Simpan saja sisanya. Maafkan soal yang tadi."
Dengan menahan rasa malu, BoBoiBoy pergi meninggalkan toko mainan tersebut.
"Uangnya kurang!", teriak sang kasir.
"DIAMLAH DAN AMBIL UANGNYA!"
Semburan api keluar dari tangan BoBoiBoy, membakar seisi toko mainan. Ia kembali memeluk bonekanya dengan lembut dan kembali tersadar. Namun saat kesadarannya pulih, segerombolan orang mengejarnya.
"Uh-oh…"
BoBoiBoy segera mengambil langkah seribu. Dengan terengah-engah, Ia berusaha kabur ke segala sudut. Hingga akhirnya, berhasil sembunyi di sebuah lorong. Di pandanginya boneka itu. Ia tak paham apa yang membuatnya harus membeli barang tersebut. Tak lama kemudian, Ia tak sengaja melihat Fang lewat. BoBoiBoy memasukkan boneka beruang itu ke dalam tasnya, lalu bherlari menghampiri Fang.
.
"Jadi, begitu?", kata Fang manggut-menggut. "Tapi, aku jadi bertanya-tanya…"
"Kenapa, Fang?", tanya BoBoiBoy.
"KENAPA KAU BIARKAN API MENGUASAIMU HINGGA MEMBAKAR TOKO MAINAN?!"
"Alah, mereka tak mengenalku. Api muncul dengan warna berbeda, ingat?"
"Ya sudahlah. Aku hanya khawatir…"
BoBoiBoy dan Fang akhirnya bisa pulang dengan lega karena sudah mendapatkan pekerjaan, namun BoBoiBoy tetap dihantui oleh kasus kebakaran yang tadi.
"Fang, bagaimana jika nanti malam kita mampir ke penjual kacamata?", usul BoBoiBoy. "Kau butuh lensa kontak untuk ke sekolah".
"Apa yang salah pada kacamataku?", kata Fang sambil memegang kacamatanya. "Apa menurutmu kacamataku terlalu keren hingga aku harus merelakannya?"
"Bukan begitu…", BoBoiBoy menggelengkan kepalanya. "Kau tak merasa kacamatamu terlalu kecil dengan kepalamu yang sebesar itu?"
"KAU BILANG APA,MANUSIA KURANG AJAR?!"
Dan kejadian siang itu berakhir dengan aksi kejar-kejaran Fang dan BoBoiBoy.
.
Keesokan harinya…
Rumor tersebar tentang adanya dua orang guru baru di SMP Pulau Rintis. Berita inipun terdengar di telinga Ying, Yaya, dan Gopal.
"Tidak mungkin…", kata Yaya. "Bukankah kitasudah punya banyak guru disini?"
"Aiyaa, tak ada salah juga, ma…", balas Ying dengan logat Hokkien yang kental. "Pak Guru juga mengajar dua pelajaran pasti lelah,ma…"
"Benar, Yaya. Apalagi melihat Pak Guru kita yang seperti itu, kita butuh yang masih baru dan segar…", timpal Gopal sambil memegang pundak Yaya.
"Memangnya guru itu makanan?", kata yaya memasang tatapan sinis.
"Hehe…", Gopal garuk kepalanya yang tidak gatal.
Meanwhile…
"Ayo, kau harus memakainya!"
"TIDAK MAU!"
"Kau mau dipermalukan sekolah? Cepat dipakai!"
"Tapi ini perih…"
.
Jangan salah sangka dulu, semuanya. Ini datang dari ratapan Fang dan kacamatanya yang harus dilepaskan demi menyelamatkan identitasnya.
"TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK!"
Demikian jeritan Fang dan mata merahnya akibat terus dibuka BoBoiBoy. Salahnya pula jika tidak menuruti keinginan BoBoiBoy.
Kita kembali ke kelas…
.
"Pak Guru datang!"
Salah seorang murid memperingatkan kawan-kawannya agar segera kembali ke tempat duduk masing-masing. Tak lama kemudian, Papa Zola masuk ke dalam kelas 5 Jujur.
"Selamat pagi, Cikgu. KEBENARAN!"
Semua murid kelas 5 Jujur menyapa gurunya serempak.
"Ah, selamat pagi, anak-anak. Silakan duduk…", Papa Zola mempersilakan muridnya untuk duduk. "Hari ini, Pak Guru mau mengenalkan dua orang guru baru di sekolah kita. Apa ada yang mau berkenalan?"
"MAUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!", jawab semua murid serentak.
Beberapa saat kemudian, dua orang pria masuk ke dalam ruangan kelas. Salah seorang dari pria itu mengenakan hoodie oranye tanpa lengan yang menutupi kaos berwarna putih di dalamnya, serta mengenakan celana training warna hitam bergaris kuning. Satunya lagi adalah pria berambut ungu yang memakai lensa kontak berwarna biru, mengenakan kemeja lavender bergaris hitam dengan dasi ungu yang senada serta jas ungu kemerahan yang menonjolkan kerupawanannya.
"Tampan sekali…", kata sekelompok siswi kelas 5 Jujur ber-fangirling ria dan saling bersahutan.
"Ini Pak Boy Abdul Kasim, guru olahraga kalian. Dan ini adalah Pak Wong Kay, guru BK kalian yang baru", kata Papa Zola memperkenalkan dua orang yaang sebenarnya adalah BoBoiBoy dan Fang.
BoBoiBoy menoleh dengan tanda tanya pada Papa Zola. Papa Zola hanya membalasnya dengan kedipan mata, tanda rahasia mereka akan aman.
"Hehe, sudah kuduga kalian pasti bilang kalau aku tampan…", Fang mendadak ge er. Sementara yang dikerubungi oleh para siswi adalah BoBoiBoy, sweatdrop sambil ketawa garing menatap para siswi lebih memilihnya, meski wajahnya sendiri kurang meyakinkan.
"Grrrr…..", empat siku-siku kembali muncul di kepala Fang. Lagi-lagi, wajahnya yang tampan rupawan dikalahkan oleh BoBoiBoy. Setelah mereka selesai dengan BoBoiBoy, barulah Fang menjadi korban. Berbeda dengan BoBoiBoy, Fang justru lebih banyak dimintai foto oleh seluruh murid di kelas agar bisa apdet status ke jejaring sosial dan menggoda murid-murid lainnya.
"Sudah selesai?", tanya Papa Zola kepada semua murid.
"SUDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!", jawab semua murid serempak.
"Nah, setelah ini, kita akan kedatangan kawan kebenaran baru. Ayo masuk!", kata Papa Zola sambil menoleh keluar kelas.
Seorang anak lelaki berjaket oranye dan berseragam putih, lengkap dengan topi oranye. Wajahnya sangat serupa dengan BoBoiBoy.
"Hai, semuanya. Aku BoBoiBot 2.0 dan senang bertemu kalian. Terbaik!", kata sang anak yang ternyata adalah BoBoiBot ciptaan Adu Du.
BoBoiBoy menaruh banyak kekhawatiran. Ia meneguk ludahnya, menatap robot yang sangat mirip dengannya tanpa terlihat seperti robot yang sempat dikalahkan sebelumnya. Perasaannya bercampur aduk.
"Psst, BoBoiBoy…", bisik Fang. "Bukankah itu robot yang kau kalahkan di episode 18 season 3?"
"Kurasa tidak…", balas BoBoiBoy. "Ia sangat mirip denganku, berbeda dari sebelumnya."
"Entah bagaimanapun caranya, kita tetap harus waspada dengannya. Bisa saja dia ingin membalas dendam setelah kau kalahkan…", kata Fang mengingatkan.
"Halo, Pak Guru yang baru…", sapa BoBoiBot 2.0 pada BoBoiBoy. Berbeda dengan tampangnya yang sangat ramah saat bersama teman-temannya, warna mukanya berubah menjadi suram saat menatap ke arah BoBoiBoy. "Aku hanya menyampaikan salam dari Bos Adu Du. Dan satu pesan lagi…"
Suasana hati BoBoiBoy berubah. Tampangnya antara kaget, bingung, dan khawatir yang muncul bersamaan.
"…Kalian berubah takkan bisa berubah kembali,karena Pistol Kompres Waktu sudah kami hancurkan. Sementara aku, akan mengambil alih posisimu secara penuh, BoBoiBoy…"
.
"Tidak… Ini… tidak mungkin…", BoBoiBoy menggelengkan kepalanya tanda tak percaya. "Aku takkan bisa bersama teman-temanku…aku takkan berubah kembali…aku akan diambil alih oleh…"
Tekanan batin yang kuat itu membuat api berkobar dari matanya. Beruntung Fang berhasil mencegahnya.
"Hei, kita sedang di depan umum, ingat?", sindir Fang.
"Oh… Ehehe, baiklah…", kata BoBoiBoy akhirnya melupakan tekanan itu. "Anak-anak, kami akan mulai mengajar besok di kelas kalian. Kami punya banyak kelas untuk didatangi. Sampai jumpa!"
"Sampai jumpa!", balas semua murid mengucap perpisahan.
BoBoiBoy dan Fang segera keluar dari kelas, siap mengajar di kelas lain yang sedang menunggu giliran.
Entah apa yang akan terjadi berikutnya pada BoBoiBoy dan Fang, namun mereka yakin hal itu sangat besar dan tak mampu mereka kendalikan. Tekanan batin dalam diri BoBoiBoy disimpan baik-baik, demi mempersiapkan kesibukan barunya, sekaligus tekanan yang jauh lebih besar…
~TBC~
