Semuanya. Segalanya. Musnah. Kebahagiaan yang dulu menyelemuti dirinya kini sirna, mereka bermetamorfosis menjadi kelam dan kesedihan yang menyiksa. Hati cerahnya kini berubah mendung, semendung apa yang dihadapinya saat ini.
Gerimis. Payung-payung hitam terbuka, melindungi orang-orang yang kini tengah berkumpul untuk mendapatkan kesempatan terakhir mereka untuk melihat, terakhir kalinya melihat wajah pasangan Kizashi dan Mebuki Haruno. Semua orang berpakaian hitam, mereka yang bekubang duka, menggenggam bunga.
Gadis kecil bersurai merah muda itu sejak pagi tadi hanya terdiam melihat orangtuanya, sedangkan yang lainnya menangis berat. Semua orang mengerti, ia masih sulit mencerna semua kenyataan yang diterima saat ini. Kehilangan dua sosok terpenting dalam hidupnya, hanya perasaan bingung yang berkecamuk dalam hatinya, antara mimpi dan kenyataan, manakah yang sebenarnya ia jalani sekarang?
Entah apa yang menggerakkannya, tiba-tiba saja ia berlari sebelum orang-orang bisa menghentikannya. Seorang bernama Sakura Haruno itu berlari, meninggalan tempat yang dibilang menyedihkan oleh hatinya. Penuh air mata yang menyatu dengan air hujan, tanpa arah, hanya mengikuti kemana kakinya hendak berpijak, sesekali ia terjatuh karena menabrak beberapa batu nisan, tapi ia segera bangkit melanjutkan pelariannya yang entah kemana. Pelarian? Dari apa? Kesedihan? Percuma saja, apa yang dilakukannya tidak menyelesaikan apapun.
Tak terasa ia sudah sampai di pinggir kota. Keadaannya sangat sepi, mungkin karena hari sudah mulai gelap dan hujan semakin bersemangat untuk mengguyur seisi kota. Sakura tidak lagi berlari, ia hanya berjalan, kaki dan tangannya banyak tergores oleh duri tanaman saat menerobos semak-semak, hendak keluar dari wilayah pemakaman, ia tahu orang-orang pasti sudah menyegel pintu keluar utama, jadi ia putuskan untuk menerobos paksa, walau harus diakhiri dengan penuh luka disekujur tubuhnya. Ia tidak peduli, hatinya kini ribuan kali lebih sakit.
Hanya terdengar gemercik tetesan air dan suara dari sepatu yang terseret-seret, Sakura berjalan lunglai menyusuri kota, sesekali air matanya masih menetes, seakan tak pernah habis dikeluarkan. Hingga ia tersandung oleh sebuah batu yang ada di tengah jalanan yang mulai licin, ia tersungkur ke depan, wajahnya terbentur jalan berpermukaan kasar, pastinya menyebabkan lecet, wajahnya amat kotor akibat lumpur yang mengenai hampir seluruh bagian wajahnya. Alih-alih berdiri, tangisannya semakin pecah tak tertahankan, "Ayah, Ibu kemana aku harus pergi?".
Para pejalan kaki yang melewati Sakura hanya memandang jijik pada keadaannya, tidak terbesit sedikitpun di pikiran mereka untuk menolong. Cukup lama ia terus dan terus menangis, hingga ia akhirnya hanya sesengukan dan menyingkir dari jalan. Ia duduk meringkuk, memeluk lututnya di emperan sebuah toko barang antik bernama "Olddie's". tatapan matanya kosong, "Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa yang harus kulakukan sekarang?" hanya pertanyaan itu yang memenuhi pikirannya.
"Ayah, Ibu", Sakura meringis ketika kata-kata itu keluar dari mulutnya. Ia memejamkan mata, setetes air mata keluar lagi dari mata kanannya, wajahnya semakin kusut menahan sakit yang menghujam lagi. Sakit. Sakit sekali. Di sana. Di dasar hatinya.
Larut dan semakin larut. Tidak ada tanda-tanda gadis itu akan beranjak dari tempatnya. Tak ada rasa takut, khawatir, bahkan ia tidak peduli lagi akan terserang demam karena air hujan terus menyerang kepalanya.
Terlalu hanyut dalam kesedihannya, Sakura tidak menyadari seorang anak laki-laki sebayanya tengah berdiri di depannya, membawa payung yang digunakannya untuk melindung kepala Sakura, tetesan air hujan telah membasahi setengah bagian bajunya yang tidak terlindungi oleh payung.
"Apa yang kau lakukan disini gadis menyedihkan?", sebuah suara mengagetkan Sakura, walau dari luar ia tidak terlihat kaget. Perlahan Sakura mengangkat kepala, melihat pada orang pertama yang mengajaknya bicara selama 4 jam terakhir ini.
Wajah Sakura sudah kacau, berantakan, penuh goresan luka yang masih menyisakan darah, dan beberapa bagian sudah membiru akibat benturan. Rambut merah mudanya yang indah tertutupi lumpur yang mulai mengering, miris sekali.
"Hei, aku bertanya padamu! Apa yang kau lakukan disini gadis menyedihkan?", Tanya laki-laki itu sedikit menekan, Sakura hanya terdiam melihatnya. Lampu jalan yang terlalu terang menghalangi pengelihatan Sakura padanya. Tidak begitu jelas, hanya kilauan mata hitam pekat dan rambut raven yang bisa dilihat oleh Sakura. Onyx dan emerald bertemu, terdiam dalam waktu yang tidak sedikit. Tak tahu siapa lagi yang akan melanjutkan percakapan mereka.
Maaf Fanfict ini pasti jauh dari kata sempurna. typo akut, cerita pasaran, OOC, AU, OOT, EYD berantakan, pemilihan kata kurang pas, banyak pengulangan, semuanya deh. No flame here.
.
.
.
.
DON'T LIKE, DON'T READ!
Warning : banyak nama makanan disebut.
.
.
.
.
mohon reviewnya.
Saran/ide needed!
Happy reading ~
Disclaimer karakter selamanya punya Masashi Kishimoto
Disclamer cerita punya Devi Na Akeyama
.
.
.
Pairing: Sasusakux
Rate :M for save aja
My Annoying Neighbor
Chapter 4
Apa salah jika aku berharap?
Apa salah jika kupinta bantuan?
Siapa yang mengulurkan tangannya?
Tak ada yang bisa kulakukan, kecuali satu hal
Menunggu
Adakah arti aku menunggu
Disaat yang kian tak pasti
Sendiri, lilin yang menemaniku kini mati
Penghangatku telah pergi
Dibawa angin malam yang datang tak terduga
aku menangis, meringkuk di sudut ruangan
tertidur dengan titik-titik air mata
hingga kuterbangun
oleh pelukan sinar matahari
kehangatan itu
menggerakkan jiwaku
melupakan hujan deras
yang menghancurkan segalanya
kau hanya kesengsaraan yang akan berlalu
orang yang mengisi hati
yang kini kosong kembali
flashback bentar -
"Hm, ya setidaknya kau menggunakan otakmu kali ini, jadi kita akan kemana minggu ini?" Tanyaku mengingat aku harus memikirkan hal lainnya, pekerjaanku. Ya, Chouji juga adalah patner kerjaku.
"Hokkaido. Aku mendapati sesuatu menarik disana", jawab Chouji singkat karena MASIH saja disibukan dengan makanannya.
"Ya terserah kau, yang penting kita akan pulang dalam 5 hari"
"Kenapa? Takut merindukan seseorang?", pertanyaan Chouji spontan membuatku kaget.
Hening. Pertanyaan Chouji tidak mendapatkan jawaban dariku, dan kulihat dia sudah sibuk sendiri, tidak peduli dan sepertinya sudah melupakan pertanyaan yang dilontarkannya.
.
.
.
.
.
"Hn, seseorang…" ucapku lirih sambil menatap keluar jendela kaca mobil, memperhatikan setiap sudut jalan, mer asakan semilir angin yang lewat, dan berharap hari akan berlalu cepat.
Flashback off –
Hampir dua minggu telah berlalu sejak aku pertama kali bekerja di café ini. Aku mulai terbiasa dengan keramaiannya, Ino bilang café tidak seramai ini sebelum aku datang, senang juga bisa menaikan penjualannya. Ino dan Shion-san mendominasi pekerjaan di belakang, seperti memasak dan mencuci piring sedangkan aku ditugaskan di depan, mengantar makanan dan mengelap meja.
Para pelanggan rata-rata adalah perempuan, walau ada beberapa laki-laki juga datang. Tetapi, ada satu, satu laki-laki yang setiap hari kemari. Namanya Sai. Dari raut wajahnya, ia sepertinya amat membenciku, memang apa salahku? Bicara dengannya saja tidak pernah, dan saat aku mengantarkan pesanannya ia memberi tatapan tak suka. Terserahlah.
.
.
.
.
Pukul 07.40 malam. Café sudah mulai sepi, aku dan Ino duduk di kursi kosong, mengistirahatkan tubuh kami, seharian melayani pelanggan yang tiada habisnya. Kau tahu tidak? Orang bernama Sai itu masih ada disini sejak siang tadi. Jika ia memang membenciku, kenapa mau-mau saja menghabiskan separuh hidupnya disini bersamaku, ya bisa dibilang begitu karena aku terus saja lalu lalang mengantarkan pesanan. Yang ia lakukan hanyalah memandangi jendela dan tangannya terus bergerak, menggores kertas-kertas yang dibawanya.
"Ino, sejak kapan ia mulai mengunjungi café ini?", tanyaku pada Ino. Dari pertanyaanku sudah terlihat jelas merujuk pada Sai.
"Mungkin sekitar satu setengah tahun lalu, sudah lama sekali ia disini. Memangnya kenapa?", Ino melahap Cinnamon Chocolate Marblenya yang tinggal dua potong.
"Tidak apa-apa, hanya saja dia terlihat sangat membenciku", ucapku yang juga memasukkan Chicken Spinach Quiche ke dalam mulutku. Setiap hari Shion-san sering memberi kami kue-kue lezat hasil eksperimen barunya. Terdengar seperti kelinci percobaan, tapi semua makanan buatannya selalu lezat bagi kami berdua.
"Hahahaha, itulah yang terjadi pada Gaara sebelumnya, kau harus terbiasa, karena ia akan selalu disini" Ino tertawa lepas dengan Chinnamon yang masih dikunyahnya sedikit keluar menghujaniku.
"Mungkin dia menyukaimu, dia tidak suka jika ada laki-laki lain yang dekat denganmu", benar juga, mungkin alasannya membenci adalah karena Ino. Ya Ino, alasan kenapa ia selalu disini, tentu saja untuk melihat Ino bekerja setiap harinya.
"Apa?! Suka? Tidak mungkin!", iris Ino menatapku tajam, mungkin ia kesal dengan argumen asal-asalanku.
"Aaa…. Aku hanya berpendapat". Aku tersenyum geli melihat Ino.
"Diamlah kau Sasuke dan makan tuh kuemu", Ino mengambil satu potong Chicken spinach gurih milikku dan menjejalkannya ke dalam mulutku.
"Ah, baiklah, baiklah!", ucapku dengan mulut yang benar-benar penuh hingga sulit untuk mengunyah. Aku menelannya dengan susah payah, Ino sialan.
"Oya, orang yang bernama Gaara itu, dia sebenarnya siapa?", pertama kali aku bertanya mengenai orang yang bernama Gaara ini. Sejak pertama kali disini, sering sekali orang-orang menyebut namanya.
"Oh, dia dulunya bekerja disini", timpal Ino.
"Tapi?" tanyaku, Ino selalu mengatakan hal setengah-setengah.
"Dulunya Sakura yang memperkenalkan Gaara pada kami, awal aku melihatnya, ia seakan menggantungkan seluruh hidupnya pada Sakura, jika bukan Sakura yang menyuruhnya, ia tidak akan menurut, seperti anak kecil", kuperhatikan perjelasan Ino sambil memotong kueku menjadi beberap bagian kecil agar lebih mudah dimakan.
"Lalu?"
"Selama beberapa bulan ia bekerja disini, ia juga sesekolah dengan Sakura. Semua sudah hafal, dimana ada Sakura, disitu selalu ada Gaara. Ya, bisa dibilang Gaara itu pengikutnya Sakura. Lalu ia harus pergi karena kakaknya bernama Temari sedang sakit parah, sampai sekarang ia tidak pernah kembali", setelah selesai bicara Ino mengeluarkan IPhonenya, memotret Chinnamon-nya, aku hanya mendegus kesal melihatnya.
"Adakah hal lain yang bisa kau lakukan pada makananmu selain memotret?", tanyaku kesal pada kebiasaannya buruknya.
"Tentu ada, memakannya, hahahaha…. Sasuke, jangan jadi orang yang terlalu kolot, atau tak ada gadis yang akan mendekatimu", Ino masih sibuk memilih foto-foto yang ia tangkap, menghapus beberapa yang hasilnya kabur atau tidak bagus.
"Aku butuh gadis, Ino". Tidak butuh untuk sekarang, luka masa lalu menyakitkan masih membekas jelas di hatiku.
.
.
"Oya, aku tidak melihat Sakura akhir-akhir ini, apartemennya pun terkunci, dia pergi kemana?" Aku benci mengakuinya, tapi aku sedikit rindu dengan keributan yang dibuat sebelumnya.
"Tentu saja pekerjaannya", Ino sudah meneguk habis White Chocolate Mocha-nya dan mulai membersihkan meja.
"Memang pekerjaanya apa?" Sejak kemarin aku penasaran dengan pekerjaan Sakura. Pekerjaan macam apa yang menahannya hampir dua minggu penuh tanpa pulang sekalipun.
"Apa?! Kau tidak tahu apa pekerjaan Sakura?" Ino menggebrak meja dengan kedua tangannya. Kenapa gadis ini lama-lama terlihat tomboy bagiku.
"Tidak, sama sekali", aku menggeleng, hanya dua hari aku berkesempatan untuk bertemu, mana bisa aku mengetahui seluk-beluk kehidupannya.
"Sasuke, apa kau punya televisi di rumah? Kau tidak pernah menggunakannya ya? Kau itu tampan-tampan tapi kampungan juga ya".
Televisi? Aku tidak pernah memikirkannya. Aku akui memang aku tidak punya televisi, tapi apa masalahnya? Kau tidak akan mati karena tidak punya televisi kan? *Curcol author yang gak punya tv*
"Tidak! Aku tidak punya televisi", jawabku, aku mengambil tissue dan mengelap pinggiran mulutku, mungkin terdapat remahan roti yang bisa membuatku dipermalukan.
"Haduh Sasuke, pantas saja!" Ino kembali duduk di kursi, memposisikan dirinya senyaman mungkin, seakan ia akan bercerita selama berjam-jam lamanya. Melipat kedua tangannya dan meletakkannya di atas meja, kedua mata Ino menatap lurus ke arahku.
"Haruno Sakura itu host makanan paling terkenal di Jepang, awalnya memang dia iseng mengunggah video di Youtube, tapi lama-lama penontonnya bertambah banyak sekali. Sebulan terakhir ini ia ditawari untuk mengisi sebuah acara TV, yang juga membahas tentang makanan" Jelas Ino penuh keseriusan.
"Jadi itu alasannya kenapa ia tinggal di apartemen Jiraiya yang dipenuhi oleh para lansia gagal teknologi itu?" Sakura menghindari para fansnya? mungkin itulah kenapa Sakura begitu gembira mengetahui aku pindah ke apartemen Jiraiya, apalagi waktu kami bertemu di supermarket dan melihat reaksiku seakan aku tidak mengenalnya sebagai bintang terkenal, aku juga satu-satunya orang yang seumuran dengannya. Yah, memang sulit untuk bersosialisasi dengan orang yang bahkan tidak mendengar apapun yang kau katakan.
"Bukan, walaupun itu salah satunya. Coba kau pikir, jika itu alasan, seharusnya ia pindah beberapa bulan lalu, tapi ia sudah tinggal di sana selama 3 tahun, pasti ada alasan lain yang lebih besar di balik itu semua. Bayangkan saja, mana ada seorang remaja mau tinggal bersama orang-orang tua, tentu saja mereka akan memilih berapa di kos bersama teman-teman. Sebagai informasi bahwa apartemen Jiraiya juga baru saja dibangun, hampir bersamaan dengan kepindahaan Sakura", Benar juga kata Ino, apartemen yang kutempati ini memang aneh, kenapa hanya orang tua yang tinggal di sana, dan kenapa hanya aku dan Sakura? Dan apartemen Jiraiya adalah sebuah bangunan baru, mungkinkah semuannya ini berhubungan?
"Apa kau tahu alasan lainnya?", tanyaku lagi pada Ino. Alasan lain apa yang dimiliki Sakura? Apa dia menghindari seseorang? Dibalik keceriannya itu menyimpan banyak sekali hal misterius yang tidak bisa kupecahkan.
"Dia selalu bilang ada. Tapi tidak pernah memberitahuku dengan benar. Dia cuma berkata ingin mendapatkan lingkungan yang lebih baik, namun aku tahu bukan itu alasan sebenarnya", gadis aneh itu, kenapa semua hal menyangkutnya selalu juga aneh?
"Memang bagaimana lingkungannya sebelum dia pindah?" tanyaku lagi, oya benar, keluarganya, dimana juga kerabatnya? Tidak mungkin juga orang seperti dia hidup sebatang kara.
"Dulu dia tinggal di sebuah mansion bersama kakak laki-laki dan tantenya, tapi nii-channya harus pergi kuliah ke luar negeri dan tantenya pergi berbisnis", jadi Sakura masih mempunyai kakak? Entah apa yang kulalui dengan gadis itu, tapi emeraldnya terlihat tidak asing bagiku.
"Mungkin itulah alasannya pindah ke apartemen Jiraiya" jawabku, masuk akal bukan? Daripada tinggal di sebuah mansion besar sendirian, lebih baik menyewa apartemen kecil.
"Bisa jadi", Ino mengangkat bahunya, "Tapi apa kau tahu pekerjaan rahasia Sakura?", Tanya Inoo lagi. Pekerjaan apalagi yang dia lakukan? Kenapa gadis ini sangat memusingkan. *(eh, Sasu, kalo loe gak mikirin dia juga gak musingin tahuu)
"Hah? Pekerjaan apalagi? Berapa pekerjaan yang dilakukannya? Dia kekurangan uang?", aku mendengus, lelah dengan percakapan tentangnya yang tak akan berakhir.
"Ternyata Saki belum memberitahumu, dan bukan wewenangku untuk memberitahumu, jika kau bertemu dengan langsung tanyakan saja", Kini Ino berdiri dari kursinya, merapikan aprronnya yang lecek karena terlalu lama duduk, apa ini tanda berakhirnya percakapan kami?
"Kau mau kemana?", tanyaku yang masih santai saja meneguk Spearmint Green Teaku yang mulai dingin, tenggorokanku mengering.
"Pulang. Atau Sakura akan membunuhku karena Mame mengalami masalah pencernaan akibat telat makan", Ino mengutak-atik ponselnya, ia mengecek waktu makan malam Mame yang sudah dicatatnya di NotePad.
"Mame bersamamu?", aku juga mulai membersihkan piring dan gelas kotor yang telah kupakai.
"Yah, begitulah Sakura, ia tidak mau mengajak Mame bersamanya, dan siapa korbannya? Tentu saja aku", aku sedikit terkekeh dengan wajah keputusasaan milik Ino.
"Oya, Sasuke kau kan tetangganya, bagaimana jika kepergian Sakura selanjutnya kau saja yang menjaga Mame?", wajah Ino kini berubah penuh harap menatapku.
AAAKKK.
"Lupakan saja ide bodohmu itu" Aku melempari wajah Ino dengan aprronku yang sudah kulipat dari tadi.
"Aaaa, Sasuke!", Ino berteriak melihatku sudah berada di ambang pintu.
"Sisanya kuberikan padamu Ino, aku pulang dulu!", aku pergi dengan melambaikan tangan kebelakang tanpa menunggu jawaban darinya.
.
.
.
.
.
.
.
Diperjalanan pulang aku mampir dulu ke Burger King untuk membeli Big Bacon Bargain ekstra tomat yang bisa kujadikan sarapan untuk besok juga. Jangan salah paham dulu, seharian aku tidak makan, dan sepotong Chicken Spinach Quiche hanya berhasil menyumpal, bukan menghentikan gonggongan perutku yang mengerikan. Yosh, setelah menerima bungkusan dari pelayannya aku segera pulang, bajuku sudah sangat lengket dan bau karena keringat.
.
.
.
.
.
Apartemenku. Keadaannya masih rapi, aku meluangkan waktuku sebelum kuliah untuk membersihkannya karena pagi ini ada seorang kakek-kakek tua berpawakan pendek, seluruh rambut dan jenggot sudah memputih, hidungnya besar memerah, namanya kakek Oonoki. Ia yang masuk ke apartemen MILIKKU saat aku pergi membuang sampah. Kenapa aku lupa mengunci pintu? Dikiranya apartemenku adalah miliknya, tapi sebenarnya ia salah memencet lantai di lift akibat dari Jugo yang bertugas menekankan tombol lift sedang pergi ke kamar mandi, tidak perlu ditanya lagi bagaimana kualitas pengelihatan para lansia. Kalian tahu, butuh waktu dua setengah jam untuk membuatnya mengerti bahwa ia salah lantai, telinganya menjadi penyebab hambatan komunikasi antara kami. Aku hampir saja terlambat dibuatnya, pengorbanan sepatuku kotor dan basah, saat aku berlari menuju kampus, ternyata aku menginjak sebuah kubangan besar yang hampir membasahi bajuku. Ditambah lift kampus yang rusak, aku harus menaiki tangga sampai lantai sebelas, dan sesampainya di kelas, dosennya cuti! SIALAN!
Setelah menghidupkan lampu, aku meletakan makananku di atas meja dan pergi mandi. Rasanya seperti tubuhku akan segera direikarnasi jika tidak segera membersihkan diri. Beruntung di sini dilengkapi dengan fasilitas air panas, jadi aku tidak perlu susah payah memanaskan air jika ingin mandi air panas sesekali.
Mandipun selesai. Bajuku yang penuh noda kopi dan whip cream juga sudah kuganti dengan yang bersih dan lebih santai juga celana pendek nyaman pakai. Aku memanaskan sebentar burgerku di microwave dan membuat segelas chai tea dari café yang kebetulan kubawa pulang. Makan menjadi kegiatan yang sangat membosankan, tak ada hiburan berarti sekarang. Sunyi. Apa aku harus membeli TV agar meramaikan suasana apartemenku ini? Hmmm, menyusahkan sekali.
Burgerku hanya habis setengah. Karena ukurannya besar juga dagingnya yang berlapis-lapis dengan cepat mengenyangkanku. Kumasukan lagi burgerku ke pembungkusnya dan menyimpan ke dalam lemari pendingin.
Tak ada yang lebih baik selain pergi tidur setelah makan. Segera saja aku pergi ke kamar tidurku, tempat yang kurindu sejak insiden tadi pagi, hari yang melelahkan bagiku. Aku naik ke atas tempat tidur, mematikan lampu, menaikan selimut biru mudaku hingga ke atas leher, menyembunyikan tubuhku dari dinginnya udara malam, aku terlalu lelah untuk menghidupkan pemanas yang hanya berjarak dua lengan dari tempatku sekarang.
Yang dipikiranku sekarang hanya ada Sakura. Gadis yang baru kukenal dua minggu lalu ini menyimpan banyak misteri. Saat aku bertemu dengannya, ingin aku segera menghujaninya dengan berbagai pertanyaan, hanya perasaan gengsi menghambatku. Tapi, apa yang mempengaruhimu Sasuke? Hingga kau ingin mengetahui urusan oranglain, ini benar-benar berbeda dengan dirimu yang dulu.
"Cih, diriku yang dulu?", aku tersenyum jahat. Mengingat diriku yang dulu, dulu? Diriku yang penuh dengan rasa benci, marah, dendam, rasanya ingin mati saja. Lupakan Sasuke! Lupakan! Sebaiknya aku tidur sekarang. Besok hari liburku, jadi aku bisa bangun siang. Tidak butuh lama, angin malam terlalu cepat membawaku ke dunia mimpi, mataku pun terpejam perlahan-lahan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pagi hariku rusak. Matahari masih terlalu rendah, tapi sinar sudah menyelinap masuk ke kamarku. Aku terbangun dengan terpaksa karena ada suara berisik datang dari ruang depan, suara yang berasal dari panci yang terjatuh, apa kakek itu datang lagi kemari? Tidak! Aku sudah menguncinya tadi malam. Aku bangun dan meninggalan tempat tidurku yang masih kacau. Berjalan dengan menyeret kaki, kantuk masih mengganggu, tapi tiba-tiba hilang karena aroma sedap dari dapur. Siapa yang memasak di dapur? Apa gantian seorang nenek-nenek yang menggunakan dapurku? Perlahan-lahan aku mengintip di balik pintu.
Bukan! Itu bukan nenek ataupun Kakek pengganggu lagi, ta-tapi… itu, Sakura! Apa yang dilakukannya di dapur pagi-pagi begini? Dan, bagaimana dia bisa masuk ke apartemenku? Se-sedangkan, kunciku. Oya, kunciku… kucari-cari, di kamarku, ternyata masih berada di sana, tergantung di sebuah paku tinggi. Sakura masuk tidak menggunakan kunciku, tapi kunci siapa?
Aku harus keluar atau pura-pura masih tidur? Ah, Sasuke kau bodoh sekali! Mengatasi keadaan seperti ini saja kau tidak bisa, daripada menghadapi Sakura lebih baik aku menghadapi banyak preman yang siap menyerangku, seratus kali lebih baik karena aku tahu apa yang harus kulakukan, tapi ini? Baiklah, aku harus keluar dan bertanya. Sebelum itu aku merapikan sedikit rambutku dan membersihkan kotoran di mataku, ya biar tidak terlalu memalukan untuk dilihat. Oke! Aku keluar, pura-pura menguap dan berjalan perlahan-lahan menuju ruang depan. Sepertinya Sakura melihatku,
"Oh, Sasuke! Kau sudah bangun?", oke! Dia mulai duluan, kini aku harus berpura-pura terkejut melihatnya.
"Sakura, apa yang kau lakukan disini?", aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Gila, kenapa aku salah tingkah melihat seorang gadis berada di apartemenku sepagi ini, masuk ke tempatmu tanpa permisi, dan menggunakan dapurmu seenaknya, untuk orang pada umumnya mereka akan terganggu, marah atau yang lainnya, tapi kenapa aku tidak bisa marah padanya? Sebagian dari diriku bahkan menyambut kedatangannya ini.
"Baka! Aku membuatkanmu sarapan, jika terus saja makan ramen instan, kau bisa berakhir sakit, lalu siapa yang susah? Akulah orangnya, jadi diam dan makanlah sarapanmu", dia melakukan ini semua hanya berdasarkan kepercayaannya pada frasa 'menjadi tetangga yang baik', dulunya kupikir ia memiliki maksud lain dari semua bantuannya yang berlebihan padaku, tapi jika aku terus-terusan menerima bantuannya, hutang budiku akan semakin menumpuk, pada waktu yang tepat aku akan mengatakan padanya untuk berhenti membantuku. Sakura meletakkan satu mangkuk penuh nasi putih yang mengepulkan uap air panas. Aku masih mematung di tempat, memperhatikan pergerakan Sakura yang masih sibuk sana sini, hingga ia melihatku dengan tatapan aneh,
"Sasuke! Apa yang lakukan disana? Ayo makan!", Sakura menghampiriku, menggenggam tanganku dan menariknya ke meja makan.
Di meja bisa kulihat sarapan khas Jepang berisi nasi putih panas, sup miso berisi rumput laut dan tofu, ikan panggang, tamagoyaki digulung sempurna, lengkap dengan natto dan tsukemono umeboshi yang entah kapan terakhir kali aku memakannya. Tiba-tiba saja kuteringat akan masa lalu, ibuku yang dulu sering membuatkan sarapan lezat setiap harinya, penuh cinta ia membuatnya untukku dan nii-chan setiap paginya. Tak sadar mataku berkaca-kaca, ishhh, Sasuke kenapa sekarang kau menjadi selemah ini?
"Sasuke? Kau menangis?", Sakura meneluri setiap sisi di wajahku, memastikan apa ada yang salah hingga membuatku hampir menangis. Akh, mana harga dirimu sekarang Sasuke? Sekarang kau menangis di depan gadis tanpa sebab.
"Tidak, bodoh! Uap panas dari nasi ini mengenaiku mataku", aku mencari alasan sekenanya, walau terdengar masuk akal, tapi gadis aneh itu mempercayainya.
"Hmm, baiklah kalau begitu ayo kita makan", mau tak mau aku memakannya, godaan aroma dari sup miso di depanku ini tidak mengizinkan orang yang menghirupnya membiarkan ada perut kosong. Sakura pun juga ikut menemaniku makan. Belum aku memasukan suapan kedua ke dalam mulutku, ia sudah mengambil satu mangkuk nasi lagi, makannya terlalu tergesa-gesa, dia seperti tidak menikmati makanan, hanya mencari kata kenyang yang sulit didapat.
"Hei, makanlah pelan-pelan, kau mau terkena masalah pencernaan?", protesku padanya. Jika dilihat ia terus saja memasukan makanan ke dalam perutnya tanpa ada kegiatan mengunyah.
"Tenang saja Sasuke, aku punya perut yang kuat!", gadis di depanku ini berbicara dengan mulutnya penuh dengan ikan panggang, ia memegang perutnya, menunjukan tangki makanan super besar miliknya yang dikatanya kuat.
Setelah itu kami makan dalam diam. Terlalu canggung bagiku untuk memulai percakapan. Tapi kenapa canggung? Kenapa harus canggung dengan gadis seperti dia, bisa-bisa ia terlihat santai di dekatku, sedangkan aku? akhir-akhir ini aku sangat tidak mengenali diriku lagi, terlalu banyak perubahan terjadi padaku dalam waktu singkat. Biasanya di sekolah aku dikeliling oleh banyak gadis yang menyukaiku, tapi aku tidak benar-benar berinteraksi dengan mereka, sikap acuh tak acuhku membawa dampak sekarang. Mungkin akan ada berita panas di web sekolah yang membahas betapa payahnya seorang Uchiha Sasuke dalam menghadapi seorang gadis.
"Sasuke, hari ini kau mau kemana?", Sakura yang memulai, dari pertanyaan bisa kutebak ia akan mengajakku pergi keluar lagi.
"Tidak ada", aku memasukan ikan panggang ke dalam mulut sedikit tergesa-gesa, kamisama, ini enak sekali!
"Yokata, kalau begitu ayo kita pergi ke taman bermain dan naik kincir angin", Sakura menghentikan makannya, meletakkan sumpitnya di atas mangkuk nasi dan mulai mengeluarkan puppy eyes-nya padaku. Menjengkelkan, kenapa aku tidak bisa menolak setiap permintaan yang diajukannya. Aku selalu berubah menjadi orang bodoh bila bersama gadis ini.
"Sebentar, pagi ini aku sibuk", sial, aku bimbang antara pergi dengan gadis ini atau tidak.
"Sasuke, kau bilang tidak ingin kemana-mana. Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan pagi ini?", dahi Sakura berkerut.
"Kau tak perlu tahu, yang penting aku sibuk pagi ini", bukan itu, hanya saja aku tidak tahu alasan apalagi yang harus kuberikan. Aku juga merasa bersalah, membohongi gadis sepertinya tanpa alasan.
"Um, kalau begitu bagaimana kalau nanti sore? Bagus juga jika kita menaiki kincir angin saat malam hari", tawar Sakura padaku.
"Akan kuusahakan", jawabku singkat. Sebenarnya rencanaku hari ini hanya membaca beberapa contoh diagnosis dokter yang diberikan oleh Iruka Sensei kemarin, aku akan memikirkannya lagi.
"Oke!", kami pun melanjutkan sarapan. Setelah selesai Sakura membantuku mencuci piring, lalu dia pergi. Tapi di depan pintu aku mendengar suaranya sedang berbincang-bincang dengan seorang laki-laki. Sempat berpikir untuk menguping pembicaraan mereka tapi tidak kulakukan, Uchiha Sasuke, kenapa akhir-akhir ini bermuncul sifat aneh yang tidak pernah ada dalam dirimu?
.
.
.
.
.
.
.
Sekarang pukul 2:14 siang. Kurang empat puluh lima menit lagi aku pergi. Sebelum itu, tepat pukul dua tadi, Sakura mengirim sebuah pesan,
Sasuke, jangan lupa pukul tiga kita akan pergi. Atau aku akan mendobrak apartemenmu ^_^
-Sakura
Kami-sama, semoga aku tidak menyesal setelah memilih keputusanku. Aku pergi menuju lemari berisi pakaian. Sial, sekarang apalagi, kenapa aku jadi bingung memilih baju yang akan kukenakan, biasanya aku tinggal mengambil secara acak, sekenannya tanganku meraih. Satu persatu aku mencobanya, terlalu gelap, terlalu santai, terlalu nighttime, terlalu mencolok, terlalu terang. "Akh, kenapa aku bisa bingung masalah ini?" aku setengah berteriak.
Akhirnya aku memakai kaus putih tipis dengan hiasan beberapa garis hitam di bagian dada, kulapisi dengan hem biru muda, jeans biru tua, dan sepatu kets merah, tidak lupa sebuah kalung rantai lumayan panjang berbandul bintang. Entah terlihat keren atau tidak, selama ini aku tidak pernah memperhatikan penampilan.
Hampir pukul tiga sore, kusengaja melewatkan makan siang, agar saat pergi bersama dengannya aku bisa ikut makan, bagaimana pun dan dimana gadis itu pasti akan mencari kedai makanan. Sasuke, berhentilah berpikir seakan kau mengenal gadis itu.
Aku mematikan lampu dan keluar dari apartemen, lobi masih sepi, Sakura belum terlihat. Ternyata masih pukul tiga kurang beberapa menit, akulah yang terlalu cepat keluar.
Menunggu, aku mendengarkan beberapa lagu klasik dari IPod untuk mengusir kebosanan. Harusnya aku mengambil beberapa buku, tapi rasa malas mengalahkan niatku.
Pukul 3:10, Sakura belum juga keluar, jika aku mengetuk pintu apartemennya, secara tersirat aku terlihat antusias dengannya. Tak ada pilihan lain, aku hanya harus tetap menunggu, rasa gengsi ini amat menggangguku.
Pukul 03:34, akhirnya pintu apartemen itu terbuka, tapi bukan Sakura yang keluar, melainkan seorang laki-laki berambut pirang, badannya terlihat gagah, di setiap sisi pipinya terdapat tiga garis melintang seperti bekas goresan pisau, setelah dia keluar, diikuti Sakura yang masih mengajaknya bicara.
"Setidaknya kita harus membuat perlindungan, Naruto. Mereka sekarang pasti mengincarnya", Suara Sakura terdengar lirih, tapi masih terdengar apa yang diucapkannya.
"Aku mengerti, Sakura. Aku akan menyuruh orang untuk menjaga pintu depan. Kalau begitu aku pergi dulu", laki-laki itu pergi, menuruni tangga, tiap anak tangga yang diinjaknya membuat badannya terus menghilang sedikit demi sedikit dan akhirnya lenyap.
"Hah?! Sasuke?! Maafkan aku, maaf!", Sakura melihatku, ia menghampiriku dan menunduk berulang kali di hadapanku.
"Kenapa kau?" tanyaku melihat kelakuan anehnya.
"Maaf, aku terlambat, janji kita adalah pukul tiga, bahkan aku sudah mengirimkan sebuah pesan padamu untuk mengingatkan. Ternyata aku sendiri yang terlambat", Sakura kini menundukkan kepala lebih rendah, tanda penyesalannya.
"Aa…", hanya itu yang bisa kukatakan padanya. Lalu apalagi? Melihatnya saja aku hampir menahan tawa, hanya karena terlambat tiga puluh menit saja membuatnya seperti ini. Bukankah itu hal yang wajar untuk seorang gadis terlambat dalam kencannya? Eh, tunggu kencan? Kenapa sekarang aku menyamakan acara jalan-jalanku ini dengan kencan?
'Sasuke, kau lama-lama akan semakin dibuat gila oleh pikiranmu sendiri' ucapku dalam hati.
"Aku tak menyangka temanku mendadak berkunjung, ta-tapi—kau masih mau pergi kan?", Sakura menaikan kepalanya untuk berbicara denganku, ya karena aku satu kepala lebih tinggi daripada gadis itu, menakup kedua tangannya, menunggu jawabanku.
"Cepatlah, atau kita akan terlambat pulang", mengalihkan kepalaku ke arah lain, pura-pura mendengarkan lagu yang sebenarnya sedang terhenti.
"Ehhm. Tunggu sebentar", lalu aku mendengar suara pintu yang tertutup. Tidak sempat melihat bagaimana ekspresi Sakura barusan, tapi dari nada suaranya ia sepertinya senang.
Tidak lama Sakura akhirnya keluar. Ia mengenakan kaus beruang bewarna merah muda, celana jeans ukuran tiga per empat dan sepatu sandal berwarna hitam, mengalungkan tas pundak mininya yang berbentuk beruang.
"Aku sudah siap, ayo kita pergi", Sakura tersenyum ke arahku, terlalu lebar hingga membuat matanya seperti ikut tersenyum juga.
"Eh, ee—ayo", aku mebiarkan Sakura memimpin di depan, secara teknik dia yang tahu dimana tempatnya. Tapi lama-lama ia mulai mensejajariku, dan lagi, aku terjebak di suasana canggung LAGI.
"Sakura", mungkin kami-sama yang mendorongku untuk angkat bicara.
"Ya?", Sakura menatapku penuh tanya.
"Sebenarnya, apa pekerjaanmu selama ini?", ya, pertanyaan yang ingin segera kuajukan padanya sejak kemarin.
"Kau tidak tahu? Aku youtuber dan seorang host makanan, Sasuke".
"Selain itu?"
"Tidak ada", Sakura memalingkan wajahnya, kebohongan terlihat di kedua emeraldnya. Tapi dari perilakunya sudah terbaca. Begitukah, dia tidak ingin memberitahuku. Aku hanya tersenyum kecut.
.
.
.
.
.
.
.
.
Taman bermain Konoha. Aku tidak tahu jika ada tempat semenakjubkan ini, disamping tidak punya waktu, aku juga tidak punya teman untuk berkeliling. Ya sudah, lupakan, waktunya bersenang-senang setelah dua minggu disibukkan oleh kuliah dan kerja paruh waktu.
"Wahhhhh, ramainyaa!" Sakura berteriak gembira. Matanya kini jelalatan kemana-mana, kupikir ia bingung wahana mana yang hendak ia naiki dulu. "Kau bilang ingin naik kincir angin, segeralah naik dan kita pulang".
"Sasuke, jangan terburu-buru. Naik kincir angin itu lebih baik di malam hari. Sekarang kita naik roller coster yukk!", Sakura tidak mendengarkan jawabanku dahulu dan langsung menarik tanganku, pergi menuju loket untuk membeli tiket masuk wahana. Itu terjadi berulang-ulang, hampir semua wahana dicoba olehnya, kecuali kincir angin yang ia simpan untuk nanti.
Kelelahan, kami mampir di sebuah warung yang menjual ramen. Sakura memesan tiga mangkuk ukuran jumbo, sedangkan aku hanya satu mangkuk normal. Selera makan gadis satu ini memang mengerikan.
"Hei, darimana kau dapat nafsu makan gilamu ini?", aku menyumpit sedikit mie yang masih panas ini.
"Ini karena kau Sasuke", Sakura menjawab secara sambi lalu. Gadis ini selalu asal-asal bila bicara. Tapi bagaimana bisa karena aku? Ia pasti sudah lama menjadi seorang penggila makan, dan, bisa-bisanya dia menyalahku, kita juga baru bertemu sejak dua minggu lalu.
"Bagaimana bisa kau menyalahkanku?", tanyaku dengan nada sedikit protes. Sebelum Sakura mengeluarkan suara dari mulutnya yang terbuka, dari pintu masuk seorang laki-laki berambut kuning lurus, sebagian rambut depannya menutupi mata biru sebelah kirinya, duduk dengan kasar di sebelah kami, eh, sebelah Sakura lebih tepatnya.
"satu mangkuk ramen, tidak pakai lama", dengan tidak sopannya ia menaikan kakinya di meja. Aku yang hendak memprotesnya terdahului oleh Sakura.
"Hei, bisakah kau turun kakimu, tu-", ucapannya terpotong. Sejenak Sakura dan laki-laki itu saling menatap mata satu sama lain, antara ekspresi kaget dan tidak percaya bercampur tidak karuan.
"Sakura"/ "Deidara", ucap mereka hampir bersamaan.
"Apa yang kau lakukan disini, brengsek?", Sakura menghentikan acara makannya, dan mengubah posisi duduknya menghadap orang yang bernama Deidara.
"Harusnya aku yang bertanya Sakura, kau masih saja berani berkeliaran setelah apa yang terjadi", ia memberikan cengiran licik pada Sakura. Yang terjadi? Apa yang dimaksud orang ini.
"Aku tidak akan menyerah begitu saja, aku bersumpah akan menghentikan kalian semua", tangan Sakura meremas kuat-kuat sumpitnya, sedang menahan amarah yang bergejolak dalam hatinya.
"Sebelum itu terjadi, kami akan menyingkirkanmu Sakura, tanpa jejak sedikitpun, kau tahu itu hal yang mudah dilakukan bagi oran-orang seperti kami".
"Coba saja, aku menjamin dengan nyawaku sendiri bahwa kalian tidak akan mendapatkannya". Sakura tampak kesal, bahunya yang bergerak ke atas dan bawah amat terlihat, ia juga mencoba mengatur nafasnya yang tidak kacau. Tangannya yang dilipat di depan dada menandakan ia tidak ingin terjun lebih jauh dalam percakapan ini.
"Hohoho, kau itu ternyata teramat bodoh, kau harus menyimpannya di tempat yang lebih baik, Sakura", Deidara itu memberi tatapan penuh misteri pada Sakura. Berpikir sejenak, akhir Sakura membereskan tasnya, membayar ramennya dan pergi keluar, sedangkan kulihat laki-laki itu terkekeh bahagia melihat perilaku Sakura.
Saat keluar, sudah kulihat Sakura berada di ujung pintu keluar taman bermain, setengah berlari aku mengejarnya.
"Sakura, sebenarnya ada apa?", aku mensejajari Sakura yang berjalan cepat.
"Aku harus segera sampai rumah".
"Ada apa di rumahmu?"
"Aku harus segera sampai rumah".
"Sakura, kau dalam masalah?".
"Aku harus segera sampai rumah".
"Sebenarnya ada apa?".
"Aku harus segera sampai rumah".
"Sakura!"
"Aku harus segera sampai rumah".
Sakura hanya bicara satu kalimat yang saja setiap kali aku bertanya padanya. Hal itu terus berlanjut hingga kami sampai di depan pintu apartemen, Sakura berbalik, menghadapku, sepertinya ia hendak menyampaikan sesuatu padaku.
"Sakura, kau kena—" ucapku terpotong olehnya, "Sasuke!", Sakura menahan tangisannya.
"Kumohon, jangan ganggu aku dulu", ia langsung saja masuk ke dalam apartemennya dan menutup pintu dengan kasar. Aku hanya ternganga melihat mood Sakura yang berubah sangat cepat. Tak ada pilihan lain, jika gadis sudah seperti itu, mereka tidak bisa diganggu gugat.
Aku masuk ke apartemenku, rasa penasaran masih menyelimutiku, sebenarnya apa dimaksud laki-laki tadi, apa hubungannya dengan Sakura? Aiishhh, kepalaku pusing! Aku harus pergi mandi dan mendinginkan kepala.
.
.
.
.
.
.
.
9:11 malam.
Sejak tadi sore aku tidak bisa membuang Sakura jauh-jauh dari otakku, banyak hal yang kulakukan untuk mengeluarkannya dari pikiranku, hasilnya sia-sia. Aku bisa gila karnanya. Aku hanya berguling-guling tidak jelas di atas tempat tidur, aku tidak bisa focus melakukan apapun. Sekarang, aku harus bertanya sekarang juga! Masih jam sembilan, ia mungkin sudah tenang, dan mustahil ia sudah tidur.
Aku pergi menuju apartemennya, mengabaikan diriku yang mengenakan piyama memalukan, butuh keberanian juga untuk mengetuk pintu. Ragu, ragu. Bodoh, kenapa aku harus ragu saat sudah disini? Aakkkkkhhhh, aku benar-benar gila pada akhirnya.
TOK TOK TOK
"Sakura, bukalah sebentar pintunya" tak ada jawaban ataupun tanda-tanda pintu hendak dibuka.
TOK TOK TOK
"Ayolah Sakura, kumohon", sama saja, ketukan ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya. Tapi aku mendengar sebuah suara, samar-samar, hampir tidak bisa didengar. Kutempelkan telingaku di pintu, kudengar… sebuah desahan kesakitan, semakin samar kudengar, apa yang terjadi pada Sakura?
Aku harus mendobrak pintunya. Mendorong pintunya dengan tubuhku, sekali, dua kali, tiga kali, yatta, engselnya mulai rusak, terakhir aku menendangnya dengan kaki dan terbuka!
Apartemen Sakura sangat sangat berantakan, beberapa perabot rawan sudah pecah, semua benda pergi dari tempatnya. Yang membuatku kaget adalah apa yang kulihat di lantai. Sakura yang terkulai lemas dengan banyak darah di baju dan di lantai sekitarnya. Saat kulihat hidungnya yang berdarah, orang akan berasumsi dia mimisan, tapi mustahil orang mimisan mengeluarkan darah sebanyak ini.
"Sakura, apa yang terjadi padamu?", aku mengangkat setengah tubuhnya, Sakura masih sadar tapi ia tidak mengatakan sepatah katapun padaku, mulutnya ditutupnya rapat-rapat. kulihat ponselnya tidak jauh dari tempat yang juga terkena darah masih hidup. Kuraih ponsel itu yang tertulis disana Sakura hendak menghubungi orang yang bernama 'Dokter Shizune', ini pasti dokternya Sakura, tanpa berpikir panjang aku segera menelponnya. Pada panggilan ketiga akhirnya dijawab.
"Halo Sakura, kau ada masalah?"
"Halo, maaf saya teman Sakura, saya menemukannya terkulai penuh darah di lantai, bisakah anda membawa ambulan kemari?"
"Dimana dia sekarang?!"
"Apartemen Jiraiya"
"Baiklah saya akan segera ke sana"
TUUT TUTTT
Sambungan telponnya putus, kusimpan ponsel Sakura di sakuku, lalu menggendongnya pergi keluar dari apartemennya, menuju pintu keluar bangunan dimana ambulan akan datang. Kami-sama, semoga Sakura baik-baik saja.
Sasuke, beruntunglah kau tidak tahu apa yang terjadi padaku barusan, setidaknya biarkan sementara saja aku merahasiakannya. Tapi mungkin kau juga tidak peduli padaku.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC-
Curhatan author (Gak perlu dibaca, gak usah maksa)
Haaiiii aku kembali lageeee! Whaattt? Sasuke deket sama Ino? Tidakkk! Sakura sama Naruto? Haduhh gimana niii *authornya shock sendiri :v* Chapter empat ini konfliknya udah mulai muncul,enteng aja… berat-beratnya nantiii. Setiap penyataan penjelasannya selalu setengah-setengah, jadi banyak yang tanya ya hahahaha #sengaja... soal gituan aku jawab pelan-pelan disetiap chapternya, sampe tuntas. Kalo ada yang gak jelas review aja yaaa! Wordnya dikit Soalnya aku agak sibuk karena tes penjurusan yang bakal diadain sebentar lagii, doain lulus, dan masuk kelas Bahasa *AMINN* (ngarep luu) #plakplak. Maaf ya kalo updatenya gak bisa kilat, sebenernya cerita ini gak ada konsepnya :v jadi nulisnya asal-asal aja *maaf maaf* makanya aku mau buat dulu konsep yang jelas biar nulisnya terarah. sebenernya chapter 4 ini udah jadi beberapa hari lalu, tapi karena ini tanggal tua bagiku, disaat paket bulanan berakhir, jadinya gak bisa diupdate disaat udah finished *maaf maaf again* I think that's all, moga suka fictnya yaaa *bighug*
-JAWAB REVIEW-
kristy lg nggak login : thanks yaaa! Sasuke enggak hilang ingatan kok, Cuma kenangannya terlalu sedikit untuk diingat #ciaahhh. Iya tu Karin pacarnya Sasu :v eh, sekarang udah mantan hehehehe
untuk 'sasusakux' dan X disana menjurus ke orang ketiga yang akan datang satu persatu ke kehidupan mereka. update nih… Udah cepet belom? Hahahaha ^_^
1 : udah update nii, enjoy yaaa! ^_^
BloomBubbleBee : Haii hai! Cieee, kita seumuran niiii, makasih supportnya :* yang diincer mereka? Sesuatu yang berbahaya *evillaugh* ditunggu aja ya, untuk sci-fi engga juga sih :v iya, sasuke punya masa lalu sama saki, cerita awalnya ada di side story di atas. Sakura gak kenal tuh sama Karin, tapi AKAN kenal *duh spoiler :v* update yaaa! *bighugg* btw kenapa kamu milih namanya kayak title komik punya kak annisa nisfihani :v kamu suka ya? Me too 3
Ika : Yaaahhh, kenapa rusak? Iya nih, nemku 35, alhamdullilah it helped buat masuk SMA impian *blingbling*. Di formulir daftar ulangku juga ditanyain berat sama tinggi badan, dan kenapa mukaku langsung kusut ngeliatnya? :v kenapa ada tes kesehatan juga? Kalo aku adanya tes biasa, psikologi sama tes penjurusan doang… duh, Ika, jangan suka ngegantungi, digantungin itu gak enak :v *edisi baper* udah kok, oktober lalu aku ngungkapin, bukan nembak, tapi alesannya dia focus UN #duhh, tapi sampe sekarang? Aku harus semakin jauh, Huaaaa… kita beda sekolah (waktu SMP), tapi sekolahnya sebelahan. Setelah lulus I don't know where he goes *sad max* enaknya kamu bisa deket sama doii. Gakpapalah, sahabat laki-lakiku buanyakk eaakkk.
Trust me, aku juga penggila makanan, dan super rakus, semuanya serba double, mungkin Sakura itu cerminanku yak wkwkwk, iya tu, aku benci sesi bersih-bersih habis masak, apalagi kalo habis buat roti, cucian buanyak max! tapi sehari aja gak makan roti kepalaku bisa pusing #truestory
Nunggu sholat subuh sambil lanjutin fict, ternyata udah selesai, ya udah update aja hahahaha
FianaHyuuga : thanks! Pekerjaan Sakura dijawab di chapter ini. Iya ni, sasu punya masa lalu sama Saki. Sasukarin Cuma masa lalu kok, ciahhh, konfliknya udah mulai ni, update yaa! ^_^ pekerjaan Saki udah dijawab ya, Sasukarin aja gak rela, apalagi doi sama dia *edisi baper* #abaikan :v
Sudah ya? See ya xx
Devi Na Akeyama,
24 Juni 2016
