Naruto milik Masashi Kishimoto
Enjoy reading:)
.
.
Sasuke terbangun di atas sofa. Ia memijat tengkuknya sendiri yang terasa kaku dan pegal. Sepertinya semalam posisinya tidurnya salah, sehingga beberapa bagian tubuhnya terasa begitu pegal. Mata hitamnya memandang ke seluruh penjuru rumah yang terjangkau. Rumahnya masih sesepi semalam. Anak-anak belum pulang, hubungannya dengan Sakura pun masih renggang.
Mengingat tentang Sakura, cepat-cepat ia melirik pintu kamarnya yang bisa dilihat dari sofa. Kaget, matanya membulat karena pintu kamarnya terbuka lebar. Dengan sigap ia melangkahkan kaki menuju kamarnya dan berniat menemui Sakura. Jantungnya berdegup kencang, ia sama sekali tidak tahu harus berkata apa nantinya. Setidaknya, ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Sakura. Jika bisa, tanpa harus membawa topik yang semalam mereka bahas.
Dan rasanya bahunya langsung melemas ketika ia tidak mendapati istrinya di sana. Ia mendengus pelan lalu memutar tubuhnya, mencari-cari Sakura ke setiap penjuru rumah namun tak ia temukan di mana pun. Dan tepat saat di dapurlah, ia menemukan jawabannya. Sebuah catatan kecil yang ditempel di lemari pendingin menjelaskan semuanya.
Sarapan sudah ada di meja makan. Aku menjemput anak-anak.
Sakura pergi tanpa pamit padanya? Harusnya Sasuke merasa kesal, sebagai suami ia berhak seperti itu. Namun kali ini ia harus menahan rasa kesalnya, karena ada topik sensitif yang mungkin akan Sakura buka lagi jika ia membahas hal sesepele ini. Setidaknya, istrinya itu tidak melupakan dirinya. Sakura masih menyiapkan sarapan untuknya.
Setelah mencuci muka dan menyikat gigi, Sasuke menghampiri meja makan. Makanan yang tersaji di sana nampaknya sudah dingin. Ia melirik ke arah jam dinding, dan jarum jam pendek menunjuk ke arah angka sebelas. Sasuke mengernyitkan alisnya, sedikit tak percaya pada dirinya sendiri yang bangun kelewat siang. Semalam ia memang sulit tertidur. Sempat terpikir untuk tidur di kamar salah satu anaknya, namun ia lebih memilih menunggu sampai pintu kamarnya terbuka di sofa. Ia pun sama sekali tak sadar bahwa semalam ia jatuh tertidur di atas sofa.
Sasuke menarik salah satu kursi yang biasa ia tempati saat makan bersama keluarganya. Sarapan—jika masih bisa disebut sarapan—di Konoha kali ini sama saja dengan sarapan di Suna yang selalu ia jalani sendiri. Ini pertama kalinya ia makan di rumahnya sendiri tanpa adanya kehadiran satu pun anggota keluarganya. Ia pun tersenyum miris, dalam hati ia mengakui bahwa semua ini terjadi karena kesalahannya.
Banyak hal berkelebat di kepalanya; untuk apa ia mengejar-ngejar Sakura kemarin jika tak ada satu patah kata penjelasan pun yang bisa ia utarakan? Jika memang ia terpaksa untuk mengatakan sebuah kebohongan, apa Sakura akan percaya dengan itu?
Harusnya ia sadar sejak awal bahwa hal seperti ini akan terjadi. Ia sudah kehilangan kepercayaan dari Sakura, ia tahu itu. Salahkan pikiran pendeknya saat ia mulai menaruh hati pada Shion. Wanita itu ada di saat Sakura berada jauh darinya. Wanita itu memberikan segala hal yang ia butuhkan saat Sakura tak ada. Sial, ternyata adanya pubertas kedua bagi seorang pria memang tak bisa dipungkiri!
Kini Sasuke dihadapkan pada satu pilihan. Pilihan di antara Sakura beserta ketiga anaknya dan Shion. Harusnya pilihan ini mudah, namun nyatanya tidak begitu. Jika ia memilih untuk kembali bersama Sakura, berarti ia harus berusaha keras. Sementara jika ia memilih Shion, ia hanya tinggal pergi saja. Terkadang untuk mencapai hal yang benar harus mendaki gunung dengan kemiringan tinggi, sebaliknya untuk mencapai hal yang salah, hanya tinggal masuk ke dalam lift lalu menekan angka untuk sampai ke puncak gedung dan menunggu tanpa adanya setetes peluh pun yang muncul dari pori-pori kulit.
Bergelut dengan pikirannya yang rumit membuat makanan yang kini dikunyahnya terasa hambar. Sasuke tak lagi merasa lapar, meskipun sisa makanan yang ada masih banyak. Namun ada hal yang mendorongnya untuk tetap makan. Makanan ini sengaja Sakura siapkan untuknya. Barangkali ini yang terakhir, Sasuke tak pernah ingin terpikir ke sana namun ia harus.
Setelah selesai, ia menaruh semua peralatan makan di tempat pencucian piring lalu mencucinya. Pikirannya terus bergelut, bahkan saat ia melakukan suatu kegiatan. Saat menonton televisi pun matanya tak fokus. Kosong. Tak ada yang menarik perhatiannya selain menyelesaikan masalah besar yang kini dihadapi.
Suara mesin mobil yang baru saja berhenti menabuh gendang telinga Sasuke. Ia yakin itu adalah mobil yang dikendarai Sakura untuk menjemput anak-anaknya. Dengan segera ia menegakkan tubuh, menunggu sampai seluruh anggota keluarganya masuk. Ingin sekali ia melangkahkan kaki menuju pintu utama untuk menyambut semuanya, namun ketidaktahuan akan sambutan macam apa yang harus ia berikan membuat dirinya enggan.
"Tadaima!"
Sasuke menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Bibirnya melengkungkan sebuah senyuman tipis mendapati Amaya yang pertama kali masuk. "Okaeri."
"Ayah!"
Tanpa aba-aba, Amaya menghambur ke dalam pelukan sang ayah. Sasuke mengusap punggung anak gadis sulungnya pelan, lalu mencium puncak kepalanya. "Kemana yang lain?" tanya Sasuke.
"Hmm, sepertinya masih di luar. Aku memang yang paling bersemangat masuk tadi."
"Hn."
Sasuke melirik ke arah pintu menunggu anggota keluarganya yang lain. Ketika Asami dan Izuki masuk, mereka melakukan hal yang serupa dengan Amaya, begitu juga dengan Sasuke. Pandangan mata Sasuke tak terputus dari pintu, sampai Sakura masuk dan kedua mata mereka saling bersirobok. Dengan cepat Sakura memutus kontak mata di antara mereka, melirik apa saja asal bukan Sasuke.
Sakura masih marah. Itu kesimpulan yang bisa Sasuke ambil. Kini ia menelan rasa tak nyaman yang kembali menghinggapi dengan susah payah. Menahan segala ego yang ada, keduanya sama-sama tidak sadar akan adanya tatapan curiga dari si gadis sulung. "Ayah dan Ibu kenapa?" tanyanya yang membuat Sakura sedikit terkesiap. Ragu-ragu matanya melirik ke arah Sasuke guna meminta pertolongan menjawab. Namun Sasuke sama bingungnya.
Sakura mendesah panjang dan berjalan mendekati mereka. "Kenapa Amaya bertanya begitu?" Ia berusaha tersenyum setulus mungkin.
"Ada yang aneh saja. Ibu sudah pulang tapi Ayah malah diam saja. Ibu juga sama," katanya. Kembali kedua bahu orang tua dari tiga anak itu menegang.
"Tentu saja itu karena kalian yang duduk di pangkuan Ayah," kata Sasuke setelah diam beberapa saat. Mata Amaya yang tadinya menyipit curiga kini berbinar kembali. "Oh iya, ya." Amaya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Huu, dasar kakak sok tahu!" Izuki meledek kakaknya sembari menjulurkan lidah.
Amaya memutar kedua bola matanya, tangannya terjulur berniat mencubit lengan Izuki namun segera ditepis sang ayah. "Berisik, anak kecil!" katanya sinis. Bibirnya mengerucut sebal karena tepisan dari Sasuke.
"Sudah diam, jangan bertengkar. Asami, untuk kali ini jadilah penengah di antara kakak dan adikmu," kata Sasuke tegas, membuat tubuh anak-anak sedikit menegang.
"Oke, Ayah. Anak tengah menjadi penengah, lucu juga," ucap Asami polos. Sementara Sasuke terkekeh pelan. Tubuh Amaya dan Izuki sedikit bergetar, menahan tawa kecil yang sudah bermuara di tenggorokan mereka.
"Ibu! Tidak lupa sesuatu?" tanya Asami sembari bangkit dari duduknya lalu menghampiri Sakura.
"Apa?" tanya Sakura bingung.
Ia menarik atasan Sakura, meminta ibunya itu untuk menunduk sedikit agar ia bisa berbisik tepat di telinganya.
Sakura mendadak canggung setelah mendengar bisikan dari Asami. "Ah, iya. Hmm, Sasuke-kun ... tadi Ayah dan Ibu titip salam untukmu."
Sasuke tersenyum tipis lalu mengangguk sebagai respons.
"Kenapa bisik-bisik segala? Lagipula Asami kan bisa menyampaikannya sendiri," kata Sakura. Asami cepat-cepat membuka suara, "Kan Ibu yang dititipkan salam oleh Kakek dan Nenek, bukan aku."
"Huh, kau ini," Sakura menjawil hidung Asami gemas. "Kalian tunggu sebentar ya, Ibu akan memasak makan siang."
.
.
.
Semenjak tadi siang, Sakura tak berbicara apa-apa lagi pada Sasuke. Dinding es yang membatasi mereka berdua kini semakin tebal. Sakura sendiri belum mau meruntuhkan dinding itu, meskipun ia akui segala bersi tegang ini membuatnya tak nyaman.
Di dalam cahaya temaram dari lampu tidur, Sakura meringkuk sendirian di atas ranjang. Tangannya ia rentangkan ke sebelah kanan, setengah bagian dari tempat tidur itu sudah lama kosong. Pikirannya kembali berlabuh pada Sasuke. Mengingat apa yang terjadi kemarin, penyebab Sasuke tak ada di sampingnya sekarang tidak usah dipertanyakan lagi.
Sesuatu mengusik pikirannya. Semarah apa pun ia pada suaminya, selalu ada setidaknya setitik rasa peduli di hatinya. Ia beranjak dari tidurnya, menimbulkan suara decitan ringan dari ranjang. Ia menyalakan lampu utama lalu keluar dari kamarnya. Untuk memastikan bagaimana keadaan Sasuke.
Sebersit rasa panik menyelimuti hatinya mendapati sofa di mana tempat biasanya Sasuke tidur (akhir-akhir ini) kosong. Ia memutar pikiran, mengira-ngira di mana keberadaan Sasuke sekarang. Sebisa mungkin ia tak menimbulkan suara, karena seluruh penghuni rumah sudah tidur.
Izuki. Kamar Izuki. Sakura langsung yakin bahwa Sasuke berada di sana sekarang. Ia membuka pintu kamar Izuki secara perlahan tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, mendapati kedua lelaki berwajah mirip namun berbeda usia tengah tertidur dengan lelapnya. Tangan Sasuke menjadi bantal bagi Izuki. Entah mengapa rasanya Sakura ingin menangis sekarang. Ia memejamkan matanya erat, lalu menutup pintu itu secara perlahan.
Adanya cahaya yang menyusup dari celah pintu membuat Sasuke sedikit terusik. Ia membuka matanya sedikit, lalu cahaya itu menghilang begitu saja. Pintu sudah tertutup kembali.
"Sakura...?" Sasuke bergumam pelan. Ia berniat untuk membuka pintu dan memastikan ada atau tidaknya istrinya di balik pintu itu. Ia melirik ke arah Izuki yang tertidur di atas tangannya. Dengkuran halus menyapa indera pendengaran Sasuke, wajah Izuki pun terlihat sangat damai. Ia jadi tidak tega jika harus mengusik lelapnya tidur si bungsu. Akhirnya Sasuke memutuskan untuk tetap di sana, berusaha memejamkan mata agar terlelap namun tak bisa.
Tangan yang bebas lainnya mengusap kepala Izuki penuh sayang. Ia menyayangi keluarganya. Sangat. Namun sayangnya keharmonisan keluarganya ini tak akan pernah kembali seperti dulu. Ia sudah bermain-main dengan kepercayaan Sakura, sudah menodai jalinan suci antara dirinya dan Sakura. Dan ia benar-benar sadar, untuk kembali mendapatkan kepercayaan istrinya butuh usaha yang besar. Ia juga tahu betul jika suatu saat nanti kepercayaan itu telah kembali, semuanya tak akan pernah sama seperti dulu.
Sekarang, semuanya bergantung pada pilihan Sasuke.
.
.
.
Sesuai rutinitas di dini hari pada hari Senin, Sakura bangun dan menyiapkan semuanya untuk Sasuke. Setelah semuanya siap, ia sedikit bingung bagaimana membangunkan suaminya itu. Jujur saja ia masih enggan berbicara padanya.
Dan pintu kamar Izuki yang terbuka lalu disusul dengan keluarnya Sasuke sedikit menolong dirinya.
"Sakura, kau bangun," ujar Sasuke parau. Sakura cepat-cepat membalikkan tubuhnya, seakan-akan tak ada satu patah kata pun yang Sasuke ucapkan.
Sasuke tahu ini akan terjadi. Ia tahu Sakura akan bangun dan menyiapkan semuanya untuk dirinya, dan ia juga tahu Sakura tak akan mau berbicara lagi padanya.
Menyadari apa yang ia duga akhirnya terjadi juga, Sasuke tertegun sebentar. Kemudian ia beranjak ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk berangkat.
Bahkan saat makan pun, Sakura tak menemani dirinya. Tidak seperti biasanya, meskipun Sakura tidak makan, ia akan tetap duduk di seberang kursi yang Sasuke duduki dan menunggu sampai ia selesai makan. Ia memutar lehernya, mencari keberadaan Sakura. Sejauh matanya memandang, Sakura tak ada di mana pun. Ia mendesah pasrah. Ia dorong sedikit peralatan makan yang ada di meja, lalu menarik mundur kursinya.
Ransel yang biasa ia bawa untuk bekerja tak ada di mana pun. Tepat sebelum ia mencari, Sakura keluar dari kamar dan menjinjing ransel tersebut. Kecanggungan kembali menyelimuti mereka. Keduanya sama-sama tak tahu apa yang harus mereka lakukan dan ucapkan.
Sasuke merogoh sakunya dan menyadari bahwa ponselnya tak ada di sana. Lagi-lagi, tepat sebelum ia mencari, ia menyadari ponselnya sudah berada di tangan Sakura dengan layar yang menyala dan caller ID Shion tertera di sana. Sasuke menahan napasnya sebentar.
"Kau masih berhutang penjelasan padaku." Kata-kata sinis dari Sakura pecah berkeping-keping. Menusuk sesuatu dalam diri Sasuke yang membuatnya terperanjat dalam hati. Pilihan yang semenjak kemarin menghantui dirinya ternyata harus ditentukan sekarang juga.
"Sepertinya hari ini kau akan berangkat bersama Shion lagi. Apa aku benar?" kata Sakura lagi sembari meletakkan ponsel yang layarnya masih menyala itu di atas meja.
"Sakura, aku harus bicara."
"Ya. Kuharap apa yang kau akan bicarakan berupa penjelasan."
Sasuke mendesah pasrah. Ia berusaha meyakinkan diri bahwa apa yang akan ia lakukan sekarang akan menyelesaikan masalahnya dengan Sakura. Ia meneguk ludahnya sendiri beberapa kali, semua kata-kata yang hendak ia ucapkan seakan-akan tersangkut di tenggorokannya.
"Aku akui, aku memang selingkuh. Tapi cukup sampai sini, aku akan berhenti. Aku akan kembali padamu, pada anak-anak kita."
Sakura tahu apa yang akan Sasuke katakan seperti itu. Ia tahu. Namun itu sama sekali tak bisa menampik keterkejutan yang kini memompa jantungnya. Meskipun ia sendiri yang meminta, tapi pengakuan dari Sasuke tetap terasa sakit. Bahkan terasa jauh lebih sakit.
Jika memang Sasuke bilang ia ingin kembali, Sakura tahu ia tak siap menerimanya. Jelas itu akan membutuhkan waktu yang lama. Mata Sakura mulai berkaca-kaca, pandangannya mengabur. Namun sebisa mungkin ia menahan agar air matanya tak tumpah setetes pun. Ia harus kuat.
"Sakura, aku minta maaf."
Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia memejamkan matanya erat, menahan segala tetes air mata yang hendak menyeruak keluar. Ia menggigit bibirnya sendiri, lalu berkata, "Lebih baik kau pergi."
"Tidak, aku—"
"Lebih baik kau pergi, Sasuke!" Volume suara Sakura meninggi. Ia sudah lelah dengan diamnya. Sudah lelah menghadapi rasa canggung yang tak ada ujungnya. Berharap dengan ini semuanya akan berakhir. Tak peduli jika pada akhirnya ia harus mengurus anak-anak sendirian.
Mengerti apa maksud kata 'pergi' yang Sakura katakan padanya, bahunya melemas. Ia tahu ini tak akan semudah itu. Sakura sudah terlalu banyak sakit hati karenanya. Memaafkan dirinya tentu tak akan semudah membalikkan telapak tangan.
Tak bisa dipungkiri bahwa ada secercah harapan Sakura akan memaafkannya, namun kenyataan memang tak selalu sesuai dengan harapan.
"Pergi, Sasuke! Pergi!"
Tubuh Sakura bergetar, matanya masih terpejam erat. Tenggorokannya kering, terasa sakit ketika ia berteriak pada Sasuke. Sasuke lebih baik pergi, ia butuh waktu untuk menenangkan diri.
Sasuke terdiam. Ternyata ia salah. Semuanya tidak sesuai dengan pilihan yang ia ambil. Ketika ia ingin kembali, Sakura justru yang menyuruhkan pergi. Harusnya ia sadar sejak awal, ini semua akan terjadi jika ia mencoba bermain api.
"Baiklah, jika itu memang maumu." Sakura membeku, mata yang semenjak tadi ia pejamkan kini terbuka. "Aku akan pergi. Tapi izinkan aku menciummu ... untuk yang terakhir kalinya."
"Tidak!"
"Ya atau aku tak akan pergi. Aku berjanji, ini yang terakhir dan aku akan pergi. Sesuai dengan keinginanmu."
Sakura terkejut karena kata-kata Sasuke. Ia enggan mengizinkan Sasuke, namun jika tidak, Sasuke tak akan pernah pergi dan luka di hatinya akan terus menganga. Ia tak akan pernah punya kesempatan untuk menenangkan diri.
Sakura meneguk ludahnya ragu. "Ba-baiklah."
Sakura memejamkan matanya erat, seakan takut dengan apa yang akan segera ia hadapi. Ia bisa merasakan napas hangat Sasuke menerpa pipinya, hidung Sasuke menyentuh hidungnya. Matanya semakin terpejam erat saat ia merasakan bibir Sasuke mendarat di atas bibirnya. Sasuke menciumnya lembut namun menuntut. Sakura masih terpaku, sama sekali tak berniat membalas ciuman Sasuke.
Ciuman itu belum terputus. Sasuke tak mau melepasnya, karena tahu ini yang terakhir baginya. Semua perasaan yang ia rasakan saat ini ia salurkan pada Sakura. Rasa sakit, rindu, marah, cinta, semuanya. Sakura bisa merasakan sendiri ciuman dari Sasuke bukan sekedar nafsu yang tertahan karena sekian lama tak menyentuhnya. Itu bukan ciuman semacam itu. Ia bisa merasakan semuanya. Ia bisa merasakan bahwa Sasuke masih mencintainya, tanpa harus mengungkapkannya.
Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah juga. Rasanya begitu sakit mengetahui Sasuke masih mencintainya. Mencintainya sebesar ini. Rasa asin dari air mata Sakura terkecap lidah Sasuke. Tangan yang sedari tadi mengelus lembut punggung Sakura kini mengelus pipi Sakura untuk menghapus air mata dan jejaknya. Sakura sudah tidak sanggup menghadapinya. Ia mendorong pelan pundak Sasuke. Sasuke yang mengerti langsung menarik langkah mundur dan mengakhiri ciumannya.
Mata Sakura terbuka kembali. Sekali lagi Sasuke menghapus air mata yang lagi-lagi jatuh dari sudut mata Sakura. "Maafkan aku, Sakura. Aku akan pergi sekarang. Terima kasih untuk semuanya."
Pada akhirnya, di antara kedua pilihan Sasuke, tak ada yang bisa ia pilih. Ia pergi dari Sakura, yang mana berarti pergi dari anak-anaknya juga. Namun tak sekilas pun terbersit di benaknya untuk hidup bersama Shion. Ia lebih baik mengakhiri semuanya. Tak peduli jika itu berarti ia harus hidup sendiri sekarang.
Sakura masih terpaku, entah harus bertindak seperti apa. Suara pintu yang ditutup setelah Sasuke menginjakkan kakinya keluar dari rumah meruntuhkan pertahanannya. Air matanya kembali jatuh dengan volume yang jauh lebih banyak. Isakan tangisnya sudah tak bisa terbendung lagi. Lututnya melemas, hingga ia jatuh dalam duduknya.
.
.
Bersambung
.
.
Author's note:
Nih update super kilat :)) maaf nggak bisa balesin PM dan sebutin makasih buat satu-satu. Ngantuk bangeeet. Hehehe.
Pokoknya massive thank you buat reviewer, faver, follower. Silent reader juga makasih :p kali-kali tinggalin jejak dong biar tambah semangat updatenya(?)
Makasih udah baca sampai sini. Mind to review? :) Oyasumi!
