"Sakura," panggil Sasuke lirih. Entah mengapa menyebut nama Sakura membuat dirinya sedikit canggung, terlebih saat ini dirinya dan gadis itu –atau mungkin wanita sekarang(?)– duduk berdampingan di atas ranjang tempat tidur.

"Y-Ya," ucap Sakura tak kalah lirih. Ia sedikit menolehkan kepalanya ke Sasuke.

"Err.. kau tidak tidur?"

Jujur, basa-basi bukanlah kebiasaan seorang Uchiha Sasuke. Malah baginya basa-basi itu memuakkan. Tapi kali ini suasananya berbeda.

Sakura melirik ke arah jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.

"Sasuke-kun sendiri tidak tidur?" tanya Sakura balik. Tangannya meremas sprei tempat tidur. Ia gugup.

Tak ada jawaban.

"A-Apa kau tak bisa tidur gara-gara aku? K-Kalau begitu aku biar tidur di kamar sebelah saja," ucap Sakura cepat sambil akan beranjak pergi.

"Jangan!"

GREP!

"E-Eh, Sasuke-kun?" ucap Sakura bingung ketika melihat Sasuke menarik pergelangan tangannya. Pipinya sedikit merona. Sementara Sasuke dengan cepat membungkam mulutnya sendiri.

'Sial aku keceplosan,' umpatnya dalam hati.

"Ma-Maksudku aku tidak terganggu olehmu, Sakura," ralatnya sambil memalingkan wajahnya. Sakura sedikit ternganga. Baru kali ini ia melihat Sasuke berekspresi seperti ini. Sifatnya, cara bicaranya, semua berubah total. Sasuke jadi lembut kepadanya. Tapi yang jelas ia sangat bersyukur. Mungkinkah ini artinya cintanya selama ini akan terbalas?

"Baiklah. Ayo kita tidur," ajak Sasuke sambil merangkak naik ke atas tempat tidur. Sakura hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti Sasuke. Merekat terbaring dengan tubuh yang saling membelakangi.

Iris onyx Sasuke sedikit melirik Sakura yang terbaring di sebelahnya.

'Apa dia sudah tidur, ya?' gumamnya dalam hati.

"Ne, Sakura," panggilnya memastikan.

"Nani?" gumaman terdengar dari bibir Sakura.

"Oyasumi," ucapnya lirih.

"Oyasuminasai, Sasuke-kun."


.

Our Future

.

A SasuSaku's Fiction

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Kireina Yume

.

Warning : Typo(s), EYD tidak beraturan, OOC, OC, Semi-Canon, Little bit Humor(maybe), etc

.

Enjoy!

.


Chapter 4 : Gaara's Arivval

"Tidak mungkin!" suara Tsunade terdengar sangat keras di ruangan Hokage. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa Itachi ikut andil dalam hilangnya Sasuke dan juga Sakura?

"Kau mungkin salah, Karin," sangkal Shizune. "Itachi! Dia sudah tewas.""

"Aku tahu," ucap Karin tenang. "Bagaimana bisa aku tidak tahu bahwa Itachi tewas? Tapi itulah yang aku rasakan Shizune-san. Aku pun awalnya tak percaya."

"Tapi apa tujuannya?" tanya Kakashi. "Dan bagaimana ia bisa hidup kembali?"

"Mana aku tahu tujuannya," katanya sedikit sebal.

"Tapi Tsunade-sama, salah satu cara membangkitkan kematian seseorang hanya dengan edo tensei. Dan setahuku yang bisa melakukannya hanya Orochimaru," jelas Kakashi

"Kalau begitu kita cari Orochimaru–"

"Dia sudah mati. Orochimaru sudah mati, tepatnya ia telah dibunuh Sasuke," ucap Karin memotong perkataan Tsunade. "Tapi kita bisa mencari asisten setianya. Kau tahu? Kabuto," lanjutnya lagi. Tsunade terlihat berfikir keras mendengar ucapan Karin. Ia lalu menoleh ke arah Kakashi.

"Kakashi, perintahkan beberapa anbu untuk mencari Kabuto. Cepat!" perintahnya.

"Hai, Tsunade-sama."


.

.


"Naruto-kun, cepat bangun!" ucap Hinata sambil menggoncang pelan bahu Naruto. Iris lavendernya menatap suaminya yang sedang tertidur dengan kepala yang berada di atas meja kerja kantor Hokage.

Ia tahu, suaminya itu sangat lelah. Ia sungguh menyesal tidak ikut membantu pekerjaan suaminya semalam. Tapi mau bagaimana lagi, Natsumi masih kecil dan masih membutuhkannya. Mau tak mau ia harus membawa Natsumi pulang ke rumah.

Ia lalu melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Dan ia baru ingat. Bukankah sang Kazekage dari Suna akan datang hari ini?

Sekali lagi ia goncangkan bahu Naruto. "Naruto-kun, ayo bangun. Bukankah hari ini Gaara-kun akan datang?" tanyanya.

"Hm? 5 menit lagi Hinata-chan~! Aku sangat mengantuk," ucap Naruto merajuk. Hinata menghela nafas pelan.

"Sebentar lagi kemungkinan Gaara-kun akan datang, Naruto-kun," ujarnya.

"Baiklah aku bangun," ucap Naruto akhirnya sambil berusaha membuka matanya yang masih mengantuk.

TOK TOK TOK

Hinata dan Naruto sedikit terlonjak kaget akibat mendengar ketukan pintu yang tiba-tiba.

"Ya masuk," seru Hinata

Pintu pun terbuka menampilkan sesosok pemuda berambut raven.

"Ohayou, Oba-san, Oji-san."


.

.


Sakura mengerjapkan matanya pelan. Cahaya matahari yang muncul dari sela-sela korden membuat matanya sedikit silau. Ini seperti déjà vu. Ia jadi teringat waktu dirinya dan Sasuke terdampar di dunia asing ini pertama kali. Bingung dan panik yang ia rasakan waktu itu.

Sakura lalu mencoba merenggangkan ototnya. Tapi ia merasa sedikit aneh. Ia merasakan pinggangnya hangat. Ia lalu melirik ke bawah. Ada sebuah lengan yang mendekap pinggangnya erat. Iris emerald-nya mengerjap dua kali. Dan tiba-tiba wajahnya berubah menjadi merah padam. Dengan pelan ia tepuk-tepuk lengan itu.

"Sa-Sasuke-kun, bisakah kau melepaskan lenganmu dari pinggangku?" ucapnya lirih. Tak ada respon. Sepertinya Sasuke belum bangun.

Sekali lagi ia tepuk lengan Sasuke, kali ini lebih keras.

"Sasuke-kun," panggilnya. Suaranya terdengar bergetar akibat efek gugupnya.

"Hn?" gumam Sasuke.

"Bi-Bisa kau lepaskan lenganmu dari pinggangku?" ulangnya sekali lagi.

"Hn."

Ia pikir gumaman "Hn" milik Sasuke itu artinya Sasuke akan segera melepaskan dekapannya itu. Tapi ternyata ia salah, Sasuke malah semakin mengeratkan dekapannya itu. Ia ingin sekali berteriak. Namun suaranya seakan tak bisa dikeluarkan.

'Apa yang harus kulakukan?'


.

.


"Otou-sama, kapan kita akan sampai ke Konoha?" tanya seososok gadis berambut merah panjang sambil melirik ke ayahnya.

"Sebentar lagi," ucap ayahnya singkat. Gadis itu sedikit cemberut melihat respon ayahnya yang kelewat cuek tersebut.

"Sebenarnya Otou-sama itu dalam rangka apa sih membawaku ke Konoha?" tanyanya sebal. Masalahnya kemarin, waktu ia sedang asyik-asyiknya berlatih jurus baru, dengan tidak elitnya ia langsung diseret ayahnya pulang ke rumah. Dan dengan mendadak ayahnya menyuruh dirinya berkemas-kemas pakaian untuk pergi ke Konoha. Hal itu membuatnya kesal hingga sekarang.

Sang ayah –Rei Gaara– hanya terdiam mendengar ucapan putrinya itu. Dan detik kemudian sebuah senyum tipis –yang nyaris tak terlihat– terpampang di wajah tampannya.

Akira –gadis berambut merah tadi– hanya bisa memandang bingung ayahnya.

'Diberi pertanyaan malah senyum sendiri begitu,' gumamnya dalam hati. Ia yakin ayahnya sedang merencanakan rencana yang tidak benar terhadap dirinya.

"Kazekage-sama, kita sudah sampai di Konoha," ucap seorang pengawal.

"Baiklah. Aku dan Akira akan langsung ke kantor Hokage menemui Naruto," ucap Gaara pada pengawalnya.

"Ayo, Akira!"

"Otou-sama, aku ingin jalan-jalan sendiri!" rengek Akira sambil menarik lengan baju ayahnya. Gaara menatap Akira datar.

"Tidak boleh. Kau harus ikut," ucap Gaara.

"Huh! Tou-sama jahat!"

"A-Akira siapa yang mengajarimu berbicara seperti itu?" tanya Gaara dengan raut wajah terkejut. Siapa sangka seorang Kazekage bisa berekspresi 'berlebihan' saat mendengar putrinya mengatai dirinya jahat.

"Tidak ada. Jika Tou-sama tidak ingin aku berbicara begitu, maka izinkanlah aku berjalan-jalan sendiri," kata Akira sambil mendengus sebal.

Gaara menghela nafas pelan mendengar permintaan anaknya itu.

"Baiklah, tapi kau harus ditemani satu pengawal,"

"Yeiy! Tou-sama baik!"


.

.


"Ohayou, Oba-san, Oji-san," ucap seorang pemuda berambut raven sambil menutup pintu.

"Oh! Ohayou, Hitoshi," ucap Hinata sambil tersenyum lembut. Ia lalu langsung menghampiri Hitoshi –putra pertama sahabat suaminya–.

"Aku kesini hanya ingin menyerahkan laporan misi kemarin. Gomen baru menyerahkan sekarang," ucap Hitoshi sambil menyerahkan berkas-berkas misi yang dijalaninya bersama timnya. Ia lalu melirik ke Naruto yang masih terkantuk-kantuk.

"Oji-san kenapa?" tanya Hitoshi.

" Oh, Ohayou Hitoshi! Aku hanya terlalu lelah. Ternyata pekerjaan sebagai Hokage itu membosankan. Aku harus menandatangani berkas yang bertumpuk-tumpuk itu. Huah~! Terkadang aku berfikir untuk mengundurkan diri saja menjadi Hokage. Tapi siapa yang akan menggantikan?" oceh Naruto panjang.

"Oh. Kalau begitu ini laporannya ya, Ji-san."

TOK TOK TOK

"Aduh siapa lagi itu? Ya masuk!" Ucap Naruto yang disertai omelan pelan.

Kriett!

"Naruto," panggil sesosok pria berambut merah yang muncul dari balik pintu.

"Gaara! Kau datang tidak bilang-bilang!" teriak Naruto yang langsung berdiri dan menghampiri Gaara.

"Memangnya surat yang kukirimkan padamu belum sampai?" tanya Gaara.

"Err..sudah sih," gumam Naruto. "Oh, iya putrimu mana?"

"Si Akira itu minta jalan-jalan sendiri," ucap Gaara. Ia lalu melirik ke arah Hitoshi. Ia sedikit menyipitkan matanya ketika memandang Hitoshi, membuat Hitoshi bingung.

"Kau mirip si Uchiha itu," gumam Gaara. 'Cocok juga dia kalau jadi menantuku,' batin Gaara antusias(?).

"Siapa namamu?" tanya Gaara pada Hitoshi.

"Uchiha Hitoshi, Kazekage-sama," ucap Hitoshi sopan. 'Pantas mirip. Anaknya Uchiha Sasuke.'

Hitoshi melirik ke Gaara dan Naruto bergantian. Sepertinya tidak sopan jika ia terus disini terus. Bisa-bisa ia mengganggu pembicaraan antar Kage yang bisa saja penting.

"Err.. kalau begitu aku pergi dulu. Permisi Ji-san, Ba-san, Kazekage-sama," ucap Hitoshi sambil ber-ojigi dan berbalik menuju pintu keluar kantor Hokage.

Gaara memandang Hitoshi tajam. Tentu saja Hitoshi tak mengetahuinya.

"Hm, menarik," gumam Gaara. Naruto langsung menolehkan kepalanya ke arah Gaara dengan cepat.

"Apa yang kau rencanakan?" tanya Naruto penasaran. Gaara terdiam sebentar.

"Mungkin, aku akan menjodohkan Akira dengan Hitoshi," ucap Gaara enteng.

"NANI!"

"Ck, berisik," ucap Gaara sambil menutup telinganya.

"Kau ini, main menjodohkan anakmu dengan anak orang saja," seru Naruto sambil tetap menatap Gaara tajam.

"Tenang saja, aku akan bicara dengan si Uchiha itu."


.

.


"Uwa~! Sugoi! Ternyata udara di Konoha itu sejuk sekali, sangat berbeda dengan udara di Suna yang sangat panas," ujar Akira sambil berlari-lari kecil.

"A-Akira-sama, tolong anda jangan terlalu cepat berlari," ucap seorang pengawal sambil berlari tergopoh-gopoh menyusul Akira. Akira memandang pengawalnya itu sedikit sebal.

"Ji-san saja yang lambat. Aku larinya tidak terlalu cepat, kok," kata Akira sambil mengerucutkan bibirnya.

"RASENGAN!"

Akira sedikit terlonjak kaget akibat mendengar suara sesorang yang cukup keras di telinganya. Ia lalu segera menoleh ke sumber suara. Iris jade-nya lalu menangkap seorang anak laki-laki yang sepertinya sebaya dengannya, sedang berlatih jutsu di training field.

"Ah!" pekiknya. Ia lalu segera berlari menghampiri anak laki-laki itu.

"Cot-Cotto, Akira-sama!"

"Hey, kau!" panggilnya pada anak itu tanpa mempedulikan panggilan dari pengawalnya. Anak laki-laki itu lalu menolehkan kepalanya ke arah Akira.

"Namamu siapa?" tanya Akira. Anak laki-laki itu sedikit memandang Akira bingung.

"Aku Akira, kau?" Akira bertanya sekali lagi. Kali ini ia turut mengulurkan tangannya pada anak itu.

"Shiroiwa," ucap anak laki-laki yang diketahui bernama Shiroiwa sambil ikut mengulurkan tangannya ragu-ragu.

"Yoroshiku, ne?" ucap Akira sambil menjabat tangan Shiroiwa erat. Senyum lebar terkembang di wajahnya. Senyum Akira langsung lenyap ketika tak mendengar tanggapan dari Shiroiwa. Ia lalu memandang Shiroiwa dengan pandangan menyelidik.

"Kau pendiam sekali. Cobalah untuk bersikap ceria sedikit," ujar Akira sambil menepuk bahu Shiroiwa agak kencang, yang cukup membuat Shiroiwa meringis kecil.

"Sifatku memang seperti ini dari lahir," jawab Shiroiwa sebal. Ia lalu ganti melirik Akira. "Wajahmu sangat asing. Kau penduduk baru di desa ini?"

Akira menggeleng pelan.

"Aku hanya berkunjung ke Konoha untuk beberapa hari. Oh iya! Bisa tidak mengantarkan aku jalan-jalan di sekitar desa Konoha ini? Kau warga sini, bukan?"

"Iya," ucap Shiroiwa.

"Baiklah. Kau tidak keberatan kan kalau mengantarku berkeliling?" tanya Akira memastikan dan dibalas dengan anggukan kecil dari Shiroiwa.

"Hm, tak apa."

"A-Akira-sama, anda tak boleh pergi dengan orang yang tak dikenal! Lagipula saya ditugaskan oleh Kazekage-sama untuk menjaga anda!" cegah pengawal Akira.

"Oji-san tenang saja. Aku yakin kok kalau Shiroiwa itu baik. Aku juga bisa menjaga diri. Ji-san jalan-jalan saja sendiri."

"Tapi Akira-sama–"

"Sudahlah. Ayo, Shiroiwa!"


.

.


"Fyuh~! Akhirnya aku lepas juga dari dekapan Sasuke-kun!" ucap Sakura sambil menuruni tangga. Wajahnya masih sedikit memerah akibat kejadian di kamar tadi. Entah apa yang terjadi jika ia tadi tidak melepas paksa(?) dekapan Sasuke tadi.

'Mungkin aku akan pingsan,' batinnya.

Ia lalu tiba-tiba teringat akan pekerjaannya di rumah sakit. Apa di masa depan ia juga tetap menjadi medic-nin dan bekerja di rumah sakit? Pertanyaan itu terlintas di otaknya. Tapi menurut dugaannya, ia masih bekerja di rumah sakit.

'Ah, tanya pada Ino saja.'

Ia lalu bergegas pergi mandi untuk membershikan diri dan selanjutnya ia akan pergi ke rumah Ino. Baru saja kakinya akan melangkah masuk ke kamar mandi, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar rumah.

Sakura lalu memutuskan untuk berbalik menuju pintu depan.

Kriett!

"Sakura-san?" panggil seorang jounin yang berdiri di depan pintu.

"Ya?" jawab Sakura.

"Anda dan Sasuke-san disuruh untuk ke kantor Hokage oleh Naruto-sama."


.

.


"Umurmu berapa, Shiroiwa?" tanya Akira yang sedang berjalan di samping anak laki-laki berambut indigo –Shiroiwa–.

"14 tahun," ucap Shiroiwa singkat.

"Wah, beda setahun denganku, ya? Aku 13 tahun," kata Akira. "Eh, ngomong-ngomong, jurus yang tadi kau pakai itu rasengan ya? Setahuku jurus milik Naruto-ji-san kata Tou-sama-ku," ucap Akira tiba-tiba.

"Uzumaki Naruto. Itu nama Tou-san-ku."

"Oh, pantas saja jurus itu ada padamu," kata Akira lagi. Shiroiwa tak merespon. Ia tetap berjalan lurus. Tiba-tiba langkahnya berhenti ketika melihat seekor anjing putih besar yang sedang berjalan-jalan dengan seorang pria berambut coklat. Wajahnya langsung berubah pucat.

'Mati aku. Ada Akamaru,' batinnya panik.

"Lho? Kenapa berhenti?" tanya Akira sambil menoleh ke arah Shiroiwa. Dilihatnya Shiroiwa melangkah mundur sambil tetap memandang lurus ke depan. Akira pun langsung mengikuti arah pandangan Shiroiwa. Mata Akira melebar ketika melihat objek yang dipandang Shiroiwa.

"Uwah~! Kawai~!" pekiknya sambil berlari ke arah anjing putih besar di depannya yang tadi dipandang oleh Shiroiwa.

"Yo, Shiroiwa!" seru pria berambut coklat yang membawa anjing putih itu pada Shiroiwa. Dengan ragu-ragu, Shiroiwa melambaikan tangannya pada pria itu.

"Y-Yo, Kiba-ji-san," balasnya.

"Sedang jalan-jalan?" tanya Kiba.

"Iya. Tepatnya mengantar dia berkeliling," ucapnya sambil melirik Akira.

"Dia siapa?"

"Namanya Akira."

Akira yang mendengar namanya disebut langsung menolehkan kepalanya. Dan berikutnya ia tersentak dan langsung menghampiri Kiba.

"Rei Akira desu. Gomenasai tidak memperkenalkan diri lebih awal," ucap Akira sopan sambil membungkukkan badannya.

"Iie daijobu. Aku Inuzuka Kiba," ujar Kiba ramah. Ia lalu memandang Akira. "Kau mirip dengan Gaara."

"Rei Gaara atau Sabaku no Gaara adalah Otou-sama-ku," jawab Akira. Shiroiwa yang sedari tadi diam sedikit terkejut akan jawaban Akira.

"Jadi dari tadi aku mengawal anak Kazekage? Kenapa kau tak bilang padaku?" protesnya sebal pada Akira. Akira hanya mendengus tertawa mendengar protesan Shiroiwa.

"Salah sendiri kau tak bertanya. Lagipula kau juga tidak peka. Ba-ka," cibir Akira sambil tertawa kecil. Wajah Shiroiwa langsung berubah masam.

'Baru kali ini ada seorang gadis yang mengataiku baka,' geramnya dalam hati.

"GUK!" salakan terdengar dari anjing putih milik Kiba –Akamaru– tanpa sadar membuat Shiroiwa melompat mundur ke belakang Akira.

"Huaa!" pekiknya spontan.

"Kau takut dengan anjing?" tanya Akira tak percaya. Shiroiwa hanya memalingkan wajahnya kesal.

"Ahahaha~! Daijobu, anjing itu lucu dan bersahabat, kok," ucap Akira sambil mengelus kepala Akamaru yang membuat Akamaru menyalak kesenangan.

Shiroiwa sedikit bergidik melihat Akamaru. Ada pengalaman dirinya dan Akamaru yang membuatnya trauma. Masalahnya saat itu waktu dirinya masih berumur 6 tahun, ia dikejar-kejar oleh Akamaru. Bayangkan saja, ukuran tubuh Akamaru itu bisa dibilang raksasa daripada anjing-anjing pada umumnya. Dan ia juga tak bisa membayangkan jika tubuh raksasa Akamaru itu menubruk tubuh mungil(?)nya saat itu.

Shiroiwa lalu melirik lagi Akira yang sedang tertawa sambil mengaruk-garuk perut Akamaru. Sepertinya gadis itu telah biasa bermain dengan anjing.

"Ah, kalau begini aku jadi ingat Shiro di rumah," gumam Akira.

'Shiro? Mirip namaku.'

"Shiro itu anjingmu?" tanya Shiroiwa penasaran.

"Bukan," Akira menggelengkan kepalanya. "Shiro itu rakun peliharaan Otou-sama," ucapnya polos.

"…"


.

.


Sakura memandang dua orang di hadapannya bingung. Gaara dan Sasuke. Dua pria yang sifatnya hampir sama sedari tadi hanya beradu tatapan tajam.

'Sebenarnya mereka mau apa, sih?' batinnya bingung. Ia lalu melirik ke Naruto yang juga berpandangan sama sepertinya.

"Hey, Naruto. Sebenarnya Gaara ingin bicara apa, sih?" tanya Sakura. Naruto hanya mengangkat bahunya tak tahu. Sejujurnya ia tahu apa yang akan Gaara bicarakan, tapi biarlah sang Kazekage itu yang bicara sendiri.

Gaara masih menatap Sasuke tajam. Tapi setelah ia fikir tatap-tatapan dengan Sasuke itu sedikit membuatnya err... mual. Perlu diingatkan bahwa dirinya itu pria normal. Wajar saja jika ia bertatapan lama dengan Sasuke membuatnya… ya kau tau sendiri, lah(?).

"Ehem," Gaara sedikit berdehem untuk memecah suasana hening di kantor Hokage. "Sebenarnya aku mengundangmu ke sini untuk membicarakan sebuah perjodohan," ucap Gaara tenang.

Sasuke sedikit tersentak mendegar perkataan Gaara.

"Perjodohan apa?"

Biarlah kali ini ia tak mementingkan rasa gengsinya dulu. Firasatnya berkata bahwa hal ini menyangkut masa depan salah satu anaknya(?).

"Aku meminta ijin padamu untuk menjadikan Hitoshi sebagai menantuku," ujarnya.

'Firasatku memang benar,' batin Sasuke.

"Tidak bisa. Aku sudah berencana menjodohkan Hitoshi dengan gadis Hyuuga bernama Harumi," ucap Sasuke spontan. Ternyata ia masih ingat percakapannya dengan Hitomi tadi malam yang sudah ia anggap serius.

"Tapi jika anakmu menjadi menantuku, anakmu akan menjadi Kazekage," kata Gaara pada Sasuke. Atau yang lebih tepatnya Gaara sedang menghasut Sasuke.

Sasuke terlihat berfikir keras. Menjadi Kazekage berarti mendapatkan kekuasaan. Sedangkan menggabungkan Uchiha dan Hyuuga berarti mendapatkan jurus baru yang lebih kuat.

Mana yang kau pilih, Uchiha Sasuke?

Kekuasaan atau jurus baru?


.

つづく

(Tsuzuku/To Be Continue)


A/N :

Hai, minna! Yume disini! *dadah-dadah*

Gomen ne gak bisa apdet kilat *sujud-sujud*

Tapi gak usah dibahas kenapa aku gak bisa apdet kilat. Entar malah aku jadi curhat lagi *dor!*

Sekarang balesin pertanyaan aja, ya?

Questions :

Istrinya Gaara siapa, tuh? Setelah diputuskan(?) yang jadi istrinya Gaara itu Matsuri. Bedain donk perubahan waktu sebenarnya. Soalnya waktu baca jadi bingung. Gak usah bingung. Di chapter kemarin itu waktunya malam hari semua, kok. Scene romance SasuSaku, donk. Gomen ne di chapter ini scene SasuSaku dikit. Tapi tetep ada romancenya kok. Tapi maaf ya kalo romance masih abal-abal, aku gak bakat bikin romance. Kurang dapet feelnya di chapter ini daripada chapter 2 karena di chapter 2 banyak adegan masa depannya. Di chapter 3, aku emang sengaja nyedikitin adegan masa depannya. Soalnya kan kalo adegannya masa depan terus, kita kan gak tau ada kejadian apa selama SasuSaku ngilang dari dunia asli mereka. Siapa tuh yang mau dijodohin sama anaknya Gaara? Anaknya SasuSaku kah? Awalnya emang mau dijodohin sama anaknya SasuSaku. Cuma akhirnya dijodohin sama siapa masih rahasia *smirk*. Harumi itu anaknya Neji, ya? Iya, tepatnya anaknya Neji sama Tenten.

Maaf ya aku gak bisa mbalesin semua.

Bagi yang udah kepilih OC-nya selamat ya! *tiup terompet#ditinju*

Sifatnya aku ubah sedikit gak apa-apa ya? Soalnya biar menyesuaikan sama isi fanfic.

Dan lagi buat Kira-chan Narahashi, OC punyamu udah muncul tuh, Akira-chan XD

Sekedar beri tau, aku kayaknya bakal hiatus sebentar. Soalnya PR aku udah numpuk banyak banget. Maklumi, ya. Aku kan juga mesti sekolah sama belajar :3

NB : Maaf kalau chapter ini jelek..

Yosh! Segitu dulu, ya!

Akhir kata review please!

.

.

Sign

Kireina Yume

(4 September 2012)