Chapter 4 update !
Balasan Review :
Guest : Hm, tapi kalau menurut saya yang Yunani punya lebih bagus dan lebih bervariasi mungkin. XD
Sebenarnya review pertama yang masuk minta Naruto manjadi perempuan, tapi, karena review-review lainnya minta dia jadi laki-laki, saya sempat bingung juga. Jadi saya nanya ke sepupu saya. Dan katanya. "Sebenarnya, Aphrodite itu sering banget di lambangkan dengan seorang pria cantik lho…" Dan perkataannya itu yang membuat saya jadi tidak ragu. :D
Aphrodite selingkuh sama Ares (Sasori) ? kayanya tidak apa-apa *lho ?! XD
Dan bukannya Venus itu sebutan lainnya Aphrodite ya ? .
Minna, terima kasih atas dukungan dan reviewnya selama ini.
Dukungan dan review kalian sangat membuat Author bersemangat untuk tetap melanjutkan fic ini.
Well, Happy Reading~
Fandom :
Naruto
Disclaimer :
Masashi Kishimoto
Author :
MC Shirayuki
Story :
MC Shirayuki
Genre :
Fantasy / Romance
Rating :
T
Pairing :
Uchiha Sasuke and Namikaze Naruto
Uchiha Itachi and Namikaze Naruto
Uzumaki Kyuubi and Namikaze Naruto
Warning :
AU, Typo, OOC, Gaje
DON'T LIKE ? DON'T READ !
Uchiha Sasuke : 21 tahun
Namikaze Naruto : 19 tahun
Uchiha Itachi : 23 tahun
Uzumaki Kyuubi : 22 tahun
Uchiha Shisui : 21 tahun
Akasuna Sasori : 22 tahun
Nara Shikamaru : 21 tahun
Hyuuga Neji : 21 tahun
Inuzuka Kiba : 19 tahun
Sabaku Gaara : 19 tahun
Hyuuga Hinata : 20 tahun
Yamanaka Ino : 20 tahun
Tenten : 20 tahun
Haruno Sakura : 20 tahun
Deidara : 20 tahun
Haku : 21 tahun
Yahiko : 23 tahun
Konan : 21 tahun
Chapter 4 : The Past
Jutaan bintang menghiasi langit malam yang kelam ini. Di sebuah istana, tepatnya di dalam sebuah kamar tanpa penerangan yang di dominasi oleh warna biru, seorang anak laki-laki berumur tujuh tahun sedang termenung sambil memandang sang dewi malam. Tangannya dilipat di jendela kamarnya. Dagunya di tenggelamkan di dalam tangannya. Telinganya dapat mendengar dengan jelas suara derap kaki yang semakin lama mendekat ke arah kamarnya. Tak lama, pintu kamarnya terbuka dan menampilkan seorang anak perempuan yang memiliki fisik yang sama sepertinya.
"Kak Naruto !" Panggil anak perempuan tersebut.
Anak laki-laki yang di panggil dengan nama Naruto itu mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang. Dilihatnya seorang anak perempuan berambut blonde se-pinggang yang mengenakan sehelai pakaian putih tanpa lengan dan panjang hampir selututnya, dua helai bulu berwarna putih melengkung yang menghiasi kepalanya terselip di daun telinganya dan sepatu kuno berwarna putih.
"Ada apa Naruko ?" Naruto menatap sepasang mata sapphire Naruko.
Naruko tersenyum. "Tidak ada. Aku hanya ingin menemui kakak saja."
"Kamu ini ada-ada saja. Kemarilah… duduk di sini." Naruto menepuk pelan kursi besar yang sedang ia duduki.
Naruko berlari kecil menghampiri Naruto dan duduk di kursi yang sama dengan Naruto.
"Bagaimana hari ini ? Apakah menyenangkan ?"
Naruko tersenyum dan mengangguk. "Ya. Tadi aku mendapat banyak teman baru. Aku dan mereka tadi bermain bersama di taman."
"Oh ya ? Kalau boleh aku tahu, siapa nama teman-teman barumu ?"
"Tentu saja boleh. Yang pertama ada Hinata. Dia orangnya sangat pemalu. Yang kedua ada Ino. Dia orangnya agak menyeramkan tapi dia sangat cantik. Lalu, lalu ada…" Dan Naruko terus bercerita panjang lebar tentang teman-temannya sambil melihat kearah kakinya yang sedang di ayunkan.
Naruto yang mendengar cerita Naruko, seketika tatapannya menjadi sendu.
"Andai saja… aku bisa berjalan-jalan di luar. Andai saja… aku bisa memiliki teman. Andai saja… ayah dan ibu menyayangiku." Tanpa Naruto sadari, air matanya meluncur dengan mulus di pipinya.
"Dan ada Shikamaru yang sangat pintar. Padahal dia anak yang sangat malas…" Perkataan Naruko terpotong ketika ia menoleh ke kiri dan melihat ke arah wajah Naruto. "Kak Naruto… Kak Naruto ?" Naruko melambaikan tangan kanannya di depan wajah Naruto.
Naruto tersentak dan tersadar dari lamunannya. Ia menoleh ke kanan. "Ya ?"
"Kakak kenapa menangis ?"
"Ha ? apa maksud…" Perkataan Naruto terhenti ketika ia merasakan pipinya yang basah. Segera ia hapus jejak air matanya dengan punggung tangan kanannya. Lalu, ia tertawa dipaksakan. "Tidak… mataku… mataku tadi kemasukan sesuatu."
Naruko menggembungkan pipinya kesal. "Kakak membuatku terkejut tahu !" Lalu Ia menggenggam tangan kanan Naruto dengan kedua tangannya. "Kakak, lain kali kamu harus ikut ke taman bersamaku dan bermain bersama teman-teman."
"Maaf Naruko… aku tidak bisa. Kalau ketahuan sama ayah dan ibu, kita bisa dimarahi." Kata Naruto lirih.
"Ta-tapi… dari dulu Kakak selalu berada di dalam istana ini. Apa Kakak tidak merasa bosan ?"
Naruto menatap Naruko intens. "Aku…"
"Merasa sangat bosan berada di istana ini… aku merasa seperti berada di dalam penjara yang membelengguku dari dunia luar."
"Merasa lebih senang berada di dalam istana. Kau kan tahu sendiri, kalau fisikku tidak sekuat fisikmu." Naruto tersenyum.
Suara langkah kaki terdengar di telinga Naruto dan Naruko. Langkah kaki tersebut berhenti tepat di depan pintu kamar Naruto. Lalu, pintu kamar Naruto terbuka. Seorang wanita berambut panjang berwarna merah dan bermata amethyst berdiri di pintu tersebut. Wanita tersebut menggunakan sehelai kain berwarna putih panjang yang hampir menyentuh tanah. Di kepalanya terdapat mahkota yang terbuat bulu berwarna putih yang melengkung. Dia adalah Kushina, sang ratu.
"Naruko, kamu di cari oleh ayahmu. Sebaiknya kamu segera pergi ke ruang makan untuk menemuinya."
"Baik, ibu." Lalu Naruko berdiri dari kursinya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar Naruto.
Setelah merasa kalau Naruko sudah berjalan jauh, Kushina lalu masuk ke dalam, menutup pintu kamar Naruto, dan berjalan menghampiri Naruto.
"Naruto, ibu harap kamu tadi tidak mengatakan hal yang macam-macam kepada Naruko."
Naruto menggeleng pelan dan menatap ibunya. "Tidak, bu. Aku hanya mengatakan kepada Naruko kalau aku tidak bisa pergi keluar karena fisikku yang lemah."
"Bagus kalau begitu." Kushina menatap tajam Naruto. "Dan, jangan coba-coba untuk sesekali menampakan dirimu di depan orang lain apalagi keluar dari istana ini."
Naruto mengangguk lemah. "Baik, bu."
"Tetaplah menjadi anak yang patuh, Naruto." Lalu Kushina berjalan keluar dari kamar Naruto.
Lalu, Naruto mulai membalikan tubuhnya, melipat kedua tangannya, menenggelamkan dagunya di tangannya dan menatap sang dewi malam seperti yang ia lakukan tadi. Suasana di kamar Naruto kini terasa sangat sunyi kembali. Tertutup oleh kegelapan kamarnya dan di terangi oleh cahaya sang dewi malam, Naruto mulai terhanyut ke dalam pikirannya.
"Ayah… Ibu… aku menyayangi kalian…" Katanya lirih dengan tatapan yang sendu. Perlahan, Naruto menutup matanya dan tertidur. Hembusan angin sepoi-sepoi melewatinya dan membuat rambut blonde pendeknya bergerak seirama.
"Naruko ! Naruko !"
"Tuan putri Naruko, Anda ada di mana ?!"
"Tuan putri Naruko !"
"Apa kau sudah menemukannya ?"
"Belum."
"Sudah tiga hari ia tidak pulang-pulang."
"Maaf Raja, hamba sudah mengerahkan pasukan hamba untuk mencarinya di seluruh pelosok, namun pasukan hamba tetap tidak dapat menemukan ataupun mendapatkan informasi tentangnya."
"Cari lagi ! Kalau perlu periksa setiap rumah !"
"Baik !"
Pagi hari yang harusnya tenang, nampaknya harus menjadi sangat ribut selama tiga hari belakangan ini. Hal itu karena sang putri Naruko yang mendadak menghilang tanpa di ketahui keberadaan maupun informasi tentangnya. Minato dan Kushina sangat sibuk mencari Naruko. Sementara Naruto, ia hanya duduk di pinggir ranjang Naruko sambil menatap ke arah foto Naruko yang berada di tangannya. Sebenarnya, ia juga ingin mencari Naruko. Namun, mengingat perintah yang di berikan oleh ayah dan ibunya, ia membatalkan niatnya.
"Naruko… kamu sedang berada di mana sekarang ? Aku sangat rindu padamu…" Naruto berkata lirih.
Hari demi hari berganti, musim demi musim terus berganti. Sudah tepat satu tahun semenjak peristiwa menghilangnya Naruko. Namun, Minato dan Kushina masih belum menemukan informasi tentang Naruko.
Pagi hari yang cerah di awal musim semi. Cahaya hangat sang mentari menyebar ke seluruh penjuru bumi dan dunia atas. Bunga-bunga mulai nampak memekarkan kelopaknya. Musim semi biasanya akan menjadi musim yang sangat membahagiakan. Di mana seluruh tumbuhan kembali memiliki daun dan bunga. Serta para hewan yang mulai melakukan aktivitas mereka. Namun, sepertinya musim semi tahun ini akan berbeda. Sepertinya, musim semi kali ini adalah musim semi yang terburuk bagi Minato, Kushina dan Naruto.
"APA ?!" Minato mengertakan giginya geram. Ditatapnya pemimpin prajurit yang kini sedang berlutut di hadapannya dengan penuh amarah. "Kamu yakin dengan perkataanmu ?!"
"Saya sangat yakin itu adalah tuan putri Naruko." Pemimpin prajurit yang bernama Inoichi tersebut menatap lekat-lekat Minato yang mengenakan sehelai kain tanpa lengan berwarna putih selututnya, sepatu kuno berwarna putih, mahkota yang terbuat dari bulu berwarna putih melengkung menghiasi kepalanya. Lalu ia menoleh ke arah para bawahannya. "Bawa kemari !"
Para bawahannya mengangguk. "Baik !" Kata mereka serempak. Lalu mereka berjalan pergi dari ruang kerajaan tersebut.
Kushina yang duduk di sebelah kursi Minato, menggenggam tangan Minato dengan erat. "Minato… apakah itu benar-benar Naruko ?" Ditatapnya Minato dengan mata yang berkaca-kaca.
Minato menoleh dan menatap intens Kushina. "Kita tidak tahu dengan pasti jika kita tidak melihatnya langsung." Minato menggerakan tangannya meraih bahu Kushina dan menariknya mendekat. "Tenanglah…" Tangan Minato yang berada di bahu Kushina mengelus kepala Kushina lembut.
Sementara, di salah satu batu penyangga besar berbentuk silinder yang berada tak jauh dari Minato, seorang remaja laki-laki berumur enam belas tahun sedang menyenderkan tubuhnya di belakang batu tersebut. Kepalanya agak menunduk, membuat helaian pony-nya menutupi sepasang mata berwana sapphire-nya. Rambut blonde pendeknya terlihat redup karena terhalangi oleh bayangan batu penyangga.
"Naruko… apa benar kau…" Pemuda tersebut berkata pelan. Namun sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, suara pintu menginterupsinya.
Pintu besar di hadapan Minato dan Kushina terbuka. Menampakan beberapa prajurit bawahan yang sedang membawa sebuah peti besar seukuran manusia yang terbuat dari kayu jati. Minato dan Kushina bangun dari kursi kerajaan dan bergegas menghampiri peti tersebut. Sementara, sang pemuda menolehkan kepalanya ke kanan, supaya ia dapat melihat dengan lebih jelas.
Minato dan Kushina menghentikan langkah mereka ketika mereka sudah berada di sebelah peti tersebut. Dapat dilihat jelas oleh mereka isi dari peti tersebut. Isinya adalah seorang gadis berumur enam belas tahun yang memiliki rambut blonde sepinggang. Gadis tersebut sedang mengenakan sebuah gaun panjang tanpa lengan yang berwarna peach. Sayang sekali Minato dan Kushina tidak dapat melihat matanya, karena gadis itu sedang memejamkan kedua matanya untuk waktu yang sangat lama, atau bisa dibilang selamanya.
Seketika seluruh tubuh Kushina bergetar dan terasa sangat lemas untuk tetap berdiri. Lalu ia jatuh terduduk dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.
"Naruko…" Panggilnya lirih kepada gadis yang sedang terlelap dengan damai tersebut. Kushina menaikan tangan kirinya pada pinggiran peti, menyenderkan kepalanya di tangan kirinya, lalu menggerakan tangan kanannya ke arah wajah Naruko dan mengelusnya lembut.
Sang pemuda yang bersembunyi di balik batu perlahan merosot dan akhirnya jatuh terduduk. "Ti-tidak mungkin…" katanya lirih. Bersusah payah ia berusaha untuk mencegah air matanya jatuh dengan mendongakan kepalanya, namun akhirnya air matanya jatuh dengan sangat cepat. "Na-Naruko… kamu… tidak mungkin… meninggal kan…? Naruko… ini semua… bohong kan…?" Suaranya terdengar parau dan tubuhnya bergetar hebat. Ingin sekali ia berlari menuju jazad Naruko dan memeluknya dengan erat. Namun, sekarang bukan waktu yang tepat untuk dirinya ke sana.
Minato langsung mengepalkan tangan kanannya ketika melihat sosok yang di kenalnya sebagai putrinya tengah tertidur lelap untuk selamanya. Ia merapatkan matanya dengan sangat kuat. Kemudian, ketika kelopak matanya terbuka, tatapan matanya berubah menjadi sangat tajam dan dingin. "Kau ! Apa kau tahu apa yang membuat putriku meninggal ?" Tanyanya kepada Inoichi.
"I-itu…" Inoichi menelan ludahnya karena takut dengan tatapan Minato. Keringat dingin mulai berjatuhan dari pelipisnya.
"Jawab aku !"
"Ba-baik ! setahu saya tuan putri Naruko itu bunuh diri."
"Kalau dia memang bunuh diri, kenapa selama ini keberadaannya sama sekali tidak diketahui ? Dilihat dari mana pun, dia baru meninggal sekitar beberapa hari yang lalu. Lalu, selama ini dia ada di mana ?"
"Kalau mengenai hal itu saya belum mengetahuinya."
"Segera cari tahu mengenai sebab kematian Naruko !"
"Baik !" Lalu Inoichi dan para bawahannya menunduk hormat dan berjalan keluar.
Seketika, suasana menjadi sangat hening. Hanya terdengar suara isakan tangis Kushina di ruang kerajaan. Minato menoleh sedikit ke arah kiri dan menatap tajam salah satu batu penyangga.
"Naruto ! keluarlah !" Perintah Minato.
Perlahan namun pasti, sosok Naruto perlahan keluar dari bayangan. Naruto melangkahkan kakinya mendekati Minato sambil menunduk. Air matanya terus berjatuhan ke lantai. Menjadi jejak pengganti untuk jejak kakinya.
"Naruto, apa kamu tahu sedikitnya mengenai hal yang menyebabkan Naruko meninggal ?"
Naruto mengangkat wajahnya dan menatap sopan Minato. Kemudian, ia menggeleng pelan. "Tidak, ayah." Lalu perhatian Naruto teralihkan kepada Naruko. Air matanya semakin banyak berjatuhan tak terkendali. Ia berniat menghampiri Naruko dan memeluknya. Namun baru selangkah ia berjalan, di urungkan niatnya karena melihat sosok ibunya yang sangat terpukul mengenai kematian Naruko. Lalu Naruto melangkahkan kakinya ke arah Kushina. Ia memeluk Kushina dari belakang. "Ibu… jangan terus menangis…"
Sudah sebulan berlalu setelah mengetahui kematian Naruko, keluarga Minato menjadi lebih redup. Dan tidak semua pihak mengetahui tentang kematian Naruko, karena kematian Naruko di rahasiakan oleh Minato. Hanya keluarga Minato dan Fugaku yang merupakan kepala lembaga keamanan yang mengetahuinya. Naruto melangkahkan kaki jenjangnya menuju kamar orang tuanya sambil membawa sebuah nampan yang di atasnya terdapat semangkuk bubur dan segelas air khusus.
"Naruto."
Merasa namanya di panggil, Naruto yang sedang berjalan menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya. "Ada apa ayah ?"
"Mulai sekarang kamu bisa berjalan-jalan dengan bebas. Untuk menutupi berita meninggalnya Naruko, maka kamu harus menggantikan sosok Naruko di mata semua orang."
Naruto mengangguk. "Baik, ayah."
"Baguslah kalau begitu…" Lalu Minato membalikan tubuhnya dan berjalan menjauhi Naruto.
Naruto menatap sendu punggung Minato. Sekarang, Naruto bisa dengan bebas berjalan-jalan di seluruh istana, namun ia masih belum berani untuk berjalan keluar istana. Naruto membalikan tubuhnya dan meneruskan langkahnya yang tadi sempat terhenti. Setelah sampai di depan kamar ibunya ia membuka pintu dan melangkah masuk. Matanya menangkap sosok ibunya yang tengah berbaring di atas ranjang. Naruto berjalan menuju ke meja yang berada di sebelah ranjang dan menaruh nampan yang ia bawa. Lalu ia menatap ibunya dengan sendu. Di perhatikannya wajah ibunya yang tampak sangat tak hidup, tatapan ibunya yang sayu dan kosong, tubuh ibunya yang semakin hari semakin terlihat ringkih.
"Ibu…" Ia tersenyum.
Perlahan, Kushina menoleh ke kanan dan menatap ke arah sepasang sapphire milik Naruto.
"Ibu makan dulu ya ? sedikit saja…"
Kushina menggeleng pelan.
Naruto menggigit bibir bawahnya. "Atau ibu mau minum ?"
Kushina menggeleng pelan.
Tubuh Naruto bergetar. Namun, ia tetap berusaha untuk menjaga senyumnya. "Ah, atau… ibu mau berjalan-jalan keluar rumah ? tenang saja, kalau ibu mau, bukan aku yang akan mengantar ibu, aku bisa menyuruh pelayan untuk mengantar ibu berkeliling. Tapi, kalau ibu mau berkeliling di sekitar istana, aku yang akan mengantar ibu. Udara segar sangat baik untukmu…"
Sekali lagi, Kushina menggeleng pelan.
Dengan cepat Naruto memeluk Kushina. Bukan sebuah pelukan yang erat, karena Naruto mengetahui keadaan ibunya saat ini tidaklah begitu baik. Tapi sebuah pelukan hangat yang mencurahkan semua kasih sayangnya pada ibunya. Ini adalah pelukan pertamanya dengan ibunya semenjak ia lahir. Selama ini ia hanya melihat Naruko yang dipeluk penuh kehangatan dan kasih sayang oleh ayahnya dan ibunya. Namun, sekarang ia ingin setidaknya hanya untuk sekali atau yang terakhir kalinya ia memeluk ibunya. Air matanya yang sudah tak mampu di tampungnya, meluap dan mengalir dengan deras di pipinya.
"Ibu… ibu jangan terus-terusan seperti ini… aku, aku tidak ingin kehilangan ibu juga… aku… aku mencintaimu, ibu… aku sangat mencintaimu… jangan membuat hatiku tersiksa dengan melihat ibu yang terus seperti ini."
Perlahan Kushina membalas pelukan Naruto. "Naruto…"
Naruto melepaskan pelukannya dan menatap Kushina dengan lembut. Ia tersenyum, walau air mata terus berjatuhan dari matanya. "Jika ibu mau, aku akan menggantikan sosok Naruko di mata ibu dan ayah."
"Naruto… terima kasih…" perlahan tangan kanan Kushina bergerak menuju wajah Naruto dan mengelusnya lembut. Sebulir air mata jatuh dari pelupuk mata kanannya.
Ketika malam tiba, sepasang kaki jenjang milik seorang pemuda melangkah menuju taman istana. Ia duduk di tengah taman sambil mendongak dan menatap sang dewi malam. Tak lama, ia merasakan aura tipis yang perlahan mendekat ke arahnya. Ia berpura-pura tidak mengetahuinya.
"Na-Naruko ?" Suara berat terdengar di belakangnya.
Ia menoleh dan menatap seorang pemuda berambut dark blue dan bermata onyx yang sedang berdiri dengan sepasang mata berwarna sapphire-nya.
Pemuda tersebut menajamkan matanya. "Tidak. Kamu bukan Naruko. Siapa kamu ?"
"Aku di kenal dengan nama Aphrodite, tapi kamu bisa memanggilku dengan nama Naruto."
Pemuda tersebut menaikan sebelah alisnya. "Aphrodite ? Naruto ? Aku tidak pernah mendengar kedua nama itu sebelumnya."
Naruto memutar kedua bola matanya bosan. "Tentu saja kamu tidak mengenalku. Selama ini aku selalu berada di dalam istana."
"Kamu seorang pelayan ?"
"Hei, aku bukan seorang pelayan. Ayahku bernama Minato dan ibuku bernama Kushina. Dengan informasi itu, kau pasti tahu kan siapa aku ?"
Pemuda tersebut membulatkan matanya, tidak percaya dengan penuturan Naruto. "Jangan bercanda ! Raja Minato dan ratu Kushina hanya mempunyai anak tunggal ! Dan dia bernama…"
"Naruko. Ya, aku tahu itu. Karena dia adalah saudara kembarku…"
"Jangan coba-coba membohongiku…" Desis pemuda itu.
"Terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi, aku sudah berkata jujur padamu." Naruto menoleh ke arah depan dan mengalihkan perhatiannya ke arah sang dewi malam kembali.
Ekspresi pemuda itu melembut. Ia mengangguk pelan. "Aku percaya padamu… matamu tidak menunjukan kebohongan padaku." Lalu ia berjalan mendekati Naruto dan duduk di sebelah kiri Naruto.
"Hei… siapa namamu ?"
"Uchiha Sasuke."
Naruto menoleh dan menatap Sasuke dengan tatapan terkejut. "Uchiha… Sasuke…?"
"Jadi, dia yang bernama Uchiha Sasuke ? Jadi, dia yang…"
"Iya, Uchiha Sasuke. Apa ada yang salah dengan namaku ? Apa kamu pernah mendengar namaku sebelumnya."
"Iya, aku pernah mendengar namamu dari cerita Naruko. Dia sering bercerita padaku tentang teman-temannya. Tapi. Yang paling sering di ceritakan padaku adalah tentangmu dan tentang seseorang yang bernama Uchiha Itachi. Apakah Uchiha Itachi itu adalah kakakmu ? karena setahuku umurnya di atas Naruko dan kau."
Sasuke mengangguk. "Ya, Uchiha Itachi adalah kakakku."
Suasana menjadi hening sejenak sebelum suara Sasuke memecahkan keheningan.
"Kenapa identitasmu di tutupi oleh pihak kerajaan ?"
Naruto mengangkat kedua bahunya. "Entahlah… bahkan sampai sekarang pun aku masih tidak mengetahui alasannya." Naruto menoleh ke kiri dan menatap Sasuke intens. "Hei Sasuke, maukah kau menjadi teman pertamaku ?"
Sasuke tertegun sejenak menatap beningnya kedua mata sapphire Naruto. "Tentu saja. Suatu kehormatan bagiku untuk menjadi teman pertamamu."
Naruto tersenyum lembut. "Terima kasih…" Lalu Naruto kembali pada aktivitas lamanya, yaitu manatap sang dewi malam.
Seketika jantung Sasuke berdetak dengan sangat cepat. Rona merah menjalar di pipinya.
Suasana menjadi hening kembali bagi Naruto. Tapi tidak bagi Sasuke yang masih mencoba untuk menormalkan detak jantungnya. Angin sepoi-sepoi berhembus melewati mereka.
"Naruto… apakah sekarang kamu masih sedih karena kepergian Naruko ?"
Naruto tidak menoleh ke arah Sasuke. "Tidak. Aku tidak merasa sedih lagi. Rasa sedihku hanya akan membebani Naruko."
Sasuke menatap takjub mata sapphire di bawah cahaya sang dewi malam tersebut. Tanpa mereka berdua sadari, siluet berwarna hitam bergerak dengan cepat dan berhenti tak jauh dari mereka. Ia memperhatikan mereka lekat-lekat.
"Naruto… Naruto…" Terdengar suara berat yang sangat familiar di telinga Naruto.
"Su-suara siapa itu ?"
"Naruto ! Hei, Naruto !"
Naruto membulatkan matanya saat melihat wajah Sasuke yang begitu dekat dengan wajahnya. Sasuke terus mengeliminasi jarak di antara mereka dan mencium bibir ranum Naruto dalam sebuah ciuman lembut yang tidak menuntut. Naruto menutup kedua matanya, menikmati ciuman tersebut. Namun lama-kelamaan ciuman itu semakin semakin panas. Sasuke menggigit pelan bibir bawah Naruto dan membuat Naruto reflek membuka mulutnya. Hal tersebut tidak di sia-siakan oleh Sasuke. Dengan cepat Sasuke menjulurkan lidahnya memasuki rongga mulut Naruto dan menjelajahi setiap hal yang berada di dalam mulut Naruto.
"Nggh…" Perlahan Naruto membuka kedua kelopak matanya. Samar-samar ia melihat sosok seorang pemuda berambut hitam yang sedang menciumnya. Sontak, Naruto langsung membelalakan kadua matanya dan mendorong dada bidang pemuda yang sedang menciumnya.
Sang pemuda yang merasa ada pergerakan dari Naruto, membuka kedua matanya dan melepaskan pangutannya pada bibir Naruto. Menyebabkan benang saliva di antara bibir mereka terputus. "Akhirnya kau bangun juga…" Pemuda tersebut yang tadinya membungkukan tubuhnya, kini menegakkan tubuhnya.
Naruto segera menegakan tubuhnya dan berusaha menormalkan nafasnya yang kini tesengal-sengal. Setelah nafasnya kembali teratur, ia menatap tajam pemuda yang ada di hadapannya. "Kak Itachi !"
"Apa ? jangan membentakku seperti itu. Salahmu sendiri kan ? Aku sudah mencoba membangunkanmu dengan memanggil namamu lembut, memanggil namamu kencang, bertepuk tangan, memukul meja dan menghancurkan dinding. Tapi kau tetap tidak bangun." Itachi mengarahkan jari telunjuknya ke arah belakang Naruto.
"Be-benarkah kau menghancurkan dinding ?" Naruto menoleh ke belakang dan…
"Tidak. Aku bohong…"
Dengan cepat Naruto menoleh kembali ke arah Itachi dan tersenyum manis penuh arti. "Kak Itachi…" Perlahan Naruto bangun dari kursinya.
Itachi yang berada dalam jarak tiga langkah dengan Naruto, menatap datar Naruto. "Hm… sepertinya ini akan buruk…" Dengan cepat Itachi berlari berputar-putar berkeliling di ruang UKS. Sementara, Naruto mengejarnya di belakang.
"Awas kau !"
Dengan sengaja, Itachi membalikan tubuhnya, menjatuhkan tubuhnya dengan posisi terduduk, lalu ia selonjorkan kakinya ke depan. Akibatnya, kaki kanan Naruto tersandung oleh kaki Itachi dan ia terjatuh ke depan hendak menimpa tubuh Itachi. Dan dengan sigap Itachi menangkapnya dengan memeluknya.
Wajah Naruto yang menghadap ke dada bidang Itachi sontak menjadi merah padam. "Le-lepaskan aku…"
"Tidak sampai kamu tidak marah lagi kepadaku."
"Se-sejak awal aku… aku tidak marah padamu kok…" Naruto memeluk Itachi.
"Baguslah kalau begitu…" Itachi tersenyum lembut.
Naruto melepaskan pelukannya, mendongak dan menatap intens Itachi. "Jangan meninggalkanku sendiri ya, Kak Itachi…"
"Tidak akan pernah." Lalu Itachi mencium Naruto.
"Dengan begitu, akan lebih mudah bagiku untuk melakukan pertukaran…"
TBC
Thanks for read.
Jika masih ada yang kurang kalian mengerti, bisa langsung di tanyakan saja.
Dan, di Chapter ini kalian pastinya sudah punya gambaran lebih jelas daripada sebelumnya kan ? XD
Dan satu lagi informasi dari saya. Untuk pairing saya ada tulisan OC X Naru. Itu maksudnya 'Other Character' bukan 'Original Character'.
Sekian dari saya :D
Mind to review ?
