Tadaaaaa~ Intan kembali~ Nyeheeee…. *plak*. Setelah hiatus karena Lappy tersayang inalillahi juga karena atem(nama hape saya) yang rusak permanently, sekarang saya nongol lagi di FFn karena lappy udah bangkit dari kematian \m/

Intan ucapkan terimakasih banyak *halah gaya amat ngomongnya* kepada orang-orang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung(?) yang sudah setia baca fic ini sampai chapter 3. Kali ini Death War akan tampil baru, setelah mempertimbangkan usulan Sylvia-chan yang sudah sangat banyak bantu saya *sob* meskipun uda ga dif fn lagi tp makasi banyak Sylvia-chan TT_TT *hug* *plak* makasih, nee~ Juga buat Cendol-chan, nih fic udah ane apdet! Fic ente cepetan apdet juga ya! *sejak kapan saya ngomong pake ente-ane*. Sekian bacotan dari saya. Enjoy!


DEATH WAR

Chapter 4: In Action

Disclaimer: Death Note is belongs to Tsugumi Ohba and Takeshi Obata

Warning: AR, OC, Switching place, and maybe bloody scene for next chapter


London, 12 Desember 2011 09:00 A.M,

Wammy's House

.

"Kau yakin ingin meninggalkan tempat ini?" tanya pria tua dengan rambut yang sudah putih itu sambil mencari-cari sesuatu di lacinya.

"Semua sudah kuputuskan. Kau tidak 'kan bisa melarangku, Roger…" jawab gadis berambut coklat kemerahan di depannya. Mata gadis itu terlihat tegas, yang menunjukan bahwa keputusannya sudah bulat.

"Tidak, tentu tidak Z. Aku tidak akan melarang apa yang telah menjadi hakmu," kata Roger, masih mencari-cari sesuatu di lacinya.

'Ya, untuk apa melarangku, kau pasti berfikir peringkat terakhir tidak dibutuhkan Wammy's House 'kan?' gadis itu tersenyum kecut. "Bagaimana, sudah kau temukan?"

"Sebentar, ah, ini dia!" Roger menarik beberapa jilid arsip dan menumpuknya dengan arsip berlabel sama di atas mejanya. "Ini yang terakhir. Semuanya lengkap."

"Trims, Roger,"kata gadis yang dipanggil "Z" itu sambil mengambil arsip-arsip itu, lalu meninggalkan ruangan. Sebelum kakinya melangkah lebih jauh lagi, ia menoleh dan melihat bangunan tua Wammy's House, tempat ia dibesarkan, untuk yang terakhir kali. "Aku akan bertemu dengan 'nya'lagi…."

-DW-

Jepang, 12 Desember 2011 09:30 A.M

.

Sementara itu, di waktu yang sama namun berlokasi di Jepang, seorang pria pucat berambut hitam keluar dari sebuah kios. Kebanyakan orang pasti akan berfikir bahwa ia adalah pengunjung kios itu. Namun jika dilihat baik-baik, tidak mungkin ada orang yang berkunjung ke kios dengan tulisan 'CLOSED' yang terpampang jelas di salah satu pintunya—kecuali jika orang itu tidak normal, atau lebih jelasnya, buta. Namun pria ini tidak buta, tetapi juga jauh dari kata 'normal', tidak dengan kantung mata hitam, postur tubuh yang melengkung nyaris setengah tinggi aslinya, dan t-shirt polos berwarna kusam dengan bawahan jeans. Jika dilihat lagi, ia lebih seperti seorang pengangguran yang selalu ditolak saat melamar kerja. Mungkin anggapan seperti itu yang terlintas dibenak si pemilik kios sehingga mempersilahkan pria itu masuk. Namun apa pun yang telah difikirkan si pemilik kios, ia telah melakukan kesalahan besar dengan mengizinkan seseorang yang amat berbahaya itu masuk. Tak perlu diragukan lagi, Beyond Birthday telah berhasil menjalankan pembunuhan keduannya.

-DW-

'Krak,' kunyahan demi kunyahan coklat masuk ke dalam mulut remaja berpakaian serba hitam itu. Dari tempo kunyahannya yang begitu cepat, dapat disimpulkan bahwa ia sedang berfikir keras. Mihael Keehl, atau singkatnya, Mello. Ia mungkin belum mengerti bagaimana ia bisa kembali dari NU, tapi ia tidak berfikir keras tentang hal itu, tidak pula tentang L, Kira, maupun Near.

Dari pengalamannya— atau mungkin lebih tepatnya, kegagalan sebelumnya— ia sadar bahwa ia tidak bisa bekerja sendiri. Ia butuh bantuan. Tapi siapa? Komplotan mafia sudah tidak ada. Lagi pula mereka tidak akan berguna setelah Near kini menjadi L. Dan hal yang masih terpatri jelas di ingatannya: Ia telah membuat sahabatnya, Matt, terbunuh dengan sadis.

"Sial." Bocah berambut pirang itu melempar sisa coklat yang masih di genggamannya, lalu mengambil coklat yang baru dan membukanya. Ia tahu, satu-satunya harapannya adalah Wammy's House. Tapi siapa yang bisa ia percayai—atau paling tidak, ia kenal baik? Selama di Wammy's House ia memang punya komplotan untuk melawan Near, namun ia tidak pernah benar-benar 'berteman' dengan anak-anak itu. "Hah…" ia tahu, melawan Near kali ini akan lebih sulit dari sebelumnya.

-DW-

Masih di Jepang, di waktu yang sama

Markas L

.

"Lidner, bagaimana perkembangan kasusnya?" seorang remaja berambut putih bertanya, namun tidak menoleh ke arah orang yang ditanya, karena ia sedang sibuk membuat menara kartu tarrotnya yang kini tingginya sudah mencapai 2 meter.

"Sejauh ini masih 1 pembunuhan, dan lagi pula, mengapa kau sangat tertarik dengan kasus yang mungkin bisa dipecahkan cukup oleh polisi?" wanita berambut pirang itu menjawab sekaligus bertanya. Yang ia tanyakan cukup masuk akal, karena sejauh ini, Near, atau L, selalu mengambil kasus yang membuat polisi kewalahan. Namun kali ini, Near memutuskan untuk mengambil sebua kasus yang bahkan polisi tidak begitu peduli.

"…"

Tidak ada jawaban. Lidner memicingkan sebelah matanya, tidak ada yang berubah dengan Near, bahkan setelah kemenangannya dari Kira. Namun satu kata yang kemudian membuat Lidner heran diucapkan oleh L muda itu: "L."

-DW-

Jepang, 12 Desember 20:30

Lokasi tidak diketahui

.

Merahnya api selaras dengan mata gadis itu. Kertas demi kertas ia lempar ke kobaran api. "Tidak ada lagi si peringkat terkahir, tidak ada lagi Z," gadis berambut se bahu itu menatap kobaran api. Semakin besar kobarannya, semakin banyak asapnya. Seolah api itu adalah tanda bahwa ia ada di situ. Dan benar saja, seseorang datang dan menempelkan pisau di lehernya dari belakang. Orang normal pasti akan berteriak atau bahkan pingsan di tempat. Namun gadis itu tersenyum. "Aku tahu kau akan datang,"

"Mihael Keehl."

Itulah satu-satunya kata yang diucapkan si penodong pisau sebelum pergi seketika. Z—atau sekarang mungkin bukan Z lagi, hanya kembali melihat kobaran api di depannya. "Ya, aku mengerti."

-TO BE CONTINUED-


Pendek ya? Chapter ini sengaja saya buat untuk perkenalan OC saya. Dia bukan tokoh yang begitu penting. Hanya sebagai media komunikasi anatara BB dan L—atau Near. Karena di novelnya BB tidak pernah ingin bertatap muka dengan lawannya secara langsung. Untuk chapter kedepan mungkin akan saya buat lebih di satu tempat karena kasus BB yang baru akan saya jabarkan \m/ Tp sedikit hint, BB benar-benar tertarik pada MEllo disini :D

Ohya, rencananya chapter depan akan saya buat lebih cepat segera setelah saya selesai ujian :D mohon doanya ya teman-temon~ Semoga saya diberi kemudahan dalam mengerjakan soal-soal. Amin :D Supaya saya juga makin cepat apdetnya hehe *apa hubungannya*

Jadi, tunggu kelanjutannya ya! Thanks for reading. Critics or corrections, please?