Love in Autumn
Chapter 4
..
..
..
05 Oktober, 2010
Han River, Seoul.
Dong Hae berdiri dipagar yang menjadi penghalang Sunga Han dengan Hyuk Jae yang berada disamping kirinya. Keduanya menatap sungai yang menjadi salah satu ikon dari negara ini. Suhu sudah semakin menurun pada bulan Oktober ini, meskipun hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi para wisatawan untuk menikmati musim gugur di Korea. Udara yang lebih sejuk setelah musim panas ditambah dengan cuaca yang cerah, langit terlihat bersih menampakkan warna biru yang indah, tidak lupa dengan pemandangan indah yang terjadi pada musim gugur. Sebuah kombinasi yang membuat Dong Hae berdecak kagum dengan negara ini. Kombinasi yang indah, yang membuat negara ini semakin cantik.
"Sudah lama sekali aku ingin kesini." Suara lembut mengalihkan pandangan Dong Hae. Dapat terlihat Hyuk Jae yang masih menatap kedepan dengan senyuman indahnya.
"Terima kasih karena Dong Hae-sshi sudah mau menemaniku ke Seoul." Lanjut Hyuk Jae dan menatap Dong Hae.
"Aku yang harus berterima kasih pada Hyuk Jae-sshi."
"Kepadaku? Kenapa?"
"Karena sudah mau mengajakku kesini. Karena sudah mau menerimaku. Meskipun aku tidak tahu apa penyebabnya, tapi, aku sangat bersyukur Hyuk Jae-sshi tidak lagi bersikap dingin padaku."
Hyuk Jae menatap Dong Hae sendu, ada hal yang ingin Hyuk Jae ungkapkan. Sebuah kenyataan menyakitkan yang menjadi penyebab kenapa sikapnya begitu dingin pada Dong Hae saat awal mereka bertemu. Sebuah kenyataan yang hanya akan membuat keduanya terluka. Namun dengan cepat Hyuk Jae menampilkan senyum indahnya lagi.
"Maaf karena sikapku itu. Dong Hae-sshi akan tahu kenapa aku seperti itu jika sudah tiba waktunya." Ujar Hyuk Jae tenang, kemudian menatap kembali sungai Han yang begitu tenang. Ya, jika waktunya sudah tiba, semua kenyataan menyakitkan itu akan terungkap.
"Maksudmu?" tanya Dong Hae bingung. Maksud Lee Hyuk Jae tadi apa? Jika sudah waktunya tiba? Tiba untuk apa? Kapan?
"Tidak usah dipikirkan. Ah, ayo kita pergi! Ada lagi tempat lain yang ingin kukunLeei."
Hyuk Jae menarik tangan Dong Hae, menggenggam jemari Dong Hae dengan erat membuat kebingungan kembali melanda pikiran Dong Hae. Meski tidak menutupi kenyataan bahwa ada perasaan senang saat tangan mereka menyatu. Sehingga Dong Hae membalas genggaman itu, membuat keduanya berjalan menyusuri jalan dengan tangan yang bertautan. Dong Hae merasakan kehangatan melanda hatinya, jemari Hyuk Jae terasa pas dengan jemarinya.
Hyuk Jae diam-diam tersenyum saat merasakan jemari Dong Hae membalas genggamannya. Semua terasa indah saat ini baginya. Jemari Dong Hae terasa hangat dan nyaman, membuatnya merasa terlindungi. Kembali, debaran yang cukup kencang terasa, debaran yang membuatnya semakin yakin bahwa, dirinya memang menyukai Dong Hae. Mencintai pria itu. Tapi, Hyuk Jae tidak yakin bahwa mereka bisa bersatu seperti keinginannya.
"Hari ini aku sangat senang."
Dong Hae menatap Hyuk Jae. Rambut yang tergerai indah itu dimainkan oleh angin yang berhembus.
"Karena bisa bersama Dong Hae-sshi." Lanjutnya sambil tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya kedepan.
Dong Hae hanya tersenyum dalam diam. Tangannya semakin menggenggam erat tautan mereka. Tak lama, Dong Hae berhenti dengan kerutan didahinya. Membuat Hyuk Jae ikut berhenti dan menatap Dong Hae bingung.
"Ada apa?"
"Mm.. aku baru sadar sesuatu." Jawab Dong Hae ambigu.
Hyuk Jae semakin bingun dengan perkataan Dong Hae.
"Apa Dong Hae-sshi? Jangan membuatku penasaran." Keluh wanita itu.
"Ck. Bukankah ini mengagumkan? Kita memakai pakaian yang serasi. Seperti sepasang kekasih saja." Gumam Dong Hae yang masih terdengar oleh Hyuk Jae.
Tentu saja pernyataan Dong Hae membuat Hyuk Jae terkejut. Melihat pakaian Dong Hae dan pakaian miliknya bergantian. Dong Hae memakai jeans hitam dengan kemeja kotak-kotak putih biru dengan coat berwarna coklat miliknya. Sedangkan Hyuk Jae, memakai jeans hitam dan kemeja berwarna biru muda dan ditutupi oleh coat berwarna sama dengan milik Dong Hae.
"Kau benar, Dong Hae-sshi." Ujar Hyuk Jae sambil menundukkan kepalanya. Berusaha menyembunyikan rona merah yang ia yakini sedang menghiasi wajahnya.
"Haha.. menarik sekali." Setelah menyerukan kalimat itu, Dong Hae kembali berjalan diikuti oleh Hyuk Jae. Yang mereka tidak sadari adalah, genggaman tangan mereka tidak terlepas. Bertautan seperti menghubungkan perasaan mereka satu sama lain.
.
.
.
Myeong-dong, Seoul.
"Ini tempat yang ingin Hyuk Jae-sshi kunjungi?" tanya Dong Hae menatap Hyuk Jae dengan raut wajah heran.
"Eum! Kenapa? Aneh ya, Dong Hae-sshi?"
"Aniyo.." Dong Hae bergumam. "Hanya saja, ini, diluar perkiraanku." Lanjutnya kemudian.
"Memangnya Dong Hae-sshi berpikir aku ingin kemana?"
"Yah, eum, ke tempat yang paling disukai wanita mungkin. Seperti,, Namsan Tower?"
"Haha, aku tidak terlalu menyukai tempat itu." jelas Hyuk Jae singkat.
"Kenapa? Bukankah wanita sangat menyukai tempat itu? Memasang gembok disana."
"Aku bukan termasuk wanita seperti itu." gumam Hyuk Jae.
"Baiklah, tidak peduli kemana pun. Sekarang, kita lanjutkan perjalanan kita! Let's go Hyuk Jae-sshi!"
"Eum! Let's go!"
Setelah menyerukan kalimat itu. Keduanya menyusuri jalan Myeong-dong. Myeong-dong sendiri merupakan salah satu distrik belanja terbesar di Seoul yang tidak pernah sepi dikunLeei wisatawan. Baik untuk berbelanja atau hanya sekedar membeli jajan makanan yang dijual pedagang kaki lima. Disini juga terdapat toko-toko yang menjual berbagai barang dengan harga sedang sampai mahal, dari produksi dalam negeri maupun internasional. Myeongdong juga adalah pusat fashion dan kehidupan malam dari anak-anak muda Seoul.
Dong Hae dan Hyuk Jae membaur dengan kerumunan wisatawan asing maupun lokal. Melihat berbagai barang yang dijual dipinggir jalan Myeong-dong. Tak jarang Dong Hae dan Hyuk Jae berhenti di sebuah toko atau pedagang kaki lima untuk membeli sebuah barang. Seperti saat ini, mereka kini berhenti disebuah toko aksesoris yang menyediakan berbagai kalung, syal, gantungan HP dan lainnya. Dong Hae hanya mengikuti langkah Hyuk Jae, dia bertekad untuk mengikuti kemana pun Hyuk Jae mau.
"Dong Hae-sshi, lihat ini! Bagus tidak?" tanya Hyuk Jae sambil memegang sebuah jepit rambut berbentuk pita putih berukuran kecil.
"Bagus! Tapi aku suka yang ini. Ini bunga lily kan?" Dong Hae menunjuk sebuah jepit rambut didepannya. Jepit rambut berbentuk bunga lily putih yang terlihat berkilau. Hyuk Jae mengambil jepit rambut itu, kemudian mencocokannya dirambutnya didepan kaca yang disediakan toko itu, bergantian dengan jepit rambut berbentuk pita.
"Dong Hae-sshi, mana yang lebih cocok?" tanya Hyuk Jae. Dong Hae langsung menunjuk jepit rambut berbentuk bunga lily.
"Yang itu. Tapi kalau Hyuk Jae-sshi, memakai jepit yang mana saja akan terlihat bagus."
"Kalau Dong Hae-sshi suka yang mana? Lily?"
Dong Hae mengangguk. "Ne, aku menyukainya."
"Baiklah, aku pilih yang ini." Dong Hae berkedip kemudian senyuman terkembang diwajah tampannya saat Hyuk Jae lebih memilih jepit rambut pilihannya.
Dong Hae mengikuti langkah Hyuk Jae. Kini ke tempat berbagai gantungan handphone terpajang disana. Hyuk Jae terlihat memilih yang mana yang paling bagus. Sedangkan Dong Hae, pria itu hanya menatap Lee Hyuk Jae. Menikmati waktu yang dimilikinya untuk menatap wajah cantik Hyuk Jae sepuasnya.
"Dong Hae-sshi, bagaimana dengan yang ini?" pertanyaan Hyuk Jae membuatnya tersadar, kemudian terlihat Hyuk Jae yang sedang memegang dua gantungan handphone berbentuk burung merpati yang sedang mengepakkan sayap.
"Hyuk Jae-sshi menyukainya?"
"Ne. Aku menyukai merpati." Terlihat senyum hangat terpatri diwajah Hyuk Jae saat mengatakan hal tersebut, membuat Dong Hae ikut tersenyum.
"Kalau begitu ambil saja."
"Dong Hae-sshi juga, ya?"
"Aku juga? Kenapa?"
"Eum, sebagai kenang-kenangan kita hari ini. Mau ya, Dong Hae-sshi?"
"O-oh, baiklah."
Hyuk Jae tidak menyadari wajah memerah Dong Hae saat menerima gantungan handphone itu. Bukankah ini sebuah benda couple? Kenapa Hyuk Jae memintanya untuk memilikinya juga? Apakah Hyuk Jae ingin memiliki benda couple dengannya? Apa benar? Atau memang ini hanya sebuah kenang-kenangan hari ini saja?
.
.
.
Langit biru mulai memudar, berganti dengan warna jingga yang terpantul dari cahaya sang surya. Menandakan bahwa siang sudah berganti sore. Tapi hal itu tidak menyurutkan semangat orang-orang untuk tetap menikmati fasilitas yang tersedia di Myeong-dong ini. Termasuk dengan Dong Hae dan Hyuk Jae. Keduanya telah berkeliling Myeong-dong, keluar masuk toko yang menjual aksesoris baik itu untuk membeli atau hanya melihat-lihat saja yang menyebabkan omelan keluar dari sang pemilik toko. Tapi keduanya tidak merasa lelah, bahkan merasa sangat senang. Saat ini Dong Hae dan Hyuk Jae sudah memakai beberapa benda couple yang mereka beli. Topi beani berwarna putih susu terpakai, mereka juga memakai gelang dengan motif yang sama. Membuat mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang menikmati kencan mereka.
Mereka juga menikmati jajanan es krim yang menurut Dong Hae merupakan es krim terpanjang yang pernah dia lihat. Es krim dengan tinggi 32 centi meter membuat Dong Hae sempat khawatir bagaimana jika es krim itu patah atau jatuh. Dan membuat Hyuk Jae tidak berhenti tertawa melihat reaksi Dong Hae sampai membuat Dong Hae menyadari tingkahnya dan kembali membuat wajahnya memerah karena malu. Mereka hanya membeli satu saja dengan rasa vanilla. Berbagi es krim dengan Lee Hyuk Jae membuat Dong Hae kembali berdebar ria, membuatnya ingin sekali memeluk penjual es krim itu.
"Dong Hae-sshi, kesini."
Dong Hae cepat-cepat menghampiri Hyuk Jae yang sudah berdiri di sebuah stan penjual beberapa jajanan. Dong Hae tanpa sadar meneguk ludahnya sendiri saat melihat beberapa makanan tersaji didepannya. Ada Tteokbokki, Odeng, dan Twigim. Membuat perut Dong Hae semakin terasa lapar.
"Dong Hae-sshi ayo dicoba. Kali ini aku yang akan membayarnya."
"Apa? Tidak, jangan! Aku saja."
"Tidak mau. Tadi, semua barang yang kita pakai Dong Hae-sshi yang membelinya. Kali ini giliran aku yang mentraktir Dong Hae-sshi."
Dong Hae ingin membantah. Dia tidak pernah mau jika wanita melakukan hal ini. Menurutnya, pria lah yang harus membayar. Tapi, saat melihat mata Hyuk Jae yang menyiratkan tidak ingin dibantah. Membuat Dong Hae menghela napas.
"Baiklah, baiklah. Hyuk Jae-sshi yang membayarnya."
Hyuk Jae tersenyum lebar, senang karena permintaannya dituruti. Keduanya memulai acara menyantap sajian didepan mereka. Dimulai dengan satu porsi Tteokbokki ekstra. Karena ahjumma penjual makanan itu menyukai Dong Hae dan Hyuk Jae, sehingga memberi tambahan untuk mereka. Membuat Hyuk Jae memekik senang dan mengucapkan terima kasih beberapa kali. Dong Hae sendiri langsung memeluk ahjumma itu dan mengucapkan terima kasih, membuat tawa keluar dari ahjumma itu.
"Tteokbokki memang paling enak." Ungkap Dong Hae setelah memakan satu potong Tteokbokki.
Habis dengan satu porsi Tteokbokki, Dong Hae langsung mengambil odeng atau eomuk atau juga disebut dengan fish cake. Odeng ini terbuat dari ikan yang dihaluskan dan dicampur dengan tepung terigu bersama bumbu-bumbu. Adonan tersebut kemudian dibentuk, ditusuk, kemudian di rebus dalam air kaldu sayuran baik dari lobak atau rumput laut yang sudah dibumbui agar rasanya lebih nikmat. Terkadang, ada juga penjual yang memasukkan kepiting atau seafood di dalam kuahnya. Seperti yang terjadi di penjual ini. Penjual melakukan hal tersebut agar rasa kaldunya semakin enak. Beralih pada Hyuk Jae yang sedang menikmati twigim yang dicelupkan pada saus tteokbokki. Twigim merupakan aneka makanan kecil yang dibalut dengan tepung dan digoreng. Ada banyak variasi dari makanan ini. Tapi yang paling sering dijumpai adalah udang, cumi, ubi manis, dan mandu atau sejenis pangsit.
Dong Hae dan Hyuk Jae begitu menikmati acara kuliner mereka. Bagi Dong Hae yang sudah lama tidak menikmati jajanan Korea, benar-benar merasa sangat senang. Tidak henti pria itu mengucapkan terima kasih karena tempat yang ingin dikunLeei Hyuk Jae adalah pasar Myeong-dong, sehingga Dong Hae bisa kembali menikmati jajanan yang benar-benar membuat mulutnya terasa tidak ingin berhenti makan.
.
.
.
Dongdaemun Design Plaza, Seoul
Setelah menghabiskan waktu lama di pasar Myeong-dong. Kini Dong Hae dan Hyuk Jae baru sampai disebuah tempat yang sangat terkenal bagi warga Korea. Dongdaemun Design Plazza (DDP). Sebuah bangunan yang memiliki bentuk unik. Dong Hae menjuluki bangunan ini sebagai pesawat ruang angkasa karena bentuk dari gedung ini memang terlihat seperti pesawat ruang angkasa. Meskipun begitu, desain bangunan ini cukup artistik dan modern sehingga membuat banyak orang yang merasa tertarik untuk datang kesini. Bukan hanya desain bangunan dari gedung ini saja. Tapi ada hal lain yang sukses menjadi daya tarik bagi banyak orang untuk mengunLeei tempat ini. Yaitu taman bunga mawar putih yang berada diatas gedung ini.
Dong Hae dan Hyuk Jae bersandar pada pagar pelindung yang setinggi pinggang orang dewasa. Ditangan mereka masing-masing terdapat satu gelas coklat panas, untuk sekedar menghangatkan tubuh di cuaca malam yang terasa dingin. Bahkan sangat dingin bagi Dong Hae, hidung pria itu terlihat memerah dan berair. Sempat membuat Hyuk Jae khawatir dan memilih untuk pulang. Tapi Dong Hae meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja sehingga kini keduanya bisa menikmati suguhan yang sangat indah didepan mata mereka.
"Benar-benar indah. Akan sangat menyesal jika tadi kita pulang, Hyuk Jae-sshi." Ungkap Dong Hae setelah meminum setegeuk coklat panasnya.
"Tapi Dong Hae-sshi terlihat tidak baik-baik saja."
"Aku memang tidak kuat dingin, Hyuk Jae-sshi. Tapi aku tidak apa-apa." Dong Hae menatap Hyuk Jae yang masih terlihat tidak yakin dengan perkataannya. "Sungguh!" ucapnya lagi.
Hyuk Jae hanya bisa menghela napas. Satu hal yang baru saja dia ketahui mengenai Dong Hae adalah, pria itu sedikit keras kepala.
"Baiklah."
Keduanya kembali terdiam menikmati taman yang benar-benar indah tersebut. Sebuah taman bunga-bunga mawar putih yang berada diatap gedung ini. Bunga-bunga yang akan menyala pada malam hari, terlihat seperti taman bintang tersaji didepan mata. Sebanyak 25.550 bunga mawar putih buatan ditancapkan diatas gedung ini dengan lampu LED yang dipasang dimasing-masing bunga tersebut. Saat siang hari, taman ini terlihat seperti taman bunga mawar sungguhan. Namun, sang pembuat taman ini memberi kejutan untuk semua warga Korea Selatan dan warga asing. Taman yang terlihat seperti taman bunga mawar biasa pada siang hari, disulap menjadi taman bunga mawar yang bercahaya. Membuat taman ini memiliki kesan romantis untuk setiap pengunLee yang datang kesini. Ditambah dengan hiasan kupu-kupu disekeliling bunga-bunga mawar itu, menambah keindahan dari taman ini.
"Katanya tempat ini dibangun untuk acara perilisan jam tangan dari OMEGA kan?" tanya Dong Hae memulai percakapan.
"Eum, kau benar. Tapi sekarang, taman ini menjadi salah satu tempat untuk wisata. Tempat yang ingin kukunLeei sejak lama." Jawab Hyuk Jae dengan mata yang tidak lepas dari taman bunga dihadapannya.
"Kira-kira, ada berapa bunga yang ada disini ya?" gumam Dong Hae.
"25.550"
"Sebanyak itu? Darimana Hyuk Jae-sshi tahu?"
"Tentu saja aku tahu. Dan kau tahu, Dong Hae-sshi?"
"Apa?"
"Jumlah itu adalah hasil dari 70 dikali 365."
"Benarkah? Kenapa Hyuk Jae-sshi bisa tahu?"
"Hehe. Karena aku ingin sekali datang kesini, jadi aku sudah melakukan banyak pencarian informasi tentang tempat ini. Angka 70 melambangkan peringatan kemerdekaan Korea Selatan yang ke 70, sedangkan angka 365 sebagai harapan agar masyarakat bisa menikmati keindahan taman tersebut setiap harinya."
"Woah~ Hyuk Jae-sshi sudah cocok seperti tour guide." Hyuk Jae tertawa pelan menanggapi komentar Dong Hae. "Tapi, Hyuk Jae-sshi yakin dengan jumlah bunga itu?"
"Kalau tidak percaya, Dong Hae-sshi bisa menghitungnya sendiri untuk membuktikan."
"Eumm.. lebih baik aku percaya dengan ucapan Hyuk Jae-sshi." Jelas Dong Hae. Pria itu tidak bisa membayangkan jika dia harus menghitung satu persatu bunga yang ada disini hanya untuk membuktikan ucapan Hyuk Jae. Dong Hae bukan orang yang seperti itu. Tapi pria itu benar-benar semakin kagum dengan Korea Selatan. Hal-hal kecil seperti ini bisa disulap menjadi tempat wisata yang menarik banyak pengunLee. Sungguh luar biasa!
"Ah, lain kali giliran aku yang akan mengajak Hyuk Jae-sshi berlibur ke Jepang." Cetus Dong Hae tiba-tiba.
"Ke Jepang?"
Dong Hae mengangguk "Iya, Jepang. Disana juga ada taman sakura. Dijamin Hyuk Jae-sshi akan sangat menyukainya. Bagaimana?"
Dong Hae tertegun melihat ekspresi Hyuk Jae yang terlihat berubah drastis. Kepala wanita itu menunduk dengan mata yang terlihat sendu. Gumaman "Lain kali?" terdengar oleh Dong Hae. Meski pelan, tapi dapat terdengar oleh Dong Hae. Mungkin karena tempat yang mulai sepi jadi suara pelan pun bisa terdengar.
"Hyuk Jae-sshi?"
Lee Hyuk Jae tersentak mendengar panggilan yang lebih pada teguran dari Dong Hae. Hyuk Jae dapat melihat raut bingung bercampur dengan khawatir diwajah Dong Hae.
"Ada apa? Apa ada kata yang membuatmu terganggu? Aku minta maaf. Ak-"
"Tidak, tidak apa-apa. Ne, jika memang bisa. Lain kali aku akan ke Jepang bersama Dong Hae-sshi. Melihat taman sakura."
Dong Hae sedikit lega melihat Hyuk Jae yang sudah kembali seperti biasa, meski tidak dipungkiri rasa ingin tahu menyelimuti Dong Hae.
Hyuk Jae melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. Sedikit memekik kaget karena melihat jam yang menunjukkan hampir pukul sepuluh.
"Kita pulang, Dong Hae-sshi. Kita akan sampai ke rumah larut sekali." Dong Hae tersadar, pantas tempat ini mulai sepi.
"Iya, ayo kita pulang."
Keduanya berjalan berdampingan, dan tanpa sadar Dong Hae menggapai jemari Hyuk Jae kemudian menggenggamnya. Mencoba untuk memberi kehangatan pada wanita yang dicintainya. Dong Hae sempat terkejut karena tidak ada penolakan dari Hyuk Jae. Malah wanita itu membalas genggaman tangan Dong Hae dengan erat. Dong Hae tersenyum, merasa senang dengan hari ini. Dan berharap kedepannya hubungannya dengan Hyuk Jae semakin baik.
..
..
..
06 Oktober, 2010.
Golden Apartment, No 216, Dae-gu.
Dong Hae tersenyum lemah penuh penyesalan pada wanita yang sedang duduk dikursi samping kiri kasurnya. Seorang wanita yang menatapnya tajam dengan bibir yang sedikit mengerucut. Membuatnya terlihat sedikit menakutkan dan lucu sekaligus.
"Mian." Ujar Dong Hae pelan.
"Apa kubilangkan? Kemarin sebaiknya kita pulang saja. Dong Hae-sshi tidak harus memaksakan diri. Kita bisa pergi kesana lain kali. Sekarang lihat? Dong Hae-sshi sakit dan ini semua karena aku yang mengajakmu kesana. Seharusnya aku memaksa Dong Hae-sshi untuk pulang, tidak perlu menuruti keinginan Dong Hae-sshi."
Dong Hae mentap takjub Hyuk Jae, ini adalah kali pertama Dong Hae mendengar Hyuk Jae berbicara panjang lebar kepadanya. Dan itu semua karena Hyuk Jae merasa khawatir padanya. Haruskah Dong Hae melompat sekarang? Rasanya bahagia sekali wanita yang dicintai olehmu mengkhawatirkanmu.
"Kenapa Dong Hae-sshi tertawa?"
"Hyuk Jae-sshi mengkhawatirkanku?"
"Tentu saja! Dong Hae-sshi demam tinggi. Membuat Lee ahjumma cemas. Membuatku merasa bersalah." Hyuk Jae memelankan suaranya pada saat kalimat terakhir. Pipinya sedikit merona saat sadar dirinya telah memberitahu Dong Hae secara gamblang bahwa dia mengkhawatirkan pria Jepang itu.
"Maafkan aku, Hyuk Jae-sshi." Ucap Dong Hae pelan.
Hyuk Jae hanya menghela napas, kemudia membenarkan letak selimut yang dipakai Dong Hae untuk menghalau rasa dingin dari tubuhnya. Tadi pagi, Hyuk Jae diberitahu oleh ibunya bahwa Dong Hae demam tinggi jadi tidak bisa menemaninya ke MFC School. Tentu saja hal itu membuat Hyuk Jae terkejut. Kekhawatiran Hyuk Jae menjadi kenyataan. Wanita itu tidak bisa menjenguk Dong Hae saat pagi karena harus pergi mengajar. Dia baru bisa kesini setelah jam 12, meninggalkan acara makan siang murid-muridnya. Saat kesini, Dong Hae sedang tidur dengan keadaan yang menyedihkan. Wajah pucat, tubuhnya terlihat mengigil tapi suhu tubuhnya tinggi. Benar-benar membuatnya khawatir.
"Jangan khawatir, aku pasti cepat sembuh."
"Jangan banyak bicara dulu. Sebaiknya kau istirahat saja."
"Tapi aku lapar, Hyuk Jae-sshi."
"Eh? Lapar? Baiklah, akan aku beritahu Lee ahjumma."
Hyuk Jae sudah akan berdiri, namun tangannya digenggam oleh Dong Hae membuatnya membatalkan niatnya.
"Ada apa?"
"Aku ingin makan buatan Hyuk Jae-sshi, seperti yang dulu."
Hyuk Jae mengerutkan keningnya, mencoba mengingat makanan mana yang dimaksud Dong Hae.
"Dakjuk.." ujar Dong Hae pelan.
"Ah, Dakjuk? Baiklah, Dong Hae-sshi istirahat saja dulu, ne? Aku akan membuat Dakjuk nya." Setelah melihat Dong Hae menganggukan kepalanya, Hyuk Jae berjalan keluar kamar Dong Hae.
Sedangkan Dong Hae hanya tersenyum. Sebenarnya, dia sedikit merutuk saat tadi pagi merasakan suhu tubuhnya yang mendadak tinggi tapi dia merasa kedinginan. Sangat kedinginan sampai harus menggunakan dua selimut untuk sekedar menghangatkan tubuhnya. Tapi, dia harus menarik semua rutukannya jika akhirnya akan seperti ini. Dijenguk oleh Hyuk Jae, dibuatkan Dakjuk lagi oleh Hyuk Jae. Ya Tuhan, baru kali ini dia bersyukur diberikan sakit seperti ini.
.
.
.
Hyuk Jae membuka perlahan pintu kamar Dong Hae saat diberitahu oleh Nyonya Lee bahwa Dong Hae kembali tidur. Tangannya membawa semangkuk Dakjuk yang masih hangat. Hyuk Jae duduk dan meletakkan mangkuk dakjuk di meja samping kiri kasur Dong Hae dengan hati-hati. Mencoba untuk tidak membuat Dong Hae terbangun. Tapi sepertinya itu sia-sia. Karena beberapa detik setelah Hyuk Jae meletakkan mangkuk itu, mata Dong Hae perlahan terbuka. Dua kali berkedip dengan perlahan, baru bisa memfokuskan pandangannya pada Hyuk Jae.
"Hyuk Jae-sshi." Suara yang serak terdengar oleh Hyuk Jae. Wanita itu menempelkan punggung tangannya ke kening Dong Hae, sedikit bersyukur panas nya sudah menurun.
"Mau minum dulu?" Dong Hae menangguk saja mendengar tawaran itu. Hyuk Jae membantu Dong Hae untuk mengubah posisinya menjadi duduk, bantal sengaja ditaruh dibelakang punggung Dong Hae oleh Hyuk Jae agar bisa membuat pria itu menjadi lebih nyaman. Tidak banyak bicara lagi, Hyuk Jae mengambil gelas dan memberikannya pada Dong Hae. Dong Hae hanya minum beberapa teguk, hanya untuk membuat tenggorokannya tidak terasa kering lagi.
"Sekarang, ayo makan buburnya." Ujar Hyuk Jae sambil menyuapkan satu sendok bubur pada Dong Hae. Dalam hati Dong Hae kembali bersyukur dengan sakit yang dialaminya hari ini, karena dia bisa menerima semua perhatian dari Lee Hyuk Jae.
Dakjuk telah sukses membuatnya merasa hangat, dan sedikit bertenaga. Dong Hae terkejut karena ada acar lobak yang dicampurkan dalam dakjuk itu. Tapi dia hanya mengangguk saja saat Hyuk Jae menerangkan bahwa dia sengaja mencampur acar lobak itu, hanya untuk membuat bubur ini terasa enak dimulut Dong Hae. Tidak membuat makanan ini menjadi pahit.
Selanjutnya menjadi waktu yang menjengkelkan bagi Dong Hae sekaligus bagi Lee Hyuk Jae. Dong Hae menyebut waktu itu sebagai penyiksaan bagi orang sakit karena dia dipaksa untuk meminum obat yang membuatnya hampir muntah itu. Sedangkan bagi Lee Hyuk Jae, wanita itu tidak menyangka jika Dong Hae akan menjadi sangat menyebalkan dengan sikap keras kepalanya itu. Hyuk Jae telah mengeluarkan segala bujuk rayu agar Dong Hae mau meminum obatnya, tapi Dong Hae tetap tidak mau membuka mulutnya. Bahkan Hyuk Jae dengan gamblangnya menyatakan bahwa Dong Hae lebih menyebalkan daripada Yoo Geun pada saat sakit. Jika Yoo Geun hanya akan sedikit merajuk pada saat akan meminum obatnya. Tapi Dong Hae? Akhirnya, Lee Hyuk Jae menggelengkan kepalanya kemudian meminta bantuan Nyonya Lee.
"Dia tidak mau meminum obatnya, ahjumma." Keluh Hyuk Jae dengan wajah yang terlihat frustasi itu. Nyonya Lee menghela napas kemudian melayangkan tatapan menegur pada Dong Hae. Pria itu hanya mengalihkan tatapannya agar tidak bertemu pandang dengan ibu nya ataupun dengan Lee Hyuk Jae.
"Dong Hae-"
"Tidak ibu, aku tidak mau"
"Berarti Dong Hae sudah tidak sayang lagi dengan ibu, ne? Hmm, jika ayahmu masih ada. Mungkin-"
"Ibu! Baiklah, baiklah, aku akan minum obatnya!"
Nyonya Lee tersenyum penuh kemenangan saat anaknya kembali mengalah. Sedangkan Dong Hae menatap sengit ibu nya. Dia akan selalu kalah jika ibu nya terus-menerus bersikap seperti tadi. Jadi waktu selanjutnya adalah meminum obat yang membuat Dong Hae benar-benar harus menahan mual agar tidak kembali memuntahkan apa yang baru saja dia makan.
"Benar-benar penyiksaan untuk orang sakit."
Nyonya Lee dan Lee Hyuk Jae hanya tertawa pelan mendengar suara ketus Dong Hae.
"Jangan tertawa! Kalian menyebalkan!" seru Dong Hae kemudian membaringkan tubuhnya dengan membelakangi ibunya dan Lee Hyuk Jae. Lebih baik tidur, pikirnya.
"Dia sudah tidur, ahjumma?" tanya Hyuk Jae heran dengan Dong Hae yang cepat tertidur.
"Semalaman dia tidak bisa tidur karena demam, jadi wajar kalau sekarang dia cepat tidur." Terang Nyonya Lee.
"Ini salahku." Gumam Hyuk Jae.
"Aniya, ini semua bukan salahmu. Dong Hae memang seperti itu. Tenang saja, kau lihat besok. Dong Hae akan kembali menjadi ekormu."
"Ekor?"
"Eum! Ekor yang akan mengikuti kemanapun kau pergi."
Hyuk Jae hanya bisa tertawa mendengar julukan Nyonya Lee pada anaknya sendiri. Ekor? Ekor yang mengikutinya kemana pun. Meski sedikit aneh, tapi Hyuk Jae menyukainya.
..
..
..
10 Oktober, 2010
Golden Apartement, Dae-gu, Seoul.
Dong Hae tersenyum menatap layar ponselnya yang menampilkan wallpaper Lee Hyuk Jae. Dalam foto itu ada Lee Hyuk Jae yang sedang mengenakan apron berwarna biru muda. Dengan sedikit tepung yang ada di pipi Hyuk Jae. Rambutnya terikat kebelakang dengan beberapa anak rambut yang menjuntai didahinya. Dong Hae mengambil foto itu pada saat ia sedang berkunjung ke apartemen Hyuk Jae kemarin lusa. Wanita itu sedang membuat kue sebagai permintaan maaf karena merasa telah membuat Dong Hae sakit. Meski Dong Hae menegaskan bahwa itu bukan salah Lee Hyuk Jae, wanita itu tetap merasa tidak enak. Jadi sebagai gantinya, dia membuatkan Dong Hae sebuah kue.
Kemudian, Dong Hae mengetikan sesuatu pada aplikasi pesan di ponselnya.
[To : Lee Hyuk Jae-sshi
Hyuk Jae-sshi, bisakah hari ini kita bertemu?]
Sebenarnya, Dong Hae sudah menahan rindu pada Lee Hyuk Jae. Karena setelah membuatkan kue. Hyuk Jae dan orang tuanya langsung bersiap-siap untuk pergi ke Seoul, mengunjungi sanak saudaranya. Begitu kata Lee Hyuk Jae. Dan kemarin malam, Hyuk Jae sudah kembali pulang. Untuk itu dia tidak ingin membuang waktu. Tapi, Dong Hae merasa ada yang berbeda dengan Nyonya Lee. Saat Nyonya Lee mengunjungi apartemennya untuk bertemu ibunya pagi-pagi sekali. Wanita paruh baya itu terlihat sangat lelah, pucat, dan matanya terlihat sangat sendu. Dong Hae tidak tahu ada apa. Dan semakin bingung lagi ketika terdengar tangisan dari dalam kamar ibunya. Dong Hae tahu itu bukan tangisan sang ibu, tapi tangisan Nyonya Lee. Hal itu membuat Dong Hae merasakan perasaan yang aneh, seperti ada sesuatu yang buruk sedang menimpa keluarga Hyuk Jae. Setelah Nyonya Lee pulang, Dong Hae langsung mencecar ibunya. Menanyakan ada apa dengan Nyonya Lee.
"Eum? Ada salah satu keluarga nya yang mengalami sakit parah." Itulah yang diucapkan sang ibu. Membuat Dong Hae tidak banyak bertanya lagi. Sedikitnya Dong Hae tahu alasan kenapa Nyonya Lee terlihat sedih. Itu wajar, pikirnya. Dia juga pasti akan seperti itu jika salah satu keluarganya menderita penyakit yang parah. Dong Hae hanya berharap itu tidak terjadi. Getaran diponselnya membuatnya terkejut. Segera dibuka pesan tersebut.
[From : Lee Hyuk Jae-sshi
Bertemu? Ada apa?]
Kali ini Dong Hae tidak lagi mengetik pesan balasan. Tapi langsung mencari nama Lee Hyuk Jae di kontak ponselnya. Setelah itu, Dong Hae langsung menghubungi Hyuk Jae. Tidak butuh waktu lama untuk menunggu karena Hyuk Jae langsung mengangkat telponnya begitu tersambung.
"Ne, Dong Hae-sshi?"
"Bisa kita bertemu? Ada hal yang ingin kukatakan padamu, Hyuk Jae-sshi."
"Bertemu? Aku ada diapartemen, Dong Hae-sshi bisa kesini langsung."
"Tapi ini sesuatu yang penting, Hyuk Jae-sshi. Bisakah kita pergi ke taman Palgongsan?"
"Haruskah?" Dong Hae menangguk tanpa sadar mendengar pertanyaan Hyuk Jae. Sesaat kemudian dia sadar bahwa anggukannya tidak akan terlihat oleh Hyuk Jae.
"Eum! Ini penting sekali, Hyuk Jae-sshi. Bisakah?"
"Hmm.. baiklah. Aku juga ada hal yang ingin kusampaikan pada Dong Hae-sshi."
"Oke! Sebentar lagi aku akan menjemputmu, Hyuk Jae-sshi." Setelah menerima balasan mengiyakan dari Hyuk Jae, Dong Hae langsung menutup telponnya. Dengan semangat, Dong Hae berjalan menuju kamarnya. Memilih pakaian terbaiknya. Sebenarnya, Dong Hae akan menyatakan perasaannya pada Hyuk Jae hari ini. Dia sudah mempersiapkan segalanya untuk hari ini. Dan ada perasaan yakin bahwa Lee Hyuk Jae akan menerimanya.
"Ah, kau memang tampan, Dong Hae." Dong Hae menatap puas penampilannya. Setelan kemeja berwarna hitam dengan jas putih dengan kancing yang sengaja tidak dipasangkan.
"Yosh! Ganbatte!" setelah menyemangati dirinya sendiri, Dong Hae bergegas pamit pada sang ibu. Dan langsung menuju apartemen Hyuk Jae.
Tidak butuh waktu yang lama Dong Hae menghabiskan waktu di apartemen Hyuk Jae. Meski pada awal, dia terpesona dengan penampilan Hyuk Jae. Gaun selutut berwarna putih dengan hiasan emas disekeliling pinggang, high heel berwarna putih berkilau terlihat seperti sepatu kaca Cinderella. Rambut lurusnya dibuat bergelombang dengan jepit rambut berbentuk bunga lily yang terpasang indah disisi kanan rambutnya. Setelah tersadar dari masa terpesonanya, Dong Hae langsung meminta izin pada orang tua Hyuk Jae untuk membawa Hyuk Jae ke taman Palgongsan.
..
..
..
Palgongsan Natural Park, Dae-gu, Seoul.
Lee Hyuk Jae dan Lee Dong Hae duduk di salah satu kursi yang ada dipinggir jalan taman Palgongsan. Keduanya telah memakai coat masing-masing karena suhu yang dingin membuat Hyuk Jae kembali cemas dengan Dong Hae. Tapi Dong Hae menegaskan bahwa dia tidak akan sakit. Meskipun suhu terasa dingin tapi sinar matahari membuat tubuh Dong Hae hangat. Dong Hae malah lebih mengkhawatirkan Hyuk Jae yang terlihat lebih pucat.
"Benar, Hyuk Jae-sshi tidak apa-apa?"
"Benar Dong Hae-sshi. Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah saja." Ungkap Hyuk Jae jujur.
"Ah, aku mendengar dari ibu kalau ada salah satu anggota keluarga Hyuk Jae-sshi yang sedang sakit ya?" Hyuk Jae sedikit tertegun mendengar perkataan Dong Hae, tapi sedetik kemudian wanita itu mengangguk.
"Ne, itulah kenapa aku sedikit lelah."
"Aku turut sedih. Semoga keluarga Hyuk Jae-sshi bisa kembali sehat." Harap Dong Hae tulus.
"Terima kasih."
Keduanya kembali terdiam, menatap daun-daun yang terlihat melayang turun. Terlepas dari rantingnya, meninggalkan tempatnya menuju tempat baru ditanah. Dong Hae sangat menyukai proses itu. Proses saat daun terpisah dengan rantingnya. Memang terlihat sedih, jika itu terjadi pada manusia. Meninggalkan tempat tinggalnya, meninggalkan semua orang. Tapi, meski terlihat menyedihkan, daun yang berguguran itu akan terlihat sangat indah saat berkumpul dengan daun-daun yang lain. Membuatnya terlihat seperti selimut berwarna coklat ataupun merah yang menutupi tanah.
Tidak lama setelah itu, datang seorang anak laki-laki yang kemudian berdiri dihadapan Lee Hyuk Jae dengan cengiran lebar yang menggemaskan. Anak laki-laki berusia 8 tahun itu tidak bicara apapun, hanya menatap Hyuk Jae dengan mata berbinar. Membuat Hyuk Jae terkejut sekaligus bingung.
"Adik kecil, ada apa?"
Anak laki-laki itu tidak menjawab. Dia terus menatap Lee Hyuk Jae dengan cengirannya.
"Apa ada sesuatu?" tanya Hyuk Jae lagi, anak laki-laki itu meresponnya dengan anggukan.
"Apa itu?"
Bukannya menjawab, anak laki-laki itu mengeluarkan beberapa karton berukuran sedang yang disusun berurutan. Anak laki-laki itu menunjukkan karton tersebut didepan Lee Hyuk Jae. Wanita itu semakin bingung dengan apa yang diperbuat anak laki-laki itu.
Setelah itu, anak laki-laki itu mengambil satu karton paling luar dan menempatkannya diurutan paling belakang. Karton tersebut menampilkan sebuah tulisan yang membuat Hyuk Jae mengangkat alis, heran.
[Lee Hyuk Jae-sshi.
Perhatikan baik-baik.]
Kalimat itu membuat Hyuk Jae memusatkan perhatiannya pada apa yang akan tertera di karton berikutnya. Dengan rentang waktu kira-kira 10 detik, anak laki-laki itu terus melakukan hal yang sama. Menempatkan karton paling depan ke paling belakang. Karton dengan tulisan yang berbeda, tulisan yang membuat Hyuk Jae sangat bahagia sekaligus sedih.
[Ada seorang pria yang menyukaimu.]
Hyuk Jae mengerutkan kening, terlihat seperti berpikir meskipun dia sudah yakin siapa orang itu.
[Pria yang mendapat julukan ekor dari ibunya.]
Hyuk Jae tertawa pelan mendapati kalimat tersebut.
[Pria yang Hyuk Jae-sshi acuhkan. Pria yang terus berbicara sendiri di bus.]
[Pria yang mencintaimu sejak pertama kali bertemu dengan Hyuk Jae-sshi.]
[Pria yang bertekad membuat Hyuk Jae-sshi mencintainya juga. Pria yang bersumpah untuk membuat Hyuk Jae-sshi selalu tertawa]
[Pria yang kini duduk disebelah Hyuk Jae-sshi]
Setelah karton terakhir, anak laki-laki itu berlari meninggalkan Hyuk Jae dan Dong Hae. Meninggalkan dua insan yang terdiam dengan pikirannya masing-masing. Dong Hae menatap Hyuk Jae yang terdiam dengan pandangan mengarah pada jalan didepannya. Jantung Dong Hae berdegup sangat kencang, bahkan tanpa sadar dia memegang dada kirinya sendiri. Kemudian menghela napas panjang, berusaha mengurangi rasa gugup yang melanda dirinya.
"Hyuk Jae-sshi, kau sudah bisa menebak apa yang selanjutnya terjadi kan?" ujar Dong Hae, Hyuk Jae masih terdiam tapi dengan perlahan wanita itu menatap Dong Hae. Menatap dengan tatapan yang sulit diartikan.
"M-mungkin memang terlalu cepat. Tapi, aku benar-benar menyukai Hyuk Jae-sshi. Sejak pertama kita bertemu, di apartemen mu. Sejak itu aku langsung jatuh cinta padamu, Hyuk Jae-sshi."
Hyuk Jae masih terdiam dengan menatap lurus Dong Hae.
"Hyuk Jae-sshi pasti terkejutkan? Maaf membuatmu kaget. Tapi, ini adalah perasaanku pada Hyuk Jae-sshi." Dong Hae mengambil napas sejenak, kemudian menggenggam kedua jemari Hyuk Jae. Menatap dalam Lee Hyuk Jae.
"Lee Hyuk Jae-sshi, saranghae. Jeongmal saranghaeyo." Ucapnya lugas, penuh keyakinan seorang pria yang mencintai wanita didepannya.
"Dong Hae-sshi, aku tid-"
"Hyuk Jae-sshi tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku akan memberi wak-"
"Tidak! Jangan memberi waktu padaku! Aku tidak bisa!"
Dong Hae terkejut dengan sentakan Hyuk Jae. Dong Hae bertambah kaget melihat ekspresi yang ditampilkan oleh wajah cantik Hyuk Jae. Ekspresi sedih, bimbang, dan penuh penyesalan terlihat diwajah cantiknya. Ada riak air di mata indahnya.
"Kenapa?" suara Dong Hae mendadak serak, tenggorokannya seperti tercekat oleh sesuatu.
"Aku tidak bisa! Aku tidak mencintai Dong Hae-sshi!" meski dengan air mata yang menggenangi mata indahnya, Lee Hyuk Jae berkata dengan penuh penekanan. Membuat Dong Hae merasakan sakit yang teramat dalam dihatinya.
"Selama ini, aku bersikap baik padamu karena aku kasihan. Kasihan melihatmu terus berusaha untuk mendekatiku." Lanjut Hyuk Jae.
"A-pa? Jangan berbohong Hyuk Jae-sshi." Dong Hae menggeleng tidak percaya dengan semua ucapan Lee Hyuk Jae.
Hyuk Jae tersenyum, sinis. "Berbohong? Kapan aku berbohong padamu, Dong Hae-sshi? Apa aku pernah mengatakan aku mencintaimu?"
Dong Hae semakin tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia tidak tahu apakah yang diucapkan Hyuk Jae benar atau bohong. Wanita didepannya benar-benar pintar menutupi semuanya.
"Tapi, semua yang telah kita lakukan. Kebersamaan yang telah kita jalani. Dan.. dan.. kau juga mengatakan bahwa kau.. menyukaiku.." semakin pelan, Dong Hae berbicara semakin pelan karena rasa ragu yang semakin besar. Keraguan atas apa yang sudah diyakini olehnya tentang perasaan Hyuk Jae padanya.
"Kau salah mengartikan semuanya, Dong Hae-sshi. Aku mengatakan bahwa aku menyukaimu karena, kau dengan gampang percaya bahwa aku mencintaimu. Kau orang yang sangat naïf, Dong Hae-sshi."
"Hyuk Jae-sshi.."
"Kau adalah pria terpolos yang pernah ku kenal. Tidak kah kau merasa aneh, Dong Hae-sshi? Berubahnya sikapku padamu? Bagaimana mungkin seseorang yang selalu mendiamkanmu, tiba-tiba bersikap hangat padamu. Tiba-tiba selalu berada didekatmu."
"A-aku pikir, Hyuk Jae-sshi memang ingin berubah dan mencoba untuk menerimaku."
Dong Hae mengerutkan keningnya saat mendengar tawa Hyuk Jae. Menertawakannya.
"Lihat? Kau memang terlalu polos, Dong Hae-sshi. Aku ingin berubah? Mencoba menerimamu?" Hyuk Jae menghela napas untuk mencegah keluarnya sebuah tawa. Kemudian matanya menatap tajam Dong Hae.
"Sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Aku sama sekali tidak tertarik dengan pria sepertimu. Aku malah membencimu. Karena itu aku tidak mau berbicara denganmu, apalagi untuk melihatmu. Kau tahu kenapa aku melakukan perubahan ini? Karena ibuku yang memaksa. Dia memaksaku untuk lebih bersikap baik padamu. Padahal aku? Aku benar-benar terganggu dengan semua sikapmu. Kau, begitu cerewet, mengikuti kemanapun aku pergi. Tidak kah menurutmu hal itu sangat mengganggu?"
Dong Hae hanya terdiam mendengar semua penjelasan menyakitkan dari Hyuk Jae. Ya, Dong Hae benar-benar merasakan sakit yang tidak berujung dihatinya. Sakitnya seperti ditusuk oleh ribuan pedang. Bahkan melebihi itu, sampai Dong Hae tidak tahu harus mendeskripsikan seberapa sakit yang diterimanya.
"Hyuk Jae-ah?"
Dong Hae mendongak mendengar suara itu. Dia melihat seorang pria bertubuh tegap seusia dengannya berdiri disamping Lee Hyuk Jae. Entah kapan pria itu datang, Dong Hae tidak menyadarinya. Pria dengan mata bulat yang memakai jaket biru menutupi sweater coklat, celana jeans menutupi kakinya dengan sepatu sneakers yang dipakainya. Lee Hyuk Jae tersenyum senang melihat pria itu. Wanita itu langsung berdiri dan menggandeng lengan kiri pria itu. Dong Hae ikut berdiri dengan perasaan yang semakin kacau. Ada perasaan tidak enak melingkupi hatinya tentang keberadaan pria ini.
"Jung Woo oppa, akhirnya kau datang juga. Aku sudah lama menunggumu.." ujar Hyuk Jae senang.
"Mianhae, aku hanya ingin memberi kalian waktu. Sekarang sudah selesai kan?" Hyuk Jae hanya mengangguk menjawab pertanyaan Jung Woo. Keduanya berbalik hendak meninggalkan Dong Hae, tapi Hyuk Jae berhenti.
"Ah, aku lupa mengenalkan oppa pada tetangga apartemenku." Ujarnya pelan.
"Dong Hae-sshi, perkenalkan ini Jung Woo oppa, kekasihku."
Dong Hae menatap kosong Hyuk Jae. Dia tidak mempedulikan pria bernama Jung Woo yang sedang memperkenalkan dirinya. Dia tidak mempedulikan Hyuk Jae yang pamit padanya dan melenggang pergi dengan pria bernama Lee Woo itu. Hati dan pikirannya terasa kebas. Dia seakan kehilangan kontrol akan kesadarannya. Dia tidak lagi mampu memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dong Hae jatuh terduduk begitu saja, kedua kakinya terasa lemas. Dia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi sekarang. Kenapa Hyuk Jae bisa seperti itu? Pria itu seolah sedang menampik kenyataan yang baru saja dia terima. Hyuk Jae berbohong padanya. Hyuk Jae mempermainkannya. Tidak, Dong Hae yang terlalu mudah untuk dipermainkan oleh Hyuk Jae. Dong Hae bahkan tidak sadar bahwa sedari tadi, air matanya telah sukses membasahi kedua pipinya. Air mata yang menjadi tanda bahwa dia benar-benar terluka oleh sikap Hyuk Jae. Bagaimana mungkin Hyuk Jae begitu tega melakukan ini padanya? Setelah semua kenangan yang terasa membahagiakan dilalui oleh mereka, kenapa Hyuk Jae melakukan ini padanya? Apa salahnya?
"Hyung?"
Dong Hae membutuhkan waktu lebih lama untuk merespon panggilan itu. Tidak menjawab, pria itu hanya menatap anak laki-laki yang memanggilnya. Anak laki-laki yang telah membantunya tadi.
"Hyung wae? Gwenchana? Kenapa menangis?"
Dong Hae hanya menggeleng menjawab pertanyaan anak laki-laki itu. Dong Hae mengusap kasar air matanya, kemudian mencoba tersenyum pada anak laki-laki itu. Mencoba meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.
"Hyung tidak apa-apa. Terima kasih sudah membantu hyung." Anak laki-laki itu hanya mengangguk saja. Dia tidak mengerti kenapa Dong Hae mengatakan tidak apa-apa tapi dengan wajah seperti itu.
"Ah, ini. Sesuai janji hyung tadi. Belilah makanan kesukaanmu dengan ini." Lanjut Dong Hae sambil memberikan sejumlah uang sesuai dengan perjanjian tadi. Memberikan hadiah pada anak laki-laki itu karena sudah mau membantunya.
"Gomawo hyung.." ungkap anak laki-laki itu setelah menerima uang dari Dong Hae. Tidak langsung pergi, anak laki-laki itu memberikan pelukan pada Dong Hae.
"Aku tidak tahu kenapa, tapi hyung terlihat sangat sedih. Apa noona tadi yang membuat hyung menangis?" Dong Hae hanya mengangguk saja.
"Noona tadi jahat pada hyung ya? Tapi, jika hyung sedih jangan berbohong dan mengatakan hyung tidak apa-apa. Jika hyung ingin menangis, menangis saja. Appa juga sering menangis jika sedang ingat ibu yang ada di surga." Setelah mengatakan hal itu, anak laki-laki itu melepas pelukannya dan memberikan senyuman terbaiknya pada Dong Hae sambil pamit pergi karena sudah ditunggu oleh ayahnya.
Dong Hae menatap kepergian anak itu. Melihat kepergian anak itu dalam gendongan sang ayah, membuat air mata Dong Hae kembali mengalir. Dia juga merindukan ayahnya, apalagi dalam keadaan seperti ini. Dulu, saat sang ayah masih ada. Jika Dong Hae merasa sedang kesulitan atau ada yang mengganggunya, Dong Hae pasti akan menceritakan semuanya pada ayahnya, mencari perlindungan dari ayahnya.
Dong Hae menatap langit biru yang bersih tanpa awan.
Ayah, apa kau melihatnya? Ada yang menyakiti anakmu. Aku harus bagaimana, ayah?
.
.
.
Nyonya Lee menatap pintu apartemen yang terbuka perlahan sore itu. Kemudian matanya menyipit saat melihat siapa yang datang. Anaknya, Dong Hae sudah pulang. Tapi ada yang berbeda dengan anaknya itu. Wajahnya terlihat pucat, tapi bukan sakit. Matanya terlihat sendu dengan wajah yang menyiratkan bahwa dia sedang terluka. Dong Hae berjalan pelan menuju ruang tengah, dimana sang ibu sedang berdiri memperhatikannya.
"Ibu.." ujarnya pelan seperti sudah tidak ada lagi semangat yang ada dalam dirinya.
"Dong Hae, ada apa sayang?" tanya Nyonya Lee sambil mengelus pelan pipi kanan Dong Hae. Nyonya Lee tahu ada yang tidak beres. Dan ini pasti berhubungan dengan Hyuk Jae.
"Aku.." Dong Hae tidak tahu bagaimana menjelaskan semua kejadian tadi pada ibunya. Suaranya tercekat saat ingin mengatakan semuanya. Dong Hae hanya menatap sang ibu dengan air mata yang kembali menghiasi matanya.
Nyonya Lee tidak banyak bicara, wanita paruh baya itu langsung mendekap sang anak dengan erat. Berusaha menyalurkan perasaan sayangnya pada Dong Hae. Tangannya mengusap perlahan punggung Dong Hae dan membawa anaknya untuk duduk sambil tetap memeluknya. Menerima pelukan erat dari sang ibu, membuat Dong Hae tidak bisa lagi memahan air matanya. Pria itu menangis begitu keras dipelukan sang ibu. Biarlah, biarlah dia menangis sepuasnya dipelukan ibunya. Menangisi kebodohannya yang dengan mudah tertipu oleh Hyuk Jae. Menangisi kebodohannya yang dengan gampangnya mencintai wanita itu. Menangisi kebodohannya yang dengan yakin bahwa Hyuk Jae juga mencintainya.
Dong Hae masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Dia benar-benar seperti orang paling bodoh di dunia. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi padanya? Cinta pertamanya yang membuatnya sakit teramat dalam. Setelah puas menangis, dia menceritakan semua yang terjadi pada ibunya. Nyonya Lee hanya diam dan menggenggam jemari Dong Hae yang terasa dingin. Nyonya Lee tentu sakit melihat anaknya seperti ini, tapi ada hal yang lebih menyakitkan hatinya mengenai Dong Hae dan Lee Hyuk Jae. Sesuatu yang akan membuat anaknya kembali terluka, bahkan lebih dari ini. Sesuatu yang tidak bisa dikatakan langsung olehnya. Wanita paruh baya itu hanya berharap agar, saat Dong Hae mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Dia ingin Dong Hae menerimanya dengan tegar.
TBC
