Naruto milik Masashi Kisimoto

Story by Me

Inspirated from The Heirs

WARNING

Typo's bertebaran . Alur berantakan . OOC . Banyak dll

Don't like don't read.

Chapter 4

Begin


.

"Gara-gara kau kita jadi ketinggalan bisnya tuan rubah pirang" Sakura memajukan bibirnya pertanda cemberut kedua tangannya bersidekap didepan dada.

"Kenapa kau menyalahkanku terus nona merah muda. Akukan sudah bilang aku tidak tau kalo bis itu yang terakhir,lagipula bisnya berbeda dengan yang kita tumpangi tadi" Naruto yang disini menjadi tersangka menjadi sasaran amuk Sakura, tak henti-hentinya menjelaskan perihal bis yang terakhir tadi. Mungkin hari sial bagi keduanya bis terakhirnya malah melaju begitu saja karena Naruto tidak mencegatnya.

Jadilah mereka kini beriringan di trotoar jalan yang sisinya banyak ditumbuhi pohon mapel tua ditengah kehidupan malam kota Konoha.

"Ayolah kita naik taxi" Naruto terus merajuk.

"Tidak mau"

"Apa kau tidak kedinginan?"

"Maaf tuan rubah, jika kau lelah karena tidak terbiasa berjalan kaki dan kedinginan kenapa tidak daritadi saja kau naik taxi?" cecar Sakura karena sekarang ia sudah mulai kesal dengan Naruto.

Naruto sampai menunggunya ketika pulang bekerja tadi. Naruto berdalih ia harus pulang bersama Sakura lagi karena ia takut tersesat dan nyatanya itu hanya akal bulus pemuda rubah ini. Ck.

"Bukannya begitu,kalau boleh aku tau kenapa kau tidak naik taxi saja dan kau sering berjalan seperti ini malam-malam?" tanya Naruto berhati-hati. Ia menunggu reaksi dari Sakura takut-takut Sakura malah tersinggung karenanya.

"Kau tahu ongkos taxi itu bisa sepuluh kali lipat dari tarif bis. Lebih baik aku membelikannya untuk makan, lagipula dengan kediamanku sekarang ini jadi tidak terlalu jauh tidak sampai 40 menit dan kita sudah sampai" Naruto mendengarkan setiap kata yang terucap dibibir mungil Sakura.

Entahlah ada yang tidak beres dengan kendali otaknya ini, seperti saat ini ia enggan untuk membiarkan Sakura pulang sendiri.

"Akukan sudah bilang, biar aku yang membayar taxinya" Sakura menoleh cepat.

"Tidak bisa. Kau simpan saja untuk kau tabungkan"

"Apa? Tabungkan?" Naruto mengernyit bingung mendengarnya. Pasalnya uang sebesar ongkos taxi itu sangat tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan uang saku yang ia miliki.

"Iya menabung. Aku selalu bisa membelikan Ibu Kimono baru untuk merayakan festival hanami dengan uang tabunganku" ucap Sakura girang.

Naruto tertegun.

'Menabung untuk kimono?'

Ia bahkan bisa membeli dengan butiknya sekaligus.

"Apa? Apa yang kau lihat" Sakura memandang Naruto heran.

"T-tidak. Ehehe tidak kok" Naruto menggaruk lehernya yang tidak gatal. Suasana berubah menjadi canggung sekarang.

"Sudah sampai" seru Sakura didepan sebuah gang besar menanjak menuju kebelakang perkarangan rumah Uzumaki.

Entah Naruto merasa kecewa karena kenapa tidak berjam-jam saja berjalan kakinya. Tsk!

"Dimana rumahmu?"

"Ha.. O-oh itu. Disana. Rumahku disana" seketika Naruto menjadi gelagapan. Ia menunjuk kearah berlawanan dengan rumah yang sebenarnya.

Sakura mengangguk.

"Oh disana. Ya sudah sampai jumpa"

"Selamat malam paman Kaeru" sayup-sayup terdengar suara Sakura yang menyapa salah satu ajudan yang bertugas menjaga pintu gerbang belakang rumah Uzumaki.

Seperti biasa. Naruto memutar arah menuju kedepan gerbang utama.

~o0o~

Pukul 06.20 a.m

"Hey kawan. Cepat bangun"

"Menyingkirlah Kiba"

"Kenapa kau jahat sekali. Aku merindukanmu dan kau tidak memberitahuku kepulanganmu. Kalau ibumu tidak menelpon menanyakan keberadaanmu semalam kepadaku. Mungkin aku tidak akan tau"

Naruto bangkit dari acara tidur tampannya karena gangguan dari sahabatnya ini.

"Ck. Berisik sekali. Tidak pernah berubah"

"Yahoo.. hari inikita akan mengulang sejarah baru lagi kawan. Cepat mandi"

Naruto hanya memperlihatkan wajah meringis.

Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Naruto segera turun untuk sarapan bersama keluarga dan juga seorang 'penumpang' lainnya sebut saja Kiba. Naruto menuruni undakan tangga dan terdengar pekikkan nyaring dari ibunya.

"Kyaaa~ kau tampan sekali memakai seragam KIS Naru-kun bahkan pangeran Harry pun tidak ada apa-apanya."

Kiba sweetdrop.

"Ayolah bibi Kushina aku juga sangat tampan"

Kushina tidak menghiraukan kicauan Kiba dan tetap merapikan kerah serta dasi seragam Naruto.

"Sudah Ibu" Naruto terlihat seperti anak TK yang baru memulai kehidupan barunya disekolah sekarang. Poor you.

"Makan yang banyak ya" Kushina menyodorkan dua buah roti yang sudah dipanggang dan di oles sedikit margarin dan juga slai kacang kepada Naruto.

Naruto menoleh kearah Kiba yang menahan tawanya sekarang.

Uhukk..uhhukk

"Air..Naruto ..air"

Giliran Naruto dan Kushina sekarang yang tergelak.

.

.

Naruto dan Kiba sekarang beranjak keluar Kiba menutup pintu putih yang berukiran mewah itu. Naruto menengok kearah kiri dan disana Sakura dengan seragam blezer hitam dan rok lipit yang senada dengan blezernya sedang terlihat buru-buru dan menggumamkan sesuatu yang ia tidak ketahui.

' dia terlambat ' Naruto menggumam pelan.

"Kau mengatakan sesuatu Naruto?" tanya Kiba heran. Syukurlah sepertinya Kiba tidak melihat keberadaan Sakura barusan.

Bukannya menjawab Naruto bergegas menuju garasi dan berseru kepada Genma yang sudah stand by dengan mobil hitam mewahnya.

"Kiba kau duluan saja. Aku ada keperluan. Genma-san tolong antarkan Kiba yah"

"Baik tuan muda"

"H-hey memangnya kau mau kemana. Aku ikut denganmu"

Terlambat.

Naruto sudah terlebih dahulu meluncur dengan motor ducati besarnya yang berwarna hitam metalik.

"Ck. Anak itu..."

.

.

"Terlambat..terlambat..terlambat. aduuuhh kenapa aku bisa terlambat bangun. Ibu juga. Hahh"

Sakura berjalan cepat menuju halte seraya menggerutu merutuki dirinya yang bisa-bisanya telat terbangun. Padahal jam pertama akan diadakan kuis.

"Perlu tumpangan nona?"

Sakura terkaget dan segera menoleh kekanan dimana ada Naruto dan motor besarnya disana. Well kelihatan keren,pikir Sakura.

"Kau sekolah di KIS? Ah tidak perlu pasti nanti kau juga akan terlambat" ucap Sakura sesekali kepala pinknya menoleh kejalan melihat bis yang akan lewat.

"Ck. Tidak akan. Cepat jangan keras kepala. Aku tidak akan menarifmu seperti taxi" Naruto menarik tangan mungil Sakura menuju belakang jok motornya.

"Baiklah. Tapi jangan nge-KYAAAA

Naruto meluncurkan motornya sangat cepat. Poor Sakura.

10 menit kemudian..

Ckttt..

Sakura masih terdiam dengan kedua tangannya yang setia memeluk perut Naruto. Kedua matanya masih terpejam.

"Hey Sakura kau tidak apa-apa? Atau kau ingin memelukku lebih lama ya, baiklah aku tidak keberatan"

Perlahan Sakura turun. Wajahnya pucat pasi bak kehilangan darah.

Dan..

DUAKK!

"Baka. Baka. Baka. Dasar rubah pirang. Rasakan ini"

Sakura 'menyerang' Naruto dengan ranselnya. Dan malang bagimu Naruto didalam ranselnya itu terdapat kamus tebal yang sangat nikmat bila mengenai tubuhmu. Ck.

"Aw. Hey hentikan Sakura.. aku minta maaf . Aw"

Aksi mereka kini menjadi pusat perhatian. Sakura yang menyadari itu segera memasang wajah garang dan berbalik melangkah kedalam gedung sekolah KHS.

Sesuatu yang kekar menarik sebelah tangan mungilnya.

Cup

Sakura berbalik dan sesuatu yang dingin menyentuh permukaan pipinya yang merona karena aksinya tadi.

Para gadis yang menonton tak kalah memerah dan pekikkan para gadis juga membuyarkan semuanya.

"Itu tanda permintaan maafku. Jaa nee"

Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia bahkan tidak menyadari Naruto yang sudah pergi dari hadapannya.

Brrrmm .. Naruto menghilang secepat kilat bersama senyuman yang terus melekat diparas wajah tampannya. Dasar Uzumaki.

.

.

'Benarkah...'

'Aku tidak sabar melihatnya..'

'Mungkin sekarang lebih tampan dari dulu..'

'Kyaaa...

Tidak ada yang berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya di sekolahan elit itu. Hanya pekikkan para gadis yang bergerombol didepan halaman sekolah dan berita panas sejak dua hari yang lalu. Bukan rahasia lagi bahwa kedatangan putra bungsu pemilik 75% dari saham sekolahan elit ini telah pulang ke Jepang dan akan hadir disini beberapa menit lagi. Oh tidak tapi beberapa detik lagi.

"Minggir kalian semua. Jangan halangi jalanku"

Seketika gerombolan gadis terbelah dan memberi jalan kepada tiga orang gadis dengan berbeda surai tersebut. Shion nama gadis bersurai pirang kecoklatan yang memberi perintah tersebut berjalan dengan dada yang membusung dagu terangkat dan dan rok pendek-ketara pendek. Diiringi Karin serta Kin dikanan dan dikirinya.

Karin yang berambut merah mencolok dan Kin berambut coklat tak ubahnya seperti Shion.

"Hi Kiba lihatlah tiga ratu KIS. Habislah Naruto" Shikamaru menguap lebar dari jendela yang berada dikelas lantai dua.

"Ya ya ya ..aku pastikan Naruto tidak akan sampai disini dalam lima menit" Kiba tergelak.

"Mendokusai"

"Pertunjukan akan segera dimulai.."

Naruto datang dengan motor besarnya. Tak ayal pekikan para gadis menggema.

Naruto POV.

Aku menghela nafas frustasi saat aku turun dari motor. Penyambutan yang berlebihan dan membuatku risih. Bisa tidak mereka 'para gadis' diam dan biarkan aku masuk kekelas dengan damai. Tidak mungkin. Aku berdecak dalam hati. Sedikit merapikan baju aku segera berjalan menuju ruangan kepala sekolah. Tapi ini sungguh tidak mudah.

"Selamat datang Naruto-kun"

Tuh kan.

Dia Shion. Rasanya entahlah, aku mengatakan ini didalam hati. Lebih baik jika aku tidak bertemu dengannya saat ini. Dia tersenyum cerah kepadaku dan tanpa seijinku dia menggandeng tangan kiriku. Ugh benar-benar risih.

"Senang rasanya kau kembali. Aku sangat merindukanmu" ujarnya dengan sangat manja. Berbeda sekali dengan seseorang yang baru-baru ini aku kecup pipinya. Ck mengingat itu aku jadi segera ingin bertemu dengannya. Aku berusaha mencoba melepaskan tanganku darinya.

"Maaf Shion aku harus menemui kepala sekolah sekarang. Terimakasih atas sambutannya" aku tersenyum sekilas biarlah toh aku akan segera lepas darinya.

"Naruto-kun !"

Aku mempercepat jalanku.

"Selamat datang kembali kawan lama!"

Aku menoleh kearah sumber suara. Ternyata dia. Seorang yang aku tidak ingin menemuinya setelah Shion. Percayalah bukannya ia bersikap manja dan risih kepadaku. Ck yang benar saja. Sebut saja dia rivalku. Kami bersahabat lalu kami memiliki konflik. Mantan sahabat itu simpelnya. Sabaku Gaara.

"Sabaku .. Senang bertemu denganmu" ucapku setenang mungkin.

"Hn.. Uzumaki. Ini akan jadi sangat menyenangkan"

"Kau berfikir begitu? Aku juga berfikir seperti itu. Kawan". Seringaian tercetak jelas diwajahku. Tatapan Gaara menajam. Jujur saja didalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku merindukan sosok Gaara yang masih menyandang status sebagai sahabat baikku. Hn andai saja...

Aku segera berlalu dari hadapannya karena entahlah apa yang akan terjadi jika aku meneruskan acara perbincangan antar 'sahabat lama' ini.

Aku merasakan tatapan tajam menusuk punggungku.

Naruto POV. End

~o0o~

"Bagaimana menurutmu Bi?"

Mebuki terlihat berpikir sejenak. Ini antara bahagia dan juga kebingungan disaat bersamaan.

Pagi ini ia menemani Kushina berbelanja dipusat perbelanjaan terbesar di Konoha.

Tapi bukan itu yang membuat Mebuki kebingungan tiada tara, namun hal yang sedang dibicarakanlah yg membuatnya seperti itu. Ini mengenai Sakura.

Sekarang ditengah-tengah meja makan yang mereka tempati sekarang ada sebuah amplop coklat. Mebuki membuka perlahan dengan mimik muka yang sulit diartikan. Kushina menunggu dengan kedua tangan disatukan didepan wajah.

"Sakura pasti senang Bibi, percayalah"

"A-aku tidak tahu Nyonya. Ini benar-benar seperti mimpi"

"Ck. Jangan berlebihan Bi, ini hanya sebuah pengajuan dan persetujuan dari dewan sekolah. Ah aku juga tidak percaya ini akan berlangsung cepat kau tahu aku kira Sakura memiliki nilai yang cukup bagus"

"Iya dia memang sangat bersemangat jika sedang belajar" Mebuki menimpali dengan senyuman ramahnya.

"Seharusnya Naruto belajar dari Sakura. Anak itu hanya unggul dibidang olahraga dan bisnis saja. Itu tidak seimbang" ujar Kushina setengah berbisik. Mebuki hanya tertawa kecil menanggapinya.

"Terimakasih Nyonya. Arigatou".

~o0o~

Sakura POV.

" SEKALI LAGI. PANGGILAN KEPADA HARUNO SAKURA SISWI KELAS XI-1 HARAP MENEMUI KEPALA SEKOLAH SEKARANG"

Ternyata aku tidak salah dengar.

Pengumuman via speaker itu memanggilku. Semua siswa yang ada dikelas menoleh kearahku. Aku bangkit dan meminta ijin kepada Kuro-sensei untuk menemui kepala sekolah sekarang. Dalam benakku aku banyak bertanya, apa yang akan disampaikan kepala sekolah yah?. Nanti juga bakal tau.

Ruangan kepala sekolah terbuka sejak aku datang tadi. Tobirama-Sama sudah melihatku dan ia tersenyum sekilas serta menyuruhku untuk masuk dan duduk berhadapan dengannya.

"Haruno Sakura"

"Ah iya Tobirama-Sama"

"Ini hari keberuntunganmu. Aku ingin kau yang memeriksanya sendiri"

Alisku menukik heran. Aku membuka amplop coklat tersebut. Mataku membola tatkala aku membaca bait demi bait kata yang tercetak didua lembar kertas hvs yang saat ini sedang aku pegang. Tanganku sedikit bergetar sekarang. Biar aku jelaskan.

Kertas yang aku baca ini mengenai sesuatu hal yang besar dalam hidupku. Ini mimpiku sejak sekolah menengah dulu. Mimpi ketika aku lulus SMP dan aku masuk di sekolahan bergengsi KIS. Apa yang terjadi saat ini. Entahlah.

"Kau bebas menentukan Haruno-san"

Aku sangat senang. Benar-benar senang. Ya ampun kalo aku tidak punya malu aku ingin sekali berteriak dan melompat-lompat saking senangnya. Tapi sekarang masalahnya Tobirama-Sama ada dihadapanku. Dan berbanding terbalik dengan rasa senang yang amat membuncah ada perasaan yang mengganjal dalam benakku. Tidakkah sekolahan elit itu memerlukan biaya elit juga?meskipun beasiswa tetap saja kan. Ugh!

"Aku hanya menyarankan, ini kesempatan yang sangat bagus. Sekolah mereka tidak menyeleksi sembarangan siswa. Kau punya kemampuan itu dan kau layak tercatat sebagai siswi disekolah terbaik seperti KIS. Berjuanglah"

"Ha'i Tobirama-sama. Aku tidak akan pernah melupakan jasa semua sensei disini. KHS tetap sekolah terbaik untukku"

Setelah aku keluar dari ruangan Tobirama-sama ternyata bel istirahat sudah berbunyi. Aku menemukan Sesame yang menungguku diluar.

"Sesame ?"

"Sakura-chan"

Dia emanggilku dengan suara yang teramat lirih. Ada apa dengannya.

"Kau baik-baik saja?" tanyaku khawatir.

"Kau benar-benar akan meninggalkanku sekarang" ucapnya sedih. Oh jadi ini penyebabnya,Sesame mengetahui mengenai hal beasiswa itu.

"Aku tidak akan meninggalkanmu Sesame"

"Tapi kau akan pindah sekolah"

"Jadi jika aku pindah sekolah kau berpikir aku akan meninggalkanmu? Tentu saja tidak Sesame-chan. Kau sahabatku selamanya akan menjadi sahabatku. Berbeda sekolah bukan suatu alasan kau bisa datang padaku kapanpun kau mau begitu juga denganku" aku berusaha meyakinkan sahabatku ini. Aku dan Sesame sudah mempunyai ikatan persahabatan sejak sekolah dasar. Wajar saja bila ini akan menjadi momen yang tidak ingin kami impikan.

"Kau benar Sakura-chan. Maafkan aku,aku egois aku hanya tidak ingin kehilangan sahabat sepertimu Sakura-chan. Aku turut senang atas beasiswamu itu"

"Tidak apa. Tidak perlu meminta maaf, aku sungguh sangat mengerti perasaanmu. Terimakasih Sesame-chan"

Dan drama mengharukan ini berakhir dengan saling berpelukan.

~o0o~

Naruto memasuki kelas VI-A dengan santai. Shion berdiri diambang pintu dan hendak mengatakan sesuatu kepada Naruto tetapi Naruto seperti ingin menjauh darinya membuat Shion menjadi kesal. Naruto tidak memperkenalkan dirinya dikelas karena sebenarnya hampir semua teman sekelasnya itu mengenalnya. Mereka satu kelas dengan Naruto saat kelas satu SMP.

Naruto disambut pelukan singkat dari Shikamaru sesampainya ia dikelas.

"Hi kawan. Kau tertidur? Sampai-sampai tidak menyambutku seperti para gadis didepan sana"

Kiba tertawa keras.

"Merepotkan.."

"Well aku merindukan suara dengkuranmu genius pemalas"

Shikamaru hanya menguap. Kiba dan Naruto sweetdrop.

"Kelas begitu membosankan bahkan disaat aku baru akan memulainya. Kemana sensei kita ?"

Kiba dan Shikamaru hanya mengangkat bahu. Aku lihat Sikamaru menundukan kepala dengan kedua lengan sebagai bantalan siap-siap berselancar kedunia mimpinya. Yang aku herankan, Shikamaru tidak berubah selama 4 tahun ini. Hoby tidur otak genius. Dia juga ketua murid dikelas ini. Sedangkan Kiba kembali berkutat dengan gadget ditangannya. Sebagian gadis ada yang pura-pura menjatuhkan pensil didekat Naruto. Ada yang cekikikan dan ada yang terang-terangan membicarakan 'ehem' ketampanan dari bungsu Uzumaki itu.

"Dia tidak melihatmu Shion" gadis berambut coklat pirang berujar.

"Tidak. Tapi belum, Kin" Shion membalas.

"Oke. Kau ratu disini. Semua akan tunduk kepadamu. Ck" giliran Karin sekarang yang menimpali.

"Hm kau benar Karin. Naruto belum benar-benar melihatku. Dia milikku" Shion menyeringai.

~o0o~

Sakura pov.

Hari ini aku akan meminta ijin kepada paman Akimichi untuk tidak masuk bekerja lagi. Banyak yang harus aku lakukan untuk kepindahanku ke KIS. Aku tidak sabar ingin menunjukan isi amplop coklat ini kepada Kaa-san. Aku berjalan dari halte menuju kekediaman Uzumaki tapi seperti biasa aku akan memutar kearah belakang. Aku hampir sampai digerbang utama dan sebuah motor hitam besar dengan seorang pria bersurai kuning jabrik yang mengendarainya 'Naruto?' gumamku pelan.

"Ada apa dia disini? Dia masuk begitu saja kedalam rumah tanpa mengucapkan apapun kepada penjaga? Apa dia teman dari anak Nyonya Kushina? Hm mungkin" aku mengangguk kepada diriku sendiri.

Aku berjalan melewati gerbang utama menuju pintu gerbang diperkarangan belakang. Segera saja aku masuk untuk menemui Kaa-san. Saat aku berada dikamar, Kaa-san tidak ada. Mungkin sedang didapur. Aku berjalan sesuai instingku menuju dapur.

Srekkk. Aku membuka pintu geser didapur dan aku kaget melihat Naruto sedang minum masih dengan seragam KIS nya dan ia menoleh kearahku. Ia terlihat seperti sedang tertangkap basah mencuri, wajahnya pucat dengan wajah yang terkejut.

"Apa yang kau lakukan disini Naruto? Apa kau sangat dekat dengan putra bungsu dari Nyonya Kushina sampai-sampai rumah ini seperti rumahmu saja" aku bertanya dengan polosnya. Dan aku tidak salah lihat, Naruto menghembuskan nafas lega.

"I-iya. Aku berteman baik dengannya Sakura. Oh jadi kau benar-benar tinggal disini?" aku mengangguk faham.

"Akukan sudah bilang kau salah faham jika menganggap aku benar-benar tinggal disi-

"Kau disini rupanya Naru-kun. Kenapa Ibu tidak tahu kalo kau sudah pulang ya. Eh, ada Saki-chan ternyata" Nyonya Kushina datang dan memeluk Naruto.

"Ibu?" gumamku pelan.

Tbc..


Balasan Riview

Guest iyaaa ..tapi riri gak janjiin apapun karena cerita bisa berubah-ubah. Maklum riri itu labil :3
.

29-san ( gomen riri lupa) baik^^

uzumakievi Hallo ^^ kita udah ngobrol cantik di fb tadi yah. Terimakasiiihh

Zack Terimakasih banyak Z-san . Ini readers yg sangat teliti riri terimakasih banyak.

Ae Hatake Hallo^^ terimakasih banyak udah mampir terus riri senang :D orang ketiga? itu dia yg riri suka :D

Guest007 riri udah cantumin diawal fic if this fic inspirated from The Heirs^^ terimakasih minna

ara dipa Siap . Terimakasih banyak ^^

SR not AUTHOR Coba minna baca dari awal aku udah nyantumin bahwa fic ini memang terinspirasi dari the heirs. Makasih banyak udah mampir dan satu lagi mengenai Nagato mungkin saja dia sedang bisnis jualan seblak di konoha.

Pokoknya riri ucapin terimakasih banyaaakkk sekali atas dukungannya dan juga yg udah ngeFavs and Follow .