disclamer: mashasi kishimoto

rate: T semi M (mungkin)

fair: naruhina


chapter 4

Di sebuah hutan yang nampak tenang dengan pepohonannya yang rimbun tiba-tiba saja terdengar sebuah suara kecil yang membuat ketenangan dihutan itu agak berkurang. Suara itu terdengar mirip dengan percikan listrik yang terjadi ketika suatu kabel bertegengan listrik mengalami kerusakan. Suara itu sempat berhenti sebentar namun tak berapa lama kemudian suara itu berubah menjadi seusatu yang mengejutkan seisi hutan. Sebuah suara ledakan tiba-tiba tercipta setelah suara percikan itu berhenti terdengar dan sesaat setelah suara ledakan itu terdengar terciptalah sebuah lubang berwarna hijau kekuningan yang seukuran tubuh orang dewasa di tengah-tengah area kosong hutan itu, mirip lubang cacing.

Dari lubang itu keluarlah dua sosok berbeda gender dengan pakaian yang agak berantakan. Sosok pertama yang merupakan seorang pemuda nampak tak sadarkan diri dan sedang di papah oleh sosok kedua sementara itu sosok kedua yang merupakan seorang gadis yang tengah memangku sosok si pemuda itu nampak berjalan dengan sempoyongan dan napas yang tak beraturan namun meski dalam kondisi seperti itu si gadis nampak tak peduli dan tetap meneruskan langkahnya sambil membawa pemuda itu.

Dan kedua sosok itu adalah Hinata dan Naruto yang keadaannya seperti disebutkan diatas.

"hah.. hah.. hah.. " Hinata menghembusankan napasnya dengan nada berat. Meskipun Hinata merasakan energi yang dimilikinya sudah tak banyak lagi untuk mempertahankan kesadarannya namun gadis itu masih sempat tersenyum.

Sambil berjalan mendekat ke sebuah pohon yang bisa dicapainya untuk memulihkan energi dan menyembuhkan luka-luka yang diterima oleh Naruto, gadis berambut indigo itu memaksakan dirinya. Meski kakinya sudah hampir tak mampu lagi untuk berjalan namun Hinata tak peduli akan hal itu karena ini semua demi janjinya ke Naruto.

Hinata merebahkan tubuh Naruto disebelahnya. Sejak tadi Hinata terus mencoba menghilankan ingatan pahit yang menyebabkan semua ini bisa terjadi namun sia-sia dia tak bisa.

Semua ini terjadi karena Hinata tak sempat menghindari serangan Uroboros disaat-saat terakhir. Padahal waktu itu dia sedikit lagi dapat menggapai gerbang dunia sihir namun tanpa terduga serangan dari Uroboros mengarah tepat kearah mereka berdua. Disaat itulah Hinata mengaktifkan pelindung sihir terkuatnya yang menggunakan hampir seluruh energi sihirnya untuk melindungi dirinya dan Naruto namun sial bagi Naruto karena Hinata sedikit meleset dalam memperhitungkan kekuatan pelindung yang dibuat untuk dirinya sehingga serangan dari Uroboros membuat pelindung yang diberikan Hinata hancur dan akhirnya mengenai tubuh pemuda berkulit tan itu secara langsung.

Saat itulah Hinata benar-benar menyesali perbuatannya yang membuat Naruto hampir sekarat.

Hinata menyandarkan bahunya kepohon itu sambil memandang dengan pandangan menyesal pada pemuda yang ada di depannya itu, ketika mengingat bagaimana wajah Naruto yang pada saat itu menahan sakit membuat Hinata merasakan pilu di hatinya. Dia merasakan itu bukan karena dia menyukai Naruto. Tidak Hinata baru bertemu pemuda itu tak lebih dari sehari dan hal yang diketahui Hinata tentang Naruto hanya sebatas nama lalu bagaimana dia bisa bilang kalau yang di rasakannya itu cinta.

Hinata masih menyembuhkan luka Naruto menggunakan sisa-sisa dari sihir yang dimilikinya.

.

.

Beberapa jam kemudian selesai Hinata menyembuhkan Naruto, gadis itu mengehembuskan napasnya legah, akibat dari kelelahan yang diterimanya dan juga penggunaan sihir yang berlebihan membuat Hinata merasa kematiannya sangat dekat tadi ketika menyembuhkan Naruto.

"setidaknya aku berhasil memberi pertolongan pertama"

Setelah mengucapkan hal itu Hinatapun jatuh pingsan.

.

.

.

.

Beberapa saat kemudian Hinatapun terbangun. Gadis itu memposisikan tubuhnya untuk duduk. Sambil mencoba meregangkan otot-otot tubuhnya karena sehabis pingsan di atas tanah sehingga membuat penat. Hinata kemudian memandang langit diatasnya. Hari sudah nampaknya sudah akan petang dan itu artinya Hinata sudah beristirahat cukup lama.

Hinata mengalihkan pandangannya kesamping tempat dia tertidur. Dimana Naruto tertidur namun tak ada seorangpun disana.

Awalnya Hinata masih terlihat normal-normal saja dan malah kelihatan tak peduli namun itu tak bertahan lama. setelah menguap kecil sekali barulah Hinata sadar dengan apa yang terjadi.

"Naruto"

Hinata langsung bangkit sepenuhnya dari posisi duduknya. Sambil mengarahkan pandangannya kesegala penjuru arah hutan Hinata mencari tanda-tanda kemungkina peneyebab Naruto menghilang.

"sial, bagaimana ini bisa terjadi?"

.

.

.

"NARUTO"

"NARUTO"

"NARUTO"

Hinata terus memanggil nama Naruto berulang kali, sambil berlari dengan arah tak menentu.

Sebenarnya Hinata tadi sudah memanggil hewan familiar miliknya untuk mencari keredaan Naruto namun sayangnya hewan familiarnya itu juga tak dapat menemukan keberadaan pemuda itu sedikitpun. Dia juga tadi sudah menggunaka sihir bertife pelacak untuk menemukan keberadaan Naruto, namun seakaan memperburuk keadannya saat ini hutan tempat Hinata sekarang berada nampaknya dapat membuat kemampuan sihir pelacak miliknya menjadi tak berfungsi dengan baik sehingga pada akhirnya Hinata terpaksa menggunakan jalan terakhir, yaitu mencari Naruto dengan usahanya sendiri.

Hinata menghentikan langkahnya sebentar dari berlarinya. Tubuhnya yang baru pulih dari pingsan membuatnya terpaksa beristirahat.

Hinata menghembuskan napasnya lelah, dia tak habis pikir dengan Naruto yang tiba-tiba menghilang secara mysterius, sambil menghapus beberapa keringat yang menetes di dahinya, Hinata mencoba berpikir soal kemana dia harus pergi mencari keberadaan Naruto.

.

.

"hah, sebenarnya dimana Naruto berada sih?" Hinata sebenarnya tak ingin mengeluh namun dirinya sudah mencari Naruto kemana-mana namun tak sedikitpun sosok berambut kuning itu terlihat 'apa jangan-jangan dia terjatuh ke jurang?' membayangkan hal itu membuat wajah Hinata menjadi pucat pasih, perasaannya tidak enak dan dia merasa mulai khawatir kembali dengan Naruto.

Sambil mencoba menenangkan dirinya yang sempat kepikiran negatif Hinata kembali ingin mencari Naruto tapi sebelum itu terjadi

"ah, sial waktunya kenapa kurang pas begini. ah, sudahlah mencari pada saat gelap begini bukan hal yang bagus kurasa" matahari sore memang sudah mulai nampak kembali keperaduannya, cahaya senja yang menyelimuti hutan inipun sudah mulai meredup seiring tenggelamnya sang surya.

Hinata memandang kearah depannya, padangannya nampak gelap dan kacau. Padahal Hinata sudah berusaha sekuat mungkin mencari keberadaan Naruto namun pada akhirnya pemuda itu tetap tak ketemu juga.

Pikiran-pikiran buruk tentang Naruto yang tadi kini kembali menghantui pikiran Hinata. Dirinya benar-benar khawatir dengan pemuda itu namun karena keadaan tak menguntunkannya dengan terpaksa Hinata mundur dulu sementara waktu.

.

.

.

.

Hinata hampir tak dapat berkata-kata apapun saat ini. Dihadapannya Naruto, sosok yang di carinya sejak tadi kini dengan santainya tengah memunggunginya sambil menunggu ikan yang dibakarnya matang.

ketika Hinata ingin kembali lagi ketempat awal dia agak sedikit lupa dengan jalannya. Karena Hinata sudah mencari berkeliling keberadaan Naruto bahkan berlari-lari kesana kemari membuat gadis itu sedikit kesulitan mengingat jalan untuk kembali. "ugh, sial. Padahal aku mencari seseorang tapi kenapa malah aku yang tersesat, sih?"

Hinata menghembuskan napasnya lelah. Dirinya sudah cukup pusing dengan menghilangnya Naruto lalu sekarang dia malah tersesat dan ditambah pertunya sudah berteriak-teriak minta diisi sejak tadi.

"aaaaaah berengsek, bekalku terjatuh saat melawan Uroboros" Hinata bukannya ingin mengatakan hal tak sopan itu secara terang-terangan tentu saja. Dirinya adalah seorang murid yang dipandang baik di sekolahnya namun untuk keadaanya yang saat ini Hinata terpaksa membuang imaje itu sementara waktu demi menghilangkan semua amarah yang berada di pikirannya saat ini.

Padahal Hinata adalah seorang penyihir tapi kenapa bisa sampai dalam keadaan seperti ini? Hinatapun bingung sendiri dengan jawabannya.

*DUSH*

*DUSH*

Hinata mencium sebuah bau harum yang dari balik semak-semak. Tanpa pikir panjang Hinata melangkahkan kakinya ketempat bau itu berasal

"ah baunya enak sekali"

"benarkah?"

"ya, apa yang kau ba-"

"ikan sungai. apa kau mau?"

'rambut kuning' Hinata terdiam tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Orang yang dicarinya sejak tadi ternyata malah berada tempat ini. 'sial jika seperti ini lebih baik aku tunggu saja tadi dia' pikir Hinata sementara itu orang yang tadi mencoba menawarkan makanan pada Hinata nampak agak sedikit bingung karena tak mendengar jawaban apapun dari orang di belakangnya, dan karena ingin memastikan. Orang itu memalingkan mukanya dan mendapati seorang gadis berambut indigo berparas cantik tengah menahan marah. Orang itu meneguk ludahnya susah payah. Melihat bagaimana gadis didepannya itu kini tengah mengaktifkan sihirnya membuat orang itu merinding ngeri membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya.

"ee.. Hi-Hi-Hinata..."

"mati kau pemuda berengsek"

Dan pada saat itu juga Naruto langsung tak sadarkan diri

'

'

'

Di suatu tempat antah barantah. Terlihat seseorang bertudung dengan wajah tertutup topeng. Dari segi penampilan orang itu nampak bergender laki-laki. Terlihat dari tubuhnya yang tegap dan dadanya yang bidang.

Orang bertopeng itu nampak menikmati waktunya saat ini. Memandangi suatu pemandangan yang tertangkap oleh matanya. Kegiatan itu terus berlanjut sampai akhirnya terganggu karena kemunculan secara tiba-tiba sebuah lingkaran sihir di belakang laki-laki itu. Dari bentuk dan tulisan aksara yang berada di lingkaran sihir itu nampaknya itu merupakan sebuah sihir teleport.

laki-laki itu hanya melihat sebentar dengan ekor matanya kearah lingkaran sihir itu kemudian dia kembali lagi melakukan aktifitasnya yang sempat terganggu tadi. Seakan orang itu sudah sering sekali melihat hal itu terjadi.

Yang keluar dari lingkaran sihir itu setelah lingkaranya menghilang adalah seseorang yang memaki jubah berwarna hitam kelam dengan kedua tangannya yang ditutupi oleh sebuah sarung tangan berdisen cukup unik dimana sarung tangan itu memliki sebuah gelang yang nampak menyatu dengan lubang masuk sarung tangan itu.

Orang itu kemudian membungkukan badannya penuh hormat kearah laki-laki bertopeng itu.

"Master, seperti yang anda bilang rencana bisa dimulai kapan saja"

.

Tak ada jawaban. Hanya diam dan hening menyelimuti kedua sosok itu. Hal itu terus berlanjut hingga akhirnya sosok bertopeng itu berbalik menghadap kearah sosok orang yang sejak tadi menunggu jawabannya itu.

"Bagus, tapi untuk saat ini aku ingin menyapa seseorang terlebih dulu" setelah mengucapkan hal itu terciptalah sebuah lingkaran di bawah kaki orang bertopeng itu. Seakan paham, tanpa keraguan sedikitpun orang yang berjubah itu berdiri dan kemudian melangkahkan kakinya ikut masuk kedalaman lingkaran sihir milik lelaki bertopeng itu lalu setelah itu cahaya menyelimuti tubuh keduanya dan membuat mereka berdua menghilang.

.

.

.

Naruto selalu merasa kalau hidupnya ini membosankan dan tak bertujuan, namun semenjak seorang wanita penyihir datang dan menculiknya. Naruto merasa kalau sekarang perasaan bosan itu mulai memudar sedikit dari hatinya. Naruto tak mengerti bagaimana hal itu dapat terjadi namun yang pasti Hinata, gadis itu telah merubahnya. Bahkan saat inipun Hinata mulai mengikis perasaan itu.

"Hinata a-aku..." Naruto merasa kalau dirinya kini tengah dibawa kedalam neraka dunia hidup-hidup dengan cara di seret paksa oleh seorang dewi kematian.

Naruto mengerti Hinata marah padanya karena sudah meninggalkannya sendirian tapi tak dapat disangka Hinata akan melakukan hal ini padanya.

"aku mohon Hinata tolong ma- aduh" belum sempat Naruto menyelsaikan kata-katanya sebuah tinjakan dapat dia rasakan diwajahnya.

"Diam, dasar bodoh. Kau pikir setelah apa yang kau lakukan aku akan memaafkanmu dengan mudah. Heh, mimpi saja sanah"

Semenjak saat keajidan itu Hinata mengikat Naruto agar laki-laki itu tak dapat lepas darinya sehingga dia dapat dengan leluasa menjaga Naruto agar tak bertindak sembarangan setidaknya untuk saat ini.

"maaf, aku menyesal dan tak akan mengulangi lagi hal itu, Hinata"

"aku bilang DIAM bodoh tak akan kuampuni kau meski meminta maaf ribuan kali"

"tapi tubuhku sudah mati rasa sejak tadi, Hinata"

"heh, masa bodoh dengan tubuhmu kau akan ku bebaskan ketika kita sampai di serikat nanti, mengerti?"

"TIDAK".

000000

DAN SELELASIALAH CHAPTER 4. AH, akhirnya setelah sekian lama selesai juga. Bagaimana menurut anda semua lebih panjangkan dari sebelumnya. Saya merasa sangat berterimakasih masih ada yang mau riview chpater 3 kemaren padahal itu kerasa aneh loh ceritanya (tertawa). Ah sudahlah, saya ucapankan terimakasih untuk yang ngeriview cerita ini. Maaf saya karena gak pernah ngebalas riviewan dari para rider sekalian, maaf ya. Nah, sampai sini dulu, terimakasih banyak karena sudah ngeluangin waktu kalian buat ngebaca cerita saya ini, yang confliknya aja lama banget muncul. Baikalah, saya undur dulu bye.

BMS OUT.