COME BACK HOME
PAIRING : NARUSASU
GENRE : DRAMA/FAMILY
NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
.
.
.
Warning! Terakhir cerita ada adegan sedikit semi-M otak ku kumat!
Taman hiburan! Di indentik dengan berbagai ragam macam tempat bermain sampai beraneka makanan yang beragam di sajikan untuk menarik pengunjung khususnya anak-anak! Tempat sesak dengan lautan manusia.
Dulu sekali tempat itu paling haram untuk seorang Sasuke Uchiha, ia tidak suka keramaian, berisik dan hal-hal bikin hidupnya dengan masalah.
tapi sekarang mungkin ia akan sangat familiar dengan tempat itu, setelah ia punya Hinata. Banyak sekali perubahan yang terjadi dalam hidupnya.
Makanya ia tidak heran ketika Itachi memilih tempat ini untuk bertemu dengan Konan, ia sedikit menaikan bibirnya saat melihat perempuan itu duduk manis di sebuah stand makanan bersama putri kesayangannya.
"Kau sudah datang?" Tanya gadis itu malu-malu, Sasuke mengangguk. Dan Hinata langsung melompat ke pangkuannya.
"Papa, mau es krim." Minta Hinata manja, Konan tersenyum padahal tadi gadis kecil itu bilang tidak mau apa-apa. Hinata memang gadis yang sulit di dekati, padahal ia sendiri berpikir sudah dekat dengan gadis itu, tapi kadang Hinata memberi batas untuknya. Terlihat mudah namun anak itu selalu menjauhi orang lain.
"Sudah makan?" Tanya Sasuke pada dua orang itu, sebelum ia memesan es krim rasa vanilla untuk putrinya. Konan mengangguk. "Kami sudah makan di sekolah tadi Sasuke-kun," ia tersenyum lembut.
"Sasuke-kun sukanya apa? Aku ingin lebih kenal denganmu?" Sasuke menyipit matanya kearah wanita itu. Tahu kalau Konan berusaha menarik perhatiannya, ia memang menyetujui untuk bertemu dengan wanita itu. Tapi tentu saja ia tidak mau di jodohkan, lagian belum tentu si gadis kecilnya akan suka.
"Apa Itachi menyuruhmu?"
Wanita itu kaget, "Maksudnya?"
Sasuke menghela nafas, "Apa kau tahu kalau nii-san menjodohkan kita?" Muka perempuan itu memerah, ia mengangguk malu saat mereka bertatapan mata.
Hinata yang baru saja ingin memakan es krim, memandang gurunya lama. Wajah merah sensei mengingatkan ia pada wanita yang selalu merebut ayahnya. Si rubah betina.
"Konan-nee sebenarnya menyukai Itachi kan?" Pertanyaan dari pria itu membuat Konan kembali memandang Sasuke, lalu ia berubah sedih.
"Tapi ia menyayangimu! Ia bilang ia akan bahagia kalau kau bahagia." Sasuke mengangkat Hinata, dan mendudukkan gadisnya di bangku sebelah. Anak kecil itu menurut. Namun matanya sekarang memandang tajam pada senseinya.
Sasuke menghela nafas lagi, merasa perkataan wanita itu lucu. "Apa itu? Jadi kau melakukan semua ini karena Itachi… lucu sekali kalian berdua."
Perempuan itu mengepalkan tangannya. "Kau tidak pernah tahu kan Sasuke, seperti apa Itachi?!" pria itu tentu tidak senang mendengarnya, kenapa Konan-nee sok tahu tentang kakaknya?
"Sejak aku mengenalnya, yang ia pedulikan, yang ia pikirkan cuma adiknya, ia tidak pernah memikirkan kehidupannya. Sejak dulu ia selalu bekerja keras untukmu, bagaimana kamu makan? Apakah kamu tidur nyenyak? Apa ada orang yang menghinamu! Menyakitimu!" Mata perempuan itu berkaca-kaca, Sasuke diam. Ternyata perempuan itu lebih tahu kakaknya di bandingkan dirinya.
"Ia tahu aku menyukainya, tapi ia tidak bisa membalas perasaanku. Ia takut bila bersamaku kasih sayangnya terhadapmu akan terbagi denganku. Aku sempat membencimu, tapi Itachi pasti akan membenciku lebih besar." Sasuke diam membiarkan perempuan itu menumpahkan perasaannya. Ia tahu selama ini kakaknya menyayanginya lebih dari apapun. Ia jarang menghibur dirinya sendiri, masa remaja kakaknya di paksa untuk menjadi ayah dan ibu dadakan untuknya. Ia miris sebesar ini ia belum pernah membahagiakan kakaknya.
"Ia takut kau akan kembali pada Naruto, hubunganmu dengannya banyak di gunjing orang. Orang-orang memandang hina padamu, di belakangmu mereka tertawa dengan segala kekuranganmu. Kamu mungkin tidak peduli, tapi Itachi yang paling sakit hati."
"Konan-nee…" Air mata perempuan itu menetes perlahan.
"Sasuke, Itachi selalu datang padaku bertanya ia harus apa padamu? Negara ini belum bisa menerima hubungan seperti kalian! Mungkin kau dan Naruto tidak ambil pusing dengan ejekan di luar. Tapi Itachi tidak bisa menutup kupingnya. Ia terluka lebih dari apapun yang kau pikirkan"
Sasuke mengambil tisu dan menyodorkan pada Konan. Sasuke tahu- sangat tahu, perasaan kakaknya, Itachi Cuma tidak paham kalau ia bersama Naruto selalu bahagia, bukannya ia tidak tahu pandangan orang di luar ia dan Naruto cukup sadar dengan semua ejekan.
Konan benar ia dan Naruto mungkin tidak peduli, tapi ia tidak pernah sadar ada Itachi yang menderita karenanya.
"Ia bilang kalau aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku, Itachi pasti bahagia. Aku akan membahagiakan kakakmu, meski jalan yang ku tempuh salah," ujar Konan selanjutnya, sedangkan lelaki yang ada di hadapannya masih diam dengan tenang. Di lubuk hati terdalamnya ia senang ada orang lain yang sangat mencintai kakak, ia tidak akan merebut kebahagian Itachi.
Sasuke masih terdiam dalam pikirannya, sedangkan anaknya duduk sambil memandang sensei tidak suka. Ia bahkan tidak menyentuh es krimnya yang perlahan meleleh. Hinata sekarang yakin kalau senseinya seperti wanita rubah itu. Sensei ingin mengambil papanya.
"Konan-nee, aku dan Naruto sudah tidak bersama! Kalau kau ingin Itachi bahagia kau tidak perlu melakukan ini, aku juga ingin melihat kakak bahagia. Tenang saja aku akan membantumu."
"Eh?" perempuan itu memandang Sasuke aneh, "Tapi Itachi menyuruhku…"
"Siapa yang peduli, kan!" Sasuke mendekat menyeringai ke arahnya. "Bagaimana kalau aku balik keadaan ini? Aku yang akan menjodohkanmu dengan Itachi."
"Eh?" Lagi-lagi kakak itu terkejut, membuat Sasuke terkekeh kecil. "T-Tapi Itachi tidak mencintaiku." Jelas sekali kalau perempuan itu berharap, Sasuke kembali menyeringai. "Kalau begitu buat ia mencintaimu."
Konan menutup mukanya malu, "B-bisakah seperti itu?" Sasuke tersenyum sedikit, sebenarnya Itachi itu beruntung, kan? Dasar lelaki itu memang selalu tidak peka dengan sekitarnya.
"Sensei!" Konan terkejut dengan panggilan keras tapi masih sedikit cadel milik khas anak didiknya tersebut. "Sensei tidak berniat menjadi siluman rubah betina, kan?!"
Awalnya guru itu tidak mengerti, namun ia terkikik setelah tahu artinya. Apalagi melihat tatapan Hinata yang begitu posesif.
"Jangan seperti itu pada sensei mu, Hina-chan." Nasehat Sasuke sambil mengelus lembut putrinya, Hinata memeluk lengan papanya erat mata lembutnya memandang tajam walaupun tidak cocok sama sekali.
"Papa itu cuma milik Hinata sama ayah! Ngerti sensei." Konan tersenyum, ah… ia juga mungkin selama ini memandang rendah hubungan Sasuke dan pria itu, tapi melihat Hinata. Konan baru sadar bagi orang lain jalan hidup yang di tempuh Sasuke mungkin menjijikkan, tapi tidak untuk putrinya. Hinata pasti sedih kalau ia kehilangan salah satu dari mereka, sekarang ia merasa jahat sempat ingin mengantikan posisi Naruto.
Ia pikir ia akan jadi pahlawan kalau ia berhasil mengembalikan hasrat adiknya Itachi, ternyata ia salah. Harusnya Itachi melihat hal itukan? ia berharap bisa membuat Itachi sadar kalau kebahagian adiknya ada bersama keluargannya.
Biarpun Sasuke bilang ia tidak ada hubungannya dengan mantan suaminya lagi, ia tahu itu hanya kata yang keluar dari mulut bukan dalam hatinya.
"Ah tentu saja, Hina-chan." Konan tersenyum sambil mencubit pipi gempal gadis itu, mendadak Hinata bernafas lega, kemudian ia ceria lagi. "Sensei membuat aku takut saja." Tentu saja ia takut, Konan-sensei adalah guru favoritnya di sekolah, kalau Konan-sensei berniat menjadi siluman rubah. Siapa lagi yang mau bermain denganya? Karena itulah ia sangat lega. Ia kembali ingin memakan es krim, namun semua berubah menjadi air. "Yaaa!" serunya kecewa.
Konan terkikik kembali, Sasuke tersenyum sedikit ia menenangkan putrinya dengan memesan kembali es krim yang sama. Konan memperhatikan lelaki itu dalam diam, ia telaten sekali pada putrinya.
"Sasu-chan kau sangat feminim ya?" goda perempuan itu, Sasuke mendelik melempar tatapan membunuh. Membuat Konan terkikik
"Bersamamu kelihatan menakutkan! karena di kelilingi serigala penjaga macam Itachi dan Hinata, " Konan makin terkikik, suka dengan ekspresi yang jarang di perlihatkan oleh keluarga Uchiha. Ah Sasuke memang menarik.
"Aku jadi ingin tahu seperti apa Naruto terhadapmu?" Sasuke mendengus kemudian.
…
Naruto memang tidak punya hak apapun lagi terhadap pria itu, melarang atau mengekangnya itu sudah hal yang mustahil.
Karena itu ia hanya mengatup rahangnya kuat-kuat, saat beberapa hari ini Sasuke sibuk dengan ponselnya seperti remaja-remaja ababil yang sedang kasmaran. Ia jadi tidak bernafsu untuk makan malam yang Sasuke sajikan. Lagian sejak kapan si Uchiha berbicara selagi makan. Bukankah ia sangat mementingkan tata krama. Sial ia jadi jengkel sendiri.
Apa sebegitu menariknya berbicara dengan wanita itu? Lagian si teme menerima begitu saja perjodohan dari kakaknya?
Sial ia tidak cemburu! Ia tidak boleh cemburu. Sasuke sekarang adalah orang luar dalam hidupnya, ia tidak boleh memiliki perasaan itu lagi. Ia merasa jahat sekali pada Sakura kalau sampai itu terjadi.
Biarpun hatinya terus mengingkari kecemburuannya, namun tubuhnya memang tidak suka melihat Sasuke yang antusias seperti itu, apalagi Hinata ikut-ikutan bercanda dengan orang yang Sasu telpon.
Padahal kalau itu Sakura pasti Hinata berwajah masam, namun sensei itu sangat gampang untuk mengambil hati bocah kesayangannya. Namun ia akhirnya jengah juga.
"Tidak enak! Rasanya hambar," katanya sambil menjatuhkan sendoknya, kesal. Sasuke melirik.
"Dobe! Kalau kau memang tidak suka tidak usah makan jangan mengejek masakanku." Ia menyilangkan kedua tangannya dan melempar tatapan tajam, namun sekali-kali ia merespon suara yang keluar dari ponselnya. Membuat Naruto kian geram.
"Hinata sepertinya ngantuk." Ucap Naruto keras, berharap suaranya di dengar oleh penelpon mantan suaminya. Sasuke melirik putrinya, ekspresinya melembut membuat Naruto meringis.
"Hinata gosok gigi, cuci tangan dan segera tidur, papa bicara sebentar lagi dengan Konan-sensei oke." Anak gadisnya mengangguk patuh, membuat Naruto ingin mengigit jarinya kencang-kencang. Ia mendekat putrinya perlahan.
"Sayang, tidak apa tu papa nelpon perempuan lain?" tanyanya berbisik, tentu saja ia takut Sasuke mendengarnya. Bisa besar kepala pria itu. Ia berusaha menekan perasaan kesalnya sendiri, Hinata menggeleng membuat Naruto gemas.
"Lalu kenapa kalau Kansan Sakura menelpon, Hinata tidak suka?" gadis itu mendelik ke arah ayahnya, namun karena matanya sipit ia malah kelihatan lucu.
"Karena sensei bukan rubah betina. Dan aku tak tak punya kansan" Jawabnya polos membuat Naruto ingin menjambak rambutnya kencang-kencang, dari mana ia mendengar kata-kata itu.
Ia makin kesal ketika melihat Sasuke masih asik dengan ponsel sialan, ketika sebuah ide terlintas di pikirannya, ia mendorong pelan jus tomat yang ada di atas meja. Lalu dengan perlahan menuangkan di pangkuan anaknya.
"Sasuke, anakmu kotor." Katanya sambil tertawa lebar sambil menunjuk Hinata, anak gadisnya memandang bingung. Pasalnya ia tahu ayahnya sengaja menuangkan jus itu ke atas rok yang ia pakai, tapi ia tidak tahu kenapa ayah melakukannya.
"Kenapa bisa tumpah sayang? ayo cepat ganti baju." Ia segera membawa anaknya, setelah sebelumnya memutuskan hubungan telekomunikasi dengan Konan. Naruto tersenyum lebar di belakang, ah… perasaannya jadi lega.
Sekarang ia bisa tersenyum senang sambil mengelus rambut putri kesayangannya. Sedangkan Sasuke kembali merapikan meja makan. Ia menepuk-nepuk tubuh kecil di sampingnya agar Hinata cepat tidur.
Gadis itu ikut senang melihat wajah berseri ayahnya, walaupun ia tidak tahu apa yang membuat pria itu senang. Dalam pikiran kecilnya ia pikir ayahnya senang karena pasti sudah menyelamatkan ayahnya dari rubah itu, ia kan seperti cerita ayahnya dulu.
"Ayah." Panggilnya sambil merangkul tubuh besar ayahnya. "Iya cantik." Jawabnya.
"Katakan padaku bagaimana keadaan ayah dari gadis yang ayah ceritakan?" Naruto memandang bingung putrinya, cerita yang mana? Namun karena tidak kunjung dapat jawaban Hinata melanjutkan.
"Kata ayah, ada seorang anak yang selalu cengeng. Menangis setiap malam, ia juga tidak mau menuruti perkataan orang tuanya dan nakal, lalu ayahnya di culik oleh siluman rubah betina. Ayah ingat cerita itu kan?"
Ah ia ingat! Jadi masalah siluman itu dari sini bermula… padahal itu dulu Naruto ceritakan untuk menakuti Hinata yang setiap malam menangis karena takut sendirian, waktu itu Hinata baru ia pisahkan dari kamar ia dan Sasuke.
"Aku tidak cengeng lagi, tidak menangis walaupun takut. Tidak nakal dan selalu mendengarkan papa, jadi ayah tidak akan di culik lagi oleh siluman itukan?" tanyanya dengan pandangan berkaca-kaca, Naruto tersentak apa yang telah ia lakukan pada putrinya ini.
Selama ini itukah yang anaknya pikirkan? Ia mengelus kembali rambut putrinya. Mulutnya kaku apa yang ia harus katakan? Ia sungguh ayah yang buruk.
"Ayah tidak akan di culik lagi kan? Aku telah menyelamatkan ayah." Hinata tersenyum senang, bangga, ia mendekat tidur dalam lengan kekar ayahnya, sebelum ia benar-benar tertidur ia sempat berguman.
"Ayah akan tetap bersama Hinata dan papa…kan?" Mungkin jawaban itu tidak pernah di berikan oleh Naruto. Setelah gadis itu terlelap laki-laki yang di panggil ayah itu bangun.
Di luar ia melihat Sasuke yang sudah merapikan dapur, ia pandangi tubuh kecil laki-laki itu. Tubuh yang banyak melewati berbagai rintangan hidup.
Ia sangat mengenal laki-laki itu, dulu ia pria berhati baja dan pekerja keras. Mereka memang bukan tumbuh dalam ekonomi mewah, ia sendiri dari keluarga sederhana ibunya Kushina hanya seorang ibu rumah tangga dengan suami yang punya perusaan kecil, ia dan Sasuke merangkak-rangkak dari bawah kemudian sama-sama sukses di bidang perekonomian. Tidak terlalu besar namun bisnis mereka cukup terkenal.
Namun sebesar apapun usahanya, pada akhirnya kedua orang tuanya di panggil oleh yang mahakuasa. Dan ia tidak bisa membuat membuat orang tuannya bangga. Setelah itu cita-citanya hanya ingin bahagia bersama Sasuke.
Ia ingat bagaimana keras kepala pria itu saat ia bilang ia ingin mandiri, tidak mau menyusahkan Itachi.
Begitu keras perjuangannya dulu yang diam-diam bekerja paruh waktu tanpa di diketahui Itachi, bukankah karena itu ia jatuh cinta? Saat itu ia betul-betul terpesona pada lelaki cantik itu.
Ia mendekat ke arah jendela, ingat bagaimana ia bercerai kemudian menikah dengan wanita lain.
Bulan di langit di tutupi sebagian oleh awan, malam ini begitu familiar. Malam-malam terakhir kali ia berpikir keras, malam yang mengerikan ketika ia harus menikahi Sakura. Wanita itu…
"Ada apa? Wajahmu lebih dobe dari biasanya?" suara ketus itu, membuat Naruto terkekeh.
"Hinata sudah tidur?" Naruto mengangguk. Sasuke berdiri sampingnya, ia merilekskan otot-otot leher tanpa sedar ia mengerakkan jari-jari panjangnya menyusuri leher kemudian berlabuh di bibir sensualnya. Membuat lelaki bersurai pirang di sebelahnya mengap-mengap sendiri.
Hey! Sasuke tidak sedang menggodanya kan?
Mata Naruto liar menyusuri leher jenjang kokoh milik lelaki itu, dulu setiap malam ia pasti tidak akan lupa menancapkan giginya di situ. Sial! Ia menggeleng kepalanya pelan berusaha mengusir pikiran kotor.
Tapi sialnya pikiran kotornya bertambah besar ketika Sasuke menepuk bokongnya sendiri.
Sialan! Bokong itu begitu seksi! Sekal dan menggairahkan. Rasanya tangannya begitu gatal ingin meremas bokong seksi itu.
"Ada apa dengan wajahmu itu hah?!" Tanya Sasuke dua kali lipat lebih ketus, membuat Naruto tersentak. Ia melihat lelaki itu yang membuang muka, ada rona merah di pipinya yang putih. Ketika tahu Naruto menatapnya ia mendelik tajam kemudian berlalu.
Naruto bersumpah ingin meremas bokong itu kuat-kuat, saat ia tahu Sasuke sengaja berjalan sedemikian rupa menggodanya untuk menampar bolak-balik dua bongkahan bokong itu dengan gemas.
Sasuke berjalan cepat, ia menutupi mukanya yang memerah, pandangan Naruto itu tadi benar-benar membuat ia nervous.
Seperti serigala yang ingin memakannya hidup-hidup. Begitu bernafsu, membuat libidonya sedikit meningkat, ia tidak akan kuat berdiri lama-lama di dekat pria itu. Atau kalau tidak ia kan berubah menjadi kuda binal yang akan menggoda iman si pirang, untuk menggagahinya membabi buta.
Sial! Ia tahu pada akhirnya ini akan terjadi juga!
…
Pagi menjelang, matahari perlahan muncul di timur. Dan suara alarm perlahan terdengar di sebuah apartemen yang lumayan mewah. Tentu saja ia mendapat tempat tinggal itu dengan hasil kerja kerasnya sejak dahulu.
Ruangan tempat tinggalnya besar dengan perabotan yang mahal walaupun jarang di gunakan. Semuanya tersusun rapi mencerminkan jiwa pemiliknya. Di sudut barat ruangan itu ada sekat tipis yang Cuma di lapisi oleh gorden yang indah, ia tidak membuat kamar tidur tempat ia istirahat karena ia sendiri. Tempat tidurnya menyatu dengan seluruh apartemennya, kecuali kamar mandi dan ruang ia kerja.
Suara dering jam masih terdengar tidak terlalu keras, tapi mampu membuat seseorang yang ada di kasur nyaman itu terjaga. Pemilik tempat bagus itu bangun perlahan, mengusap mukanya. Ia menyingkirkan selimut memperlihatkan tubuh bidang yang kokoh. Benar ia adalah seorang laki-laki. Bernama Itachi Uchiha.
Laki-laki keren berwajah tampan yang mampu menaklukan wanita hanya dengan lirikan tajamnya. Namun ia belum pernah sekalipun menggoda wanita dengan wajahnya ataupun tubuhnya. Masa remajanya ia curahkan untuk adiknya yang ia sayang dan bekerja kesana-kemari menghidupi diri dan adiknya. Ia tidak pernah terlibat yang namanya romansa, walaupun ia sadar ia pernah jatuh cinta.
Beruntung sejak kecil ia punya otak cerdas, walaupun ia di tinggal oleh kedua orang tuanya ia mampu untuk mandiri. Setelah lulus dari SMA ia bertemu dengan teman ayahnya, orang itu mempekerjakan dan kemudian ia meneruskan pendidikannya lagi. Setelah studinya berhasil ia mulai berani mengambil bisnis sendiri. Ia mulai merangkak dari nol, semua yang ia lalui bukan mudah, adakalanya ia gagal namun bukankah kegagalan adalah sebuah sukses yang tertunda?
Ia percaya prinsip itu, bersama adiknya Sasuke Uchiha ia mampu mengelola bisnis. Tidak nomor satu tapi bisnis ini di akui oleh orang lain.
Setelah mandi dan berpakaian kantor dengan rapi, ia bergegas ke dapur membuat roti dan secangkir kopi pahit. Tinggal sendiri di rumah besar memang tidaklah enak karena sepi, tapi kesepian adalah khas dirinya, ia pernah mengajak adik tercintanya untuk tinggal bersama. Namun adiknya menolak lebih memilih hidup berdua dengan anaknya…ah ia benar-benar lelaki kesepian dalam kesendirian.
Setelah sarapan pagi, ia mengambil kunci mobil dan bergegas ke kantor. Tidak lupa mampir di kedai bunga, sekedar mengirim setangkai mawar untuk keponakannya. Kebiasaan lelaki itu semenjak Hinata berumur lima tahun, rasanya harinya akan kurang kalau ia tidak melakukan hal itu.
Setelah ia itu ia akan melewati hari penuh kesibukan di kantor.
"Stt… kudengar Sasuke-san sudah kembali dengan pasangan gay yang dahulu, lho." Itu hal pertama yang selalu Itachi benci setiap ke kantor, selalu saja ada yang berbisik menjelekkan nama adiknya. Niatnya tadi ingin ke pantry sekedar membuat kopi, ia memang selalu melakukan sendiri malas menyuruh orang lain. Sekaligus mengontrol cara bawahannya bekerja.
"Benarkah? Ih… jijik deh padahal ia tampan tapi melihat tingkahnya aku jadi mual."
"Itu belum seberapa, ia juga melakukan cangkok rahim! Melihatnya seperti melihat monster, mungkin ia tidak puas dengan gendernya?" Setelah itu dua pengawai wanita itu tertawa.
"Orang seperti mereka tidak pantas hidup di dunia ini! Sebaiknya orang seperti itu mati saja." Itachi mulai marah, tidak ada yang boleh mendoakan adiknya mati. Ia benar-benar benci.
"Jadi… orang yang seperti apa yang pantas hidup?!" Suaranya berat, saat ia muncul matanya yang se tajam mata elang memandang kedua wanita dengan rasa benci yang besar. Membuat nyali mereka ciut, mereka panik tidak menyangka ada Itachi mendengar kata-kata buruk tadi. Lalu cepat-cepat menyingkir mengutuk mulut-mulut lancang mereka sendiri.
Braak!
Itachi menghantam dinding menjalurkan emosinya yang membara. Ia tahu ejekan ini sering juga Sasuke mendengarnya, tapi adiknya itu cuma diam, ia tahu selama ini adiknya menderita. Bersama Naruto, Sasuke tidak akan pernah bahagia.
Ia bersumpah pada dirinya sendiri ia akan mengembalikan Sasuke menjadi pria normal, dan menjalani hidupnya dengan bahagia.
.
Di sebuah ruangan yang penuh sesak dengan kertas dengan computer yang menyala, duduk sosok laki-laki tampan bertubuh tegap, rambutnya pirang cocok dengan warna matanya. Namun ia berkali-kali menghela nafas berat, hari ia tidak konsen dan tidak punya semangat.
Penyebabnya satu! Seharusnya ia memang tidak boleh lama-lama bersama lelaki itu. Pertahanannya goyah dan ia yakin sebentar lagi bakal runtuh total… sial!
Ia memang tidak memperhitungkan ini akan terjadi, apa boleh buat Sasuke terlalu menggoda untuknya, pria itu sengaja membangkitkan ke abnormalnya, apalagi ia sok keren dengan bermesraan dengan wanita lain.
Fuck! Dan ia memang cemburu.
Teme sialan!
Tapi, ia memang tidak boleh berlama-lama dengan kondisinya, pekerjaannya masih banyak. Laki-laki dengan marga Uzumaki itu tersenyum lebar kemudian meninju tangannya ke langit. "Go! Semangat!" teriaknya keras sebelum ia terkekeh malu saat Sakura ada di ruangannya.
"Kenapa di sini, sayang?"Tanya Naruto saat perempuan yang berstatus istrinya duduk di depannya. Perempuan itu tersenyum manis, lalu perlahan bibirnya tertekuk senyumnya hilang. "Kau tidak pulang," katanya merajuk. Naruto menghela nafas.
"Kau tahu kan, Hinata masih dalam masa pemulihan."
"Apa sebaiknya aku juga ikut tinggal bersama, ya." Ada nada pemaksaan dari pertanyaan yang wanita itu lontarkan, Naruto tahu Sakura mengkhawatirkannya. Namun ia tidak bisa mengabaikan kesehatan Hinata juga.
"Tunggulah sampai Hinata sehat…" Wanita itu menyipitkan mata, memandang lelaki di depannya dengan lama. Lalu perlahan ada kabut di mata Sakura kemudian mata itu berubah berkaca-kaca. "Kau tidak bermaksud meninggalkan ku, kan Naruto?" Ada rasa tidak nyaman saat ia di pandang seperti itu oleh istrinya.
Ia buru-buru bangun dari kursi, lalu bersimpuh di depan Sakura menggenggam kedua tangan cantik istrinya dengan sayang.
"Bukankah ku bilang cukup percaya padaku, dan semua akan baik-baik saja." Jelasnya sambil mengelus tangan kurus istrinya, apa Sakura cukup makan? Kenapa ia semakin kecil begini?
Sakura mengelus lembut pipi suaminya yang masih bersimpuh di depannya, di kecup perlahan bibir orang yang sangat ia sayang.
"Baguslah," ujarnya sambil menyapu air mata, lalu bibirnya yang masih sedih menghadirkan sebuah seringai yang tidak biasa, membuat Naruto merinding.
"Jadi aku tidak perlu melakukan seperti dua tahun yang lalukan, suamiku?" Perempuan itu tersenyum yang sama sekali tidak manis, Naruto memandang wanita itu dalam diam. Perubahan sikap istrinya sudah biasa Naruto lihat, walau kadang ia masih ngeri dengan sifat wanita itu.
"Iya… tidak perlu." Ia kemudian merengkuh tubuh istrinya. Ada hal-hal yang tidak boleh ia langgar, kan? Demi menjaga hal yang paling berharga dalam hidupnya. Ia harus bertahan, tembok yang ia bangun dengan kokoh tidak boleh runtuh. Atau ia akan kehilangan semuanya.
Ya, ia boleh berasumsi seperti itu, namun saat kembali ke rumah yang dulu ia pernah di tempati olehnya dan keluarga kecilnya ia tertohok kembali, dan mungkin segala tembok yang kokoh akhirnya akan runtuh juga. Pasalnya ia benar-benar tidak suka kehadiran seorang wanita di rumahnya yang terus menggoda mantan istrinya.
"Ada acara apa?" Suaranya kasar tidak seperti biasannya. Sasuke yang menyadari kepulangan Naruto segera berinisiatif mengambil tas kerja laki-laki itu, namun Naruto menolaknya. "Tidak perlu! Ada acara apa ku tanya?!" tanyanya lebih kasar lagi, Sasuke memandang tajam, ia memang tidak suka Naruto se kasar itu, kalau tidak ada Konan ia pasti akan memaki pria yang berstatus mantannya.
Konan yang masih memakai celemek di tubuhnya tersenyum manis. "Sudah pulang Naruto-kun?" tanyanya ramah, Naruto tidak menjawab ia memandang sinis perempuan itu. Mulutnya berdecak meremehkan.
"Kurasa, Bukankah tidak baik seorang perempuan seperti nona berada di rumah lelaki?" Sasuke memicingkan matanya, ada apa dengan lelaki sinting ini? Tidak biasanya Naruto bersikap seperti ini, ia akhirnya menendang kaki lelaki itu dan mengirim tatapan tajam pada Naruto. Naruto meringis sedikit karena sakit.
Ia berbisik, "Jangan kurang ajar pada tamuku, Naruto." Suaranya penuh penekanan. Sedangkan Konan yang di perlakukan kasar memandang mereka berdua dengan bingung, saat melihat muka Naruto yang mengeras ia tahu maknanya.
"Benarkah!" seru Konan sambil menangkup mukanya yang memerah. "Tapi, aku senang berdua dengan lelaki tampan seperti Sasuke." Ujarnya terkikik penuh makna.
"Apaaa!?" Tanpa sadar Naruto berteriak, membuat Sasuke terpaksa menendang lelaki itu karena kesal. Konan makin terkikik geli. Naruto membuang muka pada reaksi berlebihannya. "Mana Hina-chan?" tanyanya mengalihkan keadaan yang membuat ia canggung.
"Di tempat aniki." Ujar Sasuke santai, membuat lelaki pirang terbelalak sebentar. Jadi si Teme sialan ini mengirim Hinata pada Itachi agar ia bebas berdua dengan wanita sialan ini! Dasar brengsek sungut hatinya jengkel.
Konan menyembunyikan tawa halusnya, ia kemudian menompang tanganya di meja yang baru saja ia susun makanan bersama Sasuke.
"Jadi… Naruto-kun, bisakah kau membiarkan aku bersama Sasuke sekarang?" Tanya Konan berusaha agar tawanya tidak lepas saat melihat wajah keras pria pirang di depan.
Ya, ampun! Seperti yang ia pikirkan lelaki berambut pirang itu memang menarik kalau sudah di panas-panasi begini.
"Terserah!" ia melangkah sambil menyenggol bahu Sasuke dengan kasar, dan wanita itu tidak bisa menahan lagi tawanya.
"Kenapa kau tertawa?" Tanya Sasuke bingung saat melihat wanita itu tertawa, Konan menggeleng kepala namun ia masih menutup mulutnya menahan agar tidak terus cekikikan.
"Tidak usah kau pikirkan si bodoh itu." Dan kembali Konan tertawa, membuat Sasuke menghentikan gerakannya yang sedang mengatur sendok. Ia melipat kedua tangannya di dada dan mengirim tatapan tajam, ia tidak suka mengerjakan pekerjaan setegah-tengah dan tidak serius. Membuat Konan gugup di bawah sorotan itu, ia cepat-cepat menghentikan tawanya.
"Cepat di susun dengan rapi, sebelum Itachi kembali." Konan mengangguk, ia memang merencanakan untuk makan malam dengan Itachi, tapi terpaksa di rumah Sasuke. Kalau tidak mana mau lelaki dengan rambut panjang itu datang. Ia dan Sasuke terpaksa berbohong, ia harus berterima kasih banyak pada adiknya Itachi.
"Nanti saat Itachi kembali aku akan mengajak si bodoh itu keluar, jadi kau bisa tenang berdua dengan aniki." Konan tersenyum saat melihat Sasuke duduk di kursi, pria itu membuka kencing atas bajunya karena gerah. Ia mendekat perlahan tangan kanan menopang berat tubuhnya sedangkan ia memajukan kepala sangat dekat dengan kuping kiri pria cantik itu. "Mirip."
Sasuke melirik dengan ekspresi datarnya.
"Kalian memang mirip, tampan. Tapi Itachi jauh lebih tampan." Sasuke menyeringai. "Baka."
Mereka memang asyik sendiri tanpa sedar Naruto memandang pemandangan itu dengan marah, ia baru saja selesai mandi dan berniat ganti baju. Tapi ia harus menyaksikan adegan yang menurut penglihatannya menjadi naik darah. Di sebelah ia berdiri yang ia lihat Konan berusaha mencium Sasuke dan lelaki brengsek itu tidak menolak sama sekali.
Masih dengan handuk di pinggangnya tanpa atasan, Naruto berjalan tegap, cepat! badan kekar kecokelatan bergerak seiring pergerakan kakinya, air yang masih berada di tubuhnya meluncur jatuh dengan cepat.
Sebuah tato yang terlukis cantik di lingkaran pusarnya, timbul tenggelam bersama gerakan perut yang kempas-kempis saat ia memburu nafas. Yang rasanya di sedot habis dengan rasa amarah yang menguar di kepala.
Saat ia sampai di hadapan Konan dan Sasuke, dengan kasar mendorong perempuan itu dan lalu menarik tangan Sasuke dan menyeretnya ke dalam kamar dengan bringas. Meninggalkan wanita itu yang mematung, masih bingung dengan adegan cepat tadi.
Sasuke yang di seret kesal, pasalnya ia terseok beberapa kali. Namun si bodoh di depannya bahkan tidak peduli, saat sudah berada di dalam kamar barulah tangannya di bebaskan. Segera saja Sasuke menendang kasar kaki Naruto, namun lelaki itu mengaduh sakit pun tidak. Matanya nyalang memandang Sasuke mukanya memerah menakutkan.
Barulah Sasuke gugup, rasanya situasi ini sama ketika dulu Naruto cemburu padanya saat ia pernah berciuman dengan lelaki lain di sekolah, waktu itu ia berniat memanasi kekasihnya. Tapi setelah itu ia menyesal, Naruto berubah menjadi tiga kali lipat lebih garang. Waktu itu ia bahkan sulit berjalan dengan benar, Sasuke menutup matanya. Apa sih yang ia pikirkan?
"Enak? Ini pertama kali, kan berciuman dengan perempuan?" Tanya pria itu yang masih dengan aura hitam di belakangnya, Sasuke memandang tidak mengerti. Ia gugup juga, pasalnya laki-laki itu sedang memperlihatkan tubuh yang begitu menggairahkan di depannya. Tidak tahukah Naruto selama lelaki itu tinggal lagi dengannya, ia selalu bermimpi tubuh gagah seksi itu itu menggagahinya di belakang dengan brutal. Ia begitu menginginkannya, menjilati seluruh tubuh beserta keringat dari lelaki itu.
Perlahan ia menyentuh dengan telunjuknya pada dada yang sedari berdetak keras. "Tidak." Jawabnya ambigu, Naruto salah paham. Ia pikir selama ini pria itu juga pernah berciuman dengan wanita, atau jangan-jangan selama ia tidak ada si teme brengsek ini menyewa perempuan buat melepas nafsunya.
"Sialan kau teme!" Ia mengatup giginya, matanya menggelap. Di dorongnya tubuh Sasuke ke belakang sampai menabrak lemari kaca. Tanpa basa-basi di lumatnya kasar bibir yang berani-beraninya berciuman dengan orang lain.
Sasuke tersentak, ia bahkan lambat memproses dengan apapun yang sekarang terjadi, matanya melirik ke bawah pada bibir tebal Naruto yang berusaha memakan bibirnya. Tiba-tiba kepalanya kosong ia menutup mata dan membuka celah bibir membiarkan lidah Naruto menerobos mulutnya.
Rasanya semua kembali pada tempatnya, tubuh kokoh di depannya mendekap tubuhnya erat berusaha memperdalam ciuman. Sasuke memiringkan kepala ke kanan memberi akses pada Naruto untuk masuk lebih dalam menyapa seluruh isi di dalam mulutnya.
Tangan kanan sang pemilik bermarga Uchiha mengelus lembut rambut pirang sebelum ia menjambak kasar karena Naruto mengigit bibirnya, sedangkan tangan kirinya berusaha meremas atau mencubit tubuh kecokelatan yang begitu ia rindukan. Rasanya ia tidak ingin lepas dari tubuh itu barang sekejab pun.
Kembali Sasuke mengernyit ketika Naruto sekarang menancap gigi di leher mulusnya, kepalanya yang kosong merespon tindakan Naruto di tubuhnya. Ia kemudian dengan buru-buru membuka kaos yang ia pakai. Si pirang tertengung sebentar melihat diam pada tubuh menggoda di depannya, tubuh kurus namun berisi, kulitnya putih dengan dua buah dada yang memancing, membuat ia harus meneguk air liurnya beberapa kali.
Otaknya sempat berpikir untuk berhenti, namun hanya sesaat sebelum ia kembali menarik tubuh putih itu dalam pelukannya. Dan menghadiahi kulit putih itu dengan warna-warna merah di berbagai tempat.
Naruto semakin lupa diri, bokong seksi yang ingin sekali ia remas dan ia tampar berkali-kali kini benar-benar ada di hadapannya. Dengan gemas ia remas-remas bokong itu memisahkan duan bongkahan yang berhimpitan, sekali-sekali ia menamparnya dengan kuat. Membuat si pemilik mengeluarkan desahan keras.
"Dobheh~~~" desahan itu benar-benar membangkitnya, dan segala pertahanan yang Naruto buat runtuh total tanpa terkendali. Apapun telah ia lupa yang ia ingat adalah bagaimana nikmatnya tubuh yang berada dalam pelukannya. Dengan sekali tarikan ia lempar tubuh ramping itu ke atas kasur.
Pria pirang itu terkekeh saat ia melihat Sasuke terlentang dengan paha sengaja ia buka dengan lebar, dan mengirim pandangan seduktif padanya. "Naru…kun" panggil lelaki itu seraya mengirim tatapan menggoda yang tidak akan pernah meleset pada lelaki itu. Naruto mendekat, namun…
"SASUKE!" Panggilan kasar Itachi membuat mereka terkejut, Naruto yang hampir membuka handuk di pinggangnya mengurungkan niatnya kembali. Mata Itachi memandang nyalang, ekspresinya sulit di tebak di belakang tubuh Itachi ada Hinata.
Melihat kedua orang tuanya, gadis itu pikir papa dan ayahnya sedang bermain tanpanya. Ia berlari melompat ke atas tubuh papanya membuat Sasuke memekik sedikit.
Gadis itu kemudian memandang cemberut pada Naruto.
"Curang! Aku nggak di ajak main." Setidaknya mereka lega dengan kecanggungan yang tiba-tiba muncul, Itachi juga terpaksa menghentikan niatnya untuk membunuh Naruto.
Tbc
Ah… saya tidak pintar membuat membuat interaksi ayah-anak. #pundung di pojokan.
Oke kita masuk dalam sesi berikutnya #emang kuis! :D
Tomoyo to Kudo Kirain konan itu pacarnya itachi ternyata yg mo dijodohin ma sasuke y? Tpi bisa jg besok jadinya malah sma itachi kn? ( niat awalnya sih pengen masukin kisame, tapi setelah baca riview mu aku jdi kepikiran… ha…ha… biar fic ni cepat kelar.)
haruna aoi itachi g punya pasangan kah thor?^^ (sekarang sudah ada kan?)
InfinitelyLove makasih ^^
himekaruLI Tapi kenapa ga neji aja yang pihak ketiga?
Itachi buat dia gay juga dong hoho ( takut makin ribet, makin panjang, rencananya sih kepengen itachi yaoi juga, tapi gx jadi)
sekikaoru Pengen liat adegan naruto cemburu liat sasuke sama si konan nih rasanya (dah terpenuhi, kan menurutmu gimana?)
Fuzai makasih
YoungChanBiased. ^^ ya, bukan M tapi ini malah semi-M
Naminamifrid Apa ada lemonya? (gx da tapi menjurus sedikit sih ^^, otak saya mah selalu begitu! Kdang gx sadar taruh rated T di awal! Untung masih bisa di control )
Ivy Bluebell scene sasukonan banyakin y (menurutmu dah cukup?)
shanzec (gx tahu tuh, mungkin waktu nulis nonton detektif conan ha…ha…#gx nyambung)
Dewi15 (ya, saya ingin membuat kakak yang sangat memperhatikan adiknya, tapi malah gx dapat #pundung lagi)
lover NARUSASU iya, sorry belum bisa bikin permintaan kau! Nanti kalau dah selesai aku kabarin ya ^^
suira seans ha…ha… ya makasih
Kim Tria makasih
Aicinta (makasih… menurutmu bagaimana denga cap ni? ^^
CA Moccachino Sifatnya om Ita malah kesannya jadi maksa. Saya gak tau sisi Uchiha nya jadi hilang kemana (maaf dah bikin ita seperti itu, tapi kadang saya ingin membuat dia sedikit egois) Chapter sebelumnya pake alur yg cukup cepat, tapi chapter ini kayaknya 'lelet' banget (ya! Saya juga merasa seperti itu ah…*saya emang gx pintar, menurutmu bagaimana dengan cap ni?)
Midory Spring (menurut midory bagaimana dengan cap ni?)
Kuro Rozu LA ^^
Xilu ^^
InspiritWoohyun makasih
Dan untuk para guest 1 dan seterusnya.
