CHAPTER III

Author : xoaeri12

Cast :

Xi Luhan

Oh Sehun

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Kim Jongin

Wu Yifan

Others

Rating : T

Genre : Hurt/?, Romance, School-life

Warning : YAOI, Typo(s)

"Yak!Kris Hyung kau berat sekali!"Chanyeol memijat punggungnya setelah berhasil mendudukkan tubuh tinggi Kris di salah satu ranjang ruang kesehatan.

Kris hanya terkekeh mendengar keluhan Chanyeol. "Mana ku tahu jika aku sudah tumbuh sebesar ini eoh?"

"Haish!Kenapa juga kau harus bertengkar dengan Oh Sehun?dan apa?kau tertarik dengan Luhan?jangan bercanda hyung."

Kris menghembuskan nafasnya. "Wae?mengapa aku tak boleh tertarik padanya?"ujarnya lirih.

"Kau tahu persis mengapa kau tak boleh tertarik padanya hyung."

Kris menundukkan kepalanya"Aku tahu. Tapi aku tak bisa mengontrol hatiku sendiri Chanyeol-ah..aku bahkan sudah menyuk- ah tidak tepatnya mencintainya sejak dulu. Aku mencintai Luhan, Chanyeol-ah!Sangat mencintainya…" Lelaki itu menjambak rambutnya. Terlihat begitu frustasi dengan perasaannya sendiri.

Chanyeol membulatkan matanya. Terkejut dengan segala pengakuan Kris. "H-Hyung…"

Kris tersenyum sendu sembari mendongak menatap Chanyeol yang berdiri di hadapannya "Aku tahu, amat tahu bahwa Bambi tak akan bisa ku raih. Aku tahu aku harus menghilangkan perasaan terlarang ku ini, tapi aku tak bisa. Tidak sebelum Sehun menyadari perasaan dan kelakuannya sendiri. Tidak sebelum Sehun bisa melindunginya dari apapun Chan-ah. Biarkan aku yang melindunginya saat ini, hanya untuk kali ini saja biarkan aku yang menggantikan Sehun, kumohon Chanyeol-ah…"pinta Kris lemah.

Chanyeol memeluk Kris yang telah dianggapnya sebagai kakak kandungnya sendiri. Ia merasakan bagian depan kemeja nya basah oleh air mata membuktikan betapa rapuh dan sedihnya lelaki tinggi di pelukannya ini. Chanyeol mengangguk dan menepuk-nepuk punggung tegap Kris yang bergetar. "Ya. Jaga dia untuk kali ini…Kris hyung."

·

·

·

"Aku pulang!"

Seorang lelaki tinggi memasuki mansion besarnya sebelum kemudian melihat adik semata wayangnya duduk termenung dengan sedikit lebam di sudut bibirnya.

"Hei!Sedang apa kau bocah?kau sedang jatuh cinta?"ujar lelaki itu sembari duduk tepat di sebelah adiknya.

Sehun-adik lelaki itu-menatap datar kakak nya-Oh Changmin- yang sedang tersenyum lebar.

"Hhh. Aku hanya sedang berpikir hyung"ucap Sehun.

"Eiiii, kau tahu, jika kau jatuh cinta, bagaimana nasib calon adik iparku?"

Sehun menatap Changmin dengan raut wajah tak suka. "Bisakah kau tak membahasnya?apakah setiap bertemu denganku, hanya itu yang dapat kau jadikan bahan pembicaraan hyung?"

Changmin menatap adiknya dengan raut wajah tak terbaca "Yayaya. Maafkan aku. Tapi aku akan selalu berpesan satu hal denganmu adikku sayang, cepatlah sadar sebelum kau menyesal Sehun-ah. Aku ke kamar dulu. Baibai!"ujarnya sebelum berjalan menuju kamarnya dilantai atas.

Sehun menatap punggung kakaknya, lalu menyenderkan tubuh tingginya disofa dan memejamkan matanya lelah. "Mengapa semua orang memperingatiku agar tak menyesal hari ini?"

·

·

·

"Eommaaaaaaaaaaa!"

Heechul menoleh dan mendapati anak lelakinya memeluk erat dirinya. Ia tersenyum manis dan membalas pelukan Luhan sembari mengelus rambutnya sayang.

"Ada apa eoh?Mengapa tiba-tiba memeluk eomma seperti ini?"

"ISH, eomma, aku hanya ingin memeluk eomma, apakah itu salah?"Luhan mempoutkan bibirnya.

Heechul tertawa dan memeluk Luhan lebih erat. "Arraseo, sekarang ayo kita masuk. Kita harus bersiap-siap."

Luhan mengerutkan dahinya. "Bersiap-siap?untuk?"

"Aigoo anak ini. Kita ada makan malam di malam ini. Bagaimana bisa kau lupa?Eomma tahu kau bahagia. Jangan malu mengungkapkannya pada eomma. "ujar ibu dua anak itu sembari tersenyum jahil.

Luhan melepas pelukan ibunya. "A-ah. Ne, a-aku mengerti eomma. Baiklah aku akan bersiap-siap dan berubah menjadi Luhan yang tampan!"ujarnya ceria.

Heechul tersenyum manis sembari mengusak rambut putranya. "Ayo masuk!"

Luhan menatap nanar punggung ibunya. "Ne eomma. Aku bahagia…hanya aku"lirihnya.

·

Tepat jam tujuh malam, Luhan telah siap dengan penampilan sederhananya, kemeja biru muda, celana panjang putih, dan rambut coklat madunya ia biarkan jatuh menutupi dahinya. Kaki nya pun ia balut dengan sepatu berwarna putih.

Luhan menatap penampilannya dari atas kebawah dengan pandangan nanar. Kesedihan terpancar dari matanya. "Apakah aku akan bahagia?Apakah aku bisa bahagia?Ani, aku bahagia"ia tersenyum. "Tapi tidak dengannya.."ujarnya sambil tersenyum miris.

Luhan terduduk di ranjangnya. "Apa yang sebenarnya ku lupakan ya tuhan?"

Flashback

Luhan mengerjap-ngerjapkan mata rusanya saat mendengar beberapa suara yang berasal dari bilik di sebelahnya yang hanya dipisahkan oleh selembar gorden.

"Kau tahu persis mengapa kau tak boleh tertarik padanya hyung."

Luhan mengerutkan dahinya bingung. Ia menatap gorden itu dan melihat bayangan dua orang lelaki yang sepertinya sedang berbicara serius.

"Aku tahu. Tapi aku tak bisa mengontrol hatiku sendiri Chanyeol-ah..aku bahkan sudah menyuk- ah tidak tepatnya mencintainya sejak dulu. Aku mencintai Luhan, Chanyeol-ah!Sangat mencintainya…"

Luhan membulatkan matanya terkejut dan menyingkap sedikit gorden yang menghalangi penglihatannya, guna mengintip siapakah gerangan dua pemuda yang sedang membicarakannya.

Ia melihat sosok Kris yang duduk sedang menjambak rambutnya. Terlihat begitu frustasi.

Chanyeol membulatkan matanya. Terkejut dengan segala pengakuan Kris. "H-Hyung…"

Kris tersenyum sendu sembari mendongak menatap Chanyeol yang berdiri di hadapannya "Aku tahu, amat tahu bahwa Bambi tak akan bisa ku raih. Aku tahu aku harus menghilangkan perasaan terlarang ku ini, tapi aku tak bisa. Tidak sebelum Sehun menyadari perasaan dan kelakuannya sendiri. Tidak sebelum Sehun bisa melindunginya dari apapun Chan-ah. Biarkan aku yang melindunginya saat ini, hanya untuk kali ini saja biarkan aku yang menggantikan Sehun, kumohon Chanyeol-ah…"pinta Kris lemah.

Deg.

Luhan merasakan jantungnya berdetak kencang setelah mendengar perkataan Kris. Berbagai macam pertanyaan mulai berkecamuk di dalam kepalanya.

'Bagaimana bisa Kris sunbae mengetahui panggilan kecilku?Apa hubungannya denganku?Apa hubungan ku dan mereka semua di masa lalu?Apa aku mengenal mereka di masa lalu?Kenangan apa yang sebenarnya kulupakan?Siapa sebenarnya mereka berenam?Mengapa mereka seakan mengenalku begitu dalam?'

Luhan kembali menatap pemandangan di depannya dengan raut wajah tak terbaca.

Chanyeol memeluk Kris yang telah dianggapnya sebagai kakak kandungnya sendiri. Ia merasakan bagian depan kemeja nya basah oleh air mata membuktikan betapa rapuh dan sedihnya lelaki tinggi di pelukannya ini. Chanyeol mengangguk dan menepuk-nepuk punggung tegap Kris yang bergetar. "Ya. Jaga dia untuk kali ini…Kris hyung."

Luhan menjambak-jambak rambutnya yang sudah tertata rapi. Ia berusaha mengingat hal-hal yang ia lupakan. Namun, sia-sia karena tak ada satupun memori dari lima tahun yang lalu terlintas di kepalanya. Ia menatap kosong langit-langit kamarnya.

"Apa yang terjadi lima tahun yang lalu?Mengapa sulit sekali untukku mengingatnya?Apa hubunganku dengan mereka?"lirihnya

TOK

TOK

TOK

Luhan terperanjat dan tersadar dari lamunan panjangnya.

"Luhannieee!Mengapa kau melamun eoh?"

Luhan menoleh dan mendapati Jaejoong-Hyungnya-memasuki kamarnya dan memeluknya erat.

"Aigoo!Adik manisku ini sudah besar eoh?"

"Hyung?Aku tak apa. Hanya ada beberapa hal yang mengganjal di fikiranku. Ohya, sejak kapan hyung berada di Seoul?"Tanya Luhan heran.

"Hyung dan Yunho baru saja sampai beberapa menit yang lalu. Aigoo, kita baru beberepa bulan tidak bertemu, tapi aku sangat merindukan adik kecil manisku ini!"

Luhan pun tersenyum kecil dan membalas pelukan kakak nya dengan erat. "Aku juga sangat sangat sangattttt merindukan hyungku yang cerewet ini"

Jaejoong melepas pelukannya dan merengut tak suka "Yak!apa-apaan itu!aku tak cerewet tahu!"

"Ya ya ya~Hyung yang terbaik!"ujar Luhan sembari terkekeh.

"Sudah selesai acara saling melepaskan rindunya?jika sudah,ayo turun ke bawah. Sebentar lagi acara makan malam nya akan dimulai anak-anak manis."ujar Heechul tiba-tiba, membuat dua anak lelakinya tersentak.

"Eomma!eomma mengejutkan kami!sejak kapan eomma berdiri disitu?"ujar Jaejoong.

Heechul melipat tangannya di depan dada"Aigoo!dasar tak peka!eomma bahkan sudah mengikuti langkahmu sejak kau berjalan ke kamar Luhan, Jaejoongie"ujarnya.

Melihat Luhan dan Jaejoong hanya diam, namja paruh baya itu menghembuskan napasnya. "Yak!Mengapa kalian diam?ayo turun kebawah wahai anak-anakku. Eomma tunggu dibawah okey?"

Luhan dan Jaejoong yang sedari tadi diam kembali tersentak atas teriakan eomma mereka, kemudian tertawa bersama. "Eomma memang tak pernah berubah. Selalu galak dimanapun dan kapanpun Luhan-ah"

"Eoh!Benar hyung!aku setuju denganmu!"

Jaejoong kembali terkekeh kemudian menepuk-nepuk punggung adiknya. "Ayo kebawah!Aku takut eomma mengomel lagi"

·

·

·

Luhan menuruni tangga rumah megah nya dengan hati-hati. Pendengarannya mendapati banyak suara yang berasal dari ruang makan keluarganya.

'Apa mereka sudah datang?'

"Eoh?Luhannie!Ayo cepat!semua sudah menunggu"ujar Jaejoong ceria.

Hanya tersisa satu kursi lagi di meja tersebut. Tepat disebelah seorang pria bermata tajam. Mata yang selalu menyorot kebencian terhadapnya. Mata tajam yang selalu menusuk hatinya begitu dalam, seakan ingin menghancurkan Luhan sampai hancur tak berbentuk. Mata tajam yang dikaguminya. Mata tajam dari orang yang dicintainya.

'Hun-ah…'

Note : Helloo!Aku kembali!Ada yang nunggu ff ku?Serius. Aku sangat-sangat-amat-teramat minta maaf sama kalian semua karena sangat-sangat telat update/pundung/. I'm so so so sorryyy/bow/. Oke, first, terimakasih banyakk pada kalian yang mau nungguin ff ku ini :") terimakasih udah mau review:"". Aku beberapa bulan ini bener-bener ga ada ide SAMA SEKALI. Dan baru beberapa hari ini aku mendapat pencerahan/? Kembali kkk~. Apalagi sekarang aku lagi kelas 12[Yang kelas 12 pasti tau betapa sibuknya kita di bulan-bulan ini T_T]. But, aku bakal usahain fast update ya. Maaf kalo chap ini kependekan atau buat kalian bosenn. Aku bener-bener sudah berusaha semampuku di chap ini[otak ku lagi bener-bener kebagi]. Semoga kalian suka yaa Sekali lagi, terimakasih banyak!