Axis Powers Hetalia (c) Hidekaz Himaruya

Genre: Suspense, Mystery, Horror, Gore, Friendship, Romance

Rate: M

Tidak mengambil keuntungan materi apapun


"Ini menyebalkan. Sepi sekali di sini," Francis kembali mengeluh, "Seperti desa mati saja."

Berjalan paling belakang dari rombongan, Lukas menghentikan langkah dan kembali mengedarkan pandangannya ke sekitar. Tampak sepi. Tak ada satu manusia pun yang ia lihat. Musim panas yang harusnya tampak ceria dan cerah, kini tampak sepi. Sunyi. Muram.

Seperti kata Francis, tampak mati.

Termenung dengan pemikiran dan pengamatannya sendiri, Lukas tidak menyadari bahwa kedelapan temannya sudah berjalan dan kini tampak beberapa jauh darinya. Ia masih berdiri. Masih mengedarkan pandangan ke sekitar.

Tanpa menyadari sosok yang mendekat ke arahnya dari belakang. Tanpa mendengar suara rumput yang terinjak lirih di tiap langkah yang diambil sosok tersebut. Perlahan. Semakin dekat. Seolah memang menghendaki Lukas tidak menyadari keberadaannya.

Ketika sosok itu telah berada tepat di belakang Lukas, Lukas tanpa sengaja menoleh ke belakang.

Seketika dua iris biru hampa itu sedikit melebar. Mulutnya setengah terbuka. Tubuhnya terasa kaku.

Satu tangan mengarah ke arah kepala Lukas.

Ini adalah sebuah kisah perjalanan liburan musim panas.

Kebahagiaan, persahabatan, cinta.

Semua terbungkus dalam satu tragedi, kekejaman, misteri, tuduhan.

Terangkai dalam jangka waktu hanya tiga hari.

Sembilan orang terperangkap dalam satu tragedi.

Hanya ada satu hal yang menanti mereka begitu mereka mengawali liburan musim panas di sana:

-ooo-ooo-

KEMATIAN

-ooo-ooo

~Step Three~

Ultimate Desperation

Charas: Lukas Bondevik, Arthur Kirkland, Elizaveta Herdevary, Kiku Honda, Antonio Fernandez Carriedo, Francis Bonnefoy, Mary Victoria, Natalia Arlovskaya, Bella Anderson

Mary Victoria = Seychelles

Bella Anderson = Belgium

Lukas Bondevik = Norway

~Step Three~

Tangan besar berwarna hitam dan berbulu itu mengarah ke arah Lukas yang hanya berdiri dengan sedikit terbelalak.

PLUK.

Dan tangan yang terasa empuk itu mendarat lembut di puncak kepala pirangnya, bersama dengan satu suara ceria yang terdengar, "Aiyaa~ Kutebak, pasti salah satu teman Kiku yang berlibur kemari?"

Lukas mengerjapkan mata. Memandang seorang laki-laki berhelai hitam panjang terkuncir rendah di tengkuk. Parasnya oriental, sedikit banyak mengingatkannya pada Kiku Honda—hanya saja laki-laki ini memiliki ekspresi yang lebih ceria dan senyuman yang ramah.

Satu boneka panda berbulu hitam ia pegang, dan tangan boneka itu masih ada di puncak kepala Lukas.

"Aa," Lukas mengangguk, masih menatap laki-laki di depannya.

Senyum ramah itu semakin terkembang, "Sudah kuduga, aru," pandangannya beralih dari Lukas dan menatap ke arah belakang pemuda itu. Ia menarik tangan boneka pandanya dari kepala Lukas, lantas melambaikannya ke seseorang di belakang Lukas, "Kupikir kalian akan datang lebih siang, Kiku."

Menoleh, Lukas melihat Kiku berjalan menghampiri mereka berdua. Terlihat Bella, Mary dan Antonio sudah sampai di teras pondok. Arthur, Natalia dan Elizaveta masih berjalan melintasi halaman, sedangkan Francis berdiri di dekat pagar dan mengamati Lukas, Kiku, dan lelaki asing ini.

"Maaf tidak memberitahumu sebelumnya, Kak," ucap Kiku pelan ketika sudah sampai di dekat Lukas dan si pemuda berhelai hitam legam, "Tak banyak hambatan dalam perjalanan seperti yang kuperkirakan."

Lelaki itu mengangguk, "Untung saja aku sudah pulang dari toko—siapa yang akan menyambut kalian jika aku belum pulang?"

"Menyambut?" Lukas menatap heran.

Kiku berdeham, "Lukas, perkenalkan. Ini Wang Yao, dia Kakak sepupuku—pemilik penginapan yang akan kita tempati. Dan Yao, ini Lukas…." Kiku tampak berpikir, sebelum berucap ragu, "Kenalan di kampus," karena memang rasanya mereka bukanlah 'teman'.

"Oh tentu," Yao melempar senyum ramah ke Lukas, lantas mengarahkan pandangan ke pondoknya. Hampir semuanya sudah sampai di teras, kecuali Francis yang masih berdiri di dekat pagar dan memainkan music playernya, "Sembilan orang….," pandangannya terhenti ke satu arah, dan Yao menggumam, "Sudah kuduga ia pasti akan datang."

Menyipitkan iris biru, Lukas menyahut, "Dia? Siapa?"

"Ah, sebaiknya kita segera masuk saja," usul Kiku, "Semua pasti ingin segera sampai di kamar dan melepas lelah." Pemuda itu segera berbalik dan berjalan kembali ke pondok, mendahului Lukas dan Yao.

Lukas melirikkan mata ke Yao, mencoba bertanya apa maksud ucapannya barusan. Namun ia justru tertegun ketika melihat Yao menatap ke arah Kiku, dengan sebuah seringai tipis dan terlihat sinis, ada di wajah yang sedari tadi tampak ramah.

Ada apa?

Wajah ramah itu kembali tampak di kulit putih kekuningan itu, ketika Yao menoleh ke arah Lukas, "Silahkan, Lukas—boleh kupanggil begitu? Kalian memang seharusnya istirahat dahulu."

-oOo-

Elizaveta membuka pintu berwarna coklat tua yang ditunjukkan Yao sebagai pintu kamar yang akan ditempati Elizaveta dengan Mary Victoria. Begitu terbuka, serentak ke sembilan pasang mata itu meneliti kamar yang pertama kali diperlihatkan untuk mereka di penginapan ini.

Kamar itu nyatanya tak ada beda dengan penampilan penginapan ini secara keseluruhan. Lantai kayu dan dinding beton berwarna putih. Hanya sedikit ventilasi yang ada—termasuk satu jendela tunggal yang ada di samping lemari itu. Wallpaper berwarna peach yang membantu memberi kesan terang di ruangan yang tampak temaram. Bayang-bayang dedaunan di luar kamar membentuk pola-pola aneh bergerak di tembok, atap, dan lantai.

"Oke," Elizaveta mengangguk puas, "Tidak buruk."

"Aiyaa~ Maaf," ucap Yao yang baru saja menaruh boneka panda besarnya di meja di depan kamar, lantas bergabung bersama dengan yang lain di kamar Elizaveta dan Mary, "Sudah bertahun-tahun sejak aku merenovasi penginapan ini. Jadi mungkin ada satu-dua hal yang tidak memuaskan. Kalian tahu, tidak banyak pelancong yang berkunjung kemari dan membutuhkan penginapan."

Mary menoleh dan tersenyum ke arah Yao, "Sama sekali tidak apa-apa, Tuan Wang. Ini sudah cukup."

"Panggil saja Yao—Mary?"

Gadis itu mengangguk, sembari meletakkan tas dan koper di salah ranjang berseprai putih di kamar itu.

Antonio menolehkan kepala ke lorong penginapan yang terlihat dari pintu kamar yang terbuka, "Di mana tamu yang lain?"

Yao tertawa lirih dan menggaruk sebelah pipinya, "Yah.. . seperti yang kubilang, tidak banyak pelancong yang datang kemari. Saat ini juga—hanya kalian yang membutuhkan jasa penginapan dariku."

Bella menatap tak percaya, "Bagaimana bisa? Desa ini memiliki daya tarik alam yang pasti disukai para turis."

Yao terdiam satu dua menit, sebelum berujar sembari menatap ke jendela kamar yang terbuka. Cuaca terang musim panas tampak oleh matanya, "Mungkin para turis lebih ingin berlibur ke tempat lain."

Ada yang aneh di suaranya. Terdengar sedih, tertekan, dan mengulas. Hendak Bella bertanya lebih lanjut, ketika suara Francis menyahut, "Aku tidak peduli penginapan ini ramai atau tidak, tapi bolehkah aku tidur sekamar dengan kalian berdua?" dengan lincah ia duduk di ranjang Mary dan segera merangkul gadis itu, membuat sang gadis tampak tak nyaman dan segera manjauh.

Elizaveta melempar bantal ke arah Francis, "Dasar kodok mesum, keluar saja sana!"

Cemberut, Francis terdengar merajuk, "Ayolah Eli. Apa salahnya? Aku sahabat dekatmu!"

Elizaveta hanya mendengus, namun tertawa kecil dan menjitak kepala Francis.

"Sebaiknya kita segera lihat kamar yang lain," usul Lukas yang sedari tadi terdiam.

"Ide bagus," respon Arthur, yang segera melangkah keluar kamar terlebih dahulu dan diikuti yang lain.

Kamar-kamar selanjutnya tidak banyak berbeda dengan kamar Elizaveta dan Mary. Ukuran, jumlah ranjang, lemari, meja, dan kursi. Maupun pencahayaan yang tampak lebih temaram karena penginapan ini dikelilingi oleh pohon-pohon besar hampir di tiap sisinya. Natalia dan Bella menempati kamar tepat di sebelah kamar Mary dan Elizaveta.

"Hei, Nat, semoga kau tidak keberatan jika sesekali aku berkunjung dan menginap di sini?" gurau Antonio sembari mencium leher Bella, membuat si gadis terkikik geli dan berusaha mendorongnya menjauh.

Sedangkan si gadis berhelai platina tak menjawab, duduk tenang di ranjang dan meletakkan koper dan tasnya.

Di sisi lain koridor, kamar dengan pintu bercat coklat lebih tua dari yang lain, adalah kamar dengan tiga ranjang yang akan ditempati oleh Arthur, Lukas dan Francis—yang mana Arthur seketika melayangkan protes dengan keras.

"Tidak, Yao. Terima kasih. Lebih baik aku tidur di sofa ruang utama saja daripada satu ruangan dengan muka kodok ini," ia melirik tajam ke arah Francis.

Si pemuda berbrewok tipis itu balas memelototkan matanya, "Dasar alis. Kau pikir aku juga suka satu kamar denganmu, huh?!"

Sedangkan Lukas hanya terdiam dan langsung berjalan ke salah satu ranjang yang dipilihnya—tepat berada di sebelah jendela yang terbuka.

"Kapan mereka bisa tumbuh dewasa," gumam Bella sembari memutar bola matanya.

Natalia memandang Lukas, lantas menggumam, "Jika aku menjadi dia, aku lebih baik membunuh dua orang paling berisik itu atau menghabisi hidupku sendiri daripada harus bersama mereka."

Elizaveta melirik Natalia, namun tak mengucapkan apapun.

"Baiklah! Perasaan kita berbalas!" maki Arthur keras ke Francis, lantas menatap ke Yao yang masih terdiam, "Aku ingin sekamar dengan Kiku saja. Setidaknya dia satu-satunya dari semua di sini yang aku kenal baik."

Kegiatan Lukas mengeluarkan beberapa buku dari kopernya, terhenti dan tanpa sengaja ia melirik ke sumber keributan di dekat pintu. Tampak Arthur yang berekspresi marah dan jengkel, Francis yang memutar bola mata, Yao yang terdiam dan balas memandang Arthur, Kiku yang tampak mengarahkan pandang ke lantai, Bella yang berbisik sesuatu ke Elizaveta, Antonio yang mengedarkan pandangan ke bagian penginapan yang bisa dijangkau matanya, dan Natalia yang balas memandang ke arahnya. Hanya sedetik Lukas dapati, sebelum gadis itu mengalihkan pandang ke jendela kaca yang terbuka.

"Tapi Arthur—" Yao berujar, namun Arthur segera memotong ucapannya.

"Tidak ada tapi. Aku tidak akan tahan jika harus menghabiskan waktu tidurku satu ruangan dengan kodok ini."

"Kau bisa tidur di gudang atau basement, tak ada yang melarang, Arthur," seloroh Francis.

"Apa?!"

"Sudahlah," sela Antonio sembari maju ke depan. Ia menatap Yao dengan senyum hangat dan cerah yang menjadi tipikal ekspresi yang dipasangnya, "Biarkan saja, Yao. Aku yang akan menggantikan Arthur di sini."

"Syukurlah," Arthur menghela napas.

Yao menyipitkan pandang ke Antonio, "Tapi Antonio—"

"Tak apa, 'kan?" Francis seketika tersenyum lebar dan merangkul pundak Antonio, "Dia sahabatku. Pasti asyik jika sekamar dengan dia," ia mengacak-acak helai coklat Antonio, membuat pemuda berkulit sedikit gelap itu hanya tertawa kecil dan membalas rangkulannya di pundak.

Mary menggelengkan kepala dan menatap Lukas, "Kasihan, Lukas. Aku heran jika dia bisa tidur semalam saja. Antonio ditambah Francis adalah kombinasi yang buruk."

Elizaveta mengangguk, "Sangat buruk."

Sedangkan Lukas masih menatap Yao. Mengamati bahwa lelaki itu tampak hendak berkata lebih jauh—sepertinya protes, jika ditilik dari sorot mata yang hendak membantah itu. Namun pada akhirnya lelaki itu hanya menghela napas, seperti mengalah, dan mengajak mereka untuk melihat kamar terakhir.

Lukas menaikkan sebelah alisnya. Ada apa? Kenapa Yao seperti tidak menginginkan perubahan susunan penghuni kamar laki-laki? Bukankah tidak akan ada masalah? Antonio bersahabat dengan Francis, dan Arthur bersahabat dengan Kiku. Bukankah jika begitu semua akan simpel dan terselesaikan dengan mudah?

Kamar terakhir dengan dua ranjang adalah milik Arthur dan Kiku. Meski sedikit mengernyit mendapati kamar yang sepertinya jauh dari ekspektasinya, namun Arthur tidak bersuara apa-apa. Toh semua penampilan dan ukuran kamar di penginapan ini hampir sama. Pemuda berhelai pirang itu hanya cukup puas ketika mendapati bahwa pemanasberfungsi dengan baik. Sepertinya hanya itu saja yang ia butuhkan untuk bertahan hidup.

"Kau ingin ranjang mana, Kiku?" tanya Arthur pada sahabatnya.

Kiku tampak terkesiap, seakan-akan baru saja kembali dari apapun yang bermain-main di otaknya dan membuatnya termenung sejenak, "Yang manapun boleh saja bagiku, Arthur."

"Oke, aku pilih yang dekat lemari saja."

Setelahnya Yao menunjukkan ruang makan, ruang laundri dan dapur yang terletak di lantai satu, serta ruang baca dan ruang santai dengan perapian, TV, dan meja bilyard di lantai dua. Satu balkon yang luas dengan dua kursi dan satu meja kecil, ada tepi barat lantai dua dan menghadap langsung ke halaman depan penginapan.

"Kalian semua beristirahat saja," ujar Yao dengan suara dan ekspresi ramah, setelah ia menunjukkan ruangan-ruangan di penginapan itu, "Biar saya mempersiapkan makan malam," ia melirik jam dinding di dekatnya, dan mendapati bahwa kedua jarum menunjukkan angka tiga sore.

"Biar kubantu," Bella menawarkan, namun Yao segera menggeleng.

"Betapa tidak sopannya saya jika menyusahkan tamu yang baru saja menyelesaikan perjalanan panjang," ia mengangguk untuk pamit sebelum melangkah pergi, "Selamat siang."

-oOo-

Sekiranya hanya setengah jam ia memejamkan mata, namun Lukas segera terbangun ketika mendengar samar-samar suara seseorang. Ia membuka mata dan mengernyit, merasa kesal. Dari dulu ia memang bukan orang yang bisa tertidur lelap sekali—hanya sedikit saja suara, bisa membuatnya kembali terjaga. Terdiam sejenak dan mengawasi keadaan kamar yang lengang: Antonio tampak berbaring dan terpejam, sedangkan ranjang Francis kosong.

Francis?

Ah ya, karena kini ia sudah lebih sadar, Lukas bisa mengenali salah satu dari suara itu. Ya, suara Francis yang keras di suasana yang sepi. Sedangkan suara yang satu terdengar lemah—hampir tidak terdengar. Dari nada bicara pemuda pirang itu, Lukas bisa menebak bahwa tengah terjadi perdebatan.

Apa dengan Arthur lagi?

Menghela napas, pemuda itu menahan rasa kesalnya. Ia masih mengantuk dan lelah, dan sialnya, ia tidak bisa kembali tidur jika sudah terbangun paksa demikian.

Mengambil jam tangan yang ia letakkan di meja dekat ranjangnya, ia menatap bahwa jarum panjang menunjuk ke angka sembilan dan jarum pendek di antara angka tiga dan empat.

Lebih baik ia menghabiskan waktu menunggu makan malam dengan membaca di ruang utama. Maka segera ia mengambil salah satu bukunya yang telah tertata rapi di meja dekat ranjangnya, untuk kemudian bangkit dari posisi tidur.

Keluar kamar dan berjalan menyusuri lorong, perlahan-lahan Lukas bisa mengetahui sumber suara yang didengarnya. Tampak Francis yang berdiri di teras bersama dengan Natalia. Suara keras Francis dan pandangan sengit Natalia membuat Lukas seketika yakin bahwa tebakannya tadi tidak salah.

"Ada apa?" tanyanya pada Kiku yang duduk dan membaca di sofa ruang utama. Meliriknya sekilas, Lukas segera dapati bahwa yang dibaca pemuda Asia itu adalah Injil. Pemuda pirang itu menaikkan alisnya, "Dan apakah Yao masih ada di dapur?"

Kiku mendongak, tampak terkesiap, sebelum ia menganggukkan kepala, "Yao masih memasak," menutup Injil miliknya dan menyimpannya dengan hati-hati di laci meja lampu di sebelahnya, pemuda itu melirik ke teras, "Tidak tahu kenapa. Waktu aku kemari mereka sudah bertengkar."

"Apa yang lain masih tidur?"

"Kukira," sekali lagi, pemuda itu mengangguk, "Tadi aku melihat sekilas Mary keluar dari kamarnya, mungkin ke kamar mandi."

Memutuskan untuk terdiam, Lukas melangkah menuju teras dan meninggalkan Kiku di ruang utama. Minatnya untuk membaca buku tertunda sementara. Tampak Natalia masih melemparkan tatapan sengit ke Francis yang memandang sinis dan mengejek ke arahnya.

"Belum ada satu malam aku di sini dan kau sudah bertingkah sangat menjengkelkan begini?" desis Natalia dengan nada mengancam dan tidak percaya.

Francis mendengus, "Lantas kenapa kau tidak pulang saja? Seingatku bukan aku yang mengajakmu kemari."

"Jika aku tahu orang berisik dan brengsek sepertimu ikut, aku juga tidak akan sudi keluar dari apartemenku."

"Dan menghabiskan liburanmu dengan menguntit Kakakmu sendiri seperti gadis gila?" Francis menatap merendahkan, "Nah, kenapa tidak kau hubungi saja Ivan dan suruh dia—"

Tangan Natalia sudah terangkat, siap mendarat di pipi putih kemerahan Francis. Namun gerakan tangan si gadis tertahan di udara, ketika tangan Lukas dengan sigap menahannya. Sontak saja, Francis dan Natalia mengarahkan pandang ke arahnya.

"Jangan membuat keributan," ucap Lukas datar.

Natalia menarik kasar tangannya, "Suruh dia untuk berhenti bersikap seperti bajingan," gumamnya dan memandang Francis sengit, "Dan berhenti membawa-bawa nama Ivan."

"Kau juga berhenti bersikap judes dan merepotkan seperti perawan tua."

Sebelum Natalia membalas dengan sengit hinaan Francis, suara lain terdengar, "Sebenarnya ada apa ini?"

Ternyata Elizaveta, yang tampak baru terbangun dengan mata yang masih memerah karena kantuk. Ia sudah berganti pakaian, rupanya, "Kenapa ribut sekali?"

"Aku hanya mengajaknya ngobrol. Tapi dia bersikap seperti arca peninggalan sejarah, hanya diam dan justru membentak dan mengataiku," aku Francis.

Natalia sekali lagi menatap sengit ke arahnya, "Apa tidak pernah ada yang bilang padamu bahwa kau sangat berisik dan menganggu?"

"Jika kau terus seperti nenek-nenek begini, tidak akan ada laki-laki yang menyukaimu dan seumur hidupmu kau hanya akan mengejar Kakakmu."

"Francis!" Lukas menghardik, dengan nada suara yang sedikit lebih tinggi daripada suara datar yang biasa ia ucapkan.

"Sudahlah!" pemuda berdarah Perancis itu mengibaskan tangannya, lantas melangkah menuruni teras, "Bisa gila aku."

"Kau mau kemana?" tanya Elizaveta pada Francis yang sudah mulai berjalan melintasi pekarangan berumput tinggi.

"Jalan-jalan sebentar," sahut Francis, "Mungkin ada satu-dua gadis yang bisa kutemui daripada nenek-nenek judes super sensitif."

Natalia hanya menatap tajam Francis dan menggigit sebelah ujung bibir bawahnya. Kedua tangannya mengepal. Kentara sekali bahwa gadis itu tengah berusaha keras menahan amarah dan mungkin juga, makian dan kata-kata kasar sebagai balasan.

Pada akhirnya gadis itu hanya menghela napas dan bergumam pahit, "Betapa aku ingin membunuhnya sekarang."

Elizaveta melirik ke Natalia, lantas tersenyum tipis, "Maafkan dia, oke? Dia sebetulnya baik. Aku sebagai sahabatnya, tahu betul itu. Tidak hanya kau, semua orang pernah bertengkar dengannya—aku juga, apalagi Arthur. Tapi Francis juga mudah memaafkan."

"Mungkin dia hanya kelelahan dan tidak bisa tidur," gumam Lukas, menatap ke Francis yang baru saja menghilang di balik pepohonan yang berdiri di tepi jalan depan penginapan.

Memejamkan mata, Natalia menarik napas, "Aku juga ingin menghirup udara sore," gumamnya, ia menoleh menatap Elizaveta, "Apa ada rekomendasi tempat bagus, menurutmu?"

"Taman—"

"Bagaimana dengan pengerajin besi desa ini?" potong Natalia, "Di perjalanan tadi kau bilang ada pandai besi yang membuat banyak senjata?"

Elizaveta menatap heran, namun tak urung ia menjawab dan menunjuk ke arah kanan, berlawanan dengan arah yang dituju Francis barusan, "Jalan lurus, lewat jembatan kecil di sisi kiri jalan, sekitar dua ratus meter dari situ."

Lukas menyipitkan pandang ke Natalia, "Untuk apa kau ke sana?"

Pandangan iris violet itu menatap Lukas dengan pandangan datar. Namun kemudian sebuah seringai ada di bibirnya, "Untuk mendapatkan senjata guna membunuh Francis?" ia mendengus, lantas berbalik dan menuruni tangga, "Kuharap."

Elizaveta dan Lukas hanya terdiam dan berdiri di teras. Tetap memandang Natalia yang tengah melintasi halaman yang tampak temaram oleh bayang-bayang pohon, meski matahari sore musim panas belum benar-benar tenggelam.

Kepala berhelai coklat bergelombang itu menoleh dan dua iris jamrud itu menatap Lukas, "Dia tidak serius, 'kan?"

"Kenapa bertanya begitu?" pemuda berkebangsaan Norwegia itu melirik Elizaveta, "Kita di sini untuk liburan. Bukan mempraktekkan cerita thriller atau horor."

-oOo-

Francis melangkah dengan masih sesekali menggerutu kesal. Sesekali ditendangnya kerikil di di depan kakinya, atau ditepisnya dengan kasar daun pohon yang menjulur ke jalan di dekat ia melangkah. Pertengkaran dengan Natalia barusan sangat mengesalkan baginya. Namun ia akui bahwa ia bersikap terlalu kekanakan dan mungkin seperti yang Natalia bilang, bajingan dan brengsek. Bertengkar dengan Arthur, lelah namun tidak bisa tidur, mungkin itulah sebab utama dan menjadikan Natalia sebagai pelampiasan frustasinya.

Pemuda itu memasukkan tangan ke saku celananya dan menoleh ke sekitar. Sore hari musim panas yang sepi. Seingatnya tidak ada satupun manusia yang ia lihat. Rumah penduduk terlihat jauh dan renggang satu sama lain. Penampilannya kurang lebih sama dengan penginapan: tua, dengan halaman luas dan dikelilingi pohon yang besar. Heran, apakah warga sini gemar menanam pohon hingga di mana-mana yang ia lihat hanya warna hijau?

"Harusnya aku benar-benar berlibur di California," gumamnya, melangkah lebih jauh.

Ia kini keluar dari jalan utama dan menyusuri jalan setapak. Di antara pepohonan yang berdiri tak beraturan di sekelilingnya. Matahari belum tenggelam, namun suasana sudah terlihat seperti petang. Hanya suara burung-burung sore yang ia dengar, juga hanya pepohonan dan rumput-rumput tinggi yang bisa ia pandang.

"Tapi tak ada ruginya, bukan?" gumamnya pada diri sendiri sembari mengamati sekitar, "Kapan aku bisa melihat banyak pohon begini, udara segar, dan kicauan burung?"

Entah kemana ia pergi. Entah apa yang dicari. Francis sendiri tak tahu. Ia hanya melangkah, ingin menghirup udara sejuk dan menyegarkan mata dengan pemandangan alam di sekelilingnya.

Ia melewati sebuah bangunan kecil, satu lantai, dan tampak tua di tengah hutan tersebut. Sepertinya tak berpenghuni. Ah tapi semua bangunan di desa ini juga begitu, 'kan? Seperti rumah tua berhantu. Desa ini benar-benar perlu disentuh sedikit saja dengan modernisasi dan gaya hidup yang lebih maju dan wajar.

Meloncat melewati sebuah selokan alami yang sempit, Francis meneruskan langkah. Samar-samar suara seperti aliran sungai bisa ia dengar. Ingin ia mencari tahu, namun sepertinya sudah setengah jam lebih ia pergi dari penginapan. Ia memutuskan bahwa ia harus kembali. Mungkin makan malam sudah siap.

Pemuda berhelai pirang sebahu itu sudah membalikkan badan dan melangkah, seandainya sepasang iris birunya tidak tanpa sengaja menatap sesuatu di semak-semak gelap beberapa jauh di depan sana. Semak itu berada di balik batang pepohonan yang besar, dan hampir tidak terlihat karena warna semak yang hijau gelap, juga karena pencahayaan matahari yang tidak begitu sukses menembus tebalnya perisai dedaunan pohon di hutan ini. Namun yang menarik perhatian Francis bukanlah semak-semak itu, tapi warna merah kecoklatan yang terlihat menyembul keluar dari semak itu.

Tanpa sadar pemuda itu berlari mendekat. Bersamaan dengan itu, suara aliran sungai semakin terdengar jelas—seakan-akan benar-benar di dekatnya. Sesampainya di sana, ia berjongkok untuk melihat lebih dekat benda berwarna merah itu. Sebuah kelopak bunga ternyata. Dengan mahkota berwarna merah–coklat dan tumbuh secara horizontal di tangkainya yang tipis. Francis mengernyit, berpikir. Sekilas pandang saja, ia tahu bahwa bunga seperti bukan bunga yang bisa dilihat di sembarang tempat atau dijual di sembarang toko bunga.

Seperti bunga langka…

Iris biru itu membelalak, dan mulutnya menggumam lirih ketika teringat, "Rothschild."

Paphiopedilum rothschildianum, atau bisa disebut sebagai anggrek emas. Salah satu bunga paling langka di dunia. Hanya tumbuh di beberapa negara saja, utamanya di Asia Tenggara. Sejenis bunga liar yang jarang sekali didapatkan, dan biasanya tumbuh di daerah pegunungan atau di dekat sungai.

Dan karena penampilannya yang unik, indah, dan jumlahnya yang hampir punah, rothschild adalah salah satu bunga langka yang memiliki nilai jual paling tinggi dan tak masuk akal, mencapai lima hingga enam ribu dolar per tanaman!

Dengan hati-hati, Francis menyibak semak-semak berdaun hijau gelap tersebut. Dan seketika terbelalaklah kedua matanya ketika menatap apa yang ada di balik semak-semak tersebut. Adalah sebuah sungai kecil yang mengalir, hampir benar-benar tertutupi oleh lebatnya semak-semak dari tempat Francis berada. Sungai berair jernih dan riaknya yang tenang dan tidak berbahaya.

Dan di hampir sepanjang tepian sungai itu, adalah warna merah-coklat yang tumbuh indah—puluhan, tidak, ratusan anggrek Rothschild ada di sana!

Tanpa sadar Francis bersiul, "Gila!" gumam Francis, membelalakkan mata. Hampir lupa ia menutup mulut melihat pemandangan itu, "Bagaimana bisa anggrek ini tumbuh di tempat ini?"

Bagaimana bisa desa kuno, sepi, dan tampak mati ini menyimpan rahasia yang begitu menakjubkan? Menyimpan harta karun yang demikian berharga. Begitu menggiurkan, artisitik, dan sangat memukau.

Lihat saja, selain indah, seluruh bunga-bunga ini jika dikumpulkan dan dijual, akan menghasilkan tak kurang dari milyaran, bahkan trilyunan dolar!

"Wow…," Francis menghembuskan napas tak percaya dan terpukau. Apa tak ada penduduk yang tahu tanaman ini? Jika tahu, apakah tidak ada yang sadar betapa berharganya tanaman ini? Pasti bisa memperbaiki kehidupan mereka dan mempermaju desa ini secara ekonomi!

Ia mengulurkan tangan dan menyentuh salah satu kuntum anggrek tersebut. Dan di saat itulah, ia merasakan bahunya ditepuk oleh satu telapak tangan dari belakang.

Terkejut, Francis menjauhkan tangannya dari anggrek itu dan menolehkan kepala, "Ternyata kau—"

Tak pernah sempat ia meneruskan kalimatnya, karena satu pisau daging besar dan berkilap itu sudah terlanjur terayunkan dan menancap dalam-dalam di lehernya.

Mata biru itu membelalak—ekspresi horor yang abadi. Mulut setengah membuka, mengubur kalimat yang belum terucap. Kepala oleng ke kanan, hampir menggelinding jatuh karena leher yang menyangganya nyaris terputus. Tulang yang terlihat putih menjijikkan, daging yang merah segar dengan serabut-serabut hitam-hijau otot yang tampak.

Lantas tubuh tak bernyawa Francis terjatuh di tanah berumput.

Dan beberapa kelopak anggrek rothschild tampak semakin merah. Merah oleh cairan sewarna yang menetes-netes dari kelopak dan daunnya, maupun yang merembes bagaikan aliran sungai, dari tubuh yang sudah tidak bernyawa.

tbc

Terimakasih atas kesediaannya dalam membaca dan memberi buah pikiran

Udah bisa nebak siapa pembunuh Francis dan mengapa? :)

~the flying sparks~